Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perekonomian dunia usaha dalam berbagai industris seakan-akan tak pernah

berhenti karena perkembangan zaman. Demikian juga dengan perkembangan industri

perbankan yang tidak jauh berbeda dengan tingkat perkembangannya dengan industri-

industri lainnya. Dengan berkembangnya zaman dan bertambahnya kebutuhan serta

masukan dari masyarakat luas perbankan yang ada saat ini mengalami peningkatan yang

cukup signifikan. perkembangan ini diwujudkan dalam bentuk yang bervariasi baik dari segi

produk, prinsip maupun sistem operasionalnya.

Grafik 1.1

Sumber: Badan Pusat Statistik: Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi

Kegiatan perekonomian ini selalu berkaitan dengan lalu lintas pembayaran uang,

dimana industri perbankan mempunyai peranan yang sangat strategis. Kegiatan pokok bank

merupakan suatu lembaga keuangan yang berperan penting dalam perekonomian suatu

negara. Perkembangan industri perbankan yang semakin baik maka berpengaruh pada

pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Bank merupakan lembaga keuangan yang

melaksanakan tiga fungsi utama, yaitu menghimpun dana masyarakat, menyalurkan dana
pada masyarakat dan melakukan pelayan jasa kepada masyarakatAkuntansi syariah

merupakan proses akuntansi yang digunakan oleh lembaga-lembaga keuangan syariah yang

melakukan transaksi syariah yang meliputi pengukuran dan pengakuan, penyajian serta

pengungkapan. PSAK Nomor 105 merupakan acuan dalam penerapan sistem syariah yang

mengedepankan tentang hubungan kerjasama antara pemilik modal dengan pengelola dana,

sehingga dengan adanya batasan tersebut diharapkan terjadi transaksi yang lebih transparan.

Dalam akuntansi syariah, perlakuan akuntansi murabahah diatur dalam PSAK No.

59 paragraf 52 – 68 yang kemudian disempurnakan dalam PSAK No. 102.Perlakuan

akuntansi murabahah dalam PSAK No. 102 mengatur mengenai pembiayaan murabahah

yang mulai berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2008 dantidak hanya mengatur mengenai

akuntansi untuk penjual saja, namun juga diatur mengenai akuntansi murabahah untuk

pembeli. Tujuan akuntansi murabahah didalam akuntansi syariah untuk mengatur

pengakuan dan pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi murabahah.

Bank syariah mampu berdiri karena dalam pengoperasionalannya berdasarkan

prinsip syariah. Hal ini menunjukkan pentingnya likuiditas dalam mengukur tingkat

kesehatan suatu bank. Tantangan terbesar yang dihadapi perbankan syariah di 2014

adalah likuiditas. Ketatnya likuiditas sudah terlihat dari pertumbuhan Dana Pihak

Ketiga (DPK) yang melambat dua tahun terakhir.

Bank syariah merupakan salah satu bentuk dari perbankan nasional yang

mendasarkan operasionalnya pada syariat (hukum) Islam. Diberlakukannya Undang-

Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah merupakan bukti pengakuan

pemerintah mengenai spesifikasi perbankan syariah secara khusus. Undang-undang ini

mengatur tentang operasional bank syariah agar bank syariah benar-benar menjalankan

operasionalnya berdasarkan prinsip syariah. Pemberlakuan undang-undang tersebut

dilandasi dengan kekuatan yang ditunjukkan dengan tetap berdiri dengan kokohnya
bank syariah pasca krisis moneter pada tahun 1998 disaat banyak bank-bank konvensional

dilikuidasi.

Keberadaan perbankan syariah dipandang sebagai penyelamatan diri secara

emosional-ideologis, bukan penyelamatan (solusi) dari problem ekonomi, bahkan secara

makro penyelamatan eksistensial, yang menyelamatkan kemanusiaan dari kekuatan kapital

yang merongrong eksistensi kemanusiaan, yang berujung pada problem kemanusiaan.

