Anda di halaman 1dari 16

PANDUAN PENGELOLAAN PERALATAN MEDIS

RUMAH SAKIT ISLAM GIGI DAN MULUT SULTAN AGUNG

RSIGM SULTAN AGUNG SEMARANG


JL. RAYA KALIGAWE KM 4 SEMARANG 50112 TELP. (024) 6581803
email : rsigm@unissula.ac.id web : rsigm.unissula.ac.id

2019
KEPUTUSAN
DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM GIGI DAN MULUT SULTAN AGUNG
Nomor : 70/E/MFK/RSIGM-SA/I/2019

TENTANG
PANDUAN PENGELOLAAN PERALATAN MEDIS

DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM GIGI DAN MULUT SULTAN AGUNG

Menimbang : a. Bahwa dalam upaya mutu di RSIGM Sultan Agung, maka


diperlukan adanya Panduan Pengelolaan Peralatan Medis;
b. Sehubungan hal tersebut di atas perlu ditetapkan Panduan
Pengelolaan Peralatan Medis di RSIGM Sultan Agung dengan
keputusan direktur RSIGM Sultan Agung.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1970


tentang Keselamatan Kerja;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran;
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan;
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009
tentang Rumah Sakit;
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2014
tentang Tenaga Kesehatan;
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun
2015 tentang Pengujian Kalibrasi Alat Kesehatan;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 66
tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah
Sakit;
8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34
tahun 2017 tentang Akreditasi Rumah Sakit.
9. STATUTA UNISSULA tahun 2011.
MEMUTUSKAN:

Menetapkan :
Kesatu : Penetapan Panduan Pengelolaan Peralatan Medis di RSIGM Sultan
Agung sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini;
Kedua : Memberikan panduan pengelolaan peralatan medis di RSIGM
Sultan Agung merupakan acuan bagi seluruh petugas dalam
menyelenggarakan pelayan di lingkungan RSIGM Sultan Agung
sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.;
Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila di
kemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan
sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Semarang
Pada Tanggal : 4 Januari 2019

Direktur

drg. H. Benni Benyamin, M. Biotech


NIK. 211008002
d
r
g
.

H
.

B
e
n
n
i

B
e
n
y
a
m
i
n
,
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...................................................................................................................................4
BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................................................5
A. LATAR BELAKANG .........................................................................................................5
B. TUJUAN ..............................................................................................................................6
C. PENGERTIAN ....................................................................................................................7
BAB II RUANG LINGKUP ...........................................................................................................8
BAB III KEBIJAKAN ....................................................................................................................9
BAB IV TATA LAKSANA .........................................................................................................10
BAB V DOKUMENTASI ............................................................................................................14
Lampiran : Keputusan Direktur RSIGM Sultan Agung
Nomor : 70/E/MFK/RSIGM-SA/I/2019
Tanggal : 4 Januari 2019

