Anda di halaman 1dari 7

Studi Ketidakaktifan Kader Posyandu

di Wilayah Kerja Puskesmas Paramasan


Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan
MUHAMMAD ALI AKBAR
Universitas Gadjah Mada, 2014 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Upaya pemerintah dan masyarakat dalam mencapai keberhasilan


pembangunan nasional sangat ditentukan oleh sumber daya manusia (SDM) yang
ada di dalamnya. SDM yang ada diharapkan memiliki kualitas prima, tangguh,
serta menguasai pengetahuan dan teknologi (Adisasmito, 2007).
Sumberdaya manusia yang sehat dan berkualitas, merupakan modal utama
pembangunan kesehatan, sehingga perlu diupayakan, diperjuangkan dan
ditingkatkan oleh seluruh komponen bangsa, agar masyarakat dapat menikmati
hidup sehat guna mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Permasalahan
kesehatan yang ada merupakan tanggung jawab bersama baik itu individu,
masyarakat, pemerintah maupun swasta karena program yang dijalankan
pemerintah tidak akan berjalan optimal tanpa adanya peran serta dan partisipasi
dari semua pihak (Kemenkes RI, 2013).
Peran serta masyarakat sangat besar dalam keberhasilan pembangunan,
termasuk di sektor kesehatan. Peran serta masyarakat didefinisikan sebagai
partisipasi seluruh anggota masyarakat, individu, keluarga, maupun kelompok
guna bersama-sama bertanggung jawab, mengembangkan kemandirian,
menggerakkan serta melaksanakan upaya kesehatan (Widagdo, 2006). Peran serta
masyarakat semakin terasa keberadaannya dengan hadirnya posyandu sebagai
salah satu bentuk upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) yang
merupakan wujud nyata peran serta mereka dalam pembangunan kesehatan
(Depkes RI, 2001).
Posyandu merupakan salah satu wadah komunikasi, alih teknologi dalam
pelayanan kesehatan masyarakat dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk
masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas

1
Studi Ketidakaktifan Kader Posyandu
di Wilayah Kerja Puskesmas Paramasan
Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan 2
MUHAMMAD ALI AKBAR
Universitas Gadjah Mada, 2014 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

kesehatan yang mempunya nilai strategis untuk pengembangan sumber daya


manusia sejak dini (Alamsyah, 2013). Hal senada diungkapkan Subagyo &
Mukhadiono (2010), bahwa tanpa dukungan dan partisipasi masyarakat, sulit
sekali untuk mewujudkan keberhasilan suatu program pembangunan karena
masyarakatlah pelaku (subyek) dan sasarannya (obyek), sehingga dengan semakin
tingginya tingkat partisipasi masyarakat maka semakin tinggi pula efektivitas
program posyandu.
Menurut Kemenkes RI (2012a), terselenggaranya posyandu melibatkan
berbagai pihak, diantaranya kader, petugas kesehatan serta stakeholder (camat,
lurah/kepala desa, Tim Penggerak PKK, tokoh masyarakat, organisasi
kemasyarakatan maupun swasta). Sesuai penelitian Widagdo (2006), bahwa sikap
yang baik serta hadirnya kepala desa di posyandu sangat berpengaruh terhadap
sikap dan kehadiran kader ke posyandu. Handajani et al., (2009), mendapati
bahwa kehadiran petugas kesehatan menjadi salah satu daya tarik bagi ibu-ibu
balita untuk berkunjung ke posyandu. Hal senada diungkapkan Maisya & Putro
(2011), bahwa peran klian adat (kepala adat) pengaruhnya sangat besar terhadap
kunjungan masyarakat dan keaktifan kader ke posyandu.
Manfaat yang bisa dirasakan masyarakat dengan adanya posyandu berupa
kemudahan mendapatkan informasi, pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta
terpantaunya pertumbuhan balita guna mencegah kejadian gizi kurang dan buruk
sejak dini (Sulistyorini et al., 2010). Salah satu faktor penyebab terjadinya kasus
kurang gizi di masyarakat menurut Soekirman (2000), karena tidak berfungsinya
lembaga sosial di masyarakat seperti posyandu. Penurunan aktivitas posyandu
menyebabkan pemantauan gizi pada anak dan ibu hamil terabaikan. Menurunnya
aktivitas posyandu erat kaitannya dengan fasilitas yang ada. Sesuai pernyataan
Handajani et al., (2009), bahwa tidak bergairahnya pemanfaatan posyandu oleh
masyarakat dikarenakan kurangnya fasilitas termasuk tempat dan sarana yang
tidak memadai.
Studi Ketidakaktifan Kader Posyandu
di Wilayah Kerja Puskesmas Paramasan
Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan 3
MUHAMMAD ALI AKBAR
Universitas Gadjah Mada, 2014 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

