Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN DENGAN SELULITIS

Oleh :
AMINARSIH HUSMIN
NPM : 4118 140

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RAJAWALI
BANDUNG
2019
A. Konsep Medis
1. Definisi
Selulitis adalah peradangan akut terutama menyerang jaringan subkutis, biasanya
didahului luka atau trauma dengan penyebab tersering Streptokokus betahemolitikus
dan Stafilokokus aureus. Sellulitis adalah peradangan pada jaringan kulit yang mana
cenderung meluas kearah samping dan ke dalam (Herry, 1996).
Selulitis merupakan inflamasi jaringan subkutan dimana proses inflamasi, yang
umumnya dianggap sebagai penyebab adalah bakteri S.aureus dan atau
Streptococcus ( Arif Muttaqin, hal 68, 2011 ).
Selulitis merupakan suatu penyebaran infeksi bakteri ke dalam kulit dan jaringan
di bawah kulit. Infeksi dapat segera menyebar dan dapat masuk ke dalam pembuluh
getah bening dan aliran darah. Jika hal ini terjadi, infeksi bisa menyebar ke seluruh
tubuh.
Jadi selulitis adalah infeksi bakteri ke dalam kulit terutama menyerang jaringan
subkutan yang disebabkan oleh bakteri stapilokokus aureus dan streptokokus.

2. Klasifikasi
Selulitis dapat dibagi menjadi 3 yaitu selulitis sirkumskripta serous akut,
selulitis sirkumskripta supuratif akut dan selulitis difus akut.
a. Selulitis Sirkumskripta Serous Akut
Selulitis yang terbatas pada daerah tertentu yaitu satu atau dua spasia fasial,
yang tidak jelas batasnya.Infeksi bakteri mengandung serous, konsistensinya
sangat lunak dan spongius.Penamaannya berdasarkan ruang anatomi atau spasia
yang terlibat.
b. Selulitis Sikrumskripta Supuratif Akut
Prosesnya hampir sama dengan selulitis sirkumskripta serous akut, hanya
infeksi bakteri tersebut juga mengandung suppurasi yang purulen. Penamaan
berdasarkan spasia yang dikenainya. Jika terbentuk eksudat yang purulen,
mengindikasikan tubuh bertendensi membatasi penyebaran infeksi dan
mekanisme resistensi lokal tubuh dalam mengontrol infeksi.
c. Selulitis Difsus Akut
Selulitis difus yang paling sering dijumpai adalah Phlegmone / Angina
Ludwig’s . Angina Ludwig’s merupakan suatu selulitis difus yang mengenai
spasia sublingual, submental dan submandibular bilateral, kadang-kadang sampai
mengenai spasia pharingeal. Selulitis dimulai dari dasar mulut. Seringkali
bilateral, tetapi bila hanya mengenai satu sisi/ unilateral disebut Pseudophlegmon.

3. Anatomi Fisiologi

Kulit merupakan pembatas tubuh dengan lingkungan sekitar karena posisinya


yang terletak di bagian paling luar. Luas kulit dewasa 1,5 m2 dengan berat kira-kira
15% berat badan.
a. Anatomi Kulit
1) Lapisan Epidermis (kutikel)
Lapisan epidermis terdiri dari :
 Stratum Korneum (lapisan tanduk)
 Stratum Lusidum
 Stratum Granulosum (lapisan keratohialin)
 Stratum Spinosum (stratum Malphigi) atau prickle cell layer (lapisan
akanta)
 Stratum Basalis
 Sel kolumnar
 Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell
2) Lapisan Dermis (korium, kutis vera, true skin)
Terdiri dari lapisan elastik dan fibrosa pada dengan elemen-elemen selular
dan folikel rambut.
3) Lapisan Subkutis (hipodermis)
Lapisan paling dalam, terdiri dari jaringan ikat longgar berisi sel lemak
yang bulat, besar, dengan inti mendesak ke pinggir sitoplasma lemak yang
bertambah.