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Bismilahirrahmanirrohim
Sungguh Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Q.S.
At Tin[95]: 4) dengan tujuan utama untuk mengabdi kepada-Nya (Q.S. Adz Dzaariyat [51]:
56) dalam kedudukan yang sangat mulia sebagai Khalifah Allah di dunia (Q.S. Al Baqarah
[2]: 30) dan sebagai pemakmur bumi Allah (Q.S. Hud [11]: 60). Dalam rangka mewujudkan
tujuan dan fungsi di atas, manusia dibekali pedoman utama berupa agama Islam yang
sempurna (Q.S. Al Maidah [5]: 3), ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa (Q.S Al Baqarah
[2]: 247). Manusia dijanjikan Allah akan diangkat derajatnya lebih tinggi jika memiliki iman
dan memiliki ilmu pengetahuan (Q.S. Al Mujaadalah [58]: 11), serta melaksanakannya sesuai
dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW
Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBW-SA) sebagai satu lembaga yang lahir di
tengah momentum kemerdekaan dan semangat perjuangan serta didirikan atas dasar nilai-
nilai Islam merasa terpanggil untuk berpartisipasi aktif dalam menunjang program
pemerintah di bidang peningkatan pendidikan, pelayanan kesehatan dan kesejahteraan sosial
sebagai sarana dakwah. Berpijak pada landasan di atas, YBW-SA berkomitmen untuk
mendirikan Rumah Sakit Islam Gigi dan Mulut Sultan Agung (RSIGM-SA) agar dapat
melaksanakan fungsinya sebagai tempat pelayanan kesehatan gigi dan mulut juga sebagai
tempat pendidikan untuk menghasilkan generasi khaira ummah dalam lingkungan budaya
akademik Islami. Gedung RSIGM Sultan Agung terdiri atas 5 lantai terletak di Jalan Raya
Kaligawe Km 4 Semarang, Secara geografis RSIGM Sultan Agung terletak di Semarang
bagian utara bersebelahan dengan wilayah Kabupaten Demak, Kabupaten Kudus serta
Kabupaten Jepara sehingga pasien yang datang tidak hanya dari wilayah Semarang saja
namun juga dari daerah disekitar Semarang tersebut. Rumah Sakit Islam Gigi dan Mulut
Sultan Agung ( RSIGM SA ) adalah milik Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA)
dengan tata kelola di bawah Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), dengan Visi
RSIGM Sultan Agung adalah Rumah Sakit Islam Gigi dan Mulut Sultan Agung terkemuka
dalam pelayanan kesehatan gigi dan mulut, pelayanan pendidikan membangun generasi
khaira ummah dan pengembangkan peradaban Islam menuju masyarakat sejahtera yang
dirahmati Allah. Adapun Misi RSIGM Sultan Agung adalah :
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut mulai dari tingkat dasar sampai
spesialistik atas dasar nila-nilai Islam.
2. Menyelenggarakan pendidikan, penelitian, berbasis evidence based dentistry dalam
rangka membangun generasi khaira ummah.
3. Mengembangkan peradaban Islam dalam bidang pelayanan kesehatan gigi dan mulut
menuju masyarakat sejahtera yang dirahmati Allah
4. Mengembangkan pusat informasi masyarakat tentang perkembangan kesehatan gigi dan
mulut sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Peralatan kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan
pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit maupun di fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
Guna mencapai kondisi maupun fungsi peralatan kesehatan yang baik serta dapat mendukung
pelayanan kesehatan maka perlu adanya pengelolaan peralatan kesehatan yang terpadu.
Rumah Sakit Islam Gigi dan Mulut Sultan Agung sebagai salah satu rumah sakit yang
memiliki berbagai alat medik terbaru memiliki berbagai tantangan. Pertama, adalah di pihak
pengguna teknologi, karena alat canggih tanpa disertai kemampuan memanfaatkan teknologi
ini akan menyebabkan under utilization. Kedua, penggunaan alat canggih tanpa disertai
pemeliharaan alat oleh tenaga yang terlatih akan berakibat pada kekurang akuratan hasil kerja
alat medik, yang dapat berdampak katastrofik pada pasien. Ketiga, pemakaian alat tanpa
disertai pengetahuan dan keterampilan memakai akan memperpendek usia pakai alat medik
tersebut sehingga nilai ekonomis dan alat tersebut tidak dapat dirasakan baik dari pihak pasien
maupun dari pihak Rumah Sakit Islam Gigi dan Mulut Sultan Agung.
Pedoman ini diharapkan dapat memberikan arahan dalam pengelolaan peralatan
kesehatan di RSIGM Sultan Agung sehingga dapat melaksanakan pelayanan kesehatan secara
efektif dan efisien yang sesuai dengan kebutuhan layanan kesehatan kepada masyarakat serta
memenuhi kaidah dan standar sebagai pedoman peralatan kesehatan yang baik dan benar.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Sebagai acuan dalam penyusunan kebijakan dan prosedur di bidang proses pengelolaan
alat medik yang efektif dan efisien sehingga RSIGM Sultan Agung dapat menyediakan alat
medik yang selalu dalam kondisi siap pakai, dan dapat membantu proses diagnostik dan
terapi pasien secara lebih baik.
2. Tujuan Khusus
a. Memastikan setiap perencanaan, dalam program pengelolaan peralatan medik di
RSIGM Sultan Agung yang mencakup pengadaan, uji fungsi, pemeliharaan fisik,
inspeksi, kalibrasi, adjusment sampai ke over houl dapat berjalan dengan baik dan tepat
b. Terselenggaranya proses pengadaan alat medik yang mampu menyediakan alat medik
sesuai dengan kebutuhan rumah sakit.
c. Terselenggaranya proses pemeliharaan (preventive maintennance) alat medik yang
mampu menjamin hasil yang akurat dan sebagai hasil akhir adalah penanganan pasien
yang Iebih baik.
d. Jumlah kerusakan alat serendah mungkin, baik yang disebabkan karena pemeliharaan
yang kurang baik atau penggunaan yang tidak tepat prosedur.
e. Tercapainya tingkat penggunaan alat medik dengan optimal, tidak underutilization
f. Terselenggaranya proses pemakaian alat medik yang aman untuk pasien, pengguna dan
segala pihak yang berkaitan dengan pengelolaan alat medik tersebut

