Anda di halaman 1dari 58

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR

SMK…………
JL……………..
TELP…………….. FAX………… Kode Pos:…………….
EMAIL :…………… Website:……………
__________________________________________________________________________

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Nama Sekolah : SMKN


Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Kelas/Semester : XI / Ganjil
Materi Pokok : 3.5 Menganalisis data pembuatan SPT pajak penghasilan (PPh)
Pasal 21
4.5 Melakukan perhitungan pajak penghasilan (PPh) Pasal 21
Alokasi Waktu : 21 JP (3 JP x 7 pertemuan)

A. Kompetensi Inti
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang
pengetahuan faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai
dengan bidang dan lingkup kerja Akuntansi dan Keuangan Lembaga pada
tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks
pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja,
warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.
KI 4 : Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan
prosedur kerja yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai
dengan bidang Akuntansi dan Keuangan Lembaga. Menampilkan kinerja di
bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur sesuai dengan
standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif,
kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam
ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan
langsung
Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan,
gerak mahir, menjadikan gerak alami dalam ranah konkret terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan
tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.

Hal 1 dari 58
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi


3.5 Menganalisis data pembuatan 3.5.1 Menjelaskan definisi SPT.
SPT pajak penghasilan (PPh) 3.5.2 Mendeskripsikan pengertian PPh 21.
Pasal 21. 3.5.3 Menjelaskan tata cara perhitungan
pemotongan PPh 21.
3.5.4 Mengidentifikasi bentuk dan isi SPT
tahunan PPh 21.
3.5.5 Menjelaskan tata cara pengisian SPT untuk
PPh 21.
4.5 Melakukan perhitungan pajak 4.5.1 Menghitung pemotongan pph 21.
penghasilan (PPh) Pasal 21 4.5.2 Mengisi SPT tahunan PPh 21.
4.5.3 Mengisi bukti pemotongan PPh Pasal 21.

C. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai melalui proses pemberian stimulus, diskusi,
tanya jawab, presentasi, penugasan, dan analisis adalah peserta didik mampu menjelaskan
pengertian dan perhitungan PPh pasal 21. Peserta didik juga diharpkan mampu untuk
menjelaskan prosedur pelaporan PPh pasal 21 dimulai dengan mendefinisikan SPT,
menjelaskan bentuk dan isi dari SPT serta tata cara pengisian SPT untuk PPh pasal 21.
Keterampilan yang diharapkan adalah peserta didik mampu menghitung pemotongan PPh
21 untuk setiap jenis pekerjaan serta bagaimana pelaporannya dengan mengisi SPT tahunan
untuk PPh pasal 21. Melalui dua kemampuan tersebut peserta didik akan dapat menalar,
mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif,
komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan perhitungan pemotongan PPh
pasal 2, pelaporannya dengan mengisi SPT tahunan untuk PPh pasal 21, serta mengisi buktii
pemotongan PPh Pasal 21.

D. Materi Pembelajaran
1. Faktual
Permasalahan kontekstual yang berkaitan dengan masih banyaknya wajib pajak yang
bingung dalam menghitung pajak penghasilan khusunya pada PPh pasal 21 serta
bagaimana para wajib pajak harus melaporkan pajaknya yang kemudian menimbulkan
lalainya pembayaran pajak oleh wajib pajak dikarenakan menurut mereka pembayaran
pajak yang terlalu rumit.

2. Konseptual (Lampiran 1)
a. Pengertian PPh pasal 21
b. Pengertian pemotong PPh pasal 21
c. Hak dan kewajiban pemotong PPh pasal 21
d. Pengertian wajib pajak PPh pasal 21
e. Hak dan kewajiban wajib pajak PPh pasal 21
f. Objek pajak PPh pasal 21
g. Pengertian PPh pasal 21 final
h. Macam-macam penghasilan yang dipotong PPH pasal 21 final
i. Penghasilan yang PPh pasal 21nya ditanggung oleh pemerintah
j. Penghasilan yang tidak dipotong PPH pasal 21
Hal 2 dari 58
k. Pengurangan yang diperbolehkan
l. Penghasilan yang tidak diberikan pengurangan
m. Pengertian pemotongan PPh pasal 21
n. Tarif PPh pasal 21
o. Mekanisme pemungutan PPh pasal 21
p. Dokumen dan formulir yang terkait dengan pemungutan PPh pasal 21
q. Pengertian SPT PPh Pasal 21.
r. Jenis-jenis SPT PPh Pasal 21, bentuk, isi, dan fungsi.
s. Bukti pemotongan PPh Pasal 21.
t. Perbedaan SPT PPh Pasal 21 dengan bukti pemotongan PPh Pasal 21
u. Bentuk dan isi SPT tahunan PPh wajib pajak badan.
v. Bentuk dan isi SPT tahunan PPh wajib pajak orang pribadi.

3. Prosedural (Lampiran 1)
a. Tata cara perhitungan pemotongan PPh Pasal 21 untuk pegawai tetap.
b. Tata cara perhitungan PPh pasal 21 atas penghasilan teratur bagi pegawai tetap.
c. Tata cara perhitungan PPh pasal 21 terutang pada bulan desember atau masa pajak
tertentu u
ntuk pegawai tetap yang berhenti bekerja sebelum bulan desember.
d. Tata cara perhitungan PPh pasal 21 dengan gaji bulanan
e. Tata cara perhitungan PPh pasal 21 gaji mingguan dan gaji harian
f. Tata cara perhitungan PPh pasal 21 atas pembayaran uang rapel
g. Tata cara pengisian SPT Masa PPh Pasal 21.
h. Tata cara pengisian pengisian bukti pemotongan PPh Pasal 21.
i. Tata cara pengisian SPT Tahunan PPh wajib pajak badan.
j. Tata cara pengisian SPT Tahunan PPh Pasal 21 Wajib Pajak Orang Pribadi.

E. Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Santific Approach
2. Metode : Diskusi, tanya jawab, penugasan, presentasi, kerja kelompok

F. Media Pembelajaran
1. LCD
2. Laptop
3. Powerpoint / Video Pembelajaran
4. Alat Peraga (bukti transaksi)

G. Sumber Belajar
1. Internet
2. E- book
3. Buku teks (peserta didik)
4. Buku Perpajakan untuk SMK
5. Internet

H. Langkah-langkah Pembelajaran
Pertemuan I: 3 JP x 45 menit = 135 menit
Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pembukaan 1. Membuka pelajaran dengan mengucap salam dan 20 Menit
memersilahkan untuk berdoa;
Hal 3 dari 58
2. Melakukan presensi kemudian menanyakan kesiapan dan
kenyamaan belajar.
3. Memersilahkan peserta didik untuk mengecek kebersihan
kelas terlebih dahulu sebelum pelajaran dimulai
4. Memberi motivasi belajar peserta didik secara
kontekstual mengenai manusia yang memiliki berbagai
macam profesi dimana setiap profesi pasti memiliki
pegnhasilan, peserta didik diminta menyebutkan
beberapa profesi dan ditanya apa kewajiban yang harus
dilakukan atas penghasilan tersebut kemudian
menghubungkan dengan pajak penghasilan .
5. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait surat-surat
yang digunakan dalam perpajakan sesuai dengan
pertemuan sebelumnya.
6. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar
yang akan dicapai; dan
7. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian
kegiatan sesuai silabus
Kegiatan Inti Peserta didik dibagi menjadi 8 kelompok yang terdiri dari 4 100
sampai dengan 5 orang. menit

Mengamati
Peserta didik mengamati dan memahami hand out mengenai
pengertian PPh pasal 21, pengertian pemotong PPh pasal 21,
hak dan kewajiban pemotong PPh pasal 21, pengertian wajib
pajak, hak dan kewajiban wajib pajak, objek pajak PPh pasal
21 yang telah diberikan guru.

Menanya
Peserta didik merumuskan pertanyaan untuk
mengidentifikasi masalah mengenai pengertian PPh pasal
21, pengertian pemotong PPh pasal 21, hak dan kewajiban
pemotong PPh pasal 21, pengertian wajib pajak, hak dan
kewajiban wajib pajak, objek pajak PPh pasal 21.

Mencoba
Setiap kelompok bertugas untuk menjabarkan tiap poin dari
hal yang telah diamati:
Kelompok 1 : Pengertian PPh pasal 21
Kelompok 2 : Pengertian pemotong PPh pasal 21
Kelompok 3 : Hak pemotong PPh pasal 21
Kelompok 4 : Kewajiban pemotong PPh pasal 21
Kelompok 5 : Pengertian wajib pajak PPh pasal 21
Kelompok 6 : Hak wajib pajak PPh pasal 21
Kelompok 7 : Kewajiban wajib pajak PPh pasal 21
Kelompok 8 : Objek pajak PPh pasal 21
Hal 4 dari 58
.
Menalar
1. Peserta didik mengolah berbagi informasi yang
ditemukan berhubungan dengan tugas yang diberikan
oleh guru.
2. Peserta didik bersama dengan kelompoknya saling
berdiskusi untuk menganalisis dan menyimpulkan
informasi tentang hasil diskusi mereka

Mengkomunikasikan
Peserta didik melaporkan hasil diskusi kedepan kelas tentang
PPH pasal 21 dan dikumpulkan dalam bentuk tertulis dalam
folio bergaris.
Penutup Peserta didik baik secara individual maupun kelompok
melakukan refleksi untuk mengevaluasi hal-hal berikut.
1. Seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil
yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama
menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung
dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung;
2. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil
pembelajaran;
3. Guru memberikan soal tugas individu berupa
15 Menit
mewawancarai orang disekitar lingkungannya mengenai
pengetahuan mereka tentang pajak khususnya PPh pasal
21 dan apakah orang tersebut sudah taat pajak atau belum
kemudian merangkumnya dalam bentuk print out.
4. Guru mengingatkan peserta didik untuk memelajari
kembali materi yang telah dipelajari di rumah.
5. Guru memberikan motivasi serta mengingatkan peserta
didik untuk senantiasa menjaga kebersihan kelas dan
menutup kegiatan pembelajaran dengan salam.

Pertemuan II: 3 x 45 menit = 135 menit


Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pembukaan 1. Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam dan 20 Menit
memersilahkan untuk berdoa;
2. Guru melakukan presensi kemudian menanyakan
kesiapan dan kenyamaan belajar belajar
3. Guru memersilahkan peserta didik untuk membaca buku
bacaan yang telah dibawa maupun yang telah dipinjam
dari perpustakaan atau sudut baca kelas (kegiatan
literasi)
4. Guru memersilahkan peserta didik untuk mengecek
kebersihan kelas terlebih dahulu sebelum pelajaran
dimulai
5. Memberi motivasi belajar peserta didik secara
Hal 5 dari 58
kontekstual mengenai orang orang yang malas mebayar
pajak karena tidak tahu bagaimana menghitung dan
bagaimana cara pemotongannya dan memersilahkan
peserta didik mengumpulkan tugas.
6. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait pengantar
PPh pasa 21 pada pertemuan sebelumnya.
7. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar
yang akan dicapai; dan
8. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian
kegiatan sesuai silabus
Kegiatan Inti Peserta didik dibagi ke dalam kelompok belajar yang terdiri 100
dari 4 orang, dengan kondisi yang kondusif. menit

Mengamati
Peserta didik mengamati dan memahami hand out mengenai,
Pengertian PPh pasal 21 final, Macam-macam penghasilan
yang dipotong PPH pasal 21 final, Penghasilan yang PPh
pasal 21nya ditanggung oleh pemerintah, Penghasilan yang
tidak dipotong PPH pasal 21, Pengurangan yang
diperbolehkan, Penghasilan yang tidak diberikan
pengurangan, Pengertian pemotongan PPh pasal 21, Tarif
PPh pasal 21 yang telah diberikan guru.

Menanya
Peserta didik merumuskan pertanyaan untuk
mengidentifikasi masalah mengenai Pengertian PPh pasal 21
final, Macam-macam penghasilan yang dipotong PPH pasal
21 final, Penghasilan yang PPh pasal 21nya ditanggung oleh
pemerintah, Penghasilan yang tidak dipotong PPH pasal 21,
Pengurangan yang diperbolehkan, Penghasilan yang tidak
diberikan pengurangan, Pengertian pemotongan PPh pasal
21, Tarif PPh pasal 21.

Mencoba
Setiap kelompok bertugas untuk menjabarkan tiap poin dari
hal yang telah diamati:
Kelompok 1 : Pengertian PPh pasal 21 final dan macam
macam penghasilan yang dipotong
PPH pasal 21 final
Kelompok 2 : Penghasilan yang PPh pasal 21nya
ditanggung oleh pemerintah
Kelompok 3 : Penghasilan yang tidak dipotong PPh pasal
21
Kelompok 4 : Pengurangan yang diperbolehkan
Kelompok 5 : Penghasilan yang tidak diberikan
pengurangan
Hal 6 dari 58
Kelompok 6 : Pengertian pemotongan PPh pasal 21 dan
Tarif PPh pasal 21

Menalar
1. Peserta didik mengolah berbagi informasi yang
ditemukan berhubungan dengan tugas yang diberikan
oleh guru.
2. Peserta didik bersama dengan kelompoknya saling
berdiskusi untuk menganalisis dan menyimpulkan
informasi tentang hasil diskusi mereka

Menyaji
Peserta didik melaporkan hasil diskusi dengan
mempresentasikan di depan kelas dan dikumpulkan dalam
bentuk tertulis dalam folio bergaris.

Penutup Guru bersama peserta didik baik secara individual maupun


kelompok melakukan refleksi untuk mengevaluasi hal-hal
berikut.
1. Seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil
yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama
menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung
dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung;
2. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil
pembelajaran; 15 Menit
3. Guru memberikan tugas berupa membuat bagan alir
mekanisme pemungutan PPh pasal 21
4. Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk
pertemuan berikutnya yang berkaitan dengan tugas
rumah yang dikerjakan.
5. Guru memberikan motivasi serta mengingatkan peserta
didik untuk senantiasa menjaga kebersihan kelas dan
menutup kegiatan pembelajaran dengan salam.

