Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN KASUS

Ny.”F” G6P5A1H5 Sectio Caesarea dan Tubektomi Atas Indikasi Letak Sunsang

Disusun Oleh Kelompok 1 OK :

Mery Zaniarti (164310582)

Wira Yuana Oktavia (164310604)

Wulan Oktaviani (164310605)

Yani Yulasri (164310606)

Yulfa Henim rumita (164310607)

CI Lapangan :

Ns.Titing Anatasia W, S.Kep

Dosen Pembimbing:

Dr.Yuliva,M.Kes

Yefrida Rustam, SH.S.SiT, M.Kes

PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN JURUSAN KEBIDANAN

POLTEKKES KEMENKES RI PADANG

TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT dimana atas rahmat dan
karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan laporan kasus kebidanan di ruangan OK ibu Nifas
G6P5A1H5 Sectio Caesarea dengn letak sunsang.
Adapun tujuan membuat laporan ini adalah untuk melengkapi tugas praktek lapangan di
RSUD DR. Rasidin Padang. Laporan ini disusun dari hasil pengumpulan data serta informasi
yang kami peroleh dari buku panduan serta infomasi dari pasien dan keluarga .
Laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan
saran dari para pembaca agar laporan kami kedepan menjadi lebih baik. Akhirnya, kami berharap
semoga laporan ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.

Padang , 23 Agustus 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………....... i

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 1

1.2 Tujuan .............................................................................................................................. 3

1.3 Rumusan Masalah ............................................................................................................ 3

1.4 Manfaat............................................................................................................................. 3

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian dari Sectio Caesaria ........................................................................................ 4

2.2 Pengertian dari Tubektomi .............................................................................................. 6

2.3 Standar Prosedur Operasional tindakan Kebidanan Sebelum Operasi............................. 8

2.4 Standar Prosedur Operasional Penatalaksanaan Sectio Caesaria ..................................... 9

2.5 Standar Prosedur Operasional Lama perawatan operasi Caesar ................................... 11

2.6 Tindakan Pre Operasi dan Post Operasi Sectio Caesaria ............................................... 11

2.7 Perawatan pasca operasi ................................................................................................. 16

BAB III TINJAUAN KASUS................................................................................................ 21

BAB IV PEMBAHASAN …………………………………………………………..…….. 33

BAB V PENUTUP……………………………………………………………………..….. 34

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………................35

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATARBELAKANG

Persalinan adalah suatu proses mendorong keluar hasil konsepsi (janin, plasenta dan
ketuban) dari dalam rahim lewat jalan lahir atau dengan jalan lain (Reeder, 2012).Persalinan
dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pervaginam dan pelahiran sectio caesarea. Persalinan
pervaginam adalah keluarnya hasil konsepsi melewati jalan lahir yang dapat dilakukan tanpa
bantuan alat (persalinan spontan) dan dengan bantuan alat (obstetrik operatif).

Pelahiran sectio caesarea adalah persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui insisi
pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh dan berat janin
diatas 500 gram yang sering disebut dengan sectio caesarea (SC) (Mitayani, 2011; Green, 2012).

Menurut WHO standar persalinan sectio caesarea di Inggris tahun 2008 sampai 2009
angka section caesarea mengalami peningkatan sebesar 24,6 % yang pada tahun 2004 sekitar
24,5 % dan di Australia tahun 2007 terjadi peningkatan 31% yang pada tahun 1980 hanya
sebesar 21% (Afriani, 2012).
Pada Global Survey WHO tentang Kesehatan Maternal dan Perinatal bahwa pada tahun
2005 di sejumlah Negara di Amerika Latin, insidensi dari presentasi bokong dan malpresentasi
lainnya adalah sebesar 11%. Pada tahun 2007-2008 tercatat di Asia insidensi presentasi bokong
dan malpresentasi lainnya adalah 5%. Pada Afrika Selatan di District Hospital, insidensi
presentasi bokong adalah 2,4%. Pada Clinics of Gynecology and Obstetrics, ministry of Health
of Bakirkoy Training and Research Hospital, Istanbul, Turkey, insidensi persalinan presentasi
bokong pada tahun 2003-2004 berjumlah 2,39%. Pada Siriraj Hospital Thailand pada tahun
2003, tercatat angka kejadian presentasi bokong sebesar 2,83% (Lumbiganon, 2010).
Di Indonesia sectio caesarea umumnya dilakukan bila ada indikasi medis tertentu,
sebagai tindakan mengakhiri kehamilan dengan komplikasi. Selain itu sectio caesarea juga
menjadi alternative persalinan tanpa indikasi medis karena dianggap lebih mudah dan nyaman.
Sectio caesarea sebanyak 25% dari jumlah kelahiran yang ada dilakukan pada ibu-ibu yang tidak
memiliki resiko tinggi untuk melahirkan secara normal maupun komplikasi persalinan lain
(Depkes, 2012).

1
Di Indonesia angka kejadian sectio caesarea mengalami peningkatan pada tahun 2000
jumlah ibu bersalin dengan sectio caesarea 47,22%, tahun 2001 sebesar 45, 19 %,tahun 2002
sebesar 47,13%, tahun 2003 sebesar 46,87%, tahun 2004 sebesar 53,2%, tahun 2005 sebesar
451,59%, dan tahun 2006 sebesar 53,68% dan tahun 2007belum terdapat data yang signifikan,
tahun 2009 sebesar sekitar 22,8% (Karundeng, 2014). Presentasi persalinan section caesarea di
rumah sakit pemerintah sebesar 20-25 % dari total persalinan sedangkan untuk rumah sakit
swasta sebesar 30-80 % dari semua persalinan (Ningrum, 2011).

Beberapa angka kejadian presentasi bokong yang tercatat di Indonesia seperti di Rumah
Sakit Umum Pusat dr. Kariadi Semarang adalah 7,6%. Pada tahun 2007 tercatat frekuensi dari
letak sungsang di Rumah Sakit dr. Pirngadi Medan 4,4% dan di Rumah Sakit Hasan Sadikin
Bandung 4,6%. Di RSUD dr. R Koesma Tuban tercatat pada tahun 2007 ditemukan 98 kasus
persalinan letak sungsang dari 987 persalinan (Sari, 2014). Berdasarkan data Riskesdas tahun
2013, tingkat persalinan SC di Indonesia (10%), Sumatera Barat (14%) dimana angka tersebut
hampir mendekati batas maksimal standar WHO.
Post partum dengan sectio caesaria dapat menyebabkan perubahan atau adaptasi
fisiologis yang terdiri dari perubahan involusio, lochea, bentuk tubuh, perubahan pada periode
post partum terdiri dari immiediate post partum, early post partum, dan late post partum, proses
menjadi orang tua dan adaptasi psikologis yang meliputi fase taking in, taking hold dan letting
go. Selain itu juga terdapat luka post op sectio caesarea yang menimbulkan gangguan
ketidaknyamanan : nyeri dan resiko infeksi yang dikarenakan terputusnya jaringan yang
mengakibatkan jaringan terbuka sehingga memudahkan kuman untuk masuk yang berakibat
menjadi infeksi. Dengan demikian klien dan keluarga dapat menerima info untuk menghadapi
masalah yang ada, perawat juga diharapkan dapat menjelaskan prosedur sebelum operasi sectio
caesarea dilakukan dan perlu diinformasikan pada ibu yang akan dirasakan selanjutnya setelah
operasi sectio caesarea.

Dalam mencermati masalah-masalah tersebut maka penulis tertarik untuk membuat laporan
kasus “Ny.”F” G6P5A1H5 Sectio Caesarea dan Tubektomi Atas Indikasi Letak Sunsang”.

