Anda di halaman 1dari 27

ANALISIS GERAK AYUNAN YANG DIPENGARUHI GAYA GESEKAN

YANG BERBANDING LURUS DENGAN KECEPATAN SUDUT

DENGAN MENGGUNAKAN TEORI BIFURKASI

Oleh :

ASTRI BUKIT

NIM : 4131230004

Program Studi Matematika

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar


Sarjana Sains

JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019

LEMBAR PENGESAHAN

i
Judul Skripsi :Analisis Gerak Ayunan yang Dipengaruhi Gaya Gesekan
yang Berbanding Lurus dengan Kecepat Sudut dengan
Menggunakan Teori Bifurkasi

Nama Mahasiswa : Astri Bukit

NIM : 4131230004

Program Studi : Matematika

Jurusan : Matematika

Menyetujui:

Dosen Pembimbing Skripsi,

Lasker P. Sinaga, S.Si , M.Si


NIP. 19790802 2000912 1002

Mengetahui

FMIPA UNIMED Jurusan Matematika


Dekan, Ketua,

Dr. Martina Restuati , MSi Dr.Pardomuan Sitompul, M.Si


NIP. 196303211988032002 NIP. 196710191992031003

Tanggal Lulus :

ii
RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Medan pada 5 Agustus 1995. Ayah bernama Birma Bukit dan ibu
Nurhayati Sembiring. Penulis memiliki satu saudara laki-laki dan dua saudara perempuan.
Pada tahun 2001, penulis memasuki jenjang pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri 165736
Tebing Tinggi dan lulus tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan
ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 2 Tebing Tinggi dan lulus
tahun 2010. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan
Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 4 Tebing Tinggi dan lulus tahun2013. Pada tahun
2013, penulis diterima di Universitas Negeri Medan Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, jurusan Matematika, Program Studi Matematika.

3
ANALISI GERAK AYUNAN YANG DIPENGARUHI GAYA GESEKAN YANG
BERBANDING LURUS DENGAN KECEPATAN SUDUT

DENGAN MENGGUNAKAN TEORI BIFURKASI

Oleh
Astri Bukit
(4131230004)

ABSTRAK
Gerak ayunan merupakan salah satu contoh model matematika. Pada penelitian ini, dilakukan
untuk mengetahui dinamika gerak ayunan dengan beberapa asumsi yang telah dibentuk
kemudian menentukan titik kesetimbangan, menganalisis kestabilan di sekitar titik
kesetimbangan serta menganalisis numerik (Forward Euler) dengan melakukan simulasi
menggunakan Matlab. Dari model gerak ayunan diperoleh dua titik kesetimbangan yaitu pada
titik 𝑂(0,0) dan 𝑃(𝜋, 0). Berdasarkan analisis yang dilakukan di sekitar titik kesetimbangan
kestabilan model gerak ayunan yang dilakukan di titik kritis adalah stabil asimtotik.
Selanjutnya, berdasarkan simulasi yang dibentuk dari model gerak ayunan dengan nilai awal
dan parameter yang diberikan dengan mengubah nilai parameter 𝑘 dan 𝜔 untuk menganalisis
bifurkasi dengan mengambil nilai parameter secara acak pada titik kesetimbangan 𝑂(0,0)
untuk 3 kondisi yaitu: pada kondisi 𝑘 < 2𝜔 diperoleh titik kesetimbangan spiral asimtotik,
pada kondisi 𝑘 = 2𝜔 diperoleh titik kesetimbangan stabil simpul, dan pada kondisi 𝑘 > 2𝜔
diperoleh titik kesetimbangan 𝑃(𝜋, 0) adalah pelana dan tak stabil. Untuk 𝑛 bilangan genap
maka titik kritis stabil dan tak stabil untuk 𝑛 ganjil.

Kata kunci: Model gerak ayunan, Sistem dinamik, Titik kesetimbangan, Bifurkasi dan
kriteria kestabilan, Forward Euler

4
Untuk yang terkasih:
Ayahanda Birma Bukit
dan
Ibunda Nurhayati Sembiring
Atas doa, kasih sayang dan perjuangan yang begitu besar

5
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus yang telah melimpahkan
segala berkat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
Analisis Ayunan yang Dipengaruhi Gaya Gesekan yang Berbanding Lurus dengan
Kecepatan Sudut dengan Menggunakan Teori Bifurkasi dengan baik dalam waktu yang
ditetapkan. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis menggucapkan terimakasih
kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Syamsul Gultom, S.Km, M.Kes selaku Rektor Universitas Negeri
Medan.
2. Ibu Dr. Martina Restuati, M.Si selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam.
3. Bapak Dr. Pardomuan Sitompul, M.Si selaku Ketua Jurusan Matematika Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan dan Bapak Lasker P.
Sinaga, S.Si, M.Si selaku Sekretaris Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan.
4. Ibu Dr. Hamidah Nasution, M.Si selaku Ketua Program Studi Matematika.
5. Bapak Lasker P. Sinaga, S.Si, M.Si selaku dosen Pembimbing Skripsi yang telah banyak
memotivasi dan membimbing penulis dalam pembuatan skripsi ini, serta membimbing
penulis juga dalam perkuliahan.
6. Bapak Dr. Pardomuan Sitompul, M.Si, Dr. Hamidah Nasution, M.Si, dan Bapak Tri
Andri Hutapea, S.Si, M.Sc., selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan
masukan dan saran dalam penyusunan skripsi ini.
7. Bapak Dr. Mulyono, M.Si selaku Dosen Pembimbing Akademik.
8. Pengawai Perpustakaan Universitas Negeri Medan, yang memberikan izin dan tempat
kepada penulis untuk melakukan penelitian.
9. Seluruh dosen dan staf pegawai administrasi Jurusan Matematika FMIPA Universitas
Negeri Medan yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini dan memberikan
bimbingan kepada penulis semenjak mengikuti perkuliahan.
10. Teristimewa kepada Ayahnda terkasi Birma Bukit dan Ibunda tercinta Nurhayati
Sembiring untuk semua kasih sayang, doa, ajaran, motivasi dan jerih payah sehingga
penulis dapat menyelesaikan studi.
6
11. Kepada abang, kakak, dan adik tercinta Aldri Bukit, Devi Bukit, dan Aprianli Bukit yang
memberikan dukungan kepada penulis.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa membalas semua yang telah diberikan Bapak/Ibu
serta saudara/i, kiranya kita tetap dalam lindungannya. Tulisan ini jauh dari kesempurnaan,
untuk itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan. Semoga tulisan ini
bermanfaat dan menambah wawasan bagi kita semua. Akhir kata, penulis ucapkan terima
kasih

