Anda di halaman 1dari 8

Reading Report

Teori Kritis Filsafat

TEORI KRITIS

a. Pencetus Teori Kritis


Dalam memahami makna sebenarnya teori kritisme, perlu adanya pemahaman yang
mendalam mengenai makna dari istilah kritis itu sendiri. Dalam teori kritis filsafat,
Kennedy (1986) menyatakan bahwa istilah kritik dalam teori kritisme bukan dimaknai
sebagai kecenderungan untuk memberikan sebuah kritik, namun istilah kritik pada konteks
ini lebih mengarah pada cara tertentu yang dikembangkan oleh dua orang filsuf
berkebangsaan German yakni Hegel dan Marx yang memandang diri mereka sebagi
pewaris dari sebuah tradisi di dalam kehidupan sosial. Teori kritis dalam pembahasan ini
lebih dimaknai sebagai Idiosyncratic atau idiothetic yang berarti usaha untuk menjelaskan
peristiwa tertentu yang ada, yang tidak dihubungkan pada pekerjaan atau karya dari penulis
tertentu (Kennedy, 1986; Banes, 2001).
Sekolah Frankfurt berdiri pada tahun 1924, mulai diperkenalkan oleh Lucas dan
dikembangkan oleh Horkheimer dan Adorno. Sekolah Frankfurt juga dikenal sebagai
Institute of Social Research yang bergerak pada pergerakan filsafat sosial dan politik yang
sebagian besar penganutnya berlokasi di Frankfurt, Jerman. Sekolah Frankfurt berdiri
dengan tujuan mengembangkan baik gagasan Marx maupun Hegel yang berfokus pada
usaha untuk mengatasi perpecahan antara teori dan tindakan, mengingat sepanjang sejarah,
teori kritis akan selalu bertentangan dengan salah satu permasalahan metodologi yang
krusial yakni permasalahan teori dan tindakan dalam metodologi. Selain itu, sekolah
Frankfurt juga berusaha melakukan penafsiran kembali terhadap gagasan Marx dan Hegel
dalam rangka melanjutkan usaha mereka dalam mengatasi perpecahan antara teori dan
tindakan (Coradetti, 2013; Kennedy, 1986; Raulet, 2008).
Pada awalnya gagasan Marx terlihat begitu ilmiah. Ia mengembangkan sebuah teori
yang dapat menegaskan kembali dirinya dalam perannya terhadap gagasan kehidupan
sosial melalui pengetahuan yang ilmiah. Meskipun gagasan Marx berusaha untuk
membuat filsafat dan politik menjadi ilmu yang ilmiah, namun pada praktiknya tersebut
masih merupakan yang diragukan untuk dapat dijadikan sebagai pegangan kritis bagi
kehidupan sosial. Hal ini lah yang kemudian seiring perkembangan waktu, gagasan Marx
ini membawa dilema bagi Sekolah Frankfurt yang kedudukannya ada untuk mengklaim
aliran positivis mengenai objektivitas dan netralitas terhadap sosial dan politik.
Horkheimer dan pengikutnya di sekolah Frankfurt menolak dengan adanya gagasan
objektif dalam pengetahuan yang merujuk pada fakta bahwa obyek ilmue pengetahuan
merupakan suatu hal yang telah tertanam dalam proses historis dan sosial sepanjang masa.
Namun di sisi lain, sekolah Frankfurt sendiri juga tidak ingin kembali pada gagasan
naturalis yang ditanggapi oleh Marx sebelumnya. Hal ini lah yang kemudian hari disebut
sebagai dilema bertolak belakang pada sekolah Frankfurt (Coradetti, 2013; Kennedy,
1986).
Teori kritis sendiri berkembang pada abad ke-20 yang mulai berkembang dari
hubungan historis antara Hegel, Marx, dan Teoritikus awal sekolah Frankfurt. Menurut
Hegel, filsafat seharusnya mampu menentukan perbedaan yang jelas antara subyek dan
obyek. Didasarkan pada asumsinya, akhirnya Hegel berusaha untuk menggali dasar dari
kedua aspek subyek dan obyek tersebut namun berakhir pada ketidak mampuan Hegel
