Anda di halaman 1dari 27

PENGARUH INFORMASI AKUNTANSI DAN NON AKUNTANSI

TERHADAP UNDERPRICING SAHAM


(Studi pada Perusahaan yang Melakukan Initial Public Offering (IPO)
di BEI Pada Tahun 2008-2011)

Oleh :
ANDINA DWI CAHYANDA
2009/13048

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013
Wisuda Periode September 2013
PENGARUH INFORMASI AKUNTANSI DAN NON AKUNTANSI TERHADAP
UNDERPRICING SAHAM
(Studi pada Perusahaan yang Melakukan Intial Public Offering (IPO)
di BEI Pada Tahun 2008-2011)

Andina Dwi Cahyanda


Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang
Jl. Prof. Dr. Hamka Kampus Air Tawar Padang
Email: iinaandina@yahoo.co.id

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan memberikan bukti empiris tentang: Pengaruh (1)
Ukuran Perusahaan, (2) Tingkat Leverage, (3) Earning Per Share (4) Price Earnings Ratio (5)
Reputasi Auditor (6) Reputasi Underwriter (7) Persentase Pemegang saham Lama (8) Umur
Perusahaan terhadap underpricing pada perusahaan yang melakukan initial public offering (IPO) di
Bursa Efek Indonesia. Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan yang melakukan IPO di
Bursa Efek Indonesia selama tahun 2008-2011 sebanyak 80 perusahaan. Penelitian ini
menggunakan teknik purposive sampling untuk mendapatkan sampel. Jenis data yang
dipergunakan adalah data sekunder. Metode pengumpulan data yang dipergunakan adalah
dokumentasi. Alat analisis yang dipergunakan adalah regresi berganda dengan menggunakan uji t
dan uji F. Hasil pengujian menunjukkan reputasi underwriter berpengaruh signifikan negatif
terhadap underpricing. Ukuran perusahaan, tingkat leverage, earnings per share, price earnings
ratio, reputasi auditor, persentase pemegang saham lama, dan umur perusahaan tidak berpengaruh
signifikan terhadap underpricing. Keterbatasan dalam penelitian ini: 1) periode pengamatan relatif
masih pendek, yaitu tahun 2008 – 20112) Penelitian ini hanya menghasilkan nilai koefisien
determinasi yang sangat kecil, yaitu sebesar 18,5%.

Kata Kunci: Underpricing, Ukuran Perusahaan, Tingkat Leverage, Earnings Per Share,
Price Earnings Ratio, Reputasi Auditor, Reputasi Underwriter, Persentase
Pemegang Saham Lama, Umur Perusahaan

ABSTRACT

This research aims to verify and provide empirical evidences about: the effect of (1) Firm Size, (2)
Leverage, (3) Earning Per Share (4) Price Earnings Ratio (5) Auditor Reputation (6) Underwriter
Reputation (7) The Percentage of Shares Retained by Owner (8) Company Age to underpricing of
companies that do an IPO in Indonesia Stock Exchange from 2008-2011. The population of this
research are 80 companies that do an IPO in Indonesia Stock Exchange (BEI) since 2008-2011.
Sample selection of this research use purposive sampling method. Type of data used are secondary
data, that collected by documentation. Statistical tool used is multiple linear regressiont. The result
of this research concluded that Underwriter Reputation has a negative significant effect on
Underpricing. Firm size, Leverage, Earnings Per Share, Price Earnings Ratio, Auditor Reputation,
The Percentage of Shares Retained by Owner, and company Age had no significant effect the
underpricing.This limization of this research: (1) This research had short term only use the sample
from 2008-2011 (2) This research only produce a smallest percentage of coefficient of
determination, as much as 18,5%.

Keywords: Underpricing, Firm Size, Leverage, Earnings Per Share, Price Earnings
Ratio, Auditor Reputation, Underwriter Reputation, The Percentage of Shares
Retained by Owner, Company Age

1
1. PENDAHULUAN mengindikasikan perusahaan berada pada
tahapan berkembang sehingga
Setiap perusahaan didirikan perusahaan membutuhkan tambahan
dengan harapan bahwa perusahaan dana untuk melakukan modernisasi.
tersebut dapat mempertahankan Rock (1986) dalam Triani dan Nikmah
kelangsungan usahanya, berkembang (2006) menyatakan bawa ada dua alasan
dengan pesat, dan dapat bersaing untuk pokok mengapa perusahaan melakukan
jangka waktu yang panjang. Sejalan IPO. Alasan pertama adalah karena
dengan perkembangan perekonomian pemegang saham pendiri perusahaan
saat ini, banyak perusahaan dalam rangka ingin melakukan diversifikasi atas
mengembangkan usahanya melakukan portofolio, dan alasan kedua adalah
berbagai cara untuk memenuhi perusahaan tidak mempunyai alternatif
kebutuhan modal, diantaranya dengan sumber dana yang lain untuk membiayai
cara penerbitan saham baru pada proyek-proyek investasi mereka.
masyarakat yang disebut dengan go Ketika perusahaan akan
public atau penawaran umum perdana. melakukan IPO, perusahaan harus
Initial Public Offering (IPO) membuat prospektus yang merupakan
adalah saat pertama kalinya perusahaan ketentuan yang ditetapkan oleh
menjual sahamnya kepada publik melalui BAPEPAM. Menurut Undang-Undang
pasar modal. Menurut Samsul (2006:43), Republik Indonesia No.8 Tahun 1995,
secara umum pasar modal adalah tempat prospektus adalah setiap informasi
atau sarana bertemunya antara tertulis sehubungan dengan penawaran
permintaan dan penawaran atau umum dengan tujuan agar pihak lain
instrument keuangan jangka panjang, membeli efek. Informasi yang terdapat
umumnya lebih dari satu tahun. Pasar dalam prospektus yaitu berupa informasi
modal terbagi atas dua yaitu pasar akuntansi dan informasi non akuntansi.
perdana (primary market) dan pasar Informasi akuntansi adalah informasi
sekunder (secondary market). Pasar yang berasal dari laporan keuangan
perdana adalah tempat atau sarana bagi perusahaan, sedangkan informasi non
perusahaan yang untuk pertama kalinya akuntansi adalah informasi yang tidak
menawarkan saham atau obligasi ke terdapat dalam laporan keuangan
masyarakat umum. Adapun pasar perusahaan.
sekunder adalah tempat atau sarana Pada saat perusahaan melakukan
transaksi jua-beli efek antar investor dan IPO, investor belum mengetahui
harga dibentuk oleh investor melalui informasi yang banyak mengenai
perantara efek. perusahaan. Investor hanya memperoleh
Undang-undang Republik informasi dari perospektus yang
Indonesia No.8 tahun 1995 tentang pasar diterbitkan sebelum perusahaan
modal mendefinisikan penawaran umum melakukan penawaran umum perdana.
sebagai kegiatan penawaran yang Prospektus berfungsi untuk memberikan
dilakukan emiten untuk menjual efek informasi mengenai kondisi perusahaan
kepada masyarakat berdasarkan tata cara kepada para calon investor, sehingga
yang telah diatur dalam undang-undang dengan adanya informasi tersebut maka
tersebut dan peraturan pelaksanaannya. investor akan bisa mengetahui prospek
Penawaran saham kepada publik perusahaan di masa datang, dan

2
selanjutnya tertarik untuk membeli saham-saham perusahaan yang dilakukan
sekuritas yang diternitkan emiten di pasar perdana (Tandelilin, 2010:27).
(Tandelilin, 2010:28). Selisih positif karena adanya perbedaan
Harga saham saat penawaran harga saham di pasar perdana dengan
perdana ditentukan melalui kesepakatan harga penutupan di pasar sekunder
antara emiten dengan underwriter, disebut initial return atau positive return
sedangkan harga saham di pasar bagi investor. Menurut Handayani
sekunder ditentukan oleh mekanisme (2008), initial return adalah keuntungan
pasar. Walaupun emiten dan underwriter yang didapat pemegang saham karena
bersama-sama menentukan harga saham perbedaan harga saham yang dibeli di
perdana, namun masing-masing pihak pasar perdana dengan harga jual saham
mempunyai kepentingan yang berbeda. yang bersangkutan di pasar sekunder.
Emiten menginginkan harga saham Dalam penelitian ini, peneliti
perdana yang tinggi karena ingin menggunakan variabel independen
mendapatkan dana yang maksimal dari berupa informasi akuntansi dan informasi
IPO. Di sisi lain, underwriter sebagai akuntansi. Informasi akuntansi tersebut
penjamin emisi mempunyai kewajiban yaitu ukuran perusahaan, financial
untuk membeli sisa saham IPO yang leverage, earnings per share, dan price
tidak terjual di pasar perdana, cenderung earnings ratio. Peneliti menggunakan
menginginkan harga saham perdana yang ukuran perusahaan sebagai salah satu
rendah. Hal ini dikarenakan underwriter variabel independen dalam penelitian ini
ingin meminimalkan risiko keharusan karena ukuran perusahaan turut
membeli sisa saham yang tidak terjual. menentukan tingkat kepercayaan
Adanya perbedaan kepentingan antara investor. Perusahaan yang berskala besar
emiten dan underwriter mengindikasikan cenderung lebih dikenal masyarakat
terjadinya underpricing. Apabila harga sehingga informasi mengenai prospek
saham di pasar sekunder pada hari perusahaan berskala besar lebih mudah
pertama perdagangan saham secara diperoleh investor daripada perusahaan
signifikan lebih tinggi dibandingkan berskala kecil (Fitriani, 2012).
dengan harga penawaran di pasar Kemudahan informasi akan
perdana maka saham mengalami meningkatkan kepercayaan investor dan
underpricing (Helen, 2005). mengurangi faktor ketidakpastian.
Yolana dan Dwi Martani (2005) Tingkat leverage juga
mendefiniskan underpricing sebagai mempengaruhi tingkat underpricing
selisih positif antara harga saham di pasar perusahaan yang melakukan penawaran
sekunder dengan harga saham di pasar umum perdana. Tingkat leverage
perdana atau saat IPO. Bagi perusahaan menggambarkan tingkat risiko
yang mengeluarkan saham bila terjadi perusahaan. Financial leverage yang
underpricing berarti kehilangan tinggi menunjukan resiko financial atau
kesempatan untuk mendapatkan dana resiko kegagalan perusahaan untuk
secara maksimal (Amelia dan Saftiana, mengembalikan pinjaman akan semakin
2007 dalam Witjaksono, 2012). Hal ini tinggi, dan sebaliknya (Handayani,
dikarenakan dana yang didapat 2008).
perusahaan melalui penjualan sekuritas Kemampuan perusahaan dalam
(saham) merupakan hasil perdagangan menghasilkan laba dapat mempengaruhi

