Anda di halaman 1dari 26

KEPERAWATAN HIV/AIDS

PENGKAJIAN BIOLOGIS, PSIKOLOGIS, SOSIAL,


SPIRITUAL, KULTURAL, TANDA GEJALA, PEMERIKSAAN
FISIK DAN DIAGNOSTIK SERTA PENATALAKSANAAN
MEDIS PASIEN HIV/AIDS

OLEH :
KELOMPOK I
PUTU JANA YANTI PUTRI (01)
NI KOMANG AYU RISNA MULIANTINI (02)
MADE WAHYU RIANTINI (03)
NI KADEK ARIYASTUTI (04)
NYOMAN WITA WIHAYATI (05)
I NYOMAN SUGIHARTA DANA (06)
I GUSTI AYU INDAH JULIARI (07)
NI LUH SUCI NOVI ARIANI (08)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
PROGRAM PROFESI NERS
2019
KATA PENGANTAR

“Om Swastyastu”

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sang
Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul " Pengkajian
Biologis, Psikologis, Sosial, Spiritual, Kultural, Tanda Gejala, Pemeriksaan
Fisik dan Diagnostik serta Penatalaksanaan Medis pasien HIV/AIDS" mata
kuliah Keperawatan Kritis di Politeknik Kesehatan Denpasar tepat pada waktu
yang telah ditentukan. Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan
motivasi berbagai pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini kami mengucapkan
terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu.
Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan karena
keterbatasan kemampuan penulis. Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik
yang bersifat konstruktif sehingga kami dapat menyempurnakan makalah ini.

“Om Santih, Santih, Santih, Om”

Denpasar, 8 Juli 2019

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG............................................................................................1
B. RUMUSAN MASALAH.......................................................................................2
C. TUJUAN PENULISAN.........................................................................................2
E. MANFAAT PENELITIAN.....................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN HIV/AIDS.....................................................................................4
B. ETIOLOGI HIV/AIDS...........................................................................................4
C. TANDA DAN GEJALAHIV/AIDS........................................................................5
D. PATOFISIOLOGI HIV/AIDS................................................................................5
E. PENGKAJIAN BIO,PSIKO,SOSIAL,SPIRITUAL DAN KULTURAL...............6
F. PEMERIKSAAN FISIK HIV/AIDS....................................................................12
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK HIV/AIDS......................................................13
H. PENATALAKSANAAN MEDIS HIV/AIDS.......................................................18
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN....................................................................................................22
B. SARAN................................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui bersama, AIDS adalah suatu penyakit yang belum
ada obatnya dan belum ada vaksin yang bisa mencegah serangan virus HIV,
sehingga penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya bagi
kehidupan manusia baik sekarang maupun waktu yang datang. Selain itu AIDS
juga dapat menimbulkan penderitaan, baik dari segi fisik maupun dari segi
mental. Mungkin kita sering mendapat informasi melalui media cetak, elektronik,
ataupun seminar-seminar, tentang betapa menderitanya seseorang yang mengidap
penyakit AIDS. Dari segi fisik, penderitaan itu mungkin tidak terlihat secara
langsung karena gejalanya baru dapat kita lihat setelah beberapa bulan. Tapi dari
segi mental, orang yang mengetahui dirinya mengidap penyakit AIDS akan
merasakan penderitaan batin yang berkepanjangan.
Respon terhadap penanggulangan HIV di Indonesia berkembang secara
signifikan sejak tahun 2004. Jumlah orang yang menerima perawatan, dukungan
dan pengobatan terus meningkat dari tahun ke tahun namun masih banyak
hambatan bagi orang yang terinfeksi HIV untuk mendapatkan akses perawatan
dan pengobatan yang mereka butuhkan. Pengobatan anti retro viral (ARV) di
Indonesia pada awalnya di inisiasi di rumah sakit (RS). Pedoman tata laksana HIV
dan pengobatan anti retroviral telah lama tersedia dan terus menerus diperbarui
sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, untuk digunakan sebagai
pedoman dalam memberi layanan kepada ODHA. Dengan makin bertambahnya
jumlah kasus HIV dan meningkatnya kebutuhan akan adanya akses layanan yang
menyebar secara luas sehingga semua orang dengan HIV dapat dengan mudah
memulai ARV di dekat lingkungan tinggalnya maka akses layanan perlu
didekatkan ke masyarakat. Beberapa propinsi seperti DKI, Jawa Barat, Jawa
Timur, Bali, Papua dan Papua Barat berinisiatif menjadikan Puskesmas sebagai
satelit untuk pengobatan ARV dari rumah sakit dalam kerangka kerja Layanan
HIV-IMS Komprehensif Berkesinambungan (LKB).
Mengingat bahwa masalah AIDS adalah suatu masalah besar dari kehidupan
kita semua. Maka dari itu untuk mengetahui lebih mendalam perlu dilakukan
pengkajian biologis, psikologis, sosial, spiritual, kultural, pemeriksaan
fisik,pemeriksaan diagnostik, tanda gejala dan penatalaksanaan medis pada pasien
HIV/AIDS. Dengan pertimbangan-pertimbangan dan alasan itulah kami
mahasiswa, sebagai bagian dari anggota masyarakat dan sebagai generasi penerus
bangsa, merasa perlu memperhatikan hal tersebut. Oleh karena itu kami
membahasnya dalam makalah ini dan mengangkat judul “Pengkajian Biologis,
Psikologis, Sosial, Spiritual, Kultural, Pemeriksaan Fisik,Pemeriksaan Diagnostik,
Tanda Gejala dan Penatalaksanaan Medis pada Pasien dengan HIV/AIDS”.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah rumusan yang disusun untuk memahami apa dan
bagaimana masalah yang diteliti. Adapun rumusan masalah dari makalah ini
sebagai berikut :
1. Apakah pengertian HIV/AIDS ?
2. Bagaimanakah etiologi HIV/AIDS ?
3. Bagaimanakah tanda dan gejala HIV/AIDS ?
4. Bagaimanakah patofisiologi HIV/AIDS ?
5. Bagaimanakah pengkajian biologis, psikologis, sosial, spiritual dan
kultural pada pasien HIV/AIDS ?
6. Bagaimanakah pemeriksaan fisik pasien dengan HIV/AIDS ?
7. Bagaimanakah pemeriksaan diagnostik pada pasien HIV/AIDS ?
8. Bagaimana penatalaksanaan medis pasien dengan HIV/AIDS ?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulis mengangkat masalah AIDS dalam Makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian HIV/AIDS
2. Mengetahui etiologi HIV/AIDS
3. Mengetahui tanda dan gejala HIV/AIDS
4. Mengetahui patofisiologi HIV/AIDS
5. Mengetahui pengkajian biologis, psikologis, sosial, spiritual dan kultural pada
pasien HIV/AIDS
6. Mengetahui pemeriksaan fisik pasien dengan HIV/AIDS
7. Mengetahui pemeriksaan diagnostik pada pasien HIV/AIDS
8. Mengetahui penatalaksanaan medis pasien dengan HIV/AIDS