Medan, Juli 2018

Penulis,

Astri Bukit

NIM. 4131230004

7
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................................. i


RIWAYAT HIDUP ............................................................................................................ 3
ABSTRAK.............................................................................................................................. 4
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ 6
DAFTAR ISI....................................................................................................................... 8
DAFTAR TABEL.................................................................Error! Bookmark not defined.
DAFTAR GAMBAR..................................................................Error! Bookmark not defined.
DAFTAR LAMPIRAN .........................................................Error! Bookmark not defined.
BAB I PENDAHULUAN .....................................................Error! Bookmark not defined.
1.1 Latar Belakang ......................................................Error! Bookmark not defined.
1.2 Rumusan Masalah .................................................Error! Bookmark not defined.
1.3 Batasan Masalah ...................................................Error! Bookmark not defined.
1.4 Tujuan Penelitian ..................................................Error! Bookmark not defined.
1.5 Manfaat Penelitian ................................................Error! Bookmark not defined.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..........................................Error! Bookmark not defined.
2.1 Distribusi ...............................................................Error! Bookmark not defined.
2.1.1 Definisi Distribusi .........................................Error! Bookmark not defined.
2.1.2 Saluran Distribusi..........................................Error! Bookmark not defined.
2.1.3 Saluran Distribusi Barang Konsumsi ............Error! Bookmark not defined.
2.2 Transportasi...........................................................Error! Bookmark not defined.
2.2.2 Fungsi-fungsi Dasar Manajemen Distribusi dam TransportasiError! Bookmark not
defined.
2.3 Travelling Salesman Problem (TSP) ....................Error! Bookmark not defined.
2.4 Vehicle Routing Problem ......................................Error! Bookmark not defined.
2.5 Capacited Vehicle Routing Problem .....................Error! Bookmark not defined.
2.6 Savings Heuristic ..................................................Error! Bookmark not defined.
2.7 PT. Expravet Nasuba ............................................Error! Bookmark not defined.
BAB III METODE PENELITIAN .......................................Error! Bookmark not defined.
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ...............................Error! Bookmark not defined.
3.2 Jenis Penelitian......................................................Error! Bookmark not defined.
3.3 Objek Penelitian ....................................................Error! Bookmark not defined.
3.4 Variabel Penelitian ................................................Error! Bookmark not defined.
8
3.5 Metode Pengumpulan Data ...................................Error! Bookmark not defined.
3.6 Kerangka Konseptual Penelitian ...........................Error! Bookmark not defined.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ..............................Error! Bookmark not defined.
4.1 Pola Distribusi di PT. Expravet Nasuba................Error! Bookmark not defined.
4.2 Pengumpulan Data ................................................Error! Bookmark not defined.
4.2.1 Data Daftar Nama dan Alamat Customers ....Error! Bookmark not defined.
4.2.2 Data Jumlah Permintaan ...............................Error! Bookmark not defined.
4.2.3 Data Sarana Proses Distribusi .......................Error! Bookmark not defined.
4.2.4 Data Jarak Customers....................................Error! Bookmark not defined.
4.3 Pengolahan Data ...................................................Error! Bookmark not defined.
4.4 Perbandingan Rute Awal dengan Rute Usulan .....Error! Bookmark not defined.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................Error! Bookmark not defined.
5.1 Kesimpulan ...........................................................Error! Bookmark not defined.
5.2 Saran .....................................................................Error! Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................Error! Bookmark not defined.
LAMPIRAN 1 .......................................................................Error! Bookmark not defined.
LAMPIRAN 2 .......................................................................Error! Bookmark not defined.
Daftar Jumlah Permintaan Customers...................................Error! Bookmark not defined.
LAMPIRAN 3 MATRIKS JARAK ......................................Error! Bookmark not defined.

9
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Matematika sebagai suatu ilmu pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari ilmu pengetahuan
lainnya, karena matematika senantiasa dapat dikaji dan dikembangkan agar dapat dimanfaatkan untuk
pengembangan ilmu-ilmu baik dibidang biologi, fisika, kimia, kedokteran maupun di bidang ilmu
sosial dan ekonomi. Di dalam peranannya terhadap ilmu-ilmu pengetahuan lainnya diperlukan suatu
pendekatan matematis yang biasanya disebut dengan model matematika (Lukmanto 2003).

Peranan matematika telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan
pengetahuan dan teknologi. Model matematika termasuk salah satu bagian dari perkembangan
tersebut. Pemodelan matematika merupakan salah satu cabang dari matematika teraoan yang cukup
penting dan bermanfaat. Banyak fenomena yang kalau dibawa ke dalam model matematika berbentuk
berupa persamaan diferensial biasa (PDB) maupun persamaan differensial parsial (PDP). Beberapa
fenomena antara lain gerak ayunan, sistem pegas atau gerak satelit. Model matematika yang sudah
tersusun dalam persamaan diferensial, diharapkan akan memperoleh solusi akhir yang tepat, valid,
dan dapat diterima secara ilmiah oleh dunia ilmu pengetahuan. Pada umumnya sistem dinamik yang
ditemukan dalam aplikasi matematika tidak hanya bergantung pada variabel, tetapi juga bergantung
pada parameter. Biasanya parameter tersebut mempengaruhi perilaku sistem. Jika perilaku dari sistem
secara kualitatif pada nilai parameter berbeda, maka sistem tersebut dikatakan mengalami gejala
bifurkasi. Bifurkasi adalah perubahan kestabilan suatu sistem terhadap titik ekuilibrium yang
diakibatkan oleh berubahnya nilai parameter pada titik kesetimbangan.