3
minat investor dalam berinvestasi. mengorganisir IPO secara profesional
Earnings per share merupakan ratio yang dan memberikan pelayanan yang lebih
mengukur pendapatan bersih perusahaan baik kepada investor. Underwriter yang
pada suatu periode dibagi dengan jumlah bereputasi tinggi berani memberikan
saham yang beredar. Ratio ini digunakan harga yang tingi sebagai konsekuansi
untuk menganalisis resiko dan kualitas penjaminannya. Pemilihan
membandingkan pendapatan per lembar underwriter yang berpengalaman dan
saham perusahaan dengan perusahaan bereputasi baik dapat meningkatkan
lain. Semakin tinggi EPS suatu kepercayaan investor terhadap
perusahaan semakin bagus kinerja perusahaan karena hal ini menunjukkan
perusahaan tersebut. kemapanan dan keseriusan perusahaan
PER merupakan salah satu rasio terhadap investornya.
terpenting di pasar modal. PER Persentase pemilik saham lama
merupakan rasio yang menggambarkan merupakan persentase saham yang
bagaimana keuntungan perusahaan atau dipertahankan oleh perusahaan atau yang
emiten saham (company's earnings) tidak ditawarkan kepada publik saat
terhadap harga sahamnya (stock price). melakukan penawaran umum perdana.
Investor menyukai saham dengan nilai Informasi mengenai besarnya saham
PER yang rendah karena PER rendah ini yang ditahan oleh perusahaan digunakan
disebabkan oleh laba per saham yang investor sebagai tanda bahwa prospek
relatif tinggi dibandingkan dengan harga perusahaan baik. Persentase kepemilikan
sahamnya, sehingga tingkat return-nya yang ditahan oleh pemilik (insiders)
lebih baik. menunjukkan adanya private information
Informasi non akuntansi yang yang dimiliki oleh pemilik/manajer
menjadi variabel independen dalam (Leland dan Phyle, 1977 dalam Yasa,
penelitian ini yaitu reputasi auditor, 2008). Semakin besar persentase saham
reputasi underwriter, persentase yang ditahan semakin banyak informasi
pemegang saham lama dan umur privat sehingga investor mengharapkan
perusahaan. Pemilihan auditor dalam initial return yang tingi.
mengaudit perusahaan yang akan go Umur perusahaan merupakan
public juga dapat berpengaruh terhadap salah satu hal yang dipertimbangkan
initial return. Fahmi (2012:31) investor dalam menanamkan modalnya.
menyatakan bahwa bagi sebuah Umur perusahaan emiten menunjukkan
perusahaan yang akan go public kemampuan emiten dalam bertahan dan
tanggung jawab seorang auditor menjadi bersaing. Perusahaan yang beroperasi
lebih berat karena dengan penilaiannya lebih lama mempunyai kemampuan yang
sebuah perusahaan bisa atau tidak lebih besar untuk menyediakan informasi
dinyatakan laporan keuangannya yang lebih banyak dan luas daripada
memenuhi syarat untuk go public. Dalam yang baru saja berdiri (Nurhidayati dan
konteks ini reputasi seorang auditor Indriantoro, 1998 dalam Kurniawan
sangat dipertaruhkan. 2007). Hal ini dapat mengurangi
Reputasi underwriter juga ketidakpastian perusahaan di masa
berpengaruh terhadap underpricing. depan. Berdasarkan uraian di atas
Underwriter yang berpengalaman dan penelitian ini diberi judul “PENGARUH
bereputasi baik akan mampu INFORMASI AKUNTANSI DAN NON

4
AKUNTANSI TERHADAP perusahaan tersebut gagal mendapatkan
UNDERPRICING SAHAM kesempatan untuk memperoleh dana
yang maksimal. Sedangkan bagi investor,
2. TELAAH LITERATUR DAN underpricing berarti investor
PERUMUSAN HIPOTESIS mendapatkan return awal atau initial
a. Telaah Literatur return atas perjualan saham perdana.
Initial Public Offering (IPO) Caster dan Manaster (1990) dalam
Undang-undang Republik Handayani (2008) menjelaskan bahwa
Indonesia No.8 tahun 1995 tentang pasar underpricing adalah hasil dari
modal mendefinisikan penawaran umum ketidakpastian harga saham pada pasar
sebagai kegiatan penawaran yang perdana. Fenomena underpricing terjadi
dilakukan emiten untuk menjual efek karena adanya mispriced di pasar
kepada masyarakat berdasarkan tata cara perdana sebagai akibat adanya
yang telah diatur dalam undang-undang ketidakseimbangan informasi antara
tersebut dan peraturan pelaksanaannya. pihak underwriter dengan pihak emiten,
Initial Public Offering (IPO) atau sering biasanya disebut asymmetry informasi.
disebut go public merupakan kegiatan Sebagai pihak yang membutuhkan dana,
penawaran saham atau efek lainnya emiten menginginkan harga perdana
(Obligasi, Right, Warrant) yang yang tinggi, dilain pihak, underwriter
dilakukan oleh emiten (perusahaan yang sebagai penjamin emisi menginginkan
akan go public) untuk menjual saham harga yang rendah demi meminimalkan
atau efek kepada masyarakat berdasarkan resiko yang ditanggungnya. Pihak
tata cara yang diatur oleh Undang- underwriter kemungkinan mempunyai
Undang Pasar Modal dan peraturan informasi lebih banyak dibanding pihak
pelaksanaannya. emiten. Kondisi asymetry informasi
Menurut Samsul (2006:70) suatu inilah yang menyebabkan terjadinya
perusahaan yang untuk pertama kalinya underpricing, dimana underwriter
akan menjual saham atau obligasi kepada merupakan pihak yang memiliki banyak
masyarakat umum atau disebut initial informasi dan menggunakan
public offering (IPO), membutuhkan ketidaktahuan emiten untuk memperkecil
tahapan-tahapan terlebih dahulu. resiko. Jadi, para emiten perlu
Tahapan tersebut dapat dikelompokkan mengetahui situasi pasar sebenarnya agar
menjadi 5, yaitu : rencana go public, pada saat IPO, harga sahamperusahaan
persiapan go public, pernyataan tidak mengalami underpricing.
pendaftaran ke BAPEPAM, penawaran
umum, dan kewajiban emiten setelah go Ukuran Perusahaan
public. Ukuran perusahaan adalah suatu
skala atau nilai dimana perusahaan dapat
Underpricing diklasifikasikan besar kecilnya berdasarkan
Yolana dan Dwi Martani (2005) total aktiva, log size, nilai saham, dan lain
mendefiniskan underpricing sebagai sebagainya. Titman dan Wessels (1988)
selisih positif antara harga saham di pasar dalam Kristiantari (2012), menyatakan
sekunder dengan harga saham di pasar logaritma natural dari total aktiva dan
perdana atau saat IPO. bagi perusahan logaritma natural dari total penjualan
yang mengalami underpricing berarti

