Anda di halaman 1dari 4

Payung Hitam

Kunang-kunang malam berterbangan bebas menelusuri luasnya malam ini. Cahaya


lentera kecilnya membuat gadis itu tenang. Namanya Rina, gadis yatim-piatu yang
tak pernah merasa bahagia. Setiap malam rabu ia ke sana, di tempat yang tenang di
belakang panti asuhan melati. Di sana ia dapat menenangkan diri dengan melihat
panorama kunang-kunang yang berterbangan indah ke sana ke mari, ia juga bisa
mendengarkan suara jangkrik, katak, dan serangga serangga malam lainnya. Ia duduk
di atas kursi taman yang sengaja ia bawa ke sana diam-diam.

Rina adalah gadis remaja yang mulai bisa berpikir dewasa lebih daripada remaja-
remaja yang lain. Manis pahit kehidupan telah ia rasakan sebelum waktunya.
Kematian ayahnya, lalu kematian kakaknya, dan yang terakhir kematian ibundanya.
Ia benar-benar tak tahu mengapa ‘kematian’ begitu erat dengan hidupnya. Seakan
hidupnya ini dipenuhi dengan duka. Hidupnya bagai dipenuhi payung-payung hitam
kepedihan. Dan akhirnya apa yang terjadi padanya kini? Kini ia tak memiliki siapa-
siapa lagi, ayahnya baik hati telah pergi, kakaknya yang cantik dan perhatian telah
pergi, dan ibunya yang penuh dengan kasih sayang telah pergi.

Bahkan kini Rina mulai berpikir orang-orang yang dekat dengan dirinya akan mati,
entahlah kenapa ia bisa berpikir begitu. Tapi, kematian Neni, gadis cantik sahabat
dekatnya telah meninggal. Kenapa ini semua terjadi? Apakah aku pembawa kematian.
Berkali-kali ia berpikir seperti itu. Berpikir kalau ia adalah pembawa kematian.
Itulah mengapa belakangan ini ia tak mau dekat dengan orang lain dan menutup
dirinya yang rapat, karena ia tak mau orang lain mendapat kesialan dari dirinya.

“Kenapa kamu di sini Rin?” suara itu? Vina.


Rina hanya menoleh sebentar dan kembali fokus melihat kunang-kunang di depannya.
Dengan pelan Vina mendekat. Lalu duduk di sebelah Rina. “Wah indah sekali kunang-
kunang itu, kamu kok gak pernah ngajak aku ke sini, Rin,”
Rina hanya bergumam ‘hm’, dia benar-benar berpikir ia tak boleh dekat dengan
orang lain.
“Wah, itu ada burung hantu, kamu lihat gak? Itu tuh di sana di atas pohon mangga
itu, wah cantik banget!”
Vina begitu riang melihatnya, baru pertama kali baginya melihat burung hantu bebas
di alam liar.

“Indah kan! Bulu bulunya itu, wah cantik banget!”


Vina begitu riang, sampai menarik-narik lengan Rina.
“Iya ya… Cantik,” gumam Rina.
“Besok besok kalau mau ke sini ajak-ajak aku, oke?”
Rina menoleh ke arah Vina yang sedang terkagum-kagum dengan apa yang ia lihat.
“Oke.” gumamnya pelan. Ada sedikit perasaan ragu darinya. Begitu ragu.
“Udah yuk pulang, nanti dicariin Bu Lina loh.” dengan sedikit terburu-buru Vina
menarik tangan Rina dan menuntunnya berlari ke arah panti asuhan.

Malam itu adalah awal bagi Rina. Vina sekarang begitu dekat darinya. Mereka benar-
benar tak terpisahkan. Bermain bersama, belajar bersama, sekolah bersama, dan
melakukan kegiatan rutan malam rabu mereka, melihat kunang-kunang di belakang
panti asuhan. Kehadiran Vina membuat Rina lupa tentang dukanya dan ‘sesuatu’ yang
sangat ia takutkan. Belakangan Rina mulai terbuka, ia kini menjadi gadis yang ceria,
begitu aktif dan baik hati. Para pengurus panti asuhan seperti bu Lina nampak
terkejut dengan perubahan yang terjadi pada Rina, ia hanya bisa menyunggingkan
senyuman yang tulus dan tetap berusaha mendorong Rina menjadi gadis yang
sesungguhnya.

