Anda di halaman 1dari 5

Pada malam itu, turun hujan disertai petir yang muncul beberapa kali.

Moonkyu ㅡ ketua dari


pemberantas pembisnis kotor yang ada di sana, melemparkan foto dimana terdapat beberapa potret
orang di dalam foto itu. "Target kau selanjutnya adalah.. mereka. Kau pasti tahu apa yang harus kau
lakukan, Luhan?"

Luhan mengambil selembaran foto yang terbaring di meja nakas cokelat kemudian pergi begitu saja
tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Dengan pakaian serba hitam dari atas sampai bawah, Luhan
menyiapkan peralatan pisau dan sebuah senjata snipper lengkap dengan teleskopnya.

Di sisi lain tempat, beberapa orang kolega kolega pembisnis perjual-belikan organ tubuh sedang
berkumpul di suatu tempat entah di mana. Mereka sedang berpesta dengan beberapa botol wine
ataupun anggur ditemani sejumlah uang yang tidak sedikit berada di tengah tengah mereka.

Salah satu pria dari mereka mengulurkan tangan mengambil segemgam uang lalu diciumnya aroma uang
uang itu dengan sekali tarikan nafas. "(Hahhh) Aku ingin lebih banyak uang dari ini. Hey! Boss!
Bagaimana kita mengganti korban kita untuk tidak menjual organ anak anak lagi?"

"Aku juga sudah berpikir begitu. Kita akan mengganti korban kita dengan murid yang ada di Hankuk
School. Tempatnya cukup terpencil dan jauh dari keramaian. Namun murid yang ada disana tampak
segar organ organ mereka untuk kita jual."

Sebuah tepuk tangan bangga dari seseorang terdengar. "Uwah! Aku suka sekali ide, kau Boss! Sekarang
darah dalam tubuhku memanas karna bersemangat tidak sabar menantikan mereka. Hahahaha." Mereka
semua tertawa mendengarkan ocehan pria tadi termasuk juga Boss mereka.

Namun..

Saat mereka tertawa bahagia sebuah peluru kecil menancap tepat di samping kepala sebelah kanan Boss
mereka. Mereka yang melihat kejadian itu langsung berhambur kemana mana mencari perlindungan
sesaat ketika tubuh Boss mereka jatuh ke lantai dengan luka tembak di kepala.
Satu demi satu korban berjatuhan. Telunjuk maupun sorotan mata tajam Luhan lebih cepat dalam
mengincar nyawa pembisnis kotor itu meskipun mereka sedang berlari larian. Dalam waktu sepuluh
menit saja, dia sudah membunuh mereka semua dan tidak menyisakan satu orang pun yang berjumlah
30 orang di dalam ruangan itu.

Dari tempat yang lebih tinggi, Luhan tetap memasang wajah datarnya meski penutup wajah yang hanya
menampilkan dua mata rusanya saja terlihat bahwa sorotan tajam masih sama tak pudar. Semilir angin
yang berhembus kencang menerbang beberapa helai rambut halus coklat, sembari ia menarik penutup
setengah wajahnya.

"Its clear."

Di sebuah ibukota bernama Seoul identik dengan bangunan bangunannya menjulang tinggi ke awan,
salah satu diantaranya milik CEO muda bernama Sehun. Ia berumur 24 tahun sudah bisa menjalankan
perusahaan dimana sahamnya kini berada di peringkat nomor 1 teratas. Memang cukup muda akan
tetapi jiwa skill bisnis yang mengalir dalam darahnya begitu sangat kental.

Sehun bahkan sempat membeli perusahaan yang sudah bangkrut namun seketika ia dengan hanya
membalikkan telapak tangan bisa merubah perusahaan itu menjadi peringkat nomor 5 teratas sekarang.
Wajah tampan yang terlukis di wajahnya juga menjadi skill tambahan dalam menarik perhatian kolega
saham maupun warga yang melihat fotonya terpampang di koran ataupun majalah paling depan.

Pagi yang cerah dengan sedikit awan putih menghiasi langit, Sehun mengendarai mobil BMW M6
berwarna putih milik pribadinya melintasi jalanan menuju gedung tinggi bernama Corp. SK One yang
diyakini adalah miliknya sendiri tanpa campur tangan saham dari keluarga sedikitpun.

Dia memberhentikan mobil putih itu tepat di depan pintu masuk dan berjalan masuk dengan tangan
dimasukkan ke kantung celana sembari mengeluarkan aura dingin. Para karyawan yang menyambutnya
sesaat Sehun datang, tidak bisa tidak terpesona akan ketampanan pagi ini. Semua karyawan selalu
menarik nafas dalam untuk tidak menjerit saat melihat dirinya.
"Sehun-ah, bisakah kau tidak mengeluarkan aura ketampananmu untuk hari ini saja?"