b. Fisiologi kulit
Kulit adalah lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar menutupi dan
melindungi permukaan tubuh.
Fungsi kulit :
1) Melindungi tubuh terhadap luka, mekanis, kimia dan termis karena epitelnya
dengan bantuan sekret kelenjar memberikan perlindungan terhadap kulit
2) Perlindungan terhadap kulit
3) Mempertahankan suhu tubuh dengan pertolongan sirkulasi darah
4) Mengatur keseimbangan cairan melalui sirkulasi kelenjar
5) Alat indera melalui persyarafan sensorik dan tekanan temperatur dan nyeri
6) Sebagai alat rangsangan rasa yang datang dari luar yang dibawa oleh saraf
sensorik dan motorik ke otak

4. Etiologi
Menurut Alpers Ann, (2006), penyebab selulitis antara lain Streptococcus grup
B, Haemophylus influenza, Pneumokokus, Staphylococcus aereus dan Streptococcus
grup A.
Meskipun ada beberapa bakteri yang dapat menyebabkab selulitis, penyebab
yang paling sering dijumpai adalah Staphylococcus dan Streptococcus,
(Medicastore, 2010).
Faktor yang memperparah perkembangan selulitis :
a. Usia
Semakin tua usia, kefektifan sistem sirkulasi dalam menghantarkan darah
berkurang pada bagian tubuh tertentu. Sehingga abrasi kulit potensi mengalami
infeksi seperti selulitis pada bagian yang sirkulasi darahnya memprihatinkan.
b. Melemahnya sistem immun (Immunodeficiency)
Dengan sistem immune yang melemah maka semakin mempermudah
terjadinya infeksi. Contoh pada penderita leukemia lymphotik kronis dan infeksi
HIV. Penggunaan obat pelemah immun (bagi orang yang baru transplantasi
organ) juga mempermudah infeksi.
c. Diabetes mellitus
Tidak hanya gula darah meningkat dalam darah namun juga mengurangi
sistem immun tubuh dan menambah resiko terinfeksi. Diabetes mengurangi
sirkulasi darah pada ekstremitas bawah dan potensial membuat luka pada kaki
dan menjadi jalan masuk bagi bakteri penginfeksi.
d. Cacar dan ruam saraf
Karena penyakit ini menimbulkan luka terbuka yang dapat menjadi jalan
masuk bakteri penginfeksi.
e. Pembangkakan kronis pada lengan dan tungkai (lymphedema)
Pembengkakan jaringan membuat kulit terbuka dan menjadi jalan masuk bagi
bakteri penginfeksi.
f. Infeksi jamur kronis pada telapak atau jari kaki
Infeksi jamur kaki juga dapat membuka celah kulit sehinggan menambah
resiko bakteri penginfeksi masuk
g. Penggunaan steroid kronik
Contohnya penggunaan corticosteroid.
h. Penyalahgunaan obat dan alcohol
Mengurangi sistem immun sehingga mempermudah bakteri penginfeksi
berkembang.
i. Malnutrisi
Selain pengaruh dari nutrisi yang buruk, lingkungan tropis, panas, banyak
debu dan kotoran, mempermudah timbulnya penyakit ini.
5. Patofisiologi
Invasi bakteri masuk melalui trauma, luka, gigitan serangga berinvasi
streptokokus dan staphylococcus aureus melalui barier epidermal yang rusak
menyerang kulit dan subkutan, masuk ke jaringan yang lebih dalam dan menyebar
secara sistemik yang menyebabkan terjadinya reaksi infeksi/inflamasi yang
merupakan respon dari tubuh sehingga muncul nyeri, pembengkakan kulit, lesi
kemerahan dan demam.
Bakteri pathogen yang menembus lapisan luar menimbulkan infeksi pada
permukaan kulit atau menimbulkan peradangan. Penyakit infeksi sering berjangkit
pada orang gemuk, rendah gizi, orang tua dan pada orang dengan diabetes mellitus
yang pengobatannya tidak adekuat.
Gambaran klinis eritema lokal pada kulit dan sistem vena serta limfatik pada
ke dua ekstremitas atas dan bawah. Pada pemeriksaan ditemukan kemerahan yang
karakteristi hangat, nyeri tekan, demam dan bakterimia.
Selulitis yang tidak berkomplikasi paling sering disebabkan oleh streptokokus
grup A, streptokokus lain atau staphilokokus aereus, kecuali jika luka yang terkait
berkembang bakterimia, etiologi microbial yang pasti sulit ditentukan, untuk abses
lokalisata yang mempunyai gejala sebagai lesi kultur pus atau bahan yang diaspirasi
diperlukan. Meskipun etiologi abses ini biasanya adalah stapilokokus, abses ini
kadang disebabkan oleh campuran bakteri aerob dan anaerob yang lebih kompleks.
Bau busuk dan pewarnaan gram pus menunjukkan adanya organisme campuran.

