Anda di halaman 1dari 18

Praktikum Tenun ATBM

I. Maksud dan Tujuan


I.I Maksud dan Tujuan Identifikasi dan Penyetelan Mesin ATBM Roll

 Mahasiswa dapat mengenali mesin ATBM beserta fungsinya


 Mahasiswa dapat menamahi gerakan shedding motion pada mesin ATBM
 Mahasiswa dapat memahami gerakan picking motion pada mesin ATBM
I.II Maksud dan Tujuan Menenun Anyaman Polos dan Keper pada ATBM Roll
 Mahasiswa dapat memebuat rencana tenun pada anyaman polos dan keper
 Mahasiswa dapat menyetel mesin ATBM untuk anyaman polos dan keper
 Mahasiswa dapat menenun anyaman polos dan keper
I.III Maksud dan Tujuan Menenun Anyaman Turunan Dasar pada ATBM Roll
 Mahasiswa dapat memebuat rencana tenun pada anyaman polos turunan dasar
 Mahasiswa dapat menyetel mesin ATBM untuk anyaman polos turunan dasar
 Mahasiswa dapat menenun anyaman polos turunan dasar

II. Teori Dasar


Menenun adalah salah satu cara dalam pembuatan kain dengan menggunakan cara
menganyam atau menyilangkan antara benang lusi dan pakan yang letaknya tegak lurus
satu sama lain. Untuk membuat kain tenun bisa dengan menggunakan :
 Alat tenun gedogan ( Menggunakan Tangan)
 Alat tenun bukan mesin (ATBM)
 Alat tenun mesin (ATM)

Untuk mempelajari tahapan awal meneun bisa menggunakan mesin ATBM. Mesin
ATBM diharapkan dapat memahami bagian pokok,mekanisme,dan cara menenun yang
dilakukan oleh praktikan. ATBM adalah perkembangan dari alat tenun gedogan,
perbedaannya ATBM dibuat rangka mesin yang mempermudah penggunanya daripada
alat tenun gedogan. Perbedaan yang mencolok adalah ATBM digerakkan oleh tenaga
tangan dan kaki, sedangkan alat tenun gedogan menggunakan tangan saja. Awal
mulanya ATBM dibuat untuk memenuhi kebutuhan tekstil kain yang minatnya begitu
banyak karena alat tenun gedogan hanyan bisa memproduksi kain secara terbatas. Baik
ATBM maupun ATM keduanya mempunyai prinsip gerakan yang sama, yaitu :
1. Gerakan Pokok
 Gerakan pembukaan mulut lusi (Shedding Motion)
 Gerakan peluncuran pakan (Picking Motion/Filling Insertion)
 Gerakan pengetekan (Beating Up Motion)
2. Gerakan Sekunder
 Gerakan penguluran lusi (Warp Left-Off Motion)
 Gerakan penggulungan kain (Take-Up Motion)
Berikut merupakan penjelasan gerakan pokok :
 Shedding Motion

Gerakan yang terjadi diakibatkan adanya gerakan naik kelompok benang-benang


lusi tertentu. Pembukaan mulut mengakibatkan lusi maka terbentuklah sebuah celah
yang disebut mulut lusi, mulut lusi tersebut yang akhirnya bisa dilalui oleh benang
pakan. Pada ATBM pembukaan mulut lusi terjadi karena adanya perelatan injakan,
tali ikatan, kamran, matagun, tali penghubung, dan rol kerek.

 Picking Motion
Gerakan peluncuran pakan (picking motion) yaitu gerakan memasukan benang pakan
pada mulut lusi yang terbentuk. Pada ATBM peralatan yang berfungsi untuk
meluncurkan benang pakan batang pemukul, tali penarik picker, picker (pemukul), laci
teropong, teropong, dan palet. Gerakan bisa terjadi karena teropong yang membawa
benang pakan dipukul oleh picker bolak-balik dari kanan ke kiri melalui mulut lusi
dengan diberi dorongan ke lade .