2
1.2 TUJUAN
Laporan kasus ini disusun dengan tujuan untuk mempelajari asuhan kebidanan pada
Sectio Caesarea (Post Sectio Caesarea) dan tubektomi atas indikasi letak sungsang .

1.3 RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian dari masa nifas?


2. Apa pengertian dari Sectio Caesaria?
3. Apa pengertian dari Tubektomi?
4. Apa saja Standar Prosedur Operasional tindakan Kebidanan Sebelum Operasi ?
5. Apa saja Standar Prosedur Operasional Penatalaksanaan Sectio Caesaria ?
6. Apa saja Standar Prosedur Operasional Lama perawatan operasi Caesar?
7. Bagaimana tindakan Pre Operasi dan Post Operasi Sectio Caesaria?
8. Apa saja Perubahan-perubahan masa nifas post Sectio Caesare?
9. Bagaimana Perawatan pasca operasi?
10. Bagaimana asuhan kebidanan dari pada pasien dengan Sectio Caesarea (Post Sectio
Caesarea)?

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Sectio Caesaria


2.1.1 Pengertian sectio sesaria

Sectio sesaria yaitu suatu tindakan untuk melahirkan bayi melalui tindakan pembedahan
dengan membuka dinding perut dan dinding rahim yang disebabkan karena bayi tidak bisa lahir
pervaginam. Jadi seksio sesaria yaitu tindakan yang dilakukan untuk melahirkan bayi melalui
dinding perut dan dinding rahim dikarenakan bayi tidak bisa lahir dengan persalinan pervaginam
dengan syarat berat janin diatas 500 gram.

Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada
dinding uterus melalui dinding depan perut, seksio sesaria juga dapat juga didefinisikan sebagai
sesuatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim (Mochtar, 2013).

2.1.2 Indikasi sectio sesaria


1. Plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior)
Plasenta previa adalah kondisi plasenta menutupi jalan lahir.Pada kondisi normal,
plasenta atau ari-ari terletak dibagian atas rahim.Akan tetapai, adakalanya plasenta berada di
segmen bawah sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembuaan jalan lahir.Umumnya
dialami pada masa-masa hamil tua yaitu 28 minggu ke atas.sampai saat ini penyebabnya belum
diketahui.
Tenda-tanda perdarahan karena plasenta previa biasanya perdarahan pertama tidak
banyak. Baru selanjutnya teradi perdarahan hebat sampai perlu diwaspadai karena bisa
menyebabkan kematian ibu maupun janin (Wardoyo, 2007).
2. Panggul sempit
Panggul sempit adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai dengan ukuran lingkar
kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat melairkan secara alami. Tulang panggul
sangat menentukan mulus tidaknya proses persalinan. Tulang-tulang panggul merupakan
susunan beberapa tulang yang membentuk rongga panggul yang merupakan “jalan” yang harus
dilalui oleh janin ketika akan lahir secara alami.

4
Panggul sempit lebih sering terjadi pada wanita dengan tinggi badan kurang dari 145 cm.
setiap wanita memiliki bentuk panggul yang berlainan. Bentuk tulang panggul ada empat jenis,
yaitu panggul ginekoid, android, platpeloid, dan anthropoid.Sebenarnya bentuk apapun yang
dimiliki tidak mempengaruhi besar kecilnya ukuran panggul sehingga apabila masih dalam
kisaran normal janin dapat melaluinya. Namun, umunya bentuk panggul ginekoid yang akan
membantu memudahkan kelahiran bayi (Bramantyo, 2003).
Holmer mengambil batas rendah untuk melahirkan janin vias naituralis adalah CV=8 cm.
Panggul dengan CV (conjugata vera) < 8 cm dapat dipastikan tidak dapat melahirkan secara
normal, harus dilakukan sectio sesaria. Conjugata vera antara 8 – 10 cm boleh dilakukan partus
percobaan, baru setelah gagal, dilakukan section sesaria sekunder. Disproporsi
sevalopelvik, yaitu ketidakseimbangan antara ukuran kepala dan ukuran panggul.
3. Ruptur uteri
Ruptur Uteri adalah robekan atau diskontinuita dinding rahim akibat dilampauinya daya
regang miomentrium. Ruptur uteri adalah robeknya dinding uterus pada saat kehamilan atau
dalam persalinan dengan atau tanpa robeknya perioneum visceral.
4. Partus lama (prolonged labor)
Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan lebih
dari 18 jam pada multigravida.
5. Partus tak maju (obsctructed labor)
Partus tak maju adalah suatu persalinan dengan his yang adekuat yang tidak
menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala dan putar paksi selama 2 jam
terakhir. Penyebab partus tak maju antara lain adalah kelainan letak janin, kelainan
panggul,kelainan his, pimpinan partus yang salah, janin besar atau ada kelainan kongenital,
primitua,perut gantung, grandmulti dan ketuban pecah dini. Penatalaksanaan pada partus tak
majusalah satunya dengan melakukan sectio caesaria.
6. Distosia serviks
Distosia servik Adalah terhalangnya kemajuan persalinan karena kelainan pada serviks
uteri.Walaupun his normal dan baik,kadang pembukaan serviks macet karena ada kelainan yang
menyebabkan servik tidak mau membuka.
7. Pre-eklamsia
Pre eklamsia adalah keadaan dimana hipertensi disertai dengan proteinuria, edema atau

5
kedua-duanya yang terjadi akibat kehamilan setelah minggu ke 20 atau kadang-kadang timbul
lebih awal bila terdapat perubahan hidatidiformis yang luas pada vili dan korialis (Mitayani,
2009).
8. Hipertensi
Hipertensi adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan
darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah
(diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang
berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya.
9. Malpresentasi janin
Malpresentasi merupakan bagian terendah janin yang berada di bagian segmen bawah
rahim, bukan bagian belakang kepala sedangkan malposisi merupakan penunjuk (presenting
part) tidak berada di anterior.
Terdapat empat malpresentasi yaitu:
1) Letak lintang
Grenhill dan estman sependapat bahwa
a) jika pnggul terlalu sempit, seksio sesaria adalah cara terbaik dalam semua kasus
letak lintang dengan janin hidup dan ukuran normal.
b) Semua promigravida dengan janin letak lintang harus ditolong dengan seksio
sesaria, walaupun tidak ada perkiraan panggul sempit.
c) Multipara dengan janin letak lintang dapat lebih dlu dicoba ditolong dengan cara
lain.
2) Letak bokong
Seksio sesaria dianjurkan pada letak bokong pada kasus ;
d) Panggul sempit
e) Primigravida
f) Janin besar dan berharga
3) Presentasi dahi dan muka (letak defleksi) jika reposisi dan cara-cara lain berhasil.