Ayunan sederhana merupakan salah satu contoh sistem yang melakukan gerak harmonik
sederhana dengan melakukan eksperimen pada bandul. Pada dasarnya percobaan dengan bandul ini
tidak terlepas dari getaran, dimana pengertian getaran itu sendiri adalah gerak bolak balik periodik
melalui titik kesetimbangan.

Sebuah ayunan sederhana terdiri dari sebuah bandul B bermassa m pada sepotong tongkat
yang ringan dan kaku sepanjang L, diikat pada bagian atasnya demikian sehingga sistem itu dapat
berayun pada bidang vertikal (lihat gambar 1.1). Bandul itu ditarik ke satu arah dan dilepaskan dari
keadaan diam pada saat 𝑡 = 0. Misalkan 𝜃(𝑡), merupakan perpindahan sudut, dalam radial, dari
tongkat dari kedudukan setimbang 𝑂𝐴 pada saat 𝑡. Sudut 𝜃(𝑡) adalah positif bila bandul berada di
sebelah kanan dari kedudukan setimbang dan negatif bila bandul ada di sebelah kiri. Dengan mengkaji
10
𝜃(𝑡) bila bandul berayun kembali dan bergerak sepanjang busur lingkaran 𝐶𝐶′. Dari keterangan ini
diketahui bahwa

𝜃(0) = 𝜃0 dan 𝜃(0) = 0

Dimana 𝜃(0) adalah perpindahan sudut awal dari tongkat dan 𝜃(0) = 0 sebab bandul dilepas
dari keadaan diam. Ada dua gaya bekerja pada bandul itu setiap saat 𝑡. Satu adalah gaya berat – 𝑚𝑔,
dimana 𝑚 adalah massa dari bandul dan 𝑔 adalah percepatan gravitasi. Gaya lain ialah tegangan 𝑇
dari tongkat (Finizio dan Ladas 1988).

Kecepatan sudut adalah besaran vektor (vektor semu) yang menyatakan frekuensi sudut suatu
benda dan sumbu putarnya. Satuan SI (Satuan Internasional) untuk kecepatan sudut adalah radian per
detik, meskipun dapat diukur pula menurut derajat per detik, derajat per jam, dan lain-lain. Ketika
diukur dalam putaran per waktu (misalnya rotasi per menit), kecepatan sudut sering dikatakan sebagai
kecepatan rotasi. Kecepatan sudut biasanya dinyatakan oleh simbol omega (Ω atau 𝜔). Arah vektor
kecepatan sudut adalah tegak lurus dengan bidang rotasi, dalam arah yang biasa disebut kaidah tangan
kanan.

Model dinamik gerak ayunan yang dipengaruhi gaya gesekan yang berbanding lurus dengan
kecepatan sudut dimodelkan dengan:

𝑑𝜃 2 𝑑𝜃
2
+𝑘 + 𝜔2 sin 𝜃 = 0, 𝑘 > 0
𝑑𝑡 𝑑𝑡

11
dengan:

𝜃 = sudut ayunan

𝑘= konstanta, dimana 𝑘 > 0

𝜔= kecepatan sudut

Dari model dinamik gerak ayunan yang dipengaruhi gaya gesekan yang berbanding lurus
dengan kecepatan sudut akan ditentukan tititk ekuilibrium kemudian dilakukan analisis kestabilan
pada titik ekuilibrium. Berdasarkan analisis tersebut akan diselidiki kemungkinan terjadinya bifurkasi
pada model dinamika gerak ayuan yang dipengaruhi gaya gesekan yang berbanding lurus dengan
kecepatan sudut berdasarkan karakteristik bifurkasinya.

Berkaitan dengan latar belakang tersebut, maka perlu dilakukan penelitian dalam mencari titik
kesetimbangan dan kestabilan dari model gerak ayunan yang dipengaruhi gaya gesekan yang
berbanding lurus dengan kecepatan sudut dengan menggunakan teori bifurkasi.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang diangkat dalam penelitian antara
lain:
1. Bagaimana analisis gerak ayunan yang dipengaruhi gaya gesekan yang berbanding lurus
dengan kecepatan sudut dengan menggunakan teori bifurkasi.
2. Bagaimana mengetahui perubahan kestabilan model oleh adanya perubahan parameter 𝑘
dan 𝜔.
1.3 Batasan Masalah
Penelitian ini difokuskan pada bifurkasi dari gerak ayunan yang dipengaruhi gaya gesekan
berbanding lurus dengan kecepatan sudut.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Menganalisis model gerak ayunan yang dipengaruhi gaya gesekan yang berbanding lurus
dengan kecepatan sudut dengan menggunaka teori bifurkasi.
2. Menunjukkan perubahan kestabilan model oleh adanya perubahan parameter 𝑘 dan 𝜔.
1.5 Manfaat Penelitian
Dengan diadakan penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat antara lain:
1. Bagi peneliti untuk menambah wawasan tentang analisis gerak ayunan yang berbanding
lurus dengan kecepatan sudut dengan menggunakan teori bifurkasi.
2. Bagi pembaca yang sedang menempuh mata kuliah menjadi salah satu bahan kajian
pembelajaran yang berhubungan dengan materi ini.
12
BAB II

Kajian Teori

2.1 Persamaan Diferensial

Persamaan diferensial merupakan cabang matematika yang banyak digunakan untuk menjelaskan
masalah-masalah fisis. Masalah-masalah fisis tersebut dimodelkan dalam bentuk persamaan
diferensial, baik linear maupun non-linear. Persamaan diferensial adalah persamaan yang memuat
turunan satu (atau beberapa) fungsi yang tidak diketahui.

Persamaan diferensial adalah persamaan yang melibatkan variabel-variabel tak bebas dan derivatifnya
terhadap variabel bebas.

Contoh 2.1.1.