Pertemuan III: 3 x 45 menit = 135 menit


Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pembukaan 1. Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam dan 20 Menit
memersilahkan untuk berdoa;
2. Guru melakukan presensi kemudian menanyakan
kesiapan dan kenyamaan belajar belajar
3. Guru memersilahkan peserta didik untuk membaca buku
bacaan yang telah dibawa maupun yang telah dipinjam
dari perpustakaan atau sudut baca kelas (kegiatan
literasi)
4. Guru memersilahkan peserta didik untuk mengecek
kebersihan kelas terlebih dahulu sebelum pelajaran
Hal 7 dari 58
dimulai
5. Memberi motivasi belajar peserta didik secara
kontekstual dengan membahas hasil wawancara yang
telah mereka pada tugas pertemuan sebelumnya apakah
orang sekitar lingkungannya sudah paham mengenai
mekanisme pemungutan pajak yang benar kemudian
memersilahkan peserta didik mengumpulkan tugas.
6. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait PPh 21 final
dan tarif PPh pasal 21.
7. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar
yang akan dicapai; dan
8. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian
kegiatan sesuai silabus
Kegiatan Inti Peserta didik membentuk kelompok belajar yang terdiri dari 100
4 orang secara kondusif. menit

Mengamati
1. Peserta didik menerima hand out dan melihat video
tentang mekanisme pemungutan PPh Pasal 21 serta
dokumen dan formulir yang terkait dengan pemungutan
PPh pasal 21, pengertian SPT PPh Pasal 21, jenis-jenis
SPT PPh Pasal 21, bentuk, isi, dan fungsi, bukti
pemotongan PPh Pasal 21, perbedaan SPT PPh Pasal 21
dengan bukti pemotongan PPh Pasal 21, bentuk dan isi
SPT tahunan PPh wajib pajak badan, bentuk dan isi SPT
tahunan PPh wajib pajak orang pribadi.
2. Peserta didik menyaksikan video dan mempelajari
handout yang berisi informasi tentang mekanisme
pemungutan PPh pasal 21 serta dokumen dan formulir
yang digunakan dalam pemungutannya.
3. Peserta didik mencatat hal-hal penting berkaitan dengan
materi dalam video yang akan dipelajari dan
mengaitkannya dengan materi yang ada pada hand out
yang telah dibagikan

Menanya
1. Peserta didik merumuskan pertanyaan untuk
mengidentifikasi masalah mengenai mekanisme
pemungutan PPh Pasal 21, dokumen dan formulir yang
terkait dengan pemungutan PPh pasal 21, pengertian
SPT PPh Pasal 21, jenis-jenis SPT PPh Pasal 21,
bentuk, isi, dan fungsi, bukti pemotongan PPh Pasal 21,
perbedaan SPT PPh Pasal 21 dengan bukti pemotongan
PPh Pasal 21, bentuk dan isi SPT tahunan PPh wajib
pajak badan, bentuk dan isi SPT tahunan PPh wajib
pajak orang pribadi berdasarkan apa yang telah
diperoleh dari pengamatan video dan handout.
Hal 8 dari 58
2. Peserta didik merumuskan pertanyaan untuk
mengidentifikasi dokumen dan formulir yang terkait
dengan pemungutan PPh pasal 21, dokumen dan
formulir yang terkait dengan pemungutan PPh pasal 21,
pengertian SPT PPh Pasal 21, jenis-jenis SPT PPh Pasal
21, bentuk, isi, dan fungsi, bukti pemotongan PPh Pasal
21, perbedaan SPT PPh Pasal 21 dengan bukti
pemotongan PPh Pasal 21, bentuk dan isi SPT tahunan
PPh wajib pajak badan, bentuk dan isi SPT tahunan PPh
wajib pajak orang pribadi.

Mencoba
1. Peserta didik menjawab pertanyaan yang berkaitan
dengan materi yang diamati secara diskusi.
2. Peserta didik untuk mencari data dan mengumpulkan
informasi yang dibutuhkan untuk menjawab soal melalui
handout, internet dan modul. Atas pengarahan dari guru.
3. Soal yang diberikan dikerjakan secara berkelompok
sesuai pembagian yang telah dilakukan.

Menalar
1. Peserta didik untuk mengolah informasi yang diperoleh
dari berbagai sumber tersebut dengan kelompoknya,
dengan arahan dari guru.
2. Kelompok diskusi menyimpulkan informasi tentang
Mekanisme pemungutan PPh pasal 21 serta dokumen
dan formulir yangterkait dengan pemungutan PPh pasal
21, pengertian SPT PPh Pasal 21, jenis-jenis SPT PPh
Pasal 21, bentuk, isi, dan fungsi, bukti pemotongan PPh
Pasal 21, perbedaan SPT PPh Pasal 21 dengan bukti
pemotongan PPh Pasal 21, bentuk dan isi SPT tahunan
PPh wajib pajak badan, bentuk dan isi SPT tahunan PPh
wajib pajak orang pribadi.

Menyaji
1. Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi
tentang mekanisme pemungutan PPh pasal 21 serta
dokumen dan formulir yang digunakan dalam
pemungutan PPh pasal 21, pengertian SPT PPh Pasal
21, jenis-jenis SPT PPh Pasal 21, bentuk, isi, dan fungsi,
bukti pemotongan PPh Pasal 21, perbedaan SPT PPh
Pasal 21 dengan bukti pemotongan PPh Pasal 21, bentuk
dan isi SPT tahunan PPh wajib pajak badan, bentuk dan
isi SPT tahunan PPh wajib pajak orang pribadi.
2. Peserta didik memresentasikan hasil diskusi di depan
kelas dan dikumpulkan secara tertulis dalam bentuk
rangkuman dalam folio bergaris.
Hal 9 dari 58
Penutup Guru bersama peserta didik melakukan refleksi untuk
mengevaluasi hal-hal berikut.
1. Seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil
yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama
menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung
dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung;
2. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil
pembelajaran; 15 Menit
3. Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk
pertemuan berikutnya yaitu tentang penjabaran tiap
dokumen dan formulir yang digunakan dalam
pemungutan PPh pasal 21.
4. Guru memberikan motivasi serta mengingatkan peserta
didik untuk senantiasa menjaga kebersihan kelas dan
menutup kegiatan pembelajaran dengan salam

Pertemuan IV: 3 x 45 menit = 135 menit


Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pembukaan 1. Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam dan
memersilahkan untuk berdoa;
2. Guru melakukan presensi kemudian menanyakan
kesiapan dan kenyamaan belajar belajar
3. Guru memersilahkan peserta didik untuk membaca buku
bacaan yang telah dibawa maupun yang telah dipinjam
dari perpustakaan atau sudut baca kelas (kegiatan
literasi)
4. Guru memersilahkan peserta didik untuk mengecek
kebersihan kelas terlebih dahulu sebelum pelajaran
20 Menit
dimulai
5. Memberi motivasi belajar peserta didik secara
kontekstual dengan memerlihatkan beberapa jenis
pekerjaan yang pemotongan PPh pasal 21nya berbeda.
6. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait SPT tahunan
PPh pasal 21
7. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar
yang akan dicapai; dan
8. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian
kegiatan sesuai silabus
Kegiatan Inti Peserta didik membentuk kelompok belajar yang terdiri dari 100
4 orang secara kondusif. menit

Mengamati
1. Siswa menerima hand out dan melihat power point
tentang Tata cara perhitungan pemotongan PPh Pasal 21
untuk pegawai tetap, Tata cara perhitungan PPh pasal 21
atas penghasilan teratur bagi pegawai tetap, dan tata
cara perhitungan PPh pasal 21 terutang pada bulan
Hal 10 dari 58
desember atau masa pajak tertentu untuk pegawai tetap
yang berhenti bekerja sebelum bulan desember.
2. Peserta didik mencatat hal-hal penting berkaitan dengan
materi dalam power point yang akan dipelajari dan
mengaitkannya dengan materi yang ada pada hand out
yang telah dibagikan.

Menanya
Peserta didik merumuskan pertanyaan untuk
mengidentifikasi masalah mengenai Tata cara perhitungan
pemotongan PPh Pasal 21 untuk pegawai tetap, Tata cara
perhitungan PPh pasal 21 atas penghasilan teratur bagi
pegawai tetap, dan tata cara perhitungan PPh pasal 21
terutang pada bulan desember atau masa pajak tertentu untuk
pegawai tetap yang berhenti bekerja sebelum bulan
desember.

Mencoba
1. Peserta didik menjawab soal studi kasus secara
berkelompok.
2. Peserta didik mencari data dan mengumpulkan
informasi yang dibutuhkan untuk menjawab soal
melalui handout, internet dan modul.
3. Soal yang diberikan dikerjakan secara berkelompok
sesuai pembagian yang telah dilakukan.

Menalar
1. Peserta didik mengolah informasi yang diperoleh dari
berbagai sumber tersebut dengan kelompoknya.
2. Kelompok diskusi menyimpulkan informasi tentang
dokumen dan formulir yang terkait dengan Tata cara
perhitungan pemotongan PPh Pasal 21 untuk pegawai
tetap, Tata cara perhitungan PPh pasal 21 atas
penghasilan teratur bagi pegawai tetap, dan tata cara
perhitungan PPh pasal 21 terutang pada bulan desember
atau masa pajak tertentu untuk pegawai tetap yang
berhenti bekerja sebelum bulan desember.

Menyaji
1. Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi
tentang Tata cara perhitungan pemotongan PPh Pasal 21
untuk pegawai tetap, Tata cara perhitungan PPh pasal 21
atas penghasilan teratur bagi pegawai tetap, dan tata
cara perhitungan PPh pasal 21 terutang pada bulan
desember atau masa pajak tertentu untuk pegawai tetap
yang berhenti bekerja sebelum bulan desember.
2. Peserta didik memresentasikan hasil diskusi di depan
kelas dan dikumpulkan secara tertulis dalam bentuk
Hal 11 dari 58
rangkuman dalam folio bergaris.
Penutup Guru bersama peserta didik melakukan refleksi untuk
mengevaluasi hal-hal berikut.
1. Seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil
yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama
menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung
dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung;
2. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil
pembelajaran; 15 Menit
3. Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran
untuk pertemuan berikutnya yaitu tentang perhitungan
PPh pasal 21 untuk pekerjaan yang lain
4. Guru memberikan tugas perhitungan PPh pasal 21 yang
telah dibahas secara individu.
1. Guru memberikan motivasi serta mengingatkan peserta
didik untuk senantiasa menjaga kebersihan kelas dan
menutup kegiatan pembelajaran dengan salam

Pertemuan V: 3 x 45 menit = 135 menit


Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pembukaan 1. Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam dan
memersilahkan untuk berdoa;
2. Guru melakukan presensi kemudian menanyakan
kesiapan dan kenyamaan belajar belajar
3. Guru memersilahkan peserta didik untuk membaca buku
bacaan yang telah dibawa maupun yang telah dipinjam
dari perpustakaan atau sudut baca kelas (kegiatan
literasi)
4. Guru memersilahkan peserta didik untuk mengecek
kebersihan kelas terlebih dahulu sebelum pelajaran
dimulai
20 Menit
5. Memberi motivasi belajar peserta didik secara
kontekstual dengan menjabarkan pekerjaan yang tidak
semua menerima gaji secara bulanan tapi ada yang
minguan bahkan harian
6. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait perhitungan
PPh pasal 21 pada pertemuan sebelumnya dan
mengistruksikan untuk mengumpulkan tugas.
7. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar
yang akan dicapai; dan
8. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian
kegiatan sesuai silabus
Kegiatan Inti Guru mengondisikan kelas ke dalam keadaan kondusif dan 100
membagi peerta didik ke dalam kelompok belajar yang menit
terdiri dari 4 orang.
Mengamati
1. Peserta didik menerima hand out dan menayangkan
Hal 12 dari 58
power point tentang tata cara perhitungan PPh pasal 21
dengan gaji bulanan, tata cara perhitungan PPh pasal 21
gaji mingguan dan gaji harian, dan tata cara perhitungan
PPh pasal 21 atas pembayaran uang rapel.
2. Peserta didik mencatat hal-hal penting berkaitan dengan
materi dalam PPT yang akan dipelajari dan
mengaitkannya dengan materi yang ada pada hand out
yang telah dibagikan

Menanya
Peserta didik merumuskan pertanyaan untuk
mengidentifikasi masalah mengenai tata cara perhitungan
PPh pasal 21 dengan gaji bulanan, tata cara perhitungan PPh
pasal 21 gaji mingguan dan gaji harian, dan tata cara
perhitungan PPh pasal 21 atas pembayaran uang rapel.

Mencoba
1. Peserta didik menjawab pertanyaan yang berkaitan
dengan materi yang diamati kepada kelompok diskusi.
2. Peserta didik mencari data dan mengumpulkan informasi
yang dibutuhkan untuk menjawab soal melalui handout,
internet dan modul.
3. Soal yang diberikan dikerjakan secara berkelompok
sesuai pembagian yang telah dilakukan.

Menalar
1. Guru mengarahkan peserta didik untuk mengolah
informasi yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut
dengan kelompoknya.
2. Guru mengarahkan kelompok diskusi untuk
menyimpulkan informasi tentang tata cara perhitungan
PPh pasal 21 dengan gaji bulanan, tata cara perhitungan
PPh pasal 21 gaji mingguan dan gaji harian, dan tata cara
perhitungan PPh pasal 21 atas pembayaran uang rapel.

Menyaji
1. Guru mengintruksikan kepada masing-masing kelompok
untuk melaporkan hasil diskusi tentang tata cara
perhitungan PPh pasal 21 dengan gaji bulanan, tata cara
perhitungan PPh pasal 21 gaji mingguan dan gaji harian,
dan tata cara perhitungan PPh pasal 21 atas pembayaran
uang rapel.
2. Peserta didik memresentasikan hasil diskusi di depan
kelas dan dikumpulkan secara tertulis dalam bentuk
rangkuman dalam folio bergaris.
Penutup Guru bersama peserta didik melakukan refleksi untuk 15 Menit
mengevaluasi hal-hal berikut.
1. Seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil
Hal 13 dari 58
yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama
menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung
dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung;
2. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil
pembelajaran;
3. Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran
untuk pertemuan berikutnya yaitu tentang pengisian
SPT untuk PPh pasal 21.
4. Guru memberikan motivasi serta mengingatkan peserta
didik untuk senantiasa menjaga kebersihan kelas dan
menutup kegiatan pembelajaran dengan salam

Pertemuan VI: 3 x 45 menit = 135 menit


Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pembukaan 1. Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam dan
memersilahkan untuk berdoa;
2. Guru melakukan presensi kemudian menanyakan
kesiapan dan kenyamaan belajar belajar
3. Guru memersilahkan peserta didik untuk membaca buku
bacaan yang telah dibawa maupun yang telah dipinjam
dari perpustakaan atau sudut baca kelas (kegiatan
literasi)
4. Guru memersilahkan peserta didik untuk mengecek
kebersihan kelas terlebih dahulu sebelum pelajaran
20 Menit
dimulai
5. Memberi motivasi belajar peserta didik secara
kontekstual dengan memerlihatkan contoh SPT untuk
PPh pasal 21 badan maupun wajib pajak pribadi.
6. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait perhitungan
PPh pasal 21 pada pertemuan sebelumnya
7. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar
yang akan dicapai; dan
8. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian
kegiatan sesuai silabus
Kegiatan Inti Peserta didik membentuk kelompok belajar yang terdiri dari 100
4 orang. menit

Mengamati
1. Peserta didik menerima hand out dan menayangkan
video tentang tata cara pengisisan bukti pemotongan dan
SPT untuk PPH pasal 21 wajib pajak badan dan wajib
pajak pribadi.
2. Peserta didik mencatat hal-hal penting berkaitan dengan
materi dalam video yang akan dipelajari dan
mengaitkannya dengan materi yang ada pada hand out
yang telah dibagikan

Hal 14 dari 58
Menanya
Peserta didik merumuskan pertanyaan untuk
mengidentifikasi masalah mengenai tata cara pengisisan
bukti pemotongan dan SPT untuk PPH pasal 21 wajib pajak
badan dan wajib pajak pribadi berdasarkan apa yang telah
diperoleh dari pengamatan video dan handout.