C. PENGERTIAN
Peralatan medis adalah instrumen, apparatus, mesin dan/atau implan yang tidak
mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan
meringankan penyakit, merawat orang sakit, memulihkan kesehatan pada manusia, dan/atau
membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh
BAB II
RUANG LINGKUP

Semua peralatan medis perlu dilakukan pemeliharaan berkala, sehingga alat dapat
berfungsi dengan baik dan mengurangi kecelakaan kerja. Ruang lingkup panduan pengelolaan
peralatan medis adalah semua peralatan medis yang ada di semua unit RSIGM Sultan Agung.
BAB III
KEBIJAKAN

A. KEBIJAKAN UMUM
RSIGM Sultan Agung merencanakan dan mengimplementasikan program untuk
pemeriksaan, uji coba dan pemeliharaan peralatan medis dan mendokumentasikan hasilnya.

B. KEBIJAKAN KHUSUS
Untuk menjamin peralatan medis dapat digunakan dan layak pakai, maka RSIGM Sultan
Agung perlu melakukan :
1. Inventarisasi peralatan medis yang meliputi peralatan medis yang dimiliki RS, peralatan
medis kerja sama operasional (KSO) milik pihak lain.
2. Melakukan pemeriksaan peralatan medis secara teratur.
3. Melakukan uji fungsi peralatan medis sesuai penggunaan dan ketentuan pabrik.
4. Melaksanakan pemeliharaan preventif dan kalibrasi.
BAB IV
TATA LAKSANA

