Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kegiatan pembangunan industri adalah salah satu kegiatan yang bertujuan

untuk meningkatkan kesehjateraan masyarakat, maka dari itu pembangunan sektor

industri sering mendapatkan prioritas utama dalam rencana pembangunan nasional.

Dengan makin meningkatnya perkembangan industri maka semakin meningkat pula

pencemaran pada perairan, udara, dan tanah yang di sebabkan oleh hasil buangan dari

industri - industri tersebut.

Pada saat ini kesadaran akan lingkungan yang bersih dan aman sudah

meningkat. Masalah pencemaran sudah menarik banyak kalangan, mulai masyarakat

lapisan bawah sampai dengan pejabat tinggi pemerintah. Pembangunan yang banyak

dilaksanankan secara besar - besaran di indonesia yang di tujukan untuk

meningkatkan kemakmuran rakyat tetapi juga dapat membawa dampak negatif bagi

lingkungan hidup. Tanpa udara kita tidak dapat hidup dan mesin – mesin kita pun

tidak akan dapat berjalan. Akan tetapi karena udara itu terdapat dalam jumlah yang

banyak dan berlebihan kita tidak bisa menginsyafi betapa vitalnya peran udara bagi

kehidupan manusia, namun udara yang banyak itu sebenarnya bukanlah tierbatas. Hal

ini baru kita sadari dan insyafi betapa vitalnya udara itu apabila terjadi suatu

pencemaran udara yang berat.


Pengotoran udara karena asap beracun yang di timbulkan karena adanya

pembakaran yang merupakan salah satu pencemaran yang timbul akibat ulah manusia.

A. Tresna Sastrawijaya mengatakan bahwa : “ Karbon Monoksida dibuat manusia

karena pembakaran yang tidak sempurna bensin dalam mobil, pembakaran

perindustrian, pembangkit listik, pemanas rumah, pembakaran di pertanian, dan

sebagainya. Gas ini tidak berwana atau berbau, tetapi amat berbahaya ”.1

Menurut Pasal 1 angka 2 Undang – Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang

Kehutanan yang dimaksudkan dengan hutan, adalah : “ Hutan adalah suatu kesatuan

ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang di dominasi

oleh pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya yang satu dengan lainnya

tidak dapat di pisahkan “. Hutan yang seharusnya dijaga dan di manfaatkan secara

optimal dengan memperhatikan aspek kelestarian kini telah mengalami degradasi dan

deforestasi yang cukup mencengankan. Hal ini di karenakan dengan adanya

pengelolaan dan pemanfaatan hutan selama ini tidak memperhatikan manfaat yang

akan di peroleh dari keberdaan hutan tersebut sehingga kelestarian lingkungan hidup

pun menjadi terganggu. Hutan memiliki berbagai manfaat yang berguna demi

kelestarian lingkungan hidup yaitu hutan sebagai pengatur aliran air, hutan sebagai

pencegah erosi dan banjir, dan hutan untuk menjaga kesuburan tanah. Dari berbagai

mannfaat ini manusia masih tidak bisa lepas dari suatu tindakan pengerusakan hutan.

1
A. Tresna Sastrawijaya. Pecemaran Lingkungan. Rineka Cipta:Jakarta.2000. hlm. 176
Kebakaran hutan merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan yang

memiliki dampak yang negatif. Kebakaran dan pembakaran merupakan sebuah kata

dasar yang sama tetapi memiliki makna yang berbeda kebakaran lebih identik dengan

kejadian yang tidak di sengaja sedangkan pembakaran identik dengan suatu tindakan

yang kejadiannya sengaja di ingiinkan. Kebakaran – kebakaran yang sering di

generalisasi sebagai kebakaran hutan, padahal sebagian besar kebakaran tersebut

adalah suatu tindak pembakaran yang sengaja dilakukan maupun akibat kelalaian,

baik oleh peladang yang berpindah ataupun oleh pelaku bisnis kehutanan atau

perkebunan. Hal tersebut terjadi pada kasus berikut ini :

Beritariau.com, Pekanbaru - Polda Riau menetapkan PT Langgam Inti


Hibrindo (LIH), sebagai tersangka kebakaran hutan dan lahan di kecamatan
Langgam kabupaten Pelalawan. Selain perusahaan, polisi juga menetapkan 27
orang warga sebagai tersangka.Anak usaha PT Provident Agro Tbk yang
sahamnya disebut-sebut dimiliki Pengusaha Nasional Sandiaga Uno,
diduga kuat membakar lahan sekitar 250 hektar. Ini terungkap setelah
polisi melakukan penyelidikan dengan mendatangi lahan yang terbakar
dan memintai keterangan sejumlah warga.Perusahaan ini menguasai sejumlah
lahan yang terletak di Desa Rantau Baru, Palas, K. Tarusan,
Kemang ,Penarikan, dan Gondai, Kabupaten Pelalawan."Saat ini polisi
mendalami dugaan keterlibatan PT LIH. Pihak perusahaan
manageroperasional dan manager lapangan sudah kita periksa," ujar Kabid
HumasPolda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo, Jumat (21/08/15) di ruangannya.
PT LIH ditetapkan sebagai tersangka, setelah adanya keterangan dari
sejumlah warga. Mereka sepakat memberikan keterangan yang sama dengan
menyatakan perusahaan sawit tersebut yang membakar lahannya sendiri.
Selain PT LIH, Polda Riau juga telah menetapkan 27 orang warga sebagai
tersangka pembakar hutan dan lahan di sejumlah kabupaten, yang ditangani
masing-masing Polres."18 tersangka berkasnya sudah P21 (lengkap),
sedangkan 4 tersangka dalam proses penyidikan, 4 tersangka berkasnya masih
dalam tahap pengiriman ke jaksa, dan 1 laporan masih lidik," jelas Guntur.
Perusahaan ini, diketahui merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit
yang beroperasi sejak tahun 1998. Namun baru diakuisisi oleh PT Provident
Agro yang bagian dari Saratoga Group sejak tahun 2007 sebesar 99,98%2

Dapat dikatakan bahwa penyebab kebakaran hutan di indonesia adalah berasal

dari ulah manusia , entah itu sengaja di bakar atau karena api lompat yang terjadi

akibat kelalaian pada saat penyiapan lahan, bahan bakran dan api merupakan faktor

penting untuk mempersiapkan lahan pertanian dan perkebunan. Pembakaran yang

selain dianggap mudah dan murah juga menghasilkan bahan - bahan mineral yang

siap di serap oleh tumbuhan. Dengan banyaknya jumlah bahan bakar yang dibakar di

atas lahan akhirnya akan menyebabkan asap yang tebal dan kerusakan lingkungan

yang luas. Bisa di katakan bahwa salah satu penyebab utama kerusakan hutan yang

ada di indonesia dikarenakan adanya kebakaran hutan, yang dimana kebakaran hutan

ini terjadi karena ulah manusia yang menggunakan api dalam upaya pembukaan

hutan yang nantinya akan digunakan untuk Hutan Tanaman Industri, perkebunan, dan

pertanian.

