Anda di halaman 1dari 16

Kerusakan Sel Mukosa Bukal pada Individu setelah Pemeriksaan

Dental X-ray

Gang Li, Pan Yang, Shuai Hao, Wei Hu, Cheng Liang, Bing-shuang Zou & Xu-chen Ma

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memantau efek genotoksik dan

sitotoksik dari X-ray pada eksfoliasi sel-sel mukosa bukal dan menyelidiki

hubungan antara efek dan akumulasi dosis yang diserap oleh mukosa rongga

mulut. Sel mukosa bukal 98 peserta dikumpulkan sebelum dan 10 hari setelah

serangkaian radiografi gigi yang berbeda dilakukan. Persiapan sitologi berturut-

turut yaitu dengan pewarnaan metode Feulgen dan Fast-green, dan dianalisis di

bawah mikroskop cahaya. Mikronukleius (MN) dan sel lainnya diberi skor.

Akumulasi dosis yang diserap mukosa bukal diperkirakan dengan metode

phantom anthropomorpis dan dosimeter chip. Dosisnya berkisar 0,18–3,54 mGy.

Perbedaan yang signifikan dalam tingkat sel MN ditemukan sebelum dan sesudah

pemeriksaan X-ray (p = 0,008) serta dalam tingkat sel Piknosis (p < 0,001) dan sel

Kariolisis (p = 0,0021). Ketika hanya mukosa pasien yang menyerap dosis lebih

rendah dari 1 mGy yang dianalisis, perbedaan signifikan tidak ditemukan kecuali

untuk sel kariolisis (p = 0,0313). Terdapat korelasi antara akumulasi yang

dilakukan dan tingkat perubahan (ρ = 0,25, p = 0,0118). Frekuensi sel

mikronukleus di mukosa bukal dapat meningkat ketika serangkaian radiografi gigi

termasuk pemeriksaan CBCT dilakukan.


Pendahuluan

Mikronukleus (MN) adalah struktur anomali dalam sel eukariotik.

Mikronukleus berasal dari fragmen kromosom atau seluruh kromosom yang

tertinggal di tahap anafase selama pembelahan inti sel di bawah faktor fisik dan

kimia. Indeks MN dalam sel hewan pengerat dan manusia telah menjadi salah satu

titik akhir standar sitogenetik dan biomarker yang digunakan dalam toksikologi

genetik in vivo atau in vitro. Peningkatan MN adalah biomarker yang berguna

untuk mendeteksi risiko kanker pada manusia di kerongkongan, kandung kemih

dan jaringan mulut.1,2 Uji MN dapat dilakukan pada eksfoliasi sel bukal dan sel

lainnya yang berasal dari jaringan epitel3. Para peneliti telah berhasil

menstandardisasi prosedur lengkap termasuk proses evaluasi Buccal Micronucleus

Cytom Assay (BMCy) untuk menilai efek genotoksik dari faktor karsinogenik,

seperti X-ray4. Dalam artikel ini, biomarker sel, yaitu karioreksis, piknosis,

kariolisis, sel kondensasi kromatin, sel binukleat, nuclear bud juga diperkenalkan

untuk evaluasi sitotoksik. MN dan/atau nuclear bud adalah indikasi dari

kerusakan DNA. Kondesasi kromatin, karioreksis, piknosis, dan kariolisis

menunjukkan apoptosis dari sel. Sel binukleat merupakan indikasi defek

sitokinesis dan frekuensi dari sel basal menunjukkan potensi proliferatif.

Terdapat sejumlah penelitian yang menyelidiki efek genotoksik dari

pemeriksaan dental X-ray dengan menggunakan BMCy5-7. Pada tahun 2008,

sebuah penelitian yang dilakukan oleh Rebeiro et al. menemukan bahwa tidak ada

perbedaan yang signifikan untuk indeks MN pada eksfoliasi sel mukosa bukal dari

39 pasien sebelum dan sesudah pemeriksaan panoramik. Dalam penelitian

berikutnya, serangkaian pemeriksaan radiografi termasuk radiografi panoramik,


sefalometrik lateral dan posteroanterior diambil untuk 18 remaja yang ingin

perawatan ortodontik, dan hasilnya menunjukkan bahwa frekuensi sel

mikronukleus tidak meningkat secara signifikan. Dalam penelitian ini, tingkat

karioreksis, piknosis, dan kariolisis juga dinilai untuk sitotoksisitas dan hasilnya

