Anda di halaman 1dari 3

DISTOKIA PADA BABI

Distokia relatif jarang terjadi. Tingkat distokia diperkirakan 1%. Meskipun tingkat
kejadiannya rendah, penting bagi dokter hewan untuk mengetahui penyebab distokia dan
memiliki keterampilan dan strategi untuk menanganinya. Distokia dapat mempengaruhi
produktivitas dengan mengurangi jumlah anak babi yang masih hidup dan meningkatkan
jumlah kematian babi. Distokia membahayakan kesejahteraan babi yang terkena dampak,
terutama ketika babi tidak ditangani secara tepat waktu dan baik.
Distokia biasanya seperti kegagalan untuk melahirkan anak babi dalam satu jam atau 2 jam sejak
awal persalinan atau interval lebih lama dari 1 jam antara kelahiran anak babi. Tanda-tanda lain
dari distokia mungkin termasuk kebuntingan yang berkepanjangan (setelah 116 hari), anoreksia,
depresi, dan vulva yang berubah warna.

Distokia disebabkan oleh kondisi yang menghalangi jalannya janin melalui jalan lahir
atau oleh kontraksi miometrium yang tidak efektif (inersia uterus). Penyebab obstruktif dari
distokia mungkin berhubungan dengan ukuran janin, miometrium induk yang lemah (inersia
uterus), atau kombinasi faktor janin dan ibu. Inersia uteri (kegagalan untuk memulai persalinan
tahap kedua) dapat disebabkan oleh kelainan hormon atau kekurangan nutrisi pada induk babi.
Inersia uterus sekunder lebih sering terjadi akibat obstruktif penyebab distokia. Penekanan perut
dan kontraksi miometrium terhadap jalan lahir yang terhambat akhirnya mengakibatkan
kelelahan pada mometrium.
Ketidakcocokan antara ukuran janin dan pelviks ibu adalah penyebab umum distokia
obstruktif. Dalam presentasi normal, bahu adalah bagian terbesardari janin. Jika janin sangat
besar atau panggul induk sangat kecil, janin dapat berada di pundak dengan presentasi normal.
Janin cenderung lebih besar ketika jumlah anak babi sedikit. Anomali janin, meskipun jarang,
dapat menyebabkan anak babi besar yang tidak normal. Ukuran panggul induk lebih kecil di gilt
daripada di induk dewasa. Beberapa induk babi memiliki panggul sempit berbentuk V (seperti
yang dirasakan saat palpasi dubur atau vagina) atau benjolan yang menonjol ke saluran lahir dari
simfisis pubis (panggul berbentuk W), yang keduanya mengurangi diameter fungsional saluran
kelahiran. Luka lama, seperti patah tulang panggul, mungkin memiliki efek yang sama.
Kondisi lain yang tidak terkait dengan struktur tulang panggul ibu dapat mengurangi
diameter fungsional dari jalan lahir. Sembelit atau adanya feces yang berlebihan di usus besar
dan rektum dapat menyebabkan oklusi parsial jalan lahir

Gambar Keterangan
Presentasi : Longitudinal Posterior
Posisi : Dorsal
Postur : fleksi kaki belakang ( presentasi
brench)

Presentasi tranversal dengan posisi dorsal


dimana posturnya kaki belakang mengalami
ekstensor kearah cranial(depan)

Pada gambar disamping menunjukan presentasi


jajak (abnormal) pada babi dengan posisi dorsal
dimana posturnya kepala, leher fleksor.
Pada gambar disamping menunjukan presentasi
longitudinal anterior (normal), posisi dorsal
(normal) dan postur kaki depan extensi kearah
cranial (depan/ membelakangi jalur
lahir)(abnormal) dan fetus berada bukan pada
jalur lahir

Pada gambar disamping presentasi fetus


longitudinal anterior dengan posisi dorsal dan
posturnya kaki depan extensor (presentasi, posisi
dan postur normal)
Abnormalnya dua fetus berada pada posisi yang
sama dan pelviks dari induk yang sempit tidak
memungkinkan dua fetus lahir secara bersamaan.

Referensi :
Randall GCB: Observations of parturition in the sow: I.Factors associated with the delivery of the piglets and the subsequent
behaviour. Vet Rec 1972;90:178–182.