2
D. Manfaat

Adapun manfaat yang ingin penulis capai adalah untuk memberikan


informasi kepada para pembaca, utamanya bagi sesama mahasiswa dan generasi
muda tentang pengkajian biologis, psikologis, sosial, spiritual dan kultural,
pemeriksaan fisik dan diagnostik, tanda gejala dan penatalaksanaan pasien
HIV/AIDS, sehingga dengan demikian kita semua berusaha untuk menghindarkan
diri dari segala sesuatu yang bisa saja menyebabkan penyakit HIV/AIDS dan cara
mengkaji pasien dengan HIV/AIDS.

BAB II
PEMBAHASAN

3
A. Pengertian
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan
gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang
disebut HIV, dalam bahasa Indonesia dapat dialih katakana sebagai Sindrome
Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan (Zuya Urahman, 2009).
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus
yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). ( Suzane
C. Smetzler dan Brenda G.Bare, 2002).
AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari
kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga
keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa
kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi ( Center for Disease
Control and Prevention, 2005).

B. Etiologi
AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II,
LAV, RAV yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV)
yang berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan melalui
darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T. HIV atau Human
Immunodeficiency Virus secara fisiologis adalah virus yang menyerang sistem
kekebalan tubuh penderitanya. Dalam buku “Pers Meliput AIDS”, virus HIV
adalah retrovirus yang termasuk dalam family lentivirus, yaitu virus yang dapat
berkembang biak dalam darah manusia. HIV menyerang salah satu jenis sel
darah putih (limfosit atau sel-sel T4) yang bertugas menangkal infeksi. Replikasi
virus yang terus menerus mengakibatkan semakin berat kerusakan sistem
kekebalan tubuh dan semakin rentan terhadap infeksi oportunistik (IO) sehingga
akan berakhir dengan kematian (Bruner & Suddarth, 2002).
Secara struktural morfologinya, virus HIV sangat kecil sama halnya dengan
virus-virus lain, bentuk virus HIV terdiri atas sebuah silinder yang dikelilingi
pembungkus lemak yang melingkar-melebar dan pada pusat lingkaran terdapat
untaian RNA atau ribonucleic acid. Bedanya virus HIV dengan virus lain, HIV
dapat memproduksi selnya sendiri dalam cairan darah manusia, yaitu pada sel
darah putih. Sel-sel darah putih yang biasanya dapat melawan segala virus, lain

4
halnya dengan virus HIV, virus ini justru dapat memproduksi sel sendiri untuk
merusak sel darah putih (Harahap, 2008: 42). HIV dapat menyebabkan sistem
imun mengalami beberapa kerusakan dan kehancuran, lambat laun sistem
kekebalan tubuh manusia menjadi lemah atau tidak memiliki kekuatan pada
tubuhnya, maka pada saat inilah berbagai penyakit yang dibawa virus, kuman
dan bakteri sangat mudah menyerang seseorang yang sudah terinfeksi HIV.
Kemampuan HIV untuk tetap tersembunyi adalah yang menyebabkannya virus
ini tetap ada seumur hidup, bahkan dengan pengobatan yang efektif (Gallant,
2010: 16).

C. Tanda dan Gejala


1. Tanda-tanda utama (gejala mayor)
a. Demam berkepanjangan lebih dari tiga bulan.
b. Diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus- menerus.
c. Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam tiga bulan.
d. TBC
2. Tanda-tanda tambahan (gejala minor)
a. Batuk kronis selama lebih dari satu bulan.
b. Infeksi pada mulut dan tenggorokan disebabkan jamur Candida Albicans.
c. Pembekakan kelenjar getah bening yang menetap di seluruh tubuh.
d. Munculnya Herpes Zoster berulang dan bercak-bercak gatal di seluruh tubuh
(Price & Welson, 2006: 47).