menunjukkan peningkatan yang signifikan pada tingkat ini. Dengan pengenalan

cone beam computed tomography (CBCT) untuk kedokteran gigi, sebuah studi

untuk CBCT juga dilakukan dan hasilnya menunjukkan peningkatan yang

signifikan dalam tingkat karioreksis, piknosis, dan kariolisis tetapi tidak untuk

tingkat sel MN. Hal ini menunjukkan penggunaan yang aman dari pemeriksaan X-

ray yang disebutkan di atas. Namun, harus diingat bahwa dalam penelitian ini

hanya satu merek dari jenis mesin dental x-ray yang sama dievaluasi dan dosis

radiasi yang dipancarkan dari berbagai merek dari tipe yang sama sangat berbeda.

Sebagai contoh, dosis efektif yang diperoleh dari mesin panoramik Promax adalah

sekitar 24,3 μSv sedangkan untuk mesin panoramik Orthophos XG dosis radiasi

yang efektif hanya sekitar 14,2 μSv, hampir dua kali lipat lebih rendah daripada

Promax8. Hal ini membuat hasil dari studi mutagenisitas tidak memberikan dosis

radiasi yang hampir tepat bila dibandingkan, dan tidak mungkin untuk

menemukan petunjuk yang menunjukkan hubungan antara kerusakan genetik pada

sel-sel bukal dan dosis paparan radiasi pada pasien.

Hal ini adalah fakta yang umum bahwa dosis radiasi terakumulasi. Secara

klinis, pasien biasanya diminta untuk mengambil serangkaian radiografi termasuk

radiografi panoramik, lateral dan posteroanterior dalam waktu yang sangat singkat

untuk tujuan perencanaan perawatan ortodontik atau ortognatik dan / atau evaluasi

prognosis. Dengan diperkenalkannya CBCT untuk kedokteran gigi, scan CBCT


untuk pemeriksaan sendi temporomandibular (TMJ) atau pemindaian kranial-

fasial kadang-kadang disertakan. Jika semua radiografi yang diperlukan termasuk

CBCT diperoleh dalam waktu yang terbatas, apakah akumulasi dosis radiasi

dalam waktu singkat akan memiliki potensi risiko kanker untuk pasien yang

melakukan serangkaian radiografi? Karena sebagian besar pasien yang mencari

perawatan ortodontik berusia di bawah 18 tahun dan anak-anak lebih sensitif

terhadap ionisasi radiasi daripada orang dewasa, apakah potensi risiko kanker

meningkat untuk pasien yang lebih muda dari 18 tahun?

Dalam pencarian literatur, kami tidak menemukan penelitian lain sehubungan

dengan kerusakan sel-sel mukosa bukal pada individu yang terpapar pada

serangkaian radiografi dalam waktu yang terbatas. Oleh karena itu, tujuan dari

penelitian ini adalah:

1. Untuk memantau efek genotoksik dari sinar-x pada eksfoliasi sel-sel mukosa

bukal selama pemeriksaan dental x-ray;

2. Untuk memperkirakan dosis yang diserap oleh mukosa bukal yag terkena

radiasi dengan metode anthropomorphic phantom dan thermoluminescent

dosimeters;

3. Untuk menyelidiki hubungan yang mungkin antara efek genotoksik dan

sitotoksik x-ray pada eksfoliasi sel mukosa bukal dan akumulasi dosis yang

diserap sel mukosa oral selama pemeriksaan dental x-ray;

4. Untuk menilai apakah efek genotoksik dan sitotoksik dari sinar-x pada

eksfoliasi sel mukosa bukal lebih rentan pada pasien yang lebih muda dari 18

tahun.
Bahan dan Metode

Subyek.