Hasil dari pembakaran hutan menjadi masalah yang serius bagi masyarakat

yang berada di sekitar lingkungannya. Hal ini telah bertentangan dengan Peraturan

Perundang – Undangan. Menurut Perdana Ginting memberikan dampak dari adanya

pembakaran hutan bahwa : ”Terganggunya kegiatan masyarakat sekitar disebabkan

2
PT Langgam Inti Hibrindo, grup usaha milik Sandiaga Uno tersangka karhutla
Pelalawan - http://beritariau.com/berita-2865-pt-langgam-inti-hibrindo-grup-usaha-milik-sandiaga-
uno-tersangka-karhutla-pelalawan.html
oleh gas yang berbentuk asap yang berasal dari pembakaran tersebut membuat

masyarakat kehilangan estetika pemandangan dan membuat pernafasan masyarakat

sekitar menjadi terganggu”.3

Limbah gas tersebut menyebar melalui media udara kesekitar lingkungan

yang menyebabkan udara di lingkungan tersebut menjadi tidak segar, kotor, dan

berbau serta limbah gas tersebut adalah limbah yang beracun dan berbahaya sehingga

dapat menganggu kesehatan masyarakat yang ada di dalam lingkungan tersebut.

Menurut Srikandi Fardiaz mengatakan bahwa : “Pembebasan CO (Karbon

Monoksida) ke atmosfer sebagai akibat aktivitas manusia lebih nyata, misalnya

transportasi, pembakaran minyak, gas, arang atau kayu, pembuangan limbah

padat,dan sumber – sumber lain termasuk kebakaran hutan ”.4

Dampak negatif dari asap yang disebabkan oleh pembakaran hutan tersebut

mengakibatkan berbagai masalah di dalam setiap kegiatan sehari – hari yang biasanya

di lakukan oleh masyarakat setempat menjadi terganggu akibat asap dari pembakaran

hutan tersebut. Akibat dari asap tersebut masyarakat bisa terkena penyakit – penyakit

yang parah yaitu radang pada saluran pernafasan, peradangan pada usus, gangguan

jantung, dan lain-lainnya.

3
Perdana Ginting. Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri. Yrama Widya :
Bandung. 2007. hlm. 32
4
Srikandi Fardiaz. Polusi Air & Udara. Kanisius : Yogyakarta. 1992. hlm. 96
Terkait masalah pembakaran hutan, di dalam ketentuan UU No 41 Tahun

1999 tentang Kehutanan pasal 50 ayat (3) huruf d menentukan sebagai berikut :

Setiap orang dilarang: Membakar hutan; . Serta pasal 50 ayat (3) huruf l yang

menentukan sebagai berikut : Setiap orang dilarang: Membuang benda – benda yang

dapat menyebabkan kebakaran dan kerusakan serta membahayakan keberadaan atau

kelangsungan fungsi hutan kedalam kawasan hutan; . Lalu berkaitan dengan tanggung

jawab sosial dan lingkungan, di dalam ketentuan UU No 40 Tahun 2007 tentang

Perseroan Terbatas pasal 74 ayat (1) menentukan : Perseroan yang menjalankan

kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib

melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, dan Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Pengendalian Kerusakan dan atau

Pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan dan atau

Lahan pasal 18 ayat (1) yang menentukan bahwa : Setiap penanggung jawab usaha

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran

hutan dan atau lahan di lokasi usahanya dan wajib segera melakukan penanggulangan

kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi usahanya.

1.2. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian Latar Belakang tersebut, maka rumusan masalahnya

adalah:
Apakah PT.X bertanggung gugat atas akibat yang timbul atas perbuatan pembakaran

hutan tersebut?

1.3. ALASAN PEMILIHAN JUDUL

Saya tertarik menulis judul skripsi ini karena Pelaku Usaha tersebut lebih

cenderung hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri tanpa melihat dari dampak

yang timbul yang dampaknya tersebut merusak lingkungan dan ekosistem hutan dan

menganggu kehidupan masyarakat di sekitarnya.

1.4. TUJUAN PENULISAN

Tujuan Akademik, yaitu sebagai syarat suatu kelulusan untuk mendapatkan

gelar Sarjana Hukum

Tujuan Praktis, untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam penyelesaian

kasus pembakaran hutan dikaitkan dengan Undang – Undang Nomor 41 Tahun 1999

Tentang Kehutanan, Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan

Terbatas, dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001

Tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup Yang

Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan.

1.5. METODOLOGI PENULISAN

1) TIPE PENELITIAN
Tipe penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah penelitian Yuridis

Normatif, yaitu penelitian yang dilakukan adalah penelitian kepustakaan dengan

menggunakan bahan hukum Primer, bahan hukum Sekunder, dan bahan hukum

Tersier sebagai bahan utamanya.

2) PENDEKATAN MASALAH

Pendekatan masalah menggunakan Statue Approach, yaitu masalah yang

dipaparkan dikaji dan dirumuskan berdasarkan pendekatan terhadap peraturan

perundang – undangan yang terkait. Selain itu, pendekatan masalah juga

menggunakan Conceptual Approach, yaitu masalah yang dipaparkan dikaji dan

dirumuskan berdasarkan pendekatan – pendekatan teori.

3) BAHAN HUKUM

Di dalam penelitian Yuridis Normatif, sumber hukum yang digunakan mencakup:

a. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan hukum yang mengikat. Bahan hukum

yang paling terkait dengan kasus di dalam skripsi ini adalah Undang –

Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, dan Undang – Undang

Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dan Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001 Tentang

Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup Yang

Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan.


b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan

mengenai bahan hukum Primer, misalnya: doktrin – doktrin atau asas –

asas, hasil karya tulisan kalangan hukum yang berkaitan dengan tulisan ini.

c. Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk

maupun penjelasan terhadap bahan hukum Primer dan bahan hukum

Sekunder. Misalnya: kamus, data – data yang berasal dari media cetak,

media elektronik, maupun lainnya.