𝑑𝑦
a. 𝑑𝑡
= 𝑒 𝑥 + sin(𝑥), disebut dengan persamaan diferensial linear orde satu

b. 𝑦" − 2𝑦′ + 𝑦 = cos(𝑥), disebut dengan persamaan diferensial linear orde dua tak homogen
𝜕2 𝑢 𝜕2 𝑢 𝜕𝑢
c. + = disebut dengan persamaan diferensial parsial
𝜕𝑥 2 𝜕𝑦 2 𝜕𝑡

Persamaan diferensial dibagi dalam dua kelas yaitu persamaan diferensial biasa dan
persamaan diferensial parsial. Persamaan diferensial biasa (ordinary diferential equation),
disingkat PDB, adalah suatu persamaan diferensial yang melibatkan hanya satu variabel bebas
(Nugroho 2011).
Definisi 2.1.1.(Finizio dan Ladas 1988)
Suatu persamaan diferensial biasa orde n adalah suatu yang dapat ditulis dalam bentuk
𝑦 (𝑛) = 𝐹(𝑥, 𝑦, 𝑦 ′ , … , 𝑦 (𝑛−1) dimana 𝑦, 𝑦 ′ , … , 𝑦 (𝑛) semua ditentukan nilainya oleh 𝑥.
Persamaan diferensial, dapat dibedakan menjadi dua bagian, antara lain:
Persamaan diferensial linear dan persamaan diferensial nonlinear.
Definisi 2.1.2. (Hediana dan Kusmana 2002)
Persamaan diferensial linear adalah persamaan diferensial yang berpangkat satu dalam
peubah bebas dan turun-turunannya, yaitu persamaan diferensial yang berbentuk:
𝑑𝑛 𝑦 𝑑𝑛−1 𝑦 𝑑𝑦
𝑎0 (𝑥) 𝑛−1
+ 𝑎𝑛−1 (𝑥) 𝑛−1
+ ⋯ + 𝑎1 + 𝑎0 (𝑥)𝑦 = 𝑓(𝑥)
𝑑𝑥 𝑑𝑥 𝑑𝑥
Diasumsikan bahwa 𝑎0 , 𝑎1 , … , 𝑎𝑛 dan fungsi 𝑓(𝑥) merupakan fungsi-fungsi yang kontinu
pada selang 𝐼 dan koefisien pertama 𝑎𝑛 (𝑥) ≠ 0 untuk setiap 𝑥 ∈ 𝐼.
Definisi 2.1.3. (Ross 2010)

13
Persamaan diferensial dikatakan nonlinear jika persamaan diferensial memenuhi paling
sedikit satu kriteria berikut:
1. Memuat variabel tak bebas dari turunan-turunannya berpangkat selain satu
2. Terdapat perkalian dari variabel tak bebas dan turunan-turunannya
3. Terdapat fungsi tresendental dari variabel tak bebas dan turunan-turunannya.

Definisi 2.1.4. (Perko 1991)

Suatu Sistem Persamaan Diferensial Linear dinyatakan sebagai

𝑥̇ = 𝐴𝑥

dimana 𝑥 ∈ ℝ𝑛 , 𝐴 adalah matriks 𝑛 × 𝑛 dengan

𝑑𝑥1
𝑑𝑥 𝑑𝑡
𝑥= = ⋮
𝑑𝑡 𝑑𝑥𝑛
[ 𝑑𝑡 ]

Ini menunjukkan bahwa solusi dari sistem linear 𝑥̇ = 𝐴𝑥 dengan kondisi awal 𝑥(0) = 𝑥0
diberikan oleh

𝑥(𝑡) = 𝑒 𝐴𝑡 𝑥0

dimana 𝑒 𝐴𝑡 adalah matriks 𝑛 × 𝑛 yang didefinisikan oleh Deret Taylor.

Sistem persamaan diferensial orde satu dengan 𝑛 fungsi tak diketahui, secara umum dapat
dituliskan sebagai:

Sistem persamaan diferensial orde satu dengan 𝑛 fungsi tak diketahui, secara umum dapat
dituliskan sebagai:

𝑑𝑥1
= 𝑓1 (𝑡, 𝑥1 , 𝑥2 … , 𝑥𝑛 )
𝑑𝑡

𝑑𝑥2
= 𝑓2 (𝑡, 𝑥1 , 𝑥2 … , 𝑥𝑛 )
𝑑𝑡

𝑑𝑥𝑛
= 𝑓𝑛 (𝑡, 𝑥1 , 𝑥2 … , 𝑥𝑛 )
𝑑𝑡

dengan 𝑓𝑖 adalah fungsi kontinu pada [𝑎, 𝑏], untuk 𝑖 = 1,2, … , 𝑛.

14
𝑑𝑥𝑗 (𝑡)
Penyelesaian persamaan (2.3) adalah 𝑛 fungsi 𝑥1 , 𝑥2 , … , 𝑥𝑛 sedemikian hingga 𝑑𝑡
=

𝑓1 (𝑡, 𝑥1 (𝑡), 𝑥2 (𝑡) … , 𝑥𝑛 (𝑡))

Secara umum, suatu sistem dari 𝑛 buah persamaan differensial biasa linear orde satu dapat
dituliskan dalam bentuk:

𝑑𝑥1
= 𝑎11 𝑥(𝑡) + ⋯ + 𝑎1𝑛 (𝑡)𝑥𝑛 + 𝑔1 (𝑡)
𝑑𝑡

𝑑𝑥2
= 𝑎21 𝑥(𝑡) + ⋯ + 𝑎2𝑛 (𝑡)𝑥𝑛 + 𝑔2 (𝑡)
𝑑𝑡

𝑑𝑥𝑛
= 𝑎𝑛1 𝑥(𝑡) + ⋯ + 𝑎𝑛𝑛 (𝑡)𝑥𝑛 + 𝑔𝑛 (𝑡)
𝑑𝑡

Sistem (2.4) dapat dituliskan dalam notasi matriks.

𝑑𝑥
= 𝑨(𝑡) + 𝒈(𝑡)
𝑑𝑡

dimana, 𝑨(𝑡) adalah matriks koefisien dari Ssitem (2.6). Jika fungsi g(t) bernilai nol untuk
setiap 𝑡, maka Sistem (2.6) disebut homogen; sebaliknya disebut non-homogen. Persamaan
(2.6) yang homogen dapat dituliskan kembali menjadi:

𝑑𝑥
= 𝑨(𝑡)𝑥
𝑑𝑡

Secara umum sistem persamaan differensial nonlinear dengan dua buah fungsi yang tak
diketahui berbentuk:

𝑑𝑥 𝑑𝑦
= 𝐹(𝑥, 𝑦), = 𝐺(𝑥, 𝑦),
𝑑𝑡 𝑑𝑡

Persamaan (2.6) juga disebut sistem autonomous. Sistem autonmous adalah sistem persamaan
differensial yang tidak bergantung secara eksplisit pada variabel bebas waktu (𝑡) (James dan
Boyce 2010).