Subjek termasuk 98 pasien yang mencari perawatan ortodontik atau ortognatik

di rumah sakit. Di antara pasien, 28 adalah laki-laki dan 70 perempuan. Usia

berkisar 8 hingga 42 dengan usia rata-rata 23,63 ± 6,64. Kriteria untuk masuknya

pasien adalah:

1) Tidak ada kebiasaan merokok dan / atau minum;

2) Tidak ada paparan sinar X dalam tiga bulan terakhir;

3) Tidak ada penyakit mukosa mulut;

4) Tidak ada faktor-faktor stimulasi lokal;

5) Akan melakukan pemeriksaan X-ray gigi dalam waktu 1 jam.

Ketika tidak semua kriteria inklusi di atas terpenuhi, seorang pasien

dikeluarkan. Secara keseluruhan, 24 pasien untuk perawatan bedah ortognatik dan

74 pasien untuk perawatan ortodontik dikumpulkan. Sebelum pemeriksaan X-ray,

informasi individu pasien seperti usia, jenis kelamin, riwayat medis, paparan

radiografi dan parameter paparan dicatat untuk analisis nanti. Semua radiografi

yang didapat, diperlukan untuk perencanaan perawatan dan tidak spesifik untuk

penelitian. Formulir persetujuan informasi ditandatangani oleh para peserta atau

wali mereka. Penelitian ini disetujui oleh Institutional Review Board dari Peking

University School and Hospital of Stomatology. Semua metode dilakukan sesuai

dengan pedoman dan peraturan yang relevan.

Pemeriksaan Dental X-ray

Satu atau beberapa sinar-X gigi dilakukan untuk masing-masing pasien:

radiografi panoramik, radiografi sefalometrik lateral, radiografi sefalometrik


posteroanterior, scan CBCT untuk TMJ, scan CBCT untuk seluruh tengkorak dan

scan CBCT untuk maksila. Pemindaian CBCT dilakukan dengan pemindai DCT

Pro (VATECH & E-WOO Corporation, Seoul, Korea; 90 kVp, 5–7 mA, 24 detik)

atau NewTom VG (Quantitative Radiology, Verona, Italia; 110 kVp, 6,24–14,45

mAs). Radiografi panoramik, radiografi lateral dan radiografi posteroanterior

dilakukan dengan sistem pencitraan digital gigi all-in-one Orthopantomograph

OP100 (Instrumentarium Imaging Corporation, Tuusula, Finlandia). Parameter

pencahayaan adalah 66 kVp, 4-10 mA, 17,6 s untuk radiografi panoramik dan 77

kVp, 12 mA, 0,5-1,0 s untuk radiografi lateral, 77 kVp, 12 mA, 0,8-1,2 s untuk

radiografi posteroanterior.

Pengumpulan sel dan persiapan kaca mikroksop

Eksfoliasi sel-sel mukosa oral dikumpulkan segera sebelum pemeriksaan

Dental x-ray dan 10 hari kemudian. Setelah berkumur dengan air keran, sel

diperoleh dengan menyeka kedua mukosa pipi kiri dan kanan pasien dengan

spatula kayu yang dibasahi. Sel dipindahkan ke tabung berisi larutan buffer

(0,16% Tris-HCL, 0,12% EDTA, 3,72% natrium klorida), disentrifugasi tiga kali

(2000 rpm, 3 menit), difiksasi dalam 3: 1 metanol/asam asetat, homogenkan

selama 5 menit, pindahkan kaca yang sudah dibersihkan dan dikeringkan, kaca

berturut-turut diwarnai dengan metode Feulgen dan Fast green.

Pengamatan sitologi.

Pengamatan sitologi dilakukan dengan mikroskop cahaya BX51 (Olympus

Corporations, Tokyo, Jepang) pada pembesaran x400. Frekuensi sel

mikronukleus dihitung dalam 2000 sel dan jenis sel lain seperti sel basal, sel

binukleat, sel kondensasi kromatin, sel piknosis, sel kariolisis dan sel karioreksis
dan sel nuclear bud diberi skor dalam 1000 sel untuk setiap individu. Semua jenis

sel diberi skor sesuai dengan kriteria yang dijelaskan oleh Thomas P et al.4. Sel-sel

mickonukleus sebagai parameter untuk kerusakan DNA dibedakan atas dasar lima

karakteristik: (a) kurang dari 1/3 diameter inti sel utama; (B) berada di bidang

fokus yang sama; (c) memiliki warna, tekstur, dan refraksi yang sama dengan

nukleus utama; (d) memiliki bentuk bulat atau oval, dan (e) secara jelas

terpisahkan dari nukleus utama9. Contoh gambar dari MN yang diamati dan sel

lain ditunjukkan pada Gambar. 1.

