Anda di halaman 1dari 31

BAB II

PENDEKATAN MASALAH DAN METODE PENELITIAN

2.1. Pendekatan Masalah

Bertitik tolak dari identifikasi masalah yang telah dikemukakan sebelumnya,

maka untuk mencapai tujuan yang diharapkan diperlukan adanya suatu pemecahan

dan pembahasan masalah yang sesuai dengan permasalahan yang ditelaah sehingga

akan diperoleh suatu gambaran yang jelas mengenai pemecahannya. Pendekatan

masalah yang digunakan ini adalah pendekatan koperasi dan pendekatan kualitas.

Koperasi merupakan salah satu badan usaha yang memiliki keunikan

dibandingkan dengan badan usaha lain. Keunikan tersebut terdapat pada bentuk

usahanya yang tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonominya saja

tetapi juga dengan aspek sosial, yang mana koperasi didirikan dan dibentuk bertujuan

untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama para anggotanya.

Terbentuknya koperasi timbul karena adanya kumpulan orang yang memiliki

persamaan tujuan dan kepentingan yang sama, sehingga dengan berkoperasi biasanya

mereka mengharapkan koperasi dapat membantu mereka dalam meningkatkan

kesejahteraannya (memberi manfaat), membangun serta mengembangkan potensi

ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya melalui pelayanan

sesuai kepentingan dan kebutuhan anggotanya. Hal tersebut dapat dilihat pada

definisi koperasi yang dikeluarkan oleh International Cooperative Alliance (dalam

Hudiyanto 2002:48), menyatakan bahwa:


“Koperasi adalah kumpulan orang-orang atau badan hukum, yang bertujuan

untuk perbaikan sosial ekonomi anggotanya dengan memenuhi kebutuhan

anggotanya dengan jalan berusaha bersama saling membantu antara yang satu

dengan yang lainnya dengan cara membatasi keuntungan dan usaha tersebut

harus didasarkan atas prinsip-prinsip koperasi.”

Berdasarkan pengertian di atas, koperasi terbentuk oleh adanya sekumpulan

orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama, untuk mewujudkan tujuannya

dalam peningkatan keadaan sosial ekonominya melalui pembentukkan suatu usaha

yang dikelola bersama dengan pembagian keuntungan dan pengelolaan usaha yang

didasarkan pada prinsip-prinsip koperasi. Prinsip-prinsip koperasi yang dirumuskan

oleh International Cooperatif Alliance (ICA) pada kongres ICA tahun 1995 di

Manchester, yaitu sebagai berikut:

1. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka.

2. Pengawasan oleh anggota secara demokratis.

3. Partisipasi anggota berupa modal.

4. Bersifat otonom dan mandiri.

5. Pendidikan dan pelatihan.

6. Kerjasama antar koperasi.

7. Pelayanan masyarakat.

Rumusan prinsip-prinsip koperasi Indonesia sama berpedoman pada prinsip-

prinsip yang telah dirumuskan oleh ICA, perbedaan yang terlihat adalah terdapat
beberapa tambahan yang merupakan ciri khas kehidupan bangsa Indonesia. Prinsip-

prinsip koperasi yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia RI No

17 tahun 2012 tentang Perkoperasian pada Bab III pasal 6 sebagai berikut :

Koperasi melaksanakan Prinsip Koperasi yang meliputi:


a. Keanggotaan Koperasi bersifat sukarela dan terbuka;
b. Pengawasan oleh Anggota diselenggarakan secara demokratis;
c. Anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi Koperasi;
d. Koperasi merupakan badan usaha swadaya yang otonom, dan
independen;
e. Koperasi menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi
Anggota, Pengawas, Pengurus, dan karyawannya, serta memberikan
informasi kepada masyarakat tentang jati diri, kegiatan, dan
kemanfaatan Koperasi;
f. Koperasi melayani anggotanya secara prima dan memperkuat
Gerakan Koperasi, dengan bekerja sama melalui jaringan kegiatan
pada tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional; dan
g. Koperasi bekerja untuk pembangunan berkelanjutan bagi
lingkungan dan masyarakatnya melalui kebijakan yang disepakati oleh
Anggota.

Prinsip koperasi tersebut tidak jauh berbeda dengan prinsip-prinsip Koperasi

yang dirumuskan oleh ICA (International Cooperative Alliance) prinsip-prinsip

koperasi tersebut dijadikan sebagai landasan operasional kegiatan usaha koperasi

sebagai badan usaha yang mempunyai ciri-ciri khas yang membedakan koperasi

dengan badan usaha lainnya.

Adanya perbedaan antara koperasi dengan badan usaha lainnya terletak pada

tujuan yang hendak dicapai. Menurut Alfred Hanel (2005: 38) mengemukakan ciri-

ciri koperasi sebagai berikut:

1. Sejumlah individu yang bersatu dalam satu kelompok atas dasar


sekurang-kurangnya satu kepentingan atau kepentingan yang sama
(KELOMPOK KOPERASI).
2. Anggota-anggota individu kelompok koperasi secara individu
mewujudkan tujuannya memperbaiki sistem ekonomi dan sosial mereka
melalui usaha-usaha bersama dan saling membantu (SWADAYA DARI
KELOMPOK KOPERASI).
3. Sebagai instrument atau wahana untuk mewujudkannya adalah suatu
perusahaan yang memiliki dan dibina secara bersama (PERUSAHAAN
KOPERASI).
4. Perusahaan koperasi itu ditugaskan untuk menunjang kepentingan para
anggota koperasi itu,dengan cara menyediakan atau menawarkan barang
dan jasa yang dibutuhkan oleh para anggota dalam perusahaan atau usaha
(usaha tani, satuan usaha) dan atau rumah tangganya masing-masing
(PRINSIP PROMOSI ANGGOTA).