2.2 Tubektomi
2.2.1 Pengertian tubektomi
Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk memberhentikan fertilisasi (kesuburan

6
seorang perempuan).
2.2.2 Mekanisme kerja
Dengan mengokulasi tuba falopii (mengikat dan memotong ata memasang cincin),
sehingga sperma tidak dapat bertemu ovum.
2.2.3 Manfaat
1. Kontasepsi
1) Sangat efektif (0,5 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama
pengguanaan)
2) Tidak mempengaruhi proses menyusui
3) Tidak tergantung pada factor senggama
4) Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi risiko kesehatan yang serius
5) Pembedahan sederhana dapat dilakukan dengan anastesi local
6) Tidak ada efeksamping dalam jangka panjang
7) Tidak ada perbahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada produksi hormone
ovarium)
2. Non kontrasepsi
Berkurangnya risiko kanker ovarium.
a. Ketebatasan
1. Harus dipertimbangkan sifat permanen metode kontrasepsi ini
2. Klien dapat menyesal dikemudian hari
3. Risiko komplikasi kecil (meningkat apabila digunakan anastesi umum)
4. Rasa sakit/ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan
5. Diakukan oleh dokter yang terlatih (dibutuhkan dokter spesialis ginekologi atau
dokter spesilis bedah untuk laparoskopi)
6. Tidak melindungi diri dari IMS, termasuk HBV dan HIV/AIDS
b. Yang dapat menjalani tubektomi
1. Yakin telah mempunyai keluarga yang sesuai dengan kehendaknya
2. Pada kehamilan yang menimbulkan resiko kesehatan serius
3. Pasca persalinan
4. Pasca keguguran
5. Paham dan secara sukarela setuju denga prosedur ini.

7
c. Yang sebaiknya tidak menjalankan tubektomi
1. Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)
2. Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus dievakuasi)
3. Infeksi sistematik atau pelvik yang akut
4. Tidak boleh menjalani proses pembedahan
5. Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas dimasa depan
6. Belum memberikan persetujuan tertulis
d. Kapan dilakukan
a. Setiap waktu selama siklus menstruasi apabila diyakini secara rasional klien tersebut
tidak hamil
b. Pasca persalinan
c. Pasca keguguran

2.3 Standar Prosedur Operasional tindakan Kebidanan Sebelum Operasi


Pelaksanaan tindakan asuhan sebelum dan sesudah operasi section caesaria adalah
tindakan menyiapkan pasien yang akan dilaksanakan operasi.
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah tindakan sebelum operasi Sc, agar ibu dan
bayi tertolongselama tndakan operasi.
Mempersiapkan ibu dengan sebaik-baiknya agar ibu dan bayinya tertolong selamat.
1. Persiapan
a. Periksa Lab lengkap (HB, AL, APTT, GOL,AT, HMT, HBsAG, GDS)
b. K/P USG
c. Siapkan resusitasi janin (prosedur tetap penanganan bayi baru lahir )
d. Siapkan obat-obatan sesuai prosedur tetap: al. Antikoagulasi, Antibiotika, analgetika,
corticosteroid, dll.
e. K/P siapkan tranfusi darah
2. Pelaksanaan Pre Oerasi
a. Siapkan mental pasien
b. Istri dan suami atau keluarga yang bertanggung jawab menandatangani atau cap
jempol surat peryataan persetujuan operasi/tindakan.
c. Beri konseling, pasang infuse

8
d. Beri informasi atau perosedur operasi secara sederhana jalannya operasi dan kenalkan
dokter yang akan operasi
e. Beri informasi petugas KBY/IBS/menulis dipapan infoemasi IBS (penyerahan pkb)
f. Cukur bulu kemaluan, cukur daerah perut sampai bersih (K/P)
g. Pasien puasa/tahan makan dan minum minimal 6 jam
h. Tidak memakai perhiasan gigi palsu dan lain-lainSiapkan obat-obatan dan status
lengkap
i. Kosongkan kandung kencing/pasang DC
j. Kenakan topi/mitela baju operasi
k. Bimbing doa sebelum operasi
l. Observasi: DJJ, his, dan pengeluaran pervaginam.
m. Bawa/antar pasien kekamar operasi dengan brangkar bersama status obat-obatan dll
n. Beritahu dokter bahwa pasien masuk

2.4 Standar Prosedur Operasional Penatalaksanaan Sectio Caesaria


Sectio caesaria adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi perabdominan dengan
membuat sayatan pada dinding perut dan rahim atas indikasi tertentu.
SPO digunakan sebagai acuan dilakukan tindakan sectio caesaria sehingga mendapat
hasil tindakan yang optimal dengan mordibitas dan mortalitas ibu dan bayi serendah mungkin.
Dilakukan pada pasien yang tidak bisa melalui persalinan pervaginam dengan indikasi
tertentu
1. Tindakan section caesaria dilakukan atas indikasi tertentu dimana bila persalinan
dilakukan pervaginam akan meningkatkan risiko komplikasi pada ibu atau bayinya.
2. Tindakan section caesaria dilakukan oleh seorang dokter spesialis obstetric dan
ginekologi.
3. Indikasi section caesaria adalah:
a. Disproporsi kepala panggul
b. Letak lintang yang tidak berhasi dikoreksi
c. Letak sungsang dengan taksiran berat badan janin >3500gram.
d. Letak sungsang dengan ibu panggul sempit relative.
e. Presentasi kaki

9
f. Tumor yang menghalangi jalan lahir
g. Hidrosefalus dengan jaringan otak yang masih baik
h. Presentasi dahi
i. Presentasi muka dengan dagu di belakang
j. Panggul sempit absolute
k. Tali pusat menumbung
l. Plasenta previa totalis
m. Plasenta previa dengan perdarahan banyak
n. Plasenta previa lateralis yang menutupi lebih dari setenganh pembukaan servik
o. Riwayat section caesaria dua kali
p. Riwayat operasi pada daerah corpus uteri
q. Tindakan ekstrasi vakum/ekstrasi forceps gagal
r. Plasenta previa lateralis/ margiralis dengan plasenta di SBR bagian belakang
4. Mempersiapkan tim dan peralatan
a. Setelah ditetapkan adanya indikasi sectio caesaria, bidan ruang bersalin menghubungi
dokter spesialis anak dan perawat ruang bayi serta dokter spesialis anastesi dan
perawat kamar operasi.
b. Dokter spesialis obstetric dan gineologi, anastesi dan anal: mendiskusikan keadaan
pasien serta penyulit yang mungkin timbul selam dan setelah operasi serta pilihan
cara anastesi.
c. Perawat kamar operasi mempersiapkan peralatan operasi
d. Perawat kamar bayi mempersiapkan peralatan resusitasi.
5. Persiapan pasien
a. Periksa dan yakinkan kembali indikasi sectio caesaria sudah tepat
b. Pasien dan keluarga diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan serta
penyulit yang timbul
c. Pasien dan keluarga menandatangani formulir izin persetujuan
tindakan
d. Pasang infuse dan siapkan darah untuk kemungkinan transfuse
e. Pasang kateter
f. Ganti pakaian khusus kamar operasi.

10
2.5 Standar Prosedur Operasional Lama perawatan operasi Caesar
Mengobservasi ibu pasca operasi sehingga mencegah kompliksasi yang mungkin terjadi
setiap bidan mampu merawat optimal dalam waktu 4 hari.
1. Pasien dating di bangsal sakinah
2. Melakukan anamnesis, mengkaji keluhan dan keadaan umum
3. Melakukan penyuluhan tentang rawat gabung, mobilisasi, asi ekslusif
4. Sampaikan pada pasien dan keluarga mengenai keadaan ibu dan diminta untuk
aktif membantu
5. Mengobservasi luka operasi, perdarahan, dan keberhasilan menyususi.
6. Melakukan pengelolaan obat
7. Pastikanm pasien dan keluarga mengerti hal-hal yang disampaikan dan bersedia
mematuhi semua aturan.
8. Melakukan evaluasi dalam 4 hari dan menganjurkan untuk control ulang