Untuk analisis variabilitas intraobserver, sepuluh kaca dipilih secara acak untuk

pengamatan anomali sel dua bulan kemudian. Untuk mempelajari apakah

perubahan laju dari berbagai jenis sel benar-benar berhubungan dengan

pemeriksaan dental x-ray, 8 pasien dipanggil kembali satu setengah tahun

kemudian dan sel-sel mukosa dikumpulkan untuk pengamatan sitogenetik

kembali.

Gambar 1. Fotomikrograf dari sel dengan (a) mikronukleus (panah), (b)


karioreksis (panah), (c) kariolisis dan (d) piknosis. Pembesaran
x400.
Pengukuran akumulasi dosis yang diserap mukosa oral.

Human anthropomorphic phantom (ART-210, Radiology Support Device, Inc,

Long Beach, CA, USA.) dan thermoluminescent dosimeter chip (TLD) digunakan

untuk estimasi akumulasi dosis yang diserap oleh mukosa mulut. Phantom dengan

karakteristik X-ray yang tipis setara dengan jaringan dan sangat sesuai dengan

Komisi Internasional tentang Unit Radiasi dan Spesifikasi Pengukuran10.

Akumulasi dosis pada mukosa oral diukur pada masing-masing sembilan protokol

yang dijelaskan pada Tabel 1. Sebelum penelitian, semua dosimeter dikalibrasi

menggunakan sumber Co-60. Informasi terperinci mengenai pengukuran

dijelaskan dalam penelitian sebelumnya11.

Analisis statistik.

Sofware SPSS versi 16.0 untuk windows (SPSS, Chicago, IL, USA) digunakan

untuk analisis statistik. Perbedaan antara frekuensi sel mikronukleus, sel basal,

sel-sel binukleat, sel kondesasi kromatin, sel karioreksis, sel piknosis, sel

kariolisis dan sel nuclear bud sebelum dan sesudah pemeriksaan X-ray dianalisis

dengan uji Wilcoxon signed rank. Karena dasar gambar yang diperlukan untuk

perawatan ortodontik atau bedah ortognatik adalah gambar dua dimensi, dosis

yang diserap secara terpisah dibagi menjadi dua kelompok, kelompok dosis

rendah dan tinggi, untuk analisis lebih lanjut. Uji Wilcoxon signed rank juga

digunakan untuk menganalisis tingkat sel yang berbeda sebelum dan sesudah

pemeriksaan X-ray baik pada kelompok dosis tinggi maupun rendah. Untuk

analisis korelasi antara perbedaan tingkat dosis diserap dan perubahan tingkat sel,

korelasi spearman rank digunakan. Perubahan tingkat sel adalah perbedaan dalam

jumlah sel yang dihitung sebelum dan sesudah pemeriksaan radiografi (perubahan
tingkat sel = Tingkat sel setelah pemeriksaan X-ray - Tingkat sel sebelum

pemeriksaan X-ray). Menurut usia 18, pasien dibagi menjadi dua kelompok, yaitu,

dalam satu kelompok pasien lebih muda dari 18 tahun dan di kelompok lain

pasien lebih tua atau sama dengan 18 tahun. Investigasi efek usia pada anomali sel

diamati, tingkat perubahan yang diperoleh dari kedua kelompok dosis rendah dan

tinggi dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Untuk variabilitas intra-observer,

ANOVA satu arah digunakan. Perbedaan dianggap signifikan secara statistik

ketika p <0,05.