Semakin menurunnya aktivitas posyandu maka semakin menurun pula tingkat


partisipasi masyarakat (D/S) ke posyandu maka akan semakin banyak pula
pertumbuhan berat badan balita yang tidak terpantau setiap bulannya, sehingga
jika dibiarkan secara terus menerus dapat berakibat kepada peningkatan kejadian
gizi kurang dan gizi buruk pada balita.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar Tahun 2013 menunjukkan
prevalensi gizi buruk pada balita sebesar 1,76%, gizi kurang 15,73% dan sangat
kurus 2,25% yang berada dibawah target RPJMN yakni sebesar 5% untuk gizi
buruk dan sangat kurus serta 20% untuk gizi kurang, sedangkan di wilayah
Puskesmas Paramasan menunjukkan angka 0,94% kejadian gizi buruk pada balita,
16,98% gizi kurang serta 2,8% balita yang sangat kurus.
Puskesmas Paramasan terdiri atas 4 desa sebagai lingkup wilayah kerjanya,
yaitu Desa Paramasan Bawah, Desa Angkipih, Desa Remo dan Desa Paramasan
Atas. Jumlah posyandu yang ada di wilayah kerja Puskesmas Paramasan pada
tahun 2013 sebanyak 5 posyandu dengan jumlah kader keseluruhan 11 orang
dimana tingkat kemandirian seluruh posyandunya berada pada tingkat pratama.
Tingkat partisipasi masyarakat (D/S) ke posyandu secara nasional tahun 2013
mencapai 80,01%. Di Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan angka 61,1%
sedangkan di Kabupaten Banjar mencapai 61,3%. Puskesmas Paramasan
merupakan salah satu puskesmas di Kabupaten Banjar dengan tingkat partisipasi
masyarakat terendah yang hanya mencapai 19,3%, yang masih sangat jauh dari
harapan, sedangkan target (D/S) untuk tahun 2013 sebesar 80%.
Keaktifan posyandu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jumlah
kader yang kurang, kader tidak aktif serta kurangnya penghargaan untuk kader
(Kemenkes RI, 2012b). Hal senada diungkapkan Simanjuntak (2012), bahwa
meskipun pekerjaan kader sebagai relawan, namun mereka masih mengharapkan
insentif dan penghargaan yang layak, penghargaan atau reward ini sangat penting
untuk menunjang peningkatan kinerja kader. Maisya & Putro (2011), juga
Studi Ketidakaktifan Kader Posyandu
di Wilayah Kerja Puskesmas Paramasan
Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan 4
MUHAMMAD ALI AKBAR
Universitas Gadjah Mada, 2014 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

menyatakan bahwa selain karena dorongan tanggung jawab sosial, kader juga
mempunyai alasan lain yaitu supaya mendapatkan penghargaan.
Kader merupakan motor penggerak posyandu, hidup matinya posyandu
sangat tergantung dari aktif tidaknya kader (Depkes RI, 2000). Tidak aktifnya
kader menyebabkan ketidaklancaran pelaksanaan posyandu serta tidak
terdeteksinya status gizi bayi dan balita sejak dini (Andira, 2012). Simanjuntak
(2012), menyatakan kegiatan posyandu sangat tergantung pada kader, mereka
dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan dasar, karena merupakan ujung tombak
sekaligus kepanjangan tangan puskesmas. Hal senada diungkapkan Mikrajab &
Rachmawaty (2012), peran kader di posyandu memiliki esensi yang tidak dapat
dilepaskan dengan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan kesehatan ibu dan
anak. Peran kader disandingkan dengan peran bidan dan tenaga kesehatan lainnya.
Data ketidakaktifan kader posyandu di Kabupaten Banjar, pada Tahun 2013
tingkat ketidakaktifan kader sebesar 16,5%. Di Puskesmas Paramasan, sejak tahun
2011 hingga 2013 merupakan wilayah dengan tingkat ketidakaktifan kader
tertinggi yaitu 62,5% pada Tahun 2011, kemudian 61,5% Tahun 2012 dan 54,5%
untuk Tahun 2013 (Dinkes Banjar, 2013).
Menurut Nugroho & Nurdiana (2008), bahwa seorang kader akan aktif dalam
kegiatan posyandu setelah ia tahu apa tujuan dan manfaat posyandu bagi kesehatan
masyarakat khususnya ibu dan anak, serta tahu apa akibat bila tidak aktif dalam
kegiatan posyandu. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2010b), bahwa
perilaku yang didasari oleh pengetahuan umumnya bersifat langgeng dari pada
perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Berdasarkan permasalahan pada latar belakang di atas, menunjukkan masih
sangat tingginya angka ketidakaktifan kader posyandu. Oleh karena itu, penulis
tertarik untuk mengkaji faktor yang menjadi latar belakang ketidakaktifan kader
posyandu di wilayah kerja Puskesmas Paramasan Kabupaten Banjar Provinsi
Kalimantan Selatan.
Studi Ketidakaktifan Kader Posyandu
di Wilayah Kerja Puskesmas Paramasan
Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan 5
MUHAMMAD ALI AKBAR
Universitas Gadjah Mada, 2014 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