Berdasarkan ciri-ciri yang dikemukakan oleh Alfred Hanel tersebut maka dalam

mendirikan koperasi tujuannya harus jelas dengan kegiatan ekonomi yang sama,

dalam artian koperasi adalah kumpulan orang-orang dimana untuk mencapai tujuan

maka didukung oleh latar belakang ekonomi, pendidikan, maupun lingkup yang

sama, kepentingan atau tujuan yang hendak dicapai haruslah sama sasarannya tidak

mengabaikan kekuatan yang dimiliki adalah koperasi. Usahanya dimodali secara

bersama-sama, dimana akan menunjukkan organisasi koperasi yang bersifat gotong

royong. Untuk memperkuat kedudukan koperasi maka perlu mendapatkan pengakuan

hukum dari pemerintah, koperasi akan mampu bersaing dengan badan usaha lainnya.

Pembentukan unit-unit usaha pada perusahaan koperasi disesuaikan dengan

kebutuhan anggota karena pemanfaatannya untuk anggota sehingga menumbuhkan

sikap solidaritas untuk saling membantu, saling ketergantungan, saling memperkuat

dan saling menguntungkan kelancaran serta nilai tambah anggota dari koperasi antara

lain nilai guna (utility Value) yaitu nilai tambah yang diperoleh anggota karena

adanya hubungan transaksi anggota dengan koperasi dan nilai tukar (exchange value)

yaitu nilai tambah ekonomi yang diperoleh anggota akibat adanya hubungan

kerjasama koperasi dengan pihak lain. Maka besar pelayanan koperasi yang
dibutuhkan oleh anggota, makin besar pula kewajiban konstribusi dan partisipasi

anggota terhadap koperasi.

Koperasi sebagai salah satu organisaasi yang menjalankan usaha untuk

memenuhi kebutuhan anggota, dalam melaksanakan fungsinya yaitu membagi dan

mengembangkan potensi serta kemampuan ekonomi anggota khususnya dan

masyarakat umumnya maka koperasi harus melakukan usaha-usaha secara

profesional dan kinerjanya yang berkualitas. Pengaturan manajemen yang baik juga

diperlukan, karena akan mampu menyusun organisasi yang teratur yang akan mampu

meningkatkan efisien dan efektifitasnya organisasi sehingga dalam menjalankan

kegiatan usahanya koperasi haruslah terlihat jelas antara fungsi dan perannya.

Menurut Rusidi (2002: 26), dapat digambarkan suatu bentuk yang khas tentang

manajemen koperasi Indonesia, kesatuan fungsi dan tiga serangkai bagan koperasi,

yang didalamnya terdapat tiga dimensi organisasi koperasi, yaitu:

1. Dimensi keanggotaan dengan konsep dasar partisipasi anggota dalam

koperasi (member participation).

2. Dimensi kepengurusan dengan konsep dasar kepemimpinan koperasi

(cooperative leadership).

3. Dimensi keusahaan dengan konsep dasar keterampilan manajerial

(manajerial skill).

Dari dimensi-dimensi tersebut saling berinteraksi, yang berpedoman pada

prinsip koperasi, asas kekeluargaan sebagai gerakan ekonomi rakyat. Hal ini

digambarkan seperti pada Gambar berikut ini:


Keterangan :: A. Dimensi Keanggotaan B: Dimensi Kepengurusan

C: Dimensi Keusahaan

Gambar 2.1. Peranan Timbal Balik Dimnsi-dimensi Koperasi

Sumber: Rusidi dan Maman Suratman dalam Bunga Rampai 20 Pokok Pemikiran

tentang Pembangunan Koperasi (2002; 26)


Gambar tersebut, mendeskripsikan tentang suatu proses interaksi dalam

koperasi, tetapi juga tidak terlepas dari pengaruh kebijakan pemerintah mengenai

situasi dan kondisi yang bersangkutan dengan keadaan alam, sosial, politik, ekonomi,

budaya. Kejelasan keterkaitan diantara dimensi-dimensi koperasi yaitu Pengurus,

Anggota dan Karyawan tersebut di atas memiliki fungsi dan peranan yang sangat

penting terhadap tumbuh kembangnya koperasi.

Dalam pergerakan koperasi anggota memiliki suatu peranan yang sangat

penting dalam koperasi, salah satu peranannya adalah partisipasi anggota dimana

parisipasi anggota tersebut mencerminkan mutu dan menumbuhkan serta kesadaran

dari anggota untuk ikut membangun dan mengembangkan koperasinya. Keanggotaan

yang ada pada koperasi bersifat sukarela tanpa ada paksaan dari pihak manapun,

dimana dalam hal pembentukan koperasi didasarkan atas kepentingan yang sama

sehingga akan mampu bekerja sama diantara anggota koperasi dengan organisasi

koperasi, dalam artian anggota memanfaatkan tingkat partisipasinya. Kedudukan

anggota sebagai pemilik dan sebagai pelanggan terikat akan kewajibannya terhadap

perkembangan koperasi, yang merupakan konstribusi anggota terhadap koperasi.

Peranan pengurus adalah sebagai pelaksana harian koperasi dimana hubungan

timbal balik yang diberikan pengurus kepada anggota adalah dengan melaksanakan

tugas dan tanggung jawab dengan baik. Anggota dalam memilih pengurus haruslah

memiliki komitmen dalam menjalankan tugasnya, dimana pengurus akan mewakili

koperasi dalam hubungannya dengan pihak luar atau hubungan antar koperasi.

Pengurus merupakan orang yang dipercaya oleh seluruh anggota, sehingga dalam

proses pemilihannya harus selalu berorientasi kepada peningkatan kehidupan anggota


dan kemajuan koperasi. Pengurus dalam menjalankan tugasnya sebagai lembaga

ekonomi dituntut untuk berorientasi kepada anggota serta harus meningkatkan

pendapatan dan usaha para anggotanya, sehingga pengurus harus dapat bekerja secara

profesional sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Sebagai unsur-unsur utama

dalam keterpaduan manajemen, pengurus hendaknya mengetahui atau menyadari

dengan pasti tentang perannya dalam menggerakkan manajemen koperasi.