Hasil

Akumulasi dosis yang diserap mukosa oral. Akumulasi dosis mukosa oral

diukur dengan phantom yang tercantum dalam Tabel 1. Ketika hanya radiografi

dua dimensi yang dilakukan, akumulasi dosis yang diserap tidak lebih dari 1 mGy.

Perubahan MN dan sel lain. Tingkat kejadian rata-rata, nilai kuartil atas dan

bawah, nilai p dari sel-sel MN dan sel lain sebelum dan setelah pemeriksaan X-

ray untuk semua 98 peserta, untuk kelompok pasien dosis tinggi dan hanya untuk

kelompok pasien dosis rendah ditunjukkan pada masing-masing Tabel 2–4. Tabel

2 dan 3 menunjukkan perbedaan yang signifikan untuk frekuensi sel MN serta sel

piknosis dan kariolisis sebelum dan sesudah pemeriksaan x-ray. Ketika hanya

kelompok sampel dosis rendah dianalisis, perbedaan yang signifikan antara

frekuensi sebelum dan setelah pemeriksaan X-ray tidak ditemukan untuk sel-sel

MN tetapi terdapat perbedaan untuk sel-sel kariolisis (P = 0,0313, Tabel 4).

Dosis yang diserap dan abnormalitas seluler. Tabel 5 menunjukkan hubungan

perbedaan dari berbagai jenis sel pada tingkat akumulasi dosis yang diserap.
Korelasi yang signifikan untuk sel mikronukleus dan dosis yang diserap (rs =

0,250, p = 0,0118) diamati tetapi tidak untuk jenis sel lainnya.

Umur dan perubahan kelainan seluler. Dalam kelompok dosis rendah ada 8

pasien di bawah 18 tahun sedangkan dalam kelompok dosis tinggi jumlah pasien

yang lebih muda dari 18 adalah 9. Karena dosis radiasi memiliki dampak pada

frekuensi berbagai jenis sel yang diamati (Tabel 3 dan 4), efek usia diselidiki

secara terpisah dalam kelompok dosis besar dan rendah untuk menghindari bias

dari dosis radiasi. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pasien yang lebih

muda dan lebih tua dari 18 tahun di kedua kelompok besar (P = 0,118 ~ 0,729)

dan dosis rendah (P = 0,080 ~ 1,0).

Variabilitas intraobserver dan verifikasi efek pemeriksaan dental x-ray

varians intraobserver tidak signifikan (P = 0,065 ~ 0,773). Verifikasi efek

pemeriksaan dental X-ray pada berbagai jenis sel mukosa mulut ditunjukkan

dalam Tabel 6. Meskipun tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan untuk

berbagai jenis sel mukosa mulut di antara delapan pasien dengan dan tanpa

pemeriksaan x-ray, frekuensi rata-rata sel mikronukleus meningkat 0,38-0,75

dalam kelompok dengan pemeriksaan X-ray sementara di kelompok tanpa

pemeriksaan X-ray, frekuensi sel ini turun ke 0,25 dari 0,5.


Tabel 1 Pemeriksaan Dental X-ray dan akumulasi dosis yang diserap oleh
mukosa oral
Radiografi Dosis yang n Kelompok
diserap (mGy)
Panoramik 0,18 1 dosis
Panoramik + Radiografi Lateral 0,21 7 rendah
Panoramik + Radiografi Frontal 0,24 2 n=10
Foto CBCT Kraniofasial (NewTom VG) 1,58 46
Foto CBCT Kraniofasial (NewTom VG) + 1,79 1
Panoramik + Radiografi Lateral
Foto CBCT Kraniofasial (NewTom VG) + 1,82 1
Panoramik + Radiografi Lateral + Frontal
Foto CBCT TMJ (DCT-Pro) 2,62 2
Frontal + Foto CBCT TMJ (DCT-Pro) 2,64 1
Panoramik + Lateral + Foto CBCT TMJ 2,83 9
(DCT-Pro)
Panoramik + Lateral + Frontal+ Foto CBCT 2,86 25 dosis
TMJ (DCT-Pro) tinggi
Foto CBCT Maksila (DCT-Pro) 3,4 1 n=88
Panoramik + Lateral + Foto CBCT 3,51 1
Kraniofasial (DCT-Pro)
Panoramik + Lateral + Frontal + Foto 3,54 1
CBCT Kraniofasial (DCT-Pro)
Jumlah n =98