 Beating Up Motion
Gerakan pengetekan (beating up motion) yaitu gerakan merapatkan benang pakan yang
telah diluncurkan dengan kain. Gerakan ini terjadi karena adanya gerakan maju
mundur dari lade yang mempunyai sisir tenun yang digerakkan oleh tangan.
Berikut ini merupakan geraka sekunder :

 Gerakan Penguluran Benang (let-off motion)


Gerakan penguluran lusi (let-off motion) yaitu gerakan penguluran benang lusi oleh
boom tenun agar benang-benang lusi mempunyai tegangan yang konstan.
 Gerakan Penggulungan Kain (take-up motion)
Gerakan penggulungan kain (take-up motion) yaitu gerakan penggulungan kain yang
teleh dihasilkan. Gerakan ini dimaksudkan untuk untuk menjaga ketegangan benang
lusi yang diproses tetep konstan.
Berikut merupakan penjelasan gerakan otomatisasi :
 Gerakan penjaga lusi putus (warp stop motion)
 Gerakan penjaga pakan putus (weft stop motion)

Berikut ini syarat mulut lusi yang baik adalah :


1. Bersih yaitu jarak dasar luncur teropong dengan mulut lusi bawah 1-2 mm. teropong
bagian belakang menempel rapat pada sisir tenun.
2. Mudah dilalui benang pakan, artinya besar mulut yang terbentuk haruslah lebih dari
tinggi teropong yang digunakan. Perlu diperhatikan, jika mulut lusi terlalu besar, hal ini
akan menyebabkan tegangan lusi akan besar sehingga mulur lusi akan besar pula. Tinggi
mulut lusi harus diatur dan disesuaikan dengan tinggi teropongnya.
3. Tidak menyebabkan banyaknya benang lusi yang putus. Hal ini dapat diatur dengan
mengatur tinggi mulut lusinya.

Secara umum ada tiga jenis mulut lusi, yaitu :

1. Mulut lusi naik, terjadi karena sebagian lusi naik dan sebagian lusi diam.
A : lusi diam
C
B : ujung kain
C : lusi naik
A  B  : mulut lusi naik

2.Mulut lusi turun, terjadi karena sebagian lusi turun dan sebagian lusi diam.
A : lusi diam
B A
 B : ujung kain
C : lusi naik
 : mulut lusi turun
C

2. Mulut lusi naik turun, terjadi karena sebagian lusi naik dan sebagian lusi turun.
A A : lusi diam
B  B : ujung kain
C C : lusi naik
 : mulut lusi turun
Rencana Tenun
Sebelum melakukan praktikum pertenunan, terdapat rencana tenun agar pembuatannya
tidak salah dan tidak terjadi masalah dalam proses pertenunan. Berikut dibawah ini
merupaka perencaan pertenunan:
Gambar-1 Ilustrasi Injakan
Rencana tenun adalah tabel yang berisikan petunjuk tentang hubungan antara anyaman
tekstil, cucukan gun ikatan gun dan cara pengangkatan gun. Tabel rencana tenun terdiri
dari :
 Cucukan gun
 Gambar anyaman
 Cucukan sisir (bagan yang tidak digambarkan)
 Injakan

Rencana tenun dibagi menjadi dua, ada yang menggunakan rol kerek dan dengan peralatan
dobby.

Gambar-2 Contoh Peg Pan Keper Kanan 2/2


Tipe cucukan dalam rencana tenun terdapat beberapa macam seperti cucukan lurus
(straight draft), kombinasi, dan lain sebagainya.
Gambar-3 Jenis Cucukan Lurus