Peranan keusahaan dalam hal ini karyawan ialah pengelolaan usaha koperasi dalam

menunaikan tugas pengurus untuk memberikan pelayanan kepada anggota, dengan

kemampuan manajerial yang berhubungan dengan kebersediaan dan ketersediaan

pengelola untuk melaksanakan fungsi manajemen secara profesional dan proporsional,

sehingga apa yang dikerjakan merupakan hasil kerja yang terurut dan terukur.

Dalam perusahaan koperasi kedudukan karyawan sangat penting karena

karyawan yang berfungsi sebagai media yang menjembatani antara kepentingan

pengurus dengan anggota melalui pelayanan. Untuk bisa memberikan pelayanan dan

perkembangan kegiatan usaha koperasi yang baik, maka diperlukannya karyawan

yang memiliki profesionalisme dan kualitas yang tinggi. Dalam upaya mencapai

karyawan yang berkualitas adalah melalui pemberian pelatihan dan bimbingan secara

intensif kepada para karyawan sesuai dengan bidang pekerjaannya sehingga

diharapkan dapat meningkatkan perkembangan kegiatan usaha koperasi itu sendiri.

Profesionalisme kerja dapat tercapai apabila kualitas karyawannya tinggi.

Ketiga dimensi koperasi pada bagan yang telah disebutkan terdapat saling

keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Dimana dalam hal ini filosofi organisasi

koperasi atau Pancasila dan UUD 1945 yang telah dioperasionalisasikan pada prinsip-
prinsip tentang nilai-nilai, norma-norma dan sangsi-sangsi koperasi, sehingga dengan

demikian maka hal-hal tersebut itu akan merupakan kualitas dan tingkah laku orang-

orang atau semua orang yang terlibat dalam koperasi itu dapat dijadikan pedoman

bagi gerak organisasi koperasi dalam mencapai tujuannya.

Koperasi dibentuk berdasarkan kesamaan profesi anggota yang dapat dilihat

pada berbagai jenis koperasi di Indonesia yang disesuaikan dengan kesamaan

kegiatan dan kepentingan ekonomi anggota, artinya dasar untuk menentukan jenis

koperasi adalah kesamaan aktivitas, kepentingan dan kebutuhan ekonomi anggotanya,

seperti antara lain koperasi simpan pinjam, koperasi konsumsi, koperasi produksi,

koperasi pemasaran dan koperasi jasa. Khusus koperasi yang dibentuk oleh golongan

fungsional seperti pegawai negeri, anggota ABRI, karyawan dan sebagainya, bukan

merupakan jenis koperasi tersendiri.

Dalam menjalankan kegiatan koperasi tersebut dalam hal pengelolaannya

dilakukan oleh SDM koperasi (anggota, pengurus, karyawan) yang mana harus

memiliki kualitas yang baik, sama halnya dengan organisasi atau perusahaan lainnya.

Artinya untuk mewujudkan profesionalisme dalam pengelolaan usaha koperasi, maka

pengurus dapat mengangkat karyawan yang ahli dan berkualitas untuk mengelola

kegiatan usaha koperasi yang bersangkutan.

Berdasarkan perkembangan yang ada, koperasi tidak akan dapat bertahan jika

bentuk pengelolaannya masih tradisional dan terkesan apa adanya. Karena apapun

bentuk perusahaan jika dikelola dengan baik sesuai dengan etika bisnis yang ada

maka prospek kesuksesan itu akan terbuka lebar. Kesuksesan dan kegagalan suatu

usaha memang banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya yaitu kualitas
Sumber Daya Manusia (SDM). Berikut ini pengertian kualitas dan SDM koperasi

yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu:

Menurut Vincent Gaspersz (2002:181) berpendapat bahwa: “Kualitas adalah totalitas

karakteristik suatu produk (barang dan/atau jasa) yang menunjang kemampuannya

untuk memenuhi kebutuhan yang dispesifikasikan.”

Menurut Tim Ikopin (2003: 25) mengemukakan definisi sumber daya Manusia koperasi:

a. Manajemen Sumber Daya Manusia adalah “ilmu dan seni atau proses

memperoleh, memajukan (mengembangkan) dan memelihara tenaga kerja

yang kompeten sedemikian rupa sehingga tujuan individu dan organisasi

dapat tercapai secara efektif dan efisien”.

b. Manajemen Sumber Daya Manusia adalah bagian dari aktivitas

manajemen yang berhubungan dengan manusia baik sebagai individu

maupun kelompok dalam memberikan konstribusi (tenaga, pikiran, materi,

waktu) pada efektivitas perusahaan koperasi.

Menurut Henry Fayol (Gunawan Hutahuruk 1988: 42) mengemukakan bahwa:

“Kualitas tenaga kerja adalah kesanggupan dan kemauan untuk menerima

tanggung jawab yang mencerminkan mutu pekerjaan yang telah dilakukannya.”

Berdasarkan pengertian-pengertian para ahli di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa kualiatas SDM koperasi adalah suatu bagian dari aktivitas manajemen yang

berhubungan dengan manusia yang dapat mencerminkan kesanggupan dan


kemampuan kerja termasuk potensi kerja yang dimiliki seseorang yang merupakan

modal dasar untuk melakukan suatu pekerjaan dengan baik sehingga dapat

memuaskan pelanggan atau konformans terhadap persyaratan atau kebutuhan pada

efektivitas perusahaan koperasi. Tugas SDM koperasi dalam manajemen koperasi

adalah menghimpun, mengkoordinasi dan mengembangkan potensi yang ada pada

organisasi, sehingga tersebut menjadi kekuatan untuk meningkatkan taraf organisasi

sendiri, melalui proses “nilai tambah” dengan melakukan sumberdaya yang ada untuk

dikelola secara efisien dan inovatif.