2.6 Tindakan Pre Operasi dan Post Operasi Sectio Caesaria


1. Tindakan Pre Operasi section caesaria
Prosedur operasi Caesar sudah mulai dilakukan sebelum operasi yaitu:
a. Pemeriksaan fisik untuk merencanakan secara cermat jenis anastesi, lama dan teknik
pembedahan, dan antisipasi kesulitan atau komplikasi operasi. Umunya, pemeriksaan
fisik meliputi keadaan umum pasien, seperti tingkat kesadaran, status gizi, paru-paru,
jantung, lambung, hati, limpa, anggota gerak, tekanan darah, pembuluh nadi, dan suhu
tubuh.
b. Pemeriksaan obstetric untuk memastikan keadaan, letak dan presentasi janin, seperti
sungsang atau tidak, berapa perkiraan berat janin, janin tunggal atau kembar.
c. Pemeriksaan darah dan labolatorium rutin, seperti hemoglobin (zat pewarna dalam sel
darah merah), leukosit (sel darah putih), trombosit (keeping darah), dan golongan darah.
Pada operasi yang sudah terencana, darah akan diambil dan dites untuk mengetahui kadar
gulanya.
d. Pemeriksaan alergi dan riwayat medis lain.
e. Riwayat kesehatan, peyakit sebelumnya, seperti apakah pernah menderita penyakit paru
(asma, tuberculosis), jantung (iskemi), hati (hepatitis), kelainan pembekuan darah,

11
diabetes mellitus, dan riwayat operasi sebelumnya, serta kesulitan atau komplikasi yang
pernah terjadi. Hal ini untuk meramalkan perlekatan dan kelainan organ, misalnya
kanker.
f. Pemeriksaan khusus, terutama pada ibu ang melahirkan pada usia lebih dari 40 tahun.
Misalnya, rotgen untuk melihat kelainan paru, pemeriksaan darah untuk mengetahui
kondisi ginjal, kadar gula, hepatitis,kelainan darah, USG (ultrasonografi) untuk
mengetahui posisi dan besar tumor (jika ada).
g. Pasien diharuskan puasa 6 jam sebelum operasi. Pasien darurat yang tidak dapat berpuasa
harus dipasang pipa lambung dan dihisap sampai benar-benar kosong.
h. Pesetujuan tindakan operasi dari istri dan suami.
i. Baju pasien diganti dengan baju khusus yang di pakai selama dikamar operasi.
j. Rambut sekitar kemaluan dan perut bagian bawah dicukur, meskipun kini tidak semua
rumah sakit melakukannya.
k. Apabila terdapat infeksi intrapartum(dalam persalinan) dan ketuban pecah lama pada
masa sebelum operasi maka vagina dibersihkan dengan cairan betadin.
l. Infuse diberikan sebelum, selama, dan setelah pembedahan.
m. Memasukan kateter kedalam lubang saluran kemih, ini untuk menampung urin yang
keluar selama dan setelah persalinan, apabila jika menggunakan bius total.
n. Diruang operasi pasien akan dibaringkan dalam posisi yang tepat untuk prosedur
tindakan di meja operasi sehingga mudah dan aman bagi dokter anastesi dan dokter
obstetrik, dan para medis lainya untuk melakukan tugasnya. Pasien dibaringkan dengan
wajah menghadap keatas dan kepala tengadah untuk memudahkan pernafasan.
o. Pemasangan tensi, infuse, dan kateter urin.
p. Kulit perut dibersihkan dengan bilasan air dan sabun untuk membersihkan lemak dan
kotoran. Untuk mencegah kontaminasi kulit perut dioleskan cairan antiseptic.
Selanjutnya, dipasang dipasang kain steril dengan lubang yang telah dioleskan cairan
antiseptic. Jika prsalinan dilakukan dengan bius regional, akan dibentang sehelai kain
diatas perut pasien untuk menutupi jalanya operasi dari pandangan pasien. Setelah itu
mulai dilakukan pembedahan.

12
2. Tindakan Intra Operasi Sectio Caesaria
a. Melakukan pemantauan tanda-tanda vital.
b. Melakukan pemantauan perdarahan.
c. Penanganan awal bayi baru lahir.
d. Melakukan IMD pada bayi.

3. Tindakan Post Operasi Sectio Caesaria


Setelah dari ruang operasi pasien akan dibawa keruang pemulihan. Di ruang ini, berbagai
pemeriksaan akan dilakukan, meliputi, pemeriksaan tingkat kesadaran, sirkulasi pernafasan,
tekanan darah, suhu tubh, jumlah uurin ang tertampug dikantong urin, jumlah darah dala tubuh,
serta jumlah darah dan bentuk cairan lokhea. Ini untuk tidak menemukan gumpalan darah yang
abnormal atau perdarahan yang berlebihan. Kondisi rahim (uterus) juga akan diperiksa untuk
memastikan bahwa keduannya dalam kondisi yang normal. Selain itu, dokter juga akan
memantau keadaan emosional secara umum.
Semua pemantauan ini untuk mengetahui kondisi ibu dan bayinya. Ketidak normalan
atau gangguan kesehatan tubuh dapat diketahui melalui tanda-tanda tubuh yang muncul, serta
semua alat monitoring tadi, termasuk apakah ibu dapat menyusui bayinya atau tidak. Oleh
karena itu, pemeriksaan dan monitoring akan dilakukan beberpa kali sampai tubuh dinyatakan
sehat. Biasanya, pemeriksaan akan dilakukan setiap empat jam sekali pada hari pertama dan
kedua, dan dua kali sehari pada hari ketiga sampai sampai saatnya pulang kembali kerumah.
Setelah operasi, ibu juga tidak boeh langsung minum atau makan, kedua hal itu baru
boleh dilakukan, jika fungsi organ pencernaan sudah kembali normal. Umumnya, fungsi
gastrointestinal (organ pencernaan) akan kembali normal dalam 12 jam setelah operasi. Awalnya
pasien akan diberikan diet cairan sedikit demi sedikit, baru kemudian makanan padat beberapa
saat kemudian.
Setelah melewati tahap kritis diruang pemulihan, Biasanya pasien dipindahkan keruang
rawat inap.Persalinan yang dilakukan dengan operasi membutuhkan rawat inap yang lama
dirumah sakit. Hal ini tergantung cepat lambatnya penyembuhan ibu akibat proses pembedahan.
Hal ini membutuhkan waktu 3-5 hari setelah operasi. Pada hark ke-5, apabila tidak ada
komplikasi, ibu diperbolehkan pulang kerumah.
Berikut ini tindakan pemeriksaan selam ibu dirumah sakit:

13
a. Pengukuran denyut jantung dan tekanan darah. Pengukuran ini biasanya dilakukan
beberapa kali dalam sehari.
b. Jika pasien mendapat bius epidural maka efek biusnya kecil, sedangkan apabila
menggunakan anastesi spinal, tungkai bawah akan terasa kebas/baal, tidak dapat
digerakan selama beberapa jam. Namun, apabila operasi mengunakan anastesi umum,
biasanya pasien akan mengantuk , serta nyeri kerongkongan (akibat selang yang biasnya
dimasukan kedalam mulut dan kerongkongan untuk membantu pernafasan). Selain itu,
mulutpun terasa kering beberapa jam setelah operasi.
Perasaan letih dan bingung mungin akan dialami sebagian besar ibu setelah melahirkan.
Setelah itu, mungkin akan timbul perasaan tidak nyaman karena nyeri didaerah luka,
terutama setelah pengaruh obat biusnya menghilang.
c. Meskipun persalinan dengan operasi, pasien juga dapat mengalami perdarahan vagina
karena cairan lokhea akan mengalir dari rahim ibu. Jumlah dan penampilan lokhea yang
bercampur darah akan dipantau secara teratur oleh bidan rumah sakit dengan
menanyakan kepada pasien atau jika diperlukan akan pemeriksaan langsung dari
pembalutnya.
d. Bidan juga akan mencatat dan memeriksa air seni yang keluar dan tertampung dikantong
urin selama ibu masih menggunakan kateter. Kateter masih deikanakan, sampai ibu
masih merasa kuat bangun dari tempat tidur. Selainitu ditanyakan pula berapa kali sudah
buang air besar. Kateter untuk membuang air kecil akan terus digunakan sampai 12-24
jam pascabedah. Namun apabila warna urin jernih maka pemasanga kateter akan
berangsung lebih lama. Kateter akan dipasang sampai 48 jam atau lebih jika
pembedahannya akibat rupture uteri, partus lama atau macet, oedema perineum yang luas
dan sepsis puerperalis atau pelvio peritonitis serta hematuria. Apabila sampai terjadi
perlukaan pada akndung kemih,kateter dipasang sampai 7 hari.
Pada umunya buang air besar pada ibu post SC terjadi pada hari ketiga. Biasanya, banyak
wanita menjadi sembelit setelah peralinan karena sejumlah cairan hilng dari tubuh,
sedangkan dubur menyerap air sebanyak mungindari tinja agar caira tubuh seimbang.
Kejadian ini biasanya terjadi pada hari persama sampai hari kelima pasca peralinan
Sectio Caesar. Biasanya diberikan obat pencahar dari rumah sakit dan menu makanan
yang berserat tinggi seperti sereal dan buah-buahan.

14
e. Tes darah kadang dilakukan sedikitnya sekali setelah persalinan untuk memastika bahwa
hemoglobin ibu sudah kembali normal.
f. Pada beberapa pasien, infus masih tetap dipasang, sampai kondisi tubuh pasien dikatakan
normal biasanya setelah 24 jam pasca persalinan. Misalnya ibu sudah dapat makan atau
minum dengan baik dan bangun dari tempat tidurnya. Pada enam jam setelah operasi ibu
dapat diberi minuman hangat sedikit demi sedikit, kemudian secara bertahap lebih
banyak biasanya terjadi pada pasien dengan anastesi regional (jika tidak muntah). Pada
anastesi total biasanya leih lama. Pada anastesi regional ibu diperbolehkan minum stelah
ibu buang gas. Setelah itu ibu dapat minum sedikit demi sedikit dan dilanjutkan dengan
makan makanan yang lembut.
g. Bekas sayatan juga akan diperiksa, kalau diperlukan perban akan diganti.umunya, kasa
pada perut akan diganti pada hari ketiga atau keempat atau sebelum pulang selanjutnya
pasien dapat menggantinya setiap hari.
h. Mengukur suhu tubuh. Apabila suhu tubuh mencpai 38 °C atau lebih maka harus dicari
penyebanya. Kemungkinan terjadi infeksi dalam tubuh.
i. Gerakan tubuh membantu ibu memperoleh kembali kekuatan dengan cepat dan
mempermudah kerja usus besar serta kandung kemih, paling tidak ibu bisa buang gas.
Pada enam jam pertama ibu dibant untuk menggerakan lengan, tangan, kaki, dan jari-jari
agar organ pencernaan segera kembali normal. Namun apabila gerakan ini masih terasa
berat, setidaknya 12 jam setelah operasi sudah mampu mengerakan kakai dan tungkai
bawah. Berawal dari sini ibu mulai duduk pada jam ke delapan sampai jam ke duabelas
setelah operasi. Ibu dapat berjalan apabila mamp pada 24 jam stelah operasi.
Namun, pada hari pertama setelah operasi ibu akan berjalan sempoyongan. Pada hari
kedua ibu masih akan terasa lelah dan terganggu dengan adanya sayatan diperut bagian
bawah. Ibu diminta memulai gerakan dari menggerakan ujung jari kaki, memutar
pergelangan kaki, mengangkat tumit, menegangkan otot betis, serta menekuk dan
menggeser-geser kakai kearah pinggir tempat tidur.
j. Dokter juga akan menannyakan mengenai kontrasepsi yang mungkin akan dikenakan.
k. Dokter juga akan menganjurkan ibu untuk istirahat cukup setelah diberikan suntikan
untuk mengurangi rasa sakit.
l. Pada hari kedua dan ketiga jika ibu sudah dapat berjalan ibu diminta ntuk segera

15
membersihkan diri untuk menjaga kebersihan ibu.
m. Bidan juga akan menunjukan kepada pasien cara membersihkan tali pusat bayi yang
belum putus. Pada beberapa rumah sakit malah tersedia penyuluhan mengenai hal ini
bagi ibu-ibu yang baru melahirkan.
n. Ibu akan diberi tanggal untuk pemeriksaan pasca persalinan dengan membawa bayi untuk
melakukan pemeriksaan pertama setelah melahirkan.

2.7 Perawatan pasca operasi


1. Perawatan luka insisi
Proses sterilisasi yang baik pada alat-alat operasi dan kamar bedah, ditambah dukungan
antibiotik yang adekuat membuat perawatan luka operasi menjadi jauh lebih mudah. Luka pasca
operasi dapat diolesi salep antibiotik atau dilapisi Sofratulle®, lalu ditutup dengan plester plastik
sekali pakai (disposable), yang salah satunya dikenal dipasaran dengan nama dagang
Tegaderm®. Penggunaan plester plastik tersebut sangat memudahkan pasien karena pasien dapat
mandi meskipun plester baru dibuka pada hari ketujuh atau hari kedelapan.

2. Komplikasi luka operasi


Secara umum, luka operasi yang ditata laksana secara adekuat jarang mengalami
komplikasi, tetapi pada kasus-kasus tertentu, dapat dijumpai luka operasi yang basah.
a. Luka operasi yang mengeluarkan darah, eksudat, atau nanah.
Ditata laksana dengan melakukan pemijatan untuk mengeluarkan semua darah, eksudat
ataupun nanah yang masih ada dibawah kulit. Setelah tidak ada lagi cairan yang keluar, luka
operasi yang basah dirawat secara basah pula, dengan menggompres luka dengan kasa lembab.
Kasa dilembabkan dengan meneteskan cairan steril ditambah antibiotik atau dengan
menambahkan Rivanol tiap 15 menit untuk menarik cairan bawah kulit yang tersisa. Kasa
diganti 2x sehari atau jika telah terlihat kotor.
b. Luka operasi yang berlubang.
Apabila masih ada cairan darah atau nanah, luka yang berlubang tersebut tetap tertata
laksana seperti pada penjelasan nomor 1. Pemeriksaan kultur ditambah uji sensitifitas antibiotik
pada spesimen nanah akan sangat membantu untuk memilih antibiotik.
Apabila luka terbuka terbuka lebih dalam sampai kelapisan fascia, atau lebih dalam lagi

16
hingga menembus rongga abdomen, luka ditata laksana dengan melakukan penutupan luka
(penjahitan) sekunder di kamar bedah.