1. Perencanaan dan Pengadaan Peralatan Kesehatan


a. Dalam kegiatan Perencanaan dan Pengadaan Peralatan kesehatan, staf medis
pelayanan mengajukan usulan kebutuhan pengadaan alat kesehatan
b. Staf pelayanan medis (Penanggung jawab unit, kepala keperawatan, Kepala bidang
penunjang medis) bersama staf medis yang mengusulkan melakukan analisa kebutuhan
alat kesehatan tersebut (kebutuhan/perkiraan jumlah pasien, spesifikasi alat, evaluasi
penggunaan alat sebelumnya)
c. Jika hasil analisa disimpulkan bahwa alat tersebut dibutuhkan maka penanggung jawab
unit/kepala bidang penunjang medis membuat permintaan alat kesehatan menggunakan
formulir permintaan alat kesehatan yang dibuat rangkap 2 (Dua)
d. Jika terjadi kerusakan pada alat kesehatan yang sudah ada sebelumnnya maka analisa
kerusakan alat dari teknisi alat kesehatan dilampirkan bersama formulir permintaan alat
kesehatan
e. Formulir permintaan alat kesehatan diajukan ke wadir sarana prasarana dan penunjang
medik untuk di analisa ulang bersama teknisi alat kesehatan
2. Uji Coba Peralatan Kesehatan
a. Setiap peralatan kesehatan jenis / tipe baru yang belum pernah digunakan dalam ruang
lingkup Rumah Sakit sebelumnya harus melalui uji coba dan evalusi terlebih dahulu
dengan melibatkan staf medis dan staf keperawatan sebagai end-user
b. Untuk alat kesehatan dengan spesifikasi baru yang belum pernah dimiliki sebelumnya
diupayakan untuk dilakukan uji coba penggunaan alat dilapangan untuk jangka waktu
tertentu sesuai kesepakatan antara pihak rekanan alat dengan end-user
c. Hasil uji coba berupa rekomendasi pengembalian alat, ditanda tangani oleh Petugas dan
Penanggung jawab Unit / Penanggung jawab logistik yang dilampirkan bersama formulir
permintaan alat kesehatan untuk dilanjutkan oleh Kepala Bidang Penunjang Medik guna
mendapatkan persetujuan
3. Inventarisasi Peralatan Kesehatan
a. Kegiatan inventarisasi dilakukan secara berkala yang mencakup jenis, jumlah, merk,
type/model serial number serta kondisi dari tiap - tiap peralatan kesehatan yang dimiliki
rumah sakit
b. Data hasil inventarisasi digunakan sebagai dasar dalam pembuatan perencanaan,
pengadaan, pemeliharaan dan penghapusan / penarikan peralatan kesehatan
c. Inventarisasi dilakukan oleh Penanggung jawab PJ Alkes RSIGM Sultan Agung
4. Pemeliharaan Peralatan Kesehatan
Pemeliharaan Peralatan Kesehatan adalah suatu upaya yang dilakukan agar peralatan
kesehatan selalu dalam kondisi layak pakai, dapat difungsikan dengan baik dan menjamin
usia pakai lebih lama.
Dalam pelaksanaan pemeliharaan peralatan kesehatan terdapat dua kriteria
pemeliharaan, yaitu :
a. Pemeliharaan Terencana
Pemeliharaan Terencana adalah kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakaan terhadap
alat sesuai dengan jadwal yang telah disusun. Jadwal pemeliharaan disusun dengan
memperhatikan jenis peralatan, jumlah, kualifikasi petugas sesuai dengan bidangnya dan
pembiayaan yang tersedia. Pemeliharaan perencanaan meliputi pemeliharaan preventif /
pencegahan dan pemeliharaan korektif / perbaikan.
b. Pemeliharaan Preventif
Pemeliharaan Preventif adalah (pencegahan) adalah kegiatan pemeliharaan berupa
perawatan rutin yang dilakukan oleh operator dan dan kegiatan penyetelan, pelumasan
serta penggantian bahan pemeliharaan yang dilaksanakan oleh teknisi secara berkala.
Yang bertujuan untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kerusakan. Untuk jenis
alat tertentu pemeliharaan preventif dapat dilakukan saat alat sedang operasional melalui
pemeriksaan, dengan melihat, merasakan, mendengarkan bekerjanya alat, baik tanpa
maupun dengan menggunakan alat ukur. Dan dapat pula dilakukan pelumasan dan
penyetelan bagian bafdsgian alat tertentu memerlukan.
5. Pemeliharaan korektif
Pemeliharaan koretif adalah kegiatan pemeliharaan yang bersifat perbaikan terhadap
peralatan yang mengalami kerusakan dengan atau tanpa penggantian suku cadang.
Pemeliharaan ini dimaksudkan untuk mengembalikan kondisi peralatan yang rusak ke kondisi
layak pakai dan siap operasional.
Tahap akhir dari pemeliharaan korektif adalah kalibrasi teknis yaitu pengukuran
kuantitatif keluaran dan pengukuran aspek Keselamatan, sedangkan kalibrasi yang bersifat
teknis dan legalitas penggunaan alat harus dilakukan oleh Institusi Penguji yang berwenang.
Perbaikan korektif dilakukan terhadap peralatan yang mengalami kerusakan dan dilakukan
secara terencana. Overhaul adalah bagian dari pemeliharaan korektif, yaitu kegiatan
perbaikan terhadap peralatan dengan mengganti bagin bagian utama alamat, bertujuan untuk
mengembalikan fungsi dan kemampuan alat yang sudah menurun karna usia dan penggunaan.
6. Pemeliharaan Tidak Terencana
Pemeliharaan tidak terencana adalah kegiatan pemeliharaan yang bersifat darurat
berupa perbaikan terhadap kerusakan alat yang mendadak / tidak terduga dan harus segera
dilaksanakan mengingat alat sangat dibutuhkan dalam pelayanan.
Untuk dapat segera melaksanakan pemeliharaan yang tidak terencana, perlu adanya
tenaga yang selalu siap (stand by) dan fasilitas pendukungnya. Frekuensi pemeliharaan tidak
terencana dapat ditekan serendah mungkin dengan cara mengingatkan kegiatan pemeliharaan
terencana.
7. Aspek Pemeliharaan
Agar pemeliharaan kesehatan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka
unit kerja sarana pemeliharaan Rumah Sakit, perlu dilengkapi dengan aspek-aspek
pemeliharaan yang berkaitan dan memadai meliputi, Sumber Daya Manusia yaitu
teknis, fasilitas dan peralatan kerja, dokumen pemeliharaan, suku cadang dan bahan
pemeliharaan. Aspek-aspek pemeliharaan ini pada umumnya mememerlukan pembiayaan.
8. Sumber Daya Manusia
SDM (Teknisi) merupakan unsur yang sangat penting dalam pelaksanaan pemeliharaan
peralatan kesehatan. Kualifikasi teknis disesuaikan dengan jenis dan teknologi peralatan
kesehatan yang ditangani, sedangkan jumlahnya berdasarkan kepada jumlah setiap jenis alat.
Semuanya ini merupakan beban kerja yang harus ditangani pleh teknisi.
9. Fasilitas kerja
Fasilitas kerja pemeliharaan guna menunjang terlaksananya pemeliharaan peralatan
kesehatan yang meliputi :
a. Ruangan tempat bekerja, terdiri dari workshop/bengkel, gudang dan ruang administrasi
b. Peralatan kerja terdiri dari toolset elektrik, toolset elektronik, toolset mekanik, toolset gas,
dan berbagai macam alat ukur
10. Pengoperasian Peralatan Kesehatan
Beberapa tahapan kegiatan yang perlu diperhatikan dan dilakukan dalam operasionalisasi
peralatan kesehatan yaitu tahapan persiapan, pelaksanaan pengoperasian dalam pelayanan
dan penyimpanan peralatan apabila telah selesai digunakan.
a. Persiapan Pengoperasian
Berbagai aspek yang harus dipenuhi dan disiapkan agar peralatan siap di
operasikan adalah peralatan harus dikondisikan dalam keadaan layak pakai lengkap
dengan aksesoris yang diperlukan, terpelihara dengan baik, sertifikasi kalibrasi yang
masih berlaku, ijin operasional yang masih berlaku bagi peralatan yang memerlukan ijin.
Prasarana yang diperlukan oleh masing-masing alat (misal, listrik, air, gas, uap) tersedia
dengan kapasitas dan kualitas yang memenuhi kebutuhan. Kemudian SDM siap, baik
dokter, operator, maupun paramedik dll sesuai dengan tindakan pelayanan yang
dilaksanakan.
b. Pelaksanaan Pengoperasian dalam Pelayanan
Pelaksanaan Pengoperasian peralatan dalam pelayanan medik kepada pasien, secara
teknik agar mengikuti urutan yang baku untuk setiap alat, mulai alat dihidupkan sampai
alat dimatikan setelah selesai melakukan kegiatan pelayanan medik.
c. Penyimpanan Peralatan
Setelah peralatan selesai dipergunakan untuk pelayanan medik kepada pasien, maka
peralatan agar disimpan dalam kondisi yang baik
d. Pemantauan Operasional Peralatan
Pemantauan operasional peralatan dimaksudkan untuk mengetahui kondisi alat untuk
melaksanakan pelayanan dan seberapa jauh beban kerja setiap alat yang operasional.
Dalam pemantauan didata kan kondisi alat dan beban kerjanya selama satu bulan
atau periode tertentu. Pemantauan dilakukan oleh tekhnisi secara periodik pada selang
waktu pemeliharaan preventif untuk setiap alat.
11. Penarikan Peralatan Kesehatan
Peralatan kesehatan yang kondisinya rusak berat dan sudah tidak dapat difungsikan
lagi dan atau jika dilakukan perbaikan tidak efisien, layak/fleksibel lagi maka terhadap
peralatan kesehatan tersebut untuk diajukan untuk dihapuskan.
BAB V
DOKUMENTASI