5
dapat digunakan sebagai indikator ukuran akan datang, yang berarti semakin tinggi
perusahaan. tingkat underpricing (Amin, 2001).
Perusahaan besar biasanya
memiliki aset besar. Aset perusahaan
Earnings Per Share
yang besar akan memberikan sinyal Menurut Fahmi (2012:70) earning
bahwa perusahaan tersebut memiliki per share adalah keuntungan yang
prospek yang baik (Yasa, 2008). diberikan kepada pemegang saham untuk
Perusahaan yang besar cenderung lebih tiap lembar saham yang dipegangnya.
dikenal oleh masyarakat daripada Nilai EPS dapat dihitung dengan rumus
perusahaan yang berukuran kecil, karena berikut (Tandelilin, 2005:374):
lebih dikenal makan informasi mangenai Laba bersih
perusahaan besar lebih banyak EPS = —————————
dibandingkan perusahaan kecil (Amin, Jumlah saham beredar
2001). Kejelasan informasi tentang Informasi EPS suatu perusahaan
perusahaan akan meningkatkan penilaian menunjukkan besarnya laba bersih
terhadap perusahaan, mengurangi tingkat perusahaan yang siap dibagikan bagi
ketidakpastian dan meminimalkan semua pemegang saham perusahaan
tingkat risiko dan underpricing (Helen, (Tandelilin, 2010:374). Investor
2005). cenderung lebih memilih membeli saham
perusahaan dengan nilai EPS yang tinggi.
Tingkat Leverage EPS yang tinggi menunjukkan bahwa
Menurut Fahmi (2012:62) rasio perusahaan mampu memberikan
leverage adalah mengukur seberapa besar memberikan tingkat kesejahteraan yang
perusahaan dibiayai dengan hutang. menjanjikan. Berdasarkan pernyataan
Rasio ini dapat melihat sejauh mana
Helen (2005), semakin mapan
perusahaan dibiayai oleh hutang atau pihak
perusahaan, semakin tinggi EPS yang
luar dengan kemampuan perusahaan yang
dimilikinya dengan demikian semakin
digambarkan oleh modal. Tingkat leverage
di ukur dengan DER Husnan (2008).
rendah kemungkinan terjadinya
Total Hutang underpricing. Hasil penelitian yang
DER = —————— x 100% dilakukan oleh Handayani (2008)
membuktikan bahwa EPS berpengaruh
Modal Sendiri
signifikan negatif terhadap besarnya
Tingginya financial leverage tingkat underpricing.
menunjukkan risiko finansial atau risiko
kegagalan perusahaan untuk Price Earnings Ratio
mengembalikan pinjaman akan semakin Price earnings ratio adalah nilai
tinggi, dan sebaliknya (Handono, 2010). harga perlembar saham (Harmono,
Semakin besar tingkat leverage semakin 2009:57). PER disebut juga sebagai
pendekatan earnings multiplier,
tinggi resiko perusahaan, akibatnya para
menunjukkan rasio harga pasar saham
investor cenderung menghindari saham- terhadap earnings. Price earning ratio
saham yang memiliki nilai DER yang diukur dengan rumus berikut (Fahmi,
tinggi. Jadi semakin tinggi tingkat 2005:70):
leverage maka semakin besar tingkat
ketidakpastian perusahaan di masa yang
6
Harga Pasar Saham informasi yang disajikan dalam
PER= —–—————————— prospektus dan laporan keuangan
Ernings Per Share (EPS) perusahaan (Helen, 2005). Keyakinan
PER dapat digunakan untuk terhadap informasi laporan keuangan
melakukan penilaian atas perusahaan inilah yang menjadi referensi investor
sehingga mendorong keputusan investor dalam menentukan keputusan investasi.
untuk menjual saham yang dinilai Semakin baik reputasi auditor maka akan
overvalue dan membeli saham yang mengurangi tingat ketidakpastian/ resiko
dinilai undervalue (Helen,2005). Investor perusahaan sehingga dapat mengurangi
menyukai saham dengan nilai PER yang kemungkinan terjadinya underpricing.
rendah. Price earnings ratio menjadi
rendah nilainya karena harga sahan Reputasi Underwriter
cenderung semakin turun atau karena Pengertian underwriter menurut
laba bersih perusahaan yang meningkat. Pasal No. 17 UU No. 8 Tahun 1995
Jadi semakin kecil nilai price tentang Pasar Modal adalah pihak yang
earning ratio maka semakin murah membuat kontrak dengan emiten untuk
saham tersebut untuk dibeli dan semakin melakukan penawaran umum perdana
baik pula kinerja per lembar saham begi kepentingan emiten dengan atau
dalam menghasilkan laba bagi tanpa kewajiban untuk membeli sisa efek
perusahaan. Hal ini tentunya akan yang terjual. Penjamin emisi atau
mengurangi risiko dan ketidakpastian underwriter merupakan perantara antara
perusahaan di masa depan. Sehingga perusahaan yang membutuhkan modal
semakin rendah nilai PER semakin dan investor sebagai pemodalnya.
rendah tingkat underpricing saham. Carter dan Manaster (1990), Alli
et (1994), How et all (1995) dalam
Reputasi Auditor Trisnaningsih (2005) menyatakan bahwa
Salah satu syarat untuk go public emiten yang menggunakan underwriter
adalah penjelasan dan pernyataan bahwa yang berkualitas akan mengurangi
kondisi kinerja keuangan perusahaan tingkat ketidakpastian yang tidak dapat
layak (fesible) untuk go public (Fahmi, diungkapkan oleh informasi yang
2012:7). Perusahaan menyewa auditor terdapat dalam prospektus dan
independen untuk memeriksa kesesuaian memberikan signal bahwa informasi
laporan keuangan yang disusun oleh privat dari emiten mengenai prospek
manajemen sesuai dengan PSAK, dan perusahaan di masa datang tidak
memberikan pendapat atas menyesatkan. Underwriter yang belum
keabsahannya. bereputasi biasanya cenderung
Reputasi auditor menunjukkan menghindari risiko tidak terjualnya
kualitas dan profesionalisme auditor yang saham, sedangkan underwriter bereputasi
mengaudit laporan keuangan perusahaan. tinggi berani menetapkan harga saham
Auditor yang bereputasi tinggi yang tinggi sebagai konsekuensi dari
mempunyai komitmen yang lebih besar kualitas penjaminannya (Yasa, 2008).
dalam mempertahankan kualitas auditnya Berdasarkan hal tersebut maka dengan
sehingga laporan perusahaan yang menggunakan underwriter berkualitas
diperiksa memberikan keyakinan yang baik dapat menurunkan tingkat resiko
lebih besar kepada investor akan kualitas

7
perusahaan sehingga dapat mengurangi menghitung jumlah tahun sejak
intial return bagi investor. perusahaan tersebut berdiri sampai tahun
perusahaan listing.” Umur perusahaan
Persentase Pemegang Saham Lama menunjukkan seberapa lama perusahaan
Persentase pemegang saham lama mampu bertahan. Semakin lama umur
merupakan jumlah saham yang tetap perusahaan, maka semakin banyak
dipertahankan oleh emitten ketika informasi yang telah diperoleh
melakukan penawaran umum perdana. masyarakat tentang perusahaan tersebut.
Penurunan persentase kepemilikan oleh Investor secara khusus akan lebih
pemegang saham lama adalah suatu percaya terhadap perusahaan yang sudah
konsekuensi yang harus dipertimbangkan terkenal dan lama berdiri dibandingkan
ketika perusahaan memutuskan untuk dengan perusahaan yang relatif baru.
melakukan IPO. Bila perusahaan Dengan demikian akan mengurangi adanya
menawarkan saham, maka informasi asimetri informasi dan memperkecil
mengenai jumlah saham yang akan ketidakpastian pasar dan pada akhirnya
ditawarkan juga perlu diketahui oleh akan mempengaruhi underpricing saham.
calon investor, karena jumlah saham Sehingga semakin lama perusahaan
yang ditawarkan kepada masyarakat beroperasi atau semakin besar umur
menunjukkan berapa besar bagian dari perusahaan akan mengurangi
modal disetor yang akan dimiliki publik. ketidakpastian sehingga dapat mengurangi
Persentase kepemilikan yang tingkat underpricing.
ditahan oleh pemilik menunjukkan
adanya private information yang dimiliki b. Penelitian Terdahulu
oleh pemilik/manajer (Leland & Phyle, 1. Helen Sulistio (2005) dengan judul
1977) dalam Yasa (2008). Hal ini berarti Pengaruh Informasi Akuntansi dan Non
semakin besar persentase saham yang Akuntansi Terhadap Initial Return: Studi
ditahan oleh pemegang saham lama Pada Perusahaan yang Melakukan Initial
semakin sedikit informasi yang diperoleh Public Offering Di BEJ. Hasil penelitian
investor mengenai perusahaan. Sehingga ini menunjukkan bahwa Informasi
investor harus mengeluarkan biaya akuntansi hanya tingkat leverage yang
tambahan untuk memperoleh informasi berpengaruh signifikan terhadap initial
sehingga investor menginginkan return. Informasi non akuntansi hanya
kompensasi atas biaya yang telah proporsi kepemilikan yang ditahan
dikeluarkan. Oleh karena itu semakin pemegang saham lama yang berpengaruh
besar persentase pemegang saham lama signifikan terhadap initial return.
semakin tinggi initial return yang akan 2. Handayani (2008) dengan judul Analisis
diterima investor sehingga tingkat Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
underpricing semakin meningkat. Underpricing Pada Penawaran Umum
Perdana Perusahaan Keuangan Yang Go
Publik Di BEJ Tahun 2000-2006). Hasil
Umur Perusahaan
Amelia dan Saftina (2007) dalam pebelitiannya menunjukkan bahwa
Handono (2010) mengemukakan tentang earning per share berpengaruh secara
pengukuran umur perusahaan yaitu: signifikan terhadap underpricing.
”Umur perusahaan diukur berdasarkan 3. Irawati (2009) dengan judul Analisis
lama berdirinya perusahaan dengan Pengaruh Informasi Akuntansi Dan Non
Akuntansi Terhadap Initial Return Pada
8
Perusahaan yang Melakukan Initial depan sehingga akan mempengaruhi
Public Offering di BEI. Hasil tingkat underpricing saham.
penelitiannya menunjukkan bahwa Earnings per share (EPS) atau
ariabel Size, ROI, EPS, financial laba per lembar saham merupakan ratio
leverage, reputasi auditor, reputasi yang sangat dipertimbangkan oleh
underwriter dan jenis industri investor dalam berinvestasi. EPS
berpengaruh signifikan terhadap initial menggambarkan besarnya laba bersih
return. yang akan dibagikan kepada investor.
4. Kristiantari (2012) dengan judul Analisis Semakin tinggi EPS berarti perusahaan
Faktor-Faktor yang Mempengaruh berada pada kondisi yang sehat sehingga
Underpricing Saham Pada Penawaran menambah minat investor untuk membeli
Saham Perdana di Bursa Efek Indonesia. saham dan akan mempengaruhi
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa underpricing. Price earnings ratio (PER)
reputasi underwriter, ukuran perusahaan merupakan ratio yang menggambarkan
dan tujuan penggunaan dana untuk bagaimana pasar menghargai kinerja
investasi secara signifikan negatif saham suatu perusahaan, semakin tinggi
berpengaruh pada underpricing. PER perusahaan maka semakin tinggi
harga sahamnya sehingga semakin tinggi
c. Kerangka Konseptual tingkat underpricing.
Tingkat underpricing dipengaruhi Sama halnya dengan reputasi
oleh faktor keuangan maupun faktor non auditor. Pendapat auditor yang bereputasi
keuangan. Faktor-faktor tersebut dapat tinggi sangat mempengaruhi kepercayaan
dilihat dari informasi yang terkandung investor. Semakin berkualitas auditor
dalam prospektus yang diterbitkan oleh yang mengaudit laporan keuangan
perusahaan emiten. Beberapa faktor yang perusahaan kualitas informasi yang
diduga mempengaruhi underpricing yaitu tersaji dalam laporan keuangan akan
ukuran perusahaan, tingkat leverage, semakin dapat dipercaya. Kegiatan IPO
earnings per share, price earnings ratio, yang dilakukan oleh perusahaan akan
reputasi auditor, reputasi underwriter, diorganisir oleh underwriter.
dan persentase pemegang saham lama. Underwriter yang bereputasi baik akan
Ukuran perusahaan merupakan memberikan jaminan kepada investor
nilai dimana perusahaan dapat akan keberhasilan IPO perusahaan.
dikelompokkan berdasarkan total asset Sejalan dengan reputasi underwriter,
yang dimilikinya. Semakin besar sebuah persentase pemegang saham lama juga
perusahaan maka semakin banyak mempengaruhi besarnya underpricing.
dikenal oleh masyarakat dan investor Hal ini karena persentase pemegang
mendapatkan banyak informasi mengenai saham lama turut membangun keyakinan
perusahaan tersebut sehingga dapat investor akan keberhasilan IPO
meminimalkan resiko ketidakpastian perusahaan. Umur perusahaan
mengenai kondisi perusahaan dimasa menunjukkan seberapa lama perusahaan
depan yang akan mempengaruhi tingkat bertahan. Semakin dewasa sebuah
underpricing. Tingkat leverage ikut perusahaan semakin kecil tingkat
mempengaruhi underpricing. Semakin ketidakpastian akan masa depanya
tinggi leverage maka semakin tinggi sehinnga akan mempengaruhi
risiko yang dihadapi perusahaan dimasa underpricing.