4) LANGKAH PENELITIAN / PENULISAN HUKUM

a. LANGKAH PENGUMPULAN BAHAN HUKUM

Langkah – langkah pengumpulan bahan hukum yang dilakukan dapat diuraikan

sebagai berikut:

i. Menghimpun bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan

bahan hukum tersier yang berkaitan dengan judul dan topik skripsi

yang diperoleh melalui studi kepustakaan dan melalui internet.

ii. Bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum

tersier yang telah dihimpun, kemudian dikaitkan dengan kasus yang

dibahas di dalam skripsi ini.

b. LANGKAH KAJIAN
Dalam langkah kajian ini, langkah pertama yang ditempuh adalah dengan

menelusuri semua hasil penelitian yang diperoleh dari bahan-bahan hukum.

Selanjutnya dibahas dengan menyusun konsep-konsep, asas-asas atau prinsip-prinsip,

dan ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan kasus yang dibahas.

Kemudian, konsep – konsep, asas – asas atau prinsip – prinsip, dan ketentuan –

ketentuan hukum tersebut dikaitkan dengan kasus yang dibahas dalam skripsi ini

dalam bentuk analisa kasus. Dan langkah terakhir adalah dengan menyimpulkan hasil

dari analisa kasus tersebut.

1.6. PERTANGGUNGJAWABAN SISTEMATIKA

BAB I, Pendahuluan. Yang mengawali seluruh rangkaian pembahasan

sebagai Pendahuluan. Di dalamnya diuraikan gambaran umum permasalahan yang

dituangkan dalam Latar Belakang dan Rumusan Masalah. Alasan Pemilihan Judul

dimaksudkan untuk menjelaskan alasan – alasan dipilihnya judul tersebut agar

terdapat suatu persamaan persepsi dalam pembahasannya. Tujuan Penulisan

dikemukakan untuk mengetahui langkah – langkah yang dituju dalam pembahasan

skripsi ini. Metodologi Penelitian merupakan metode atas sistem penulisan agar

dalam penyusunannya tidak menyimpang dari jalur suatu karya ilmiah yang dapat

diuji dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah pula. Pertanggungjawaban

Sistematika berisi kerangka pembahasan yang disusun secara berurutan.


BAB II, Pembahasan tentang hutan menurut Undang – Undang dan referensi

lainnya, yang dimana bab ini meliputi gambaran umum hutan di indonesia yang

menjelaskan tentang definisi hutan, jenis, fungsi, sistem pengolaan hutan, faktor –

faktor peenyebab kebakaran hutan, serta dampak yang timbul dalam aksi pembakaran

hutan serta tanggung jawab perseroan terbatas.

BAB III, Pembahasan tentang Kasus pembakaran hutan yang di lakukan oleh

PT.X. Sub babnya terdiri dari kronologi kasus atau alur cerita dari Kasus pembakran

hutan yang menimbulkan asap yang sangat menganggu, yang kemudian dilanjutkan

dengan analisa untuk mengaitkan antara teori dan peraturan perundang – undangan

yang berkaitan dengan kasus ini. Dan juga menjelaskan mengenai penyelesaian

terhadap kasus tersebut, yang harus dilakukan menurut peraturan perundang –

undangan yang terkait.

BAB IV, Penutup. Bab inilah yang mengakhiri seluruh rangkaian masalah.

Sub babnya terdiri dari kesimpulan dan saran.


BAB II

HUTAN DAN KEBAKARAN HUTAN

2.1. PENGERTIAN HUTAN

Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat


oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di
wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon
dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta
pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer Bumi yang paling penting.
Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di seluruh dunia. Kita dapat
menemukan hutan baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin, di dataran
rendah maupun di pegunungan, di pulau kecil maupun di benua besar.
Hutan merupakan suatu kumpulan tumbuhan dan juga tanaman, terutama pepohonan
atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas.
Pohon sendiri adalah tumbuhan cukup tinggi dengan masa hidup bertahun-tahun. Jadi,
tentu berbeda dengan sayur-sayuran atau padi-padian yang hidup semusim saja.
Pohon juga berbeda karena secara mencolok memiliki sebatang pokok tegak berkayu
yang cukup panjang dan bentuk tajuk (mahkota daun) yang jelas.
Suatu kumpulan pepohonan dianggap hutan jika mampu menciptakan iklim dan
kondisi lingkungan yang khas setempat, yang berbeda daripada daerah di luarnya.
Jika kita berada di hutan hujan tropis, rasanya seperti masuk ke dalam
ruang sauna yang hangat dan lembap, yang berbeda daripada daerah perladangan
sekitarnya. Pemandangannya pun berlainan. Ini berarti segala tumbuhan lain dan
hewan (hingga yang sekecil-kecilnya), serta beraneka unsur tak hidup lain termasuk
bagian-bagian penyusun yang tidak terpisahkan dari hutan.
Hutan sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa
kayu, tetapi masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh
masyarakat melalui budidaya tanaman pertanian pada lahan hutan. Sebagai fungsi
ekosistem hutan sangat berperan dalam berbagai hal seperti penyedia sumber air,
penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna, dan peran penyeimbang
lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global. Sebagai fungsi penyedia
air bagi kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat penting, hal ini
dikarenakan hutan adalah tempat bertumbuhnya berjuta tanaman.5

5
https://id.wikipedia.org/wiki/Hutan
Di dalam konsiderans Undang – Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang

Kehutanan huruf a dan huruf b menyatakan bahwa : “hutan, sebagai karunia dan

amanah Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia,

merupakan kekayaan yang dikuasai oleh Negara, memberikan manfaat serbaguna

bagi umat manusia, karenanya wajib disyukuri, diurus, dan dimanfaatkan secara

optimal, serta dijaga kelestariannya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bagi

generasi sekarang maupun generasi mendatang”. Serta huruf b menyatakan juga

bahwa: “ hutan, sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan dan sumber

kemakmuran rakyat, cenderung menurun kondisinya, oleh karena itu keberadaannya

harus dipertahankan secara optimal, dijaga daya dukungnya secara lestari, dan diurus

dengan akhlak mulia, adil, arif, bijaksana, terbuka, profesional, serta bertanggung-

gugat. ” Dalam Undang – Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan

mengatakan bahwa : “ Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan

lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan

alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan ”.