2.2 Kestabilan di Titik Kritis (Kesetimbangan)


Diberikan sistem persamaan differensial:
𝑑𝑥
= 𝑓(𝑥, 𝑦)
𝑑𝑡

15
𝑑𝑦
= 𝑔(𝑥, 𝑦),
𝑑𝑡

Sebuah titik (𝑥̅0 , 𝑦̅0 ) merupakan titik ekuilibrium atau titik kritis dari sistem (2.5) jika
memenuhi 𝑓(𝑥̅0 , 𝑦̅0 ) = 0 dan 𝑔(𝑥̅0 , 𝑦̅0 ) = 0. Karena turunan suatu konstanta sama dengan
nol, maka sepasang fungsi konstan yaitu: 𝑥(𝑡) = 𝑥̅0 dan 𝑦(𝑡) = 𝑦̅(𝑡) adalah penyelesaian/
solusi kesetimbangan dari sistem (2.5) untuk semua 𝑡.

Definisi 2.2.1 (Olsder dan Woude 2003)

Diberikan sistem persamaan diferensial yang berbentuk:

𝑑𝑥
= 𝑥̇ = 𝑓(𝑥), 𝑥 ∈ ℝ𝑛
𝑑𝑡

Titik 𝑥 ∗ disebut titik kritis dalam persamaan (2.2), jika 𝑓(𝑥 ∗ ) = 0. Titik kritis disebut titik
tetap atau titik kesetimbangan.

Definisi 2.2.2. (Cain 2010)

Linierisasi merupakan suatu metode untuk menghampiri perilaku dari sistem nonlinear
dengan menganalisa perilaku sistem di sekitar titik kesetimbangan. Salah satu metode
linearisasi adalah metode ekspansi deret Taylor.

Diberikan sistem nonlinear

𝑥̇ 1 = 𝑓1 (𝑥1 , 𝑥2 … , 𝑥𝑛 )

𝑥̇ 2 = 𝑓2 (𝑡, 𝑥1 , 𝑥2 … , 𝑥𝑛 )

𝑥̇ 𝑛 = 𝑓𝑛 (𝑡, 𝑥1 , 𝑥2 … , 𝑥𝑛 )

Apabila sistem (2.11) mempunyai titik kesetimbangan (𝑥1∗ , 𝑥2∗ , … , 𝑥𝑛∗ ) ∈ ℝ𝑛 , maka
𝑓1 (𝑥1∗ , 𝑥2∗ , … , 𝑥𝑛∗ ) = 𝑓2 (𝑥1∗ , 𝑥2∗ , … , 𝑥𝑛∗ ) = ⋯ = 𝑓𝑛 (𝑥1∗ , 𝑥2∗ , … , 𝑥𝑛∗ ) = 0.

Untuk 𝑓𝑖 : ℝ𝑛 → ℝ dapat dituliskan dalam bentuk kompenen-kompenen fungsinya secara


lengkap, yaitu:

16
17
BAB III

Metodologi Penelitian

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Perpustakaan Universitas Negeri Medan selama dua bulan.

3.2 Jenis Penelitian


Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan
atau riset kepustakaan (library research) dan penelitian simulasi. Riset kepustakaan
atau sering juga disebut studi pustaka ialah serangkaian kegiatan yang berkenaan
dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah
bahan penelitian. Penelitian kepustakaan atau studi literatur yang mempunyai
relevansi dengan topik pembahasan. Penelitian simulasi merupakan bentuk penelitian
yang bertujuan untuk mencari gambaran melalui sebuah sistem berskala kecil atau
sederhana. Informasi untuk penelitian ini dikumpulkan dari buku referensi, jurnal,
serta definisi dan teorema yang berkaitan dengan topik pembahasan.
3.3 Prosedur Penelitian
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan teori-teori yang mendukung dalam penelitian.
2. Menyajikan model gerak ayunan yang dipengaruhi gaya gesekan yang
berbanding lurus dengan kecepatan sudut.
3. Menentukan titik kesetimbangan dari model dinamika gerak ayunan yang
dipengaruhi gaya gesekan yang berbanding lurus dengan kecepatan sudut.
4. Melakukan linearisasi dengan Matriks Jacobian, mendapat nilai eigen untuk
mengetahui jenis kestabilan lokal.
5. Menyelesaikan simulasi numerik pada sistem dan membangun suatu program
untuk membantu pengamatan analisis bifurkasi pada model gerak ayunan dengan
mengambil parameter yang bersesuaian dengan menggunakan sofware Matlab
dan menggunakan metode forward Euler.
6. Menarik kesimpulan.

18
Mulai

Studi Literatur

Analisa Model Gerak Ayunan

1. Menentukan variabel, parameter dan


asumsi-asumsi model.
2. Mencari titik kesetimbangan dari model.
3. Melakukan linerisasi dengan matriks
jacobian

Mengamati analisis bifurkasi pada model


dengan menggunakan program Matlab

Penarikan kesimpulan

Selesai

BAB IV
19
PEMBAHASAN DAN HASIL

4.1 Model Dinamika Gerak Ayunan

Pada umumnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi gerak ayunan yaitu, panjang
tali (𝑙), sudut ayunan (𝜃), percepatan gravitasi (𝑔), dan massa bandul (𝑚). Namun pada
penulisan ini, dibentuk asumsi-asumsi yang membatasi kasus gerak ayunan yang dipengaruhi
gaya gesekan yang berbanding lurus dengan kecepatan sudut. Dalam model matematika
gerak ayunan yang dipengaruhi gaya gesekan yang berbanding lurus dengan kecepatan sudut
𝜃 merupakan persamaan diferensial dengan bentuk

𝑑2 𝜃 𝑑𝜃
+ 𝑘 𝑑𝑡 + 𝜔2 sin 𝜃 = 0, 𝑘 > 0 (4.1)
𝑑𝑡 2

Keterangan model:

𝜃 = sudut ayunan

𝑘 = konstanta, dimana 𝑘 > 0

𝜔 = kecepatan sudut

4.2 Titik Kesetimbangan (Equilibrium)

Model dinamika gerak ayunan yang dipengaruhi gaya gesekan yang berbanding lurus
dengan kecepatan sudut akan memiliki titik setimbang apabila sistem tidak berubah pada
kondisi tertentu terhadap waktu. Model ayunan bergerak dipengaruhi oleh gaya gesekan yang
berbanding lurus dengan kecepatan sudut merupakan persamaan diferensial dengan bentuk
Persamaan (4.1).