6. Manifestasi Klinis
Selulitis menyebabkan kemerahan atau peradangan yang terlokalisasi. Kulit
tampak merah, bengkak, licin disertai nyeri tekan dan teraba hangat. Ruam kulit
muncul secara tiba-tiba dan memiliki batas yang tegas. Bisa disertai memar dan
lepuhan-lepuhan kecil. Gejala lainnya adalah :
a. Demam
b. Nyeri kepala
c. Nyeri otot
d. Tidak enak badan
e. Malaise
f. Edema
g. Lesi
7. Pemeriksaan Penunjang
Jika sudah mengalami gejala seperti adanya tanda systemic, maka untuk
melakukan diagnosis membutuhkan penegakan diagnosis tersebut dengan
melakukan pemeriksaan lab seperti :
 Complete blood count, menunjukkan kenaikan jumlah leukosit dan rata-rata
sedimentasi eritrosit. Sehingga mengindikasikan adanya infeksi bakteri.
 BUN level.
 Creatinine level.
 Culture darah

8. Penatalaksanaan
Pengobatan yang tepat dapat mencegah penyebaran infeksi ke darah dan organ
lainnya. Diberikan penicillin atau obat sejenis penicillin (misalnya cloxacillin).
Jika infeksinya ringan, diberikan sediaan per-oral (ditelan). Biasanya sebelum
diberikan sediaan per-oral, terlebih dahulu diberikan suntikan antibiotik jika:
 Penderita berusia lanjut
 Selulitis menyebar dengan segera ke bagian tubuh lainnya
 Demam tinggi
Jika selulitis menyerang tungkai, sebaiknya tungkai dibiarkan dalam posisi
terangkat dan dikompres dingin untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan.

Pencegahan Selulitis :
Jika memiliki luka
a. Bersihkan luka setiap hari dengan sabun dan air
b. Oleskan antibiotic
c. Tutupi luka dengan perban
d. Sering-sering mengganti perban tersebut
e. Perhatikan jika ada tanda-tanda infeksi
Jika kulit masih normal
a. Lembabkan kulit secara teratur
b. Potong kuku jari tangan dan kaki secara hati-hati
c. Lindungi tangan dan kaki
d. Rawat secara tepat infeksi kulit pada bagian superficial
9. Pathway

Hambatan
mobilitas fisik

Lesi Kerusakan
integritas kulit

Kerusakan kulit

Trauma jaringan lunak

Resiko infeksi
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas Diri Klien
Meliputi tanggal pengkajian, ruangan, nama (inisial), nomor MR, umur,
pekerjaan, agama, jenis kelamin, alamat, tanggal masuk RS, alasan masuk RS,
cara masuk RS, penanggung jawab.
b. Riwayat Kesehatan
 Keluhan Utama
Biasanya pada klien dengan limfadenopati keluhan utamanya yaitu klien
mengatakan nyeri pada luka, terkadang disertai demam, menggigil dan
malaise.
 Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien mengalami luka pada bagian tubuh tertentu dengan
karakteristik berwarna merah, terasa lembut, bengkak, hangat, terasa nyeri,
kulit menegang dan mengilap.
 Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji penyebab luka pada pasien dan pernahkah sebelumnya mengidap
penyakit seperti ini, adakah alergi yang dimiliki dan riwayat pemakaian obat.
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Biasanya dikeluarga pasien terdapat riwayat mengidap penyakit selulitis
atau penyakit kulit lainnya.
c. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum Klien
 Tingkat kesadaran : Biasanya Composmentis
 Berat badan : Biasanya normal
 Tinggi badan : Biasanya normal
2) Tanda-Tanda Vital
 TD : Biasanya menurun (< 120/80mmHg)
 Nadi : Biasanya menurun (<90x/i)
 RR : Biasanya normal (18-24 x/i)
 Suhu : Biasanya meningkat (>37.5 °C)
3) Pemeriksaan Head to Toe
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi jaringan
b. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi
c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan turgor
d. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular, nyeri
e. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan adanya penyakit
f. Resiko infeksi