Merujuk pada prinsip dasar perbankan syariah bahwa pola bagi hasil sesuai dengan syariat

Islam, semestinya produk- produk perbankan yang berupa bagi hasil lebih unggul dari pada

produk-produk lainnya. Kenyataan inilah yang menimbulkan kesan bahwa bank syariah

Indonesia sebenarnya bukan bank bagi hasil, melainkan bank murabahah. Bank syariah

dalam prakteknya selama ini cenderung melakukan akad murabahah, karena bank syariah

ingin memperoleh pendapatan yang tetap (fixed income), dari tingkat keuntungan

murabahah yang telah ditentukan. Lebih ironis lagi beberapa kebijakan bank syariah untuk

sektor pembiayaan masih relatif sama dengan kebijakan bank konvensional. Padahal

kebijakan bank konvensional tersebut tidak tepat untuk diterapkan pada operasional bank

syariah, khususnya mengenai kebijakan pada penentuan tarif keuntungan (margin/laba),

jangka waktu pembiayaan, dan jaminan pembiayaan. Idealisme perbankan syariah adalah

perbankan yang dilandasi teori, prinsip ekonomi dan perangkat Undang-undang yang

mantap. Pelaku-pelakunya mempunyai akhlak yang itqan dan ihsan dalam bidang ekonomi,

baik yang berperan sebagai produsen, konsumen, pengusaha, dan karyawan (Mual’lim,

2015).

Praktik pembiayaan yang dilakukan bank syariah termasuk didalamnya Pembiayaan

Murabahah, dimana pembiayaan ini merupakan suatu akad atau perjanjian jual beli barang

pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati dan tidak terlalu

memberatkan calon pembeli, Pembiayaan Mudharabah yang merupakan akad atau


perjanjian kerjasama antara bank selaku pemilik dana dengan nasabah selaku yang

mempunyai keahlian atau keterampilan untuk mengelola suatu usaha yang produktif dan

halal, Pembiayaan Musyarakah yang berarti akad atau perjanjian kerjasama antara dua pihak

atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi

dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan

kerugian berdasarkan porsi kontribusi dana berupa kas maupun aset nonkas yang

diperkenankan oleh Syariah.

Produk pembiayaan murabahah Bank Sulselbar Syariah adalah merupakan produk

penyaluran dana kepada masyarakat yang dibutuhkan dan dipasarkan oleh tenaga

pemasaran bank atau Account Manager yang bertugas mempromosikan dan mengajak

nasabah untuk menggunakan fasilitas pembiayaan ini. Berbeda dengan sistem kredit di bank

konvesional yang menerapkan sistem bunga, pembiayaan ini menggunakan sistem jual beli

yang tentunya lebih meringankan nasabah dalam hal tidak terpengaruh terhadap naik mata

uang tapi tergantung pada keuntungan (margin) yang disepakati diawal antar bank dan

nasabah sehingga berakhirnya jangka waktu pembiayaan.

Dari ketiga pembiayaan tersebut sama-sama mempunyai tingkatan resiko yang

cukup tinggi bagi pihak bank. Ada banyak kendala yang dihadapi oleh pihak bank dalam

pemberian pembiayaan kepada nasabah, sebaliknya nasabah pun mempunyai kendala

karena tidak semua nasabah mengetahui mengenai pembiayaan yang sesuai dengan

kebutuhan nasabah tersebut. Dengan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk

mengetahui Penerapan Pembiayaan Murabahah, Mudharabah, dan Musyarakah maka

dengan ini penulis mengambil judul “Analisis Penerapan Akad Syariah pada Pembiayaan

Multiguna di Bank Sul-Selbar Syariah Cab Makassar”


B. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka penulis membuat rumusan

masalah yaitu apakah perlakuan akuntansi pembiayaan murabahah pada PT. Bank

Pembangunan Daerah Sulselbar Kantor Cabang Syariah Makassar telah sesuai dengan

PSAK No. 102 tentang murabahah.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memberikan

gambaran tentang perlakuan akuntansi pembiayaan murabahah pada PT. Bank

Pembangunan Daerah Sulselbar Kantor Cabang Syariah Makassar sesuai dengan PSAK No.

102 tentang murabahah.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan akan diperoleh melalui penelitian yang dilakukan oleh

peneliti adalah:

1. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan mendapatkan informasi yang cukup dan pengetahuan

kepada penulis tentang perbankan syariah khususnya tentang pembiayaan

murabahah dan mampu menerapkan serta membandingkan antara ilmu yang

diperoleh dari bangku perkuliahan dengan keadaan yang sebenarnya secara

langsung pada obyek penelitian.

2. Bagi instansi

Dapat memberikan kontribusi informasi mengenai perlakuan akuntansi yang tepat

atas pembiayaan murabahah yang disalurkan oleh bank syariah, yang tidak

bertentangan dengan ketentuan yang diberlakukan pada bank syariah.

Selain itu, diharapkan menjadi salah satu pertimbangan bagi instansi untuk

mengembangkanDan hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan

informasi tambahan dan kajian tambahan terkait dengan inovasi-inovasi yang lebih

baik lagi kedepannya.