Anda di halaman 1dari 5

Nama : Rossa Yulieta A

NPM : 171304031

BIODIVERSITY IN CULTURE VALUE

(Biodiversitas dalam nilai kebudayaan)

Setelah melalukan observasi disekitar gedung G FKIP Unila dan Laboratorium Biologi, ditemukan beberapa
tanaman yang memiliki nilai budaya, adapun tanaman tersebut adalah sebagai berikut :

1. Bunga Kertas (Bougainvillea glabra)

Digunakan dalam adat khitanan suku Saluan di desa Pasokan. Sebelum acara khitan, anak-anak yang akan di
khitan terlebih dahulu dimandikan dengan menggunakan air yang dicampurkan dengan beberapa jenis
tumbuhan, salah satunya adalah bunga kertas atau bunga bugenvil ini. Setelah acara khitan selesai, anak-
anak tersebut dipakaikan sarung berwarna kuning sambil menghamburkan beras.

2. Pohon Asam Jawa (Tamarindus indica)

Bagi masyarakat desa Gunung Panti, kecamatan Winong, kabupaten Pati Pohon Asam Jawa diyakini sebagai
‘Punten Desa’. Setelah prosesi pernikahan, kedua mempelai harus melalukan ritual adat memutari pohon
asam jawa untuk menghormati leluhur desa dan mendapat restunya. Jika tidak dilaksanakan di percaya salah
satu dari dua keluarga akan mendapat musibah. Nilai moralnya adalah untuk lebih menghormati leluhur.

3. Pohon Kelapa (Cocos nucifera)

Bagi masyrakat hindu pohon kelapa tidak dapat dipisahkan dari kegiatan keagamaan. Masyrakat
bali menggunakan hampir semua bagian dari pohon kelapa untuk upacara adat ataupun saat sembahyang.
Adapun bagian dari pohon kelapa yang digunakan antara lain: Busung (Janur), Slepan (Daun kelapa
berwarna biru), Danyuh (Daun kelapa tua), Klungah (Buah kelapa muda isi air), dan Buah kelapa tua.
Dengan begitu banyaknya manfaatan dari pohon kelapa, masyrakat bali cendrung melakukan peraya tumpek
wuduh pada pohon kelapa ( pohon kelapa sebagai symbol perwakilan untuk pohon yang lainnya). Dalam
filosofi kepribadian masyarakat Bali, buah kelapa yang menunjukan kematangan ternyata didalamnya
terdapat air yang selalu dijaga kemurniannya dan memberikan kehidupan yang berikutnya buat tunas yang
nantinya tumbuh kembali. Batang pohon kelapa menunjukan kedewasaan, ini tercermin dari ketika dewasa
dia baru akan diberikan buah untuk dijaga sampai buah itu jatuh dan matang. Ini mencerminkan bahwa
manusia hidup harus mengikuti tahapan sesuai dengan atur asrama: Brahmacari Asrama adalah tingkat
kehidupan berguru/ menuntut ilmu, Grehasta Asrama adalah tingkat kehidupan berumahtangga,
Wanaprastha Asrama adalah tingkat kehidupan ketiga dengan menjauhkan diri dari nafsu- nafsu
keduniawian, dan Sanyasin (bhiksuka) Asrama adalah merupakan tingkat kehidupan di mana pengaruh
dunia sama sekali lepas.

4. Jeruk Nipis (Citrus aurantiifolia)

Jeruk nipis merupakan salah satu bahan penting yang digunakan untuk mencuci benda-benda pusaka seperti
keris, tombak, dan lain-lain (Surwano, 2011). Air perasan jeruk nipis juga digunakan untuk menguju benda-
benda pusaka seperti kol buntet (sejenis siput yang dianggap dapat membawa kesaktian bagi pegemgangnya.

5. Singkong (Manihot esculenta)

Bagi masyarakat Pangandaran singkong digunakan dalam upacara Adat Hajat Bumi yaitu suatu rangkaian
upacara syukuran atas hasil bumi. Upacara adat ini biasanya dilakukan oleh masyarakat pada bulan
Muharam. Asas yang dianut adalah egaliterianisme “kita yang mengolah, kita yang mengelola, dan kita yang
memanfaatkan”. Dalam upacara adat ini singkong memiliki simbol saling berbagi.
6. Pohon Blimbing (Avverhoa carambola)

Blimbing merupakan tanaman asli pulau Jawa (Grin,2012). Blimbing merupakan tanaman yang
menyimbolkan agar manusia menjalankan rukun Islam yang jumlahnya sebagaimana linggir buahnya juga
ada lima (Said, 2010).