Anyaman Polos
Nama lain yang biasanya digunakan adalah anyaman blacu, plat, tabby, taffeta, plain. -
Anyaman polos adalah anyaman yang paling sederhana, paling tua dan paling banyak
dipakai.
Ciri-ciri dan karakteristik anyaman polos
- Mempunyai raport yang paling kacil dari semua jenis anyaman.
- Bekerjanya benang-benang lusi dan pakan paling sederhana, yaitu 1-naik, 1-turun.
- Ulangan raport; kearah horizontal (lebar kain) atau kearah pakan, diulangi sesudah 2
helai pakan. Kearah vertikal atau kearah lusi, diulangi sesudah 2 helai lusi.
- Jumlah silangan paling banyak diantara jenis anyaman yang lain.
- Jika faktor-faktor lainnya sama, maka anyaman polos mengakibatkan kain menjadi;
paling kuat daripada dengan anyaman lain dan letak benang lebih teguh atau tak mudah
berubah tempat.
- Anyaman polos paling sering dikombinasikan dengan faktor-faktor kontruksi kain
yang lain daripada jenis anyaman yang lainnya.
- Pada umumnya penutupan kainnya (fabric cover) berkisar pada 25%-75%
- Anyaman polos untuk kain padat biasanyan menggunakan benang pakan yang lebih
besar daripada benang lusinya.
Anyaman Keper
Anyaman keper adalah anyaman dasar yang kedua. Ciri-ciri dan karakteristik anyaman
keper
- Pada permukaan kain terlihat garis miring atau rips miring tidak putus-putus.
- Jika arah garis miring berjalan dari kanan bawah kekiri atas, disebut keper kiri.
Sedangkan jika sebaliknya maka disebut keper kanan.
- Garis miring yang dibentuk oleh benang lusi disebut keper efek lusi atau keper lusi.
Sedangkan sebaliknya disebut efek pakan.
- Jika raport terkecil dari anyaman keper = 3 helai lusi dan 3 helai pakan, disebut keper
3 gun.
- Dalam kondisi sama, kekuatan kain dengan anyaman polos lebih besar dari pada
kekuatan kain dengan anyaman keper.
- Pada umumnya tetal benang dibuat lebih tinggi daripada dalam anyaman polos.
- Besarnya sudut garis miring dipengaruhi oleh perbandingan tetal lusi dan pakan.
- Garis miring dengan sudut >45o, disebut keper curam (steep twill).
Anyaman Ajour
Kain yang menggunakan anyaman ini mempunyai lubang lubang yang terjadi karena
pengelompokan benang benang lusi dan pakan.Pengelompokan benang benang tersebut
adalah dikarenakan masin masing kelompok dari benang lusi dan pakan membentuk
efek yang berbalikan secara bergantian.Apabila dalam satu repeat anyaman terdapat
sekelompok benang lusi dan pakan yang bekerjanya saling berlawanan maka akan
terbentuk lubang pada kain,Luasnya lubang yang terbentuk pada kain tergantung pada :
 Panjang pendeknya efek sekelompok lusi dan pakan
 Tetal lusi dan tetal pakan
Anyaman Diamond
Disebut anyaman wajik karena bentuknya seperti potongan wajik. Jenis anyaman ini
dapat dibuat dengan 2 macam jalan, yaitu:

(1) Dengan membuat cucukan runcing ditempat gambar cucukan gun, dan membuat
rencana pena dalam bentuk runcing pula.

(2) Dengan menggabungkan keper runcing lusi dan keper runcing (chevron) pakan.

Menggambar anyaman wajik ataupun membuat pegging plan, untuk mudahnya


digambar dulu efek lusi pendek seperti terlihat pada gambar 156, kemudian pada kotak-
kotak kosong (efek pakan) ditambahkan efek lusi sesuai dengan pola anyaman dasar
yang diinginkan.

III. Alat dan Bahan


III.I Alat dan Bahan Praktikum Identifikasi ATBM
 ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin),
 Teropong
III.II Alat dan Bahan Praktikum Menenun Anyaman Polos dan Keper
 ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin),
 Teropong
 Palet benang pakan
 Benang lusi
III.III Alat dan Bahan Praktikum Menenun Anyaman Turunan
 ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin),
 Teropong
 Palet benang pakan
 Benang lusi

IV. Cara Kerja


IV.I Cara Kerja Praktikum Identifikasi ATBM
1. Mesin dipersiapkan untuk menenun.
2. Mulut lusi disetel dengan cara sebagai berikut :
 Kamran dengan gun-gunnya dipersiapkan.
 Kamran diikat dengan tali agar antara kamran satu dengan lainnya letaknya
sama (sejajar).
 Bagian atas kamran diikat dengan tali pengikat dan dililitkan pada batang
kerekan.
 Bagian bawah kamran diikat dengan tali pengikat satu persatu dengan cara yang
benar, kemudian diikatkan dengan injakan.
 Atur posisi kamran sehingga benang lusi dengan sisir tenun naik 1/3 dari tinggi
sisir tenun.
 Setelah kamran diikat dengan injakan, salah satu injakan diinjak sehingga
membentuk mulut lusi.
3. Identifikasi Bagaimana mekanisme shedding motion dan picking motion

IV.II Cara Kerja Praktikum Menenun Anyaman Polos dan Keper


1. Mesin dipersiapkan untuk menenun.
2. Rencana tenun anyaman polos dan keper dibuat terlebih dahulu agar tidak ada
kesalahan dalam melaksanakan praktikum
3. Mulut lusi disetel dengan cara sebagai berikut :
 Kamran dengan gun-gunnya.
 Kamran diikat dengan tali agar antara kamran satu dengan lainnya letaknya
sama (sejajar).
 Bagian atas kamran diikat dengan tali pengikat dan dililitkan pada batang
kerekan.
 Bagian bawah kamran diikat dengan tali pengikat satu persatu dengan cara yang
benar, kemudian diikatkan dengan injakan.
 Atur posisi kamran sehingga benang lusi dengan sisir tenun naik 1/3 dari tinggi
sisir tenun.
 Setelah kamran diikat dengan injakan, salah satu injakan diinjak sehingga
membentuk mulut lusi.
 Atur agar kedudukan injakan sama tinggi sehingga pada saat injakan diinjak
secara bergantian akan menghasilkan tinggi mulut lusi yang sama dengan cara
mengatur tali pengikat injakan dan injakan
4. Palet dipasang ke dalam teropong, ujung benang dimasukkan kedalam lubang pada
kepala teropong. Hal ini berfungsi agar benang pakan yang diluncurkan mempunyai
tegangan.
5. Teropong dimasukan ke dalam laci sebelah kanan atau kiri dan ujung benangnya
ditahan agar tidak tebawa saat teropong diluncurkan.
6. Apabila teropong berada disebelah kiri, menjalankan mesinnya dengan menginjak
injakan sebelah kanan kemudian lade diayunkan ke belakang lalu ditarik ke
belakang.dan sebaliknya
7. Lakukan hal yang sama sampai terbentuk anyaman polos
8. Penggulungan kain dilakukan secara manual yaitu dengan melepaskan rem
kemudian memutar roda gigi rachet dengan pemutarnya sampai benang-benang
kembali tegang.

IV.III Cara Kerja Praktikum Menenun Turunan Anyaman Dasar


1. Mesin dipersiapkan untuk menenun.
2. Rencana tenun anyaman turunan dibuat terlebih dahulu agar tidak ada kesalahan
dalam melaksanakan praktikum
3. Mulut lusi disetel dengan cara sebagai berikut :
 Kamran dengan gun-gunnya.
 Kamran diikat dengan tali agar antara kamran satu dengan lainnya letaknya
sama (sejajar).
 Bagian atas kamran diikat dengan tali pengikat dan dililitkan pada batang
kerekan.
 Bagian bawah kamran diikat dengan tali pengikat satu persatu dengan cara yang
benar, kemudian diikatkan dengan injakan.
 Atur posisi kamran sehingga benang lusi dengan sisir tenun naik 1/3 dari tinggi
sisir tenun.
 Setelah kamran diikat dengan injakan, salah satu injakan diinjak sehingga
membentuk mulut lusi.
 Atur agar kedudukan injakan sama tinggi sehingga pada saat injakan diinjak
secara bergantian akan menghasilkan tinggi mulut lusi yang sama dengan cara
mengatur tali pengikat injakan dan injakan
4. Palet dipasang ke dalam teropong, ujung benang dimasukkan kedalam lubang
pada kepala teropong. Hal ini berfungsi agar benang pakan yang diluncurkan
mempunyai tegangan.
5. Teropong dimasukan ke dalam laci sebelah kanan atau kiri dan ujung benangnya
ditahan agar tidak tebawa saat teropong diluncurkan.
6. Apabila teropong berada disebelah kiri, menjalankan mesinnya dengan menginjak
injakan sebelah kanan kemudian lade diayunkan ke belakang lalu ditarik ke
belakang.dan sebaliknya
7. Lakukan hal yang sama sampai terbentuk anyaman turunan dasar
8. Penggulungan kain dilakukan secara manual yaitu dengan melepaskan rem
kemudian memutar roda gigi rachet dengan pemutarnya sampai benang-benang
kembali tegang.

V. Diskusi
Rencana Tenun Anyaman Polos (Cucukan Lurus)

Skema

1 2 3 4

1
X X
X

X 2
Rencana Tenun Anyaman Polos (Cucukan 1-3-2-4)
Skema

1 2

Injakan 1 : Kamran 2
Injakan 2 : Kamran 1
Rencana Tenun Anyaman Keper (Cucukan 1-3-2-4 )

1 2 3 4

Injakan 1: Kamran 1 dan 4


Injakan 2 : Kamran 1 dan 3 3
4
Injakan 3 : Kamran 2 dan 3
Injakan 4 : Kamran 2 dan 4
2
Rumus Anyaman : 1 /1
Rencana Tenun Anyaman Turunan Dasar : Diamond (Cucukan 1-3-2-4-2-3-1 )

Skema

1 2 3 4

Injakan 1 : Kamran 1 dan 4


Injakan 2 : Kamran 2 dan 4 2
Injakan 3 : Kamran 2 dan 3
Injakan 4 : Kamran 1 dan 3
3

Rencana Tenun Anyaman Turunan Dasar : Ajour (Cucukan 1-3-2-4-2 )

1 2 3 4

4
Injakan 1 : Kamran 1 dan 4
Injakan 2 : Kamran 1 dan 3
Injakan 3 : Kamran 2 dan 4
Injakan 4 : Kamran 2 dan 3

Identifikasi Mesin ATBM

10 11 12 13 14 11

2
15
3

4 16

5 17

6 18

7
19
8

20

Keterangan:
1. Lade 11. Batang pemukul
2. Laci 12. Mata Gun
3. Sisir 13. Rol/ keek
4. Teropong 14. Gun/kamran
5. Balok dada 15. Balok pembesut
6. Gigi rachet 16. Palet
7. Pemutar gigi rachet 17. Beam Lusi
8. Boom kain 18. Piringan rem
9. Injakan 19. Batang pengerem
10. Rangka 20. Bandul
Fungi dari identifikasi mesin ATBM
1. Lade : Sebagai alat pengetek, tempat penyimpanan dan meluncurnya teropong, juga
merapatkan benang pakan yang akhirnya terbentuk anyaman.
2. Laci : Sebagai tempat teropong dan pemukul
3. Sisir : Untuk mengatur lebar kain yang akan dibuat, untuk merapatkan benang pakan
yang telah diluncurkan dan untuk mengatur tetal lusi.
4. Teropong : Meluncurkan benang pakan dari kanan ke kiri atau sebaliknyadan tempat
palet dan tempat bagi palet berisikanbenang pakan.
5. Balok dada : Sebagai alat perantara kain sebelum digulung pada kain dan juga
mengatur kain supaya sejajar dengan balok pemberat.
6. Gigi Rachet : Alat untuk penggulungan kain secara manual
7. Pemutar gigi rachet : Untuk memutarkan roda gigi rachet.
8. Boom kain : Menggulung kain yang telah terbentuk agar tidak terjadi penumpukan kain
dan juga untuk menjaga ketegangan benang lusi agar konstan.
9. Injakan : Untuk menurunkan dan menaikkan kamran pada saat injakan diinjak, antara
injakan dan kamran digunakan tali pengikat.
10. Rangka : Menahan getaran yang ada, sebagai penyangga peralatan lainnya
11. Batang pemukul : Untuk menarik picker agar teropong terpukul dan meluncur
12. Mata gun: Untuk memasukkan benang lusi agar dapat naik turun sesuai gerakan kamran
13. Rol/kerek: Menghubungkan dua kamran yang bekerjanya saling berlawanan, sehingga
pada saat salah satu kamran naik maka kamran yang lainnya akan turun.
14. Gun/Kamran : Untuk menaikkan atau menurunkan kelompok benang-benang lusi yang
dicucuk dalam matagun agar terbentuk mulut lusi.
15. Balok pembesut : Untuk pengantar benang-benang lusi pada saat penguluran
16. Palet : Untuk tempat menggulung benang pakan yang terdapat pada teropong
17. Beam lusi: Sebagai tempat digulungnya benang-benang lusi yang akan ditenun pada
proses pertenunan.
18. Piringan rem : Fungsinya untuk landasan pengereman putaran boom lusi
19. Batang pengerem :Fungsinya untuk mengerem atau melepaskan rem pada saat
penggulungan kain (secara manual).
20. Bandul : Fungsinya untuk memberi beban pada batang pengerem sehingga terjadi
pengereman pada piringan pengerem.
Mekanisme Shedding Motion
Gerakan yang terjadi diakibatkan adanya gerakan naik kelompok benang-benang lusi
tertentu. Pembukaan mulut mengakibatkan lusi maka terbentuklah sebuah celah yang disebut
mulut lusi, mulut lusi tersebut yang akhirnya bisa dilalui oleh benang pakan. Pada ATBM
pembukaan mulut lusi terjadi karena adanya perelatan injakan, tali ikatan, kamran, matagun,
tali penghubung, dan rol kerek. (SKEMA TERDAPAT DALAM TEORI DASAR)

Mekanisme Picking Motion


Gerakan peluncuran pakan (picking motion) yaitu gerakan memasukan benang pakan pada
mulut lusi yang terbentuk. Pada ATBM peralatan yang berfungsi untuk meluncurkan benang
pakan batang pemukul, tali penarik picker, picker (pemukul), laci teropong, teropong, dan
palet. Gerakan bisa terjadi karena teropong yang membawa benang pakan dipukul oleh picker
bolak-balik dari kanan ke kiri melalui mulut lusi dengan diberi dorongan ke lade .

Pembahasan Identifikasi dan Penyetelan Mesin ATBM Roll


Dalam melakukan identifikasi dan penyetelan mesin ATBM, praktikan mengalami kesulitan
saat mengikat kamran pada roll. Hal ini terjadi karena praktikan harus memperhatikan betul-
betul agar kamran sejajar dengan orang yang menenun dan praktikan pun harus betul- betul
mengikat kamran pada roll. Selanjutnya dalam penyetelan Kamran ke injakan praktikan pun
harus hati- hati melihat paku yang berada di roll, paku harus selalu menghadap keatas, dimana
harus ada salah satu orang yang menahan roll.

Setelah semuanya terpasang secara benar, praktikan memulai identifikasi bagaimana


mekanisme mesin ATBM roll, yang pertama dilihat adalah shedding motion gerakan ini
dipengaruhi oleh injakan yang diinjak oleh praktikan, dimana injakan yang diinjak akan
menurunkan kamran yang diikat pada kamran, sehingga akan tercipta lah mulut lusi yang bisa
dilalui oleh teropong. Hal yang kedua dilihat oleh praktikan adalah picking motion, gerakan ini
adalah gerakan teropong yang dipukul oleh picker secara berulang-ulang, dimana teropong
bergerak dari sisi kanan ke sisi kiri atau sebaliknya. Hal ini tercipta dikarenakan pada bagian
atas mesin ATBM terdapat gaya yang mendorong ke depan, sehinnga picker pun akan tertarik
dan memukul teropong sehingga melesat melwati pembukaan mulut lusi.

Pembahasan Menenun Kain Anyaman Polos pada Mesin ATBM Roll


Pada praktikum menenun anyaman polos pada mesin ATBM roll, praktikan hanya mengalami
sedikit kesulitan saja. Dikarenakan sebelumya praktikan telah melakukan penyetelan mesin
ATBM,sehingga mempermudah penyetelan untuk menenun anyaman polos pada mesin ATBM
roll. Dalam menenun anyaman polos, terdapat beberapa mesin yang dipakai. Ada yang
menggunakan 4 kamran dan ada yang menggunakan 4 kamran, namun 2 kamran diikat menjadi
satu. Pola cucukan pada mesin ATBMnya pun berbeda-beda, ada yang menggunakan cucukan
lurus dan ada yang menggunakan cucukan lompat. Dalam praktikum anyaman polos biasanya
hanya menggunakan 2 injakan, hal ini dilakukan untuk mengefisiensikan praktikan atau orang
yang menenun karena hanya membuat untuk anyaman polos saja.

Pembahasan Menenun Kain Anyaman Keper pada Mesin ATBM Roll


Pada praktikum menenun anyaman keper, disini memiliki hal yang berbeda dari anyaman
polos, dikarenakan praktikan harus membuat dan mengamati rencana tenun. Dalam pembuatan
anyaman keper, praktikan mengalami sedikit kesulitan saat menginjak injakan dikarenakan
praktikan belum terbiasa dengan menginjak 4 injakan. Dalam rencana tenun anyaman keper
pun digunakan pola cucukan 1-3-2-4 atau pola cucukan lompat. Mengapa tidak menggunakan
pola cucukan lurus?? Apabila praktikan ingin membuat anyaman keper dengan pola cucukan
lurus hal ini bisa saja dilakukan dalam kertas dan rencana tenun, namun hal ini akan berbeda
dalam skema roll dan penyetelan roll. Apabila praktikan menerapkan pola cucukan lurus, bisa
mengakibatkan kamran yang saling tarik menarik yang pada akhirnya bisa menyebabkan mesin
ATBM menjadi ambrol.

Masalah lainnya yang dialami praktikan adalah terjadinya putus benang yang cukup banyak
lalu sering terjadinya kendor pada benang lusi. Benang yang putus pada mesin bisa diakibatkan
saat praktikum berlangsung, praktikan atau orang yang menenun terlalu keras mendorong dan
menarik kembali lade, sehingga benang-benang pun akhirnya menjadi putus. Atau faktor lain
yang bisa terjadi adalah benang yang memang kekuatannya rendah, sehingga benang menjadi
mudah putus. Untuk menghindari kusut benang diantar benang lusi lainnya, akhirnya diberi
solusi dengan mencari dimana benang yang putus dan memasukan kembali ke kamran lalu ke
sisir tenun atau dengan memisahkan benang lusi yang putus dengan cara diisolatip. Untuk
benang lusi yang kendor bisa diatasi dengan mengulur lusi dengan menarik tuas yang di sebelah
kanan dari orang meneun, lalu menggulung kain dengan menarik tuas yang berada di sebelah
kiri orang yang menenun. Dalam menenun anyaman keper menggunakan pola cucukan
lompatan 1-3-2-4 dan menggunakan 4 injakan.

Pembahasan Menenun Kain Anyaman Turunan Dasar pada Mesin ATBM Roll
Dalam praktikum menenun kain anyaman turunan dasar, praktikan menenun kain anyaman
ajour dan diamond. Untuk anyaman ajour merupakan turunan dari anyaman polos, sedangkan
anyaman diamond adalah anyaman turunan yang berasal dari anyaman keper. Dalam menenun
anyaman ajour, praktikan mengalami kesulitan saat ingin mendorong dan menarik kembali
lade. Hal ini disebabkan lade yang ada pada mesin tenun ATBM terasa ringkih, sehingga
praktikan tidak bisa memakainya secara maksilmal. Sering terjadi teropong yang tidak masuk
kedalam ruang penyimpanan teropong, sehingga praktikan harus memasukan teropong secara
manual ke ruang penyimpanan teropong, hal yang sama juga terjadi pada injakan mesin
ATBMnya, injakan pada mesin ATBM terasa ringkih dan praktikan pun tidak bisa praktikum
secara maksimal. Pola cucukan yang digunakan dalam rencana tenun anyaman ajour adalah 1-
3-1-2-4-2. Dalam menenun anyaman ajour, praktikan bisa membuat anyaman polos dengan
cara menginjakan injakan yang hanya menghasilkan bentuk anyaman polos, seperti contohya
dalam gambar rencana tenun, praktikan bisa menginjak injakan 1 dan 3 untuk membentuk
anyaman polos tersebut.

Dalam menenun anyaman turunan keper yaitu diamond, praktikan mengalami kesulitan yang
sama saat menyetel mesin ATBM untuk menenun anyaman keper, kesulitannya seperti kamran
yang terlalu turun, injakan yang tidak pas, dan paku yang berada di roll tidak sesuai dengan
posisinya. Namun, praktikan berhasil mengatasinya dengan bersama-sama. Masalah yang
selanjutnya adalah anyaman yang tiba-tiba tidak terbentuk menjadi anyaman diamond kembali.
Hal ini terjadi dikarenakan banyak orang yang ingin mencoba mesin tenun ATBM roll, namun
tidak memerhatikan rencana tenun yang telah dibuat, sehingga pada beberapa tempat tidak
terbentuk anyaman diamond. Untuk bisa melihat lebih jelas efek anyaman diamond,usahakan
menggunakan benang pakan yang besar karena jika menggunakan benang pakan lebih besar,
akan menimbulkan efek anyaman yang lebih terlihat .Pola cucukan pada anyaman diamond
adalah 1-3-2-4-2-3-1. Pola cucukan tersebut hampir sama seperti anyaman keper. Pola tersebut
awalnya akan membentuk efek lusi bergerak dari kiri bawah ke kanan atas, namun pada
akhirnya akan menimbulkan efek cerimin,sehingga terbentuklah anyaman diamond. Jika
praktikan ingin membentuk anyaman runcing, praktikan bisa mengganti injakan dengan
dimulai dari 4-2-3-1, maka anyaman pun akan terbentuk anyaman runcing atau anyaman yang
berbeda dari anyaman diamond.

VI. Kesimpulan
VI.I Kesimpulan Praktikum Tenun Identifikasi dan Penyetelan ATBM Roll
Jadi praktikum tenun identifikasi dan penyetelan ATBM roll dilaksanakan agar
mahasiswa atau praktikan dapat memahami gerakan-gerakan yang ada dalam mesin
tenun,mekanisme,dan cara menenun yang baik dan benar. Sebelum, praktikan memulai
untuk menenun anyaman selanjutnya di mesin ATBM roll.

VI.II Kesimpulan Praktikum Tenun ATBM Anyaman Polos dan Keper


Jadi dalam praktikum mesin ATBM isi anyaman polos didapatkan benang yang
dicucuk pada kamran 1-2-3-4 dan 1-3-2-4, untuk pola cucukan lurus kamran 1 dan 3
diikat pada injakan 2 dan kamran 2 dan 4 diikat pada injakan 1. Pada pola cucukan
loncatan kamran 1 diikatkan pada injakan 2 dan 4 , kamran 2 diikatkan pada injakan 1
dan 3, kamran 3 diikatkan pada injakan 1 dan 4, dan kamran 4 diikatkan pada injakan
2 dan 3. Untuk praktikum mesin ATBM isi anyaman keper didapatkan pola anyaman
2
2
/1.

VI.III Kesimpulan Praktikum Tenun ATBM Anyaman Turunan Dasar


Jadi, pada praktikum tenun ATBM anyaman turunan dasar, dapat disimpulkan bahwa
anyaman ajour adalah turunan dari anyaman polos, sehingg apabila pola injakan dirubah,
bisa menjadi anyaman polos. Sedangkan anyaman diamond merupaka turunan dari
anyaman keper dan apabila pola injakan diganti bisa menghasilkan anyaman runcing

VII. Daftar Pustaka


Jumaeri, S.Teks., dkk. 1977. Pengetahuan Barang Tekstil. Institut Teknologi Tekstil:
Bandung

Liek Soeparli, S.Teks, et al. 1974. Teknologi Pertenunan. Institut Teknologi


Tekstil. Bandung

Kunthara. (2014). “Supplementary-weft weaving technique (Backstrap loom)”.


http://kuntharatex.blogspot.co.id/2014/03/supplementary-weft-weaving-
technique.html