9
Gambar 1. Kerangka Konseptual purposive sampling yaitu sampel yang
(lampiran) diambil dengan kriteria tertentu,
d. Perumusan Hipotesis pengambilan sampel pada tujuan tertentu,
Berdasarkan teori dan latar pengambilan data yang akan dimasukkan
belakang permasalahan yang telah dalam sampel penelitian dilakukan
dikemukakan sebelumnya maka dapat dengan sengaja dengan catatan sampel
dibuat beberapa hipotesis terhadap tersebut cukup representatif.
permasalahan sebagai berikut:
H1: Ukuran perusahaan berpengaruh Jenis dan Sumber Data
signifikan negatif terhadap Jenis data yang digunakan dalam
underpricing. penelitian ini merupakan data sekunder.
H2: Tingkat leverage berpengaruh Data tersebut didapat melalui Indonesian
signifikan positif terhadap Capital Market Directory dari tahun
underpricing. 2008-2011 dan Fact Book IDX dari tahun
H3: Tingkat leverage berpengaruh 2008-2011(www.idx.co.id).
signifikan positif terhadap
underpricing. Metode Pengumpulan Data
H4: Price earnings ratio berpengaruh Penelitian ini menggunakan data
signifikan positif terhadap sekunder, sehingga metode pengumpulan
underpricing. data dilakukan dengan dokumentasi dan
H5: Reputasi Auditor berpengaruh menggunakan data dokumenter
signifikan negatif terhadap
underpricing. Variabel Penelitian dan Pengukuran
H6: Reputasi Underwriter berpengaruh Variabel
signifikan negatif terhadap a. Variabel terikat (Y)
underpricing. Variabel terikat dalam penelitian ini
H7: Persentase pemegang sahan lama yaitu underpricing. Tingkat underpricing
berpengaruh signifikan positif diukur dengan initial return, Jogiyanto
terhadap underpricing. (2000) dalam Sulistiawati (2006)
H8: umur perusahaan berpengaruh mengukur initial return dengan rumus:
signifikan negatif terhadap Closing Price- Offering Price
Initial return = ————————————x 100%
underpricing. Offerings Price

3. METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian b. Variabel Bebas (X)
Sesuai dengan masalah dan tujuan 1. Ukuran Perusahaan (X1)
penelitian, maka jenis penelitian ini Alat ukur yang digunakan untuk
bersifat kausatif. variabel ukuran perusahaan adalah
total aktiva perusahaan tahun
Populasi dan Sampel terakhir sebelum perusahaan
melakukan IPO (Helen:2005).
Populasi penelitian ini adalah 2. Tingkat Leverage
perusahaan-perusahaan yang melakukan Total Hutang
IPO di Bursa Efek Indonesia pada tahun DER = ————–––––
2008 sampai dengan 2011. Teknik Modal Sendiri
pengambilan sampel pada penelitian ini

10
3. Earnings Per Share Hipotesis diuji dengan melihat tingkat
Laba Bersih signifikansi nilai t dengan uji beda atau
EPS= ———————————————
Jumlah Lembar Saham yang Beredar uji t.
4. Price Earnings Ratio
Harga Saham Saat IPO 4. HASIL PENELITIAN DAN
PER = ——————————— PEMBAHASAN
Earning Per Lembar Saham
Data Deskriptif
5. Reputasi Auditor Berdasarkan tabel 14 dapat dilihat
Reputasi auditor diukur dengan bahwa sampel dalam penelitian ini
menggunakan variabel dummy adalah sebanyak 47 data. Underpricing
dengan nilai 0 untuk sampel yang menjadi variabel terikat dalam
perusahaan yang tidak diaudit oleh penelitian ini mempunyai mean
KAP Big Four dan 1 untuk 27.86555, nilai maksimum 70.00 dan
perusahaan yang diaudit oleh KAP nilai minimum 1.39. Ukuran perusahaan
yang diaudit oleh KAP Big Four. mempunyai mean 2,832712 nilai
6. Reputasi Underwriter maksimum 2,1113 dan nilai minimum
Reputasi underwriter diukur 2,2210. Tingkat leverage dengan mean
melalui perangkingan underwriter 1.8317, nilai maksimum 6.27 dan nilai
yang dikeluarkan oleh BEI. minimum 0.03. Variabel EPS
Perangkingan ini berdasarkan total menunjukkan mean 309.8540,
nilai perdagangan (trade value) yang maksimum 9602.60 dan minimum 0.31.
dilakukan oleh underwriter tersebut Untuk PER menunjukkan mean 55.0234,
pertahunnya. Pengukuran reputasi maksimum 967.74 dan minimum 0.01.
tersebut akan menggunakan skala 1 Reputasi Auditor menunjukkan mean
sampai 5. 0.3404, nilai maksimum 1 dan nilai
7. Persentase Pemegang Saham Lama minimum 0. Variabel reputasi
Persentase pemegang saham underwriter menunjukkan nilai mean
lama diukur berdasarkan persentase 4.3617, nilai maksimum 5 dan nilai
saham yang dipertahankan oleh minimum 2. Persentase pemegang saham
pemegang saham lama pada saat IPO lama mmempunyai mean 72.3834, nilai
8. Umur Perusahaan maksimum 98.89 dan nilai minimum
Variabel ini diukur dengan 10.00. Untuk variabel umur perusahaan
lamanya perusahaan beroperasi sejak menunjukkan mean 13.8511, nilai
didirikan berdasarkan akta pendirian maksimum 57.00 dan nilai minimum
sampai dengan saat perusahaan 1.00
tersebut melakukan penawaran umum
perdana (IPO) Uji Asumsi Klasik
Teknik Analisis Data Berdasarkan hasil pada Tabel 15 ,
Penelitian ini menggunakan data terdistribusi normal. Hal ini
analisis regresi berganda. Analisis ditunjukkan dengan nilai Kolmogorov –
statistik yang digunakan yaitu statistik Smirnov sebesar 0,791 dan signifikansi
deskriptif, uji asumsi klasik yang terdiri pada 0,558 yang lebih besar dari 0,05.
dari uji normalitas, uji multikolinearitas, Hal ini berarti data residual terdistribusi
dan uji heterokedastisitas. Model analisis secara normal, karena nilai
Uji F dan Koefisien Determinasi. signifikansinya lebih dari 0,05.

