Anda di halaman 1dari 31

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR

SMK
JL. XXX
TELP. 031-XXXXXX FAX. 031- XXXXXX Kode Pos: XXXXX
EMAIL : XXXXXXXX Website: XXXXXXXXXXXXX
______________________________________________________________________

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Nama Sekolah : SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Kelas/Semester : XI / Genap
Materi Pokok : 3.7 Memahami PPh Badan terutang
4.7 Mengelompokkan PPh Badan terutang
Alokasi Waktu : 3 JP x 45 menit / 1 pertemuan

A. Kompetensi Inti
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan
faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang
dan lingkup kerja Akuntansi dan Keuangan Lembaga pada tingkat teknis,
spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri
sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional,
regional, dan internasional.
KI 4 : a) Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan
prosedur kerja yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai
dengan bidang Akuntansi dan Keuangan Lembaga. Menampilkan kinerja di
bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur sesuai dengan
stanar kompetensi kerja.
b) Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara
efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif
dalam ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan
langsung.
c) Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru,
membiasakan, gerak mahir, menjadikan gerak alami dalam ranah konkret
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu
melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan lansgung.
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi


3.7 Memahami PPh Badan 3.7.1 Mendeskripsikan pengertian badan dan
terutang wajib pajak badan.
3.7.2 Menjelaskan subjek pajak penghasilan
badan
3.7.3 Menjelaskan kewajiban dari wajib pajak
badan
3.7.4 Menjelaskan tata cara perpajakan untuk
badan saat terutang, penyetoran dan
pelaporan.

4.7 Mengelompokkan PPh Badan 4.7.1 Mengkomunikasikan pengertian wajib


terutang pajak badan
4.7.2 Menyebutkan subjek pajak badan dan
kewajiban pajak badan
4.7.3 Menyebutkan perlakuan perpajakan
untuk badan saat terutang, penyetoran dan
pelaporan

C. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai melalui proses pemberian stimulus, diskusi,
tanya jawab, presentasi, penugasan, dan analisis, peserta didik dapat menjelaskan definisi
badan dan wajib pajak badan. Selain itu peserta didik diharapkan mampu menjelaskan
subjek pajak penghasilan badan dan kewajiban wajib pajak badan.
Keterampilan yang diharapkan adalah peserta didik dapat mengidentifikasi badan
yang termasuk wajib pajak dan perlakuan perpajakan untuk badan saat terutang,
penyetoran dan pelaporan, sehingga peserta didik dapat menalar, mengolah, dan menyaji
secara efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif
dalam ranah abstrak terkait dengan pengembangan dokumen sumber dan dokumen
pendukung yang berkaitan dengan PPh badan terutang.

D. Materi Pembelajaran
1. Faktual
Permasalahan kontekstual yang berkaitan dengan PPh badan terutang yang sesuai
dengan ketentuan direktorat jenderal pajak.
2. Konseptual
Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik
yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi
perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik
negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun,
firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan,
organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga, dan
bentuk hukum lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap
(Pasal 1 angka 3 UU KUP).

Berdasarkan tempat penyetoran dan pelaporan kewajiban perpajakan, maka badan


dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :
 Badan yang berstatus Tunggal
 Badan yang berstatus Pusat
 Badan yang berstatus Cabang
Subyek pajak penghasilan
Pajak Penghasilan (PPh) dikenakan terhadap orang pribadi dan badan,
berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh selama satu tahun pajak.
Berdasarkkan pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2008

Kewajiban Wajib Pajak Badan dalam Perpajakan


Berikut kewajiban dari Wajib Pajak Badan :
1. Kewajiban mendaftarkan diri
2. Kewajiban untuk menyelenggarakan pembukuan.
3. Kewajiban melakukan pemotongan dan pemungutan, diantaranya yaitu:

Saat Terutang, Penyetoran dan Pelaporan PPh Badan


Saat terutang dari pajak penghasilan badan adalah pada saat badan atau
perusahaan tersebut sudah mendapat penghasilan atau laba.
Pembayaran pajak dilakukan melaui Bank Persepsi atau bank Devisi Persepsi
atau Kantor Pos Persepsi dengan sistem pembayaran secara online. Pembayaran
pajak harus digunakan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atau sarana
administrasi lain yang disamakan dengan Surat Setoran Pajak.

3. Prosedural
Melakukan kegiatan yang dimulai dengan mengidenfitikasi wajib pajak badan serta
kewajiban wajib pajak badan kemudian dilanjutkan dengan menganalisis tata cara
perpajakan untuk badan terutang yang sesuai dengan ketentuan direktorat jenderal
pajak.

E. Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Saintific Approach
2. Metode : Diskusi, tanya jawab, penugasan, presentasi, kerja kelompok

F. Media Pembelajaran
1. LCD
2. Laptop
3. Powerpoint / Video Pembelajaran

G. Sumber Belajar
1. Abdul H., Icuk R.B., Amin D.2014. Perpajakan. Jakarta : Salemba Empat
2. Lusita.2017. Modul Administrasi Pajak 1. Surabaya
3. Internet

H. Langkah-langkah Pembelajaran
3 JP x 45 menit = 135 menit
Alokasi
Kegiatan Deskripsi
Waktu
Pendahuluan  Memberikan salam 20 menit
 Menanyakan kepada peserta didik kesiapan dan kenyamanan
untuk belajar
 Mempersilakan berdoa bersama
 Mengabsen kehadiran peserta didik
 Membaca singkat buku perpajakan sebagai kegiatan literasi
 Memberikan pengantar materi surat setoran pajak untuk PPh
badan terutang
 Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
pertemuan hari ini
 Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian
kegiatan sesuai silabus
Inti Mengamati 100 menit
 Peserta didik mempelajari Buku Teks, modul maupun
sumber lain tentang definisi, subjek pajak penghasilan,
kewajiban dari wajib pajak, dan tata cara perpajakan untuk
badan terutang.
Menanya
 Peserta didik merumuskan pertanyaan untuk mengidentifikasi
konsep teori pajak penghasilan dan tata cara perpajakan untuk
badan terutang.
Mencari informasi
 Peserta didik mengumpulkan data dan informasi tentang
teori dasar pajak penghasilan, dan tata cara perpajakan
untuk pajak penghasilan badan terutang yang dapat
diperoleh dari buku/modul dan internet.
Menalar
 Peserta didik membentuk kelompok 3-4 orang untuk
mendiskusikan soal diskusi mengenai PPh badan terutang
yang diberikan guru.
Mengomunikasikan
 Peserta didik menyampaikan hasil diskusi tentang materi
konsep dasar teori pajak penghasilan dan tata cara
perpajakan untuk badan yang telah dipelajari dari
buku/modul atau internet dan mempresentasikannya dalam
bentuk tulisan dan lisan.
Penutup  Peserta didik menyimpulkan materi yang telah dipelajari 15 menit
hari ini.
 Guru memberikan pertanyaan untuk mengecek pemahaman
peserta didik.
 Guru mengingatkan peserta didik untuk mempelajari materi
hari ini dirumah.
 Guru menjelaskan materi yang akan dipelajari minggu
depan.
 Guru mengevaluasi pembelajaran hari ini dan menutup
dengan doa.

I. Penilaian Proses dan Hasil belajar


1. Penilaian Pembelajaran
a. Penilaian diskusi
b. Penilaian pengetahuan
Teknik tes : Tes tertulis dan penugasan
Bentuk : Essay/Uraian
Instrumen : Terlampir
Rubrik penilaian : Terlampir
c. Penilaian ketrampilan
Teknik tes : Penilaian kinerja
Bentuk : Mengerjakan soal post test tentang PPh badan terutang
Instrumen : Terlampir
Rubrik penilaian : Terlampir
2. Pembelajaran remidial dan pengayaan
a. Remidial
Dapat diberikan pendampingan personal/bimbingan individu bagi peserta didik
yang dirasa belum mampu untuk memahami materi ini.
b. Pengayaan
Peserta didik membuat makalah tentang materi PPh badan Terutang

Surabaya, 2018
Mengetahui,
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

NAMA LENGKAP NAMA LENGKAP.


NIP NIP
Lampiran 1: Bahan Ajar

Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik
yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi
perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik
negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun,
firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan,
organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga, dan
bentuk hukum lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap
(Pasal 1 angka 3 UU KUP). Badan antara lain terdiri dari :
 Perseroan Terbatas (PT).
 Perseroan Komanditer (CV).
 Perseroan lainnya.
 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan nama dan dalam bentuk apa
pun.
 Badan Usaha Milik Daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun.
 Firma.
 Kongsi
 Koperasi.
 Dana pensiun.
 Persekutuan.
 Perkumpulan.
 Yayasan.
 Organisasi Massa.
 Organisasi sosial politik.
 Partai Politik.
 Kontrak Investasi Kolektif.
 Bentuk Usaha Tetap.
 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
 Asosiasi.
Sehingga semua badan yang bergerak dibidang usaha yang mencari laba / profit
dan non profit / nirlaba merupakan badan yang mempunyai kewajiban mendaftarkan
diri sebagai wajib pajak untuk mendapatkan NPWP.

Berdasarkan tempat penyetoran dan pelaporan kewajiban perpajakan, maka badan


dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :
 Badan yang berstatus Tunggal
Badan yang berstatus sebagai Tunggal tidak mempunyai cabang, sehingga
seluruh kewajiban pajaknya disetor dan dilaporkan ke Kantor Pelayanan
Pajak dimana Badan tersebut terdaftar.
 Badan yang berstatus Pusat
Badan yang berstatus sebagai Pusat mempunyai satu atau lebih cabang,
sehingga kewajiban pajaknya diatur sebagai berikut :
1. Disetor dan dilaporkan ke Kantor Pelayanan Pajak dimana Badan yang
berstatus Pusat tersebut terdaftar atas kewajiban PPh Badan atas
kegiatan Badan Pusat dan seluruh cabang, PPh Pemotongan dan/atau
Pemungutan (Pasal 21/26, Pasal 22, Pasal 23/26, Pasal 15, Pasal 4 ayat
2) atas kegiatan Badan Pusat saja, serta PPN dan PPnBM Badan Pusat
serta Cabang (apabila PPN dan PPnBM dilakukan Pemusatan).
2. Disetor dan dilaporkan ke Kantor Pelayanan Pajak dimana Badan yang
berstatus Cabang tersebut terdaftar atas kewajiban PPh Pemotongan
dan/atau Pemungutan (Pasal 21/26, Pasal 22, Pasal 23/26, Pasal 15,
Pasal 4 ayat 2) atas kegiatan Badan Cabang, serta PPN dan PPnBM
Cabang (apabila PPN dan PPnBM tidak dilakukan Pemusatan).
 Badan yang berstatus Cabang
Badan yang berstatus sebagai Cabang tidak mempunyai kewajiban PPh
Badan, sehingga kewajiban pajak yang disetor dan dilaporkan ke Kantor
Pelayanan Pajak dimana Badan tersebut terdaftar sebagai Badan Cabang
hanyalah kewajiban PPh Pemotongan dan/atau Pemungutan (Pasal 21/26,
Pasal 22, Pasal 23/26, Pasal 15, Pasal 4 ayat 2) atas kegiatan Badan Cabang,
serta PPN dan PPnBM Cabang (apabila PPN dan PPnBM tidak dilakukan
Pemusatan).
Subyek pajak penghasilan
Pajak Penghasilan (PPh) dikenakan terhadap orang pribadi dan badan,
berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh selama satu tahun pajak.
Berdasarkkan pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2008, Subjek Pajak
dibedakan menjadi subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri.
 Subjek pajak dalam negeri adalah
 Badan yang didirikan atau berkedudukan di Indonesia, meliputi Perseroan
Terbatas(PT), Perseroan Komoditer, Perseroan lainnya, Badan usah milik
Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi,
koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi
massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga, dan bentuk
badan lainnya termasuk reksadana.
Kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria:
1. Pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan,
2. Pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara atau Anggaran Daerah, dan
3. Penerimaannya dimasukan ke anggaran Pemerintah Pusat atau
Pemerintah Daerah, dan
4. Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara.
Subjek pajak badan dalam negeri menjadi wajib pajak saat mendirikan atau
bertempat kedudukan di Indonesia.

 Subjek pajak luar negeri adalah


Subjek pajak luar negeri dapat berupa bentuk usaha tetap.
 Bentuk Usaha Tetap
Berdasarkan UU Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 2 ayat 5 dinyatakan bahwa
Bentuk Usaha Tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang
pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang
berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan,
dan badan yang tidak didirikan dan tidak berkedudukan di Indonesia, yang
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di
Indonesia, kegiatan tersebut dapat berupa:
1. Tempat kedudukan manajemen
2. Cabang perusahaan
3. Kantor perwakilan
4. Gedung kantor
5. Pabrik
6. Bengkel
7. Gudang
8. Ruang untuk promosi dan penjualan
9. Pertambangan dan penggalian sumber alam
10. Wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi
11. Perikanan, perternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan
12. Proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan
13. Pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau orang lain
sepanjang dilakukan lebih dari 60 hari dalam jangka waktu 12 bulan
14. Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya
tidak bebas
15. Agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan
tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi
atau menanggung risiko di Indonesia, serta
16. Komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki
disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk
menjalankan kegiatan usaha melalui internet.
Subjek pajak luar negeri , baik orang pribadi maupun badan sekaligus,
menjadi wajib pajak karena menerima atau memperoleh penghasilan yang
bersumber dari indonesia melalui bentuk usaha tetap diindonesia.

Perbedaan wajib pajak dalam negeri dan wajib pajak luar negeri antara lain
dicantumkan pada tabel berikut ini:
Wajib Pajak Dalam Negeri Wajib Pajak Luar Negeri
 Dikenakan pajak atas  Dikenakan pajak hanya atas
penghasilan, baik yang penghasilanyang berasal dari
diterima maupun diperoleh sumber penghasilan di
dari Indonesia dan dari luar Indonesia
Indonesia
 Dikenakan pajak berdasarkan  Dikenakan pajak berdasarkan
penghasilan neto penghasilan bruto
 Tarif pajak yang digunakan  Tarif pajak yang digunakan
adalah tarif umum (tarif UU adalah tarif sepadan (tarif UU
PPh Pasal 17) PPh Pasal 26)
 Wajib menyampaikan SPT  Tidak wajib menyampaikan
SPT

Kewajiban Wajib Pajak Badan dalam Perpajakan


Berikut kewajiban dari Wajib Pajak Badan :
1. Kewajiban mendaftarkan diri
Dalam hal ini mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP (Nomor Pokok
Wajib Pajak) dan apabila wajib pajak badan melakukan kegiatan penyerahan
barang kena pajak dan atau jasa kena pajak atau ekspor barang kena pajak
yang terutang PPN berdasarkan UU PPN 1984, maka wajib pajak badan
tersebut memiliki kewajiban untuk dikukuhkan menjadi pengusaha kena
pajak (PKP). Untuk wajib pajak badan atau pengusaha kecil yaitu selama
satu tahun buku melakukan penyerahan BKP dan atau JKP dengan jumlah
peredaran bruto tidak lebih dari Rp600.000.000,- (enam ratus juta rupiah)
maka tidak diwajibkan untuk dikukuhkan sebagai PKP, kecuali pengusaha
kecil tersebut memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP. Jadi, apabila
peredaran brutonya lebih dari 600 juta maka wajib mengukuhkan diri
menjadi PKP.
Pada pasal 2 ayat (4) UU KUP, “Dirjen Pajak menerbitkan NPWP dan/atau
mengukuhkan PKP secara jabatan apabila WP atau PKP tidak melaksanakan
kewajibannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau ayat (2).
2. Kewajiban untuk menyelenggarakan pembukuan.
Sebagaimana terdapat pada pasal 28 ayat (1) UU KUP, yaitu WP orang
pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan WP badan
di Indonesia, wajib menyelenggarakan pembukuan.
Pembukuan :
Menurut UU No.28 tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan,Pembukuan adalah proses pencatatan yang dilakukan secara
teratur untuk mendapatkan data & informasi keuangan yang meliputi
keadaan harta, kewajiban atau utang, modal, penghasilan dan biaya serta
jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa yang terutang
maupun yang tidak terutang PPN, yang dikenakan PPN dengan tarif 0% (nol
persen) dan yang dikenakan PPnBM, yang ditutup dengan menyusun laporan
keuangan berupa neraca dan penghitungan rugi/laba pada saat tahun pajak
mberakhir.
Ketentuan mengenai Pembukuan :
Pembukuan tersebut harus diselenggarakan dengan:
a. memperhatikan iktikad baik dan mencerminkan keadaan atau
kegiatan usaha yang sebenarnya,
b. harus diselenggarakan di Indonesia, dengan menggunakan huruf latin,
angka Arab, satuan mata uang rupiah, dan disusun dalam bahasa
Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menkeu,
c. diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual
dan stelsel kas,
d. perubahan terhadap metode pembukuan dan/atau tahun buku harus
mendapat persetujuan dari Dirjen Pajak.
Prinsip Taat Asas :
Prinsip taat asas adalah prinsip yang sama digunakan dalam metode
pembukuan dengan tahun-tahun sebelumnya untuk mencegah penggeseran
laba atau rugi. Misalnya dalam penerapan : Stelsel pengakuan penghasilan;
Tahun buku; Metode penilaian persediaan; Metode penyusutan dan
amortisasi.
3. Kewajiban melakukan pemotongan dan pemungutan, diantaranya yaitu:
a. Kewajiban pajak sendiri (seperti PPh Pasal 25/29);
b. Kewajiban memotong atau memungut (pot/put) pajak atas
penghasilan orang lain (misalnya: PPh Pasal 21/26, PPh Pasal 22,
PPh Pasal 23/26, dan PPh Final); dan
c. Kewajiban memungut PPN dan atau PPn BM (jika ada) yang khusus
berlaku bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP).
Jenis-jenis pajak yang menjadi kewajiban Wajib Pajak Badan secara umum
bisa diuraikan sebagai berikut:
a. PPh Pasal 21/Pasal 26
Yaitu PPh yang wajib dipotong atas penghasilan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa, atau kegiatan yang diterima atau diperoleh orang
pribadi, sesuai dengan ketentuan Pasal 21 UU PPh.
Wajib Pajak Badan wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas
penghasilan para karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut
maupun penghasilan orang pribadi lainnya, seperti tenaga ahli, yang
dibayar atau terutang oleh perusahaan. Dalam hal terdapat
pembayaran penghasilan, yang termasuk objek PPh Pasal 21, kepada
orang pribadi yang berstatus WP luar negeri, PPh yang dipotong
mengacu pada ketentuan Pasal 26 UU PPh atau berdasarkan tax
treaty.
Kewajiban PPh Pasal 21/Pasal 26 yang harus dilaksanakan, meliputi:
SPT Masa PPh Pasal 21/26 pada setiap Masa Pajak
Merupakan pelaporan atas PPh Pasal 21 yang telah dihitung
dan disetor oleh Wajib Pajak Badan, yang terutang pada setiap masa
pajak. PPh Pasal 26 yang terutang atas pembayaran kepada orang
pribadi yang berstatus Wajib Pajak Luar Negeri juga wajib dilaporkan
pada SPT Masa PPh Pasal 21. Pada dasarnya, PPh Pasal 21 yang
dilaporkan dalam SPT Masa merupakan angsuran atau pajak dibayar
di muka untuk PPh Pasal 21 yang terutang pada akhir tahun pajak
yang bersangkutan.
SPT Masa PPh Pasal 21 pada Akhir Tahun Pajak
Merupakan pelaporan atas PPh Pasal 21 yang telah dihitung
dan dilunasi pada suatu tahun pajak, termasuk PPh Pasal 26 yang
terutang atas penghasilan orang pribadi berstatus WP luar negeri. SPT
Masa PPh Pasal 21 untuk Akhir Tahun Pajak sebenarnya merupakan
penghitungan ulang atas PPh Pasal 21 yang telah dilaporkan dalam
SPT Masa PPh Pasal 21 untuk Masa Pajak Januari sampai dengan
Desember. Bisa jadi, pada SPT Masa PPh Pasal 21 pada akhir tahun
nantinya timbul kurang bayar, atau lebih bayar, atau mungkin juga
nihil (PPh Pasal 21 yang sudah disetor sama dengan PPh Pasal 21
yang terutang).
b. PPh Pasal 23
Yaitu PPh yang dipotong atas penghasilan berupa dividen, royalty,
bunga, hadiah dan penghargaan selain yang telah dikenakan PPh
Pasal 21, sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan
harta, serta imbalan jasa sehubungan dengan jasa-jasa seperti jasa
teknik, jasa manajeman, jasa konsultan, dan jasa lain, yang ditetapkan
dalam ketentuan Pasal 23 UU PPh.
c. PPh Pasal 26
Yaitu PPh yang dipotong atas penghasilan berupa dividen; bunga;
royalti; sewa dan imbalan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan dan kegiatan, hadiah dan
penghargaan; serta pensiun dan pembayaran berkala lainnya yang
diterima/diperoleh WP luar negeri. Ketentuan ini diatur dalam Pasal
26 UU PPh.
Penghitungan dan penyetoran PPh Pasal 26 sebaiknya tetap dilakukan
secara tersendiri, meskipun untuk pelaporannya digabungkan dengan
PPh Pasal 21 atau PPh Pasal 23, tergantung pada jenis objek pajaknya
serta penerima penghasilannya;
1. Jika objek pajaknya cenderung sama dengan PPh Pasal 21 dan
penerima penghasilannya adalah orang pribadi berstatus WP
luar negeri, maka pelaporannya melalui SPT Masa PPh Pasal 21
dan atau Pasal 26;
2. Jika penerima penghasilannya berbentuk badan dan berstatus
WP luar negeri, pelaporannya melalui SPT Masa PPh Pasal 23
dan atau Pasal 26.

d. PPh Final
Yaitu PPh yang dipotong atas jenis penghasilan tertentu atau jenis
usaha tertentu yang diatur secara khusus (special treatment) melalui
peraturan pemerintah. Misalnya, PPh Final atas persewaan tanah dan
atau bangunan. Jadi, seandainya Wajib Pajak Badan menyewa gedung
dari pihak lain untuk dipergunakan sebagai kantor, maka Wajib Pajak
Badan wajib memotong, menyetor, dan melaporkan PPh Final yang
terutang atas sewa kantor tersebut.
e. PPh Pasal 25
Yaitu pembayaran angsuran PPh dalam tahun pajak berjalan yang
harus dibayar sendiri oleh WP untuk setiap bulan. Besarnya PPh
Pasal 25 yang wajib disetor setiap bulan dihitung berdasarkan
ketentuan Pasal 25 UU PPh beserta ketentuan pelaksanaannya.
f. PPh Pasal 29
Yaitu kewajiban untuk melunasi kekurangan pembayaran pajak yang
terutang pada akhir tahun pajak, dengan memperhitungkan kredit
pajak berupa angsuran PPh Pasal 25 yang telah disetor setiap bulan
dan PPh yang telah dipotong/dipungut oleh pihak lain.
g. PPN
Yaitu pemungutan pajak atas penyerahan BKP (Barang Kena Pajak)
atau JKP (Jasa Kena Pajak) yang dilakukan oleh Pengusaha Kena
Pajak (PKP) di dalam Daerah Pabean, yang meliputi suatu masa
pajak. Dalam hal BKP tergolong barang mewah, terdapat Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah (PPn BM) yang juga terutang sesuai
ketentuan UU yang berlaku.
4. Kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT)
5. Kewajiban membayar dan menyetorkan pajak
6. Kewajiban membuat faktur pajak
7. Kewajiban melunasi bea materai
8. Kewajiban menaati pemeriksaan pajak

Saat Terutang, Penyetoran dan Pelaporan PPh Badan


Saat terutang dari pajak penghasilan badan adalah pada saat badan atau
perusahaan tersebut sudah mendapat penghasilan atau laba. Pajak Penghasilan (PPh)
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan sebagaiman telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008, pph badan harus dibayar paling lama
tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir (angsuran
pajak).
Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran bertepatan dengan hari libur
termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, maka pembayaran dapat dilakukan pada
hari kerja berikutnya. Hari libur nasional temasuk hari yang diliburkan untuk
penyelengaraan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh pemerintah dan cuti bersama
secara nasional yang ditetapkan oleh pemerintah.
Pembayaran pajak dilakukan melaui Bank Persepsi atau bank Devisi Persepsi
atau Kantor Pos Persepsi dengan sistem pembayaran secara online. Pembayaran
pajak harus digunakan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atau sarana
administrasi lain yang disamakan dengan Surat Setoran Pajak.
Surat Setoran Pajak (SSP) atau sarana administrasi lain berfungsi sebagai
bukti pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh pejabat kantor penerima
pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapat validasi. SSP atau sarana
administrasi lain dianggap sah apabila telah divalidasi dengan Nomor Transaksi
Penerimaan Negara (NTPN).
Apabila pajak terutang untuk satu tahun pajak lebih besar dari jumlah kredit
pajak maka penyetoran kekurangan pajak yang terutang (pph pasal 29) harus
dilunasi selambat-lambatnya sebelum SPT Tahunan disampaikan. Sedangkan, untuk
pelaporan SPT, maksimal disampaikan pada akhir bulan keempat setelah tahun
pajak berakhir.
Lampiran 2 Media Pembelajaran

Power Point
Lampiran 2: Lembar Penilaian Non Tes

FORMAT LEMBAR PENILAIAN DISKUSI (KELOMPOK)

Nama kelompok :
1.....................................
2.....................................
3.....................................
4.....................................
5.....................................

Nilai Nilai
No Sikap/Aspek yang dinilai
Kualitatif Kuantitatif
Penilaian kelompok
1. Menyelesaikan tugas kelompok dengan baik
2 Kerjasama kelompok (komunikasi)
3 Hasil tugas (relevansi dengan bahan)
4 Pembagian Job
5 Sistematisasi Pelaksanaan
Jumlah Nilai Kelompok

Format Lembar Penilaian Diskusi (Individu Peserta Didik)


Nama Siswa :.........................................
Nilai Nilai
No Sikap/Aspek yang dinilai
Kualitatif Kuantitatif
1. Berani mengemukakan pendapat
2. Berani menjawab pertanyaan
3. Inisiatif
4. Ketelitian
5. Jiwa kepemimpinan
6. Bermain peran
Jumlah Nilai Individu

Lembar Keaktifan Dalam Diskusi


Nilai Nilai
No Aspek yang dinilai
Kualitatif Kuantitatif
1. Bertanya (cara)
2. Menjawab pertanyaan
3. Kesesuaian dengan topik kajian
4. Cara menyampaikan pendapat
5. Antusiasme mengikuti pembelajaran
Kriteria Penilaian
Kriteria Indikator Nilai Kualitatif Nilai Kuantitatif
80 - 100 Memuaskan 4
70 - 79 Baik 3
60 - 69 Cukup 2
45 - 59 Kurang cukup 1
Lampiran 3: Penilaian Pengetahuan

SOAL DISKUSI

Nama Sekolah : SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


Kelas/Semester : XI / 1
Tahun Pelajaran : 2018-2019
Paket Keahlian : Akuntansi dan Lembaga Keuangan
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Penilaian : DISKUSI

NO SOAL
1 Apa yang dimaksud dengan wajib pajak badan?

2 Jelaskan mengenai subjek dan objek pajak wajib pajak badan!

3 Amatilah sebuah undang-undang perpajakan! Bagian atau pasal-pasal


manakah dari undang-undang pajak yang mengatur berkenaan dengan pajak
penghasilan WP badan!
TES TERTULIS
Nama Sekolah : SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
Kelas / Semester : XI / 2
Tahun Pelajaran : 2018/2019
Paket Keahlian : Akuntansi dan Keuangan Lembaga
Mata Pelajaran : Administrasi Perpajakan
Penilaian : Post test
No Bentuk
No Kompetensi Dasar Materi Indikator Soal
Soal Soal
1. Memahami PPh 1. Pengertian Menjelaskan jenis- 1 Uraian
Badan terutang badan dan jenis badan.
wajib pajak Menyebutkan 2
badan kewajiban dari wajib
2. Subjek pajak badan
pajak Menjelaskan subjek 3
penghasilan pajak penghasilan
2. Mengelompokkan badan Menjelaskan 4
PPh Badan 3. Kewajiban perlakuan pajak
terutang dari wajib badan
pajak badan
4. Pajak badan
saat
terutang,
penyetoran
dan
pelaporan
SOAL URAIAN

Nama Sekolah : SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


Kelas/Semester : XI / 2
Tahun Pelajaran : 2018/2019
Paket Keahlian : Akuntansi dan Lembaga Keuangan
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Penilaian : Post Test

No. Soal Jawaban Skor


1 Badan adalah sekumpulan Yang termasuk dalam jenis badan adalah 25
orang dan/atau modal yang  Perseroan Terbatas (PT).
merupakan kesatuan baik  Perseroan Komanditer (CV).
yang melakukan usaha  Perseroan lainnya.
maupun yang tidak  Badan Usaha Milik Negara
melakukan usaha, yang (BUMN) dengan nama dan
termasuk didalam jenis dalam bentuk apa pun.
badan adalah  Badan Usaha Milik Daerah
dengan nama dan dalam
bentuk apa pun.
 Firma.
 Kongsi
 Koperasi.
 Dana pensiun.
 Persekutuan.
 Perkumpulan.
 Yayasan.
 Organisasi Massa.
 Organisasi sosial politik.
 Partai Politik.
 Kontrak Investasi Kolektif.
 Bentuk Usaha Tetap.
 Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM).
 Asosiasi.

2 PT. Sehat Sentosa Kewajiban yang harus dipenuhi oleh PT. Sehat 25
merupakan perusahaan Sentosa adalah
yang bergerak dibidang 1. Kewajiban mendaftarkan diri
jasa penyewaan kendaraan Dalam hal ini mendaftarkan diri untuk
darat. Perusahaan tersebut memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib
menyewakan kendaraan Pajak) dan apabila wajib pajak badan
dalam bentuk retail melakukan kegiatan penyerahan barang
persewaan taksi. kena pajak dan atau jasa kena pajak
Kewajiban apa saja yang atau ekspor barang kena pajak yang
harus dipenuhi oleh terutang PPN berdasarkan UU PPN
perusahaan tersebut? 1984, maka wajib pajak badan tersebut
memiliki kewajiban untuk dikukuhkan
menjadi pengusaha kena pajak (PKP).
2. Kewajiban untuk menyelenggarakan
pembukuan. Sebagaimana terdapat
pada pasal 28 ayat (1) UU KUP, yaitu
WP orang pribadi yang melakukan
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
dan WP badan di Indonesia, wajib
menyelenggarakan pembukuan.
3. Kewajiban melakukan pemotongan dan
pemungutan, diantaranya yaitu:
d. Kewajiban pajak sendiri (seperti
PPh Pasal 25/29);
e. Kewajiban memotong atau
memungut (pot/put) pajak atas
penghasilan orang lain (misalnya:
PPh Pasal 21/26, PPh Pasal 22, PPh
Pasal 23/26, dan PPh Final); dan
f. Kewajiban memungut PPN dan atau
PPn BM (jika ada) yang khusus
berlaku bagi Pengusaha Kena Pajak
(PKP).

3 Kapan suatu badan dapat Badan dapat dikatakan sebagai subyek pajak 25
dikatakan sebagai subjek apabila didirikan atau bertempat kedudukan di
pajak? Indonesia dan telah memiliki penghasilan
melebihi dari PTKP
4 Bagaimana perlakuan Apabila pada tanggal jatuh tempo pembayaran 25
pembayaran pajak badan bertepatan dengan hari libur termasuk hari
apabila jatuh tempo berada Sabtu atau hari libur nasional, maka
pada saat tanggal libur? pembayaran dapat dilakukan pada hari kerja
berikutnya. Dalam hal ini pajak yang
dibayarkan tidak akan dikenakan sanksi, sanksi
baru diberikan apabila sudah melewati satu
hari kerja setelah hari libur.
PEDOMAN PENSKORAN

Skor Penilaian
 Skor maksimal jika siswa mampu menjawab dengan benar (sesuai dengan konsep)
 Skor setengah dari skor maksimal jika siswa mampu menjawab namun tidak sesuai
dengan konsep
 Skor 0 jika siswa tidak menjawab

Nilai = skor perolehan/skor maksimal x 100


Lampiran 4. Penilaian Keterampilan
KISI-KISI PENILAIAN KINERJA

Nama Sekolah : SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


Kelas/Semester : XI / 2
Tahun Pelajaran : 2018/2019
Paket Keahlian : Akuntansi dan Lembaga Keuangan
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Kompetensi Dasar : 4.8 Mengelompokkan PPh Badan terutang

No Kompetensi Dasar Materi Indikator Penilaian


1 4.8 Mengelompokkan Konsep badan 1. Mampu membuat
PPh Badan terutang dalam mind mapping
perpajakan mengenai materi
konsep dasar badan
dalam perpajakan.
2. Mampu
Hasil
menjelaskan setiap
bagan mind
mapping sesuai
dengan konsep
dasar badan dalam
perpajakan.
RUBRIK PENSKORAN PRODUK

Nama Sekolah :SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


Kelas/Semester : XI/2
Tahun Pelajaran : 2018/2019
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Nama Peserta Didik :
Kelas :

Petunjuk: Berilah tanda (√) pada kolom skor

Skor
No Komponen/Sub Komponen
1 2 5
1 Teknis (Skor Maksimal 10)
Kesesuaian mind mapping yang disajikan dengan
konsep dasar badan dalam perpajakan
Kesesuaian penjelasan setiap bagan mind mapping
dengan teori badan menurut kententuan Dirjen pajak
2 Estetis (Skor Maksimal 4)
Kerapian
Keterbacaaan
3 Waktu (Skor Maksimal 4)
Ketepatan waktu kerja

Penilaian produk
Teknis Estetis Waktu Total
Skor Perolehan
Skor Maksimal
Bobot 50 25 25 100
Total

Keterangan:
- Bobot total wajib : 100
- Cara penghitungan
Nilai total = ∑ (skor perolehan/skor maksimal x bobot)
Lampiran 5. Pembelajaran Remidial dan Pengayaan

PROGRAM PERBAIKAN DAN PENGAYAAN

Nama Sekolah : SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


Kelas/Semester : XI/2
Tahun Pelajaran : 2018/2019
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak

1. Program Perbaikan
1.1.Sasaran Perbaikan : Siswa yang memperoleh nilai kurang dari 75
1.2.Bentuk Perbaikan : Tes perbaikan
1.3.Jenis Perbaikan : Individu
1.4.Kompetensi Dasar/Materi Pokok : 3.8 Memahami PPh Badan terutang
4.8 Mengelompokkan PPh Badan terutang
1.5.Proses perbaikan : Peserta didik di berikan soal terkait dengan
PPh badan terutang
2. Program Pengayaan
2.1.Sasaran Pengayaan : Siswa yang memperoleh nilai diatas 75
2.2.Bentuk Pengayaan : Peserta didik ditugaskan untuk membuat
makalah terkait dengan konsep dasar PPh
badan terutang
2.3.Jenis Pengayaan : Individu
PELAKSANAAN PERBAIKAN PENGAYAAN

Mata Pelajaran : Administrasi Pajak


Kompetensi Dasar/Materi Pokok : 3.8 Memahami PPh Badan terutang
4.8 Mengelompokkan PPh Badan terutang
Kelas/Semester : XI/2
Tanggal :

PERBAIKAN
Nilai
Nama Tanggal Hasil Bentuk
Nomor Sebelum Keterangan
Siswa Perbaikan Perbaikan Perbaikan
Perbaikan

Dst…

PENGAYAAN
Nilai
Nama Tanggal Hasil Bentuk
Nomor Sebelum Keterangan
Siswa Pengayaan Pengayaan Pengayaan
Pengayaan

Dst…
SOAL REMIDIAL
No Soal Jawaban
1 PT. ABC merupakan PT ABC tidak dapat dikukuhkan sebagai
perusahaan bergerak pada PKP, karena jumlah pendapatan bruto
bidang jasa. PT ABC setiap selama satu tahun buku tidak lebih dari Rp
bulannya mendapatkan 600.000.000 (enam ratus juta rupiah).
pendapatan bruto sebesar Rp
45.000.000, jika diakumulasikan
dalam setahun PT ABC
mendapat pendapatan sebesar
Rp 540.000.000. Dari data
tersebut apakah PT ABC dapat
memenuhi kriteria dalam PKP?
Jelaskan!
2 PT XYZ merupakan suatu Sanksi yang diberikan kepada PT XYZ
perusahaan yang sudah yaitu besar nya tarif pemotongan pajak
memenuhi kriteria dalam wajib lebih tinggi 100% dari pada tarif pajak
pajak badan. PT XYZ menerima yang seharusnya (pasal 23 ayat(1a) UU
penghasilan yang dikenakkan PPh.
PPh pasal 23, Namun PT XYZ
belum mendaftarkan NPWP.
Apa sanksi yang diterima oleh
PT XYZ?
3 Setiap wajib pajak badan yang Tidak semua deviden yang diterima oleh
berinvestasi maka wajib pajak wajib pajak badan akan dikenakan PPh 23.
badan tersebut berhak Deviden yang tidak dipotong PPh pasal 23
mendapatkan deviden. Apakah adalah deviden atau bagian laba yang
semua deviden yang diterima diterima atau diperoleh PT sebagai WPDN,
oleh wajib pajak badan akan koperasi, BUMN, atau BUMD, dari
dikenakan PPh pasal 23? penyertaan modal pada badan usaha yang
didirika dan bertempat kedudukan di
Indonesia dengan syarat:
1. Deviden berasal dari cadangan laba
yang ditahan, dan
2. Bagi PT, BUMN dan BUMD yang
menerima deviden, kepemilikan
saham pada badan yang
memberikan deviden paling rendah
25% dari jumlah modal yang
disetor, ( bukan merupakan objek
pajak sesuai pasal 4 ayat (3) huruf f
UU PPH) (pasal 4 ayat (3) huruf f
dan i UU PPh pasal 5 PP Nomor 94
tahun 2010)
4 Subjek pajak penghasilan badan Perbedaan wajib pajak dalam negeri dan
terbagi menjadi 2 yaitu subjek wajib pajak luar negeri antara lain
pajak penghasilan badan dalam dicantuman pada tabel berikut ini:
negeri dan luar negeri. Jelaskan Wajib Pajak Wajib Pajak Luar
perbedaan subjek pajak Dalam Negeri Negeri
penghasilan badan dalam negeri  Dikenakan  Dikenakan
dan luar negeri! pajak atas pajak hanya
penghasilan, atas
baik yang penghasilanya
diterima ng berasal
maupun dari sumber
diperoleh penghasilan
dari di Indonesia
Indonesia
dan dari luar  Dikenakan
Indonesia pajak
 Dikenakan berdasarkan
pajak penghasilan
berdasarkan bruto
penghasilan  Tarif pajak
neto yang
 Tarif pajak digunakan
yang adalah tarif
digunakan sepadan (tarif
adalah tarif UU PPh
umum (tarif Pasal 26)
UU PPh  Tidak wajib
Pasal 17) menyampaik
 Wajib an SPT
menyampai
kan SPT
SOAL PENGAYAAN
1. Buatlah makalah terkait dengan materi konsep dasar PPh Badan Terutang dalam
jangka waktu satu minggu!