Anda di halaman 1dari 9

Keracunan Massal, Polisi Tahan Suami Istri

Penjual Tutut
Sabtu, 26 Mei 2018 | 14:15 WIB

VIVA – Polisi mengamankan sepasang suami istri dalam insiden keracunan massal karena
menyantap tutut rebus. Suami istri yang diamankan berinisial Ko dan YD.

Kabag Humas Polresta Bogor Kota AKP Yuni Astuti mengatakan warga yang keracunan membeli
tutut atau keong sawah rebus dari dua ibu-ibu setempat berinisial JJ dan De. Mereka menjual 80
bungkus dengan harga per bungkus Rp2000.

Namun, JJ dan De mengaku hanya menjual titipan dagangan dari perempuan berinisial YD dan
suaminya, berinisial Ko.

"Jadi tutut ini dibeli sama warga sekitar mulai dari RT 01, RT02, RT 05 dan RT 07. Saat ini kami
telah amankan barang bukti cangkang tutut dan air tutut beserta Ibu YD, yang memasak dan
menitipkan dagangan kepada Ibu JJ tadi," kata Yuni kepada VIVA, Sabtu 26 Mei 2018.

Menurut pengakuan yang menjual dan memasak, YD tidak mengetahui mengapa warga bisa
keracunan. Namun, ia akan menanyakan pada suaminya, Ko, yang saat ini masih berada di Kota
Cirebon dan sedang dalam perjalanan ke Bogor.

Sementara, sampai saat ini masih dilakukan penanganan medis dan pendataan terhadap warga yang
keracunan. Aparat Polsek Bogor Utara dan Polresta Bogor Kota tengah berkoordinasi dengan
Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Bogor Utara dan Dinas kesehatan untuk melakukan
penanganan medis.
Polisi Tetapkan 3 Tersangka Kasus Dugaan
Keracunan Tutut di Bogor Kontributor
Bogor,
Ramdhan Triyadi Bempah Kompas.com - 29/05/2018, 18:13 WIB

Sejumlah warga Kampung Sawah, Kota Bogor, dirawat di puskesmas karena diduga mengalami
keracunan setelah memakan hidangan tutut, Sabtu (26/5/2018) (KOMPAS.com/RAMDHAN
TRIYADI BEMPAH)
BOGOR, KOMPAS.com - Kepolisian Resor Bogor Kota menetapkan tiga orang sebagai tersangka
dalam kasus dugaan keracunan tutut di Kampung Sawah, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan
Bogor Utara, Kota Bogor. Akibat kejadian tersebut, 85 warga di lima RT di wilayah itu terpaksa
dilarikan ke rumah sakit dan puskesmas setempat untuk mendapat perawatan medis. Kepala Satuan
Reskrim Polresta Bogor Kota, Komisaris Polisi Didik Purwanto mengatakan, polisi telah menahan
tiga tersangka masing-masing berinisial J (54), Y (52) dan S (55). Didik menuturkan, ketiga
tersangka ini merupakan pembuat dan penjual makanan olahan tutut yang berada di sekitar lokasi.
"Untuk J dan S merupakan penjual, sementara yang membuatnya Y. Jadi, Y ini menitipkan tutut
ke warung J dan S," kata Didik, Selasa (29/5/2018). Didik menambahkan, dari hasil pemeriksaan,
mereka mengaku sudah terbiasa mengolah makanan tutut. Namun, baru kali ini bermasalah.
Sambungnya, polisi menjerat para tersangka dengan Pasal 62 ayat 1 Undang-undang Nomor 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Pasal 90 serta Pasal 136 huruf a Undang-undang
Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan. "Kami juga sudah mengamankan barang bukti berupa alat
masak yang digunakan, seperti wajan, dua baskom besar berisi tutut, dan bumbu-bumbu yang
digunakan untuk dicampurkan ke tutut," tutupnya.
Insiden Tutut, Bogor Tetapkan Status KLB Keracunan
Makanan
Ihsan Dalimunthe, CNN Indonesia | Sabtu, 26/05/2018 21:03 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat menetapkan kasus keracunan
yang dialami warga Bogor Utara usai mengonsumsi tutut (keong sawah) sebagai kejadian luar
biasa (KLB).
"Kejadiannya masif, penyebabnya diperkirakan sama dari makanan tutut, kita tetapkan status
KLB, yang terpenting semua korban diatasi semua," kata Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Bogor,
Usmar Hariman seperti yang dilaporkan Antara, Sabtu (26/5).