11
Berdasarkan Tabel 16 dapat dilihat variabel lain yang tidak diteliti pada
hasil perhitungan nilai VIF dan penelitian ini.
tolerance. Masing-masing variabel bebas
tersebut memiliki nilai VIF < 10 dan nilai Pengujian Hipotesis
tolerance > 0,1, sehingga dapat Berdasarkan Tabel 17, dapat
disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala diketahui bahwa variabel ukuran
multikolinearitas antar variabel perusahaan memiliki nilai signifikansi
independen. 0,393 lebih besar dari α 0,05 (sig 0,393 >
Berdasarkan tabel 16 dapat dilihat 0,05) atau nilai thitung < ttabel yaitu 0,864 <
bahwa setiap variabel memiliki nilai sig 2,024. Dilihat dari β (6,885-13), maka
> 5. Variabel ukuran perusahaan berlawanan dengan arah hipotesis yaitu
mempunyai nilai sig 0.150. Sedangkan negatif,. Hal ini menunjukkan bahwa
tingkat leverage mempunyai nilai sig variabel ukuran perusahaan tidak
0.154. Untuk EPS didapatkan nilai sig berpengaruh terhadap underpricing.
0.194 dan PER 0.357. Variabel reputasi Dengan demikian hipotesis pertama
auditor mempunyai nilai sig 0.200, ditolak.
reputasi underwriter dengan nilai sig Berdasarkan Tabel 17, dapat
0.407, persentase pemegang saham lama diketahui bahwa variabel tingkat
0.731, dan umur perusahaan 0.285. Hal leverage memiliki nilai signifikansi
ini berarti tidak terdapat gejala 0,156 lebih besar dari α 0,05 (sig 0,156 >
heterokedastisitas pada data penelitian. 0,05) atau nilai thitung < ttabel yaitu -1,449
< 2,024. Dilihat dari β (-2,946), maka
Regresi Berganda tidak sesuai dengan arah hipotesis yaitu
Dari pengolahan data statistik positif. Hal ini menunjukkan bahwa
diperoleh persamaan regresi sebagai variabel tingkat leverage tidak
berikut: berpengaruh terhadap underpricing.
Y = 80,044 + 6,885-13 (X1) – 2,946 (X2) + Dengan demikian hipotesis kedua
0,004 (X3) + 0,030 (X4) – 8,008 (X5) – ditolak.
10,546 (X6) – 0,068 (X7) + 0,155 (X8) Berdasarkan Tabel 17, dapat
diketahui bahwa variabel EPS memiliki
Uji Statistik F nilai signifikansi 0,100 lebih besar dari α
Berdasarkan tabel 18 data 0,05 (sig 0,100 > 0,05) atau nilai thitung <
menunjukkan hasil 2,308 yang signifikan ttabel yaitu 1,685 < 2,024. Dilihat dari β
pada 0,040 (sig 0,040 < 0,05). Hal ini (0,004), maka tidak sesuai dengan arah
berarti bahwa persamaan regresi yang hipotesis yaitu negatif. Hal ini
digunakan sudah fix atau dapat menunjukkan bahwa variabel EPS tidak
diandalkan. berpengaruh terhadap underpricing.
Dengan demikian hipotesis ketiga
Koefisien Determinasi ditolak.
Tabel 19 menunjukkan bahwa Berdasarkan Tabel 17, dapat
nilai Adjusted R Square sebesar 0,185. diketahui bahwa variabel PER memiliki
Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi nilai signifikansi 0,190 lebih besar dari α
variabel independen adalah sebesar 0,05 (sig 0,190 > 0,05) atau nilai thitung <
18,5% sedangkan 81,5% ditentukan oleh ttabel yaitu 1,336 < 2,024. Dilihat dari β
(0,030), maka sesuai dengan arah

12
hipotesis yaitu positif, namun tidak 0,587 lebih besar dari α 0,05 (sig 0,587 >
signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa 0,05) atau nilai thitung < ttabel yaitu 0,547 <
variabel PER tidak berpengaruh terhadap 2,024. Dilihat dari β (0,155), maka tidak
underpricing. Dengan demikian sesuai dengan arah hipotesis yaitu
hipotesis keempat ditolak. negatif. Hal ini menunjukkan bahwa
Berdasarkan Tabel 17, dapat variabel umur perusahaan tidak
diketahui bahwa variabel reputasi auditor berpengaruh signifikan negatif terhadap
memiliki nilai signifikansi 0,272 lebih underpricing. Dengan demikian
besar dari α 0,05 (sig 0,272 > 0,05) atau hipotesis kedelapan ditolak.
nilai thitung < ttabel yaitu -1,116 < 2,024. Pembahasan
Dilihat dari β (-8,008), maka sesuai 1. Pengaruh Ukuran Perusahaan
dengan arah hipotesis yaitu negatif, Terhadap Underpricing
namun tidak signifikan. Hal ini Pengujian hipotesis pertama (H1)
menunjukkan bahwa variabel reputasi menunjukkan hasil bahwa ukuran
auditor tidak berpengaruh terhadap perusahaan tidak berpengaruh terhadap
underpricing. Dengan demikian underpricing. Hasil penelitian ini konsisten
hipotesis kelima ditolak. dengan Handayani (2008) dan Himawan
Berdasarkan Tabel 17, dapat (2012) yang menyatakan bahwa ukuran
diketahui bahwa variabel reputasi perusahaan tidak berpengaruh terhadap
underwriter memiliki nilai signifikansi underpricing. Namun temuan ini tidak
0,006 lebih kecil dari α 0,05 (sig 0,006 < mendukung hasil penelitian Kristiantari
0,05) atau nilai thitung < ttabel yaitu -2,940 (2012) yang membuktikan bahwa ukuran
perusahaan berpengaruh signifikan negatif
< 2,024. Dilihat dari β (-10,546), maka
terhadap underpricing.
sesuai dengan arah hipotesis yaitu
Ukuran perusahaan menjadi penting
negatif. Hal ini menunjukkan bahwa
ketika perusahaan melakukan go public.
variabel reputasi underwriter
Perusahaan besar mempunyai aset yang
berpengaruh signifikan negatif terhadap
besar. Aset perusahaan yang besar akan
underpricing Dengan demikian hipotesis
membuat perusahaan lebih stabil
keenam diterima.
dibandingkan perusahaan yang berukuran
Berdasarkan Tabel 17, dapat
kecil. Firth dan Smith (1992) dalam
diketahui bahwa variabel persentase
Ismiyanti dan Armansyah (2010),
pemegang saham lama memiliki nilai
menyatakan bahwa perusahaan-
signifikansi 0,704 lebih besar dari α 0,05
perusahaan besar mempunyai kondisi
(sig 0,704 > 0,05) atau nilai thitung < ttabel
yang lebih baik karena memiliki kontrol
yaitu -0,382 < 2,024. Dilihat dari β (-
yang lebih baik terhadap kondisi pasar,
0,068), maka tidak sesuai dengan arah
kurang rentan terhadap fluktuasi
hipotesis yaitu positif. Hal ini
ekonomi, sehingga mampu menghadapi
menunjukkan bahwa variabel persentase
persaingan ekonomi. Oleh karena itu
pemegang saham lama tidak berpengaruh
perusahaan besar memiliki
signifikan positif terhadap underpricing.
ketidakpastian masa depan yang rendah.
Dengan demikian hipotesis ketujuh
Hasil penelitian ini menunjukkan
ditolak.
bahwa ukuran perusahaan tidak
Berdasarkan Tabel 17, dapat
berpengaruh terhadap tingkat
diketahui bahwa variabel umur
underpricing. Ismiyanti dan Armansyah
perusahaan memiliki nilai signifikansi
(2010) menjelaskan bahwa di lain sisi