B. Perumusan Masalah
Dengan menelaah uraian dalam latar belakang di atas, terlihat masih sangat
tingginya angka ketidakaktifan kader posyandu. Dengan demikian, rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah: ”Bagaimana faktor yang menjadi latar
belakang ketidakaktifan kader posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Paramasan
Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Tujuan Umum
Untuk mengeksplorasi faktor yang menjadi latar belakang ketidakaktifan
kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Paramasan Kabupaten Banjar
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengkaji secara mendalam pengetahuan kader sebagai latar
belakang ketidakaktifan kader posyandu
b. Untuk mengkaji secara mendalam kelengkapan sarana dan prasarana
posyandu sebagai latar belakang ketidakaktifan kader posyandu
c. Untuk mengkaji secara mendalam dukungan kepala desa dan petugas
kesehatan sebagai latar belakang ketidakaktifan kader posyandu
d. Untuk mengkaji secara mendalam insentif dan penghargaan kader sebagai
latar belakang ketidakaktifan kader posyandu
e. Untuk mengkaji secara mendalam partisipasi masyarakat ke posyandu
sebagai latar belakang ketidakaktifan kader posyandu

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
1. Secara Praktis
a. Sebagai masukan bagi pengelola posyandu di Puskesmas Paramasan dan
Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar dalam membuat perencanaan program
posyandu agar memperhatikan penyebab ketidakaktifan kader posyandu.
Studi Ketidakaktifan Kader Posyandu
di Wilayah Kerja Puskesmas Paramasan
Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan 6
MUHAMMAD ALI AKBAR
Universitas Gadjah Mada, 2014 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

b. Sebagai bahan masukan bagi masyarakat, betapa pentingnya peran kader


bagi kelangsungan posyandu serta kerugian yang diakibatkan dari
ketidakaktifan kader dalam menjalankan kegiatan bulanan posyandu
2. Secara Teoritis
a. Sebagai informasi dibidang pelayanan kesehatan tentang penyebab
ketidakaktifan kader posyandu
b. Sebagai bahan masukan bagi peneliti lain yang terkait dengan
ketidakaktifan kader posyandu dalam mengembangkan penelitian
selanjutnya.
E. Keaslian Penelitian
Menurut sepengetahuan peneliti, penelitian tentang Studi Ketidakaktifan
Kader Posyandu sampai saat ini belum pernah dilaksanakan, sedangkan penelitian
sebelumnya yang berkaitan dengan kader posyandu terutama tentang keaktifan
kader sudah banyak dilakukan antara lain:
1. Khotimah (2002) tentang Evaluasi Keaktifan Kader dalam Pelayanan Program
Gizi di Posyandu Tahun 2002 di Kota Palembang. Hasil penelitian, ada
hubungan umur, pengetahuan, persepsi kader terhadap peran tokoh
masyarakat, peran petugas kesehatan serta dukungan dana dan prasarana
dengan tingkat pemanfaatan penimbangan balita di posyandu. Persamaan
dengan peneliti pada subjek dan metode penelitian. Perbedaan pada lokasi,
rancangan penelitian, analisis data serta kader yang tidak aktif.
2. Akbar (2009) tentang Studi Keaktifan Kader Posyandu Aktif di Wilayah Kerja
Puskesmas Sungai Pinang Kabupaten Banjar. Hasil penelitian, kader
termotivasi karena adanya dukungan keluarga, ingin menambah pengalaman,
kepuasan batin, mendapatkan penghargaan, berinteraksi sosial, mengurus
keluarga agar sehat serta untuk menganjurkan masyarakat ke posyandu.
Persamaan dengan peneliti pada subjek dan metode penelitian. Perbedaan
pada lokasi, rancangan penelitian, analisis data serta kader yang tidak aktif.
Studi Ketidakaktifan Kader Posyandu
di Wilayah Kerja Puskesmas Paramasan
Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan 7
MUHAMMAD ALI AKBAR
Universitas Gadjah Mada, 2014 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

3. Syarifuddin (2009) tentang Motivasi Kader Posyandu di Puskesmas Rasanae


Timur Kota Bima. Hasil penelitian, kader termotivasi untuk aktif karena
adanya kebutuhan eksistensi kader, guna berinteraksi sosial kemasyarakatan,
upaya pengembangan diri serta ingin menjadi PNS. Persamaan dengan peneliti
pada subjek dan metode penelitian. Perbedaan pada lokasi, rancangan
penelitian, analisis data serta kader yang tidak aktif.
4. Farhat (2011) tentang Perbedaan keaktifan kader dan faktor internal maupun
eksternal yg berhubungan Di wilayah Kerja Puskesmas dengan Tingkat
Partisispasi Masyarakat (D/S) tinggi dan rendah di Kota Banjarmasin. Hasil
penelitian, tidak ada perbedaan keaktifan kader antara Puskesmas Sei Jingah
(D/S tinggi) dan Puskesmas Pelambuan (D/S rendah) serta ada hubungan
antara status pekerjaan dengan keaktifan kader posyandu di wilayah kerja
Puskesmas Sei Jingah dan Puskesmas Pelambuan. Persamaan dengan peneliti
pada subjek penelitian. Perbedaan pada lokasi, metode dan rancangan
penelitian, analisis data serta kader yang tidak aktif.