Persamaan diferensial nonlinear (4.1) diubah menjadi sistem persamaan diferensial


𝑑𝜃
dengan memisalkan 𝑥 = 𝜃 dan = , yaitu
𝑑𝑡

𝑑𝑥
=𝑦
𝑑𝑡

𝑑𝑦
+ 𝑘𝑦 + 𝜔2 sin 𝑥 (4.2)
𝑑𝑡

20
atau persamaan dapat disederhanakan menjadi

𝑑𝑥
=𝑦
𝑑𝑡

𝑑𝑦 𝑑𝑦
= −𝑘𝑦 − 𝜔2 sin 𝑥 atau = −𝜔2 sin 𝑥 (4.3)
𝑑𝑡 𝑑𝑡

Suatu sistem dikatakan setimbang, apabila sistem tidak lagi berubah pada kondisi
tertentu terhadap waktu. Berdasarkan definisi (2.2.1), titik kesetimbangan Sistem (4.3) dapat
ditentukan dengan menentapkan laju 𝑥(𝑡) dan 𝑦(𝑡) sama dengan nol. Dengan memilih 𝑥 dan
𝑦 yang memenuhi kedua sistem tersebut, maka diperoleh titik kesetimbangan sebagai berikut

𝑑𝑥
=𝑦=0
𝑑𝑡

𝑑𝑦
= −𝜔2 sin 𝑥 = 0 (4.4)
𝑑𝑡

Sehingga diperoleh titik kesetimbangan dari Persamaan (4.4) yakni (0,0) dan (𝑛𝜋, 0) dengan
𝑛 ∈ 𝑍. Karena Sistem (4.3) merupakan sistem nonlinear, maka akan dilakukan sistem
disekitar titik kesetimbangan (equilibrum).

4.3 Linearisasi Sistem

Sistem (4.3) merupakan model sistem nonlinear. Menurut (Cain 2010), kestabilan titik
kesetimbangan dari sistem nonlinear dapat diselidiki dengan terlebih dahulu melakukan
linearisasi di sekitar titik kesetimbangan. Linearisasi tersebut menghasilkan matrik Jacobian
di titik kesetimbangan.

4.4 Matriks Jacobian

Sebelum penyelesaian dengan metode linearisasi, perlu ditentukan terlebih dahulu matriks
Jacobian di titik kesetimbangan. Matriks Jacobian dari Linearisasi tersebut adalah sebagai
berikut

𝜕𝑓1 (𝑥 ∗ ) 𝜕𝑓1 (𝑥 ∗ )
𝜕𝑥 𝜕𝑦
𝐽𝒇(𝑥 ∗ ) = [𝜕𝑓 (𝑥 ∗) 𝜕𝑓2 (𝑥 ∗ )
] (4.5)
2
𝜕𝑥 𝜕𝑦

21
Didapatkan matriks Jacobian dari sistem tersebut:

0 1
𝐽=[ ] (4.6)
−𝜔2 cos 𝑥 −𝜆

a. Matriks Jacobian pada titik kesetimbangan 𝑥 ∗ = (0,0) adalah:

0 1
𝐽=[ ] (4.7)
−𝜔2 −𝜆

Dengan menyelesaikan Persamaan (4.4) diperoleh 𝑥 = 𝜃 = 0, ±𝜋, ±2𝜋, ±3𝜋, … sehingga


titik kritisnya adalah

… , (2𝜋, 0), (−𝜋, 0), (0,0), (𝜋, 0), (2𝜋, 0), …

Memahami sin 𝑥 adalah fungsi periodik maka cukup dipelajari (0,0), (𝜋, 0) saja. Untuk (0,0)
maka ekspansi deret Taylor disekitar 𝑥 = 0 adalah

𝑥3 𝑥5
sin 𝑥 = 𝑥 − + −⋯
3! 5!

Sehingga Persamaan (4.4) dapat menghampiri sistem linier

𝑑𝑥
=𝑦
𝑑𝑡

𝑑𝑦
= 𝜔2 𝑥 (4.8)
𝑑𝑡

Dengan demikian persamaan karakteristik (4.5) adalah 𝜆2 + 𝜔2 = 0 dengan akar-akar 𝜆1.2 =


±𝜔𝑖. Menurut tabel (2.1) maka titik kritis (0,0) adalah stabil pusat untuk sistem (4.5) dan
merupakan titik pusat atau fokus untuk sistem (4.4). Panah pada trayektori menunjukkan
arah perputaran jarum jam karena persamaan pertama dalam (4.5) yaitu 𝑥 membesar bila 𝑦
positif. Analog dengan ini sitem (4.4) juga mempunyai titik kritis pada (2𝜋𝑛, 0) untuk 𝑛 =
±1, ±2, …

Selanjutnya dikaji titik kritis (𝑛𝜋, 0). Ekspansi deret Taylor untuk sin 𝑥disekitar 𝑥 = 𝜋
diberikan oleh

(𝑥 − 𝜋)3 (𝑥 − 𝜋)5
sin 𝑥 = − (𝑥 − 𝜋) + − +⋯
3! 5!