Setiap kegiatan yang berhubungan dengan peralatan medis rumah sakit harus
didokumentasikan sesuai dengan prosedur yang berlaku, antara lain :
1. Dokumen Pemeliharaan.
Dokumen pemeliharaan terdiri dari dokumen teknis dan data atau laporan hasil
pemeliharaan.
Dokumen teknis peralatan yaitu dokumen yang menyertai peralatan pada waktu
pengadaanya, pada umunya meliputi : brosure, installation manual, installation report,
operating manual, service manual yang mencakup schematic diagram, part list, recommended
parts. Prosedur Tetap Pengoperasian, Prosedur Tetap Pemeliharaan dan Sertifikat Kalibrasi
juga merupakan dokumen teknnis.
Data atau hasil pemeliharaan yaitu dokumen yang berisi data yang berhubungan dengan
kegiatan pemeliharaan peralatan, meliputi :
a. Inventarisasi Peralatan.
Inventarisasi peralatan ini berisi data yang berkaitan dengan aspek teknis setiap
type / model alat untuk nama dan merk alat yang sama, mencakup nama alat, merk,
model / type, nama perusahaan, operating manual dan service manual.
Inventarisasi peralatan guna kepentingan pemeliharaan alat dilakukan oleh
pengelola pemeliharaan dan ditinjau secara periodic, setahun sekali dan setiap ada
perubahan atau penambahan peralatan baru.

b. Kartu Pemeliharaan Alat.