2.2 JENIS – JENIS HUTAN

Jenis-jenis hutan dapat dibedakan berdasarkan hal-hal berikut, yaitu:

A. Berdasarkan Fungsinya

Berdasarkan fungsinya hutan dibedakan menjadi:


a. Hutan Lindung

Hutan Lindung adalah hutan yang berfungsi menjaga kelestarian tanah dan tata air

wilayah.

b. Hutan Suaka Alam

Hutan Suaka alam adalah kawasan hutan yang karena sifat-sifatnya yang khas

diperuntukan secara khusus untuk perlindungan alam hayati atau manfaat-manfaat

yang lainnya. Hutan suaka alam terdiri dari Cagar alam dan Suaka margasatwa.

Cagar Alamiah kawasan suaka alam yang keadaan alamnya mempunyai kekhasan

tumbuhan, satwa dan ekosistem atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan

perkembangannya berlangsung secara alami.

Suaka margasatwa ialah kawasan suaka alam yang mempunyai cirri khas berupa

keanekaragaman atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat

dilakukan pembinaan terhadap habitatnya.

c. Hutan Wisata

Hutan Wisata adalah hutan yang diperuntukan untuk dibina dan dipelihara guna

kepentingan pariwisata atau wisata baru. Hutan wisata terdiri dari Taman Wisata,

Taman Baru dan Taman Laut.


Taman Wisata adalah hutan wisata yang memiliki keindahan alam baik keindahan

nabati, keindahan hewani, maupun keindahan alamnya sendiri yang mempunyai

corak khas yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan rekreasi dan kebudayaan.

Taman Baru adalah hutan wisata yang didalamnya terdapat satwa baru yang

memungkinkan diselenggarakannya perburuan secara teratur bagi kepentingan

rekreasi.

Taman Laut adalah laut kawasan lepas pantai atau laut yang masih di dalam batas

wilayah laut Indonesia yang di dalamnya terdapat batu-batuan kosong atau biota.

Di kawasan ini terdapat ekosistem dan keindahan khusus yang keadaan alamnya

secara fisik tidak mengalami perubahan yang diakibatkan karena perbuatan manusia.

Contoh taman laut adalah taman laut bunaken (Sumatra Utara).

d. Hutan Produksi

Hutan Produksi berfungsi sebagai penghasil kayu atau non kayu, seperti hasil industri

kayu dan obat-obatan.

B. Berdasarkan Jenis Pohonnya

Menurut jenis pohonnya, hutan dapat dibedakan menjadi:


a. Hutan Heterogen

Hutan Heterogen adalah hutan yang ditumbuhi oleh berbagai macam pohon, misalnya

hutan rimba. Biasanya di daerah tropic yang banyak hujannya seperti di Amerika

Tengah dan Selatan, Afrika, Asia Tenggara dan Australia Timur Laut pohon-

pohonnya tinggi dan berdaun lebar. Di Indonesia hutan Heterogen antara lain terdapat

di pulau Jawa, Sumatra,Kalimantan dan Irian Jaya.

b. Hutan Homogen

Hutan Homogen adalah hutan yang ditumbuhi oleh satu macam tumbuhan. Pada

umumnya hutan homogen dibuat dengan tujuan tertentu, misalnya untuk reboisasi,

penghijauan, atau keperluan perluasan industri. Contoh hutan homogen antara lain

hutan jati dan hutan pinus.

C. Berdasarkan Proses Terjadinya

Menurut terjadinya atau terbentuknya hutan dibedakan menjadi dua, yaitu hutan asli

atau hutan alam dan hutan buatan.

Hutan Asli adalah hutan yang terjadi secara alami, misalnya hutan rimba.

Hutan Buatan adalah hutan yang terjadi karena dibuat oleh manusia. Biasanya hutan

ini terdiri dari pohon-pohon yang sejenis dan dibuat untuk tujuan tertentu. Khusus

untuk hutan mangrove (hutan bakau) kebanyakan merupakan hutan alami, namun ada
juga hutan mangrove yang sengaja dibuat oleh manusia untuk menanggulangi pantai

dari bahaya yang ditimbulkan oleh gelombang atau arus laut.

D. Berdasarkan Tempatnya

Untuk daerah tropik yang memiliki curah hujan tinggi, hutan dapat tumbuh di

berbagai tempat, sehingga hujan tersebut dinamai berdasarkan tempat tumbuhnya.

Contoh hutan menurut tempatnya adalah hutan rawa, hutan pantai dan hutan

pegunungan.

E. Berdasarkan Iklimnya

Berdasarkan iklimnya, hutan dibedakan menjadi:

- Hutan Hujan Tropis

Hutan hujan tropis terdapat di daerah tropic basah dengan dengan curah hujan tinggi

dan terbesar sepanjang tahun. Hutan hujan tropis antara lain terdapat di Amerika

Tengah danSelatan, Australia timur Laut, Afrika dan Asia Tenggara. Ciri khas dari

tumbuhan-tumbuhan yang terdapat di hutan hujan tropis adalah ukuran pohon yang

tinggi, berdaun lebar, selalu hijau dan jumlah jenis besar. Hutan ini kaya akan hewan

Vertebrata dan Invertebrata.


- Hutan Musim Tropik

Hutan ini terdapat di daerah tropic beriklim basah, tetapi mempunyai musim kemarau

yang panjang. Biasanya pohon-pohon di hutan musim tropic menggugurkan daunnya

pada musim kemarau. Hutan musim tropik banyak terdapat di kawasan India dan

Asia Tenggara, termasuk juga Indonesia.

- Hutan Hujan Iklim Sedang

Hutan hujan iklim sedang adalah hutan raksasa yang terdapat di Australia dan

sepanjang pantai Pasific di Amerika Utara dan California sampai negara bagian

Washington. Hutan hujan iklim sedang di Australia merupakan hutan dengan pohon-

pohon tertinggi di dunia.

- Hutan Pegunungan Tropik

Hutan jenis ini mirip dengan hutan hujan iklim sedang, namun struktur dan

karakteristik lainnya sangat berbeda.