7. Melati Jepang (Pseuderanthemum reticulatum)

Bunga melati kerap kali menjadi hiasan bagi pengantin yang menikah dengan menggunakan adat khas
Indonesia, khususnya Jawa dan Sunda. Namun, pada adat Jawa bunga melati menjadi satu kesatuan dalam
tradisi. Salah satu yang sering kita lihat dalam pernikahan Jawa adalah ronce melati. Bunga ini ternyata
bukan hanya dibuat untuk hiasan semata saja, namun juga menyimpan makna dan sejarah tersendiri.
Pemakaian melati dalam upacara pernikahan juga tak lepas dari makna di balik bunga tersebut. Bunga melati
melambangkan kesucian, keanggunan dan ketulusan. Meski bunga ini memiliki ukuran yang kecil, namun
aromanya amat semerbak yang menjadikan bunga ini sebagai lambang keindahan dalam kesederhanaan dan
kerendahan hati.

8. Tanaman Penisilin (Pohon Betadine)

Bagi masyarakat Komering tanaman penisilin digunakan untuk pengobatan atau pertolongan pertama saat
terluka. Karena, tanaman penisilin memiliki getah yang kandungannya sama seperti obat tetes betadine. Cara
menggunakan tanaman penisilin adalah dengan mengambil daun dan tangkainya yang bergetah. Kemudian
getah yang keluar diujung tangkai dioleskan pada luka. Walapun sedikit perih saat dioleskan, biasanya luka
akan sedikit merekat karena penggunaan tanaman penisilin tadi.

9. Cabai (Capsicum sp.)

Dalam kepercayaan adat Jawa Nasi/ketan tumpeng yaitu nasi /ketan yang dibentuk menjadi ‘gunungan’
(kerucut), dilengkapi dengan lauk pauk, buah-buahan dan sayur mayur (di dalamnya ada cabai besar atau
lombok). Bagian puncak tumpeng diberi ‘tusukan’ yang berisi: telur matang utuh dan masih berkulit
(biasanya telur ayam kampung) yang ditusuk seperti sate; di atasnya diberi terasi bakar dan atau ikan; di atas
terasi/ikan bawang merah; dan di atasnya cabai merah. Jadi cabai merah posisinya paling atas. Nasi tumpeng
sebagai simbol permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sementara ‘gunungan’ sebagai
simbol ‘penolak bala’ atau dijauhkan dari segala macam bencana dan malapetaka; dan juga simbol
kesejahteraan. Menurut anggapan sementara orang, bila bagian gunungan dibawa pulang dan ditanam di
sawah atau ladang, maka sawah atau ladang akan menjadi subur.

10. Palem Raja (Roystonea regia)

Masyarakat Sabu diklasifikasikan sebagai masyarakat bilineal dan menganal kelompok-kelompok keturunan
patrilineal dan dua garis matrilineal (moieties) atau hubi dari garis keturunan dua kakak-beradaik
perempuan. Nama dari kedua kelompok matrilineal diambil dari kedua tangkai buah pohon palem,
yaitu hubi ae atau ‘Bunga Palem Besar’ dan hubi iki atau ‘Bunga Palem Kecil’. Pembagian masyarakat
dalam dua kelompok perempuan diturunkan melalui sumber kolektif dalam bentuk cerita rakyat yang
mengemukakan tentang sebuah perlombaan menenun yang diadakan antara kedua kakak-adik.
11. Kunyit (Curcuma longa)

Bagi masyarakat batak Toba di desa Simani, dalam melaksanakan upacara adat mangongkal holi yaitu
prosesi pencucian tulang menggunakan kunyit dipercaya untuk mencegah atau menjaga agar warna tulang-
belulang tidak pudar. Kunyit memiliki arti sebagai simbol kesucian maupun kemakmuran untuk semua
keluarga yang melaksanakan upacara mangongkal holi.

12. Bambu (Bambusa sp.)

Tanaman ini banyak ditanam oleh masyarakat karena memiliki nilai kegunaan yang tinggi selain warnanya
yang indah. Tanaman ini dipercaya membawa pengaruh kebaikan. Karena memiliki bentuk petuk, yaitu
bambu yang memiliki ruas-ruas salin berhadapan. Bambu petuk atau disebut pring petuk dipercaya dapat
membawa kekuatan bagi pemiliknya.

Sumber :

Purnomo. 2013. Tanaman Kultural dalam Perspektif Adat Jawa. Malang. Universitas Brawijaya
Press.

Nurmiyanti. 2017. Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi. Studi Etnobotani Tumbuhan Upacara
Ritual Adat. Vol (2) 2 : 24-26.