“Wah hujannya tambah deras…” begitu kesal Vina, ia menggerutu kesal karena di
panti asuhan sudah ada orang yang menunggunya. “Sebentar lagi hujan berhenti
kok…” sebenarnya Rina mempunyai kepedihan di dalam hatinya, ia tahu soal Vina
akan diadopsi oleh seseorang, walaupun begitu ia tetap mendukung sahabat karibnya
itu yang baginya sudah seperti keluarga sendiri. Bukan reda, hujan malah bertambah
membesar dan lebat.

“Kalau begini ‘mereka’ pasti gak jadi adopsi aku..” sejak masuk panti asuhan, diadopsi
sebuah keluarga adalah cita-cita Vina, ia benar-benar ingin mendapatkan kehangatan
keluarga yang selama ini belum pernah ia dapatkan. Saking bahagianya gadis remaja
itu tak memedulikan perasaan Rina yang selama ini mengharapkannya untuk tetap
tinggal.
“Udah deh aku hujan-hujanan aja!” Tanpa peduli hujan Vina langsung menyeberang
jalan besar itu tanpa peduli dengan sekitar. “Vina!” Rina berusaha mengejarnya.

Di balik hujan besar itu, sebuah mobil kijang hitam melaju begitu cepat. Jalanan di
depannya tak begitu terlihat karena curah hujan yang begitu tinggi. Rina adalah
orang pertama yang menyadarinya bahwa ada sebuah mobil yang sedang berjalan
cepat menuju arah Vina. Ia ingin berlari kencang untuk menghentikan Vina namun
celakanya ia terpeleset.
“Aduh, Vina! Berhenti! Ada mobil!”
Begitu mendengarnya Vina langsung menoleh ke samping dan…
“Aaaaaaa!!”

Di bawah pepohonan yang rindang, berhembus angin sore yang lembut. Seorang
gadis berdiri sendiri mengenakan pakaian serba hitam dan payung hitam yang ia
pegang erat di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya membawa bunga indah yang
sudah disusun rapi. Di atas tanah pemakaman ini ia menangis. Menangisi semuanya,
semua ulahnya dan akibatnya. Ia menyesali kenapa dari awal ia bisa melanggar
perjanjian pribadinya.

“Aku tak akan dekat dengan orang! Aku tak mau membuat mereka mati sia-sia!” Ia
mengusap pipinya yang basah. Ia merunduk, bunga itu ia letakkan tepat di atas
makam yang baru itu. Lalu ia berdiri lagi, berbalik arah dan berjalan pelan
meninggalkan tanah pemakaman.
“Selamat tinggal, Vina…”

Unsur intrinsik

1. Tema : Impian
2. Tokoh dan penokohan :
3. Dian : -Perhatian (jika mampu, mungkin ia ingin lebih sering membeli biskuit dan susu,

juga sepasang sandal baru untuk Mak)

-Pekerja keras (seperti Bapak, ia juga ingin membawa pulang


sejumlah uang ke

rumah

-Baik (Ia pikir, sebaiknya, anak buahnya itu jangan sampai jatuh sakit
karena diguyur

hujan)

1. Markum : -Galak (Markun melotot galak pada Dian)

-Egois (”Sama donk, Nyet. Bukan lu aja yang butuh duit!”)


-Jahil (seandainya dikembalikan, payungnya mungkin sobek atau patah, tak

akan selamat dari kejahilan Markun)

1. Sudut pandang : Sudut pandang orang ketiga serba tahu


2. Latar :
3. Latar tempat : -Rumah Dian (kebetulan ada Mak yang menjaga Diyon di rumah)

-Jakarta (hatinya senang melihat awan hitam bergulung di langit Jakarta

sore itu)

-Ujung gang (lamunannya terhenti saat tiba di ujung gang)

-Jalan raya (lama ia menatap punggng Dian yang menjauh ke arah jalan
raya)

1. Latar waktu : -Sore hari (hatinya senang melihat awan hitam bergulung di langit Jakarta

sore itu)