untuk mengatasi dan menjelaskan perbedaan yang jelas diantara keduanya. Pada proses
Hegel dalam menemukan perbedaan antara subyek dan obyek, Hegel melakukan proses
transendensi yang digambarkan oleh Hegel sebagai bentuk dari konfigurasi kesadaran
yang dapat menghasilkan perasaan akan kepastian. Sehingga dapat memberikan
kemungkinan kita untuk memikirkan perbedaan subyek-obyek yang dipertahankan
kedalam kumpulan gagasan yang disebut oleh Hegel sebagai “Roh”. Sehingga dapat
dikatakan bahwa subyek dan obyek dalam gagasan Hegel berada di dalam roh tiap individu.
Hal inilah yang mendasari Hegel menggunakan fenomenologi dalam memahami filsafat,
yakni perlunya memahami pengetahuan sebagai sarana untuk mengambil alih ataupun
untuk melihat hal yang berasal dari sesuatu Yang Mutlak. Bagi Hegel, objektivitas
merupakan keadaan keterasingan diri dari Roh yang harus diatasi oleh kesadaran. Hal
inilah yang kemudian gagasan milik Hegel dikenal sebagai teori kritik immanent
(Kennedy, 1985; Smith, 1987).
Gagasan Hegel sendiri kemudian dikritik oleh Marx yang memandang transendensi
tidak dapat dicapai jika hanya melalui pengembangan pemikiran, namun akan dapat
dicapai melalui aktualisasi teori dalam kehidupan. Berbeda dengan gagasan Hegel yang
mengasosiasikan agama dengan moralitas dan bersifat naturalis - idealis, pandangan Marx
lebih bersifat mengarah pada positivis dan empirisme, dan berpendapat bahwa keberadaan,
gagasan, kebudayaan, serta sistem sosial yang ada pada individu merupakan hasil ciptaan
akal manusia dan ciptaan ilahi yang dapat diverifikasi secara ilmiah untuk menghasilkan
sebuah revolusi ilmu pengetahuan baru. Marx juga memandang bahwa objektifitas
manusia di dunia sebagai aktivitas alami manusia (Kennedy, 1986; Taha, 2008).
Berdasarkan uraian diatas, nampak bahwa terdapat kecenderungan bagi Marx untuk
menentang gagasan Hegel dan berusaha untuk mendorong filsafat naturalisme Hegel untuk
dapat berpandangan ke arah positivis melalui verifikasi untuk dapat menjadi gagasan
filsafat yang empiris. Adapun dorongan Marx ini terutama terjadi pada konteks
menjelaskan kehidupan sosial. Namun bagi para teoritikus kritis menurut Kennedy (1986),
pembahasan mengenai kehidupan sosial yang tertuang dalam teori sosial tidak dapat
mengembangkan sekumpulan kebenaran pengamatan atau prediksi yang bersifat ilmiah,
sehingga perlu adanya penelaahan lebih lanjut atas gagasan yang diajukan oleh Marx.
Teori kritis lebih menekankan pada karakter hubungan dari pendekatan sosial Marx
dibandingkan dengan teori yang diilmiahkan yang menjadi pembeda Marx dari filsafat
tradisional. Menyikapi hal ini, sekolah Frankfurt berusaha memecah ketegangan ini
melalui pandangan dialektis yang melihat hubungan pengetahuan Marx yang terkait
dengan konteks filosofisnya sebagai metode analitis yang produktif yang tidak bersifat
ilmiah dan lebih bersifat naturalis. Hingga pada akhirnya sekolah Frankfurt sampai pada
suatu gagasan bahwa baik Marx maupun Hegel tidak memeluk paham naturalis maupun
positivisme secara jelas. Setiap dialektika yang dipahami Hegel sebagai aktifitas
berargumen yang dapat meningkatkan kesadaran diri sehingga dapat mengkonsepsikan
suatu pemikiran secara rasional dan menyeluruh adalah transendensi dari dua kelompok
yang saling bertentangan tersebut (Kennedy, 1986; Suyahmo, 2007).