Jadi sistem yang dilinearkan berbentuk


22
𝑑𝑥
=𝑦
𝑑𝑡
𝑑𝑦
= 𝜔2 (𝑥 − 𝜋) (4.9)
𝑑𝑡

Dan mempunyai titik kritis pada (𝜋, 0). Titik kritis dapat dipetakan ke (0,0) dengan
memisahkan 𝑣 = 𝑥 − 𝜋 sehingga menjadi

𝑑𝑣
=𝑦
𝑑𝑡
𝑑𝑦
= 𝜔2 𝑣 (4.10)
𝑑𝑡

Persamaan karakteristiknya adalah 𝜆1.2 = ±𝜔. Karena akar-akarnya riel dan tandanya
berlawanan, maka titik kritis (0,0) merupakan titik plana oleh karena itu merupakan titik
kesetimbangan takstabil dari (). Sebagai imlikasinya, titik kritis (𝜋, 0) juga merupakan titik
plana dan karena itu merupakan titik kesetimbangan takstabil dari sistem yang dilinierkan ().
Selanjutnya menurut tabel (2.1), diperoleh kenyataan bahwa karena (𝜋, 0) merupakan titik
plana maka titik ini merupakan titik kesetimbangan stabil dari sistem (4.4). Sistem ini juga
akan mempunyai sebuah titik plana pada titik ((2𝑛 + 1)𝜋, 0) untuk = ±1, ±2, … .

b. Matriks Jacobian pada titik kesetimbangan 𝑥 ∗ = (𝑛𝜋, 0)


0 1
𝐽=[ 2 ] (4.11)
−𝜔 cos 𝑛𝑥 −𝜆

Dari titik kritis (𝑛𝜋, 0) bergantung pada apakah n genap atau ganjil

 Untuk kasus Genap

Jika 𝑛 = 2𝑚 adalah bilangan bulat genap, maka cos 𝑛𝜋 = ±1. Jadi persamaan (4.6)
menghasilkan matriks

0 1
𝐽(2𝑚𝜋, 0) = [ 2 ] (4.12)
−𝜔 −𝜆
 Untuk kasus Ganjil

Jika 𝑛 = 2𝑚 + 1 adalah bilangan bulat ganjil, maka cos 𝑛𝜋 = ±1. Jadi persamaan (4.6)
menghasilkan matriks

0 1
𝐽(2𝑚𝜋 + 1,0) = [ ] (4.13)
𝜔2 −𝜆

23
Secara eksplit juga dapat menurunkan persamaan trayektori Persamaan (4.4). Dengan
menggabungkan kedua persamaan itu, yaitu

𝑑𝑦 𝑑𝑦/𝑑𝑡 −𝜔 2 sin 𝑥
= 𝑑𝑥/𝑑𝑡 = (4.14)
𝑑𝑥 𝑦

Penyelesaian umum dari persamaan dengan memisahkan peubah 𝑥 dan 𝑦.

𝑦𝑑𝑦 + 𝜔2 sin 𝑥 𝑑𝑥 = 0 (4.15)

Kemudian mengintegralkan dari 𝑥 = 0 ke 𝑥 = 𝑥 sehingga

1
𝑦 2 + 𝜔2 (1 − cos 𝑥) = 𝑐 (4.16) Dimana 𝑐
2

suatu konstanta integrasi. Untuk menggambarkan potret fase, adalah tepat sekali untuk
menyatakan 𝑐 dalam syarat awal. Dengan memisahkan bahwa 𝑦 = 𝑦0 bila 𝑥 = 0. Maka dari
Persamaan (4.12) didapatkan bahwa

1
𝑐 = 2 𝑦02 − 𝜔2

1 1
𝑦 2 − 𝜔2 cos 𝑥 = 2 𝑦02 − 𝜔2
2

𝑦 2 + 2𝜔2 (1 − cos 𝑥) = 𝑦02

𝑥
𝑦 2 + 4𝜔2 𝑠𝑖𝑛2 2 = 𝑦02 (4.17)

4.4 Analisis Kestabilan di titik Kesetimbangan


4.4.1 Analisis Stabilitas di titik kritis 𝑶(𝟎, 𝟎)

Dari persamaan matriks (4.7) diperoleh nilai eigen sebagai berikut

−𝑘 √𝑘 2 −4𝜔
𝜆1.2 = 2
± 2
(4.18)

Solusi 𝑥(𝑡) dan 𝑦(𝑡) dari sistem (4.7) berdasarkan nilai eigen (4.10) masing-masing
dituliskan sebagai berikut:

−𝑘 √𝑘2 −4𝜔 −𝑘 √𝑘2 −4𝜔


( + )𝑡 ( − )𝑡
2 2 2 2
𝑥(𝑡) = 𝐶1 𝑒 + 𝐶2 𝑒 (4.19)

−𝑘 √𝑘2 −4𝜔 −𝑘 √𝑘2 −4𝜔


−𝑘 √𝑘 2 −4𝜔 ( + )𝑡 −𝑘 √𝑘 2 −4𝜔 ( − )𝑡
2 2 2 2
𝑦(𝑡) = ( 2 + 2
) 𝐶1 𝑒 +(2 − 2
) 𝐶2 𝑒 (4.20)

24
Berdasakan nilai-nilai eigen pada persamaa (4.10) di atas, dapat dikaji tiga kondisi
berdasarkan √𝑘 2 − 4𝜔 selanjutnya dijelaskan sebagai berikut:

1. Kondisi √𝑘 2 − 4𝜔 = 0
−𝑘
Apabila nilai √𝑘 2 − 4𝜔 = 0, maka diperoleh nilai eigen sistem (4.7) 𝜆1 = 𝜆2 = .
2
−𝑘
Dengan mengingat bahwa 𝑘 > 0, maka < 0. Berdasarkan hal tersebut solusi
2

matematis 𝑥(𝑡) dan 𝑦(𝑡) berdasarkan kondisi 1 ini dapat dituliskan sebagai berikut

−𝑘 −𝑘
𝑥(𝑡) = 𝐶1 𝑒 2 𝑡 + 𝐶2 𝑡𝑒 2 𝑡 (4.21)
−𝑘 −𝑘 −𝑘
−𝑘 −𝑘
𝑦(𝑡) = 𝐶1 𝑒 2 𝑡 + 𝐶2 𝑡𝑒 2 𝑡 + 𝑡𝐶2 𝑒 2 𝑡 (4.22)
2 2