Kartu pemeliharaan adalah kartu yang dipasang / digantungkan pada setiap alat,
dengan maksud agar memudahkan kepada setiap petugas terkait untuk mengetahui data
mengenai suatu alat dan penanganan apa saja yang telah dilakukan pada alat tersebut.

c. Catatan Pemeliharaan Alat.


Catatan pemeliharaan alat berupa lembaran kartu yang disimpan pada unit
pemeliharaan peralatan kesehatan, dengan maksud agar memudahkan petugas
administrasi teknis dan teknisi untuk mengetahui data alat dan penanganan apa saja yang
telah dilakukan alat tersebut.

d. Daftar Keagenan Peralatan.


Keberadaan perusahaan yang mengageni suatu alat sangat diperlukan dalam rangka
pemeliharaan peralatan kesehatan. Agen peralatan bertanggung jawab terhadap
penyediaan suku cadang peralatan yang diageninya, sebagai realisasi dari jaminan purna
jual terhadap peralatan yang dijualnya.
Untuk peralatan tertentu yang tidak mampu dilaksanakan oleh teknisi Rumah Sakit,
secara teknis dan ekonomis pemeliharaannya lebih baik dilaksanakan langsung oleh
agennya/pemasoknya/pihak ke-3, sejauh dapat diproses sesuai dengan prosedur dan
ketentuan yang berlaku.
Daftar keagenan peralatan dapat memudahkan untuk mengetahui nama perusahaan
dan alamatnya yang menangani peralatan tertentu, sehingga apabila alat mengalami suatu
masalah, agen yang bersangkutan dapat dengan mudah dimintakan bantuannya.

e. Pelaporan dan Evaluasi.


Setiap kegiatan pemeliharaan peralatan kesehatan dari mulai perencanaan, pelaksanaan
dan hasilnya harus dicatat atau didatakan kemudian dilaporkan oleh dan kepada pejabat
pemberi tugas sesuai dengan penugasannya.
Formulir yang berkaitan dengan kegiatan dan pelaporan adalah :
1) Surat Penugasan Pemeliharaan Peralatan.
2) Bukti Peminjaman Peralatan Kerja.
3) Bukti Permintaan Barang.
4) Laporan Kerja Pemeliharaan Peralatan ( preventif ).
5) Laporan Kerja Pemeliharaan Peralatan ( korektif ).
6) Laporan Hasil Pemantauan Operasional Peralatan.

f. Pelaksanaan Pemeliharaan.
Berdasarkan berbagai aspek yang meliputi volume pekerjaan, kemampuan teknisi,
tingkat teknologi peralatan, fasilitas kerja dan prosedur pembiayaan, maka pelaksanaan
pemeliharaan peralatan kesehatan di Rumah Sakit dapat dilakukan oleh teknisi Rumah
Sakit setempat dengan rujukan atau oleh pihak ke – 3.
1) Dilaksanakan oleh teknisi Rumah Sakit.
Khususnya aspek pemeliharaan dapat dilakukan oleh Teknisi Rumah Sakit setempat.
2) Dilaksanakan oleh teknisi Rujukan.
Apabila teknisi Rumah Sakit setempat tidak mampu menanganinya.
3) Dilaksanakan oleh pihak ke – 3.
Apabila pemeliharaan alat tertentu memerlukan suku cadang atau keahlian khusus dan
biaya yang besar melalui proses sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.

g. Bahan Pemeliharaan dan Suku Cadang.


Agar pemeliharaan peralatan dapat terlaksana dengan baik sesuai jadwal, maka
penyediaan kebutuhan bahan pemeliharaan dan suku cadang perlu mendapat perhatian
yang seksama, melalui suatu perencanaan yang matang, baik aspek teknis maupun
pembiayaannya.
Demikian Buku Panduan pengelolaan peralatan medis ini di buat, semoga dapat
bermanfaat sebagai panduan dan acuan dalam melaksanakan peralatan medis di
lingkungan RSIGM Sultan Agung.

Anda mungkin juga menyukai