Menurut Maman Suratman (dalam pemikirannya tentang revitalisasi

manajemen sumber daya manusia koperasi sebagai upaya peningkatan dinamika

kinerja usaha dan promosi anggota (2002: 297) bahwa dalam melakukan kualifikasi

sumber daya manusia koperasi seperti terlihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2.1. Kualifikasi Sumber Daya Manusia Koperasi

Uraian Sumber Daya Manusia Koperasi


Anggota Pengurus Pengawas Manajer Karyawan
 Mampu melakukan
tindakan hukum
 Adanya kepentingan - - - -
ekonomi
 Mampu berbisnis - - -
 Memiliki tanggung
jawab
 Berkelakuan baik
 Taktis - - -
 Jujur
 Dapat dipercaya
 Menguasai - - -
perkoperasian
 Menguasai bidang -
pekerjaan
 Menguasai - -
pembukuan dan
pengawasan
 Mampu memimpin - - -
 Memiliki pendidikan -
 Memiliki pengalaman -
Sumber: Maman Suratman (dalam Bunga Rampai 20 Pokok Pemikiran tentang

Pembangunan Koperasi 2002: 297)

1. Mampu melakukan tindakan hukum


Pengurus dan karyawan serta segenap elemen koperasi dalam melakukan

segala tindakan harus berdasarkan hukum serta tidak boleh melakukan

tindakan yang melanggar hukum yang nantinya merugikan koperasi secara

menyeluruh,yaitu:
1. Berkedudukan dalam wilayah NKRI
2. Sesuai dengan pasal 6 ayat (1) dan (2) UU no.25/1992
2. Adanya Kepentingan ekonomi
Hal ini tentunya hanya ditekankan bagi anggota mengingat bahwa dasar

pembentukan koperasi adalah berdasarkan kepentingan ekonomi anggota yang

sama, yaitu :
1. Terpenuhinya kebutuhan anggota
2. Adanya keuntungan setalah menjadi anggota
3. Mampu berbisnis
Sebagai pengelola, pengurus maupun manajer harus mampu untuk berbisnis

baik itu pelayanan kepada anggota atau dengan pasar sebagai rekan bisnis

karena koperasi merupakan suatu sistem sosial ekonomi, yaitu:


1. Aktif dan ikut serta dalam berbagai hal baik dalam hal rapat

anggota,pemupukan modal,pemanfaatan pelayanan,pengawasan

maupun penanggungan resiko.


4. Memiliki Tanggung Jawab
Segenap elemen koperasi dalam baik itu anggota pengurus manajer dan

karyawan hendaknya memiliki rasa tanggung jawab, yaitu :


1. Mengelola koperasi dan usahanya.
2. Mengajukan rancangan rencana kerja serta anggaran

pendapatan dan belanja koperasi


3. Menyelenggarakan rapat anggota setiap tahunnya

5. Berkelakuan baik
Segenap elemen di koperasi hendaknya memiliki kelakuan baik, dalam hal ini

pengurus dan karyawan serta manajer dalam melakukan pelayanan kepada

anggota maupun timbal balik yang diberikan anggota.


6. Taktis
Pengurus dan manajer hendaknya bersikap taktis dalam pengambilan

keputusan yang nantinya menguntungkan bagi koperasi


7. Jujur
Kejujuran hendaknya dimiliki oleh segenap elemen dalam koperasi baik itu

pengurus, pengawas, manajer, maupun anggota.


8. Dapat dipercaya
Segenap elemen koperasi hendaknya dapat dipercaya antara satu dengan yang

lainnya karena kebersamaanlah yang menjadi fondasi untuk membangun

koperasi
9. Menguasai perkoperasian
Dalam aspek penguasaan perkoperasian lebih ditekankan kepada pengurus

dan manajer, karena dalam pelayanan kepada anggota harus sesuai dengan jati

diri koperasi.
10. Menguasai bidang pekerjaan
Semua elemen koperasi selain anggota hendaknya menguasai bidang

pekerjaan, agar tidak terjadi tumpang tindih dalam uraian pekerjaan, yang

nantinya pelayanan dapat berjalan dengan optimal.

11. Menguasai pembukuan dan pengawasan


Segenap elemen koperasi selain anggota dan karyawan selain bidang

keuangan dituntut harus menguasai pembukuan serta pengawasan yang


tentunya dapat menjamin informasi keuangan transaksi anggota dalam laporan

keuangan yang sesuai dengan penyajian akuntansi koperasi, serta dapat

menciptakan efisiensi dalam hal penggunaan modal.


12. Mampu memimpin
Pengurus dan manajer dalam mengelola koperasi harus memiliki jiwa

kepemimpinan agar mampu menerapkan fungsi manajemen dalam

perkoperasian sehingga tujuan koperasi dapat tercipta dengan baik.


13. Memiliki pendidikan
Segenap elemen koperasi selain anggota harus ditunjang dengan pendidikan

karena hal ini tentunya menambah wawasan sumber daya manusia guna

mendukung tujuan koperasi


14. Memiliki pengalaman
Segenap elemen koperasi selain anggota harus memiliki pengalaman karena

pengalaman yang didapat dapat diterapkan ke koperasi.

Berdasarkan tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa, pengadaan sumber daya

manusia koperasi apabila didasarkan pada kualifikasi seperti tertera pada tabel

tersebut maka akan diperolehnya sumber daya manusia koperasi yang berkualitas

sehingga akan mempengaruhi terhadap kualitas organisasi perusahaan koperasi yang

baik dan unggul.