13
investor mungkin berpendapat bahwa Husnan (2006) menyatakan bahwa
asset yang besar bukan segala-galanya, financial leverage terjadi pada saat
tetapi bagaimana komposisi asset perusahaan menggunakan sumber dana
tersebut dibentuk. Asset besar tetapi yang menimbulkan beban tetap. Apabila
komposisi utang lebih banyak juga akan perusahaan menggunakan hutang, maka
menyulitkan perusahaan nantinya. Salah perusahaan harus membayar bunga.
satu kondisi seperti inilah yang membuat Bunga ini harus dibayar berapapun
investor sangat berhati-hati dalam keuntungan operasi perusahaan. Bagi
berinvestasi, dan berlomba-lomba untuk perusahaan yang menggunakan hutang,
menjadi informed investor agar mereka berharap untuk bisa memperoleh
memperoleh informasi yang lebih banyak laba operasi dari penggunaan hutang
mengenai perusahaan. tersebut yang lebih besar dari biaya
2. Pengaruh Tingkat Leverage bunganya. Hal ini berarti apabila
Terhadap Underpricing perusahaan menggunakan hutang berarti
Pengujian hipotesis kedua (H2) perusahaan akan berusaha untuk
menunjukkan hasil bahwa tingkat leverage meningkatkan laba sehingga peningkatan
tidak berpengaruh terhadap underpricing. jumlah hutang bisa menjadi sinyal baik
Hasil penelitian ini mendukung bagi investor. Hanafi dan Halim
penelitian Handayani (2008) yang telah (2007:327) menyatakan bahwa utang
membuktikan bahwa tingkat leverage sering diidentikkan dengan leverage yang
tidak berpengaruh terhadap underpricing. artinya pengungkit laba, artinya utang
Namun tidak mendukung hasil penelitian digunakan untuk meningkatkan
Trisnaningsih (2005) yang menyatakan keuntungan yang mampu dihasilkan dari
bahwa financial leverage yang penggunaan sumber modal sendiri.
diproksikan dengan DER berpengaruh 3. Pengaruh Earnings Per Share
signikan positif terhadap underpricing. Terhadap Underpricing
Tingkat leverage menggambarkan Pengujian hipotesis ketiga (H3)
tingkat resiko perusahaan. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa EPS tidak
menggunakan financial leverage yang berpengaruh terhadap underpricing. Hasil
diproksikan dengan DER sebagai alat penelitian ini mendukung penelitian
ukurnya. Handayani (2008) menyatakan Himawan (2012) yang menyatakan
bahwa financial leverage yang tinggi bahwa EPS tidak berpengaruh terhadap
menunjukkan resiko financial atau resiko underpricing. Namun hasil penelitian ini
kegagalan perusahaan dalam berlawanan dengan temuan Handayani
mengembalikan pinjaman semakin (2008) yang menyatakan bahwa EPS
tinggi, dan sebaliknya. berpengaruh signifikan negatif terhadap
Hasil penelitian ini menunjukkan underpricing.
bahwa tingkat leverage tidak EPS digunakan untuk menganalisis
berpengaruh terhadap underpricing. profitabilitas suatu saham oleh para
Berdasarkan tabel 6 diketahui bahwa analis surat berharga. Earnings per share
perusahaan yang melakukan IPO EPS keuntungan yang diberikan kepada
memiliki perbedaan nilai DER yang pemegang saham untuk tiap lembar
cukup signifikan dengan rata-rata nilai saham yang dipegangnya (Fahmi, 2012).
DER perusahaan. Hal ini berarti investor EPS merupakan perbandingan antara laba
tidak terlalu memperhatkan nilai DER. bersih perusahaan dengan jumlah saham

14
yang beredar. Semakin tinggi nilai EPS bertolak belakang dengan pendapat
semakin tinggi laba per lembar saham Lutfianto (2013) yang menyatakan
yang diperoleh investor. bahwa price earning ratio (PER)
Hasil penelitian ini menunjukkan berpengaruh signifikan positif terhadap
bahwa EPS tidak berpengaruh terhadap initial return. Hal ini disebabkan rasio ini
underpricing. Menurut Hanafi dan Halim mampu memberikan gambaran prospek
(2007:195) EPS dinilai tidak konsisten perusahaan kedepan. Semakin tinggi nilai
untuk pengukuran profitabilitas karena PER maka prospek perusahaan akan
memakai laba perusahaan pada semakin baik.
numerator (yang dibagi) tetapi memakai Alasan lain mengapa price earnings
jumlah saham pada pembagi ratio tidak berpengaruh terhadap
(denominator) yang merupakan hasil underpricing yaitu karena investor tidak
keputusan pendanaan. Perusahaan bisa memperhatikan informasi mengenai
mengalami laba yang menurun tetapi price earnings ratio perusahaan yang
kalau perusahaan tersebut mengurangi melakukan IPO. Hal ini terjadi karena
jumlah saham yang beredar (misalkan dari tahun 2008-2011 sebagian besar
dengan melakukan pembelian saham saham perusahaan yang melakukan IPO
kembali/treasury stock), EPS yang atau sebesar 83,75% mengalami
dihasilkan bisa tetap tinggi. Oleh karena underpricing. Hal ini berarti harga saham
itu investor mungkin kurang pada saat penawaran perdana secara
memperhatikan nilai EPS untuk rerata dapat dikatakan murah. Berbagai
keputusan investasi. penelitian empiris menunjukkan bahwa
4. Pengaruh Price Earnings Ratio rata-rata harga saham IPO dijual dengan
Terhadap Underpricing diskon yang signifikan (lebih dari 15%)
Pengujian hipotesis keempat (H4) dari harga yang akhirnya akan terjadi di
menunjukkan hasil bahwa PER tidak pasar pasca penerbitan (Horne dan
berpengaruh terhadap underpricing. Hal wachowicz, 2007:343).
ini konsisten dengan penelitian Helen 5. Pengaruh Reputasi Auditor
(2005) yang tidak menemukan adanya Terhadap Underpricing
perngaruh PER terhadap initial return. Pengujian hipotesis kelima (H5)
Namun bertolak belakang dengan menunjukkan hasil bahwa reputasi auditor
penelitian yang dilakukan oleh Lutfianto tidak berpengaruh terhadap underpricing.
(2013) yang menemukan adanya Hasil penelitian ini mendukung
pengaruh PER terhadap underpricing. penelitian Kristiantari (2012) yang
Price earnigs ratio adalah nilai harga menemukan tidak terdapat pengaruh
per lembar saham. PER diperoleh dengan reputasi auditor terhadap underpricing.
membagi harga saham dengan laba Namun berlawanan dengan hasil
bersih per lembar saham. Semakin penelitian Aini (2013) yang menemukan
rendah nilai PER maka saham semakin bahwa reputasi auditor berpengaruh
disukai investor karena PER yang rendah signifikan negatif terhadap underpricing.
mengindikasikan laba bersih yang Auditor adalah seseorang yang
semakin meningkat. ditugaskan untuk melakukan audit pada
Hasil penelitian ini menunjukkan sebuah perusahaan dan memberikan
bahwa tidak terdapat pengaruh antara pendapat atas laporan keuangan
PER dengan underpricing. Hal ini perusahaan yang telah diaudit. Reputasi

15
auditor adalah pandangan atas nama baik, Oleh karena itu investor tidak
prestasi dan kepercayaan masyarakat atas mempertimbangkan auditor yang
jasa KAP. Masyarakat cenderung lebih mengaudit laporan keuangan karena
mempercayai informasi yang disajikan lemahnya independensi.
dalam laporan keuangan perusahaan 6. Pengaruh Reputasi Underwriter
yang diaudit oleh KAP yang bereputasi Terhadap Underpricing
tinggi karena KAP yang bereputasi lebih Pengujian hipotesis keenam (H6)
kompeten dan berpengalaman. menunjukkan hasil bahwa reputasi
Hasil penelitian ini menunjukkan underwriter berpengaruh terhadap
bahwa reputasi auditor tidak berpengaruh underpricing. Hasil penelitian ini
terhadap underpricing. Ini konsisten dengan Kristiantari (2012)
mengindikasikan bahwa laporan yang menyatakan bahwa reputasi
keuangan yang diaudit oleh kantor underwriter berpengaruh signifikan
akuntan publik bereputasi tinggi tidak negatif terhadap underpricing. Namun
memberikan sinyal bagi investor dalam temuan ini tidak mendukung hasil
memperkirakan nilai yang pantas bagi penelitian Helen (2005) yang tidak
perusahaan yang melakukan IPO. berhasil membuktikan pengaruh reputasi
Independensi akuntan publik sangat underwriter terhadap initial return.
diperlukan dalam proses audit. Namun Underwriter adalah penjamn emisi
dalam prakteknya independensi akuntan bagi setiap perusahaan yang akan
publik masih sangat lemah. Kantor menerbitkan sahamnya di pasar modal.
akuntan pubik ada juga yang telah ikut Fahmi (2012:33) menyatakan bahwa
terlibat dalam memberikan nasihat salah satu penilaian underwriter pada
kepada klien. Seperti yang dikatakan oleh sebuah perusahaan adalah kondisi
Lyn M. Fraser dan Aileen Ormison laporan keuangan. Sehingga dengan kata
(2008) dalam Fahmi (2012) bahwa lain reputasi sebuah underwriter menjadi
banyak perusahaan menggaji akuntan penting dalam menyatakan sebuag
yang berasal dari kantor akuntan publik perusahaan tersebut layak atau tidak
untuk menyusun laporan keuangan dan untuk dijamin go public. Selain itu,
membantu posisi manajemen puncak. investor menilai semakin bagus reputasi
Kasus ini terjadi pada perusahaan Enron yang dimiliki oleh penjamin emisi maka
di Amerika Serikat. Enron membayar harga saham yang terbentuk di pasar
Andersen sebanyak $52 juta, dimana $25 perdana semakin mendekati harga ideal
juta merupakan jasa audit dan sisanya untuk dibeli (Lufianto, 2012).
merupakan jasa layanan lain termasuk Underwriter yeng bereputasi tinggi
jasa konsultan. berani memberikan harga yang tinggi
Selain itu menurut Fahmi (2012) sebagai konsekuensi atas kualitas
persoalan lemahnya independensi penjaminannya. Sehingga emiten yakin
akuntan publik juga terjadi saat seorang bahwa dengan menggunakan underwriter
akuntan publik ditugaskan melakukan yang bereputasi tinggi akan menjamin
audit ke suatu perusahaan dimana para keberhasilan IPO perusahaannya. Emiten
top manajemennya diisi oleh orang-orang percaya underwriter yang memiliki
yang pernah memiliki jasa dalam reputasi baik akan mampu membentuk
membesarkan KAP tersebut. Sehingga harga saham yang sesuai dengan return
independensi akuntan publik diragukan. yang diharapkan emiten atas pencatatan