Dengan syarat awal 𝑥(0) = 𝑥10 dan 𝑦(0) = 𝑦10 , maka solusi (4.21) dan (4.22) masing-
masing dapat dituliskan kembali sebagai berikut

−𝑘 −𝑘 −𝑘
𝑘
𝑥(𝑡) = 𝑥10 (𝑒 2 𝑡 + 2 𝑡𝑒 2 𝑡 ) + 𝑦10 𝑡𝑒 2 𝑡 (4.23)

−𝑘 −𝑘 −𝑘
𝑘2 𝑘
𝑦(𝑡) = − 𝑡𝑒 2 𝑡 𝑥10 + (𝑒 2 𝑡 − 2 𝑡𝑒 2 𝑡 ) 𝑦10 (4.24)
4

Lebih lanjut berdasarkan solusi (4.23) dan (4.24) akan ditentukan waktu agar ayunan berada
pada titik nol dan waktu agar ayunan berada pada titik nol dan waktu ketika tidak terdapat
𝑥10 𝑦10
perubahan kecepatan ayuanan adalah 𝑡1 = −𝑘 dan 𝑡1 = 𝑘2 𝑘
. Masing-masing nilai
𝑥10 −𝑦10 + 𝑦10
2 4 2

−𝑘 𝑘2 𝑘
𝑡1 dan 𝑡2 akan ada apabila 𝑥10 > 𝑦10 dan 𝑥10 > − 2 𝑦10 .
2 4

2. Kondisi √𝑘 2 − 4𝜔 > 0

−𝑘 √𝑘 2 −4𝜔
Apabila nilai √𝑘 2 − 4𝜔 > 0, maka diperoleh nilai eigen sistem (4.7) 𝜆1 = + dan
2 2

−𝑘 √𝑘 2 −4𝜔
𝜆2 = − dengan 𝜆2 < 𝜆1 < 0. Berdasarkan hal tersebut solusi matematis 𝑥(𝑡) dan
2 2

𝑦(𝑡) berdasarkan kondisi 2 ditunjukkan dengan persamaan (4.19) dan (4.20) . Dengan syarat
awal 𝑥(0) = 𝑥10 dan 𝑦(0) = 𝑦10 , maka solusi (4.19) dan (4.20) masing-masing dapat
dituliskan kembali sebagai berikut

25
1
𝑥(𝑡) = 𝜆 [(𝜆2 𝑥10 − 𝑦10 )𝑒 𝜆2 𝑡 + (𝑦10 − 𝜆1 𝑥10 )𝑒 𝜆2 𝑡 ] (4.25)
2 −𝜆1

1
𝑦(𝑡) = 𝜆 [(𝜆1 𝜆2 𝑒 𝜆1 𝑡 − 𝜆1 𝜆2 𝑒 𝜆2 𝑡 )𝑥10 + (𝜆2 𝑒 𝜆1 𝑡 − 𝜆1 𝑒 𝜆1 𝑡 )𝑦10 ] (4.26)
2 −𝜆1

Lebih lanjut berdasarkan solusi (4.25) dan (4.26) waktu agar ayunan berada pada titik nol dan
1 𝜆 𝑥 −𝑦
waktu ketika tidak terdapat perubahan kecepatan ayunan adalah 𝑡1 = 𝜆 ln (𝜆2 𝑥10 −𝑦10 ) dan
2 −𝜆1 1 10 10

1 𝜆 𝜆 𝑥 −𝜆 𝑦 𝜆 𝑥 −𝑦
𝑡1 = 𝜆 ln (𝜆1 𝜆2 𝑥10 −𝜆1 𝑦10 ). Kedua waktu 𝑡1 dan 𝑡2 akan ada apabila 𝜆2 𝑥10 −𝑦10 > 1 dan
2 −𝜆1 1 1 10 1 10 1 10 10

𝜆1 𝜆2 𝑥10 −𝜆1 𝑦10


> 1.
𝜆1 𝜆1 𝑥10 −𝜆1 𝑦10

3. Kondisi √𝑘 2 − 4𝜔 < 0

Apabila nilai √𝑘 2 − 4𝜔 < 0, maka diperoleh nilai eigen sistem (4.7) adalah imajiner yakni
−𝑘 √𝑘 2 −4𝜔
𝜆1 = 𝛼 + 𝑖𝛽 dan 𝜆2 = 𝛼 − 𝑖𝛽 dengan 𝛼 = dan 𝛽 = . Berdasarkan hal tersebut
2 2

solusi matematis 𝑥(𝑡) dan 𝑦(𝑡) dengan syarat awal 𝑥(0) = 𝑥10 dan 𝑦(0) = 𝑦10 berdasarkan
kondisi 3dituliskan kembali sebagai berikut

𝛼𝑒 𝛼 𝑒𝛼
𝑥(𝑡) = −𝑥10 sin 𝛽𝑡 + 𝑦10 sin 𝛽𝑡 (4.27)
𝛽 𝛽

(𝛼2 +𝛽 2 )𝑒 𝛼 𝑒𝛼
𝑦(𝑡) = −𝑥10 sin 𝛽𝑡 + 𝑦10 (𝛼 sin 𝛽𝑡 + 𝛽 cos 𝛽𝑡) (4.28)
𝛽 𝛽

Lebih lanjut berdasarkan solusi (4.27) dan (4.28) waktu agar ayunan berada pada titik nol dan
1 −𝛽𝑥10
waktu ketika tidak terdapat perubahan kecepatan ayunan adalah 𝑡1 = 𝛽 arctan (𝑦 ) dan
10 −𝛼𝑥10

1 10 𝛽𝑦 −𝛽𝑥10
𝑡2 = 𝛽 arctan (𝛼2 +𝛽2)𝑥 . Kedua waktu 𝑡1 dan 𝑡2 akan ada apabila periode 𝑦 dan
10 −𝛼 10 −𝛼𝑥10

𝛽𝑦10 𝜋
(𝛼 +𝛽 2 )𝑥10 −𝛼
2
bukan 2 atau kelipatannya.

26
27