Tercatat ada 108 orang warga yang mengalami keracunan dan dirawat di sejumlah fasilitas
kesehatan mulai dari Puskesmas hingga rumah sakit.
"Kita pastikan semua warga yang terkena dampak mendapat perawatan," ucap Usmar.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Rubaeah mengatakan, keracunan makanan
dialami warga di tiga rukun tertangga yakni, RT 01, 02, dan 05 di RW 07, Kampung Sawah,
Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor.
Ia mengatakan, warga yang keracunan mengalami gejala mual, pusing, diare, dan demam tinggi.
Kondisi tersebut dialami setelah warga mengkonsumsi tutut.
"Setelah ada hasil diagnosa beberapa warga yang dirawat, maupun yang diperiksa di rumah sakit,
diduga disebabkan oleh tutut yang dimakan saat berbuka puasa," ujar Rubaeah.
Para warga yang keracunan selain dirawat di Puskesmas, dan rumah sakit, juga ada beberapa yang
dirawat di rumah oleh bidan, dan petugas medis. Dan beberapa ada yang berobat jalan.
"Kondisi terakhir alhamdulillah beberapa warga sudah mulai membaik kondisinya," imbuhnya.
Untuk mengetahui penyebab pasti keracunan, lanjut Rubaeah, sampel makanan tutut yang
dikonsumsi warga, dan rental rectal swab telah dikirim ke laboratorium Labkesda Dinas
Kesehatan dan Provinsi.
Kepala Puskesmas Bogor Utara, dr Oki Kurniawan mengatakan, warga positif mengalami
keracunan akibat bakteri. Tetapi jenis bakteri apa yang terkandung masih dalam analisa di
laboratorium.
"Bisa e.coli, atau bisa lebih bakteri lebih parah lagi. Karena dilihat masa inkubasinya mencapai 24
jam setelah mengkonsumsi tutut, timbul gejala deman, mual, muntah dan diare," kata Oki.
Oki menambahkan, kejadian keracunan massal ini baru pertama kali terjadi, dan langsung
mengenai masyarakat dalam jumlah banyak mencapai 85 orang, sehingga Kepala Dinas Kesehatan
dan Plt Wali Kota Bogor menetapkan status KLB.
Kasus keracunan Tutut di Bogor, pembuat
dan penjual ditetapkan tersangka
Selasa, 29 Mei 2018 20:42 Reporter : Radeva Pragia Bempah.

Merdeka.com - Kepolisian Resor Bogor Kota menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam
kasus keracunan Tutut yang terjadi Kampung Sawah, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor
Utara, Kota Bogor. Dalam kasus ini, 108 warga di lima RT di wilayah itu harus dilarikan ke
rumah sakit dan puskesmas setempat untuk mendapat perawatan medis.

Kepala Satuan Reskrim Polresta Bogor Kota Komisaris Polisi Didik Purwanto mengatakan,
polisi telah melakukan penahanan terhadap ketiga tersangka berinisial J (54), Y (52) dan S (55).
Ketiga tersangka ini merupakan pembuat dan penjual makanan olahan tutut yang berada di
sekitar lokasi.

"Untuk J dan S merupakan penjual, sementara yang membuatnya Y. Jadi, Y ini menitipkan tutut
ke warung J dan S," kata Didik, Selasa (29/5).

Didik menambahkan, dari hasil pemeriksaan, mereka mengaku sudah terbiasa mengolah
makanan tutut. Namun, baru kali ini bermasalah. Polisi menjerat para tersangka dengan Pasal 62
ayat 1 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Pasal 90 serta
Pasal 136 huruf a Undang-undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan.