D. Patofisiologi
Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans (sel imun) adalah sel-sel
yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan terkonsentrasi
dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus
(HIV) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan
bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi
dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus (HIV)
menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian
sel T4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha
mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.
Virus HIV dengan suatu enzim, reverse transkriptase, yang akan melakukan
pemograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat
double-stranded DNA. DNA ini akan disatukan kedalam nukleus sel T4 sebagai
sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen. Enzim inilah yang

5
membuat sel T4 helper tidak dapat mengenali virus HIV sebagai antigen.
Sehingga keberadaan virus HIV didalam tubuh tidak dihancurkan oleh sel T4
helper. Kebalikannya, virus HIV yang menghancurkan sel T4 helper. Fungsi dari
sel T4 helper adalah mengenali antigen yang asing, mengaktifkan limfosit B yang
memproduksi antibodi, menstimulasi limfosit T sitotoksit, memproduksi limfokin,
dan mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau fungsi sel T4 helper
terganggu, mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan
memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan penyakit yang serius.
Menurunya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara
progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya
fungsi sel T penolong. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus
(HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-
tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel
perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun
setelah infeksi.
Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan
jamur oportunistik) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya
penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi
yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh
dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker
atau dimensia AIDS.

E. Pengkajian Biologis, Psikologis, Sosial, Spiritual dan Kultural


1. Pengakjian Biologis
Secara imunologis, sel T yang terdiri dari limfosit T-helper, disebut limfosit
CD4+ akan mengalami perubahan baik secara kuantitas maupun kualitas. HIV
menyerang CD4+ baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung,
sampul HIV yang mempunyai efek toksik akan menghambat fungsi sel T (toxic
HIV). Secara tidak langsung, lapisan luar protein HIV yang disebut sampul gp 120
dan anti p24 berinteraksi dengan CD4+ yang kemudian menghambat aktivasi sel
yang mempresentasikan antigen (APC).
Setelah HIV melekat melalui reseptor CD4+ dan co-reseptornya bagian
sampul tersebut melakukan fusi dengan membran sel dan bagian intinya masuk ke
dalam sel membran. Pada bagian inti terdapat enzim reverse transcripatase yang
terdiri dari DNA polimerase dan ribonuclease. Pada inti yang mengandung RNA,

6
dengan enzim DNA polimerase menyusun kopi DNA dari RNA tersebut. Enzim
ribonuclease memusnahkan RNA asli. Enzim polimerase kemudian membentuk
kopi DNA kedua dari DNA pertama yang tersusun sebagai cetakan.
Kode genetik DNA berupa untai ganda setelah terbentuk, maka akan masuk
ke inti sel. Kemudian oleh enzim integrase, DNA copi dari virus disisipkan dalam
DNA pasien. HIV provirus yang berada pada limfosit CD4+, kemudian
bereplikasi yang menyebabkan sel limfosit CD4 mengalami sitolisis (Stewart,
1997). Virus HIV yang telah berhasil masuk dalam tubuh pasien, juga
menginfeksi berbagai macam sel, terutama monosit, makrofag, sel-sel mikroglia
di otak, sel – sel hobfour plasenta, sel-sel dendrit pada kelenjar limfe, sel- sel
epitel pada usus, dan sel langerhans di kulit. Efek dari infeksi pada sel mikroglia
di otak adalah encepalopati dan pada sel epitel usus adalah diare yang kronis
(Stewart, 1997). Gejala-gejala klinis yang ditimbulkan akibat infeksi tersebut
biasanya baru disadari pasien setelah beberapa waktu lamanya tidak mengalami
kesembuhan. Pasien yang terinfeski virus HIV dapat tidak memperlihatkan tanda
dan gejala selama bertahuntahun. Sepanjang perjalanan penyakit tersebut sel
CD4+ mengalami penurunan jumlahnya dari 1000/ul sebelum terinfeksi menjadi
sekitar 200 – 300/ul setelah terinfeksi 2 – 10 tahun (Stewart, 1997).

2. Pengkajian Psikologis
Tabel 1
Reaksi, proses psikologis dan hal-hal yang biasa di jumpai pada penderita HIV

Hal-hal yang biasa


Reaksi Proses Psikologis
dijumpai
Shock (kaget, Merasa bersalah, marah, Rasa takut, hilang akal,
goncangan batin) tidak berdaya frustasi, rasa sedih,
susah macting out.
Mengucilkan diri Merasa cacat dan tidak Khawatir menginfeksi
berguna, menutup diri orang lain, murung
Membuka status secara Ingin tahu reaksi orang Penolakan, stress,
terbatas lain, pengalihan stress, konfrontasi
ingin dicintai
Mencari orang lain Berbagi rasa, pengenalan, Ketergantungan, campur
yang HIV positif kepercayaan, penguatan, tangan, tidak percaya
dukungan sosial pada pemegang rahasia

7
dirinya.
Status khusus Perubahan Ketergantungan,
keterasingan dikotomi kita dan
menjadi manfaat mereka (semua orang
khusus, dilihat sebagai terinfeksi
perbedaan HIV dan direspon
menjadi hal seperti itu), over
yang istimewa, identification.
dibutuhkan oleh
yang lainnya.
Perilaku Komitmen dan kesatuan Pemadaman, reaksi
mementingkan orang kelompok, kepuasan dan kompensasi yang
lain memberi dan berbagi berlebihan
perasaan sebagai
kelompok
Penerimaan Integrasi status positive Apatis, sulit berubah
HIV dengan identitas
diri, keseimbangan antara
kepentingan orang lain
dengan diri sendiri, bisa
menyebutkan kondisi
seseorang