- Hutan Hujan Iklim Sedang yang selalu hijau

Terdapat di daerah beriklim sedang. Hutan jenis ini tersebar di Amerika Serikat dan

Eropa yang beriklim kontinen.


- Hutan Gugur Iklim Sedang

Hutan ini terdapat didaerah dengan iklim kontinen sedang namun agak basah dengan

musim hujan di musim panas dan dengan musim dingin yang keras. Pohon-pohon

yang dominant adalah pohon-pohon yang berdaun lebar yang menggugurkan daunnya

dimusim dingin. Hutan ini banyak tersebar di kawasan Amerika Serikat, Eropa, Asia

Timur, Chile dan Amerika Tengah.

- Taiga

Taiga terdiri dari jenis-jenis conifer yang tumbuh di tempat terdingin dari daerah

iklim hutan. Taiga terbesar terdapat di Amerika Utara, Eropa dan Asia.

- Hutan Lumut

Hutan lumut adalah komunitas pegunungan tropik yang memilki struktur yang

berbeda dengan taiga. Hutan lumut terdapat di daerah yang memilki ketinggian 2500

m. pohon-pohonnya kerdil dan juga ditumbuhi lumut dan lumut kerak.

- Sabana

Sabana adalah padang rumput tropis yang diselingi pohon-pohon besar. Umumnya

sabana merupakan daerah peralihan antara hutan dan padang rumput. Sabana antara

lain terdapat di Australia dan Brasilia.


- Gurun

Gurun adalah wilayah daratan yang tidak ada tumbuhan kecuali beberapa jenis kaktus.

F. Berdasarkan Tujuannya

Menurut jenisnya hutan digolongkan menjadi:

- Hutan Konservasi dan Taman Nasional

- Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Produksi Tetap

- Hutan Lindung

- Hutan Konversi

2.3 ANALISIS KEBAKARAN HUTAN

Kebakaran adalah terbakarnya sesuatu yang menimbulkan bahaya atau

mendatangkan bencana. Kebakaran dapat terjadi, karena pembakaran yang tidak

terkendali Karena proses alami atau karena kelalaian manusia. Sumber api alami

antara lain adalah kilat, yang menyambar pohon atau bangunan, letusan gunung

berapi yang menyebaran bongkahan barapi dan bergesekan antara ranting tumbuhan

kering, karena goyangan angin yang menimbulkan panas atau percikan api.

Sedangkan kebakaran adalah tindakan membakar sesuatu untuk tujuan

tertentu. Indonesia memiliki hutan tropis terbesar di dunia, yang keluaasanya

menempati urutan ke tiga setelah Brazil dan Republik Demokrasi Kongo. Dengan

demikian Indonesia memiliki potensi sumber daya hutan sangat besar. Selama 32
tahun pemerintah orde baru menempatkan sector kehutanan sebagai andalan

perolehan devisa negara ke dua setelah sector migas. Sektor kehutanan juga

menyerap bangak tenaga kerja dan mampu mendorong terbentuknya sentra-sentar

ekonomi dan membuka keterlisolasian di beberapa daerah terpencil. Namun,

bersamaan dengan itu pula sebagai dampak negatif atas pengelolaan hutan yang

eksplitatif dan tidak berpihak pada kepentingan rakyat, pada akhirnya menyisakan

persoalan, di antaranya kerusakan hutan yang sangat menghawatirkan. Indonesia

telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 % menurut World Resource Institute.

Penebangan hutan Indonesia yang tidak terkendali selama puluhan tahun dan

menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis secara besar-besaran. Laju

kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada

periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia

merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Di

Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta

hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam

kawasan hutan. (badan Planologi Dephut, 2003).6

Setelah bencana El Nino pada tahun 1997/98 yang menghanguskan 25 juta

ektar hutan diseluruh dunia. Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada tahun yang

sama bahkan disebutkan sebagai bencana terburuk tahun 1997 karena dampaknya

bagi hutan dan emisi karbon yang dilepaskan ke udara. Lebih dari 2.67 juta ton

6
Abdul Khakim, Pengantar Hukum Kehutanan Indonesia Dalam Era Otonomi Daerah,
(Bandung: Chitra Aditya Bakti, 2005), hlm. 1.
karbon dioxide dilepaskan keudara oleh pembakaran tersebut. Nilainya setara dengan

40 persen dari seluruh emisi yang ditimbulkan dari pembakaran bahan bakar fosil di

Indonesia selama setahun. Bapenas memperkirakan kerugian dari kebakaran 4,5 juta

hektar hutan dan lahan pada tahun 1997/1998 mencapai angka US$ 9,72 milyar. 7

Kebakaran hutan telah menjadi perhatian internasional sebagai isu lingkungan dan

ekonomi. Di akhir tahun 1997 dan awal tahun 1998, saat api membinasakan berjuta-

juta hektar hutan tropika di Indonesia. Peristiwa kebakaran yang merusak tersebut

mengakibatkan terjadinya lintasan panjang di Pulau Sumatera dan Kalimantan,

berbentuk selimut asap yang tebal dan secara serius membahayakan kesehatan

manusia. Kebakaran ini juga membahayakan keamanan perjalanan udara serta

menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar di seluruh kawasan dan

menimbulkan banyak keluhan dari Negara tetangga. Kebakaran hutan semula

dianggap terjadi secara alami, tetapi kemungkinan manusia mempunyai peran dalam

memulai kebakaran di milenium terakhir ini, perburuan dan selanjutnya untuk

membuka petakpetak pertanian di dalam hutan. Meskipun kebakaran telah menjadi

suatu ciri hutan-hutan di Indonesia selama beribu-ribu tahun, kebakaran yang terjadi

mula-mula pasti lebih kecil dan lebih tersebar dari segi frekuensi dan waktunya

dibandingkan dua dekade belakangan ini.