Tabel 2 Rata-rata, kuartil atas dan bawah dari sel berbeda untuk 98 pasien dan
hubungan nilai p yang didapatkan dari tes Wilcoxon Signed Rank.
*Perbedaan signifikasi p<0.05
Sel Sebelum Setelah Nilai p
Pemeriksaan x-ray (%) Pemeriksaan x-ray (%)
Rata-rata 25-75% Rata-rata 25-75%
Sel mikronukleus* 0,38 (0-1) 0,60 (0-1) 0.008
Sel basal 11,81 (8-15) 11,08 (6-15) 0.0755
Sel binukleat 7,73 (5-10) 7,93 (5-10) 0.8001
Sel kondensasi 5,72 (3-8) 6,03 (3-8) 0.0907
kromatin
Sel karioreksis 1,74 (0-3) 2,10 (0-3) 0.512
Sel piknosis* 1,26 (0-2) 2,4 (0-4) <0.001
Sel kariolisis* 46,83 (27-64) 57,92 (26-68) 0.0021
Nuclear buds 0,06 (0-0) 0,11 (0-0) 0.3629
Tabel 3 Rata-rata, kuartil atas dan bawah dari sel berbeda untuk pasien dengan
penggunaan dosis tinggi dan hubungan nilai p yang didapatkan dari tes
Wilcoxon Signed Rank. *Perbedaan signifikasi p<0.05
Sel Sebelum Setelah Nilai p
Pemeriksaan x-ray (%) Pemeriksaan x-ray (%)
Rata-rata 25-75% Rata-rata 25-75%
Sel mikronukleus* 0,41 (0-1) 0,65 (0-1) 0,0098
Sel basal 11,96 (8-15) 11,10 (6-15) 0,0567
Sel binukleat 7,87 (5-10) 7,99 (5-10) 0,9877
Sel kondensasi 5,65 (3-8) 6,30 (3-8) 0,4195
kromatin
Sel karioreksis 1,69 (0-3) 2,16 (0-3) 0,3277
Sel piknosis* 1,39 (0-2) 2,65 (1-4) 0.0001
Sel kariolisis* 46,81 (28-70) 62,87 (32-90) 0,0003
Nuclear buds 0,05 (0-6) 0,12 (0-0) 0,2407

Tabel 4 Rata-rata, kuartil atas dan bawah dari sel berbeda untuk pasien dengan
penggunaan dosis rendah dan hubungan nilai p yang didapatkan dari tes
Wilcoxon Signed Rank.*Perbedaan signifikasi p<0.05
Sel Sebelum Setelah Nilai p
Pemeriksaan x-ray (%) Pemeriksaan x-ray (%)
Rata-rata 25-75% Rata-rata 25-75%
Sel mikronukleus 0,10 (0-0) 0,20 (0-0) 1,0000
Sel basal 10,50 (7-14) 10,9 (6-16) 0,9883
Sel binukleat 6,50 (4-9) 7,40 (7-10) 0,7168
Sel kondensasi 6,40 (4-9) 3,60 (2-4) 0,0859
kromatin
Sel karioreksis 2,2 (0-3) 1,50 (0-2) 0,2500
Sel piknosis 0,1 (0-0) 0,1 (0-0) 1,0000
Sel kariolisis* 24,2 (10-36) 12,90 (9-14) 0,0313
Nuclear buds 0,1 (0-0) 0,0 (0-0) 1,0001
Tabel 5 Korelasi koefisien Spearman rank dan hubungan nilai p terhadap rata-rata
tingkat perubahan dari berbagai sel terhadap tingkat dosis yang diserap
*Penanda perbedaan signifikan pada p <0.05
Sel Rata-rata tingkat Koefisien Nilai p
perubahan korelasi
0-1 mGy 1-4 mGy
Sel mikronukleus 0,10 0,24 0,250* 0,0118
Sel basal 0,40 -0,86 -0.,145 0,1476
Sel binukleat 0,90 0,12 -0,010 0,9193
Sel kondensasi kromatin -2,80 0,65 -0,047 0,6393
Sel karioreksis -0,70 0,47 0.101 0,3168
Sel piknosis 0.00 1,25 0,030 0,7675
Sel kariolisis -11,3 14,05 0,018 0,8601
Nuclear buds -0.1 0,07 0,098 0,3278