"Kami juga sudah mengamankan barang bukti berupa alat masak yang digunakan, seperti wajan,
dua baskom besar berisi tutut, dan bumbu-bumbu yang digunakan untuk dicampurkan ke tutut,"
tutupnya.
Mengandung bakteri

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor telah melakukan pemeriksaan uji laboratorium terhadap
olahan tutut yang menyebabkan ratusan warga di Kampung Sawah, Kota Bogor, keracunan.
Hasil uji lab tersebut menunjukkan, di dalam olahan tutut yang sudah matang itu mengandung
tiga jenis bakteri, yaitu escherichia coli (e.coli), salmonella dan shigella.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Budi Santoso,
mengatakan, pemeriksaan hasil uji laboratorium itu dilakukan di Laboratorium Kesehatan
Daerah (Labkesda) Kota Bogor.

"Hasil uji lab juga menunjukkan air di dalam olahan tutut itu mengandung coliform dan logam,"
ungkap Budi, saat dikonfirmasi, Selasa (29/5).

Budi menjelaskan, gejala yang ditimbulkan akibat bakteri-bakteri itu adalah mual, muntah, dan
diare. Jika tidak segera ditangani, sambungnya, dapat menyebabkan dehidrasi.

Dia juga berpesan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih menu hidangan
untuk berbuka puasa.

"Kita terus memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang keamanan dalam mengonsumsi
makanan, apalagi dalam bulan ramadhan ini," katanya. [noe]
REVIEW
Kasus : Keracunan Makanan karena Tutut (Keong sawah)
Wilayah (daerah) : RT 01, RT02, RT 05 dan RT 07 Kampung Sawah, Kelurahan Tanah Baru,
Kecamatan Bogor.

Penyebab : Hasil uji lab tersebut menunjukkan, di dalam olahan tutut yang sudah matang itu
mengandung tiga jenis bakteri, yaitu escherichia coli (e.coli), salmonella dan shigella.

"Setelah ada hasil diagnosa beberapa warga yang dirawat, maupun yang diperiksa di rumah sakit,
diduga disebabkan oleh tutut yang dimakan saat berbuka puasa,"

Gejala : gejala yang ditimbulkan akibat bakteri-bakteri itu adalah mual, muntah, dan diare. Jika
tidak segera ditangani, sambungnya, dapat menyebabkan dehidrasi.

Ia mengatakan, warga yang keracunan mengalami gejala mual, pusing, diare, dan demam tinggi.
Jumlah korban : pada tanggal 26 mei 2018 (18.13) ada 85 orang yang dilarikan ke
puskesmas/rumah sakit terdekat selanjutnya hanya dalam hitungan jam pukul 21.15 korban
langsung bertambah sebanyak 108 orang

Cara penanggulangan (dari kasus) : Dia juga berpesan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati
dalam memilih menu hidangan untuk berbuka puasa."Kita terus memberikan penyuluhan kepada
masyarakat tentang keamanan dalam mengonsumsi makanan, apalagi dalam bulan ramadhan
ini,"

polisi telah melakukan penahanan terhadap ketiga tersangka berinisial J (54), Y (52) dan S (55).
Ketiga tersangka ini merupakan pembuat dan penjual makanan olahan tutut yang berada di
sekitar lokasi. Polisi menjerat para tersangka dengan Pasal 62 ayat 1 Undang-undang Nomor 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Pasal 90 serta Pasal 136 huruf a Undang-
undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan.

REVIEW :

Pada tanggal 26 Mei 2018 terjadi keracunan makanan yang diperkirakan karena warga
makan keong sawah (tutut) yang direbus. Warga yang keracunan membeli tutut atau keong
sawah rebus dari dua ibu-ibu setempat berinisial JJ dan Y. Mereka menjual 80 bungkus dengan
harga per bungkus Rp.2000.

Akibat kejadian tersebut, pada pukul 18.13 85 warga di lima RT di wilayah itu terpaksa
dilarikan ke rumah sakit dan puskesmas setempat untuk mendapat perawatan medis. Hingga
pukul 21.15 jumlah korban akibat keracunan tutut semakin bertambah sebanyak 108 orang.
Sehingga Kepala Dinas Kesehatan dan Plt Wali Kota Bogor menetapkan status KLB. Gejala
yang dialami warga meliputi gejala mual, pusing, diare, dan demam tinggi. Kondisi tersebut
dialami setelah warga mengkonsumsi tutut.saat berbuka puasa.