3. Anastesi pada seksio sesaria


Jenis tindakan anastesi yang lazim dilakukan pada pasien seksio sesaria adalah sebagian
berikut.
a. Anastesi umum
Disebut juga dengan istilah general anasthesia, adalah teknik pembiusan yang membuat
pasien tidak sadar selama operasi. Teknik tersebut sudah lama dipergunakan, tetapi seiring
dengan perkembangan ilmu anastesi, teknik ini perlahan-lahan mulai ditinggilkan, kecuali pada
kasus-kasus tertentu.
Keuntungn teknik tadi adalah pasien lebih tenang dan pergerakan usus lebih terkendali.
Kekurangannya adalah :
1) Jika proses pengeluaran janin lama, janin akan ikut terpengaruh sehingga nilai APGAR
akan turun.
2) Pasien harus menjalani puasa pascaoperasi hingga flatus atau bising usus (+), yang dapat
berlangsung sampai 24 jam.
3) Mual muntah
4) Biaya yang relatif lebih mahal.

b. Anastesi spinal
Proses pembiusan melalui tulang punggungsehingga yang mati rasa hanya dari pinggang
kebawah dan pasien tetap sadar. Teknik ini kini sangat populer.
Keuntungan anastesi spinal adalah :
a) Pasien tetap sadar
b) Janin tidak berpengaruh walaupun proses pengeluaran janin berlangsung lama
c) Sesuai stabilisasi pasien dapat berlangsung lama
d) Sesuai stabilisasi, pasien dapat langsung minum dan makan secara bertahap
e) Biaya yang relatif lebih murah
f) Komplikasi lebih sedikit

17
Kerugian adalah :
a) Pasien harus tetap berbaring selama 24 jam
b) Dapat terjadi nyeri tengkuk atau nyeri kepala

4. Tempat perawatan pasca bedah


Tindakan dikamar opersai selesai, pasien dipindahkan ke kamar operasi khusus yang
dilengkapi dengan alat pendingin udara selama beberapa hari, jika setelah pembedahan keadaan
pasien gawat segera pindahkan pasien ke unit perawatan intensif (intensive care unit) untuk
perawatan bersama dengan unit anastesi karena ICU mempunyai peralatan yang menyelamatkan
pasien yang lebih lengkap.
Setelah beberapa hari dirawat didalam kamar perawatan khusus atau unit perawatan
intensif dan keadaan pasien mulai pulih, barulah pasien dipindahkan keruang perawatan semula.
Di ruang nifas, perwatan luka dan pengukuran tanda-tanda vital pasien dilanjutkan seperti bias.

5. Pemberian cairan dalam infus dan diet


Prisip pemberian cairan diet sebenarnya bergantung pda tindakan anastesi yang telah
dilakukan pada pasien. Pada pasien yang dibius dengan anastesi spinal, tidak ada aturan khusus
untuk memberikan cairan dan diet karena pada prinsipnya, pasien dapat segera minum dan
makan setelah keadaran kembali. Cairan infus sebagai selain sebagai sumber asupan cairan,
sering juga dipergunakan sebagi tempat pemberian antibiotik dan analgetik intravena dianggap
sudah mencukupi, infus dapat segera dilepas dan pemberian obat-obatan. Pada dilanjutkan
peroral.
Pada pasien yang dianastesi umum, pemberian cairan harus lebih diperhatikan karena
pasien harus dipuasakan sampai bising usus sudah terdengar. Selama puasa itu, asupan kalori
dan jumlah kalori harus dihitung. Secar umum, pemberian infus Valamin®, Futrolit® dan cairan
sejenisnya yang cukup memadai.
Diet dapat diawali dengan makanan lunak diikuti makanan biasa tinggi serat. Pemberian
makanan sering kali tidak diperlukan karena pada operasi seksio sesaria, tidak ada manipulasi
pada saluran cerna.
6. Penatalaksanaan nyeri
Pada 24 jam pertam pasca operasi, pasien akan merasa nyeri sehingga diberikan analgetik

18
yang adekuat. Rasa nyeri pada pasien yang mendapat anastesi spinal timbul sejak tungkai bawah
mulai dapat digerakan. Lazimnya penghilang sakit tlah diberikan dalam tetesan infus oleh dokter
anastesi, selanjutnya analgetik dapat diberikan diruang rawat.

7. Kateterisasi
Pengosongan kandung kemih pada bedah kebidanan pervaginam sama denga persalinan
biasa jika tidak ada luka robekan yang luas pada jalan lahir. Jika terdapat luka robekan yang luas,
untuk mencegah iritasi dan pencemaran oleh urin, kandung kemih dikosongkan dengan kateter.
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri yang tidak enak pada pasien,
menghalangi involusi uterus, dan menyebabkan perdarahan. Karena itu, dianjurkan pemasangan
kateter tetap dauer atau kateter belon yang dipasang selama 24-48 jam tau lebih, tergantung jenis
operasi dan keadaan pasien. Dengan cara tersebut, urin dapat ditampung dan diukur dalam botol
plastik secara periodik.
Apabila tidak dipasangkateter tetap, dianjurkan untuk melakukakan kateterisasi rutin
kira-kira 12 jam jam pascabedah, kecuali psien dapat buang air kecil sendiri sebanyak 100 cc
atau lebih dalam satu jangka waktu. Selanjutnya kateterisasi diulangi setiap 8 jam, kecuali pasien
dapat buang air kecil sendiri.

8. Pemberian obat-obatan
a. Antibiotik, kemotrapi dan antiimflamsi.
Seasepsis apapun kita bekerja , tidak ada jaminan luka akan sembuh perprimum tanpa
pemberian antibiotik. Ditambah dafpula, sebagian besar pasien yang menjalani bedah kebidanan
adalah pasien yang tidak terdaftar dan dikirim dari luar. Sebelum dikirim oleh penolong yang
pertama biasanya telah dilakukna manipulasi- manipulasi pervaginam yang sepsis dan dapat
menimbulkan infeksi inttrapartum. Dipihak lain, fasilitas rumah sakit yang benar-benar asepsis
masih disangsikan keberadaanya. Karena itu pada bedah kebidanan pervaginam dan
perabdominal, bagaimanapun luka pasien, perlindungan antibiotik masih diperlukan.
Pedoman umum pemulihan dan pemberian antibiotik adalah sebagai berikut.
1) Golongan antibiotik yang aman dan efektif untuk pascapersalinan dan pasca
operasioperasi adalah golongan sefalosporin generasi kedua atau ketiga, seperti
sefadroksil atau seftriakson. Kombinasi dengan metronidazol akan memberikan hasil

19
yang lebih memuaskan karena akan memberikan hasil yang lebih memuaskan karena
akan menckup juga kuman- kuman anaerob. Efek samping yang mungkin timbul antara
lain mual.
2) Pada kasus-kasus tertentu, pasien masih dapat terinfeksi, yang ditandai denga luka yang
basah, bernanah, maupun timbul demam. Jika terjai demikian lalukan uji efektivitas
antibiotik pada kultur spesimen darah (pus) atau kultur darah. Pemberian antibiotik
diberikan pada uji sensivitas terebut.

b. Mobilisasi segera dan banyak minum air hangat akan mencegah pasien kembung. Jika
terdapat kembung dapat diberikan klopramid 3 x 10 mg setelah jam sebelum makan.
Kombinasi dengan antasid yang mengandung dimetilpolisiloksan akan memberikan hasil
yang lebih baik.
c. Obat pelacar ASI, seperti Laktafi®, Milmor®, dapat diberikan beberapa kali sebelum
operasi /melahirkan.
d. Vitamin C, B Complek dpat diberikan untuk mempercepat penyembuhan pasien.
e. Obat-obatan pencegah perut kembung. Untuk mencegah perut kembung dan untuk
memperlancar kerja saluran cerna, dpat diberikan obat-obatan melelui suntikan dan
peroral. Antaralain primperam, prostigmin, dan sebagainya. Apabila terjadi distensi
abdomen, yang ditandai denga adanya perut kembung dan meteorismus dilakukan
dekompresi dengan pemasangan pipa rektal dan pipa nasal. Boleh juga diberikan
bisakodil supositiria, 36 jam pascabedah.
f. Obat-obatan lainya
Untuk meningkatkan vitalitasdan keadaan umum pasien, dapat diberikan roboransia, obat
antiimflamansi, atau tranfusi darah pada pasien yang anemis (muchtar, 2012).