b. Penolakan Teori Kritis terhadap Positivisme dan Naturalisme


Layaknya pemikiran umum modern, teori kritis juga berusaha untuk mengembangkan
bentuk pengetahuan yang valid mengenai gagasan semesata yang menghindari bahaya
gagasan positivisme dan naturalisme. Meskipun pada dasarnya sekolah Frankfurt berdiri
dengan acuan hasil pemikiran Marx mengenai filsafat yang bersifat empiris. Namun, para
penganut dalam sekolah Frankfurt begitu sensitif terhadap gagasan objektivitas positivis
yang mengesampingkan unsur kognitif manusia dan selalu beracuan pada penciptaan
asumsi yang didasarkan pada pendekatan ilmiah dengan melakukan verifikasi ilmiah untuk
menciptakan dunia yang objektif. Hal inilah yang kemudian dianggap oleh penganut
sekolah Frankfurt sebagai suatu kesalahan dalam gagasan positivisme di era filsafat
modern (Coradetti, 2013; Gray, 2014; Kennedy, 1986).
Menurut Kennedy (1986), kesulitan yang dialami oleh teori kritis dalam penolakannya
terhadap gagasan positivisme maupun naturalisme terletak pada teori mereka yang terkait
dengan klaim terhadap dunia sosial. Di satu sisi, teori kritis berusaha untuk tidak
mengulangi kesalahan positivisme yang akan selalu beruacuan pada empirisme dengan
cara menciptakan gagasan mengenai refleksi diri, namun di sisi lain kepekaan terhadap
naturalisme mendorong teoritikus kritis juga menciptakan klaim mengenai aspek kognitif
dalam teori mereka (Kennedy, 1986). Hal ini menyebabkan teori kritis mengalami
kesulitan dalam mempertahankan gagasan refleksi diri dalam teori mereka akibat dari
landasan teori kritis yang berkembang dari konflik antara kepekaan positivis dan naturalis
yang proses perkembangannya tersebut disebut oleh Kennedy (1986) sebagai “dialektika
kritisisme”.
Menurut Kennedy (1986), sebagian besar, pembahasan teori kritis berada pada area
perdebatan teori positivisme dan naturalisme, sehingga mendorong sekolah Frankfurt
untuk menggambarkan perdebatan atas perbedaan pandangan ini pada tiga pendekatan
metodologi yang telah dibedakan oleh teori kritis. Metode ini didentifikasi oleh Habermas
sebagai “interpretasi”, pada konsentrasi hermeneutik yang mencakup kemampuan untuk
mengelaborasikan teks yang dipengaruhi oleh kemampuan linguistik seseorang dalam
mengolah bahasa yang dapat dipaha mi dan secara utuh menggambarkan hal yang
menjadi sasaran penggunaan metode hermenutik dalam studi ilmu sosial (Kennedy, 1986;
Sudarsan, 1998).
Para ahli teori di sekolah Frankfurt berusahan untuk menggali fakta dengan seksama
hingga hubungan antar fakta tersebut dapat dipetakan dan untuk melihat
ketidaksempurnaan yang ada pada peta kehidupan sosial tersebut melalui metode induktif.
Hal ini jelas berbeda dengan pandangan Marx yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan
yang dapat dikritisi merupakan ilmu pengetahuan yang besifat deduktif dan alami.
Kalaupun ada ilmu pengetahuan yang bersifat induktif dilakukan kritik, hal itu merupakan
suatu kecelakaan sejarah bagi Marx. Teoritikus di sekolah Frankfrut juga menolak secara
keras penggunaan pendekatan tertutup terhadap ilmu sosial dan lebih menganjurkan
menggunakan pendekatan yang memberikan cukup ruang untuk dapat melihat ketegangan
dan kontradiksi yang khas yang terjadi di masyarakat dalam dunia sosial (Kennedy, 1986;
Sudarsan, 1998). Bagi sekolah Frankfurt, pemisahan teori dan praktik harus dijembatani
oleh ahli dan praktisi untuk mewujudkan kehidupan sosial yang dapat dipahami agar dapat
menggambarkan kembali peta teoritis yang ada dengan tujuan untuk memberikan
cerminan serta mendorong untuk dilakukannya perenungan terhadap kehidupan yang
menjadi unsur refleksi diri (Kennedy, 1986).
Konsep hermeneutik memberikan gambaran realitas sosial dilihat secara konstruk yang
membangun sosial tersebut, dan bukan dilihat melalui akar objektivitas. Tujuan dari teori
hermenutik adalah menghasilkan interpretasi terbaik mengenai teori dan praktik. Dalam
hermeneutik, interpretasi harus diberikan secara lebih mendalam dan kuat dari pada
pemberian penjelasan atau deskripsi. Pemahaman hermenutic didapatkan melalui berbagai
teknik membaca secara mendalam sehingga dapat mengungkap sumber atau makna
sebenarnya dari sebuah teks yang berhubungan dengan kehidupan maupun pemikiran yang
lebih luas. Meskipun dalam pandangan sekolah Frankfurt hermeneutik tidak cukup jauh
untuk mendorong manusia melakukan refleksi diri, namun hermeneutika pada konteks
teori dan fakta yang digunakan sebagai contoh kehidupan dinilai sangat membantu.
Pandangan hermeneutika tidak memandang pemisahan antara teori dan tindakan sebagai
suatu keharusan yang fundamental dalam sebuah teori. Sebaliknya, hermeneutika
berpandangan bahwa baik teori maupun tindakan merupakan suatu aspek yang berasal dari
satu unsur, yang perlu didekatkan satu sama lain untuk dapat menjelaskan pemahaman
fundamental keduanya. Sehingga kedudukan hermeneutika dalam teori kritis sekolah
Frankfrut adalah berguna, namun parsial. Hal ini terjadi mengingat hermeneutik
merupakan langkah dari gagasan naturalisme dalam menemukan sumber makna
kehidupan bagi manusia. Hal ini jelas memberikan suatu pernyataan bahwa teori kritis
sekolah Frankfurt berkomitmen pada skeptisme total dan refleksi diri (Gandesha, 1992;
Gray, 2014; Kennedy, 1986).