Menurut Vincent Gaspersz (2002: 95) mengemukakan agar pelaksanaan

kualitas dapat berjalan dengan baik, maka sistem kualitas modern dapat dicirikan oleh

lima karakteristik, yaitu:

1. Berorientasi kepada pelanggan

Produk-produk (barang dan/atau jasa) didesain sesuai keinginan pelanggan

melalui suatu riset pasar,sehingga produk/jasa yang dihasilkan memenuhi


spesifikasi desain (memiliki derajat konformans yang tinggi), serta pada

akhirnya memberikan pelayanan purna jual kepada pelanggan.

2. Adanya partisipasi aktif yang dipimpin oleh manajemen puncak dalam

proses peningkatan secara terus menerus

Setiap orang dalam perusahaan harus menjadi aktif, dimana keterlibatan itu

melalui adanya usaha atau dukungan dari manajamen puncak terhadap kualitas.

3. Adanya pemahaman dari setiap orang terhadap tanggung jawab

spesifik untuk kualitas

Setiap orang memiliki tanggug jawab yang berbeda-beda, sehingga manajemen

puncak harus menunjukkan komitmen melalui kata dan tindakan bahwa kualitas

adalah teramat penting untuk kelangsungan hidup perusahaan.

4. Berorientasi kepada tindakan pencegahan kerusakan

Kualitas melalui inspeksi saja adalah tidak cukup dan hal itu terlalu mahal.

Meskipun tetap menjadi persyaratan untuk melakukan beberapa inspeksi

singkat atau audit terhadap produk akhir, tetapi usaha kualitas dari perusahaan

seharusnya lebih difokuskan pada tindakan pencegahan sebelum terjadinya

kerusakan, sehingga usaha peningkatan kualitas akan mampu mengurangi

ongkos produksi.

5. Adanya suatu filosofi yang menganggap bahwa kualitas merupakan “jalan

hidup”

Semua karyawan diberikan pelatihan tentang konsep-konsep kualitas beserta

metodenya. Setiap orang dalam perusahaan secara sukarela berpartisipasi dalam

usaha-usaha peningkatan kualitas.


Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kualitas

di dalam suatu organisasi atau perusahaan dapat berjalan dengan baik apabila

memiliki SDM yang berkualitas tinggi dan berkompeten untuk menunjang

keberhasilan pelaksanaan pekerjaannya yang dicirikan oleh kelima karakteristik

tersebut. Dengan demikian, organisasi dapat mengelola kualitas SDM-nya agar dapat

menunjang keberhasilan pencapaian tujuan organisasi dan individu karyawannya.

Aspek-aspek kualitas SDM merupakan salah satu konsep manajemen SDM

yang mengaitkan aktivitas SDM didalam organisasi dengan kualitas dasar yang akan

diunggulkan oleh organisasi atau perusahaan, sehingga dengan demikian kualitas

SDM dimulai dengan pencarian SDM yang berkompeten, yang mana haruslah dicari

mereka yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku yang khusus

diinginkan oleh perusahaan atau organisasi. Oleh sebab itu berbicara mengenai

kualitas SDM koperasi (Anggota, Pengurus, Karyawan), maka tidaklah dapat

dilepaskan dari persyaratan pekerjaan yang ada, artinya perusahaan atau koperasi

haruslah mengetahui terlebih dahulu bagaimana pekerjaan itu harus dilaksanakan dan

membutuhkan kemampuan dan kecakapan apa saja dari para pelaksanaan

pekerjaannya.

Menurut Pandji Anoraga dan H. Djoko Sudantoko (2002: 74) mengemukakan

bahwa secara umum mereka yang dibenarkan menjadi anggota koperasi adalah setiap

warga negara Indonesia yang memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:

1. Dewasa serta mampu melaksanakan tindakan hukum, Anak-anak

dibawah umur tidak dapat mendirikan koperasi, sekalipun untuk kalangan

mereka sendiri. Hal ini dikarenakan hanya orang dewasalah yang dapat
mengikatkan dalam perjanjian jual beli, berurusan didalam sidang

pengadilan, serta wewenang lainnya.

2. Menyetujui asas dan prinsip koperasi, Seseorang yang menjadi

anggota koperasi, sebelumnya perlu mempelajari maksud dan tujuan

koperasi yang bersangkutan dan juga asas dan prinsip koperasi.

3. Sanggup dan bersedia memenuhi hak dan kewajiban sebagai anggota,

Anggota koperasi harus mengetahui dan melaksanakan kewajiban yang

dibebankan kepadanya, barulah ia menuntut haknya.

Berdasarkan pendapat tersebut, penentuan persyaratan untuk menjadi anggota

koperasi merupakan kualifikasi orang yang diterima menjadi anggota untuk lebih

diperhatikan karena berkaitan dengan apa motivasinya masuk menjadi anggota

koperasi serta kemampuan apa yang sekiranya dapat disumbangkan kepada koperasi

nantinya. Tolok ukur yang akan digunakan pada kualifikasi anggota menurut Pandji

Anoraga dan H. Djoko Sudantoko, karena anggota yang memenuhi persyaratan yang

demikian itulah yang lebih dulu harus dipengaruhi dan diarahkan terhadap kualitas

dalam usaha peningkatan partisipasi anggota koperasi.

Berbagai indikasi yang muncul sebagai ciri-ciri anggota yang berpartisipasi

baik, menurut Rusidi (2002: 25) mengemukakan bahwa konsep dasar partisipasi

anggota dalam koperasi ialah:

1) Mengembangkan ide

2) Menyumbangkan modal

3) Ikut mengawasi
4) Memanfaatkan pelayanan

Menurut Alfred Hanel (2005:60) sesuai dengan peran ganda koperasi,

membedakan dimensi-dimensi partisipasi anggota sebagai berikut:

1) Dalam kedudukannya sebagai pemilik, pada anggota:

- Memberikan konstribusinya terhadap pembentukan

pertumbuhan perusahaan koperasi dalam bentuk konstribusi

keuangan.