3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa NOC NIC
1. Nyeri akut Pain Management
berhubungan dengan  Pain level  Lakukan
inflamasi jaringan  Pain control comfort pengkajian nyeri
level secara
Kriteria Hasil : komprehensif
 Mampu mengontrol  Observasi reaksi
nyeri nonverbal dari
 Mampu mengenali ketidaknyamanan
nyeri  Gunakan teknik
 Mampu menggunakan komunikasi
teknik non teraupetik
farmakologi untuk  Evaluasi
mengurangi nyeri pengalaman nyeri
 Melaporkan bahwa masa lampau
nyeri berkurang  Ajarkan teknik
dengan menggunakan relaksasi
manajemen nyeri  Kolaborasi dengan
 Menyatakan rasa dokter dalam
nyaman setelah nyeri pemberian therapy
berkurang
2 Hipertermia  Thermoregulation Fever Treatment
Kriteria Hasil :  Pantau suhu sesering
berhubungan dengan  Suhu tubuh dalam mungkin
proses infeksi rentang normal  Pantau IWL
 Nadi dan RR normal  Pantau warna kulit
 Tidak ada perubahan dan suhu tubuh
warna kulit dan pusing  Kolaborasikan dalam
pemberian therapy

3. Kerusakan integritas  Tissue integrity Pressure Management


kulit berhubungan  Membranes  Anjurkan pasien
dengan perubahan  Hemodyalis akses menggunakan
turgor Kriteria Hasil : pakaian yang
 Integritas kulit yang longkar
baik bisa diperbaiki  Jaga kebersihan
 Tidak ada luka/lesi kulit agar tetap
pada kulit bersih
 Perfusi jaringan baik  Monitor kulit akan
adanya kemerahan

4 Hambatan mobilitas  Self care : ADLs Exchercise Therapy :


fisik berhubungan  Mobility level Ambulation
Kriteria Hasil :  Pantau TTV sebelum
dengan gangguan  Klien meningkat dalam dan sesudah latihan
neuromuskular, nyeri aktivitas fisik  Ajarkan pasien
 Mengierti tujuan dari tentang teknik
peningkatan mobilitas ambulasi
 Bantu untuk mobilisasi  Latih pasien dalam
(walker) memenuhi
kebutuhan ADLs
secara mandiri

5 Gangguan citra tubuh  Body image Nutrion Management


berhubungan dengan  Self esteem  Kaji secara verbal
adanya penyakit Kriteria Hasil : dan non verbal
 Body image positif respon klien
 Mampu terhadap tubuhnya
mengidentifikasi  Jelaskan tentang
kekuatan personal pengobatan,
 Tidak terjadi perawatan,
pengurangan berat kemajuan dan
badan yang berarti prognosis penyakit
 Dorong klien
mengungkapkan
perasaannya

5 Resiko infeksi  Immune status Infection control


 Knowledge: infection  Monitor tanda dan
control gejala infeksi
 Risk control sistemik dan lokal
Kriteria hasil:  Batasi pengunjung
 Klien bebas dari tanda  Inspeksi kulit dan
dan gejala infeksi membran mukosa
 Mendeskripsikan terhadap
proses penularan kemerahan, panas,
penyakit, factor yang drainase
mempengaruhi  Inspeksi kondisi
penularan serta luka
penatalaksanaannya  Instruksikan pasien
 Menunjukkan untuk minum
kemampuan untuk antibiotik sesuai
mencegah timbulnya resep
infeksi  Ajarkan cara
 Jumlah leukosit dalam menghindari
batas normal infeksi

4. Implementasi
Implementasi merupakan wujud nyata dari rencana keperawatan yang telah
dibuat sebelumnya.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan pengkajian sejauh mana pencapaian dari tindakan
keperawatan yang telah diberikan kepada pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Huda Amin Nurarif dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis NANDA & NIC NOC. Jogjakarta : Mediaction.
Heather T. Herdman & Shigemi Kamitsuru. 2015. Diagnosis Keperawatan : Definis
& Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10 Terjemahan Indonesia. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC
M. Gloria Bulechek, dkk. 2016. Nursing Intervention Classification (NIC). Singapore
: El Sevier.
Moorhead Sue, dkk. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC). Singapore : El
Sevier.