c. Isi dan Domain dari Teori Kritis


Sekolah Frankfurt telah berusaha memenuhi aspirasinya sebagai sebuah pusat
pendidikan ilmu filsafat yang didasarkan pada kolaborasi dari pertentangan gagasan Marx
dan Hegel yakni memenuhi aspirasinya terhadap teori yang sekaligus bersifat bebas dan
adanya keterlibatan unsur kognitif dengan mengembangkan asumsi mengenai ranah sosial
pada teori kritis. Asumsi ini dikembangkan mengenai saling mendukungnya gagasan
“Legitimasi” dan “Ideologi” yang diungkapkan dengan menggunakan gagasan “referensi
diri”. Pada teori kritis, kedudukan “ideologi” memiliki fungsi untuk mengungkap
rasionalisasi yang salah yang kemudian menawarkan cara yang lebih mudah untuk
dilakukan dalam membangun ikatan sosial individu di dunia (Coradetti, 2013; Kennedy,
1986).
Menurut Kennedy (1986), sekolah Frankfurt menginspirasi terjadinya analisis sosial
yang seringkali tampak terlihat berkelanjutan dengan gambaran struktur sosial yang
diperkuat atau “dilegitimasi” oleh “ideologi”. Ada tiga elemen kunci yang terlibat dalam
teori kritis sekolah Frankfrut, diantaranya adalah (Kennedy, 1986):
1. Ideologi merupakan bentuk dari kesadaran dari sebuah teori
2. Elemen ini dikelola oleh aktor yang mengimplikasikan perbedaan antara diri
mereka sebagai aktor dan ideologi yang dimiliki. Meskipun begitu, adanya
perbedaan antara obyek dan subyek tetap dipertahankan.
3. Ideologi merupakan elemen yang berperan untuk merubah dan membatasi tindakan
dari gagasan yang dimiliki oleh para aktor.

Ideologi teori kritis fokus pada false consciousness atau kesadaran yang salah untuk
menghindari semakin besarnya perbedaan antara kepentingan proletar atau masyarakat
yang tidak berdaya atas kekuatan pemerintah dengan egoisme pribadi. Sehingga dapat
dikatakan bahwa ideologi dalam teori kritis dapat dipisahkan dari kesadaran yang
berarti bahwa ideologi dibutuhkan dalam proses berpikir para aktor, namun kedudukan
ideologi sendiri bukan sebagai keseluruhan bagian dari kepribadian dan kesadarannya.
Gagasan ini pada akhirnya menyebabkan sekolah Frankfurt lebih banyak menaruh
perhatian pada gagasan kesadaran yang salah dan berusaha memberikan langkah
antisipatif ataupun langkah alternatif yang lebih mungkin dilakukan oleh manusia
dalam menghadapi kesadaran yang salah tersebut. Dalam beberapa situasi terkait
dengan kemampuan membedakan kesadaran yang benar dengan yang salah, terkadang
orang lain mencari kondisi transendental sebagai sarana bagi mereka untuk mencari
makna dari kebebasan. Kondisi ini didukung dengan penemuan strukturalis linguistik,
antropologi maupun psikologi mengenai struktur internal kesadaran yang memiliki
kemungkinan berada di bawah ideologi (Coradetti, 2013; Kennedy, 1986).