- Pemberian konstribusi dalam pengawasan terhadap tata

kehidupan koperasinya.

2) Dalam keadaan sebagai pelanggan atau pemakai, para anggota

memanfaatkan berbagai potensi yang disediakan oleh perusahaan

koperasi dalam menunjang kepentingan-kepentingannya. Dimana anggota

sebagai pemilik mempunyai kewajiban sebagai berikut:

- Ikut serta dalam menyumbangkan ide.

- Memanfaatkan fasilitas pelayanan koperasi.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut maka dapat diambil kesimpulan,

ternyata keterlibatan anggota dalam berpartisipasi akan mencerminkan kualitas SDM

koperasi tersebut, karena semakin merata keterlibatan anggota dalam berpartisipasi

maka semakin tinggi kualitas SDM koperasi tersebut. Tolok ukur yang akan

digunakan pada kualitas anggota dalam hal partisipasi anggota menurut teori Alfred
Hanel, karena dengan dituntutnya peningkatan partisipasi anggota ialah agar setiap

anggota koperasi besedia memikul kewajiban dan melaksanakan hak secara

bertanggung jawab sehingga kualitas anggota koperasi dapat terlihat.

Pengurus koperasi dipilih dari kalangan anggota oleh para anggota dalam Rapat

Anggota. Menurut Hudiyanto (2002: 154) syarat-syarat bagi anggota koperasi untuk

dapat dipilih sebagai pengurus koperasi, yaitu:

a. Business Judgment, Calon harus menunjukkan bukti bahwa dirinya

mempunyai insting bisnis.

b. Kemampuan leadership, Calon harus telah teruji mempunyai

kemampuan untuk memimpin baik dalam koperasi maupun dalam

masyarakat.

c. Karakter pribadi, Diuji apakah calon mempunyai reputasi integritas

pribadi.

Berdasarkan syarat-syarat di atas, maka pengurus dituntut harus mampu memahami

kepribadiannya, Anggaran dasar dan Rumah tangga secara baik menurut tata perundang-

undangan yang berlaku, karena dalam hal ini pengurus koperasi memiliki peran yang

cukup signifikan sebagai salah satu unsur atau alat kelengkapan utama suatu koperasi.

Tolok ukur yang akan digunakan pada kualifikasi pengurus menurut Hudiyanto, karena

baik atau tidaknya kualifikasi orang-orang yang ditunjuk sebagai pengurus akan

menentukan bagaimana arah koperasi akan dibawa, sehingga peranannya yang aktif dalam

menggerakkan usaha koperasi dapat diharapkan oleh semua pihak.


Kartasapoetra (1992:70) mengemukakan bahwa peranan pengurus koperasi

sebagai berikut:

1) Tugas pengurus koperasi, Didalam organisasi koperasi, pengurus

koperasi mempunyai tugas yaitu, mewakili dan bertindak atas nama

koperasi, menyusun rencana kerja, melakukan pengamatan secara teratur

atas jalannya koperasi, melakukan penilaian atas jalannya usaha koperasi.

2) Tanggung jawab pengurus koperasi, Tanggung jawab pengurus

koperasi terdiri dari: menjaga hubungan baik dengan masyarakat dan

anggota, memberikan pelayanan yang baik kepada anggota,

menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan terhadap anggota.

Berdasarkan pendapat tersebut, apabila pengurus telah mengetahui dan

menyadari akan tugas dan tanggung jawab maka keterpaduan manajemen dapat

berlangsung dengan lancar dan baik, sehingga kemungkinan terdapatnya kesulitan

yang menghambatnya tidak terlalu besar. Tolok ukur yang akan digunakan pada

kualitas pengurus dalam tugas dan tanggung jawabnya menurut Kartasapoetra, karena

dengan demikian akan tercerminkan kualitas pengurus dalam meminpin dan

mengembangkan kegiatan usaha sesuai dengan yang diharapkan oleh semua pihak

dapat tercapai.

Pada dasarnya, koperasi memerlukan tenaga karyawan yang berkualitas untuk

menjalankan usahanya. Agar dapat melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya calon

karyawan koperasi haruslah memenuhi kualifikasi tertentu dan disetujui oleh pengurus.
Menurut Basu Swasta (1993: 264) mengemukakan bahwa dalam penentuan kualitas

karyawan perlu mempertimbangkan syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

Keadaan fisik karyawan, Yaitu Suatu ketentuan yang harus dipenuhi dilihat

dari keadaan fisik yang dapat mencerminkan produktifitasnya, meliputi usia,

daya tahan tubuh dan kesehatan fisiknya.

Pendidikan minimal yang dimiliki, Yaitu suatu ketentuan yang harus dipenuhi

oleh karyawan dilihat dari tingkat pendidikan minimumnya.

Pengalaman kerja yang diperoleh, Merupakan titik minimal dari tingkat

pengalaman kerja karyawan.

Mental dan moral, Artinya dalam lingkup dan rangkaian dukungan terhadap

pengalaman kerja, tingkat keterampilan dan pendidikan yang merupakan suatu

bagian yang mutlak dipenuhi, meliputi kepercayaan diri, tanggung jawab

dalam bekerja dan kejujuran.

Keterampilan lain yang dimiliki, Meliputi ketelitian dan kerapihan hasil

pekerjaan, inisiatif untuk maju dalam bekerja dan kemampuan dalam

menggunakan alat kerja.

Berdasarkan pendapat tersebut, penentuan kualitas SDM merupakan suatu

tuntutan untuk keberhasilan terhadap sebuah pekerjaan dalam suatu organisasi atau

perusahaan, yang mana dengan adanya kualitas SDM yang memiliki fisik,

pendidikan, pengalaman kerja, mental dan moral serta keterampilan yang tinggi, akan

sangat mendukung dalam pencapaian visi dan misi dari organisasi atau perusahaan.