Upaya tindak lanjut yang dilakukan oleh pemerintah setempat untuk menghadapi kasus
KLB ini meliputi :

1. (26 Mei 2018) Kepala Satuan Reskrim Polresta Bogor Kota Komisaris Polisi
Didik Purwanto mengatakan, polisi telah melakukan penahanan terhadap ketiga
tersangka berinisial J (54) merupakan penjual, Y (52,pembuat olahan tutut rebus)
dan S (55, penjual). Polisi menjerat para tersangka dengan Pasal 62 ayat 1
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Pasal
90 serta Pasal 136 huruf a Undang-undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan.
2. (26 Mei 2018) Untuk mengetahui penyebab pasti keracunan, sampel makanan
tutut yang dikonsumsi warga, dan rental rectal swab telah dikirim ke
laboratorium Labkesda Dinas Kesehatan dan Provinsi. Kepala Puskesmas Bogor
Utara, dr Oki Kurniawan mengatakan, warga positif mengalami keracunan akibat
bakteri. Tetapi jenis bakteri apa yang terkandung masih dalam analisa di
laboratorium.
3. (26 Mei 2018) Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat menetapkan kasus
keracunan yang dialami warga Bogor Utara usai mengonsumsi tutut (keong
sawah) sebagai kejadian luar biasa (KLB). Korban sudah diatasi semua dengan
mendapat segera penanganan medis di tempat terdekat seperti rumah sakit,
puskesmas, home care (bidan/klinik).

Sebelumnya, pihak-pihak terkait sudah mengamankan barang bukti berupa alat masak
yang digunakan, seperti wajan, dua baskom besar berisi tutut, dan bumbu-bumbu yang
digunakan untuk dicampurkan ke tutut. Pada tanggal 29 Mei 2018, hasil menunjukkan bahwa di
dalam olahan tutut yang sudah matang itu mengandung tiga jenis bakteri, yaitu escherichia coli
(e.coli), salmonella dan shigella pemeriksaan hasil uji laboratorium itu dilakukan di
Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Bogor. Hasil uji lab juga menunjukkan air di
dalam olahan tutut itu mengandung coliform dan logam. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor menjelaskan, gejala yang ditimbulkan akibat bakteri-
bakteri itu adalah mual, muntah, dan diare. Jika tidak segera ditangani, dapat menyebabkan
dehidrasi.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) juga berpesan kepada
masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih menu hidangan untuk berbuka puasa dengan
cara terus memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang keamanan dalam mengonsumsi
makanan, apalagi dalam bulan ramadhan.

Cara Penanggulangan (agar tidak terjadi lagi) :

1. Memberikan penyuluhan kepada warga sekitar mengenai aman mengkonsumsi keong


sawah (tutut) asal benar dalam hal pengolahannya, baik dari segi cara membersihkan atau
cara memasaknya agar tutut tersebut tetap aman dikonsumsi.
2. Memastikan bahwa air yang digunakan untuk memasak/mengolah makanan benar-benar
air yang bersih yang tidak mengandung bakteri
3. Memasak makanan hingga benar-benar matang agar bakteri yang tidak tahan terhadap
suhu panas (>70C) akan benar-benar mati
4. Membiasakan mencuci tangan sebelum makan karena kita tidak pernah mengetahui
bakteri apa saja yang ada di tangan kita
5. Mengenali bahan makanan (seperti ikan, keong,daging, ayam dll) yang layak dikonsumsi
dan tidak layak dikonsumsi. Karena sebelum bahan makanan diolah kita harus dapat
memastikan bahwa bahan makanan tersebut baik/tidak untuk dikonsumsi.

Salmonela, misalnya membutuhkan waktu inkubasi sekitar 6-72 jam, sehingga gejala baru
akan muncul 2-5 hari setelah mengonsumsi makanan tersebut.

Bakteri Campylobacter memiliki masa inkubasi yang lebih lama dibanding Salmonella, yaitu
hingga 2-5 hari. Sesudah masa inkubasi tersebut, barulah Anda akan merasakan gejala-gejala
keracunan makanan.