Tabel 6 Rata-rata, kuartil atas dan bawah dari berbagai sel untuk 8 pasien
* Perbedaan signifikasi p<0.05
Sel Sampling pertama Sampling kedua Nilai
Rata-rata 25-75% Rata-rata 25-75% p
Tanpa Mikronukleus 0,5 (0-1) 0,25 (0-0) 0,75
pemeriksaan Basal 8,31 (5-11) 9,25 (7-11,5) 0,67
x-ray Binukleat -11,31 (8-13) 8,75 (7,5-10) 0,13
Kondensasi 6,81 (4.5-9) 9,94 (4,5-8) 0,87
kromatin
Karioreksis 1,68 (1-2.25) 2,44 (1,5-2,25) 0,66
Piknosis 2,75 (1-4) 2,31 (0,75-3) 1,00
Kariolisis 35,5 (25-47) 45,81 (32-60) 0,15
Nuclear buds 0,06 (0-0) 0,06 (0-0) 1,00
Dengan Mikronukleus 0,38 (0-1) 0,75 (0-1) 0,25
Pemeriksaan Basal 15,13 (9,5-15) 10,13 (3,5-15,5) 0,16
x-ray Binukleat 10,13 (6,5-14) 9,75 (8-11,5) 0,88
Kondensasi 7,25 (5-9,5) 6,38 (3-10) 0,74
kromatin
Karioreksis 2 (0-5-3,5) 3,38 (1-5,5) 0,38
Piknosis 1,63 (0-3) 1,88 (1-3) 0,81
Kariolisis 37,25 (19-38) 35,38 (12-52,5) 1,00
Nuclear buds 0,13 (0-0) 0,25 (0-0) 1,00
Diskusi

Studi ini menunjukkan bahwa frekuensi dari sel-sel MN yang diamati

meningkat secara signifikan setelah serangkaian pemeriksaan dental x-ray.

Namun, ketika hanya kelompok dosis rendah dianalisis, frekuensi dari sel-sel MN

yang diamati tidak berbeda secara signifikan. Hal ini sejalan dengan penelitian

sebelumnya5,6,12-14, yang menunjukkan hal tersebut. Pemeriksaan dental x-ray dua

dimensi mungkin tidak berhubungan dengan peningkatan risiko mutagenesis gen.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa frekuensi sel karioreksis, sel piknosis

dan sel kariolisis meningkat secara signifikan setelah pemeriksaan radiografi dua

dimensi5,6,13,14. Namun, dalam penelitian ini hanya frekuensi sel kariolisis yang

meningkat secara signifikan setelah pemeriksaan radiografi dua dimensi, yaitu

pada kelompok dosis rendah dari sampel yang diteliti. Hal ini dapat berhubungan

dengan ukuran sampel yang relatif kecil dalam penelitian ini. Untuk kelompok

dosis tinggi, perbedaan signifikan antara frekuensi sel piknosis dan kariolisis

sebelum dan sesudah pemeriksaan dental x-ray juga diamati. Hasil ini

memverifikasi hipotesis bahwa pemeriksaan dental x-ray, mendukung

sitotoksisitas sel pada mukosa mulut, dibandingkan dengan penelitian sebelumnya


5,6,13,14,
yang hanya menggunakan radiografi dua dimensi Dosis yang disajikan

dalam kelompok dosis tinggi dari penelitian ini relatif besar (sekitar sepuluh kali),

hal ini dapat menjelaskan mengapa frekuensi yang diamati dari sel MN secara

signifikan meningkat pada kelompok dosis tinggi.