Park Chanyeol ㅡ pria bertubuh tinggi yang sedari tadi berada di samping Sehun seakan akan tidak
terlihat karna aura ketampanan Sehun yang begitu sangat cerah. Sehun melirik Chanyeol
memberikannya senyum miring. "Diriku sudah terlahir seperti ini."

"Ya, aku mengakuinya. Walaupun begitu kenapa kau sampai saat ini tidak memiliki pasangan? Banyak
wanita mengantri untuk kau jadikan pasangan."

"Mereka semua penjilat, yang dilihat oleh mereka hanyalah wajah tampan ini, kisah drama dongeng yang
menjijikan dan juga kekayaan yang kumiliki." Chanyeol ber-oh ria mendengar jawaban Sehun sembari
mengangguk nganggukkan kepala.

Saat mereka berdua hendak memasuki lift, seorang pria berpakaian serba hitam sudah berada di dalam
sana seorang diri. Mereka berdua menghiraukan pria itu yang tiba tiba berjalan pergi begitu saja. Meski
pria itu memakai topi dan juga masker untuk menutupi wajahnya, Sehun sekilas dapat melihat warna
kulitnya yang sangat putih serta mata yang terlihat seperti rusa.

Dalam beberapa detik, Sehun tertegun ke dalam pesona yang dimiliki oleh pria itu. Ia tiba tiba berlari
mengejarnya begitu saja kemudian meraih tangan pria itu. Betapa terkejutnya, Luhan yang sedang
terburu buru untuk melarikan diri dari sana, ada tangan besar yang sedang menahannya.

Begitupun juga Sehun, saat ia sudah meraih tangan pria itu yang dipikirannya saat ini adalah tangan pria
ini sangatlah kecil dan terlihat rapuh. Bahkan Sehun tidak berani menggemgam tangan ini terlalu kuat
akan tetapi, hasrat untuk 'dia harus menjadikan pria ini miliknya' bergejolak dalam pikiran dan juga
hatinya.

Luhan membelalakan matanya sesaat dia menolehkan kepalanya melihat Sehun yang sedang
menghujaninya dengan tatapan tajam. Terlebih lagi Luhan ditarik paksa oleh pria yang tidak dikenalnya
sama sekali untuk mengikutinya ke dalam ruangan yang sepertinya adalah ruang kerja milik pria ini.
"Lepaskan! Siapa kau?!"
"Aku Sehun. Oh Sehun. Pemilik perusahaan ini atau bisa dibilang aku adalah CEO dari perusahaan yang
sedang kau injaki ini. Kau pegawai dari bidang apa? Aku tidak pernah melihat kau di sini." Sehun melihat
Luhan dari atas sampai bawah dan juga sempat terfokus oleh sebuah tas panjang yang ada di tangan.

"Kurir. Aku hanyalah seorang kurir."

"Kau? Seorang kurir? Dari perusahaan apa? Dan siapa namamu? Dimana kau tinggal?" Pertanyaan
bertubi tubi yang diajukan oleh Sehun membuat Luhan berkeringat dingin. Ada apa dengan pria ini,
siapakah orang ini yang tiba tiba menghujaninya dengan pertanyaan pertanyaan yang seakan akan
sedang mengintrogasinya.

"Cepat katakan atau dalam beberapa detik penjaga datang ke sini dan menyeretmu ke kantor poli-..."

"Luhan. Namaku Luhan."

Sehun tersenyum kecil mendengar nama asing yang baru pertama kali didengarnya. Ia terus
menggumamkan nama 'Luhan' beberapa kali dalam hatinya sambil melihat Luhan yang masih memakai
topi dan juga masker wajah. Perlahan demi perlahan, ia mendekati Luhan dan membuka penutup wajah
serta topinya untuk melihat betapa cantiknya pria yang ada dihadapannya.

"Baiklah Luhan. Mulai saat ini kau adalah milikku." Sehun langsung meraup bibir tipis merah muda milik
Luhan saat itu juga dan terus menghisap udara maupun saliva yang ada di dalam tubuhnya. Ini adalah
pertama kali ia merasakan jatuh cinta. Ia sangat ingin memiliki tubuh pria ini, jiwanya, hatinya, dan
semua yang ada pada dirinya.

Sikap posesif untuk menjadikan pria yang baru ditemui ini jadi miliknya bergejolak kencang dalam darah
tubuhnya. Ia terus menerus menghisap bibir bawahnya yang entah kenapa terasa manis. Sedangkan
Luhan tentu berusaha keras memberontak untuk meloloskan diri namun.. seketika tubuhnya lemas
hanya karna ciuman panas yang diberikan oleh Sehun.
Waktu seakan berhenti di sekitar mereka dan aura yang berubah menjadi panas seiring terdengarnya
suara erotis ciuman mereka berdua. Nafas yang memburu