16
sahamnya. Semakin tinggi return yang investor sehingga untuk memperoleh
diharapkan oleh emiten akan tambahan informasi investor harus
menyebabkan return yang di peroleh mengeluarkan biaya.
investor akan mengecil, sehingga akan Penelitian ini membuktikan
mampu memperkecil tingkat initial bahwa persentase pemegang saham lama
return. tidak berpengaruh terhadap initial return.
7. Pengaruh Persentase Pemegang Lufianto (2013) menyatakan bahwa tidak
Saham Lama Terhadap adanya pengaruh antara prosentase
Underpricing saham yang ditawarkan terhadap initial
Pengujian hipotesis ketujuh (H7) return cenderung disebabkan para
menunjukkan hasil bahwa persentase investor yang menganggap bahwa secara
pemegang saham lama tidak berpengaruh umum dalam penawaran umum perdana,
terhadap underpricing. Hasil penelitian prosentase saham yang ditawarkan tidak
ini mendukung penelitian Handayani akan melebihi prosentase mayoritas
(2008) yang menemukan bahwa tidak pemegang saham di portofolio
terdapat pengaruh antara persentase perusahaan karena tujuan perusahaan go
penawaran saham dengan initial return. public adalah untuk mendapatkan
Namun bertolak belakang dengan hasil tambahan modal, bukan untuk
penelitian Helen (2005) yang berhasil mendapatkan investor yang ingin men-
membuktikan pengaruh persentase takeover kepemilikan perusahaan,
pemegang saham lama dengan initial sehingga kecenderungan untuk
return. memegang kendali perusahaan relatif
Persentase pemegang saham lama tidak bisa dilakukan oleh investor di
adalah jumlah saham yang ditahan atau bursa efek.
jumlah saham yang tidak dijual pemilik 8. Pengaruh Umur Perusahaan
saham lama ketika perusahaan Terhadap Underpricing
melakukan IPO. Menurut Leland dan Pengujian hipotesis kedelapan (H8)
Phyle (1977) dalam Yasa (2008) menunjukkan hasil bahwa umur
mengemukakan bahwa besarnya perusahaan tidak berpengaruh terhadap
persentase penawaran menunjukkan underpricing. Hasil penelitian ini
persentase jumlah saham yang mendukung penelitian Kristiantari
ditawarkan kepada publik dari (20012) yang menyatakan bahwa tidak
keseluruhan saham yang diterbitkan terdapat pengaruh antara umur
emiten. Besarnya jumlah saham yang perusahaan dengan underpricing. Namun
ditahan ini mengindikasikan bahwa bertolak belakang dengan hasil penelitian
perusahaan berada dalam kondisi yang Rosyati dan Sabeni (2002) dalam Fitriani
baik, sebab pemilik saham lama tidak (2012) yang berhasil membuktikan
akan menjual sahamnya kepada publik pengaruh umur perusahaan dengan initial
apabila investasi di perusahaannya bagus. return.
Persentase pemegang saham lama Umur perusahaan adalah
juga memberikan informasi mengenai menunjukkan seberapa lama perusahaan
aliran informasi kepada investor. bertahan. Perusahaan yang lebih lama
Semakin banyak jumlah saham yang beroperasi memiliki pengalaman yang
dipertahankan oleh pemilik saham lama lebih banyak dalam bersaing dan
semakin sedikit informasi yang diperoleh

17
mengambil kesempatan bisnis dalam underpricing saham perusahaan yang
perekonomian. melakukan initial public offering pada
Penelitian ini menunjukkan umur tahun 2008-2011.
perusahaan tidak berpengaruh terhadap 3. Earnings per share tidak berpengaruh
initial return. Hal ini menunjukkan signifikan negatif terhadap
bahwa bagi para investor, umur underpricing saham perusahaan yang
perusahaan tidak dapat dijadikan patokan melakukan initial public offering pada
dalam melihat kualitas emiten. Investor tahun 2008-2011.
tidak memperdulikan umur perusahaan 4. Price earnings ratio tidak
tempatnya melakukan investasi dananya. berpengaruh signifikan positif
Yang paling menjadi perhatian para terhadap underpricing saham
investor perusahaan terhadap perusahaan perusahaan yang melakukan initial
yang melakukan penawaran umum public offering pada tahun 2008-2011.
perdana adalah prospek pertumbuhan 5. Reputasi auditor tidak berpengaruh
perusahaan pada masa depan bukan pada signifikan negatif terhadap
umur perusahaan (Dita, 2013). underpricing saham perusahaan yang
Dalam dunia bisnis, belum tentu melakukan initial public offering pada
perusahaan yang lebih muda mempunyai tahun 2008-2011.
kinerja atau prospek yang lebih jelek 6. Reputasi underwriter berpengaruh
dibandingkan dengan perusahaan- signifikan negatif terhadap
perusahaan yang telah lama berdiri. underpricing saham perusahaan yang
Umur perusahaan belum tentu menjamin melakukan initial public offering pada
bahwa kondisi keuangan perusahaan tahun 2008-2011.
sehat (Aini, 2013). Suksesnya sebuah 7. Persentase pemegang saham lama
perusahaan dilihat dari bagaimana tidak berpengaruh signifikan positif
perusahaan dapat meminimalkan biaya terhadap underpricing saham
dan memaksimalkan laba. Jadi apabila perusahaan yang melakukan initial
sebuah perusahaan baru berdiri, namun public offering pada tahun 2008-2011.
perusahaan tersebut mampu 8. Umur perusahaan tidak berpengaruh
menunjukkan kinerja yang baik maka hal signifikan negatif terhadap
tersbut dapat dijadikan sinyal positif underpricing saham perusahaan yang
mengenai prospek masa depan melakukan initial public offering pada
perusahaan. Sehingga hal tersebut dapat tahun 2008-2011.
dijadikan investor sebagai bahan
pertimbangan untuk melakukan investasi. Saran
1. Bagi perusahaan yang akan
5. PENUTUP melakukan initial public offering
Kesimpulan sebaiknya menggunakan undewriter
1. Ukuran perusahaan tidak berpengaruh yang bereputasi baik dan sudah
signifikan negatif terhadap berpengalaman agar dapat
underpricing saham perusahaan yang meminimalkan resiko kegagalan
melakukan initial public offering pada dalam melakukan IPO.
tahun 2008-2011. 2. Bagi investor yang akan membeli
2. Tingkat leverage tidak berpengaruh saham di pasar perdana sebaiknya
signifikan positif terhadap memperhatikan reputasi underwriter

18
yang mengorganisir IPO karena
underwriter yang bereputasi tinggi Emilia., Lucky Sulaiman dan Roy
mampu menetapkan harga IPO yang Sembel (2008). Faktor-Faktor
cenderung mendekati harga ideal. yang Mempengaruhi Initial
3. Bagi peneliti selanjutnya, sebaiknya Return 1 Hari, 1 Bulan, dan
meneliti faktor-faktor lain yang Pengaruh Terhadap Return 1
mempengaruhi underpricing karena Tahun Setelah IPO. journal of
sangat banyak faktor yang Applied Finance and accounting
mempengaruhi underpricing saham Vol.1 No.1.
perusahaan yang melakukan IPO.
Fahmi, Irham (2012). “Analisis Kinerja
DAFTAR PUSTAKA Keuangan”. Alfabeta: Bandung.

Aini, Shoviyah Nur (2013). “Faktor- Fitriani, Dini (2012).” Analisis Faktor –
Faktor yang Mempengaruhi Faktor yang Mempengaruhi
Underpricing Saham Pada Underpricing Setelah IPO”.
Perusahaan IPO di BEI Periode Skripsi. Semarang: FE UNDIP
2007-2011”. Jurnal Ilmiah
Manajemen, Vol.1 No.1. Ghozali, Imam (2007). Aplikasi Analisis
Surabaya: FE Universitas Negeri Multivariate dengan Program
Surabaya. SPSS. Cetakan IV. Badan
Penerbit Universitas Diponegoro,
Amin, Muhammad (2001).”Analisis Semarang.
Faktor-Faktor yang Berpengaruh
Terhadap Initial Return Saham Hanafi dan Halim (2007). “Analisis
Pada Penawaran Perdana di BEJ”. Laporan Keuangan”. Unit
Tesis. Semarang: Magister Penerbit dan Percetakan Sekolah
Akuntansi Universitas Tinggi Ilmu Manajemen YKPN:
Diponegoro. Yogyakarta