Tolok ukur yang akan digunakan pada kualitas karyawan menurut Basu Swasta,
karena dengan ditentukannya persyaratan ini dapat mencerminkan kualitas kerja yang

menjadi kriteria untuk mengukur hasil atau mutu pekerjaan yang telah dilakukan

seberapa baik dalam penyelesaiannya.

Kualitas karyawan koperasi sering kali diartikan sebagai segala sesuatu yang

berhubungan dalam pelayanan umum usaha koperasi salah satunya yaitu memuaskan

pelanggan atau anggota. Menurut Collier (dalam Vincent Gaspersz 2002:3)

menyatakan bahwa:

“Manajemen kualitas pelayanan adalah suatu studi tentang bagaimana bagian

pemasaran dan operasional secara bersama melalui teknologi dan orang-orang

mampu merencanakan, menciptakan dan mengarahkan suatu paket yang

bermanfaat bagi pelanggan dan kaitannya dengan pelayanan mereka.”

Menurut Alfred Hanel (2005:50) menyatakan bahwa: “Koperasi pemberi atau

peningkatan pelayanan yaitu koperasi yang bertugas memberikan dan meningkatkan

pelayan kepada usaha ekonomi para anggotanya.” Berdasarkan pendapat para ahli di

atas, maka dapat disimpulkan bahwa pelayanan adalah suatu kegiatan yang dilakukan

oleh seseorang atau sekelompok orang untuk merencanakan dan menciptakan suatu

metode tertentu dalam rangka usaha untuk memberikan dan memenuhi kepentingan

anggota sesuai dengan haknya. Tolok ukur yang akan digunakan pada kualitas

karyawan dalam hal pelayanan menurut Alfred Hanel, karena koperasi yang bertugas

dalam meningkatkan kemampuan ekonomi dari perusahaan para angotanya, hal ini

berkaitan dalam hal pelayanan yang dilakukan oleh karyawan koperasi yaitu
bagaimana koperasi itu sendiri dalam memberikan pelayanan sebaik mungkin dengan

sistem, prosedur dan metode pelayanan yang ditentukan, dalam hal ini menyangkut

masalah sikap perilaku pelayanan, kelengkapan barang, kualitas barang yang dijual,

kesesuaian waktu pelayanan.

Koperasi hidup di dalam lingkungan yang secara terus menerus mempengaruhi

keberadaan dan kelangsungan hidupnya. Untuk hal ini, koperasi haruslah senantiasa

melakukan upaya-upaya yang dapat memperkokoh keberadaannya di dalam

lingkungannya. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan selalu

memberikan nilai tambah bagi lingkungannya melalui penyampaian berbagai output

yang dihasilkannya. Upaya ini hanya dimungkinkan jika koperasi memiliki SDM

yang berkualitas.

2.2.Metode Penelitian

2.2.1. Metode yang Digunakan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

metode penelitian survey yang merupakan suatu penelitian deskriftif yang bersifat

eksfloratif yaitu pengamatan langsung dari obyek yang diteliti. Hal ini dimaksudkan

untuk menuturkan dan menafsirkan data yang berkenaan dengan fakta, keadaan,

variabel dan fenomena yang terjadi pada saat penelitian berlangsung dan menyajikan

apa adanya. Adapun yang menjadi obyek penelitian adalah pengurus karyawan dan

anggota KPWC Cikeruh.

2.2.2. Data yang Diperlukan

Untuk memperoleh data yang diperlukan guna penelitian ini, maka akan dibagi

dua bagian, yaitu jenis dan macam data:


Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:

1. Data kualitatif, yaitu data yang berbentuk bilangan yang dikategorikan

menurut kualitas yang akan diteliti.

2. Data kuantitatif, yaitu data yang berbentuk bilangan yang harganya

dapat berubah-ubah. Data ini dapat berupa keterangan mengenai sesuatu hal

yang berbentuk angka maupun tabel angka.

Macam data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:

1. Data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung melalui

wawancara dengan menggunakan kuesioner pada obyek penelitian yang

berhubungan dengan tinjauan mengena kualitas SDM koperasi, seperti:

pengurus dan karyawan.

2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung melalui

data-data tertulis, seperti literatur-literatur maupun catatan-catatan, dokumen-

dokumen dan laporan-laporan yang berhubungan dan berkaitan dengan masalah

yang sedang diteliti.

2.2.3. Sumber Data

Untuk memperjelas jenis dan macam data yang sesuai dengan data yang

diperlukan, maka yang menjadi sumber data adalah:

1. Informan, yaitu orang yang mampu memberikan keterangan mengenai

diri orang lain atau keadaan tertentu, yang berkaitan dengan masalah yang

diteliti, dalam hal ini yaitu pengurus dan karyawan.


2. Responden, yaitu orang yang akan memberikan keterangan atau

informasi tentang dirinya sendiri atau orang yang berhubungan dengan masalah

yang diteliti, dalam hal ini yaitu pengurus dan karyawan.

3. Studi pustaka, yaitu pengumpulan data yang bersifat teoritis dan

berhubungan dengan masalah penelitian yang diperoleh dari berbagai literatur

baik itu berupa berupa catatan-catatan, laporan-laporan dan dokumen-dokumen.

Adapun penentuan sumber data, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 2.2. Sumber Penarikan Data

Sumber Data Tentang Data


Macam Jumlah Jumlah Cara Kualitas SDM
Anggota Pengurus Karyawan
Sumber Populasi Sampel Penarikan
Pengurus 3 3 Sensus I R I
Karyawan 4 4 Sensus I I R
Keterangan: R = Responden

I = Informan

2.2.4. Cara Menentukan Sampel

Sampling adalah proses pemilihan beberapa sampel sebagai contoh dari seluruh

populasi yang diteliti. Karena lingkup penelitian yakni pengurus dan karyawan maka

cara penentan sampel dilakukan dengan cara sensus.