Mencoba
1. Peserta didik menerima form bukti pemotongan dan SPT
pekadap tiap kelompok.
2. Peserta didik mencari data dan mengumpulkan informasi
yang dibutuhkan untuk menjawab soal melalui handout,
internet dan modul.
3. Form yang diberikan dikerjakan secara berkelompok
sesuai pembagian yang telah dilakukan.

Menalar
1. Peserta didik untuk mengolah informasi yang diperoleh
dari berbagai sumber tersebut dengan kelompoknya.
2. Kelompok diskusi menyimpulkan informasi tentang
bagiamana tata cara pengisisan bukti pemotongan dan
SPT untuk PPH pasal 21 wajib pajak badan dan wajib
pajak pribadi.

Menyaji
1. Masing-masing kelompok melaporkan hasil pengisian
bukti pemotongan dan SPT untuk PPH pasal 21 wajib
pajak badan dan wajib pajak pribadi..
2. Peserta didik memresentasikan hasil diskusi di depan
kelas dan hasil pengisian form dikumpulkan.
Penutup Guru bersama peserta didik melakukan refleksi untuk
mengevaluasi hal-hal berikut.
1. Seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil
yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama
menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung
dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung;
2. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil 15 Menit
pembelajaran;
3. Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk
pertemuan berikutnya yaitu ulangan harian
4. Guru memberikan motivasi serta mengingatkan peserta
didik untuk senantiasa menjaga kebersihan kelas dan
menutup kegiatan pembelajaran dengan salam

Pertemuan VII: 3 x 45 menit = 135 menit


Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pembukaan 1. Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam dan 20 Menit
Hal 15 dari 58
memersilahkan untuk berdoa;
2. Guru melakukan presensi kemudian menanyakan
kesiapan menghadapi ulangan harian.
3. Guru memersilahkan peserta didik untuk mengecek
kebersihan kelas terlebih dahulu sebelum pelajaran
dimulai
4. Guru Menyampaikan peraturan ulangan harian dan
mengkondisikan siswa tenang dan kondusif.
Kegiatan Inti 1. Peserta didik belajar materi yang akan diujikan selama
10 menit.
2. Siswa untuk memasukan semua buku dan catatan siswa
kedalam tas dan yang diatas meja hanya ada folio,
kalkulator dan alat tulis. 120
3. Siswa menerima soal ujian
menit
4. Siswa untuk mengerjakan soal ulangan harian secara
individu dengan waktu 100 menit.
5. Siswa dikondisikan dalam keadaan kondusif.
6. Ketika waktu mengerjakan habis guru meminta siswa
mengumpulkan lembar jawaban.
Penutup 1. Guru menyampaikan sub materi yang akan dibahas
pertemuan selanjutnya
2. Guru meminta siswa untuk mempelajari materi
5 Menit
pertemuan selanjutnya di rumah
3. Guru mempersilahkan siswa untuk istirahat dan
senantiasa menjaga kebersihan kelas.

I. Penilaian Proses dan Hasil belajar


1. Penilaian Pembelajaran
a. Penilaian Diskusi (Lampiran 2)
b. Penilaian Pengetahuan
Teknik Tes : Tes tulis dan Penugasan
Bentuk : Essay / Uraian
Instrumen : Terlampir ( Lampiran 3 )
Rubrik Penilaian : Terlampir ( Lampiran 3 )
c. Penilaian Ketrerampilan
Teknik Tes : Penilaian kinerja
Bentuk : Mengerjakan studi kasus perhitungan perpajakan
Instrumen : Terlampir ( lampiran 4 )
Rubrik Penilaian : Terlampir ( lampiran 4 )
2. Pembelajaran Remidial dan Pengayaan
a. Remidial
Dapat diberikan pendampingan personal/bimbingan individu bagi peserta didik yang
dirasa belum mampu untuk memahami materi ini.
b. Pengayaan
c. Secara individu peserta didik diminta untuk mengerjakan soal pengayaan yang telah
disiapkan oleh guru
Program pembelajaran remidial dan pengayaan terlampir ( Lampiran 5 )

Hal 16 dari 58
Surabaya, 02 Juni 2018
Mengetahui, Guru Mata Pelajaran
Kepala Sekolah
SMKN

( ) (Afria Zunia Pratiwi)


NIP. NIP.

Hal 17 dari 58
Lampiran 1: Materi Pembelajaran

Pertemuan 1

HANDOUT PPH pasal 21

Pajak Penghasilan Pasal 21 :


Pajak atau penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan
dalam bentuk apapun yang diterimaatau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri
sebagaimana diatur dalam Pasal 21 Undang-Undang Pajak Penghasilan

Pemotong PPh pasal 21 :


Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak Badan, termasuk bentuk usaha tetap (BUT) yang
mempunyai kewajiban untuk melakukan pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan
dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam pasal 21
dan pasal 26 Undang-undang Pajak Penghasilan.

PEMOTONG PPh PASAL 21:


PELAKU
1. Bendahara atau pemegang kas pemerintah
2. Dana pensiun dan badan penyelenggara JAMSOSTEK
3. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha
4. Penyelenggara kegiatan

HAK PEMOTONG
1. Kelebihan Jumlah setoran PPh pasal 21
2. Mengajukan perpanjangan jangka waktu penyampaian SPT
3. Mengajukan surat keberatan kepada DIRJEN Pajak

KEWAJIBAN PEMOTONG
1. Mendaftarkan diri ke kantor layanan pajak
2. Mengitung dan melaporkan PPh yang terutang setiap bulan takwim
3. membuat catatan atau kertas kerja penghitungan PPh pasal 21 untuk masing-masing
penerima penghasilan
4. membuat bukti pemotongan PPh Pasal 21 dan memberikan bukti pemotongan tersebut
kepada penerima penghasilan yang dipotong pajak
5. Memberikan bukti PPh pasal 21 atas pemotongan PPh pasal 21
6. Melaporkan pemotongan dan penyetoran PPh pasal 21 setiap masa pajak

WAJIB PAJAK PPh PASAL 21


Wajib pajak penghasilan pasal 21 adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan.
1. pegawai
2. Penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua
3. Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa, atau kegiatan

Hal 18 dari 58
4. Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan
keikutsertaannya dalam suatu kegiatan

WAJIB PAJAK PENGHASILAN PASAL 21

HAK-HAK WAJIB PAJAK : KEWAJIBAN WAJIB PAJAK


1. Wajib pajak berhak meminta bukti 1. Wajib pajak berkewajiban membuat
pemotongan PPh pasal 21 kepada surat pernyataan yang berisi jumlah
pemotong pajak. tanggungan keluarga pada awal tahun
2. wajib pajak berhak untuk kalender
mengajukan surat keberatan kepada 2. Dalam hal terjadi perubahan tanggungan
Direktur Jendral Pajak keluarga, Wajib Pajak berkewajiban
3. Wajib pajak berhak mengajukan membuat surat pernyataan baru dan
permohonan banding secara tertulis menyerahkannya kepada Pemotong PPh
dengan alasan yang jelas kepada Pasal 21
Badan Peradilan Pajak 3. Wajib Pajak berkewajiban menyerahkan
bukti pemotongan PPh pasal 21 kepada
pemotong pajak baru jika pindah tugas
4. Wajib pajak berkewajiban memasukkan
Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan,
jika wajib pajak mempunyai NPWP
5. Wajib pajak berkewajiban memasukan
Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan,
jika wajib pajak mempunyai
penghasilan lebih dari satu pemberi
kerja.

OBJEK PAKA PPh PASAL 21


1. Penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tetap,
2. Penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secara teratur
3. Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan penghasilan sehubungan
dengan pensiun yang diterima secara sekaligus
4. Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas
5. Imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium, komisi, fee, dan imbalan
sejenisnya dengan nama dan dalam bentuk apapun
6. Imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku, uang representasi, uang
rapat, honorarium, hadiah atau penghargaan
7. Penghasilan yang dipotong PPh pasl 21 termasuk pula penerimaan dalam bentuk natura
dan/atau kenikmatan lainnya

Hal 19 dari 58
Pertemuan 2

PEMOTONGAN PPh PASAL 21 DAN TARIF PPh PASAL 21

Pengertian Pajak Penghasilan final


Pajak penghasilan bersifat final adalah seluruh pajak yang telah dipotong oleh pihak
pemungut pajak dianggap final (selesai), tanpa harus menunggu perhitungan dari pihak diskus atau
pajak yang telah dipotong atau telah dibayar dianggap telah selesai perhitungannya walaupun
Surat Ketetapan Pajak belum ada.

Jenis Penghasilan yang dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 yang bersifat final adalah:
a. Uang tebusan pensiun yang dibayarkan oleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan
oleh Menteri Keuangan dan Tabungan Hari Tua atau Tunjangan Hari Tua (THT) dibayarkan
sekaligus oleh badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja.
b. Uang pesangon.
c. Hadiah dan penghargaan perlombaan.
d. Honorarium atau komisi yang dibayarkan kepada penjaja barang dan petugas dinas luar
asuransi. Yang dimaksud dengan penjaja barang dagangan adalah barang dagangan berupa
kosmetik, sabun, odol, buku dan barang-barang keperluan rumah tangga sehari-hari lainnya.
e. Penghasilan yang dibayarkan kepada Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, anggota Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia dan Pensiunan, selain Pegawai Negeri Sipil golongan II/d ke
bawah dan anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia berpangkat Pembantu Letnan
Satu ke bawah yang dibebankan kepada Keuangan Negara atas Keuangan Daerah berupa
honorarium, uang sidang, uang hadir, uang lembur, imbalan prestasi kerja dan imbalan lain
selain penghasilan berupa gaji kehormatan, gaji atau uang pensiun, dan tunjangan yang terkait
dengan gaji kehormatan, gaji atau uang pensiun.

Jenis Pengghasilan yang PPh pasal 21nya ditanggung oleh pemerintah :


1. Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Anggota ABRI berupa gaji dan tunjangan-tunjangan lain
yang sifatnya tetap dan terkait dengan gaji;
2. Pensiunan termasuk janda atau duda dan/atau anak-anaknya berupa uang pensiun dan
tunjangan lain yang sifatnya tetap dan terkait dengan uang pensiun;
3. yang dibebankan kepada Keuangan Negara/Daerah, Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21
yang terutang ditanggung pemerintah.
Pada prinsipnya semua penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi sehubungan
dengan jasa, pekerjaan, kegiatan dari Wajib Pajak pemotong PPh Pasal 21 wajib dilakukan
pemotongan PPh Pasal 21, namun demikian atas beberapa jenis penghasilan di bawah ini tidak
termasuk sebagai jenis penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21, yaitu:
1. pembayaran manfaat atau santunan asuransi dari perusahaan asuransi sehubungan dengan
asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi
beapeserta didik;
2. penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dalam bentuk apapun yang diberikan
oleh Wajib Pajak atau Pemerintah, selain yang diberikan oleh Wajib Pajak yang dikenakan
Pajak Penghasilan yang bersifat final atau dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan norma
penghitungan khusus;

Hal 20 dari 58
3. iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh
Menteri Keuangan, iuran tunjangan hari tua atau iuran jaminan hari tua kepada badan
penyelenggara tunjangan hari tua atau badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja yang
dibayar oleh pemberi kerja;
4. zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari badan atau lembaga amil zakat
yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah, atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib
bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia yang diterima oleh orang pribadi yang berhak
dari lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah sepanjang tidak ada
hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang
bersangkutan;
5. beapeserta didik yang memenuhi persyaratan tertentu yang ditentukan oleh Menteri
Keuangan.

Pengurangan yang diperbolehkan.


1. Biaya Jabatan, Biaya Pensiun, dan Iuran Pensiun/Jaminan Hari Tua Bagi Pegawai Tetap
2. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) bagi Pegawai Tetap, Pegawai Tidak Tetap, dan Bukan
Pegawai
3. Pengurang bagi Pegawai Harian dan Mingguan, serta Pegawai Tidak Tetap Lainnya

Pengurangan yang Tidak Diperkenankan Sebagai Pengurangan Penghasilan bruto


Berikut ini Biaya-biaya yang tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto Wajib Pajak Dalam
Negeri dan BUT seperti disebutkan dalam Pasal 9 ayat (1) UU No. 36 tahun 2008 :
1. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen
yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian SHU
koperasi
2. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu
atau anggota.
3. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan
4. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna dan asuransi
beapeserta didik, yang dibayar oleh WP orang pribadi kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja
dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi WP yang bersangkutan
5. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam
bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh
pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan yang berkaitan
dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan
6. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak
yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang
dilakukan
7. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ayat (1) huruf I, huruf j, huruf k, huruf l, dan huruf m serta zakat yang diterima oleh badan
amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah atau
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia,
yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah
Hal 21 dari 58
8. Pajak penghasilan
9. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi WP atau orang yang
menjadi tanggungannya
10. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer yang
modalnya tidak dibagi atas saham
11. Sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang
berkenaan dengan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.

Pengertian Pemotong PPh Pasal 21 adalah :


Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan, termasuk bentuk usaha tetap, yang
mempunyai kewajiban untuk melakukan pemotongan pajak atas penghasilan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa, dan kegiatan orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 Undang-
Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan.

Pemotong PPh Pasal 21 terdiri dari :


1. pemberi kerja yang terdiri dari:
a. orang pribadi
b. badan;
c. cabang, perwakilan, atau unit, dalam hal yang melakukan sebagian atau seluruh
administrasi yang terkait dengan pembayaran gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan
pembayaran lain adalah cabang, perwakilan, atau unit tersebut.
2. bendahara atau pemegang kas pemerintah, termasuk bendahara atau pemegang kas pada
Pemerintah Pusat termasuk institusi TNI/POLRI, Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga
pemerintah, lembaga-lembaga negara lainnya, dan
3. Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri, yang membayarkan gaji, upah,
honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun
sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan;
a. dana pensiun, badan penyelenggara jaminan sosial
tenaga kerja, dan badan-badan lain yang membayar uang pensiun secara berkala dan
tunjangan hari tua atau jaminan hari tua;
b. orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan yang
membayar:
4. Honorarium, komisi, fee, atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan jasa
yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status Subjek Pajak dalam negeri, termasuk jasa
tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas dan bertindak untuk dan atas namanya sendiri,
bukan untuk dan atas nama persekutuannya : honorarium, komisi, fee, atau imbalan lain
kepada peserta pendidikan dan pelatihan, serta pegawai magang;
5. penyelenggara kegiatan, termasuk badan pemerintah, organisasi yang bersifat nasional dan
internasional, perkumpulan, orang pribadi serta lembaga lainnya yang menyelenggarakan
kegiatan, yang membayar honorarium, hadiah, atau penghargaan dalam bentuk apapun kepada
Wajib Pajak orang pribadi berkenaan dengan suatu kegiatan.
Tarif PPh Pasal 21 yang berlaku bagi wajib pajak (WP) :
1. 0 sampai dengan Rp50 juta = 5%
2. di atas Rp50 juta sampai dengan Rp250 juta = 15%
3. di atas Rp250 juta sampai dengan Rp500 juta = 25%
4. di atas Rp500 juta = 30%
Pertemuan 3
Hal 22 dari 58
MEKANISME PEMUNGUTAN PAJAK PPh PASAL 21

Pemotongan dan Pemungutan Pajak Penghasilan adalah suatu mekanisme yang memberikan
penugasan dan tanggungjawab kepada pihak ketiga untuk melakukan pemotongan atau
pemungutan atas pajak penghasilan yang terutang pada suatu transaksi yang dikenakan pajak.
Keunggulan dalam mekanisme pemotongan dan pemungutan pajak adalah waktu yang tepat dalam
pemungutan pajak. Dalam mekanisme witholding tax, pajak dipotong atau dipungut ketika
penghasilan diterima oleh subjek pajak. Prinsip "pay as your earn" pajak dikenakan ketika
penghasilan tersebut diterima atau diperoleh.
Kontribusi penerimaan pajak dari mekanisme pemotongan dan pemungutan terhadap
penerimaan pajak penghasilan cukup signifikan, mencapai kisaran 50% dari penerimaan PPh
Secara keseluruhan. Penerimaan tersebut dikontribusikan dari penerimaan PPh Pasal 21, PPh Pasal
22 , PPh, Pasal 23 PPh Pasal 26 dan Penerimaan PPh Final.
Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah cara pelunasan pajak dalam tahun berjalan
melalui pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Orang
Pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan. Bendahara pemerintah
yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lainnya sehubungan dengan
pekerjaan/jasa/kegiatan wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 21. Pembayaran Penghasilan
yang wajib dipotong PPh Pasal 21 oleh bendahara pemerintah antara lain adalah pembayaran atas
gaji, tunjangan, honorarium, upah, uang makan dan pembayaran lainnya (tidak termasuk
pembayaran biaya perjalanan dinas), baik kepada pegawai maupun bukan pegawai.
Pelaksanaannya mekanisme witholding tax system, melibatkan pihak ketiga yang ditunjuk
sebagai pemotong dan pemungut pajak. Pihak ketiga yang ditunjuk diberikan kewajiban untuk
melakukan pemotongan pajak yang terutang disebut sebagai pemotong pajak. Pihak ketiga yang
ditunjuk dan diberi kewajiban untuk melakukan pemungutan pajak disebut sebagai pemungut
pajak. Pemotong dan pemungut pajak termasuk sebagai wajib pajak sebagaimana diatur dalam
Undang-undang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan, bahwa: Wajib Pajak adalah orang
pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang
mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan.

Dokumen-Dokumen Terkait Pemungutan dan Pemotongan PPh Pasal 21


Surat Pemberitahuan (SPT) PPh Pasal 21
Pengertian Surat Pemberitahuan (SPT) PPh Pasal 21
Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan
penghitungan dan/atau pembayaran pajak atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa,
atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apappun yang diterima oleh Wajib Pajak orang
pribadi dalam negeri.
Dokumen Transaksi Pemotongan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 SPT Masa PPh Pasal 21
(Baru) Direktur Jenderal pajak melalui Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ./2009
tanggal 23 Mei 2009 mengatur formulir Surat Pemberitahuan (SPT) masa PPh Pasal 21, yang
wajib dipergunakan untuk pelaporan pajak Masa Juli 2009. Secara ringkas berikut ini isi
PER32/PJ./2009.

a. Pengertian umum

Hal 23 dari 58
1. Setiap Wajib Pajak wajib mengisi, menyampaikan Surat Pemberitahuan dengan benar,
lengkap, dan jelas.
2. Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 ditandatangani oleh
Wajib Pajak/Pengurus/Direksi atau Kuasa Wajib Pajak. SPT yang ditandatangani oleh
Kuasa Wajib Pajak harus dilampiri dengan Surat Kuasa Khusus.
3. PPh Pasal 21 dibayarkan/disetorkan paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya
setelah Masa Pajak berakhir dan dilaporkan paling lama 20 hari setelah Masa pajak.
4. Pembayaran/penyetoran PPh yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo dikenakan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan yang dihitung dari saat jatuh tempo
pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran dan bagian dari bulan dihitung penuh satu
bulan. SPT Masa PPh Pasal 21 yang disampaikan setelah jangka waktu yang ditetapkan
dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp 100.000,00

b. Pengertian khusus
1. SPT Masa PPh Pasal 21 yang baru sesuai PER-31/PJ./2009 wajib digunakan untuk
pelaporan Masa Pajak Juli 2009 (bulan laporan Agustus 2009).
2. Formulir SPT Masa PPh Pasal 21 terdiri dari beberapa jenis seperti tersaji pada berikut
i. Formulir 1721 Induk Tiap bulan, jika “Nihil” tetap wajib dilaporkan
ii. Formulir 1721 – T Daftar pegawai tetap/penerima pensiun berkala Untuk masa pajak
Juli 2009 saja, atau masa pajak pertama kali Wajib Pajak berkewajiban menyampaikan
SPT Masa PPh Pasal 21.
iii. Formulir 1721 – I Daftar bukti pemotongan pajak penghasilan Dilaporkan pada Masa
pajak Desember saja Administrasi Pajak Kelas XII Semester Pasal 21 dan/atau Pasal
26 untuk pegawai tetap dan penerima pensiun berkala
iv. Formulir 1721-II Daftar perubahan pegawai tetap
Dilaporkan pada saat ada penambahan atau pengurangan pegawai, dan penambahan pegawai
yang baru memiliki NPWP

SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) DAN BUKTI PEMOTONGAN PPH PASAL 21


1. Jenis-jenis SPT PPh Pasal 21
SPT PPh Pasal 21, terdiri atas
a. SPT Tahunan PPh Pasal 21
SPT Tahunan PPh Pasal 21 merupakan laporan pajak yang dilaporkan selama satu
tahun sekali oleh Wajib Pajak orang pribadi atau Kuasa Pajak atas penghasilan
sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun
yang diterima oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dengan menggunakan
peraturan satu tahun pajak atau bagian dari tahun pajak.
b. SPT Masa PPh Pasal 21
SPT Masa PPh Pasal 21 merupakan laporan pajak yang dilaporkan setiap bulan oleh
Wajib Pajak orang pribadi atau Kuasa Pajak atas penghasilan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima oleh
Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri.

2. Bentuk SPT PPh Pasal 21


SPT PPh Pasal 21 berupa
a. Formulir kertas
b. e-STP

Hal 24 dari 58
3. Fungsi SPT PPh Pasal 21
SPT PPh Pasal 21, baik tahunan maupun masa berfungsi sebagai laporan pelaporan pajak
yang dilakukan oleh Wajib Pajak orang pribadi atau Kuasa Pajak atas penghasilan sehubungan
dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima
oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri secara bulanan dan tahunan.

4. Komponen SPT PPh Pasal 21


 SPT Tahunan PPh Pasal 21
a) Nama wajib pajak, Nomor Pokok Wajib Pajak, dan alamat Wajib Pajak.
b) Masa pajak, bagian tahun pajak, atau tahunan pajak yang bersangkutan
c) Tanda tangan Wajib Pajak atau kuasa Wajib Pajak.
d) Jumlah peredaran usaha.
e) Jumlah penghasilan, termasuk penghasilan yang bukan merupakan obyek pajak
f) Jumlah penghasilan kena pajak
g) Jumlah pajak yang terutang
h) Jumlah kredit pajak
i) Jumlah kekurangan atau kelebihan pajak
j) Jumlah harta dan kewajiban
k) Tanggal pembayaran Pajak Penghasilan.
l) Data lainnya yang terkait dengan kegiatan usaha Wajib Pajak.
 SPT Masa PPh Pasal 21
a) Nama Wajib Pajak, Nomor Pokok Wajib Pajak, dan alamat Wajib Pajak
b) Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak yang bersangkutan
c) Tanda tangan Wajib Pajak atau Kuasa Wajib Pajak
d) Jumlah objek pajak, jumlah pajak yang terutang, dan/atau jumlah pajak dibayar
e) Tanggal pembayaran atau penyetoran
f) Data lainnya terkait dengan usaha Wajib Pajak
Bukti Pemotongan PPh Pasal 21
1. Pengertian Bukti Pemotongan PPh Pasal 21
Bukti pemotongan PPh Pasal 21 adalah dokumen yang digunakan untuk mengawasi pajak
yang sudah dipotong oleh pemberi kerja.
2. Bentuk Bukti Pemotongan PPh Pasal 21
3. Bentuk bukti pemotongan PPh Pasal 21 berupa formulir.
4. Fungsi Bukti Pemotongan PPh Pasal 21
Formulir Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 (1721-A1) digunakan sebagai Bukti Pemotongan
Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi Pegawai Swasta yaitu :
 Penghasilan bagi Pegawai Tetap
 Penghasilan bagi Penerima Pensiun berkala.
 Penghasilan bagi Penerima Tunjangan Hari Tua berkala.
 Penghasilan bagi Penerima Jaminan Hari Tua berkala

Pertemuan 4 dan 5

TATA CARA PERHITUNGAN PPh PASAL 21

A. Perhitungan PPh pasal 21 untuk pegawau tetap dan penerima pensiun berkala
Perhutungan PPh pasal 21 untuk pegawau tetap dan penerima pensiun berkala dibedakan
menjadi dua, yaitu:

Hal 25 dari 58
1. Perhitungan masa atau bulanan yang mnjadi dasar pemotongan PPh pasal 21 yang
terutang untuk setiap masa pajak, yang dilaporkan dalam SPT masa PPh pasal 21,
selain masa pajak desember atas masa pajak saat pegawai tetap erhntu bekerja.
2. Perhitungan kembali sebagai dasar pengisian form 1721 A1 atau 1721 A2 dan
pemotongan PPh pasal 21 yang terutang untuk masa pajak deseber atau masa pajak
ketika pegai tetap erhenti bekerja.
Perhitungan kembali ini dilakukan pada:
a. Bulan ketika pegawai tetap berhenti bekerja atau pensiun
b. Bulan desember bagi pegawai tetap yang ekerja sampai akhir tahun kalender dan bagi
penerima pensiun yang menerima uang pensiun sampau akhir tahun kalender.

B. Perhitungan PPh pasal 21 atas penghasilan teratur bagi pegawai tetap


1. Untuk menghitung PP pasal 21 atas penghasilan pegawai tetap , terlebih sahulu
dihitung seluruh penghasilan ruto yang dihitung atau diterima selama sebulan, yang
meliputi seluruh gaji, segala jenis tunjangan dan pembayaran teratur lainnya, terlasuk
uang lembur dan pembayaran sejenisnya.
2. Untuk perusahaan yang masuk program jamsistek, premi jaminan kecelakaan kerja
9JKK), Premi Jaminan Kematuan (JK) dan Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
(JPK) yang dibayar oleh pemberi kerja merupakan penghaslan bagi pegawai. Ketentuan
yang sama diberlakukan juga bagi premi aseuransi kesehatan, asuransi kecelakaan
kerja, asuransi jiwam asuransi dwiguna dan asuransi beapeserta didik yang dibayarkan
oleh pemberi kerja untuk pegawai kepada perusahaan asuansi lainnya. Dalam
menghitung PPh pasal 21, premo terseut digabungkan dengan penghasilan bruto yang
dibayarkan oleh pemberi kerja kepada pegawai.
3. Selanjutya dihitung jumlah penghasilan neto sebulan yang diperoleh dengan cara
mengurangi penghasika vruto sebulan dengan iaya jabatan, serta iuran pensiun, iuran
jaminan hari tua, dan/atau tunjangan hari tuan yang dibayar sendiri oleh pegawai yang
ersangkutan melalui pemberi kerja kepada dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh menteri keuangan atau kepada badan penyelenggara program jamsostek.
4. Selanjutnya dihitung penghasilan neto setahun, yaitu penghasilan neto sebulan
dikalikan 12.
5. Dalam hal seorang pegawai tetap degan kewajiban pajak subjektifnya seagai wajib
pajak dalam negeri sudah ada sejak awal tahun, tetapi muali bekerja setelah bulan
januari, maka penghasilan neto setahun dihitung degan mengalikan penghasilan neto
sebulan dengan bayaknya bulan sejak pegawai yang bersangkutan mulai bekerja
sampai dengan ulan desember.
6. Selanjutnya dihitung penghasilan kena pajak seagai dasar penerapan tarif pasal 17
undang-undang PPh, yaitu seesar penghasilan neto etahun pada huruf (d) atau (e) diatas
dikurangi PTKP.
Besarnya PTKP pertahun adalah:
a. Rp 54.000.000 untuk diri wajib pajak orang pribadi.
b. Rp 4.500.000 tamahan untuk wajib pajak yang kawin
c. Rp 4.500.000 tamahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda
dalam garis keturunan lurus serta anak angkat (harus ada surat keterangan adopsi),
yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak tiga orang untuk setiap
keluarga.
7. Tariff pasal 17 ayat(1) a undang-undang PPh

Hal 26 dari 58
Lapisan PKP Tariff pajak
Sampai dengan Rp50.000.000 5%
Diatas Rp50.000.000-Rp250.000.000 15%
Di atas Rp250.000.000-Rp500.000.000 25%
Diatas Rp500.000.000 30%
8. Setelah diperoleh PPh terutang dengan menerapkan tariff pasal 17 ayat (1) a undang-
undang PPh terhadap penghasilan kena pajak seagaimana dimaksud pada huruf (f),
selanjutnya dihitung PPh pasal 21 seulanm yang harus dipotong dan/atau dosetor ke kas
Negara, yaitu sebesar:
1. Jumlah PPh pasal 21 setahun atas penghasilan seagaimana simaksud pada huruf (d)
diagi dengan 12
2. Jumlah PPh pasal 21 setahun aras penghasilan sebagaimana sumaksud pada huruf
(e) dibagi banyaknya ulan yng menjadi factor pengali.
9. Apabila pajak yang terutang oleh pemberi kerja tidak didasarkan atas masa gaji
sebulan, maka untuk menghitung PPh pasal 21, jumlah penghasilan tersebut terlebih
dahulu dijadikan penghasilan bulanan dengan mempergunakan factor perkalian seagai
erikut:
1. Gaji untuk masa seminggu dikalikan dengan 4.
2. Gaji untuk masa sehari dikalikan dengan 26.
10. Selanjutnya dilakukan perhitungan PPh pasal 21 seulan dengan cara seperti didalam
huruf d sampei dengan g di atas.
11. Pph pasal 21 atas penghasilan seminggu dihitung berdasarkan PPh pasal 21 sebulan
dalam huruf I dibagi 4, sedangkan PPh pasal 21 atas penghasilan sehari dihitung
berdasarkan PPh pasal 21 sebulan dalam huruf I diagi 26.
12. Jika kepada pegawai di samping dibayar gaji ulanan juga dibayar kenaikan gaji yang
berlaku surat (rapel), misalnya untuk 5 bulan, maka untuk perhitungan PPh pasal 21
atas rapel tersebut adalah:
a. Rapel dibagi dengan banyaknya bulan perolehan rapel tersebut (dalam hal ini lima
bulan).
b. Hasil pembagian rapel tersebut ditambahkan sebagai gaji setiap bulan sebelum
adanya kenaikan gaji, yang sudah dukenakan pemotongan PPh pasal 21.
c. PPh pasal 21 atas gaji untuk bulan-bulan setelah ada kenaikan dihitung kembali atas
dasar gaji baru setelah ada kenaikan .
d. PPh pasal 21 terutang atas tambahan gaji untuk bulan-bulan dimaksud adalah
selisih antara jumlah pajak yang dihitung berdasarkan poin c dikurangi jumlah
pajak yang telah dipotong yang sebagaimana disebut pada poin b.
e. Apabila kepada pegawai di samping membayar gaji yang didasarkan masa gaji
kurang dari satu bulan juga dibayar gaji lain mengenai masa yang lebih lama dari
saru bulan (rapel) seperti tersebut dalam nomor 12, maka cara penghitungan PPh
pasal 21-nya adalah sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam nomor 12 dengan
memperhatikan ketentuan nomor 8, 9, 10.

C. Penghitungan PPh pasal 21 atas penghasilan tidak teratur bagi pegawai tetap
1. Apabila kepadapegawai tetap diberikan jasa produksi, tantiem, gratifikasi, bonus,
premi, tunjangan hari raya dan penghasilan lain semacam itu yang sifatnya tidak tetap
dan biasanya dibayarkan sekali setahun, maka PPh pasal 21 dihitung dan dipotong
dengan cara sebagai berikut:

Hal 27 dari 58
a. Hitung PPh pasal 21 atas penghasilan teratur yang disetahunkan ditambah dengan
penghasilan tidk teratur berupa tentirm, jasa produksi dn sebgainya.
b. Hitung PPh pasal 21 atas penghasilan teratur yang disetahunkan tanpa tentirm, jasa
produksi dn sebgainya.
c. Selisih antara PPh pasal 21 menurut perhitungan huruf a dan huruf b adalah PPh
pasal 21 atas penghasilan tidk teratur berupa tentirm, jasa produksi dn sebgainya.
2. Dalam hal pegawai tetap yang pegai tetap subjektofnya sudah ada sejak awal tahun,
tetapi baru mulai bekerja setelah bulan januari, maka PPh pasal 21 atas penghasilan
yang tidak teratur tersebut dihitung dengan cara sebagaimana pada butir 1 dengan
memperhatikan ketentuan mengenai perhitungan PPh pasl 21 bulanan atas penghasilan
teratur bagi pegawai tetap pada butir 1 nomor 5, 6, 7.

D. Perhitungan PPh pasal 21 terutang pada bula desember atau masa pajak tertentu
untuk pegawao tetap yang berhenti bekerja sebelum bulan desember
1. Perhitungan PPh pasal 21 terutang pada bulan desember atau bulan tertentu untuk
pegawai bekerja sebelum bulan desember.
a. Hitung PPh pasal 21 terutang atas seluruh penghasilan yang diterima atau diperoleh
dari pemotong pajak dalam tahun kalender yang ersangkutan, baik penghasilan
yang teratur maupun tidak teratur.
b. Pajak penghasilan PPh pasal 21 terutang yang harus dipotong untuk bulan
desember atau bulan tertentu untuk pegawai tetap yang erhebti bekerja sebelum
bulan desember adalah sebesar selisih antara PPh pasal 21 terutang atas seluruh
penghasilan teratur dan tidak teratur diterima dari pemotong pajak dalam tahun
kalender yang ersangkutan, seagaimana dimaksud dalam angka 1, dengan PPh pasal
21 yang telah dipotong dalam tahun kalender yang bersangkutan dengan bulan
sebelumnya.
c. Dalam hal jumlah PPh pasal 21 yang telah dipotong sampai dengan bulan
sebelumnya tersebut lebih besar daripada PPh pasal 21 terutang atas seluruh
penghasilan teratur dan tudak teratur yang diterima dari pemotong pajak dalam
tahun kalender yang bersangkutan, misalnya dalam hal pegawai berhenti bekerja
pada pertengahan tahun, atas kelebihan pemotongan PPh pasal 21 tersebut
dikembalikan ke pegawai tetap yang berhenti bekerja bersamaan dengan pemberian
bukti pemotongan PPh pasal 21. Atas kelebihan pemotongan PPh pasal 21 untuk
pegawai tetap yang bersangkutan, pemotongan pajak dapat memperhitungkan
dengan PPh pasal 21 terutang atas penghasilan pegawai tetap lainnyadalam masa
pajak yang sama, sehinggajumlah PPh pasal 21 yang harus disetor oleh pemotong
pajak untuk masa pajak tersebut telah mempertimbangkan jumlah kelebihan
pemotongan PPh pasal 21 yang telah diberikan oleh pemotong pajak kepada
pegawai tetap yang berhenti bekerja.
2. Perhitungan PPh pasal 21 terutang atas seluruh penghasilan yang diterima atau dipeoleh
dari pemotong pajak dalam tahun kalender yang ersangkutan seagaimana dimaksud
dalam nomor 1 huruf a, yaitu:
a. Untuk pegawai tetap yang berkewajiban pajak subjektifnya sudah ada sejak awal
tahun, tatapi mulai bekerja setelah bulan januari atau berhenti bekerja sebelum
bulan desember, PPh pasal 21 terutang dihitung berdasarkan jumlah seluruh
penghasilan yang diterima atau diperoleh, aik yang bersift teratur maupun tidak
teratur, selama pegawai tetap yang bersangkutan bekerja pada pemotong pajak.
Hal 28 dari 58
b. Untuk pegawai tetap yang berkewajiban pajak subjektifnya baru dimulai setelah
bulan januari atau berakhir pada nulan desember, PPh pasal 21 terutang dihitung
erdasatkan jumlah seluruh penghasilan yang diterima atau diperoleh, baik yang
ersifat teratur maupun tidak teratur, yang disetahunkan.
Tata cara perhitungan PPh pasal 21 bagi pegawai tetap
Pegawai tetap
Dalam menghitung PPh pasal 21 bagi pegawai tetap perlu diperhatikan rumus
perhitungannya yaitu:
Penghasilan bruto
Gaji sebulan Rp xxxx
Tunjangan dan honorarium Rp xxxx
Premi asuransi yang dibayar pemberi kerja Rp xxxx
Penghasilan bruto Rp xxxx
Pengurangan;
Buaya jabatan
(5% dari penghasilan bruto, maksimal 500 perbulan) Rp xxxx
Iuran pensiun yang dibayarkan oleh penerima penghasilan Rp xxxx
Penghasilan neto sebulan Rp xxxx
Penghasilan neto setahun (12 x penghasilan neto sebulan) Rp xxxx
Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) Rp xxxx
Penghasilan kena pajak Rp xxxx

PKP x tariff pajak 17 ayat 1 huruf a UU PPh = PPh pasal 21 setahun

Hal 29 dari 58
Contoh-Contoh Perhitungan PPh Pasal 21
Penghitungan pemotongan PPh pasal 21 terhadap penghasilan pegawai tetap
1. Dengan gaji bulanan
Fadli hasan pada tahun 2013 bekerja pada peruahaan PT perkasa dengan memperoleh
gaji sebulan Rp5.500.000 dan membayar iuran pensiun sebesar Rp100.000, Fadli hasan
menikah, tetapi belum mempunyai anak. Pada bulan januari penghasilan Fadli hasan dari
PT perkasa hanya dari gaji.
Perhitungan PPh pasal 21 adalah:
Gaji sebulan Rp 5.500.000
Pengurangan:
1 biaya jabatan 5% x Rp 5.500.000 Rp. 275.000
2 iuran pensiun Rp 100.000
Penghasilan neto sebulan Rp 375.000
Rp 5.125.000
Penghasikan neto setahun 12 x Rp 5.125.000 Rp 61.500.000
PTKP setahun
- Untuk Wp sendiri Rp 54.000.000
- Tanbahan Wp kawin Rp. 4.500.000
Rp 58.500.000
Penghasilan kena pajak setahun Rp 3.000.000
PPh pasal 21 terutang
5% x Rp 3.000.000 Rp 150.000
PPh pasal 21 sebulan
Rp 150.000 / 12 Rp 12.500
Catatan:
a. Biaya jabatan adalah biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan
yang dapat dikurangakn dari penghasilan setiap orang yang bekerja sebagai pegawai
tetap tanpa memandang mempunyai jabatan ataupun tidak.
b. Contoh diatas berlaku apabila pegaai yang ersangkutan sudah memiliki NPWP. Dalam
hal pegawai yang ersangkutan belum memiliki BPWP, maka jumlah PPh pasal 21 yang
harus dipotong pada bulan januari adalah sebesar 120% x Rp 12.500 = Rp 15.000
c. Untuk comtoh-contoh selanjutnya diasimsokan penerima penghasilan yang dipotong
PPh pasal 21 sudah memiliki NPWP, kecuali disebut lain dalam contoh tersebut.

2. Dengan gaji mongguan dan gaji harian


Sugiarto, balum menikah, pada tahun 2013 bekerja sebagai pegawai tetap pada
perusahaan PT Cemerlang menerima gaji yang dibayar mingguan sebesar Rp2.000.000.
perhitungan PPh pasal 21 monggu pertama bulan agustus 2013 apabula dalam monggu
tersebut hanya menerima penghasilan erupa gaji saja adalah:

Gaji (4 x Rp 2.000.000) Rp 8.000.000


Pengurangan:
Biaya jabatan (5% x Rp 8.000.000) Rp 400.000
Penghasilan neto sebulan Rp 7.600.000
Penghasilan neto setahun (12 x Rp 7.600.000) Rp 91.200.000
PTKP
- Untuk Wp sendiri Rp 54.000.00
Penghasilan kena pajak setahun Rp 37.200.000
Hal 30 dari 58
PPh pasal 21
5% x Rp 37.200.000 Rp 1.860.000
PPh pasal 21 sebulan
Rp 1.860.000 / 12 Rp 155.000
PPh pasal 21 atas gaji/upah mingguan
Rp 155.000/ 4 Rp 38.750
3. Perhitungan PPh pasal 21 atas pembayaran uang rapel
Andi zainal status menikah dan mempunyai anak bekerja sebagai pegawau tetap pada
PT Cemerlang denga memperoleh gaji sebulan sebesar Rp 6.500.000. andi zainal
menanggung iuran pensiun yag dibayarkan ke yayasan dana pensiun yang pendiriannya
telah disahkan oleh menteri keuangan dan iuran Jaminan Hari Tua (JHT) masing-masing
sebesar Rp15.000 dan Rp10.000. andi zainal pada bulan juli menerima kenaikan gaji
menjadi Rp7.000.000 sebulan yang berlaku surut sejak 1 januari 2013. Dengan
adanyakenaikan gaji yang berlaku surut tersebut, maka Andi zainal menerima rapel
sejumlah 15.000.000 (kekurangan gaji untuk masa januari-mei 2013).
Perhitungan PPh pasal 21 adalah:
Gaji pokok sebulan Rp 6.500.000
Pengurangan:
1. Biaya jabatan (5% x Rp 6.500.000) Rp. 300.000
2. Iuran pensiun Rp 15.000
3. Iuran JHT Rp 10.000
Rp 325.000
Penghasilan neto sebulan Rp 6.325.000
Penghasilan neto setahun (12 x Rp6.325.000) Rp 75.900.000
PTKP setahun (K/-):
- Untuk Wp sendiri Rp 54.000.000
- Tambahan Wp kawin Rp 4.500.000
- Tambahan untuk anak 1 Rp 4.500.000
Rp 63.000.000
Penghasilan kena pajak setahun Rp 12.900.000
PPh pasal 21 terutang setahun
5% x Rp 12.900.000 Rp 645.000
PPh pasal 21 sebulan
Rp 645.000 / 12 Rp 53.750

Hal 31 dari 58
Perhitungan PPh pasal 21 atas gaji setelah ada kenaikan adalah:
Gaji pokok sebulan Rp 7.000.000
Pengurangan:
1. Biaya jabatan (5% x Rp 7.000.000) Rp 350.000
2. Iuran pensiun Rp 15.000
3. Iuran JHT Rp 10.000
Rp 375.000
Penghasilan neto sebulan Rp 6.625.000
Penghasilan neto setahun
12 x Rp 6.625.000 Rp 79.500.000
PTKP setahun
- Untuk WP sendiri Rp 54.000.000
- Tambahan WP kawin Rp 4.500.000
- Tambahan untuk 1 anak Rp 4.500.000
Rp 63.000.000
Penghasilan kena pajak setahun Rp 16.500.000
PPh pasal 21 terutang setahun:
5% x Rp 16.500.000 Rp 825.000
PPh pasal 21 sebulan
Rp 825.000 / 12 Rp 68.750
Perhitungan PPh pasal 21 atas uang rapel:
PPh pasal 21 atas gaji setelah kenaikan
5 x Rp 68.750 Rp 343.750

1. Pegawai Tidak Tetap


a. PPh Pasal 21 Pegawai Tidak Tetap yang upahnya dibayarkan secara bulanan

Penghasilan Kena Pajak x Tarif Pajak = PPh Pasal 21 setahun

PPh Pasal 21 setahun : 12 = PPh Pasal 21 sebulan

b. Pajak Penghasilan Pasal 21 Pegawai Tidak Tetap yang upahnya dibayarkan secara
harian/mingguan/borongan/satuan.
1. Upah harian lebih dari Rp300.000,00 tetapi jumlahnya kumulatif yang diterima
dalam sebulan kalender yang bersangkutan bulan melebihi Rp3.000.000,00
PPh Pasal 21 = (upah harian-Rp.300.000) x 5 %

2. Penghasilan bruto sebulan melebihi Rp.3.000.000,00 tapi tidak lebih dari


Rp.8.200.000,00
PPh Pasal 21 = (Upah harian – PTKP sehari ) x 5 %

Hal 32 dari 58
3. Penghasilan bruto sebulan lebih dari Rp.8.200.000,00
PPh Pasal 21 = [(Penghasilan Bruto setahun-PTKP) x Tarif Pajak] : 12

2. Pajak Penghasilan Pasal 21 Bagi Peserta Kegiatan


PPh Pajak 21 bagi peserta kegiatan = Penghasilan Bruto x Tarif Pasal 17 ayat (1)
huruf a UU PPh

3. Pajak Penghasilan Pasal 21 Bagi Bukan Pegawai


1. Menerima atau memperoleh penghasilan yang tidak bersifat berkesinambungan
PPh Pasal 21 = [ 50 % x Penghasilan Bruto ] x Tarif Pajak

2. Menerima atau memperoleh penghasilan hanya dari suatu pemberian penghasilan yang
bersifat berkesinambungan
DPP = (50 % x Penghasilan Bruto Sebulan – PTKP per bulan) kumulatif

PPh Pasal 21 sebulan = DPP x Tarif Pajak

3. Menerima atau memperoleh penghasilan yang bersifat berkesinambungan dan


mempunyai penghasilan lain.
DPP = ( 50 % x Penghasilan Bruto Sebulan – PTKP per bulan) Kumulatif

PPh Pasal 21 sebulan = DPP x Tarif Pajak

Catatan : Bagi penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 yang tidak memilikiNomor
Pokok Wajib Pajak,dikenakan pemotongan PPh Pasal 21 dengan tarif lebih tinggi 20 %
daripada tarif yang di terapkan terhadap Wajib Pajak yang memiliki Nomor Pokok
Wajib Pajak.

Hal 33 dari 58
Pertemuan 6

TATA CARA PENGISIAN SPT MASA PPH PASAL 21 DAN BUKTI PEMOTONGAN

Cara pengisian SPT Masa PPh Pasal 21 (Formuli 1721) sebagai berikut.
FORMULIR 1721 (Halaman 1)
INDUK SPT MASA PAJAK PENGHASILAN PASAL 21
DAN/ATAU PASAL 26

A. Bagian Header Formulir


 Masa Pajak [mm-yyyy]
mm diisi dengan bulan dan yyyy diisi dengan tahun kalender. Misalnya Masa Pajak
Januari 2014, maka ditulis 01 - 2014.
 SPT Normal atau SPT Pembetulan ke …
Isikan tanda silang (X) pada kotak yang sesuai. Selanjutnya, jika merupakan SPT
Pembetulan maka tuliskan urutan pembetulan dengan angka.
 Jumlah lembar SPT termasuk lampiran
Diisi oleh petugas.

B. Identitas Pemotong
 Angka 1. Diisi dengan NPWP Pemotong.
 Angka 2. Diisi dengan nama Pemotong.
 Angka 3. Diisi dengan alamat Pemotong.
 Angka 4. Diisi dengan nomor telepon Pemotong.
 Angka 5. Diisi dengan alamat email Pemotong.

C. Objek Pajak
 Angka 1 – Angka 11
Kolom (4) : Diisi dengan jumlah penerima penghasilan. Kolom (5) : Diisi dengan
jumlah penghasilan bruto.
Kolom (6) : Diisi dengan jumlah PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 yang dipotong.
 Angka 4 Kolom (2): Bukan Pegawai
Bukan Pegawai adalah sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 huruf c Peraturan
Dirjen Pajak Nomor PER-31/PJ/2012 tetang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan,
Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pajak Penghasilan
Pasal 26 sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa dan Kegiatan Orang Pribadi, antara lain
meliputi:
1. Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara,
akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai dan aktuaris.
2. Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang
sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati,
pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan seniman lainnya.
3. Olahragawan.
4. Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator.
5. Pengarang, peneliti, dan penerjemah.
6. Pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik komputer dan sistem
aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi, dan sosial serta
pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan.
Hal 34 dari 58
7. Agen iklan.
8. Pengawas atau pengelola proyek.
9. Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara.
10. Petugas penjaja barang dagangan.
11. Petugas dinas luar asuransi.
12. Distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan
kegiatan sejenis lainnya.
 Angka 4e Kolom (2):
Imbalan kepada bukan pegawai yang bersifat berkesinambungan adalah imbalan
kepada bukan pegawai yang dibayar atau terutang lebih dari satu kali dalam satu tahun
kalender sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan.

D. Penghitungan PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 yang Kurang (Lebih) Disetor


 Angka 12
Diisi dengan jumlah pokok PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 terutang yang terdapat
dalam STP PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26.
 Angka 13
Masa pajak : Disi tanda silang (X) pada kotak masa pajak yang sesuai.
Tahun kalender : Diisi tahun kalender dengan format penulisan yyyy.
 Kolom (5)
Diisi jumlah kelebihan penyetoran PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26.
 Angka 14 : cukup jelas.
 Angka 15 : cukup jelas.
 Angka 16 : cukup jelas.
 Angka 17 : cukup jelas.
 Angka 18
mm : diisi dengan bulan.
yyyy : diisi dengan tahun kalender.

FORMULIR 1721 (Halaman 2)


INDUK SPT MASA PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 DAN/ATAU PASAL 26
A. Bagian Header Formulir
NPWP : Diisi dengan NPWP Pemotong.

B. Objek Pajak Final


 Angka 1 – Angka 5
Kolom (4) : Diisi dengan jumlah penerima penghasilan.
Kolom (5) : Diisi dengan jumlah penghasilan bruto.
Kolom (6) : Diisi dengan jumlah PPh Pasal 21 (final) yang dipotong.

C. Lampiran
Kotak-kotak : Diisi tanda silang (X) pada kotak yang sesuai dengan jenis
dokumen yang dilampirkan.
Lembar : Diisi jumlah lembar dokumen yang dilampirkan.

D. Pernyataan dan Tanda Tangan

Hal 35 dari 58
 Angka 1. Disi tanda silang (X) pada kotak yang sesuai dengan pihak
yang menandatangani SPT, yaitu Pemotong/Pimpinan atau kuasa.
 Angka 2. Diisi dengan NPWP yang menandatangani SPT sebagaimana
dimaksud pada angka 1.
 Angka 3. Diisi dengan nama yang menandatangani SPT sebagaimana
dimaksud pada angka 1.
 Angka 4. Diisi dengan tanggal penandatanganan SPT, dengan format
penulisan dd - mm – yyyy.
 Angka 5. Diisi dengan nama tempat penandatanganan SPT.
 Angka 6. Diisi dengan tanda tangan dan cap.

Tata cara pengisian Bukti Pemotongan PPh Pasal 21

FORMULIR 1721 – A1
BUKTI PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 BAGI PEGAWAI TETAP
ATAU PENERIMA PENSIUN ATAU TUNJANGAN HARI TUA/JAMINAN HARI TUA
BERKALA

A. Bagian Header Formulir


 Nomor
Diisi dengan nomor bukti pemotongan PPh Pasal 21 bagi Pegawai Tetap atau Penerima
Pensiun atau Tunjangan Hari Tua/Jaminan Hari Tua Berkala dengan format penulisan: 1
. 1 – mm . yy – xxxxxxx.

1.1 : kode bukti pemotongan PPh Pasal 21 bagi Pegawai Tetap


atau Penerima Pensiun atau Tunjangan Hari Tua/Jaminan Hari Tua
mm : diisi masa pajak
yy : diisi dua digit terakhir dari tahun pajak xxxxxxx : diisi nomor urut.

Nomor urut berlanjut selama satu tahun pajak. Saat memasuki tahun pajak berikutnya,
nomor urut dimulai kembali dari 0000001.
 Masa perolehan penghasilan
Diisi dengan masa perolehan penghasilan dalam tahun kalender yang
bersangkutan, dengan format penulisan mm - mm. Misalnya: Apabila masa perolehan
penghasilannya sejak bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2014 ditulis 01- 12.

 NPWP Pemotong
Diisi dengan NPWP Pemotong.
 Nama Pemotong
Diisi dengan nama Pemotong.

B. Identitas Penerima Penghasilan yang Dipotong


 Angka 1. Diisi dengan NPWP penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21.
 Angka 2. Diisi dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dalam hal penerima
penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 merupakan Wajib Pajak Dalam Negeri atau diisi
dengan nomor paspor dalam hal penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21
merupakan Wajib Pajak Luar Negeri.
 Angka 3. Diisi dengan nama penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21.
Hal 36 dari 58
 Angka 4. Diisi dengan alamat penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21.
 Angka 5. Diisi dengan silang (X) sesuai dengan jenis kelamin.
 Angka 6. Status K : Kawin, TK : Tidak Kawin, HB : Wajib Pajak kawin yang hidup
berpisah.
Isikan jumlah tanggungan pada status yang sesuai, yaitu setiap anggota keluarga sedarah
dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi
tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang.
 Angka 7. Diisi dengan nama jabatan.
 Angka 8. Diisi dengan silang (X) dalam hal merupakan karyawan asing.
 Angka 9. Diisi dengan kode negara domisili dalam hal merupakan karyawan
asing.
Daftar kode negara domisili terdapat pada petunjuk pengisian Bukti Pemotongan PPh
Pasal 21 (Formulir 1721-VI).

C. Rincian Penghasilan dan Penghitungan PPh Pasal 21


 Kode objek pajak:
Diisi dengan tanda silang pada kotak pilihan kode yang sesuai, yaitu:
21-100-01 : untuk penghasilan yang diterima oleh Pegawai Tetap
21-100-02 : untuk penghasilan yang diterima oleh Penerima Pensiun secara
teratur
 Angka 1 – Angka 12 : Cukup jelas.
 Angka 13
Bagian ini hanya diisi dalam hal pegawai yang bersangkutan merupakan pindahan
dari kantor pusat atau kantor cabang atau merupakan peserta Dana Pensiun yang baru
dalam tahun pajak berjalan.
Jumlah yang diisikan yaitu sesuai dengan jumlah pada angka 12 dari Formulir 1721-
A1 yang dibuat oleh pemberi kerja sebelumnya.
 Angka 14
Apabila masa perolehan penghasilan meliputi satu tahun kalender, yaitu Januari s.d.
Desember, maka bagian ini diisi sesuai dengan jumlah pada angka 12. Apabila masa
perolehan penghasilan kurang dari satu tahun kalender, maka:
a) Dalam hal pegawai yang bersangkutan pada akhir masa perolehan penghasilan
dipindahkan ke kantor pusat atau ke kantor cabang dari pemberi kerja yang sama,
maka oleh Pemotong yang Lama bagian ini diisi dengan: (jumlah pada angka 8 -
jumlah pada angka 11 kemudian disetahunkan).
b) Dalam hal pegawai yang bersangkutan pada akhir masa perolehan penghasilan
berhenti menjadi pegawai namun tidak meninggalkan Indonesia untuk selama-
lamanya, atau berhenti menjadi pegawai karena pensiun atau pindah ke pemberi
kerja lainnya di Indonesia maka bagian ini diisi dengan jumlah sesuai dengan jumlah
pada angka 12.
c) Dalam hal pegawai yang bersangkutan pada akhir masa perolehan berhenti menjadi
pegawai dan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya, atau berhenti menjadi
pegawai karena meninggal dunia atau pegawai dari luar negeri (expatriat) yang baru
berada di Indonesia dalam tahun yang bersangkutan maka bagian ini diisi dengan:
(jumlah pada angka 8 - jumlah pada angka 11 kemudian disetahunkan).
d) Dalam hal pegawai yang bersangkutan adalah pegawai baru (baru mulai bekerja), di
mana pada tanggal 1 Januari tahun yang bersangkutan telah berada atau bertempat
tinggal di Indonesia maka bagian ini diisi sesuai dengan jumlah pada angka 12.
Hal 37 dari 58
e) Dalam hal pegawai yang bersangkutan adalah pindahan dari kantor pusat atau kantor
cabang dari pemberi kerja yang sama atau baru pensiun, maka bagian ini diisi oleh
Pemotong yang Baru dengan hasil penjumlahan angka 12 dan angka 13.
 Angka 15
Diisi dengan jumlah PTKP setahun dengan memperhatikan jumlah tanggungan.
Bagi Wajib Pajak kawin yang hidup berpisah, penghitungan PTKP meliputi PTKP untuk
diri pegawai yang bersangkutan ditambah PTKP untuk tanggungan.
 Angka 16 : Cukup Jelas.
 Angka 17
Diisi dengan besarnya penghitungan PPh atas penghasilan kena pajak dengan
menggunakan tarif Pasal 17 UU PPh.
 Angka 18
Bagian ini hanya diisi dalam hal pegawai yang bersangkutan merupakan
pindahan dari kantor pusat atau kantor cabang lainnya, baik dari pemberi kerja yang
sama maupun dari pemberi kerja yang berbeda dalam tahun pajak berjalan, atau
merupakan peserta Dana Pensiun yang baru dalam tahun pajak berjalan.
Jumlah yang diisikan yaitu sesuai dengan jumlah pada angka 19 dari Formulir
1721-A1 yang dibuat pemberi kerja sebelumnya.
 Angka 19
a) Dalam hal penghasilan neto untuk penghitungan PPh Pasal 21 adalah jumlah yang
tidak disetahunkan, maka bagian ini diisi sesuai dengan jumlah pada Angka 17.
b) Dalam hal pegawai yang bersangkutan merupakan pindahan dari kantor pusat atau
kantor cabang lainnya (baik dari pemberi kerja yang sama maupun dari pemberi
kerja yang berbeda) atau merupakan peserta Dana Pensiun yang baru dalam tahun
pajak berjalan maka bagian ini diisi dengan hasil pengurangan dari jumlah pada
Angka 17 dengan jumlah pada Angka 18.
c) Dalam hal penghasilan neto untuk penghitungan PPh Pasal 21 adalah jumlah yang
disetahunkan, maka bagian ini diisi dengan jumlah yang sebanding, sesuai dengan
banyaknya masa perolehan penghasilan, terhadap jumlah PPh Terutang pada Angka
17.
 Angka 20 : Cukup jelas.

D. Identitas Pemotong
 Penandatanganan bukti pemotongan ini dilakukan oleh Pemotong/Pimpinan/ Pihak yang
ditunjuk atau kuasa.
 Angka 1. Diisi dengan NPWP yang menandatangani bukti pemotongan ini. Angka 2. Diisi
dengan nama yang menandatangani bukti pemotongan ini.
 Angka 3. Diisi dengan tanggal pembuatan bukti pemotongan PPh Pasal 21 bagi Pegawai
Tetap atau Penerima Pensiun atau Tunjangan Hari Tua/Jaminan Hari Tua, dengan format
penulisan dd - mm - yyyy.
 Kotak : Diisi dengan tanda tangan dan cap.

Hal 38 dari 58
Lampiran 2 Media
Video Pembelajaran pertemuan 3 (mekanisme pemungutan PPh Pasal 21)
Video pembelajaran ini memuat materi sesuai indikator yang harus tercapai pada
pertemuan 3 yaitu mekanisme pemungutan PPh Pasal 21. Dalam video tersebut menayangkan
tentang pajak penghasilan (PPh) Pasal 21. Mulai dari penjelasan singkat tentang apa itu PPh pasal
21. Kemudian menjelaskan siapa saja pemotong PPh Pasal 21, dan siapa saja yang menerima hasil
pemotongan PPh pasal 21. Dan diakhir video dijelaskan bagaimana cara perhitungan PPh pasal 21.

Video Pembelajaran pertemuan 6 (cara pengisian bukti pemotongan dan SPT PPh pasal 21)
Video pembelajaran ini memuat materi sesuai indikator yang harus tercapai pada
pertemuan 6 yaitu cara pengisian bukti pemotongan dan SPT PPh pasal 21. Dimana video ini
berisi tutorial ataupun penjelasan dari seorang wajib pajak yang sedang mengisi SPT PPh orang itu
sendiri

Media PPT

Hal 39 dari 58
Hal 40 dari 58
Hal 41 dari 58
Hal 42 dari 58
Lampiran 3 Penilaian Non Tes

FORMAT LEMBAR PENILAIAN DISKUSI (KELOMPOK)

Nama kelompok :
1. ....................................
2. ....................................
3. ....................................
4. ....................................

Nilai Nilai
No Sikap/Aspek yang dinilai
Kualitatif Kuantitatif
Penilaian kelompok
1. Menyelesaikan tugas kelompok dengan baik
2 Kerjasama kelompok (komunikasi)
3 Hasil tugas (relevansi dengan bahan)
4 Pembagian Job
5 Sistematisasi Pelaksanaan
Jumlah Nilai Kelompok

Format Lembar Penilaian Diskusi (Individu Peserta Didik)


Nama Peserta didik :.........................................
Nilai Nilai
No Sikap/Aspek yang dinilai
Kualitatif Kuantitatif
1. Berani mengemukakan pendapat
2. Berani menjawab pertanyaan
3. Inisiatif
4. Ketelitian
5. Jiwa kepemimpinan
6. Bermain peran
Jumlah Nilai Individu

Lembar Keaktifan Dalam Diskusi


Nilai Nilai
No Aspek yang dinilai
Kualitatif Kuantitatif
1. Bertanya (cara)
2. Menjawab pertanyaan
3. Kesesuaian dengan topik kajian
4. Cara menyampaikan pendapat
5. Antusiasme mengikuti pembelajaran

Kriteria Penilaian
Kriteria Indikator Nilai Kualitatif Nilai Kuantitatif
80 - 100 Memuaskan 4
70 - 79 Baik 3
60 - 69 Cukup 2
Hal 43 dari 58
45 - 59 Kurang cukup 1

Hal 44 dari 58
Lampiran 4: Penilaian Pengetahuan

TES TERTULIS
Nama Sekolah : SMKN
Kelas / Semester : XI / 1
Tahun Pelajaran ; 2017/2018
Paket Keahlian : Akuntansi dan Keuangan Lembaga
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Penilaian : Post test
Kompetensi No Bentuk
No Materi Indikator Soal
Dasar Soal Soal
1. Menganalisis 1. Pengertian PPh Menjelaskan pegnertian 1 Subyektif
data pasal 21 PPh pasal 21
pembuatan 2. Pemotong PPh Menjelaskan pemotong 2 Subyektif
SPT pajak pasal 21 PPh pasal 21 untuk
penghasilan 3. Hak dan Kewajiban pemberi kerja
(PPh) Pasal wajib pajak PPh Menjelaskan kewajiban 3 Subyektif
21. pasal 21 wajib pajak PPh pasal
4. Tarif PPh pasal 21 21
5. Mekanisme Menyebutkan tarif PPh 4 Subyektif
pemungutan PPh pasal 21
pasal 21 Menjelaskan mekanisme 7 Subyektif
6. Dokumen dan pemungutan PPh pasal
formulir yang 21
terkait dengan Menjelaskan dokumen 8 Subyektif
pemungutan PPh dan formulir yang terkait
pasal 21 dengan pemungutan PPh
7. Jenis-jenis SPT pasal 21
PPh Pasal 21,
bentuk, isi, dan Menjelaskan jenis SPT 9 Subyektif
fungsi. wajib pajak pribadi
2. Melakukan 1. Tata cara Menjelaskan Tata cara 5 Subyektif
perhitungan perhitungan PPh perhitungan PPh pasal 21
pajak pasal 21 atas atas pensiun berkala
penghasilan pensiun berkala
(PPh) Pasal 2. Tata cara Menjelaskan Tata cara 6 Subyektif
21 perhitungan PPh perhitungan PPh pasal
pasal 21 pegawai 21 pegawai tetap yang
tetap yang berhenti berhenti bekerja
bekerja sebelum sebelum bulan desember
bulan desember. Menjelaskan Tata cara 10 Subyektif
3. Tata cara pengisian pengisian SPT Tahunan
SPT PPh Pasal 21 PPh Pasal 21 Wajib
Wajib Pajak Orang Pajak Orang Pribadi.
Pribadi.

Hal 45 dari 58
SOAL URAIAN

Nama Sekolah : SMKN


Kelas/Semester : XI / 1
Tahun Pelajaran : 2017/2018
Paket Keahlian : Akuntansi
Mata Pelajaran : Administrasi Perpajakan
Penilaian : Post Test
Jenis Soal : Subyektif

No Soal Penyelesaian Skor


1 Jelaskan apa yang kamu Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah pajak atau 10
ketahui tentang PPh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau
Pasal 21! kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun
yang diterimaatau diperoleh Wajib Pajak orang
pribadi dalam negeri sebagaimana diatur dalam Pasal
21 Undang-Undang Pajak Penghasilan .
2 Salah satu pemotong PPh Pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan 10
pasal 21 yaitu pemberi badan, baik merupakan pusat maupun
kerja, Sebut dan Jelaskan cabang,perwakilan atau unit yang membayar gaji,
yang apa saja termasuk upah, honorarium,tunjangan dan pembayaran lain
pemberi kerja ! dengan nama dan dalam bentuk apapun,sebagai
imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai
3 Jika wajib pajak pindah Wajib Pajak berkewajiban menyerahkan bukti 10
kerja, kepada siapakah pemotongan PPh pasal 21 kepada:
wajib pajak berkewajiban a. Pemotong pajak kantor cabang baru dalam hal
menyerahkan bukti yang bersangkutan dipindah tugaskan.
pemotongan?jelaskan! b. Pemotong pajak tempat kerja yang baru dalam hal
yang bersangkutan pindah kerja.
4 Sebutkan besarnya tarif 0 sampai dengan Rp50 juta = 5% 10
PPh pasal 21! di atas Rp50 juta sampai dengan Rp250 juta = 15%
di atas Rp250 juta sampai dengan Rp500 juta = 25%
di atas Rp500 juta = 30%
5 Sebutkan dan jelaskan 2  Perhitungan masa atau bulanan yang menjadi 10
kelompok perhitungan dasar pemotongan PPh pasal 21yang terutang
pemotongan PPh yang untuk setiap masa pajak, yang dilaporkan dalam
diterapkan pada pegawai SPT masa PPh pasal 21, selain masa pajak
tetap dan penerima desember atau masa pajak saat pegawai tetap
pensiun berkala? nerhrnti bekerja.
 Perhitungan kembali sebagai dasar pengisian form
1721 A1 atau 1721 A2 dan pemotongan PPh pasal
21 yang trutang untuk masa pajak desember atau
masa pajak ketika pegawau tetap berhenti bekerja.

6 Jelaskan pajak peng- Besarnya selisih antara PPh pasal 21 terutang atas 10
hasilan pasal 21 terutang seluruh penghasilan teratur dan tidak teratur yang
Hal 46 dari 58
yang harus dipotong diterima dari pemotong pajak dalam tahun kalender
untuk bulan desember yang bersangkutan, seagaimana dimaksud dalam
atau bulan tertetu untuk angka 1), dengan PPh pasal 21 yang telah dipotong
pegawai tetap yang dalam tahun kalender yang bersangkutan sampai
berhenti bekerja sebelum dengan ulan seelumnya.
bulan desember!
7 Jelaskan menurut bahas Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 atau PPh 10
anda sendiri mengenai Pasal 21 adalah cara pelunasan pajak dalam tahun
mekanisme pemungutan berjalan melalui pemotongan pajak atas penghasilan
PPh pasal 21! yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Orang
Pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan,
jasa, dan kegiatan. Bendahara pemerintah yang
membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan
pembayaran lainnya sehubungan dengan
pekerjaan/jasa/kegiatan wajib melakukan
pemotongan PPh Pasal 21. Pembayaran Penghasilan
yang wajib dipotong PPh Pasal 21 oleh bendahara
pemerintah antara lain adalah pembayaran atas gaji,
tunjangan, honorarium, upah, uang makan dan
pembayaran lainnya (tidak termasuk pembayaran
biaya perjalanan dinas), baik kepada pegawai
maupun bukan pegawai.
8 Sebutkan dan jelaskan SPT PPh Pasal 21, terdiri atas: 10
dokumen dan formulir - SPT Tahunan PPh Pasal 21
apa sajakah yang terkait SPT Tahunan PPh Pasal 21 merupakan laporan
dengan pph pasal 21? pajak yang dilaporkan selama satu tahun sekali
oleh Wajib Pajak orang pribadi atau Kuasa Pajak
atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan,
jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam
bentuk apapun yang diterima oleh Wajib Pajak
orang pribadi dalam negeri dengan
menggunakan peraturan satu tahun pajak atau
bagian dari tahun pajak.
- SPT Masa PPh Pasal 21
SPT Masa PPh Pasal 21 merupakan laporan
pajak yang dilaporkan setiap bulan oleh Wajib
Pajak orang pribadi atau Kuasa Pajak atas
penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa,
atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk
apapun yang diterima oleh Wajib Pajak orang
pribadi dalam negeri.
Bukti Pemotongan PPh Pasal 21
Bukti pemotongan PPh Pasal 21 adalah dokumen
yang digunakan untuk mengawasi pajak yang sudah
dipotong oleh pemberi kerja.
9 Sebutkan dan jelaskan Bentuk SPT Tahunan PPh Pasal 21 Wajib Pajak 10
bentuk dan isi SPT Pribadi berupa formulir. Tetapi saat ini, SPT Tahunan
Hal 47 dari 58
Tahunan PPh Pasal 21 PPh Pasal 21 Wajib Pajak Orang Pribadi berupa e-
Wajib Pajak Orang filling.
Pribadi!
Berdasarkan jenisnya, SPT Tahunan PPh Pasal 21
Wajib Pajak Orang Pribadi terdiri atas:
• SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Untuk Wajib
Pajak Orang Pribadi Usaha dan Pekerjaan Bebas
disebut juga Formulir 1770.
• SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Untuk Wajib
Pajak Orang Pribadi sebagai Karyawan
Swasta/Karyawan
BUMN/PNS/TNI/POLRI/Pensiunan PNS, TNI ,
POLRI dengan Penghasilan Bruto lebih dari
Rp.60.000.000,- setahun atau kurang dari
Rp.60.000.000 tetapi mempunyai penghasilan lain
disebut juga Formulir 1770 S.
• SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Untuk
Wajib Pajak Orang Pribadi sebagai Karyawan
Swasta/Karyawan
BUMN/PNS/TNI/POLRI/Pensiunan PNS, TNI ,
POLRI dengan Penghasilan Bruto Rp.60.000.000,-
atau kurang dalam setahun dan tidak mempunyai
penghasilan lain disebut juga Formulir 1770 SS.
10 Jelaskan secara singkat • Mengisi tahun pajak 10
tata cara pengisian SPT • Mengisi jenis SPT (untuk pembukuan, pencatatan,
Tahunan PPh Pasal 21 atau pebetulan SPT)
Wajib Pajak Orang • Mengisi bagian identitas
• Mengisi bagian penghasilan netto
Pribadi! (Formulir 1770)
• Mengisi bagian penghasilan kena pajak
• Mengisi PPh terutang
• Mengisi kredit pajak
• Mengisi PPh kurang/lebih bayar
• Mengisi angsuran PPh 25 tahun pajak berikutnya
• Mengisi lampiran (apabila ada lampiran yang
harus disertakan selain Lampiran I—Lampiran IV
Formulir 1770)
• Mengisi peryataan yang terdiri atas Wajib Pajak
atau Kuasa, tanggal, nama lengkap, NPWP, dan
tanda tangan)
100

PEDOMAN PENSKORAN

Skor Penilaian
 Skor 10 jika peserta didik mampu menjawab dengan benar (sesuai dengan konsep)
 Skor 5 jika peserta didik mampu menjawab namun tidak sesuai dengan konsep
 Skor 1 jika peserta didik tidak menjawab

Hal 48 dari 58
Nilai = skor perolehan/skor maksimal x 100

Hal 49 dari 58
Lampiran 5 Penilaian Keterampilan
KISI-KISI PENILAIAN KINERJA

Nama Sekolah : SMKN


Kelas/Semester : XI /1
Tahun Pelajaran : 2017/2018
Mata Pelajaran : Adminidtrasi Pajak
Kompetensi Dasar : Melakukan perhitungan pajak penghasilan (PPh) Pasal 21

Teknik
Kompetensi Dasar Materi Indikator
Penilaian
Melakukan Perhitungan PPh Menghitung PPh pasal 21 untuk Kinerja
perhitungan pajak pasal 21 untuk pegawai tetap
penghasilan (PPh) pegawai tetap
Pasal 21 Perhitungan PPh Menghitung PPh pasal 21 untuk Kinerja
pasal 21 untuk pegawai tidak tetap
pegawai tidak tetap

Tugas:

1. Sita Rianti adalah karyawati pada perusahaan PT. Onix Komunika dengan status menikah dan
mempunyai tiga anak. Suami Sita merupakan pegawai negeri sipil di Kementrian Komunikasi
& Informatika. Sita menerima gaji Rp 6.000.000,- per bulan.
PT. Onix Komunika mengikuti program pensiun dan BPJS Kesehatan. Perusahaan
membayarkan iuran pensiun dari BPJS sebesar 1% dari perhitungan gaji, yakni sebesar Rp
30.000,- per bulan. Di samping itu perusahaan membayarkan iuran Jaminan Hari Tua (JHT)
karyawannya setiap bulan sebesar 3,70% dari gaji, sedangkan Sita membayar iuran Jaminan
Hari Tua setiap bulan sebesar 2,00% dari gaji. Premi Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan
Jaminan Kematian (JK) dibayar oleh pemberi kerja dengan jumlah masing-masing sebesar
1,00% dan 0,30% dari gaji.
Pada bulan Juli 2016 di samping menerima pembayaran gaji, Sita juga menerima uang lembur
(overtime) sebesar Rp 2.000.000,-.
Diminta: Hitungalah PPh pasal 21 terutang bulan juli!
2. Tono adalah seorang karyawan yang bekerja sebagai perakit TV pada suatu perusahaan
elektronika, dia tidak menikah. Upah yang dibayar berdasarkan atas jumlah unit/satuan yang
diselesaikan yaitu Rp 25.000 per buah TV dan dibayarkan tiap minggu. Dalam waktu 1
minggu (6 hari kerja) dihasilkan sebanyak 30 buah TV dengan upah Rp 960.000.
Diminta: Hitungalah PPh pasal 21 terutang!

Hal 50 dari 58
KUNCI JAWABAN

1. Gaji Pokok Rp 6.000.000,00


(i) Tunjangan Lainnya (jika ada) Rp 2.000.000,00
(ii) JKK 0.24% Rp 14.400,00
JK 0.3% Rp 18.000,00
Penghasilan bruto (kotor) Rp 8.032.400,00
Pengurangan
(iii) Biaya Jabatan: 5% x 8.032.400,00 = 401.620,00 Rp 401.620,00
Iuran JHT (Jaminan Hari Tua), 2% dari gaji pokok Rp 120.000,00
(iv) JP (Jaminan Pensiun), 1% dari gaji pokok, jika ada Rp 60.000,00
(Rp 581.620,00)
Penghasilan neto (bersih) sebulan Rp 7.450.780,00

(v) Penghasilan neto setahun 12 x 7.450.780,00 Rp 89.409.360,00


(vi) Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) 54.000.000,00
(Rp 54.000.000,00)
Penghasilan Kena Pajak Setahun Rp 35.409.360,00
(vii) Pembulatan ke bawah Rp 35.409.000,00
PPh Terutang (lihat Tarif PPh Pasal 21)
5% x 50.000.000,00 Rp 1.770.450,00
PPh Pasal 21 Bulan Juli = 1.770.450,00 : 12 Rp 147.538,00

2. Penghitungan PPh Pasal 21 :


Upah sehari adalah
Rp 960.000 : 6 Rp 160.000,00
Upah diatas Rp 150.000 sehari
Rp 160.000 – Rp 150.000 Rp 10.000,00
Upah seminggu terutang pajak
6 x Rp 10.000 Rp 60.000,00

PPh Pasal 21 sebesar 5% : Rp 60.000= Rp 3.000 (Mingguan)

Hal 51 dari 58
RUBRIK PENSKORAN KINERJA

Nama Sekolah : SMKN


Kelas/Semester : XI / 1
Tahun Pelajaran : 2017/2018
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak

Petunjuk : Berilah tanda (√) pada kolom skor


No Komponen/Sub Komponen Skor
1 2 3
1 Persiapan
2 Proses Kerja
3 Hasil
4 Sikap Kerja
5 Waktu

Penilaian Proses
Persiapan Proses Hasil Sikap Waktu Total
Skor Perolehan
Skor Maksimal
Bobot
Total

Keterangan:
 Bobot total wajib 100
 Cara perhitungan :
Nilai total = ∑ skor perolehan x bobot
Skor maksimal

Hal 52 dari 58
Lampiran 6 : Pembelajaran Remedial dan Pengayaan

PROGRAM PERBAIKAN DAN PENGAYAAN

Sekolah : SMKN
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Kompetensi Dasar : 3.5 Menganalisis data pembuatan SPT pajak penghasilan
(PPh) Pasal 21.
4.5 Melakukan perhitungan pajak penghasilan (PPh)
Pasal 21
Kelas/Semester : XI/ Ganjil
Tahun Pelajaran : 2017/2018

1. Program Perbaikan
1.1. Sasaran Perbaikan : Pembelajaran remedial dilakukan segera setelah kegiatan
penilaian, yaitu bagi peserta didik yang belum mencapai KKM
75.
1.2. Bentuk perbaikan : Tes perbaikan
1.3. Jenis perbaikan : Individual
1.4. Kompetensi Dasar/Materi Pokok:
3.5Menganalisis data pembuatan SPT pajak penghasilan (PPh) Pasal 21.
4.5Melakukan perhitungan pajak penghasilan (PPh) Pasal 21
1.5. Proses perbaikan : Peserta didik diberikan kesempatan belajar dibawah bimbingan
teman dalam satu kelompok tentang materi perhitungan pajak
penghasilan (PPh) Pasal 21

2. Program Pengayaan
2.1. Sasaran Pengayaan : Pembelajaran pengayaan dilakukan segera setelah kegiatan
penilaian, yaitu bagi peserta didik yang sudah mencapai KKM
75. Pembelajaran ini diberikan untuk perluasan atau
pendalaman materi atau kompetensi peserta didik.
2.2. Bentuk Pengayaan : Pemberian materi tambahan
2.3. Jenis Pengayaan : Individual

Hal 53 dari 58
PELAKSANAAN PERBAIKAN/PENGAYAAN

Mata Pelajaran : Administrasi Pajak


Kompetensi Dasar/Materi Pokok :
3.5 Menganalisis data pembuatan SPT pajak penghasilan (PPh) Pasal 21.
4.5 Melakukan perhitungan pajak penghasilan (PPh) Pasal 21
Kelas : XI
Semester : Ganjil
Ulangan Harian ke : ……………………………
Tanggal : ……………………………

PERBAIKAN
Nomor Nilai
Nama Peserta Tanggal Hasil Bentuk
Sebelum Keterangan
Urut Absen didik Perbaikan Perbaikan Perbaikan
Perbaikan
1
2
3
4
Dst....

PENGAYAAN
Nomor Nama Nilai
Tanggal Hasil Bentuk
Peserta Sebelum Keterangan
Urut Absen Pengayaan Pengayaan Pengayaan
didik Pengayaan
1
2
3
4
5 Dst...

Hal 54 dari 58
SOAL REMIDIAL

Nama Sekolah : SMKN


Kelas/Semester : XI / 1
Tahun Pelajaran : 2017/2018
Paket Keahlian : Akuntansi
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Penilaian : Remidial
Jenis Soal : Subyektif

1. Bayu mengerjakan dekorasi sebuah rumah


dengan upah borongan sebesar Rp 400.000,00, pekerjaan diselesaikan dalam 2 hari.
Berapakah besar PPh pasa 21 terutangnya ?
2. Bambang Yuliawan pegawai pada Tahun
2017 di perusahaan PT. Yasa Buana, menikah tanpa anak, memperoleh gaji sebulan Rp
10.000.000,00. PT Yasa Buana mengikuti program Jamsostek, premi Jaminan Kecelakaan
Kerja dan Premi Jaminan Kematian dibayar oleh pemberi kerja dengan jumlah masing-masing
0,50% dan 0,30% dari gaji. PT Yasa Buana menanggung iuran Jaminan Hari Tua setiap bulan
sebesar 3,70% dari gaji sedangkan Bambang Yuliawan membayar iuran Jaminan Hari Tua
sebesar 2,00% dari gaji setiap bulan. Disamping itu PT Yasa Buana juga mengikuti program
pensiun untuk pegawainya. PT Yasa Buana membayar iuran pensiun untuk Bambang
Yuliawan ke dana pensiun, yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, setiap
bulan sebesar Rp 100.000,00, sedangkan Bambang Yuliawan membayar iuran pensiun sebesar
Rp 50.000,00. Berapakah besar PPh pasal 21 sebulan?

Hal 55 dari 58
KUNCI JAWABAN

1. Upah borongan sehari : Rp 400.000,00 : 2 = Rp 200.000,00


Upah harian diatas Rp 150.000,00
Rp 200.000,00 – Rp 150.000,00 Rp 50.000,00
Upah borongan pajak
2 x Rp 50.000,00 Rp 100.000,00
PPh Pasal 21 sebesar 5% : Rp 100.000= Rp 5.000,00

2. Penghitungan PPh Pasal 21 Tahun 2017 adalah sebagai berikut :


Gaji Sebulan 10.000.000
Premi Jaminan Kecelakaan Kerja 50.000
(0.50 % x 10.000.000)
Premi Jaminan Kematian Kerja 30.000
(0.30 % x 10.000.000)
Jumlah Penghasilan Bruto Sebulan 10.080.000

Pengurangan :
Biaya Jabatan 500.000
(5 % x 10.080.000, maksimal 500.000)
Iuran Pensiun 50.000
Iuran Jaminan Hari Tua 200.000
(2 % x 10.000.000)
Jumlah Pengurangan 750.000
Penghasilan Neto Sebulan 9.330.000
(10.080.000 – 750.000)

Penghasilan Neto Setahun 111.960.000


(9.330.000 x 12)
PTKP Setahun :
WP Sendiri 54.000.000
Status Kawin 4.500.000
Jumlah PTKP Setahun 58.500.000
Penghasilan Kena Pajak Setahun 53.460.000
(111.960.000 – 58.500.000)
PPh Pasal 21 Terutang :
5 % x 50.000.000 = 2.500.000
15 % x 3.460.000 = 519.000
PPh Pasal 21 Terutang Setahun 3.019.000
PPh Pasal 21 sebulan 251.583
(3.019.000 : 12)

Hal 56 dari 58
SOAL PENGAYAAN

Nama Sekolah : SMKN


Kelas/Semester : XI / 1
Tahun Pelajaran : 2017/2018
Paket Keahlian : Akuntansi
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Penilaian : Pengayaan
Jenis Soal : Subyektif

SOAL
Abdul bekerja di PT Karya Abadi sejak tahun 2015 berstatus menikah dan mempunyai anak 1.
Pada Agustus 2017 Abdul mengundurkan diri dari PT Karya Abadi. Gaji Abdul setiap bulan
adalah Rp. 10.000.000, mendapat tunjangan BPJS Ketenagakerjaan, JKK, JKM dan JHT
sebesar 0,24%, 0,30% dan 3,70% dari gaji pokok. BPJS Kesehatan sebesar 4% yang
ditanggung perusahaan. Abdul membayar JHT sebesar 2% dari gaji pokok dan BPJS Kesehatan
sebesar 1%. Berapa PPh 21 Abdul tahun 2017 selama di PT Karya Abadi?

KUNCI JAWABAN

Pajak per bulan selama tahun 2017:


Gaji Pokok: Rp. 10.000.000 x 12 Rp. 120.000.000,00
BPJS TK:
JKK : (0,24% x Rp. 10.000.000) x 12 Rp. 288.000,00
JKM : (0,30% x Rp. 10.000.000) x 12 Rp. 360.000,00

BPJS KES: (4% x Rp. 8.000.000) x 12 Rp. 3.840.000,00


Penghasilan Bruto Setahun Rp. 124.488.000,00
(hasil penjumlahan Gaji Pokok, BPJS TK, dan BPJS Kesehatan)

Pengurang
Biaya Jabatan: 5% x Rp. 124.488.000 Rp. 6.000.000,00
BPJS TK:
JHT: (2% x Rp. 10.000.000) x 12 Rp. 2.400.000,00
(Rp 8.400.000,00)
Penghasilan Neto Setahun Rp. 116.088.000,00
(hasil dari pengurangan Penghasilan Bruto Setahun dengan Pengurang)

PTKP K/1
Wajib Pajak Sendiri Rp. 54.000.000,00
Status Menikah Rp. 4.500.000,00
Tanggungan (1) Rp. 4.500.000,00
PTKP K/1 (Rp. 63.000.000,00)

Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp. 53.088.000,00


Hal 57 dari 58
Perhitungan PPh 21
5% x Rp. 50.000.000 = Rp. 2.500.000
15% x Rp. 3.088.000 = Rp. 463.200

PPh 21 Setahun = Rp. 2.963.200


PPh 21 Sebulan = Rp. 2.963.200 : 12 = Rp. 246.933

Jadi sampai bulan Agustus 2017, gaji Abdul yang telah dipotong PPH 21 sebesar:
Rp. 246.933 x 8 = Rp. 1.975.467

PPh 21 dari Penghasilan Sebenarnya sampai bulan Agustus 2017:

Gaji Pokok: Rp. 10.000.000 x 8 Rp. 80.000.000,00


BPJS TK:
JKK: (0,24% x Rp. 10.000.000) x 8 Rp. 192.000,00
JKM: (0,30% x Rp. 10.000.000) x 8 Rp. 240.000,00

BPJS KES: (4% x Rp. 8.000.000) x 8 Rp. 2.560.000,00


Penghasilan Bruto Setahun Rp. 82.992.000,00
(hasil penjumlahan Gaji Pokok, BPJS TK, dan BPJS Kesehatan)

Pengurang
Biaya Jabatan: 5% x Rp. 82.992.000 Rp. 4.149.600,00
BPJS TK:
JHT: (2% x Rp. 10.000.000) x 8 Rp. 1.600.000,00
(Rp 5.749.600,00)
Penghasilan Neto Setahun Rp. 80.982.920,00

PTKP K/1
Wajib Pajak Sendiri Rp. 54.000.000,00
Status Menikah Rp. 4.500.000,00
Tanggungan (1) Rp. 4.500.000,00
PTKP K/1 (Rp. 63.000.000,00)
Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp. 14.242.000,00

Perhitungan PPh 21
5% x Rp. 14.242.000 = Rp. 712.100
PPh 21 sebenarnya sampai bulan Agustus 2017 = Rp. 712.100
PPh 21 yang sudah dipotong sampai bulan Agustus 2017 = Rp. 1.957.467
Jadi Abdul lebih bayar sebesar:
Rp. 1.957.467 – Rp. 712.100 = Rp. 1.245.367
(pajak lebih bayar ini diberikan kepada Abdul beserta pemberian bukti pemotongan PPh 21 (A1)
dan PT Karya Abadi membuat pembetulan)

Hal 58 dari 58