Respon Psikologis (penerimaan diri) terhadap Penyakit ada lima tahap reaksi
emosi seseorang terhadap penyakit, yaitu :
a. Pengingkaran (denial) Pada tahap pertama pasien menunjukkan karakteristik
perilaku pengingkaran, mereka gagal memahami dan mengalami makna rasional
dan dampak emosional dari diagnosa. Pengingkaran ini dapat disebabkan karena
ketidaktahuan pasien terhadap sakitnya atau sudah mengetahuinya dan
mengancam dirinya. Pengingkaran dapat dinilai dari ucapan pasien “saya di sini
istirahat.” Pengingkaran dapat berlalu sesuai dengan kemungkinan
memproyeksikan pada apa yang diterima sebagai alat yang berfungsi sakit,
kesalahan laporan laboratorium, atau lebih mungkin perkiraan dokter dan perawat
yang tidak kompeten. Pengingkaran diri yang mencolok tampak menimbulkan
kecemasan, pengingkaran ini merupakan buffer untuk menerima kenyataan yang
sebenarnya. Pengingkaran biasanya bersifat sementara dan segera berubah
menjadi fase lain dalam menghadapi kenyataan (Achir Yani, 1999).
b. Kemarahan (anger) Apabila pengingkaran tidak dapat dipertahankan lagi,
maka fase pertama berubah menjadi kemarahan. Perilaku pasien secara
karakteristik dihubungkan dengan marah dan rasa bersalah. Pasien akan

8
mengalihkan kemarahan pada segala sesuatu yang ada disekitarnya. Biasanya
kemarahan diarahkan pada dirinya sendiri dan timbul penyesalan. Yang menjadi
sasaran utama atas kemarahan adalah perawat, semua tindakan perawat serba
salah, pasien banyak menuntut, cerewet, cemberut, tidak bersahabat, kasar,
menantang, tidak mau bekerja sama, sangat marah, mudah tersinggung, minta
banyak perhatian dan iri hati. Jika keluarga mengunjungi maka menunjukkan
sikap menolak, yang mengakibatkan keluarga segan untuk datang, hal ini akan
menyebabkan bentuk keagresipan (Hudak & Gallo, 1996).
c. Sikap tawar menawar (bargaining) Setelah marah-marah berlalu, pasien akan
berfikir dan merasakan bahwa protesnya tidak ada artinya. Mulai timbul rasa
bersalahnya dan mulai membina hubungan dengan Tuhan, meminta dan berjanji
merupakan ciri yang jelas yaitu pasien menyanggupi akan menjadi lebih baik bila
terjadi sesuatu yang menimpanya atau berjanji lain jika dia dapat sembuh (Achir
Yani, 1999).
d. Depresi Selama fase ini pasien sedih/ berkabung mengesampingkan marah
dan pertahanannya serta mulai mengatasi kehilangan secara konstruktif. Pasien
mencoba perilaku baru yang konsisten dengan keterbatasan baru. Tingkat
emosional adalah kesedihan, tidak berdaya, tidak ada harapan, bersalah,
penyesalan yang dalam, kesepian dan waktu untuk menangis berguna pada saat
ini. Perilaku fase ini termasuk mengatakan ketakutan akan masa depan, bertanya
peran baru dalam keluarga intensitas depresi tergantung pada makna dan beratnya
penyakit (Netty, 1999).
e. Penerimaan dan partisipasi sesuai dengan berlalunya waktu dan pasien
beradapatasi, kepedihan dari kesabatan yang menyakitkan berkurang dan bergerak
menuju identifikasi sebagai seseorang yang keterbatasan karena penyakitnya dan
sebagai seorang cacat. Pasien mampu bergantung pada orang lain jika perlu dan
tidak membutuhkan dorongan melebihi daya tahannya atau terlalu memaksakan
keterbatasan atau ketidakadekuatan (Hudak & Gallo, 1996). Proses ingatan jangka
panjang yang terjadi pada keadaan stres yang kronis akan menimbulkan
perubahan adaptasi dari jaringan atau sel. Adaptasi dari jaringan atau sel imun
yang memiliki hormon kortisol dapat terbentuk bila dalam waktu lain menderita
stres, dalam teori adaptasi dari Roy dikenal dengan mekanisme regulator.
3. Pengkajian Sosial
a. Interaksi sosial

9
1) Gejala : masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,mis. Kehilangan
karabat/orang terdekat, teman, pendukung.rasa takut untuk mengungkapkannya
pada orang lain, takut akan penolakan/kehilangan pendapatan. Isolasi, keseian,
teman dekat ataupun pasangan yang meninggal karena AIDS. Mempertanyakan
kemampuan untuk tetap mandiri, tidak mampu membuat rencana.
2) Tanda : perubahan pada interaksi keluarga/ orang terdekat.aktivitas yang tak
terorganisasi.
4. Pengkajian Spiritual
Respons adaptif spiritual menurut Nursalam (2011) meliputi:
a. Menguatkan harapan yang realistis kepada pasien terhadap kesembuhan .
Harapan merupakan salah satu unsur yang penting dalam dukungan sosial. Orang
bijak mengatakan “hidup tanpa harapan, akan membuat orang putus asa dan
bunuh diri”. Perawat harus meyakinkan kepada pasien bahwa sekecil apapun
kesembuhan, misalnya akan memberikan ketenangan dan keyakinan pasien untuk
berobat.
b. Pandai mengambil hikmah.
Peran perawat dalam hal ini adalah mengingatkan dan mengajarkan kepada pasien
untuk selalu berfikiran positif terhadap semua cobaan yang dialaminya. Dibalik
semua cobaan yang dialami pasien, pasti ada maksud dari Sang Pencipta. Pasien
harus difasilitasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan jalan
melakukan ibadah secara terus menerus. Sehingga pasien diharapkan memperoleh
suatu ketenangan selama sakit.
c. Ketabahan hati.
Karakteristik seseorang didasarkan pada keteguhan dan ketabahan hati dalam
menghadapi cobaan. Individu yang mempunyai kepribadian yang kuat, akan tabah
dalam menghadapi setiap cobaan. Individu tersebut biasanya mempunyai
keteguhan hati dalam menentukan kehidupannya. Ketabahan hati sangat
dianjurkan kepada PHIV. Perawat dapat menguatkan diri pasien dengan
memberikan contoh nyata dan atau mengutip kitab suci atau pendapat orang bijak;
bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada umatNYA, melebihi
kemampuannya (Al. Baqarah, 286). Pasien harus diyakinkan bahwa semua cobaan
yang diberikan pasti mengandung hikmah, yang sangat penting dalam
kehidupannya.
5. Pengkajian Kultural
Faktor budaya berkaitan juga dengan fenomena yang muncul dewasa ini
dimana banyak ibu rumah tangga yang “baik-baik” tertular virus HIV /AIDS dari