Andriyani, Dena (2008).”Hubungan Handayani, Sri Retno (2008). “Analisis


Faktor Keuangan dan Faktor Non Faktor-Faktor yang
Keuangan Terhadap Initial Return Mempengaruhi Underpricing
Saham yang Terdaftar di BEJ pada Penawaran Umum Perdana
tahun 2002-2005”. Surabaya: (Studi Kasus pada Perusahaan
STIE Perbanas. Keuangan yang Go Publik di
Bursa Efek Jakarta Tahun 2000-
2006)‟. Tesis. Semarang:
Dita, Kharisma (2013).” Faktor-Faktor Magister Manajemen, Universitas
Penentu Kinerja Saham Diponegoro.
Perusahaan Setelah Penawaran
Umum Perdana”. Jurnal Ilmu Handono, Dora Bunga Roostarica
Manajemen Vol.1 No.1. (2010).” Analisis Faktor Faktor
Surabaya: FE Universitas Negeri Yang Mempengaruhi Tingkat
Surabaya Underpricing Saham Perdana Di
19
Bursa Efek Indonesia”. Skripsi. Herding, Ukuran Peusahaan, dan
Bandung:FE Pasundan. Underpricing Pada Pasar Modal
Indonesia”. Jurnal Manajemen
Harmono (2009). “Manajemen Keuangan dan Teori Terapan. Surabaya:
Berbasis Balanced Score Card, Universitas Airlngga.
Pendekatan Teori, Kasus, dan
Riset Bisnis”. PT Bumi Aksara: Kristiantari, I Dewa Ayu (2012), Analisis
Jakarta Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Underpricing
Himawan, Aldio Rendy (2012). “Analisis Saham Pada Penawaran Saham
Faktor-Faktor yang Mmpengaruhi Perdana Di Bursa Efek
Tingkat Underpricing pada Indonesia. Tesis. Denpasar:
Perusahaan Go Public di Bursa Program Pasca Sarjana
Efek Indonesia Tahun 2006- Universitas Udayana.
2010”. Skripsi. Semarang: FE
UNDIP. Kurniawan, Benny (2007). “Analisis
Pengaruh Variabel Keuangan dan
Helen, Sulistio (2005). “Pengaruh Non Keuangan terhadap Initial
Informasi Akuntansi Dan Non Return dan Return 7 Hari Setelah
Akuntansi Terhadap Initial IPO”. Tesis. Semarang:UNDIP.
Return: Studi Pada Perusahaan
Yang Melakukan Initial Public Lutfianto, Ary Sukma (2013).”
Offering Di Bursa Efek Jakarta. Determinan Initial Return Saham
Simposium Nasional Akuntansi Go Public Tahun 2006-2011”.
VIII Solo. Jurnal Ilmu Manajemen, Vol. 1
No.1. Surabaya: FE Universitas
Horne, James C. Van dan Wachowicz, Negeri Surabaya
Jhon M. (2007).”Prinsip-Prinsip
Manajemen Keuangan”. Salemba Murdiyani (2009).”Pengaruh Informasi
Empat: Jakarta. Prospektus Perusahaan Terhadap
Initial Return Pada Penawaran
.Indonesia Capital Market Directory, Saham Perdana”. Tesis.
Tahun 2008 sampai dengan 2012. Semarang:Pasca Sarjana UNDIP.

Irawati, Uli Sarma (2009). “Analisis Puspita, Tifani (2011). “Analisis Faktor–
Pengaruh Informasi Akuntansi Faktor yang Mempengaruhi
dan Non Akuntansi terhadap Tingkat Underpricing Saham
Initial Return pada Perusahaan Pada Saat Initial Public Offering
yang Melakukan Initial Public (IPO) di BEI Periode 2005–
Offering di Bursa Efek 2009”. Skripsi. Semarang: FE
Indonesia”. Skripsi. Universitas Universitas Diponegoro.
Gunadarma
Republik Indonesia (1995). Undang-
Ismiyanti, F., Rohmad Fuad Armansyah Undang RI Nomor 8 Tahun 1995
(2010). “Motif Go Public,

20
tentang Pasar Modal. Sumber: Di BEI 2002-2010. Berkala
http://www.bapepam.go.id. Ilmiah Mahasiswa Akuntansi Vol
Samsul, Mohammad (2006). Pasar Modal 1, No. 1.
& Manajemen Portofolio. Jakarta:
Erlangga. Yasa, Gerianta Wirawan (2008).
“Penyebab Underpricing Pada
Soemarso (2004). Akuntansi Suatu Penawaran Saham Perdana Di
Pengantar. Edisi Kelima. Jakarta. Bursa Efek Jakarta”. Jurnal.
Salemba Empat. Denpasar: FE Udayana.

Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti Yolana, C., dan Dwi Martani (2005).
(2004). Dasar-Dasar Manajemen
Variabel-Variabel Yang
Keuangan. UUP AMP YKN:
Yogyakarta. Mempengaruhi Fenomena
Underpricing Pada Penawaran
Tandelilin, Eduardus (2010). Analisis Saham Perdana Di BEJ Tahun
Investasi Dan Manajemen 1994-2001. Simposium Nasional
Portofolio. Yogyakarta: BPFE. Akuntansi VII Solo.

Triani A. Dan Nikmah (2006), “Reputasi


Penjamin Emisi, Reputasi
Auditor, Persentase Penjamin
Emisi, Ukuran Perusahaan dan
Fenomena Underpricing: Studi
Empiris Pada Bursa Efek Jakarta.
Simposium Nasional Akuntansi
IX Solo.

Trisnaningsih, Sri (2005). “Analisis


Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi tingkat
underpricing Pada Perusahaan
yang Go Public di Bursa Efek
Jakarta”. Jurnal Akuntansi dan
Keuangan Vol. 4 No.2.

Undang-Undang Republik Indonesia


Nomor 8 Tahun 1995 tentang
Pasar Modal.

Witjaksono, Lydia Soeryadjaya (2012).


Analisis Faktor-Faktor Keuangan
yang Mempengaruhi Fenomena
Underpricing Pada Perusahaan
Sektor Keuangan yang Terdaftar

21
LAMPIRAN

Gambar 1. kerangka konseptual

Ukuran Perusahaan

Tingkat Leverage

Earnings Per Share

Price Earnings Ratio


Underpricing

Reputasi Auditor

Reputasi Underwriter

Persentase Pemegang
Saham Lama

Umur Perusahaan

Tabel 14. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation


IR 47 1.39 70.00 27.8655 22.75540
UP 47 2.22E10 2.11E13 2.8327E12 4.50868E12
LEV 47 .03 6.72 1.8317 1.64802
EPS 47 .31 9602.60 3.0985E2 1397.25112
PER 47 .01 967.74 55.0234 143.83799
RAUD 47 .00 1.00 .3404 .47898
RUND 47 2.00 5.00 4.3617 .91901
PPSL 47 10.00 98.89 72.3834 18.16674
AGE 47 1.00 57.00 13.8511 11.28095
Valid N (listwise) 47
Sumber : Data Olahan SPSS 2013

22
Tabel 15. Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Unstandardized
Residual
N 47
a
Normal Parameters Mean .0000000
Std. Deviation 18.66797839
Most Extreme Differences Absolute .115
Positive .115
Negative -.066
Kolmogorov-Smirnov Z .791
Asymp. Sig. (2-tailed) .558
a. Test distribution is Normal.

Tabel 16. Hasil Uji Multikolinearitas


a
Coefficients
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients Collinearity Statistics
Model B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF
1 (Constant) 80.044 17.923 4.466 .000
UP 6.885E-13 .000 .136 .864 .393 .711 1.407
LEV -2.946 2.033 -.213 -1.449 .156 .817 1.224
EPS .004 .002 .229 1.685 .100 .962 1.039
PER .030 .022 .187 1.336 .190 .904 1.106
RAUD -8.008 7.178 -.169 -1.116 .272 .776 1.289
RUND -10.546 3.587 -.426 -2.940 .006 .844 1.185
PPSL -.068 .178 -.054 -.382 .704 .875 1.142
AGE .155 .283 .077 .547 .587 .901 1.110
a. Dependent Variable: IR

23
Tabel 16. Hasil Uji Heterokedastisitas
a
Coefficients
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 26.163 10.270 2.547 .015
UP 6.702E-13 .000 .256 1.468 .150
LEV -1.696 1.165 -.237 -1.456 .154
EPS -.002 .001 -.198 -1.324 .194
PER -.012 .013 -.144 -.932 .357
RAUD -5.367 4.113 -.218 -1.305 .200
RUND -1.725 2.055 -.134 -.839 .407
PPSL -.035 .102 -.054 -.346 .731
AGE .176 .162 .168 1.084 .285
a. Dependent Variable: ABSUT

Tabel 17. Hasil Uji Regresi Berganda


a
Coefficients
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 80.044 17.923 4.466 .000
UP 6.885E-13 .000 .136 .864 .393
LEV -2.946 2.033 -.213 -1.449 .156
EPS .004 .002 .229 1.685 .100
PER .030 .022 .187 1.336 .190
RAUD -8.008 7.178 -.169 -1.116 .272
RUND -10.546 3.587 -.426 -2.940 .006
PPSL -.068 .178 -.054 -.382 .704
AGE .155 .283 .077 .547 .587
a. Dependent Variable: IR

24
Tabel 18. Hasil Uji F Statistik
b
ANOVA
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
a
1 Regression 7788.483 8 973.560 2.308 .040
Residual 16030.697 38 421.860
Total 23819.181 46
a. Predictors: (Constant), AGE, RAUD, EPS, PPSL, LEV, PER, RUND,
UP
b. Dependent Variable: IR

Tabel 19. Hasil Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R2)

Model Summary
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
a
1 .572 .327 .185 20.53924
a. Predictors: (Constant), AGE, RAUD, EPS, PPSL, LEV, PER,
RUND, UP

25