Untuk mengembangkan gagasan dialektis dari dilema yang selama ini dialami oleh
sekolah Frankfurt, para ahli berusaha kembali pada klaim bahwa karya teoritis dapat
menjadi sebuah kebebasan sekaligus menjadi sebuah bentuk pengetahuan apabila kita
tetap berusaha bersikap kritis terhadap karya teoritis tersebut. Adapun gagasan teori
kritis bukan berfokus pada usaha untuk memahami dunia, melainkan berfokus pada
konfirmasi atau penjelasan mengenai kemungkinan terjadinya suatu peristiwa. Dalam
konteks ini, sekolah Frankfurt mungkin melakukan proses kritik secara berkelanjutan
secara terus menerus untuk mengungkapkan kesadaran yang bertindak dalam
kehidupan sosial dan mendorong pada terciptanya dialektika legitimasi yang dapat
memunculkan ciri-ciri liberalisme. Para teoritukus kritik juga merupakan ahli pertama
yang berusaha menganalisa pengaturan baru terhadap negara dan ekonomi dalam
membnetuk negara dengan paham kapitalisme. Pada sekolah Frankfurt untuk
menghindari terjadinya legitimasi reformist, maka digunakan sebuah pendekatan yang
langsung mengarahkan kekuatan kritik kepada teori kritis itu sendiri. Konsekuensinya
adalah teoritikus kritis akan mengembangkan sebuah hubungan terhadap teorinya yang
sangat berbeda dengan apa yang dimiliki oleh agen sosial terkait dengan ideologi yang
dimiliki (Kellner, 1993; Kennedy, 1986).

Pada perkembangannya, teori kritis selalu berusaha untuk menciptakan teorinya


sendiri. Saat ini, teori kritis telah menjadi kritik bagi gagasan dan permasalahan yang
ada pada post-modern. Di sisi lain, teori kritis memiliki tugas mengklarifikasi faktor
sosiopolitik tertentu yang menjelaskan batasan analisis dari suatu gagasan filosofis
tertentu. Lebih lanjut, ide gagasan, metode, serta tulisan yang disusun oleh teoritikus
kritis telah mempengaruhi cara sebagian filsuf untuk melanjutkan langkah mereka
dalam memandang interaksi antara teori, budaya dan masyarakat di kehidupan sosial.
Tidak jauh berbeda dengan klaim teori kritis mengenai kebebasan dan kognitif dari teori
kritis yang dihubungkan dengan sifat saling mendukung serta gambaran kepercayaan
sosial dan tindakan yang dihubungkan dengan gambaran teori kritik dalam mendukung
tuntutan ganda melalui mekanisme referensi diri, sekolah Frankfurt berusaha
menegaskan kembali sifat teori kritik sebagai teori yang bersifat kognitif dan
membebaskan yang berakibat pada berbagai komponen dari teori kritis yang terlihat
berhubungan dan saling mendukung satu sama lain, sehingga mampu mengatasi
perbedaan antara subyek dengan obyek atau teori dengan praktik yang menjadi sumber
dilema awal bagi sekolah Frankfurt dalam memandang filsafat sebagai suatu ilmu
(Coradetti, 2013; Kellner, 1993; Kennedy, 1986).
DAFTAR PUSTAKA

Banes, S. & Carrol, N. (2001). Theatre: Philosophy, theory, and criticism. Journal of Dramatic
Theory and Criticism, 16(1), 155-166.
Coradetti, C. (2013). The Frankfurt school and critical theory. The Internet Encyclopedia of
Philosophy.
Gandesha, S. (1992). Critical naturalism or naturalization of the social: A dialectical critique
of Roy Bhaskar’s philosophy of social science. In Problematique, 2, 22-33.
Gray, D. E. (2014). Doing research in the real world, 3rd Edition. United Kingdom: SAGE
Publications Ltd.
Kellner, D. (1993). Critical theory today: Revisiting the classics. Theory, Culture, and Society
(SAGE, London, Newbury Park and New Delhi), 10, 43-60.
Kennedy, D. W. (1986). Critical theory, structuralism, and Contemporary legal scholarship, 21
New Eng L. Rev. 209.
Raulet, G. (2008). The Frankfurt School’s critical theory: From Neo-Marxism to Post-Marxism.
Dalam Bidet, J. & Kouvelakis, S (Ed). Critical companion to contemporary Marxism.
Leiden: Brill.
Smith, S. B. (1987). Hegels’s idea of a critical theory. Political Theory, 15(1), 99-126
Sudarsan, P. (1998). Habermas and critical social theory. Indian Philosophical Quarterly,
25(11), 253-266.
Suyahmo. (2007). Filsafat dialektika Hegel: Relevansinya dengan Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945. Humaniora, 19(2), 143-150.
Taha, A., Zahra, A., & Al-khaoli, S. (2008). The Marxist approach to ideology: Marx and Hegel.
Tishreen University Journal for Research and Scientific Studies, 30(2), 235-245.