10
suaminya yang sering melakukan hubungan seksual selain dengan istrinya. Hal ini
disebabkan oleh budaya permisif yang sangat berat dan perempuan tidak berdaya
serta tidak mempunyai bargaining position (posisi rebut tawar) terhadap suaminya
serta sebagian besar perempuan tidak memiliki pengetahuan akan bahaya yang
mengancamnya.
Kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk menanggulangi masalah
HIV /AIDS Selama ini adalah melaksanakan bimbingan sosial pencegahan
HIV /AIDS, pemberian konseling dan pelayanan sosial bagi penderita HIV /AIDS
yang tidak mampu. Selain itu adanya pemberian pelayanan kesehatan sebagai
langkah antisipatif agar kematian dapat dihindari, harapan hidup dapat
ditingkatkan dan penderita HIV /AIDS dapat berperan sosial dengan baik dalam
kehidupanya.

F. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik HIV dilakukan oleh dokter untuk mengetahui kondisi kesehatan
penderita HIV/AIDS, pemeriksaan yang dilakukan antara lain :
1. Suhu
Demam umum terjadi pada pasien dnegan HIV AIDS. Hal ini sebagai respon
tubuh terhadap terjadinya infeksi HIV dan umum terjadi pada orang yang
memiliki system kekebalan tubuh yang lemah.
2. Berat Badan
Pemeriksaan berat badan dilakukan pada setiap rutin kunjungan. Kehilangan 10%
atau lebih berat badan pada 3 bulan terakhir bias diakibatkan dari sindrom
wasting, yang merupakan salah satu dari tanda dan gejala AIDS. Sehingga
diperlukan bantuan tambahan gizi yang cukup pada penderita dengan HIV AIDS.
3. Mata
Cytomegalovirus (CMV) retinitisa adalah komplikasi umum AIDS. Hal ini terjadi
lebih sering pada orang yang memiliki CD4 jumlah kurang dari 100 sel per
mikroliter (MCL). termasuk gejala floaters, penglihatan kabur atau kehilangan
penglihatan.
4. Mulut

11
Infeksi jamur mulut dan luka mulut lainnya sangat umum pada orang yang
terinfeksi HIV. infeksi jamur di mulut lebih sering terdiagnosis pada individu yang
memiliki kelemahan pada sistem daya tahan tubuh. Hal ini bisa terjadi pada
mereka yang terinfeksi oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Selain
kandida (infeksi jamur), penderita HIV juga biasa mengalami kutil oral yang
disebabkan oleh Virus Human Papillomavirus (HPV) yang dapat berkembang di
mana saja di dalam mulut.
5. Kelenjar Getah Bening
Pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati) umum terjadi dan disebabkan
oleh HIV. Sebagai bagian dari sistem peredaran darah terbuka, kelenjar getah
bening menjadi salah satu bentuk pertahanan tubuh dalam mencegah
perkembangan virus dan bakteri.

6. Perut
Pemeriksaan abdomen mungkin menunjukkan hati yang membesar
(hepatomegali) atau pembesaran limpa (splenomegali). Kondisi ini bias
disebabkan oleh infeksi baru atau mungkin menunjukkan kanker (bagian dari
komplikasi HIV).
7. Kulit
Pasien dengan gejala HIV umumnya menunjukkan rash/ ruam pada kulit sebagai
bentuk dermatitis seroboik pada pasien.
8. Ginekologi
Perempuan dengan HIV memiliki kecendrungan mengalami kelainan sel servik
yang lebih tinggi daripada perempuan dengan non HIV. Perubahan sel ini bisa
dilakukan melalui pap smear. Jika hasil tes menunjukkan sesuatu yang abnormal,
maka akan disarankan untuk melakukan pap smear lebih sering.

G. Pemeriksaan Diagnostik
1 Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostik yang sebagian masih bersifat
penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis

12
Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit
serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
2 Serologis
a. Tes antibody serum
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif,
tapi bukan merupakan diagnosa.
b. Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV).
c. Sel T limfosit
Penurunan jumlah total
d. Sel T4 helper
Indikator sistem imun (jumlah <200>)
e. T8 ( sel supresor sitopatik )
Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8
ke T4 ) mengindikasikan supresi imun.
f. P24 (Protein pembungkus Human Immunodeficiency Virus (HIV)).
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
g. Kadar Ig Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati
normal
i. Reaksi rantai polymerase
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer
monoseluler.
j. Tes PHS
Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif.
3. Neurologis
EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf), dilakukan dengan
biopsi pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru.
4. Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka sistem
imun akan bereaksi dengan memproduksi antibodi terhadap virus tersebut.
Antibodi terbentuk dalam 3 – 12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 – 12
bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak

13
memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibodi ternyata tidak efektif, kemampuan
mendeteksi antibodi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah
memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostik.
Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang
uji kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau
plasma. Tes tersebut, yaitu :
a. Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)
Mengidentifikasi antibodi yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human
Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi
hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody
Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.
b. Western Blot Assay
Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan
seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV).
c. Indirect Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
d. Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA )
Mendeteksi protein dari pada antibody.
e. Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV)
untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein
virus p24, pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV – 1.
tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
sangat rendah, pasien dengantiter p24 punya kemungkinan lebih lanjut lebih besar
dari menjadi AIDS. Pemeriksaan serologi harus dikonfirmasi dengan western blot,
atau setidaknya harus dengan strategi 3 test dengan metode berbeda yang
melibatkan ELISA. Hal tersebut bisa digambarkan melalui bagan dibawah ini :

14
Gambar 1. Alur Pemeriksaan Laboratorium HIV

Intepretasi hasil pemeriksaan


1) Hasil positif : bila hasil A1 reaktif. A2 rektif dan A3 reaktif
2) Hasil negatif : bila hasil A1 non reaktif, bila hasil A1 reaktif tapi pada
pengulangan A1 dan A2 non reaktif, bila salah satu reaktif tapi tidak berisiko
3) Hasil indeterminate : bila dua hasil reaktif, bila hanya 1 tes reaktif tapi
berisiko atau pasangan berisiko

15
Tindaklanjut hasil pemeriksaan anti-HIV
1) Tindak lanjut hasil positif : rujuk ke pengobatan HIV
2) Tindak lanjut hasil negatif : bila hasil negatif dan berisiko dianjurkan
pemeriksaan ulang minimum 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan dari pemeriksaan
pertama, bila hasil negatif dan tidak berisiko dianjurkan perilaku sehat
3) Tidak lanjut hasil indeterminate : tes perlu diulang dengan spesimen baru
minimum setelah dua minggu dari pemeriksaan yang pertama
4) Bila hasil tetap indeterminate, dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR
5) Bila tidak ada akses ke pemeriksaan PCR, rapid tes diulang 3 bulan, 6 bulan
dan 12 bulan dari pemeriksaan pertama. Bila sampai satu tahun tetap
“indeterminate“ dan faktor risiko rendah, hasil dinyatakan sebagai negatif.
Bila skrining menunjukkan pasien terinfeksi HIV (HIV positif), maka pasien
perlu menjalani tes selanjutnya. Selain untuk memastikan hasil skrining, tes
berikut dapat membantu dokter mengetahui tahap infeksi yang diderita, serta
menentukan metode pengobatan yang tepat. Sama seperti skrining, tes ini
dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien, untuk diteliti di laboratorium.
Beberapa tes tersebut antara lain :
1. Hitung sel CD4. CD4 adalah bagian dari sel darah putih yang dihancurkan
oleh HIV. Oleh karena itu, semakin sedikit jumlah CD4, semakin besar pula
kemungkinan seseorang terserang AIDS. Pada kondisi normal, jumlah CD4
berada dalam rentang 500-1400 sel per milimeter kubik darah. Infeksi HIV
berkembang menjadi AIDS bila hasil hitung sel CD4 di bawah 200 sel per
milimeter kubik darah.
2. Pemeriksaan viral load (HIV RNA). Pemeriksaan viral load bertujuan untuk
menghitung RNA, bagian dari virus HIV yang berfungsi menggandakan diri.
Jumlah RNA yang lebih dari 100.000 kopi per mililiter darah, menandakan infeksi
HIV baru saja terjadi atau tidak tertangani. Sedangkan jumlah RNA di bawah
10.000 kopi per mililiter darah, mengindikasikan perkembangan virus yang tidak
terlalu cepat. Akan tetapi, kondisi tersebut tetap saja menyebabkan kerusakan
perlahan pada sistem kekebalan tubuh.

16
3. Tes resistensi (kekebalan) terhadap obat. Beberapa subtipe HIV diketahui
kebal pada obat anti HIV. Melalui tes ini, dokter dapat menentukan jenis obat anti
HIV yang tepat bagi pasien.

H. Penatalaksanaan Medis
1. Pengobatan suportif
a. Sebagian besar pasien malnutrisi sehingga diperlukan dukungan nutrisi
b. Multivitamin, seperti vitamin B-complex, vitamin C, vitamin E, selenium dan
lainnya.
2. Pengobatan simptomatik
3. Dukungan psikososial karena mengalami depresi dan ansietas
4. Pengobatan Infeksi Oportunistik (IO)
a. IO mempunyai bentuk seperti penyakit infeksi yang diderita oleh penderita
yang tidak terinfeksi HIV, sehingga seringkali petugas kesehatan tidak
memikirkan bahwa pasien di depannya mungkin terinfeksi HIV
b. Banyak pasien yang datang dengan tanda dan gejala menjurus ke AIDS tidak
mengetahui status HIV mereka. Oleh karena itu petugas kesehatan harus
menawarkan tes HIV.
c. Timbulnya IO berkaitan dengan status imun pasien, semakin rendah CD4
seseorang semakin besar kemungkinan seseorang mendapat IO.
d. Anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan penunjang
lainnya perlu dilakukan untuk mencari IO
e. Tatalaksana IO perlu dilakukan segera setelah diagnosis ditegakkan
f. Pemberian ARV pada waktu yang tepat sesuai dengan Pedoman Nasional.
Tatalaksana Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral akan menghindari pasien
masuk dalam stadium klinis lebih lanjut.
g. Penanganan IO pada stadium klinis lanjut lebih sulit dan membutuhkan rawat
inap yang membutuhkan biaya mahal
h. IO yang tersering dijumpai di Indonesia adalah: TB, kandidiasis oral, diare,
Pneumocystis Pneumonia (PCP), Pruritic Papular Eruption (PPE)
5. Pencegahan IO dengan Profilaksis Kotrimoksasol, terdapat dua macam
profilaksis, yaitu:
a. Profilaksis primer untuk mencegah infeksi yang belum pernah didapatkan.
b. Profilaksis sekunder untuk mencegah kekambuhan dari infeksi yang sama.
Profilaksis sekunder diberikan segera setelah seseorang selesai mendapatkan
pengobatan IO. Sebagai contoh, seseorang menderita PCP, maka setelah
selesai mendapatkan pengobatan PCP dan sembuh maka kotrimoksasol
diberikan sebagai profilaksis sekunder.

17
Selain pemberian profilaksis kotrimoksasol untuk mencegah timbulnya IO, perlu
juga menerapkan pola hidup sehat (menjaga kebersihan pribadi maupun
lingkungan seperti mencuci tangan, makan masakan yang sudah matang). Selain
itu perlu juga imunisasi untuk mencegah penyakit-penyakit yang bisa dicegah
oleh imunisasi (misal imunisasi Hepatitis B).
6. Pengobatan antiretroviral (ARV)
Penatalaksanaan untuk kasus HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah
dengan memberikan terapi antiretroviral (ARV) yang berfungsi untuk mencegah
sistem imun semakin berkurang yang berisiko mempermudah timbulnya infeksi
oportunistik. Hingga kini, belum terdapat penatalaksanaan yang bersifat kuratif
untuk menangani infeksi HIV. Walau demikian, terdapat penatalaksanaan HIV
yang diberikan seumur hidup dan bertujuan untuk mengurangi aktivitas HIV
dalam tubuh penderita sehingga memberi kesempatan bagi sistem imun, terutama
CD4 untuk dapat diproduksi dalam jumlah yang normal. Pengobatan kuratif dan
vaksinasi HIV masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
a. Terapi Antiretroviral (ARV)
Prinsip pemberian ARV menggunakan 3 jenis obat dengan dosis
terapeutik. Jenis golongan ARV yang rutin digunakan:
1) NRTI (nucleoside and nucleotide reverse transcriptaser inhibitors) dan
NNRTI (non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors): berfungsi sebagai
penghambat kinerja enzim reverse transcriptase (enzim yang membantu HIV
untuk berkembang dan aktif dalam tubuh pejamu)
2) PI (protease inhibitors), menghalangi proses penyatuan dan maturasi HIV
3) INSTI (integrase strand transfer inhibitors), mencegah DNA HIV masuk ke
dalam nukleus
Pemberian ARV diinisiasi sedini mungkin sejak penderita terbukti
menderita infeksi HIV.
a. Obat ARV lini pertama yang tersedia di Indonesia
1) Tenofovir (TDF) 300 mg
2) Lamivudin (3TC) 150 mg
3) Zidovudin (ZDV/AZT) 100 mg
4) Efavirenz (EFV) 200 mg dan 600 mg
5) Nevirapine (NVP) 200 mg
6) Kombinasi dosis tetap (KDT): TDF+FTC 300mg/200mg dan
TDF+3TC+EFV 300mg/150mg/600mg
Rejimen yang digunakan di tingkat FKTP adalah rejimen lini pertama dengan
pilihan sebagai berikut :

18
a) TDF + 3TC (atau FTC) + EFV
b) TDF + 3TC (atau FTC) + NVP
c) AZT + 3TC + EFV
d) AZT + 3TC + NVP
b. Sebelum mulai dengan pengobatan ARV perlu dilakukan :
1) Konseling tentang ARV dan kepatuhan berobat
2) Menilai ada tidaknya hambatan terhadap kepatuhan
3) Risiko toksisitas jangka pendek dan panjang
4) Penilaian awal laboratorium, seperti CD4, viral load (bila memungkinkan),
darah lengkap, profil lipid, gula darah, fungsi hepar dan ginjal.
c. Indikasi memulai pengobatan ARV :
1) Terapi ARV diberikan kepada semua ODHA tanpa melihat stadium klinis dan
jumlah CD4 (termasuk anak< 1 tahun, 1-10 tahun, remaja, dewasa, dan ibu
hamil).
2) ARV diberikan segera tanpa ditunda (dalam hari yang sama dengan diagnosis
sampai 1 minggu), pada pasien yang siap dan tidak ada kontraindikasi klinis .
hasil pemeriksaan laboratorium lengkap tidak menjadi pra-syarat untuk
memulai terapi ARV.
d. Kontraindikasi pengobatan ARV :
1) Pasien tidak memiliki motivasi
2) Pengobatan tidak dapat dilakukan secara terus menerus seumur hidup
3) Tidak dapat memonitor
4) Gangguang fungsi ginjal / hati
5) Penyakit oportunistik / infeksi oportunistik terminal, seperti limfoma maligna
e. Efek Samping ARV
Selama 1 bulan awal pemberian ARV, penting untuk dilakukan
evaluasi untuk memantau respon tubuh terhadap pengobatan, baik efek
yang dirasakan secara fisik maupun psikologis. Efek yang sering
dirasakan pada awal penggunaan ARV berupa mual, urtika,
limbung/kehilangan keseimbangan, lemas, pusing, dan gangguan tidur.
Keadaan ini dapat timbul pada masa awal penggunaan ARV, dan akan
berkurang saat kadar ARV mulai stabil dalam darah.
f. Pemantauan
1) Pemeriksaan viral load (VL) dilakukan pada 6 dan 12 bulan sejak mulai terapi
ARV, dan selanjutnya setiap 12 bulan
2) Pemeriksaan jumlah CD4 dapat dilakukan untuk pemantauan di tempat yang
tidak ada akses pemeriksaan VL dan untuk pemberian kotrimoksasol, namun
tidak menjadi syarat untuk memulai terapi.

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan
gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang
disebut HIV.
AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II,
LAV, RAV yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV)
yang berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan melalui
darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T.
Tanda dan gejala Penyakit AIDS seseorang yang terkena virus HIV pada awal
permulaan umumnya tidak memberikan tanda dan gejala yang khas, penderita
hanya mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh
saat mendapat kontak virus HIV tersebut.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) menginfeksi sel lewat pengikatan
dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen
grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human
Immunodeficiency Virus (HIV) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan

20
reproduksi dan banyaknya kematian sel T4 yang juga dipengaruhi respon imun sel
killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.
Penatalaksanaan untuk kasus HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah
dengan memberikan terapi antiretroviral (ARV) yang berfungsi untuk mencegah
sistem imun semakin berkurang yang berisiko mempermudah timbulnya infeksi
oportunistik. Hingga kini, belum terdapat penatalaksanaan yang bersifat kuratif
untuk menangani infeksi HIV. Walau demikian, terdapat penatalaksanaan HIV
yang diberikan seumur hidup dan bertujuan untuk mengurangi aktivitas HIV
dalam tubuh penderita sehingga memberi kesempatan bagi sistem imun, terutama
CD4 untuk dapat diproduksi dalam jumlah yang normal.

B. Saran
Adapun saran dari penulis yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
diantaranya :
1. Bagi perawat dan mahasiswa
Perawat dan mahasiswa diharapkan untuk mengetahui pengkajian biologis,
psikologis, sosial, spiritual dan kultural, pemeriksaan fisik dan diagnostik, tanda
gejala dan penatalaksanaan pada pasien HIV/AIDS AIDS.
2. Bagi masyarakat
Masyarakat diharapkan dapat bekerja sama dalam mengikuti kegiatan yang
berkaitan dengan promosi kesehatan pencegahan HIV/AIDS sehingga dengan
demikian dapat menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa saja
menyebabkan penyakit HIV/AIDS.

21
DAFTAR PUSTAKA

Ardhiyanti, Y., Lusiana, N., Megasari, K. 2015. Bahan Ajar AIDS pada Asuhan
Kebidanan. Yogyakarta: Deepublish.

Carpenito, Lynda Juall. 2004. Diagnosa Kperawatan Aplikasi Pada Praktek


Klinis, Jakarta : EGC

Doengos, Marylin E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC

Kemenkes RI. 2016. Program Pengendalian HIV/AIDS dan PIMS di Fasilitas


Kesehatan Tingkat Pertama. (online)
http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/4__Pedoman_Fasyankes_Primer
_ok.pdf Diakses 2 Juli 2019 pukul 15.00 WITA.

Kemenkes RI. 2018. Penatalaksaan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk


Eliminasi HIV/AIDS Tahun 2030. (online)
http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/surat_edaran_test_and_treat.pdf
Diakses 2 Juli 2019 pukul 15.30 WITA.

Masjoer, Arif, dkk. 2007. Kapita selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius
FKUI.

Nanda. 2005. Nursing Diagnosis Definition and Classification 2005-2006.


Philadephia : Nanda Internasional

Noya, Allert. 2011. Penatalaksanaan HIV/AIDS. (online)


https://www.alomedika.com/penyakit/penyakit-infeksi/hiv/penatalaksanaan
Diakses 2 Juli 2019 pukul 16.00 WITA.

Nugroho, Agung. 2011. Pedoman Praktis Diagnosis dan Penatalaksanaan


HIV/AIDS pada Keadaan Sumber Daya Terbatas. (online)
https://healthefoundation.eu/blobs/hiv/73758/2011/27/diagnosis_and_treatm
ent.pdf. Diakses 2 Juli 2019 pukul 16.30 WITA.

Nursalam, N. 2011. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS.


Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam, M.Nurs (Hons). 2007. Asuhan Keperawatan pada pasien terinfeksi


HIV. Jakarta: Salemba Medika.

22
Price, S.A., and Wilson, L.M., 2006, Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses
Penyakit, Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Smeltzer, Suzanne C & Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 3. Jakarta : EGC.

Sulaiman Reza. 2015. (online). available: https://health.detik.com/berita


detikhealth/d-2926007/hospice-care-bentuk-lain-pelayanan-paliatif-bagi
pasien-penyakit-parah. Diakses tanggal 3 Juli 2019, 19.00 WITA

Zuya Urahman. 2009. Asuhan Keperawatan HIV. (online). available.


http://www.indonesianurse.com/2009/12/14/asuhan-keperawatan-hivaids. 1
maret 2011. Diakses tanggal 3 Juli 2019, 19.30 WITA

23