Untuk lebih mengungkapkan hubungan antara efek genotoksik dan sitotoksik

dari X-ray pada eksfoliasi sel mukosa bukal dan akumulasi dosis yang diserap

selama pemeriksaan dental x-ray, perubahan dari tingkat sel yang diamati sebelum
dan sesudah pemeriksaan radiografi gigi digunakan. Alasan mengapa

menggunakan perubahan tingkat sel untuk analisis adalah karena pertimbangan

bahwa individu memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghasilkan berbagai

jenis sel. Meskipun hasilnya menunjukkan korelasi antara tingkat perubahan sel

mikronukleus dan akumulasi dosis mukosa oral, koefisien korelasi hanya 0,250.

Hasil ini dapat menjelaskan hubungan antara dua variabel. Sampel dengan jumlah

besar diperlukan untuk mengungkapkan hubungan lebih lanjut.

Temuan yang menarik dari penelitian ini adalah bahwa akumulasi dosis yang

diserap meningkat secara dramatis ketika pemeriksaan CBCT dilakukan. Hal ini

secara tidak langsung mengidentifikasi hasil dari penelitian lain bahwa dosis

radiasi CBCT jauh lebih tinggi daripada dental x-ray konvensional15,16.

Kerusakan kromosom yang mengarah pada pembentukan mikronukleus

menggantikan lapisan basal pada jaringan epitel, di mana sel mengalami mitosis.

Perubahan cepat pada jaringan epitel membawa sel ke permukaan. Akibatnya,

tingkat maksimum pembentukan mikronukleus dalam eksfoliasi sel-sel yang

diamati antara 1 dan 3 minggu setelah terpapar agen genotoksik. Hal ini juga

berlaku untuk jenis sel lain yang diamati dalam penelitian ini,3,4. Untuk alasan ini,

jangka waktu 10 hari setelah pemeriksaan X-ray diadopsi.

Dianjurkan bahwa terdapat risiko kanker yang lebih banyak akibat radiasi

pada anak-anak daripada orang dewasa, terutama bagi mereka yang lebih muda

dari 18 tahun17. Untuk memantau efek usia, pasien yang termasuk dalam

penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok sesuai dengan usia 18. Hasilnya

menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik yang

diperoleh antara kedua kelompok pasien sehubungan dengan efek genotoksik dan
sitotoksik pada pemeriksaan dental x-ray pada sel-sel mukosa mulut. Hal ini dapat

terjadi karena fakta bahwa jumlah pasien yang lebih muda dari 18 tahun dalam

penelitian ini relatif kecil.

Untuk memverifikasi hubungan dari perubahan peningkatan sel-sel yang

berbeda akibat paparan sinar-X, delapan pasien dari sampel yang diteliti dipanggil

kembali satu setengah tahun kemudian. Prosedur tes yang sama dilakukan tanpa

paparan dental x-ray pada pasien. Meskipun hasilnya tidak menunjukkan

perbedaan yang signifikan secara statistik, peningkatan frekuensi sel

mikronukleus dapat diamati. Hal ini dapat mengidentifikasi bahwa peningkatan

perubahan kadar sel mikronukleus adalah hasil dari pemeriksaan dental x-ray.

Keterbatasan dari penelitian ini adalah phantom yang digunakan untuk

estimasi dosis yang diserap. Phantom adalah perwakilan pria dengan tinggi badan

sekitar 170–175 cm. Hal ini membuat dosis yang diserap menyimpang dari dosis

yang sebenarnya diserap oleh pasien yang sebenarnya. Namun, ketika

mempertimbangkan fakta bahwa hanya 9 dari 88 pasien berusia lebih muda dari

18 tahun dalam kelompok dosis tinggi dan hasil dari kelompok dosis rendah mirip

dengan penelitian lain, sangat beralasan untuk percaya bahwa penyimpangan

dosis yang diserap dapat diterima dalam kisaran yang dapat diterima.

Kesimpulan

Peningkatan frekuensi sel mikronukleus biomarker dari efek genotoksik,

serta sel piknosis dan kariolisis dari eksfoliasi mukosa bukal diamati ketika

serangkaian radiografi gigi termasuk pemeriksaan CBCT dilakukan. Umur tidak

berperan dalam efek genotoksik dan sitotoksik dari dental x-ray pada sel mukosa

rongga mulut.