Oleh karena itu, kebakaran yang terjadi mula-mula ini bukan merupakan

penyebab deforestasi yang signifikan. Hal ini terlihat jelas dari kenyataan bahwa

7
Anonim, 2007, Sebab kebakaran Hutan Indonesia pada http;//www.issdp.or.id/v2
sebagian besar wilayah Indonesia adalah hutan, dan baru pada waktu belakangan ini

mengalami deforestasi yang sangat tinggi. Berbagai proses degradasi hutan dan

deforestasi mengubah kawasan hutan yang luas di Indonesia dari suatu ekosistem

yang tahan kebakaran menjadi ekosistem yang rentan terhadap kebakaran. Kerugian

materil sudah tak terhitung jumlahnya akibat kebakaran hutan dan asap ini. Mulai dari

nilai hutannya sendiri (kayu, margasatwa dan lingkungan), kerusakan lingkungan,

kerusakan sarana dan prasarana serta harta penduduk yang terkadang ikut terbakar,

sampai kepada biaya yang terjadi karena gangguan pada trasportasi. Gangguan

transportasi dapat berupa penundaan penerbangan, keterlambatan karena jarak

pandang yang terbatas, atas lebih celaka lagi kalau terjadi musibah kecelakaan gara-

gara asap. Musibah ini tidak hanya menimpa negeri yang punya hutan dan asap

tersebut, melainkan juga merambat ke negeri tetangga seperti Singapura, Brunei

Darussalam dan Malaysia. Sehingga selain negara-negara tersebut menyumbangkan

tenaga dan dana bagi penaggulangan kebakaran hutan dan asap, mereka juga

menyampaikan kritikan pedas bagi Indonesia.

2.4 PENYEBAB KEBAKARAN HUTAN

Kebakaran hutan terjadi karena beberapa factor, yakni oleh ulah manusia dan

faktor alam itu sendiri. Faktor alam biasa terjadi pada musim kemarau ketika cuaca

sangat panas. Namun, sebab utama dari kebakaran adalah pembukaan lahan yang

meliputi :
a. Pembakaran lahan yang tidak terkendali sehingga merembet ke lahan lain

Pembukaan lahan tersebut dilaksanakan baik oleh masyarakat maupun

perusahaan. Namun bila pembukaan lahan dilaksanakan dengan

pembakaran dalam skala besar, kebakaran tersebut sulit terkendali.

Pembukaan lahan dilaksanakan untuk usaha perkebunan, HTI, pertanian

lahan kering, sonor dan mencari ikan. pembukaan lahan yang paling

berbahaya adalah di daerah rawa/gambut.

b. Penggunaan lahan yang menjadikan lahan rawan kebakaran, misalnya di

lahan bekas HPH dan di daerah yang beralang-alang.

c. Konflik antara pihak pemerintah, perusahaan dan masyarakat karena status

lahan sengketa Perusahaan-perusahaan kelapa sawit kemudian menyewa

tenaga kerja dari luar untuk bekerja dan membakar lahan masyarakat lokal

yang lahannya ingin diambil alih oleh perusahaan, untuk mengusir

masyarakat. Kebakaran mengurangi nilai lahan dengan cara membuat lahan

menjadi terdegradasi, dan dengan demikian perusahaan akan lebih mudah

dapat mengambil alih lahan dengan melakukan pembayaran ganti rugi

yang murah bagi penduduk asli.

d. Dalam beberapa kasus, penduduk lokal juga melakukan pembakaran untuk

memprotes pengambil-alihan lahan mereka oleh perusahaan kelapa sawit.

e. Tingkat pendapatan masyarakat yang relatif rendah, sehingga terpaksa

memilih alternatif yang mudah, murah dan cepat untuk pembukaan lahan
f. Kurangnya penegakan hukum terhadap perusahaan yang melanggar

peraturan pembukaan lahan

Penyebab kebakaran lain, antara lain:

a. Sambaran petir pada hutan yang kering karena musim kemarau yang

panjang.

b. Kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok secara

sembarangan dan lupa mematikan api di perkemahan.

c. Aktivitas vulkanis seperti terkena aliran lahar atau awan panas dari letusan

gunung berapi.

d. Kebakaran di bawah tanah/ground fire pada daerah tanah gambut yang

dapat menyulut kebakaran di atas tanah pada saat musim kemarau Hutan-

hutan tropis basah yang belum terganggu umumnya benarbenar tahan

terhadap kebakaran dan hanya akan terbakar setelah periode kemarau

yang berkepanjangan. Sebaliknya, hutan-hutan yang telah dibalak,

mengalami degradasi, dan ditumbuhi semak belukar, jauh lebih rentan

terhadap kebakaran
2.5 NILAI BAHAYA KEBAKARAN HUTAN

Kerugian akibat kebakaran maupun pembakaran hutan dan lahan sangat besar

sekali baik terhadap kehidupan manusia maupun terhadap kehidupan mahluk hidup

lainnya. Yang paling merugikan adalah timbulnya korban akibat keganasan api baik

langsung maupun tidak langsung, serta hilangnya plasmanutfah dan lenyapnya

spesies tanaman dan binatang yang tidak mungkin kembali lagi. Untuk itu akibat

kebakaran hutan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu kerugian ekologis, ekonomis

dan social.8

a. Dampak Ekologi

Jika hutan terbakar maka beberapa fungsi hutan akan hilang sebagian atau

hilang sama sekali sejalan dengan hilangnya pepohonan di dalam hutan. Kebakaran

hutan mengganggu lima proses ekologi hutan yaitu suksesi alami, produksi bahan

organik dan proses dekomposisi, siklus unsur hara, siklus hidrologi dan pembentukan

tanah. Kebakaran hutan juga menimbulkan kerusakan fungsi hutan sebagai pengatur

iklim dan perosot karbon. Selain itu, kebakaran hutan lebih jauh lagi akan merusak

daerah aliran sungai (DAS).

8
Saharjo, B.H. 2003. Kebakaran Hutan dan Lahan. Laboratorium Kebakaran Hutan
dan Lahan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor
b. Dampak Kerugian Ekonomis

Dampak langsung berupa kerugian ekonomi seperti hilangnya hasil hutan

(kayu dan non kayu), kerugian yang ditanggung oleh sektor perkebunan, hilangnya

keanekaragaman hayati dan lainlain. Dampak ekonomi yang bisa dihitung adalah

kerugian langsung yang diderita oleh sektor perkebunan, kehutanan, kesehatan,

transportasi, pariwisata dan biaya langsung yang di keluarkan untuk penanggulangan

dan pemadaman. Karena kerugian ekologi tidak seluruhnya bisa di hitung menjadi

nilai rupiah maka kerugian ekologi yang dimungkinkan untuk dihitung saja yang

masuk.

c. Dampak Sosial

Tujuan tinjauan dampak social guna menganalisis dampak kebakaran hutan

dan lahan pada kesejahteraan di pedesaan. Mata pencaharian masyarakat lokal dan

ketentraman diangap sebagai kesatuan dan konsep mengenai kesejahteraan.