20
BAB III

TINJAUAN KASUS

Manajemen Asuhan Kebidanan Ibu Nifas pada Ny “ F ” G6P5A1H5 Sectio Caesarea


a/i Letak Sungsang dan Tubektomi di RSUD DR.Rasidin Padang
Tanggal 24 Agustus 2019
Nama Ibu : Ny “ F ”
Umur : 34 tahun
Suku /Bangsa : Minang/ Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SLTP
Pekerjaan : IRT
Alamat Rumah : Korong Gadang Kuranji
Telp.Rumah : 08522177xxxx

Nama Suami : Tn “ E”
Umur : 37 Tahun
Suku /Bangsa : Minang/ Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SLTP
Pekerjaan : Buruh
Alamat Rumah : Korong Gadang Kuranji
Telp.Rumah : 08522177xxxx

Nama keluarga terdekat yang bisa dihubungi : Tn “E”


Alamat Rumah : Korong Gadang Kuranji
Telp Rumah/No HP : 08522177xxxx
A. Data Subjektif
1. Alasan kunjungan ini
Rencana Sectio Caesarea gravida ke-enam atas indikasi letak sungsang.

21
2. Riwayat kesehatan ibu sebelumnya
Ibu datang didampingi suami datang ke RSUD DR. Rasidin melalui Poli Kebidanan pada
tanggal 23/8/2018, pukul : 11.17 WIB dengan diagnosa G6P4A1H4 aterm atas indikasi
letak sungsang.
3. Riwayat kesehatan sekarang
Keadaan umum ibu nampak lemah karena dalam pengaruh obat anestesi, tekanan darah
110/70 mmHg, terpasang IVFD Assering dengan 20tts/menit, terpasang kateter, kontraksi
uterus baik, terdapat luka Oprasi SC, pengeluaran lochea rubra kurang lebih 20 cc, dan
bedrest ditempat tidur.
4. Riwayat Penyakit sistemik
Tidak pernah menderita penyakit jantung ,paru, hati, ginjal, DM, HT,dan kelainan darah.
5. Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit keturunan.
6. Riwayat alergi
Jenis makanan : Tidak ada
Jenis Obat-obatan : Tidak ada
7. Riwayat transfusi darah : Tidak ada
8. Riwayat pernah mengalami gangguan jiwa : Tidak pernah
9. Riwayat perkawinan
- Status perkawinan : Sah
- Perkawinan ke :1
10. Kontrasepsi yang pernah digunakan : Suntik 3 bulan
11. Riwayat kehamilan,persalinan,nifas yang lalu :

No Tgl UK Jenis Tempat Penol Bayi Komplik Nifas


lahir (mingg persal Persalin ong asi
u) inan an
JK BB/PB kead Ibu ba loch ASI
aan yi ea

22
1 06/04 36-37 Norm Puskes Bidan P 3200/4 Baik - - Nor Lancar
/2005 al mas 8 mal

2. 18/04 37-38 Norm Puskes Bidan P 2700/4 baik - - Nor Lancar


/2009 al mas 9 mal

3. 27/07 38-39 Norm Puskes Bidan L 3000/4 BAI - - Nor Lancar


/2014 al mas 8 K mal

4 /11/2 38 Norm Bpm Bidan L 3100/4 Baik - - Nor Lancar


016 al 8 mal

5. 2018 Abortu
s
6 24/08 37-38 SC RS Dokte P Baik Nor Lancar
/2019 r mal

12. Pola kebiasaan


a. Nutrisi
• Makan
Sebelum hamil : 3-4x sehari
Sesudah melahirkan : Ibu dipuasakan post sc selama jam,setelah 6 jam ibu
diberi minum,teh hangat dan makan 3x sehari.
• Minum
Sebelum hamil : 8 gelas /hari,ibu tidak mengkonsumsi susu
Sesudah melahirkan : Ibu dipuasakan 6 jam,dan di beri minum setelah
dipuasakan.
b. Eliminasi
• BAB
Sebelum hamil :
Frekuensi : 1-2x/hari konsentrasi : padat keluhan : tidak ada

23
Sesudah melahirkan
Frekuensi: 1x/hari konsentrasi : padat keluhan: tidak ada
• BAK
Sebelum hamil :
Frekuensi :5-6 x/hari konsentrasi : jernih keluhan : tidak ada
c. Istirahat / tidur
Sebelum hamil : siang 1 jam,malam 7-8 jam
d. Psikologis : Baik
e. Riwayat sosial budaya : Baik
f. Dukungan keluarga : Baik
g. Pantangan makanan : Tidak ada
h. Penggunaan obat-obatan /rokok : Tidak ada

B. Data Objektif
1. Status emosional : Stabil
2. Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Suhu : 36,3 OC
Nadi : 80 x/i
Pernapasan : 22 x/i
BB sebelum hamil : 62 kg
BB sekarang : 77 kg
TB : 157 cm
Lila : 31 cm
3. Pemeriksaan Khusus
• Kepala
- Rambut : Rambut tidak rontok,kulit kepala bersih
- Mata : Skela tidak ikterik,Conjungtiva tidak pucat
- Muka : Tidak oedema,tidak ada cloasma gravidarum
- Mulut : Tidak ada stomatitis,tidak ada caries
• Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan kelenjar tiroid

24
• Dada
- Puting susu : Menonjol,puting tidak pecah
- Areola : Hiperpigmentasi
- Pembesaran : Normal
- Kebersihan : Bersih
- Benjolan : Tidak ada
- Nyeri : Tidak ada
- Kolostrum / ASI : Tidak Ada
• Abdomen
- Bentuk : Normal
- Pembesaran : Normal
- Kebersihan : Bersih
- Striae : Ada
- Luka operasi : Luka ditutupi dengan kassa
- TFU : 2 jari dibawah pusat
- Kontraksi : Baik
- Kandung kemih : Tidak teraba
• Genitalia
- Terpasang Kateter
- Kemerahan : Tidak ada
- Pembengkakan : Tidak ada
- Oedema : Tidak ada
- Varises : Tidak ada
• Ekstremitas
- Atas
Infus terpasang : RL
Oedema : Tidak ada
Sianosis ujung jari : Tidak ada
- Bawah
Oedema : Tidak ada
Varises : Tidak ada

25
C. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 09 Agustus 2019
Hb : 11,5 g/dl
Trombosit :329.000
Hematokrit : 36

26
DATA PERKEMBANGAN NY “F” P5A1H5 IBU NIFAS SECTIO CAESAREA DAN TUBEKTOMI

a/I LETAK SUNGSANG DI RSUD DR. RASIDIN PADANG

24 AGUSTUS 2019

Data Subjektif Data Objektif Analisis Penatalaksanaan

Pre-op

• Ini kehamilan keenam Pemeriksaan fisik Diagnosa : 1. Pukul : 11.50 WIB


• Ibu masuk ruang operasi Persiapan ruangan
• Keadaan umum : baik Ibu G6P4A1H4 usia
dengan kondisi ibu dapat - Menyiapkan ruang operasi
• Emosional : stabil kehamilan 37-38
turun dari bed dan pindah ke Persiapan operasi untuk ibu
• Kesadaran compos minggu, janin hidup,
kursi. - Pasien puasa/tahan makan dan
mentis tunggal, intrauterine,
minum minimal 6 jam
• Terpasang infuse RL dengan indikasi letak
- Cukur bulu kemaluan, cukur
• Terpasang kateter sungsang.
daerah perut sampai bersih
Kebutuhan : (K/P)
- Tidak memakai perhiasan gigi
• Persiapan operasi
palsu dan lain-lain
- Siapkan obat-obatan dan
status lengkap
- Kosongkan kandung
kencing/pasang DC

27
- Mengganti pakaian ibu
dengan mengenakan
topi/mitela baju operasi
- Bawa/antar pasien kekamar
operasi
Evaluasi : Persiapan telah dilakukan
dan pasien sudah masuk ruang
operasi.

Intra-op
Pemeriksaan fisik Diagnosa : Pukul 12. 10 wib
1. Saat operasi posisi ibu:
1.Tindakan pembedahan
supine • Keadaan umum : baik Ibu G6P4A1H4 usia
Evaluasi: tindakan pembedahan
2. Pasien akan dilakukan • TD: 124/65 mmHg kehamilan 37-38
berlangsung selama 1 jam 20 menit
persalinan secara section • Suhu: 36,5 oC minggu, janin hidup,
jam operasi dimulai pukul 12.10 wib
caesarea tunggal, intrauterine,
• Nadi: 84x/i
dan jam operasi selesai pukul 13.30
3. Pasien akan dilakukan dengan indikasi letak
• RR: 21x/i
wib
tindakan tubektomi sungsang.
• Sp.O2: 96%
4. Pasien dilakukan anastei
• Terpasang infuse Kebutuhan: tindakan
Spinal.
(Asering 500 ml+ pembedahan
5. Menggunakan alat-alat

28
elektrosurgery selama methylergometrin
pembedahan maleate)
6. Pasien terpasang IV line, • Terpasang kateter
kateter, monitor, • Oksigen terpasang
pengantar eletroda, dll

Post-op Pemeriksaan fisik 1. Pukul : 14.00 WIB


Diagnose :
Memberitahu ibu dan tentang
• Ini persalinan anak ke lima • Keadaan umum : baik Ny. “F” P4A1H4 post
hasil pemeriksaan dan tanda –
• Ibu sadar dan istirahat • Emosional : stabil section caesarea a/i
tanda vital
• Kesadaran compos letak sungsang + KU
TD : 124/ 65 mmHg
mentis ibu sedang.
R : 20 x/i
• Hasil TTV : Kebutuhan : N : 81 x/i
TD : 124/65mmHg S : 36,4 OC
➢ Observasi tanda –
R : 20 x/i Evaluasi : ibu mengetahui hasil
tanda vital ibu
N : 81 x/i pemeriksaan
O ➢ Observasi
S : 36,4 C 2. Pukul 14.15 WIB
banyaknya
• Kontraksi uterus baik Mengobservasi TFU, kontraksi,
perdarahan
• Perdarahan 1 softex perdarahan dan lochea pada ibu
pervaginam
( lebih kurang 50cc) Evalusi : TFU 2 jari dibawah
➢ KIE tentang

29
• Infus terpasang : istirahat ibu pusat, kontraksi uterus baik,
Asering+metergin ➢ Observasi balence perdarahan ± 50 cc, lochea
1:1 20 tts/i cairan rubra
3. Pukul 14.17 WIB
Diagnosa potensial: Menganjurkan ibu untuk
Tidak Ada beristirahat
Evaluasi : ibu telah istirahat
Tindakan Segera:
Tidak Ada 4. Pukul 14.20 WIB
Memberikan therapy pada ibu :
• IVFD Assering +metergin 1:1
20 tts/i
E : infus terpasang.

5. Pukul : 14.20 WIB


Memberitahu ibu dan keluarga
tentang hasil pemeriksaan dan TTV
TD : 124/72 mmHg
R : 22 x/i
N :97x/i
S : 36,9 oC
E : ibu mengetahui hasil
pemeriksaan

30
6. Pukul 14.25 WIB
Mengobservasi TFU, kontraksi,
perdarahan, lochea,
E : 2 jari di bawah pusat,kontraksi
uterus baik, perdarahan 1 softex ,
lochea rubra,

7. Pukul 14.30 WIB


Menganjurkan ibu untuk beristirahat
E : ibu telah beristirahat

10.Pukul 14.50 WIB

Mengobservasi TFU, kontraksi,


perdarahan, lochea,

E : 2 jari di bawah pusat,kontraksi


uterus baik, perdarahan 1 softex ,
lochea rubra,

11.Pukul 14.55 WIB

Menganjurkan ibu untuk beristirahat

31
E : ibu telah beristirahat

12.Pukul 15.00 WIB

Pasien dipindahkan ke ruangan


kebidanan

32
BAB IV

PEMBAHASAN

Malpresentasi merupakan bagian terendah janin yang berada di bagian segmen bawah
rahim, bukan bagian belakang kepala sedangkan malposisi merupakan penunjuk (presenting
part) tidak berada di anterior. Salah satunya adalah letak bokong.Seksio sesaria dianjurkan pada
letak bokong pada kasus: Panggul sempit,primigravida,janin besar dan berharga.

Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk memberhentikan fertilisasi (kesuburan


seorang perempuan).

Dalam pembahasan penulis kepada klien Ny. F umur 34 tahun, P5 A1 H5 dengan Post SC
atas indikasi letak sungsang dan tubektomi berlangsung selama 3 jam mulai dari pre op, Intra op
dan post op pada tanggal 24 agustus 2019 di Ruang OK RSUD dr RASIDIN Padang. Pada saat
pengkajian, penulis mendapatkan data dari rekam medis, keluarga , serta pemeriksaan
penunjang laboratorium (urine, darah).

Setelah pengkaijian ditentukan diagnosa Ny “F” P5 A1 H5 Ibu Nifas Post Sectio Caesarea
atas indikasi letak Sungsang dan tubektomi. Di ruang pemulihan pemantauan dilakukan meliputi,
pemeriksaan tingkat kesadaran, sirkulasi pernafasan, tekanan darah, suhu tubuh, jumlah urin
yang tertampung dikantong urin, kontraksi uterus serta jumlah darah dan bentuk cairan lokhea.
Ini untuk memastikan tidak ada terjadi perdarahan yang. kolaborasi dengan dokter pada ibu nifas
post SC yaitu pemberian IVFD Assering + metergin 1:1 20 tts/i.

Pada pemantauan 50 menit post op di ruang pemulihan OK tidak mendapatkan kendala


dan ibu sudah bisa di pindahkan ke ruang kebidanan untuk pemulihan dalam beberapa hari sesuai
dengan anjuran dokter.

33
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus
melalui dinding depan perut. (Rustam Mochtar, 1992). Operasi sectio caesarea dilakukan jika
kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan
pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama atau kegagalan
proses persalinan normal ( Dystasia ). Seperti disproporsi kepala panggul, Disfungsi uterus,
Distosia jaringan lunak, Plasenta previa, His lemah atau melemah dan pada anak seperti Janin
besar. Gawat janin, Letak lintang dan Hydrocephalus.

5.2 Saran
Dari kasus diatas yaitu Post Sectio Caesarea merupakan suatu keadaan masalah kesehatan
yang sangat kompleks. Oleh sebab itu diharapkan bidan mampu menerapkan pola
suhan kebidanan yang tepat dan sesuai.

34
DAFTAR PUSTAKA

Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. (1994). Patofisiologi, konsep klinis proses-proses
penyakit. Jakarta: Penerbit EGC.

Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. (2001). Keperawatan medikal bedah 2. (Ed 8). Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran (EGC).

Mansjoer, A. 2002. Asuhan Keperawatn Maternitas. Jakarta : Salemba Medika


Saifuddin, AB. 2002. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta
: penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo

Sarwono Prawiroharjo. 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4 Cetakan II. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka

35