Anda di halaman 1dari 4

ACARONAR

Tepat di tempat ini berulang kali Lisa mengerjapkan matanya tak


percaya. Dia menatap perempuan berambut merah yang kini menyita
pikirannya. Dia adalah Ally, teman semasa kecilnya. Tidak hanya semasa kecil,
perempuan tersebut juga teman semasa ia bersekolah di jenjang SMP. Karena
Ally, Lisa sedikit memiliki trust issues kepada orang-orang baru yang
ditemuinya, sebelum akhirnya ia bertemu dengan Zella – orang pertama yang
menjadi temannya di SMA yang kini menjadi sahabatnya.

Selama ini Lisa berusaha untuk mencari Ally, juga mencari penyebab
mengapa sahabatnya itu tiba-tiba menjauhi dirinya dan pergi dari
kehidupannya secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.

“Lili, apakah murid baru itu adalah teman yang selama ini kau cari?”
tanya Zella, dia ingin tahu kebenarannya. Siapa tahu orang yang Zella lihat
barusan adalah seseorang yang hanya mirip dengan Ally saja.

Lisa tersenyum getir ke arah Zella.Tidak sanggup untuk menjawab.

“Sudahlah lili, kau tidak perlu terlalu memikirkannya. Sepertinya Ia


sudah lupa denganmu.”

Namun, tatapan mata Lisa tak lepas dari Ally. Ally berstatus sebagai
murid baru di sekolahannya, tetapi Ally tidak kesulitan dalam mencari teman.
Terbukti dengan ia sekarang telah menemukan teman-temannya. Namun
sangat disayangkan, teman-teman barunya itu adalah sekelompok perempuan
yang suka mencari onar dan melakukan bullying kepada murid lain.

Ally telah berubah. Tidak lagi menjadi teman kecilnya yang penyabar dan
peduli pada orang lain. Bahkan sekarang ia tak segan-segan untuk menuang jus
alpukatnya ke seragam siswi yang tak sengaja telah menginjak kakinya.

“Apa temanmu itu dari dulu bersikap seperti itu?” Tanya Zella.

“Tentu saja tidak El. Dia orang yang sangat baik, penyabar dan selalu
peduli pada orang-orang disekitarnya.” Jawab Lisa

“Lalu? Mengapa sekarang Ia menjadi seperti itu?” Zella bingung,


berdasarkan cerita-cerita yang Ia dengar dari Lisa, Ally merupakan sosok yang
sangat baik. Namun, pada hari ini Ia malah melihat Ally yang sangat berbeda
dari yang selama ini ia dengar dari Lisa.

“Aku juga tidak tahu El. Aku bingung. Ally yang sekarang kau lihat tidak
lagi sama dengan Ally sahabat kecil ku dulu.” Jawab Lisa dengan nada
kesedihan yang sangat terdengar.

Tepat di saat Lisa masih menatap Ally, Ally tak sengaja mengalihkan
tatapannya ke arah Lisa. Kali itu mereka bertatapan cukup lama. Ekspresi Ally
berubah sinis saat mereka saling bertatapan. Sedetik kemudian, Ally
tersenyum ke arah Lisa dan melambaikan tangan. Gerak tubuhnya
menunjukkan bahwa Ally terpaksa melakukan hal itu.

Lisa termangu ketika ia melihat reaksi Ally. Ia tak menyangka temannya


akan bereaksi seperti itu.

“Halo, Lisa, lama tak jumpa ya?”

Suara itu, Lisa masih mengingatnya. Lisa langsung memutar badannya


melihat siapa orang yang ada di belakangnya. Dan benar saja dugaan Lisa, Ally
berdiri di belakangnya dan tersenyum ke arah Lisa. Namun, Senyum itu
bukanlah senyum yang menyenangkan, senyum yang di tujukan Ally ke arah
Lisa sarat akan kebencian.

“Bagaimana kabarmu selama ini? Apa kau tetap menjadi pengkhianat


licik, Lisa? Ah maksudku, apa kau tetap menjadi sosok lisa yang baik hati?”

Entah harus bereaksi apa dan bagaimana, tetapi Lisa merasa bahwa Ally
sedang menyindirnya.

“Baik.” Hanya itu yang dapat diucapkan Lisa. Ia sedang dalam mode
shock setelah mendengar ucapan Ally.

“Bolehkah aku bergabung di sini?” pinta Ally. Dan sebelum Lisa ataupun
Zella mengiyakan Ally sudah duduk terlebih dahulu disamping Zella.

“Ah sepertinya kau memiliki sahabat baru ya. Salam kenal ya aku Ally.”
Ally mengulurkan tangannya ke hadapan Zella. Zella tersenyum heran namun
tetap meneriman uluran tangan Ally dan menyebutkan namanya.
“Sudah berapa lama kau bersahabat dengan Lisa? Sangat menyenangkan
bukan, bersahabat dengan seorang pengkhianat?” Senyum yang daritadi
dikeluarkan oleh Ally berubah menjadi seringaian kecil.

“Pengkhianat apa maksudmu ly?” tanya Lisa dengan sedikit tidak sabar.

“Menurutmu bagaimana, Lili?” seringaian dimulut Ally semakin terlihat


jelas.

“Apakau tidak rindu denganku? Kita dulu bersahabat. Lalu mengapa kau
tiba-tiba menghilang dan ketika muncul malah menyebutku sebagai seorang
pengkhianat?”

Dengusan keluar dari Ally saat mendengar pertanyaan Lisa. “Tentu saja
aku rindu. Rindu saat kita belum bertemu dan mengenal”

Kata-kata itu menusuk perasaan Lisa. Lisa diam, dan Ally hanya menatap
Lisa dengan senyum sinisnya. Dulu Ally tidak pernah mengatakan hal yang
menyakiti perasaan Lisa, karena Ally yang ia kenal dulu begitu menjaga cara ia
berbicara.

“Hidupku sangat tenteram tanpa adanya dirimu. Jadi jangan pernah


mengharapkan aku untuk kembali lagi menjadi sahabatmu. Kau tidak ada
pengaruhnya dihidupku. Jangan pernah menyapaku ketika kita bertemu.
Bersikaplah seolah tidak mengenalku, atau aku dan teman-teman baruku akan
mengganggumu terus-terusan.” Ally mengucapkan dengan nada yang penuh
dengan kebencian.

“Dan untukmu Zella, aku berharap kau memikirkan kembali apa Lisa
pantas kau jadikan sahabat. Percaya padaku, bersahabat dengan seorang
pengkhianat bukan hal yang menyenangkan. Hidupmu akan terasa seperti di
neraka. Jadi, ingat-ingat terus pesanku ini ya!” setelah melakukan peringatan
pada Zella, Ally langsung berdiri meninggalkan kantin tanpa melihat lagi
kepada Lisa.

Lisa hanya menatap nanar kepergian sahabat kecilnya itu. Ia tak


menyangka, sahabat yang selama ini ia rindukan dan ia cari telah berubah
menjadi sosok perempuan yang tidak familiar sama sekali dengan dirinya. Ally
terasa begitu asing baginya. Ally yang baik hati telah berubah menjadi sosok
yang jahat bagi dirinya.

“Sudahlah lili, jangan dihiraukan. Lupakan saja temanmu yang sangat


kurang ajar tersebut. Jangan pernah menganggapnya lagi. Biarkan saja dia,”
ucap Zella dengan penuh rasa emosi pada dirinya.

Ada perasaan tidak rela pada dirinya. Ia tidak rela jika harus melupakan
sahabat kecilnya itu. Ia tidak mampu jika harus melupakan teman yang sudah
bersamanya dengan waktu yang lama.

Dalam hati Lisa bertekad, ia tidak akan pernah melupakan Ally. Ia akan
membuktikan tuduhan Ally bahwa ia pengkhianat tidaklah benar. Ia akan
mencari tahu apa yang menyebabkan Ally bisa bersikap seperti itu. Terakhir, ia
juga bertekad akan mengembalikan sifat Ally seperti semula.

Ia sangat berharap tekadnya ini akan terlaksana dan berhasil dalam


waktu yang singkat. Ya, semoga saja.