Kemampuan masyarakat memberi makan diri sendiri, melakukan pertanian subsistem

atau pembelian pangan dari uang hasil perkebunan tanaman keras adalah kunci bagi

masyarakat untuk bertahap hidup.


BAB III

TANGGUNG JAWAB PERSEROAN TERBATAS TERHADAP

LINGKUNGAN

3.1 KRONOLOGI KASUS

Hutan merupakan suatu kekayaan alam yang harus dijaga dan di lestarikan

oleh masyarakat sekitar termasuk juga pemerintah. Pemerintah telah mengeluarkan

berbagai kebijakan mengenai hutan dan tentang lingkungan namun meskipun dengan

adanya peraturan perundang – undangan yang bertujuan untuk melindungi dan

melestarikan huan dan lingkungan masih kebanyakan di anggap sebagai formalitas

saja oleh pelaku usaha sehingga masih banyak pelaku usaha tersebut tidak

menghiraukan keberadaan undang – undang tersebut. Maka dari itulah perusakan dan

pembakaran hutan di indonesia makin marak di karenakan para peseroan terbatas

tersebut tidak takut dengan di belakukannya perundang – undang yang mengatur

tentang itu.

Hal ini terjadi di karenakan Pemberlakuan Undang – Undang Nomor 41

Tahun 1999 Tentang Kehutanan dan Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2007

Tentang Perseroan Terbatas belumlah maksimal meskipun peraturan perundang -

undangannya tersebut sudah berjalan sangat lama meskipun begitu perseroan terbatas

masihlah tidak menaati peraturan perundang – undangan tersebut di karenakan

untung yang besar yang nantinya bisa mereka dapat dan denda administrasi yang
tergolong kecil daripada untung yang di dapatkan sehingga para perseroan terbatas itu

berani mengambil resiko dengan melanggar peaturan perundang – undangan tersebut.

Di Riau, Sumatera Tengah, baru – baru ini terjadi suatu kasus yang

mencoreng nama indonesia di kancah intenasional yang dimana ada suatu

pembakaran hutan dan lahan yang dilakukan oleh beberapa perseroan terbatas yang

menuai berbagai kecaman dari dalam maupun dari luar negeri yang dimana

mengakibatkan kabut asap yang sangat menganggu masyarakat di dalam maupun di

luar negeri dalam menjalankan aktivitasnya sehari – hari yang biasanya di lakukan.

Kabut asap tersebut ternyata merengut nyawa dari orang – orang yang

menghirup asap yang disebabkan dari pembakaran hutan tersebut, setelah di telusuri

ternyata pembakaran itu di lakukan oleh perseroan terbatas itu karena ingin membuka

lahan untuk menanam tanaman sawit tidak hanya itu ada beberapa sumber

mengatakan bahwa pembakaran lahan tersebut guna menambah mineral di lahan yang

akan di tanami tanaman sawit yang menyebabkan tanaman sawit itu tumbuh lebih

subur.

Tetapi ada yang mengatakan bahwa pembakaran lahan tersebut bertujuan

untuk mengurangi pengeluaran dari perseroan terbatas tersebut dalam menyiapkan

lahan baru untuk tanaman sawit yang baru, maka dari itu lah salah satu caranya

adalah dengan membakar hutan dan lahan yang dulunya juga di tanami sawit tetapi
tanaman sawit tersebut di bakar unutk mengurangi pengeluaran dari perseroan

terbatas tersebut.

3.2 ANALISA KASUS

Berdasarkan uraian kasus yang secara singkat diatas yang telah di bahas pada

sebelumnya, PT. X ini telah melakukan pelanggaran hukum yang dimana PT. X ini

tidak memenuhi apa yang tetapkan dalam ketentuan peratuan perundang – undangan

tersebut.

Tindakan tersebut yang telah dilakukan oleh PT. X tersebut dikarenakan

kurang tegasnya penegakan hukum dalam hal melindungi kekayaan alam yang

dimana kebakaran hutan tersebut merupakan fakta yang telah terjadi dan hal tersebut

sangatlah menganggu kehidupan masyarakat disekitar

Suatu perseroan terbatas memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan yang

dalam hal ini tertuang pada pasal 74 Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2007

tentang Peseroan Terbatas yaitu:

(1) Perseroan yang menjalankan kegiatannya dibidang dan/atau berkaitan


dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial
dan lingkungan.
(2) Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan di
perhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaanya dilakukan
dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
(3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peratuan
perundang – undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tanggung jawab sosial dan
lingkungan diatur dengan peraturan pemerintah.

Perbuatan yang di lakukan oleh PT.X yang sengaja membakar hutan ini tanpa melihat

dampak apa yang terjadi kemudian dapat di kategorikan sebagai perbuatan yang

melanggar ketentuan perundang – undangan yaitu:

1. Undang – Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan dalam pasal

50 ayat (3) huruf d dan huruf l yang dimana disitu menentukan bahwa

(3) Setiap orang dilarang:

d. membakar hutan;

l. membuang benda – benda yang dapat menyebakan

kebakaran dan kerusakan serta membahayakan keberadaan

atau kelangsungan fungsi hutan ke dalam kawasan hutan;

Hal ini dikarenakan PT.X tersebut telah membakar habis hutan yang nantinya akan di

tamani oleh PT.X dengan tanaman sawit padahal dalam peraturan perundang –

undangan di atas jelas di katakan bawah membakar hutan adalah suatu hal yang tidak

di pebolehkan dalam Undang – Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan .


2. Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

dalam pasal 74 ayat (1) yang disitu menentukan bahwa: Perseroan yang menjalankan

usahanya dibidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001 Tentang

Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan

Dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan Pasal 18 ayat (1) yang menyatakan bahwa :

Setiap penanggung jawab usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 bertanggung

jawab atas terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi usahanya dan wajib

segera melakukan penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi

usahanya.