2.2.5. Teknik Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data yang dilakukan untuk memperoleh data yang

diperlukan baik data sekunder maupun data primer yaitu dengan cara:

1. Wawancara, yaitu cara pengumpulan data atau informasi dengan cara

mengajukan pertanyaan secara lisan kepada responden maupun informan.


2. Observasi, yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara

mengamati secara langsung terhadap obyek yang diteliti.

3. Kuesioner, yaitu alat pengumpulan (penampung) data berisi daftar

pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada responden dan informan.

4. Studi Pustaka, yaitu cara pengumpulan data dengan membaca buku-

buku yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

2.2.6. Operasionalisasi Variabel

Untuk mengetahui atau menjelaskan data yang diperlukan, maka variabel yang

terdapat dalam pendekatan masalah diuraikan dalam operasionalisasi variabel.

Adapun penjabaran dari variabel dan indikator dapat dilihat pada tabel sebagai

berikut:

Tabel 2.3. Operasionalisasi Variabel Kualitas Sumber Daya Manusia Koperasi

Variabel Indikator Macam Data Jenis Data


Abstrak Konkrit Primer Sekunder Kl Kn
Kualitas Tugas - Mewakili dan bertindak atas nama
SDM Pengurus koperasi.
Koperasi:
- Menyusun rencana kerja berdasarkan
Pengurus
keputusan RAT.

- Melakukan pengawasan secara teratur


atas jalannya koperasi.

- Melakukan penilaian atas jalannya usaha


koperasi.

Tanggung

Jawab - Menjaga hubungan baik dengan


Pengurus masyarakat dan anggota.

- Memberikan pelayanan yang baik


kepada anggota.

- Menyelenggarakan pendidikan dan


pelatihan

Kualitas Pendidikan. - Formal.


SDM
- Informal
koperasi:

Karyawan

Mental dan

moral. - Percaya diri dalam bekerja.

- Tanggung jawab terhadap penyelesaian


tugas pekerjaan.

- Kejujuran dalam aktivitas kerja.

Keterampilan

lain yang

dimiliki. - Ketelitian dan kerapihan hasil pekerjaan.

- Inisiatif untuk maju dalam bekerja yang


tinggi.
Pelayanan
- Kemampuan menggunakan alat kerja.
khusus

anggota

- Sikap perilaku pelayan.

- Kesesuaian waktu pelayanan.


2.2.7. Rancangan Analisis Data

Data yang telah didapat dari berbagai sumber dilapangan selanjutnya akan

diolah dengan menggunakan analisis deskriptif yang bersifat eksploratif, yaitu dengan

cara memaparkan dan menjelaskan mengenai keadaan kualitas SDM koperasi KPWC

Cikeruh, berdasarakan data dari hasil wawancara, observasi, kuisioner/angket dan

studi pustaka. Untuk pengumpulan data digunakan angket dengan lima kriteria skala

likert. Untuk mendapatkan kesesuaian data yang baik maka pertanyaan yang

diberikan terdiri dari dua pertanyaan yakni pertanyaan positif dan negatif. Adapun

kriteria skala likert yang diajukan dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel

berikut ini:

Tabel 2.4. Skala Likert Untuk Pernyataan Positif


No Kriteria Likert Skor
1 Sangat Setuju 5
2 Setuju 4
3 Cukup Setuju 3
4 Kurang Setuju 2
5 Tidak Setuju 1

Tabel 2.5. Skala Likert Untuk Pernyataan Negatif

No Kriteria Likert Skor


1 Sangat Setuju 1
2 Setuju 2
3 Cukup Setuju 3
4 Kurang Setuju 4
5 Tidak Setuju 5

Setelah itu data yang telah terkumpul tersebut disajikan dengan cara menggabungkan

dua pertanyaan tersebut dalam satu tabel adapun tabel tersebut seperti yang disajikan berikut

ini:

Tabel 2.6. Tabel Penilaian Indikator Penelitian

Kriteria Skor Frekuensi Skor Kenyataan Total

Jawaban Skor
Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif
SS 5 1
S 4 2
CS 3 3
KS 2 4
TS 1 5
Kemudian hasil penelitian kesemua indikator tersebut direkapitulasi ke dalam tabel

rekapitulasi. Adapun tabel rekapitulasi tersebut seperti yang disajikan berikut ini:

Tabel 2.7. Rekapitulasi Indikator

Skor
No Indikator Kriteria
Harapan Kenyataan

Untuk mengetahui kriteria penilaian skor yang diperoleh setiap data indikator dari

variabel penelitian dapat dilihat pada skala interval berikut ini dengan rumus:

2 x ( Sktxn )−2 x (Skrxn)


I=
JK

Keterangan: I = Interval

Skt = Skor tertinggi

Skr = Skor terendah

n = Jumlah responden

JK = Jumlah kriteria

Pada tahap selanjutnya dibuat batasan pada variabel sejauhmana tingkat

kepuasan kerja pengurus dan karyawan berdasarkan rumus interval diatas.

2 x (5 x 35 )−2 x (1 x 35)
I=
5

I =56

Berdasarkan hasil yang telah didapat maka kriteria penilaian adalah sebagai

berikut:
70 - 126 = Tidak Baik
127 - 182 = Kurang Baik
183 - 238 = Cukup Baik
239 - 294 = Baik
295 - 350 = Sangat Baik
2.2.8. Jadwal Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam beberapa fase antara lain:

1. Fase Persiapan : Mei 2013


2. Fase Pengumpuilan Data :Juni – Juli 2013
3. Fase Pengolahan Data :Juli 2013
4. Fase Penuilisan :Agustus 2013