3.3 AKIBAT HUKUM

Bagi Masyarakat sekitar yang terkena dampak dari adanya kabut asap ini

akibat perbuatan dari PT. X ini terbukti telah mengakibatkan kerugian bagi

masyarakat yang ada di sekitarnya yang dimana masyarakat sekitar telah menghirup

asap hasil dari pembakaran yang timbul akibat ulah dari PT. X yang dimana dampak

menghirup asap tersebut sangatlah merugikan yang dapat mengakibatkan gangguan

saluran pernafasan yang dimana dampak dari asap tersebut menimbulkan dampak

yang paling fatal yaitu kematian.


Bagi PT. X, dengan adanya fakta bahwa PT. X dalam kasus ini telah

tertangkap karena telah membakar hutan dan lahan di daerah riau yang dimana akibat

dari kasus pembakaran hutan ini jelas akan menumbuhkan citra buruk PT.X di dalam

masyarakat karena telah merugikan dalam aspek kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Bagi pemerintah, dengan adanya kasus ini menunjukkan kinerja pemerintah

dalam hal pengawasan terhadap salah satu kekayaan alam yaitu hutan di Indonesia

bisa di bilang kurang maksimal dan kurang tegas. Selain itu, dengan adanya kasus ini

membuktikan bahwa regulasi – regulasi yang dibuat oleh pemerintah sudah tidak

dapat dan kurang di dalam pengawasan hutan dalam hal kebakaran hutan. Dengan

adanya kasus tentang kebakaran hutan ini dinilai sangat merugikan pemerintah karena

pemerintah harus mempersiapkan anggaran dalam pemulihan hutan dan juga dalam

hal anggaran kesehatan dikarenakan bahwa banyak masyarakat yang menghirup asap

tersebut yang menyebabkan gangguan dalam pernafasan.

3.4 PERTANGGUNG JAWABAN PERSEROAN TERBATAS

Dengan munculnya kerugian yang dialami oleh masyarakat oleh karena

perbuatan PT. X yang mencemari lingkungan dengan cara membakar hutan,

mewajibkan PT. X untuk mengganti kerugian yang diderita oleh masyarakat. Ganti

kerugian yang harus diberikan oleh PT. X terkait dengan tanggung jawab perseroan

terbatas terhadap kerugian yang diderita oleh masyarakat. Setiap Perseroan Terbatas

yang tidak melakukan pertanggung jawaban atas kebakaran hutan yang

disebabkannya seperti yang tetera pada pasal 18 ayat (1) Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Pengendalian Kerusakan dan atau

Pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan dan atau

Lahan akan dimintai ganti kerugian yang tertera pada pasal 49 ayat (1) Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Pengendalian

Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan Dengan

Kebakaran Hutan dan atau Lahan yang dimana menyatakan bahwa : “ Setiap

perbuatan yang melanggar ketentuan Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15,

Pasal 17, Pasal 18 ayat (1), Pasal 20, dan Pasal 21 ayat (1) yang menimbulkan akibat

kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran

hutan dan atau lahan yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan

hidup, wajib untuk membayar ganti kerugian dan atau melakukan tindakan tertentu.”

PT. X sebagai perseroan terbatas yang telah terbukti mencemari lingkungan

dengan cara membakar hutan dan tidak melakukan penanggulangan yang telah di

tetapkan oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001

Tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup Yang

Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan yang diamana harus membayar

ganti kerugian atas akibat yang timbul dari kebakaran hutan yang disebabkan oleh PT.

X.
BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat

disimpulkan bahwa PT. X sebagai pelaku usaha yang mencemari lingkungan dan

membakar hutan betanggung jawab atas dampak dari akibat yang timbul atas

pembakaran hutan karena:

1. Pelaku usaha yaitu PT. X hanya mementingkan kepentingan dirinya untuk

mendapat keuntungan yang lebih dan tidak memikirkan dampak yang timbul

dari asap akibat dari kebakaran hutan tersebut sehingga melanggar ketentuan

Pasal 50 Undang – Undang Nomor 41 Tentang Kehutanan, Pasal 74 ayat (1)

Undang – Undang Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan.

2. Pelaku usaha yaitu PT. X telah melanggar ketentuan Pasal 18 ayat (1) )

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001 Tentang

Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup Yang

Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan dalam hal

penanggulangan kerusakan hutan akibat pembakaran hutan.


Tanggung gugat pelaku usaha dapat melalui gugatan di pengadilan atau penyelesaian

sengketa di luar pengadilan dengan cara pemberian ganti rugi secara langsung dengan

cara damai kepada masyarakat yang dirugikan.

4.2 SARAN

Sebaiknya pemerintah lebih mempertegas lagi pemberlakuan terhadap undang

– undang yang mengatur tentang perusakan dan pencemaran lingkungan hidup dalam

hal perusakan dan pembakaran hutan yang mengingat dimana nama Indonesia

tercoreng di kancah internasional akibat dari asap yang timbul dari pembakaran hutan

yang ada di indonesia serta agar pemerintah lebih cepat menangani kasus seperti ini

lagi agar tidak ada kerugian dari masyarakat dan jatuhnya korban dari masyarakat

akibat asap hasil dari pembakaran hutan ini. Hal ini perlu segera disadari oleh

perseroan terbatas yang lainnya agar kejadian kasus pembakaran hutan ini jangan

sampai terjadi lagi dan juga agar perseroan terbatas lainnya juga memakai cara yang

benar dalam mengelolah sumber daya alam yang ada di Indonesia ini.
DAFTAR PUSTAKA

Ginting, Perdana, Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri,

Yrama Widya, Bandung, 2007.

Fardiaz, Srikandi, Polusi Air & Udara, Penerbit Kanisus, Yogyakarta, 1992.

Sastrawijaya, A. Tresna, Pencemaran Lingkungan, Penerbit Rineka Cipta,

Jakarta, 2000.

Khakim, Abdul, Pengantar Hukum Kehutanan Indonesia Dalam Era

Otonomi Daerah, Chitra Aditya Bakti, Bandung, 2005.

Saharjo, B.H. , Kebakaran Hutan dan Lahan. Laboratorium Kebakaran

Hutan dan Lahan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor

Anonim, 2007, Sebab kebakaran Hutan Indonesia http;//www.issdp.or.id/v2

https://id.wikipedia.org/wiki/Hutan,

http://beritariau.com/berita-2865-pt-langgam-inti-hibrindo-grup-usaha-milik-

sandiaga-uno-tersangka-karhutla-pelalawan.html, diakses tanggal 17 November 2015

Undang – Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan

Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001 Tentang

Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan

Dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan.