Anda di halaman 1dari 54

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR

SMK
JL. XXX
TELP. 031-XXXXXX FAX. 031- XXXXXX Kode Pos: XXXXX
EMAIL : XXXXXXXX Website: XXXXXXXXXXXXX
______________________________________________________________________

Nama Sekolah : SMKN 1 Surabaya

Mata Pelajaran : Administrasi Pajak

Kelas/Semester : XI / Genap

Materi Pokok : 3.8 Menganalisis data terkait PPh Badan terutang

4.8 Melakukan perhitungan PPh Badan terutang

Alokasi Waktu : 15 JP (3 JP x 5 pertemuan)

A. Kompetensi Inti
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang
pengetahuan faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai
dengan bidang dan lingkup kerja Akuntansi dan Keuangan Lembaga pada
tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks
pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja,
warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.
KI 4 : Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan
prosedur kerja yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai
dengan bidang Akuntansi dan Keuangan Lembaga. Menampilkan kinerja di
bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur sesuai dengan
standar kompetensi kerja.

Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif,


kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam
ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan
langsung
Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan,
gerak mahir, menjadikan gerak alami dalam ranah konkret terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan
tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi


3.8 Menganalisis data terkait PPh 3.8.1 Menjelaskan objek pajak penghasilan
Badan terutang badan

3.8.2 Mendeskripsikan pengertian dan jenis


persediaan untuk PPh badan

3.8.3 Menjelaskan tata cara perhitungan


persediaan untuk PPh badan

3.8.4 Mendeskripsikan pengertian penyusutan


untuk PPh badan

3.8.5 Menjelaskan tata cara perhitungan


penyusutan untuk PPh badan

3.8.6 Menjelaskan rekonsiliasi fiskal untuk pph


badan

3.8.7 Menjelaskan biaya-biaya pengurang


penghasilan untuk PPh badan

3.8.8 Menjelaskan tarif pajak penghasilan badan

3.8.9 Menjelaskan tata cara perhitungan PPh


badan

4.8 Melakukan perhitungan PPh 4.8.1 Mengkomunikasikan objek pajak


Badan terutang penghasilan badan, definisi persediaan dan
penyusutan dalam PPh badan.

4.8.2 Menyebutkan jenis persediaan, biaya-


biaya pengurang penghasilan badan dan
tarif pajak penghasilan badan

4.8.3 Melakukan perhitungan persediaan,


penyusutan, rekonsiliasi dan pajak
penghasilan PPh badan

C. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai memalui proses pemberian stimulus,
diskusi, tanya jawab, presentasi, penugasan, dan analisis adalah peserta didik dapat
menganalisis data terkait PPh Badan terutang mencakup objek dari pajak penghasilah
badan, pngertian dan jenis perseidan untuk PPh badan, tata cara pehitungan persediaan
untuk PPh badan, penyusutan untuk PPh badan dan perhitungannya. Sealnjutnya peserta
didik diharapkan mampu menjelaskan pelaksanaan rekonsliasi fiskal untuk PPh Badan
mencakup menjelaskan biaya-biaya pengurang penghasilan untuk PPh Badan,
menjelaskan berapa tarif pajak penghasilan untuk badan serta perhitungannya.
Keterampilan yang diharapkan adalah peserta didik meklasifikasikan apa saja yang
menjadi obyek pajak penghasilan badan, melakukan perhitungan persedian untuk PPh
badan, melakukan perhitungan penyusutan untuk PPh badan. Poin terakhir adalah peserta
didik mampu untuk melakukan perhitungan rekonsiliasi fiskal termasuk menghitung
biaya-biaya pengurang untuk PPh badan.
D. Materi Pembelajaran
1. Faktual
Permasalahan kontekstual yang berkaitan adalah semakin banyaknya perusahaan
berbentuk badan hukum maupun tidak berbadan hukum yang berkembang di
Indonesia. Tenaga profesional khususnya di bidang akuntansi yang paling dicari
adalah ahli dalam perpajakan, tentu saja perpajak yang dimaksud adalah pajak untuk
sebuah badan atau perusahaan. Sehingga memahami lebih tentang perpajakan
khususnya pajak untuk badan atau perusahaan akan memberikan kelebihan ketika
berada dalam dunia kerja.

2. Konseptual
Salah satu subyek pajak penghasilan adalah badan. Badan yang dimaksud dalam
pembahasan ini adalah sekumpulan orang dan atau kumpulan modal sebagai satu
kesatuan, baik melakukan usaha atau tidak melakukan usaha, contohnya seperti PT,
Firma, CV dan bentuk badan-badan lain. Hal-hal yang harus diketahui dalam PPh
Badan adalah:
a. Obyek PPh badan
b. Jenis persediaan untuk PPh badan
c. Penilaian kembali harta perusahaan untuk PPh badan (perhitungan kembali
persediaan)
d. Revaluasi aset tetap (perhitungan kembali penyusutan aset tetap)
e. Rekonsiliasi fiskal untuk PPh badan
f. Biaya-biaya pengurang penghasilan dalam PPh Badan
g. Tarif PPh Badan
h. Tata cara perhitungan pph badan

3. Prosedural
Hal yang perlu diketahui dalam perhitungan PPh badan tentu saja bagaimana
menghitung PPh Badan tersebut. Perhitungan dimulai dengan melakukan perhitungan
kembali persediaan, perhitungan kembali penyusutan aset tetap, penyusunan
rekonsilisasi fiskal termasul didalmnya mengurang biaya-biaya yang dpat
mengurangi penghasilan fiskal. Setelah dilakukan rekonslisasi fiskal, barulah bisa
dilakukan perhitungan Pajak Penghasilan Badan terutang dan dikenakan tarif sesuai
dengan ketentuan.
E. Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Santific Approach
2. Model : Student Team Achievenent Devision (STAD)
3. Metode : Diskusi, tanya jawab, penugasan, presentasi, kerja kelompok
F. Media Pembelajaran
1. LCD
2. Laptop
3. Powerpoint / Video Pembelajaran

G. Sumber Belajar
1. Internet
2. E- book
3. Buku teks (peserta didik)
4. Buku Perpajakan untuk SMK
5. Internet

H. Langkah-langkah Pembelajaran
Pertemuan I: 3 JP x 45 menit = 135 menit
Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pembukaan 1. Membuka pelajaran dengan mengucap salam
2. Menanyakan kesiapan dan kenyamaan belajar belajar
3. Memersilahkan untuk berdoa
4. Mengecek kehadiran peserta didik
5. Memberi motivasi agar peserta didik semangat
20 Menit
menjalani proses belajar mengajar.
6. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi
dasar yang akan dicapai; dan
7. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian
kegiatan sesuai silabus
Kegiatan Inti Mengamati

Peserta didik mengamati dan memahami hand out


mengenai obyek PPh Badan, serta pengertian dan jenis 100

persediaan untuk PPh Badan menit

Menanya
Peserta didik merumuskan pertanyaan untuk
mengidentifikasi masalah mengenai obyek PPh Badan,
serta pengertian dan jenis persediaan untuk PPh Badan

Mencari informasi

Peserta didik mengumpulkan data dan informasi tentang


obyek PPh Badan serta pengertian dan jenis persediaan
untuk PPh Badan

Menalar

1. Peserta didik membentuk kelompok 3-4 orang


2. Peserta didik mendiskusikan terkait dengan materi
obyek PPh Badan serta pengertian dan jenis
persediaan untuk PPh Badan
Mengkomunikasi

1. Perwakilan kelompok peserta didik


mengkomunikasikan ke depan kelas Diskusi mengenai
obyek PPh Badan, serta pengertian dan jenis
persediaan untuk PPh Badan
2. Perwakilan kelompok lainnya memberikan tanggapan
dan menyanggah atau menambahi, kemudian hasil
kerja dikumpulkan dalam bentuk tertulis dalam folio
bergaris.
Penutup 1. Peserta didik menyimpulkan materi yang telah
dipelajari hari ini.
2. Peserta didik mendengarkan guru mengingatkan untuk
mempelajari materi hari ini dirumah agar bisa
15 Menit
memahami materi selanjutnya
3. Perserta didik mendengarkan guru mengenai rencana
kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya
yaitu tata cara perhitungan persediaan PPh Badan
4. Peserta didik mendengarkan guru memberikan
motivasi serta mengingatkan peserta didik untuk
senantiasa menjaga kebersihan kelas
5. Guru Menutup kegiatan pembelajaran dengan salam
dan Do’a.
Pertemuan II: 3 x 45 menit = 135 menit

Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pembukaan 1. Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam dan
memersilahkan untuk berdoa;
2. Guru melakukan presensi kemudian menanyakan
kesiapan dan kenyamaan belajar belajar
3. Guru memersilahkan peserta didik untuk membaca
buku bacaan yang telah dibawa maupun yang telah
dipinjam dari perpustakaan atau sudut baca kelas
(kegiatan literasi)
4. Guru mempersilahkan peserta didik untuk mengecek
kebersihan kelas terlebih dahulu sebelum pelajaran
20 Menit
dimulai
5. Memberi motivasi dan semangat belajar dengan
pemberian ice breaking kepada peserta didik
6. Mereview pembelajaran pada pertemuan sebelumnya
mengenai obyek PPh Badan, serta pengertian dan jenis
persediaan untuk PPh Badan
7. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi
dasar yang akan dicapai; dan
8. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian
kegiatan sesuai silabus
Kegiatan Inti Guru mengondisikan kelas ke dalam keadaan kondusif
dan membagi peerta didik ke dalam kelompok belajar
yang terdiri dari 4 orang.

Mengamati

Peserta didik mengamati dan memahami hand out tentang 100


perhitungan kembali persediaan badan usaha yang
menit
selanjutnya dalat mengurangi atau menambah penghasilan
badan menurut Peraturan pajak PPh Badan.

Menanya

Peserta didik merumuskan pertanyaan untuk


mengidentifikasi masalah mengenai perhitungan kembali
persediaan badan usaha yang dapat mengurangi atau
menambah penghasilan badan menurut Peraturan pajak
PPh Badan serta jenis persediaannya.

Mencoba

Pesertra didik dengan dibimbing oleh guru mencari


informasi mengenai tata cara perhitungan kembali
persediaan barang dagang badan tersebut.

Menalar

Guru memberikan soal studi kasus tentang perhitungan


kembali persediaan dalam PPh badan. Peserta melakukan
penyelesaian atas studi kasus tersebut secara
berkelompok.

Menyaji

Peserta didik melaporkan hasil diskusi dengan


mempresentasikan di depan kelas dan dikumpulkan dalam
bentuk tertulis dalam folio bergaris.

Penutup 1. Peserta didik menyimpulkan materi yang telah


dipelajari hari ini.
2. Peserta didik mendengarkan guru mengingatkan
untuk mempelajari materi hari ini dirumah agar
bisa memahami materi selanjutnya
3. Perserta didik mendengarkan guru mengenai
rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan
15 Menit
berikutnya yaitu tata cara perhitungan persediaan
PPh Badan
4. Peserta didik mendengarkan guru memberikan
motivasi serta mengingatkan peserta didik untuk
senantiasa menjaga kebersihan kelas
5. Guru Menutup kegiatan pembelajaran dengan
salam dan Do’a.

Pertemuan III: 3 x 45 menit = 135 menit


Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pembukaan 1. Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam
dan memersilahkan untuk berdoa;
2. Guru melakukan presensi kemudian menanyakan
kesiapan dan kenyamaan belajar belajar
3. Guru memersilahkan peserta didik untuk membaca
buku bacaan yang telah dibawa maupun yang telah
dipinjam dari perpustakaan atau sudut baca kelas
(kegiatan literasi)
4. Guru mempersilahkan peserta didik untuk
mengecek kebersihan kelas terlebih dahulu
20 Menit
sebelum pelajaran dimulai
5. Memberi motivasi dan semangat belajar dengan
pemberian ice breaking kepada peserta didik
6. Mereview pembelajaran pada pertemuan
sebelumnya tata cara perhitungan persediaan PPh
Badan
7. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi
dasar yang akan dicapai; dan
8. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan
uraian kegiatan sesuai silabus
Kegiatan Inti Mengamati

Peserta didik mengamati dan memahami handout tentang


materi PPh badan terutang mengenai definisi dan tata cara
perhitungan penyusutan untuk PPh badan

Menanya 100
menit
Peserta didik merumuskan mengenai definisi dan tata cara
penyusutan untuk PPh badan

Mencari Informasi

Peserta didik dengan dibimbing oleh guru mencari


informasi mengenai persediaan definisi dan tata cara
penyusutan PPh badan untuk memperdalam materi PPh
Badan Terutang mengenai definisi dan tata cara
perhitungan penyusutan menggunakan metode garis lurus
dan metode saldo menurun untuk PPh badan

Menalar

1. Peserta didik membentuk kelompok diskusi yang


terdiri dari 3-4 orang
2. Peserta didik mendiskusikan sebuah soal studi kasus,
peserta didik diminta untuk dapat menganalisis soal
tersebut dan mampu menyelesaikannya secara
berkelompok.
Mengkomunikasi

Peserta didik melaporkan hasil diskusi dengan


mempresentasikan di depan kelas dan dikumpulkan dalam
bentuk tertulis dalam folio bergaris.

Penutup 1. Peserta didik menyimpulkan materi yang telah


dipelajari hari ini.
2. Peserta didik mendengarkan guru mengingatkan
untuk mempelajari materi hari ini dirumah agar
bisa memahami materi selanjutnya
3. Perserta didik mendengarkan guru mengenai
rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan
15 Menit
berikutnya yaitu tata cara perhitungan persediaan
PPh Badan
4. Peserta didik mendengarkan guru memberikan
motivasi serta mengingatkan peserta didik untuk
senantiasa menjaga kebersihan kelas
5. Guru Menutup kegiatan pembelajaran dengan
salam dan Do’a.
Pertemuan IV: 3 x 45 menit = 135 menit
Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pembukaan 1. Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam
dan memersilahkan untuk berdoa;
2. Guru melakukan presensi kemudian menanyakan
kesiapan dan kenyamaan belajar belajar
3. Guru memersilahkan peserta didik untuk membaca
buku bacaan yang telah dibawa maupun yang telah
dipinjam dari perpustakaan atau sudut baca kelas
(kegiatan literasi)
4. Guru mempersilahkan peserta didik untuk mengecek
kebersihan kelas terlebih dahulu sebelum pelajaran
20 Menit
dimulai
5. Memberi motivasi dan semangat belajar dengan
pemberian ice breaking kepada peserta didik
6. Mereview pembelajaran pada pertemuan sebelumnya
mengenai definisi dan tata cara perhitungan
penyusutan PPh Badan
7. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi
dasar yang akan dicapai; dan
8. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan
uraian kegiatan sesuai silabus
Kegiatan Inti Guru mengondisikan kelas ke dalam keadaan kondusif
dan membagi peserta didik ke dalam kelompok belajar
yang terdiri dari 3-4 orang.
Mengamati
Peserta didik mengamati video yang ditampilkan oleh 100
guru tentang rekonsiliasi fiskal dan biaya-biaya pengurang menit
penghasilan dalam PPh Badan
Menanya
Tiap kelompok peserta didik merumuskan pertanyaan
untuk mengidentifikasi masalah mengenai rekonsiliasi
fiskal dan biaya-biaya pengurang penghasilan dalam PPh
Badan dari video yang telah diamati
Mencari informasi
Peserta didik dengan dibimbing oleh guru mencari
informasi mengenai rekonsiliasi fiskal dan biaya-biaya
pengurang penghasilan dalam PPh Badan
Menalar

Peserta didik mendiskusikan sebuah soal studi kasus,


peserta didik diminta untuk dapat menganalisis soal
tersebut dan mampu menyelesaikannya secara
berkelompok.

Mengkomunikasi
Kelompok diskusi menyimpulkan informasi tentang
rekonsiliasi fiskal dan biaya-biaya pengurang penghasilan
dalam PPh Badan dan dikumpulkan secara tertulis dalam
bentuk rangkuman dalam folio bergaris.
Penutup 1. Peserta didik menyimpulkan materi yang telah
dipelajari hari ini.
2. Peserta didik mendengarkan guru mengingatkan
untuk mempelajari materi hari ini dirumah agar
bisa memahami materi selanjutnya
3. Perserta didik mendengarkan guru mengenai
rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan
15 Menit
berikutnya yaitu tata cara perhitungan persediaan
PPh Badan
4. Peserta didik mendengarkan guru memberikan
motivasi serta mengingatkan peserta didik untuk
senantiasa menjaga kebersihan kelas
5. Guru Menutup kegiatan pembelajaran dengan
salam dan Do’a.
Pertemuan V: 3 x 45 menit = 135 menit
Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pembukaan 1. Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam
dan memersilahkan untuk berdoa;
2. Guru melakukan presensi kemudian menanyakan
kesiapan dan kenyamaan belajar belajar
3. Guru memersilahkan peserta didik untuk membaca
buku bacaan yang telah dibawa maupun yang telah
dipinjam dari perpustakaan atau sudut baca kelas
(kegiatan literasi)
4. Memberi motivasi belajar peserta didik secara
20 Menit
kontekstual bagaimana untuk menghitung pajak.
5. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait
perhitungan kembali mengenai rekonsiliasi fiskal dan
biaya-biaya pengurang penghasilan dalam PPh Badan
yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya
6. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi
dasar yang akan dicapai; dan
7. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian
kegiatan sesuai silabus
Kegiatan Inti Mengamati
Peserta didik mengamati dan memahami hand out
mengenai tarif dan tata cara perhitungan PPh Badan
Menanya

Peserta didik merumuskan pertanyaan untuk


mengidentifikasi masalah mengenai tarif dan tata cara 100

perhitungan PPh Badan menit

Mencari informasi

Peserta didik mengumpulkan data dan informasi tentang


tarif dan tata cara perhitungan PPh Badan
Menalar
1. Peserta didik membentuk kelompok 3-4 orang
2. Peserta didik mendiskusikan soal post test mengenai
tarif dan tata cara perhitungan PPh Badan
Mengkomunikasi

1. Perwakilan kelompok peserta didik


mengkomunikasikan ke depan kelas hasil jawaban
soal post tes yang telah didiskusikan mengenai tarif
dan tata cara perhitungan PPh Badan
2. Perwakilan kelompok lainnya memberikan
tanggapan dan menyanggah atau menambahi,
kemudian hasil kerja dikumpulkan dalam bentuk
tertulis dalam folio bergaris.
Penutup 1. Peserta didik menyimpulkan materi yang telah
dipelajari hari ini.
2. Peserta didik mendengarkan guru mengingatkan
untuk mempelajari materi hari ini dirumah agar
bisa memahami materi selanjutnya
3. Perserta didik mendengarkan guru mengenai
rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan
15 Menit
berikutnya yaitu tata cara perhitungan persediaan
PPh Badan
4. Peserta didik mendengarkan guru memberikan
motivasi serta mengingatkan peserta didik untuk
senantiasa menjaga kebersihan kelas
5. Guru Menutup kegiatan pembelajaran dengan
salam dan Do’a.

I. Penilaian Proses dan Hasil belajar


1. Penilaian Pembelajaran
a. Penilaian diskusi
b. Penilaian pengetahuan
Teknik tes : Tes tulis dan penugasan
Bentuk : Essay/Uraian
Instrumen : Terlampir
Rubrik Penilaian : Terlampir
c. Penilaian Keterampilan
Teknik tes : Penilaian kinerja
Bentuk : Mengerjakan studi kasus perhitungan PPh Badan Terutang
Instrumen : Terlampir
Rubrik Penilaian : Terlampir
2. Pembelajaran remidial dan pengayaan
a. Remidial
Dapat diberikan pendampingan personal/bimbingan individu bagi peserta didik
yang dirasa belum mampu untuk memahami materi ini.
b. Pengayaan
Secara individu peserta didik diminta untuk mengerjakan soal pengayaan yang
telah disiapkan oleh guru

Surabaya, 2018

Mengetahui,

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Sekolah Menengah Kejuruan

NAMA LENGKAP NAMA LENGKAP


NIP. NIP
Lampiran 1: Bahan Ajar

Pertemuan 1

Obyek PPh Badan

Pasal 4 ayat (1) Undang-undang Pajak Penghasilan menyatakan bahwa yang menjadi
objek pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima
atau diperoleh wajib pajak, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia dengan nama dan dalam bentuk apapun.

Jadi Objek Pajak PPh adalah Penghasilan. Undang-Undang ini menganut prinsip
pemajakan atas penghasilan dalam pengertian yang luas, yaitu bahwa pajak dikenakan atas
setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dari
manapun asalnya yang dapat dipergunakan untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib
Pajak tersebut. Semua jenis penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu tahun
pajak digabungkan untuk mendapatkan dasar pengenaan pajak. Dengan demikian, apabila
dalam satu tahun pajak suatu usaha atau kegiatan menderita kerugian, maka kerugian
tersebut dikompensasikan dengan penghasilan lainnya (kompensasi horisontal) kecuali
kerugian yang diderita di luar negeri. Namun demikian, apabila suatu jenis penghasilan
dikenai pajak dengan tarif yang bersifat final atau dikecualikan dari objek pajak, maka
penghasilan tersebut tidak boleh digabungkan dengan penghasilan lain yang dikenai tarif
umum.

Ditinjau dari dari jenis subjeknya pada dasarnya jenis penghasilan untuk wajib pajak
badan dapat digolongkan menjadi tiga yaitu penghasilan yang diterima Subjek Pajak Badan
Dalam Negeri, Subjek Pajak Badan Luar Negeri melalui BUT dan Subjek Pajak Luar Negeri
non BUT seperti terlihat pada tabel berikut ini:

Dasar
Subjek Pajak Jenis Penghasilan Hukum

Subjek Pajak Badan Objek Pajak Badan dalam negeri adalah Pasal 4 UU PPh
Dalam Negeri semua penghasilan yang diterima atau
diperoleh Badan tersebut dengan prinsip WWI
(World Wide Income), yang diterima baik dari
dalam maupun luar negeri.

Subjek Pajak Badan - penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk Pasal 5 UU PPh
Luar Negeri (BUT) usaha tetap tersebut dan dari harta yang
dimiliki atau dikuasai.
- penghasilan kantor pusat dari usaha atau
kegiatan, penjualan barang, atau pemberian
jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang
dijalankan atau yang dilakukan oleh bentuk
usaha tetap di Indonesia.
- penghasilan sebagaimana tersebut dalam
Pasal 26 yang diterima atau diperoleh
kantor pusat, sepanjang terdapat hubungan
efektif antara bentuk usaha tetap dengan
harta atau kegiatan yang memberikan
peng-hasilan dimaksud.
Subjek Pajak Badan Penghasilan WP Badan Luar Negeri bukan Pasal 26 UU PPh
BUT adalah penghasilan-penghasilan yang
Luar Negeri (Non BUT)
diterima atau diperoleh badan luar negeri yang
bukan berasal dari usaha/kegiatan di
Indonesia tetapi berupa penghasilan modal
(passive income). Contohnya: adalah
penghasilan deviden, bunga, royalti, sewa,
hadiah, maupun capital gain.

Ditinjau dari sifat pengenaan pajaknya, penghasilan yang merupakan Objek PPh Badan dapat
diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu :

- Penghasilan yang merupakan Objek PPh yang tidak bersifat Final (Pasal 4 ayat 1 UU
PPh)

- Penghasilan yang merupakan Objek PPh yang bersifat Final (Pasal 4 ayat 2 UU PPh)
- Penghasilan yang bukan merupakan Objek PPh (Pasal 4 ayat 3 UU PPh)

Pengertian dan Jenis Persediaan

Dasar hukum : Pasal 10 ayat (6)

Persediaan dan pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok dinilai


berdasarkan harga perolehan yang dilakukan secara rata-rata (Average) atau dengan cara
mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama (FIFO).

Pada umumnya terdapat 3 (tiga) golongan persediaan barang, yaitu barang jadi atau
barang dagangan, barang dalam proses produksi, bahan baku dan bahan pembantu.
Ketentuan pada ayat ini mengatur bahwa penilaian persediaan barang hanya boleh
menggunakan harga perolehan. Penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga
pokok hanya boleh dilakukan dengan cara rata-rata atau dengan cara mendahulukan
persediaan yang didapat pertama (first in first out atau disingkat FIFO). Metode yang lain
seperti LIFO (Last In First Out) tidak diperkenankan. Sesuai dengan kelaziman, cara
penilaian tersebut juga diberlakukan tehadap sekuritas. Sekali Wajib Pajak memilih salah
satu cara penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok tersebut, maka
untuk tahun-tahun selanjutnya harus digunakan cara yang sama.

Pertemuan II

Tata Cara Perhitungan Persediaan

Contoh :

1. Persediaan 100 satuan @ Rp 9.00

2. Pembelian 100 satuan @ Rp 12.00

3. Pembelian 100 satuan @ Rp 11.25

100
4. Penjualan/dipakai satuan

100
5. Penjualan/dipakai satuan

Penggunaan harga pokok penjualan dan nilai persediaan dengan menggunakan cara rata–rata.
Misalnya sebagai berikut :

No Didapat Dipakai Sisa/persediaan,

100 st@ Rp 9.00 =


1. ---- ---- Rp 900

100 st @ Rp 12.00= Rp
2. 1.200 ---- 200 st@ Rp10.50 = Rp 2.100

100 st @ Rp 11.25=Rp
3. 1.125 ---- 300st@ Rp10.75 = Rp 3.225

100 st @ Rp
4. ----- 10.75 200 st@ Rp 10.75= Rp 2.150

= Rp 1.075

100 st @ Rp
5. ----- 10.75 100 st@ Rp10.75= Rp 1.075

= Rp 1.075

Penghitungan harga pokok penjualan dan nilai persediaan dengan menggunakan cara FIFO.

Misalnya sebagai berikut :

No. Didapat

Dipakai Sisa /Persediaan

100 st @ Rp
1. --- ----- 9 =Rp 900.-
100 st@ Rp 12.00 = 100 st @ Rp
2. Rp1.200 ----- 9 = Rp 900.-

100 st @
Rp12 =Rp1.200.

100 st@ Rp 11.25 = 100 st @ Rp


3. Rp1.125 ----- 9 =Rp 900.-

100 st @
Rp12 =Rp1.200.-

100 st @ Rp11.25
=Rp1.125.-

100 st @ Rp 9.00 = Rp 100 st @ Rp


4. ---- 900.- 12 =Rp 1.200.-

100 st @Rp12.00 = 100 st @ Rp11.25


Rp =Rp1.125.-

100 st @ Rp11.25
5. ---- 1.200.- =Rp1.125.-

Contoh Lain:

Misal hasil stock opname sebuah perusahaan ditemukan nilai persediaan akhir lebih
tinggi Rp 50.000.000,00 dari nilai yang dilaporkan dalam laporan rugi-laba.

Analisis :

Stock opname merupakan cara penghitungan persediaan akhir secara fisik atau secara
langsung. Nilai persediaan akhir ini berpengaruh pada nilai harga pokok penjualan. Jika hasil
stock opname ditemukan nilai persediaan akhir lebih tinggi Rp 50.000.000,00 dari nilai yang
dilaporkan dalam laporan rugi-laba, maka nilai persediaan akhir tersebut perlu dikoreksi agar
sesuai dengan nilai persediaan akhir sesungguhnya. Akibatnya harga pokok penjualan juga
perlu dikoreksi, jika nilai perse-diaan akhir naik sebesar Rp 50.000.000,00, maka harga
pokok penjualan-nya akan turun Rp 50.000.000,00. Turunnya harga pokok penjualan ini
berakibat naiknya laba kotor atau laba kena pajak, maka koreksi sebesar Rp 50.000.000,00 ini
disebut koreksi fiskal positif.

Pertemuan III

Pengertian dan Tata Cara Perhitungan Penyusutan PPh Badan

Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih
dari 1 (satu) tahun harus dibebankan sebagai biaya untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan dengan cara mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa
manfaat harta tersebut melalui penyusutan. Dalam konsep ini, menurut ketentuan perpajakan
atas pembelian harta berwujud yang masa manfaat lebih dari satu tahun tidak dapat
dibebankan sekaligus. Jika perusahaan membebankan pembelian harta berwujud tersebut di
laporan rugi laba maka akan dilakukan koreksi fiscal dalam menghitung pajak penghasilan
badan.

Contoh :

Pada tanggal 3 Januari 2014, PT. ABC (Pengusaha Kena Pajak) membeli sepeda motor untuk
kegiatan usaha seharga Rp. 13.200.000,- (termasuk PPN). Pada tanggal 3 Januari 2014,
melakukan jurnal sebagai berikut :

(Dr) Biaya Pembelian 12.000.000

(Dr) PPN Masukan 1.200.000

(Cr) Bank 13.200.000

Menurut ketentuan perpajakan, Sepeda Motor termasuk kelompok I dengan masa


manfaat 4 tahun. JIka perusahaan menggunakan metode penyusutan dengan garis lurus 25 %
maka per tahun adalah Rp. 3.000.000,-

Maka pada tahun 2014,

Biaya pembelian per komersial 12.000.000

Biaya penyusutan per fiskal 3.000.000

Koreksi Fiskal Positif 9.000.000


Metode Penyusutan Dan Amortisasi

Metode penyusutan yang dibolehkan berdasarkan UU Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 11


(1)) adalah :

a) Metode garis lurus (straight-line method) yaitu metode yang digunakan untuk menghitung
penyusutan yang dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat
yang ditetapkan bagi harta tersebut. Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian,
pendirian, penambahan, perbaikan atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah yang
berstatus hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki
dan digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang
mempunyai masa manfaat lebih dari satu (1) tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang
sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tersebut.
b) Metode saldo menurun (declining-balance method) yaitu metode yang digunakan untuk
menghitung penyusutan dalam bagian-bagian yang menurun dengan cara menerapkan
tarif penyusutan atas nilai sisa buku dan nilai sisa buku pada akhir masa manfaat harus
disusutkan sekaligus. Metode ini tidak dapat digunakan untuk menghitung penyusutan
atas bangunan.

Waktu Penyusutan Dimulai

Penyusutan aktiva dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran kecuali untuk harta
yang masih dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada bulan selesainya
pengerjaan harta tesebut. Penyusutan pada tahun pertama dihitung secara pro-rata.

Dengan persetujuan Dirjen Pajak, wajib pajak dapat melakukan penyusutan mulai
pada bulan digunakannya harta tersebut untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan atau pada bulan harta tersebut mulai menghasilkan.

Contoh 1 :

Pengeluaran untuk pembangunan sebuah gedung adalah sebesar Rp1.000.000.000,00


(satu miliar rupiah). Pembangunan dimulai pada bulan Oktober 2009 dan selesai untuk
digunakan pada bulan Maret 2010. Penyusutan atas harga perolehan bangunan gedung
tersebut dimulai pada bulan Maret tahun pajak 2010.
Contoh 2 :

Sebuah mesin yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Juli 2009 dengan harga
perolehan sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Masa manfaat dari mesin tersebut
adalah 4 (empat) tahun. Kalau tarif penyusutan misalnya ditetapkan 50% (lima puluh persen),
maka penghitungan penyusutannya adalah sebagai berikut.

Harta Yang tidak boleh disusutkan Menurut Ketentuan Fiskal

1. Harta yang tidak digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara


penghasilan tidak boleh disusutkan secara fiskal. Misalnya; kendaraan perusahaan
yang dikuasai dan dibawa pulang oleh karyawan, rumah dinas karyawan yang tidak
terletak di daerah terpencil.
2. Dalam hal harta yang tidak boleh disusutkan secara fiskal tersebut dijual (dialihkan),
keuntungannya merupakan obyek PPh, yang dihitung dari selisih antara harga jual
(nilai pasar) dengan harga perolehan. Dalam hal selisihnya negatif (rugi), kerugian
tersebut tidak dapat dikurangkan sebagai biaya.
Masa manfaat dan tarif penyusutan harta berwujud

Yang dimaksud dengan bangunan tidak permanen adalah bangunan yang bersifat
sementara dan terbuat dari bahan yang tidak tahan lama atau bangunan yang dapat dipindah-
pindahkan, yang masa manfaatnya tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun. Misalnya barak atau
asrama yang terbuat dari kayu untuk karyawan.

- Contoh penggunaan metode garis lurus:


Sebuah gedung yang harga perolehannya Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan
masa manfaatnya 20 (dua puluh) tahun, penyusutannya setiap tahun adalah sebesar
Rp50.000.000,00 (Rp1.000.000.000,00 x 5%).

- Contoh penggunaan metode saldo menurun:


Sebuah mesin yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Januari 2009 dengan harga
perolehan sebesar Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). Masa manfaat dari
mesin tersebut adalah 4 (empat) tahun. Tarif penyusutan ditetapkan 50% (lima puluh persen),
penghitungan penyusutannya adalah sebagai berikut:

Pertemuan IV

Rekonsiliasi Fiskal

Seperti telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, untuk menghitung Pajak


Penghasilan Terutang untuk Wajib Pajak Badan kita harus mengetahui jumlah Penghasilan
Neto Fiskal dalam satu tahun pajak dimana penghasilan neto fiiskal ini setelah dikurangi
kompensasi kerugian tahun sebelumnya akan disebut sebagai Penghasilan Kena Pajak. PPh
terutang dihitung dengan mengalikan Penghasilan Kena Pajak dengan Tarif Pajak.

Penghasilan Neto diperoleh dari Laporan Keuangan yang dihasilkan dari proses
pembukuan yang dihasilkan wajib pajak berdasarkan standar akuntansi yang berlaku yang
disebut laporan keuangan komersial. Pajak tidak mengatur secara khusus mengenai cara atau
alur dalam menyusun laporan keuangan. Oleh karena itu, wajib pajak dapat mengikuti alur
penyusunan laporan keuangan yang terdapat dalam akuntansi komersial. Secara umum,
laporan keuangan dimulai dari pencatatan dokumen-dokumen dasar yang terjadi dalam
sebuah transaksi ke dalam buku harian. Kemudian, jurnal harian tersebut dimasukkan
(posting) ke dalam buku besar. Pada akhir periode, dari buku besar disusun neraca saldo
sebelum penyesuaian. Dengan penyesuaian terhadap keadaan yang sebenarnya terjadi pada
akhir tahun dan catatan penutup (closing entries) disusunlah neraca saldo setelah
penyesuaian. Dari neraca saldo setelah penyesuaian tersebut diperoleh sebuah laporan
keuangan komersial.

Karena terdapat beberapa perbedaan antara komersial dan pajak maka untuk
kepentingan pajak, laporan keuangan komersial disesuaikan dengan ketentuan pajak yang
lebih dikenal dengan sebutan rekonsiliasi fiskal. Rekonsiliasi Fiskal adalah mekanisme
penyesuaian pelaporan penghasilan WP secara komersial menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan yang akhirnya dihasilkan laba/rugi fiskal.

Koreksi fiskal bertujuan untuk menyesuaikan laba komersial (yaitu laba yang dihitung
menurut Prinsip Akuntansi Berlaku Umum) dengan ketentuan-ketentuan perpajakan
sehingga diperoleh laba fiskal. Laporan Perhi-tungan Laba-Rugi yang dibuat perusahaan
merupakan laporan keuangan yang disusun berdasarkan Prinsip Akuntansi Berlaku Umum.
Oleh karena itu agar dapat menghitung besarnya pajak penghasilan yang terutang,
perusahaan harus melakukan penyesuaian laporan perhitungan rugi-la-banya tersebut agar
sesuai dengan ketentuan dan peraturan undang-undang perpajakan. Langkah penyesuaian ini
dilakukan dengan cara mencari pos-pos rekening yang berbeda perlakuan antara prinsip
akun-tansi berlaku umum dengan ketentuan peraturan undang-undang perpa-jakan. Pos-pos
rekening ini yang perlu dilakukan koreksi fiskal.

Timbulnya Koreksi Fiskal

Hal-hal yang menimbulkan perbedaan antara Prinsip Akuntansi Berlaku Umum


dengan UU Perpajakan antara lain :

a. Perbedaan Konsep Penghasilan Contoh:


(1) Deviden yang diterima oleh PT, Yayasan, Koperasi, BUMN/BUMD,
(2) Sisa Cadangan Kerugian Piutang bagi Bank, Leasing dan Asuransi
b. Perbedaan Cara Pengukuran Penghasilan Contoh :
Penjualan diukur sebesar jumlah yang dibebankan kepada pembeli tidak melihat apakah
ada hubungan istimewa atau tidak.

c. Perbedaan Konsep Biaya


Pengeluaran yang dapat dibebankan sebagai biaya adalah semua pengorbanan ekonomis
dalam rangka memperoleh barang dan jasa. Tidak terbatas hanya biaya untuk
mendapatakan, menagih dan memelihara penghasilan saja. Singkatnya, biaya menurut
pajak adalah pengeluaran-pengeluaran yang ada kaitan langsung dengan perolehan
penghasilan

d. Perbedaan Cara Pengukuran Biaya


Sama dengan cara pengukuran penghasilan, jika ada transaksi yang tidak wajar karena
hubungan istimewa maka transaksi tersebut harus dikoreksi.

e. Perbedaan Cara Pembebanan atau Alokasi Biaya Contoh :


(1) Penyusutan, hanya metode Garis Lurus dan Saldo Menurun dengan tarif yang telah
ditentukan.
(2) Pengakuan Kerugian Piutang hanya menggunakan metode langsung
(3) Penilaian Persediaan hanya menggunakan metode rata-rata dan FIFO

Pokok-pokok yang direkonsiliasi tidak terbatas pada penghasilan saja tetapi juga
biaya pada suatu periode tertentu. Akibat diadakannya rekonsiliasi inilah memunculkan
koreksi atau penyesuaian fiskal baik positif maupun negatif.

Skema Rekonsiliasi Fiskal

Penyesuaian Fiskal Positif

Penyesuaian fiskal positif adalah penyesuaian terhadap penghasilan netto komersial


(diluar unsur penghasilan yang dikenai PPh final dan yang tidak termasuk Objek Pajak)
dalam rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak berdasarkan Undang-undang Pajak
Penghasilan beserta peraturan pelaksanaannya yang bersifat menambah penghasilan dan/atau
mengurangi biaya-biaya komersial.

Penyesuaian fiskal positif timbul karena adanya :

a. Adanya biaya, pengeluaran, dan kerugian yang tidak dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto berdasarkan ketentuan Undang-undang Pajak Penghasilan. Biaya yang tidak dapat
dikurangkan ini telah dibahas dalam bab 5.
b. Adanya perbedaan saat pengakuan biaya dan penghasilan atau karena penghitungan
biaya menurut metode fiskal lebih rendah dari penghitungan menurut metode akuntansi
komersial.
c. Adanya penghasilan yang merupakan objek pajak yang tidak termasuk dalam
penghasilan komersial
Penyesuaian Fiskal Negatif

Penyesuaian fiskal negatif adalah penyesuaian terhadap penghasilan netto komersial


(di luar unsur penghasilan yang dikenai PPh final dan yang tidak termasuk Objek Pajak)
dalam rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak berdasarkan Undang-undang Pajak
Penghasilan beserta peraturan pelaksanaannya yang bersifat mengurangi penghasilan
dan/atau menambah biaya-biaya komersial.

Biaya yang Boleh Dikurangkan (Deductable Expenses)

PPh yang terutang terhadap subjek pajak Badan dikenakan atas Penghasilan Neto
yang nanti akan disebut sebagai Penghasilan Kena Pajak setelah dikurangi dengan
kompensasi kerugian tahun sebelumnya kalau ada. Untuk menghitung penghasilan neto,
Wajib Pajak Badan tidak diperkenankan menggunakan norma penghitungan seperti halnya
Orang Pribadi. Oleh karena itu, Wajib Pajak Badan wajib melakukan pembukuan.

Penghitungan PPh terutang diatur dalam Pasal 16 UU PPh. Penghasilan Kena Pajak
bagi Wajib Pajak dalam satu tahun pajak dihitung dengan cara mengurangkan penghasilan
dengan biaya yang berkaitan dengan mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan
yang merupakan objek pajak. Pengurangan tersebut akan menghasilkan penghasilan neto.

Rumus untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak seperti diuraikan pada bagan
konsep diawal pembahasan buku ini adalah :
Rumus :

Penghasilan Bruto xxx

Pengurang Ph Bruto (xxx )

Penghasilan Netto xxx

Kompensasi Rugi (xxx)

Pengh. Kena Pajak xxx

Biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto diatur dalam pasal Pasal 6 ayat
(1) UU Pajak Penghasilan dan beberapa aturan khusus yang mempertegas pasal 6 ayat (1)
tersebut. Biaya yang tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto diatur dalam pasl 9 UU
PPh.

Pertemuan V

Tarif dan Tata Cara Perhitungan PPh Badan

1. Pasal 17 ayat 1 huruf b


Pada dasarnya tarif PPh Badan menganut tarif tunggal yaitu sebesar 28%. Tarif ini
berlaku pada tahun 2009 kemudian diturunkan menjadi 25% pada tahun 2010. Tarif PPh
Badan sebesar 25% efektif berlaku untuk tahun 2010 dan seterusnya. Tarif ini diterapkan
kepada Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap.

Contoh penghitungan:

Jumlah Peredaran Bruto Tahun 2015 Rp 54.000.000.000,-

Jumlah Penghasilan Kena Pajak Tahun 2015 Rp 4.000.000.000,-

PPh Badan Terutang = 25% x Rp 4.000.000.000,- = Rp Rp 1.000.000.000,-

2. Pasal 17 ayat 2b
Tarif ini diterapkan pada wajib pajak badan dalam negeri yang berbentuk perseroan
terbuka yang memperoleh pengurangan tarif sebesar 5% lebih rendah dari tarif normal.
Untuk mendapatkan fasilitas pengurangan tarif ini Wajib Pajak harus memenuhi syarat
sebagai berikut:

a. paling sedikit 40% (empat puluh persen) dari jumlah keseluruhan saham yang disetor
dicatat untuk diperdagangkan di bursa efek di Indonesia
b. Saham sebagaimana dimaksud point a harus dimiliki oleh paling sedikit oleh 300 (tiga
ratus) Pihak.
c. Masing-masing Pihak sebagaimana dimaksud dalam point b hanya boleh memiliki
saham kurang dari 5% (lima persen) dari keseluruhan saham yang ditempatkan dan
disetor penuh
d. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c harus dipenuhi
dalam waktu paling singkat 183 (seratus delapan puluh tiga) hari kalender dalam
jangka waktu 1 (satu) Tahun Pajak.
Contoh penghitungan:

Pada tahun 2015 saham PT. Y Tbk. yang disetor dicatat untuk diperdagangkan
dibursa efek di Indonesia sebesar 60%. Saham yang disetor dicatat untuk diperdagangkan
dibursa efek di Indonesia tersebut dimiliki oleh 400 pihak. Diantara 400 pihak, Masing-
masing pihak persentase kepemilikannya tidak melebihi 5%, Kondisi tersebut terjadi selama
190 (seratus delapan puluh dua) hari dalam 1 (satu) tahun pajak.

PT. Y Tbk memenuhi syarat, sehingga PT. Y Tbk memperoleh fasilitas penurunan tarif.

Jumlah PKP dalam tahun pajak 2015 Rp 1, 25 Miliar

PPh yang terutang = (25% - 5%) x Rp1,25 Miliar = Rp 250 Juta

3. Tarif PPh Wajib Pajak Tertentu


Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan
Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif
sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1)
huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran
bruto sampai dengan Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).

Ketentuan-ketentuan Pasal 31 E UU No. 36 tahun 2008 sebagai berikut :


a. Fasilitas pengurangan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) Undang-
Undang Pajak Penghasilan dilaksanakan dengan cara self assessment pada saat
penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan,
sehingga Wajib Pajak badan dalam negeri tidak perlu menyampaikan permohonan
untuk dapat memperoleh fasilitas tersebut.
b. Bentuk usaha tetap merupakan subjek pajak luar negeri, sehingga tidak mendapat
fasilitas berupa pengurangan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1)
Undang-Undang Pajak Penghasilan.
c. Batasan peredaran bruto sampai dengan Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar
rupiah) adalah sebagai batasan maksimal peredaran bruto yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak badan dalam negeri untuk dapat memperoleh fasilitas
pengurangan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) Undang-Undang
Pajak Penghasilan.
d. Peredaran bruto sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) Undang-
Undang Pajak Penghasilan merupakan semua penghasilan yang diterima dan/atau
diperoleh dari kegiatan usaha dan dari luar kegiatan usaha, setelah dikurangi dengan
retur dan pengurangan penjualan serta potongan tunai dalam Tahun Pajak yang
bersangkutan, sebelum dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia, meliputi:
1) penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan bersifat final;
2) penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan tidak bersifat final; dan
3) penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak.
e. Fasilitas pengurangan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) Undang-
Undang Pajak Penghasilan tersebut bukan merupakan pilihan, sehingga bagi Wajib
Pajak badan dalam negeri yang memiliki akumulasi peredaran bruto sebagaimana
dimaksud pada huruf d di atas sampai dengan Rp50.000.000.000,00 (lima puluh
miliar rupiah), tarif Pajak Penghasilan yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak
bagi Wajib Pajak badan dalam negeri tersebut wajib mengikuti ketentuan
pengurangan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) Undang-Undang
Pajak Penghasilan.
f. Fasilitas pengurangan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) Undang-
Undang Pajak Penghasilan ini berlaku untuk penghitungan Pajak Penghasilan
Terutang atas Penghasilan Kena Pajak yang berasal dari penghasilan yang dikenai
Pajak Penghasilan tidak bersifat final.
g. Untuk menghitung besarnya angsuran PPh Pasal 25 tahun berjalan, Wajib Pajak
badan dalam negeri yang telah memenuhi persyaratan fasilitas pengurangan tarif
Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) Undang-Undang
Pajak Penghasilan wajib menggunakan tarif Pajak Penghasilan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Ketentuan Perhitungan Pasal 31E:

a. Peredaran bruto sampai dengan Rp 4.800.000.000,-

PPh terutang = 50% x 25% x Seluruh PKP

b. Peredaran bruto lebih dari Rp 4.800.000.000,- sampai dengan Rp 50.000.000.000,-


PPh terutang :

50%×20%×PKP dari Bagian 25%× PKP dari Bagian


Peredaran Bruto yang Peredaran Bruto yang Tidak
+
Memperoleh Fasilitas Memperoleh Fasilitas

PKP dari bagian bruto yang memperoleh fasilitas:

Rp 4,8 Miliar x PKP

Peredaran Bruto

PKP dari bagian bruto yang tidak memperoleh fasilitas :

Keseluruhan PKP – PKP yang memperoleh fasilitas

Contoh penghitungan 1 :

Total peredaran bruto PT A dalam Tahun Pajak 2015 sebesar Rp4.500.000.000,00


(empat miliar lima ratus juta rupiah). Rinciannya adalah sebagai berikut:
a) Peredaran bruto dari penghasilan yang:
1. Dikenai PPh bersifat final
berdasarkan PP Nomor 46 Tahun 2013 Rp2.500.000.000,00

2. Dikenai PPh bersifat final atas jasa konstruksi Rp1.500.000.000,00


3. Dikenai PPh tidak bersifat final Rp 500.000.000,00
Jumlah Rp4.500.000.000,00

b) Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang:


1. Dikenai PPh bersifat final
berdasarkan PP Nomor 46 Tahun 2013 (Rp2.300.000.000,00)

2. Dikenai PPh bersifat final atas jasa konstruksi (Rp1.300.000.000,00)


3. Dikenai PPh tidak bersifat final (Rp 400.000.000,00)
Jumlah (Rp4.000.000.000,00)

c) Jumlah penghasilan neto Rp 500.000.000,00

d) Koreksi fiskal :
1. Peredaran bruto dari penghasilan yang dikenai
PPh bersifat final berdasarkan PP Nomor 46 Tahun 2013 (Rp2.500.000.000,00)

2. Peredaran bruto dari penghasilan yang dikenai


PPh bersifat final atas jasa konstruksi (Rp1.500.000.000,00)

3. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara


penghasilan yang dikenai PPh bersifat final berdasarkan

PP Nomor 46 Tahun 2013 Rp2.300.000.000,00

4. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara


penghasilan dari penghasilan yang dikenai PPh

bersifat final atas jasa konstruksi Rp1.300.000.000,00


Jumlah (Rp 400.000.000,00)

e. Jumlah penghasilan neto setelah koreksi fiskal Rp 100.000.000,00


f. Kompensasi kerugian Rp 0,00
g. Penghasilan Kena Pajak Rp 100.000.000,00

Penghitungan Pajak Penghasilan terutang:

Seluruh Penghasilan Kena Pajak dikenai tarif sebesar 50% dari tarif Pajak
Penghasilan badan yang berlaku karena jumlah peredaran bruto PT A tidak melebihi Rp
4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).

Pajak Penghasilan yang terutang untuk Tahun Pajak 2015:

50% x 25% x Rp100.000.000,00 = Rp12.500.000.00

Contoh penghitungan 2 :

Total peredaran bruto PT B dalam Tahun Pajak 2015 sebesar Rp6.000.000.000,00 (enam
miliar rupiah).

Rinciannya adalah sebagai berikut:

a) Peredaran bruto dari penghasilan yang:


1. Dikenai PPh bersifat final berdasarkan
PP Nomor 46 Tahun 2013 Rp4.500.000.000,00

2. Dikenai PPh bersifat final atas jasa konstruksi Rp 500.000.000,00


3. Dikenai PPh tidak bersifat final Rp1.000.000.000,00
Jumlah Rp6.000.000.000,00

b) Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang:


1. Dikenai PPh bersifat final berdasarkan
PP Nomor 46 Tahun 2013 (Rp4.000.000.000,00)
2. Dikenai PPh bersifat final atas jasa konstruksi (Rp 200.000.000,00)
3. Dikenai PPh tidak bersifat final (Rp 800.000.000,00)
Jumlah (Rp5.000.000.000,00)

c) Jumlah penghasilan neto Rp1.000.000,000,00


d) Koreksi fiskal :
1. Peredaran bruto dari penghasilan yang dikenai
PPh bersifat final berdasarkan PP Nomor 46 Tahun 2013 (Rp4.500.000.000,00)

2. Peredaran bruto dari penghasilan yang dikenai


PPh bersifat final atas jasa konstruksi (Rp 500.000.000,00)

3. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara


penghasilan yang dikenai PPh bersifat final

berdasarkan PP Nomor 46 Tahun 2013 Rp4.000.000.000,00

4. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara


penghasilan dari penghasilan yang dikenai PPh bersifat

final atas jasa konstruksi Rp 200.000.000,00

Jumlah (Rp 800.000.000,00)

e) Jumlah penghasilan neto setelah koreksi fiskal Rp 200.000.000,00


f) Kompensasi kerugian Rp 0,00
g) Penghasilan Kena Pajak Rp 200.000.000,00

Penghitungan Pajak Penghasiian terutang:

a. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh
fasilitas:
Rp4.800.000.000,00 x Rp200.000.000,00 = Rp160.000.000,00

Rp6.000.000.000,00

b. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh
fasilitas:
Rp200.000.000,00 - Rp160.000.000 = Rp40.000.000,00
Pajak Penghasilan yang terutang untuk tahun 2015 :

1) 50% x 25% x Rp160.000.000,00 = Rp20.000.000,00


2) 25% x Rp40.000.000,00 = Rp10.000.000.00
Jumlah Pajak Penghasilan terutang = Rp30.000.000,00
Lampiran 2 : Media

A. Video Pembelajaran
Source from youtube
Dalam video pembelajaran ini berisi berisi materi sesuai dengan kompetensi dasar
yang di ujikan. Video ini sebagai media pengamatan bagi peserta didik untuk
memperoleh informasi mengenai jenis-jenis bank dan kantor bank. Video ini sebagai
salah satu media yang diharapkan dapat menarik perhatian peserta didik sehingga
dapat meningkatkan pemahaman peserta didik terkait materi yang dipelajari.
Lampiran 3. Lembar Penilaian Non Tes

FORMAT LEMBAR PENILAIAN DISKUSI (KELOMPOK)

Nama kelompok :

1.....................................
2.....................................
3.....................................
4.....................................
5.....................................

No Sikap/Aspek yang dinilai Nilai Nilai


Kualitatif Kuantitatif
Penilaian kelompok

1. Menyelesaikan tugas kelompok dengan baik

2 Kerjasama kelompok (komunikasi)

3 Hasil tugas (relevansi dengan bahan)

4 Pembagian Job

5 Sistematisasi Pelaksanaan

Jumlah Nilai Kelompok

Format Lembar Penilaian Diskusi (Individu Peserta Didik)


Nama Siswa :.........................................

No Sikap/Aspek yang dinilai Nilai Nilai


Kualitatif Kuantitatif
1. Berani mengemukakan pendapat

2. Berani menjawab pertanyaan

3. Inisiatif

4. Ketelitian

5. Jiwa kepemimpinan

6. Bermain peran

Jumlah Nilai Individu


Lembar Keaktifan Dalam Diskusi
Nilai Nilai
No Aspek yang dinilai
Kualitatif Kuantitatif

1. Bertanya (cara)

2. Menjawab pertanyaan

3. Kesesuaian dengan topik kajian

4. Cara menyampaikan pendapat

5. Antusiasme mengikuti pembelajaran

Kriteria Penilaian
Kriteria Indikator Nilai Kualitatif Nilai Kuantitatif

80 – 100 Memuaskan 4

70 – 79 Baik 3

60 – 69 Cukup 2

45 – 59 Kurang cukup 1
Lembar Penilaian Pengetahuan

TES TERTULIS

Nama Sekolah : SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

Kelas / Semester : XI / 2

Tahun Pelajaran :2017/2018

Paket Keahlian : Akuntansi dan Keuangan Lembaga

Mata Pelajaran : Administrasi Pajak

Penilaian : Post test

Kompetensi No Bentuk
No Materi Indikator Soal
Dasar Soal Soal
1. Menganalisis 1. Rekonsiliasi Fiskal Menjelaskan pengertian 1 Subyektif
data terkait 2. Jenis-jenis Rekonsiliasi Fiskal
PPh Badan rekonsiliasi fiskal Menjelaskan jenis-jenis 2 Subyektif
terutang 3. Perbedaan laporan rekonsiliasi fiskal
keuangan Menjelaskan Perbedaan 3 Subyektif
komersial dan laporan keuangan
laporan keuangan komersial dan laporan
fiskal keuangan fiskal
4. Hubungan laporan Menjelaskan Perbedaan 4 Subyektif
keuangan laporan keuangan
komersial dan komersial dan laporan
laporan keuangan keuangan fiskal
fiskal Menjelaskan Hubungan 5 Subyektif
5. Teknik penyusunan laporan keuangan
rekonsiliasi fiskal komersial dan laporan
keuangan fiskal
SOAL URAIAN

Nama Sekolah : SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


Kelas/Semester : XI / 2
Tahun Pelajaran : 2017/2018
Paket Keahlian : Akuntansi
Mata Pelajaran : Administrasi Perpajakan
Penilaian : Post Test
Jenis Soal : Subyektif
No Soal Penyelesaian Skor
1 Jelaskan yang dimaksud Laporan keuangan komersial adalah laporan yang 10
dengan laporan disusun dengan prinsip akuntansi bersifat netral atau
keuangan komersial dan tidak memihak. Laporan keuangan fiskal adalah
fiskal secara tepat dan laporan yang disusun khusus untuk kepentingan
jelas! perpajakan dengan mengindahkan semua peraturan
perpajakan.
2 Jelaskan jenis-jenis Jenis koreksi fiskal di sini merupakan jenis-jenis 10
rekonsiliasi (koreksi) perbedaan antara akuntansi komersial dengan
fiskal! ketentuan fiskal(UU Nomor 10 Tahun 1994,UU
Nomor 17 Tahun 2000),yaitu terdiri dari:
a. Koreksi Fiskal Positif yaitu koreksi fiskal
yang menyebabkan penambahan penghasilan
kena pajak dan PPh terutang.
b. Koreksi Fiskal Negatif yaitu koreksi yang
menyebabkan pengurangan penghasilan kena
pajak dan PPh terutang.
3 Sebutkan penyebab a. Perbedaan Konsep 10
perbedaan laporan b. Perbedaan Cara Pengukuran Penghasilan
keuangan komersial dan c. Perbedaan Konsep Biaya
laporan keuangan fiskal! d. Perbedaan Cara Pengukuran Biaya
e. Perbedaan Cara Pembebanan atau Alokasi
4 Jelaskan hubungan antara Laporan keuangan komersial dengan laporan 20
laporan keuangan keuangan fiskal memiliki peraturan atau prinsip
komersial dengan masing – masing dalam menentukan biaya. Jika
laporan keuangan fiskal! laporan keuangan komersial disusun berdasarkan
Standar Akuntansi Keuangan untuk memberikan
informasi mengenai kinerja perusahaan dalam jangka
waktu tertentu, maka laporan keuangan fiskal disusun
berdasarkan peraturan pajak yang digunakan untuk
menentukan besarnya pajak yang harus dibayar
perusahaan, sehingga terjadi perbedaan antara
laporan keuangan komersial dan laporan keuangan
fiskal.
5 Jelaskan teknik(format)  Jika suatu penghasilan diakui menurut 15
Rekonsiliasi fiskal! akuntansi komersial tetapi tidak diakui
menurut fiskal,rekonsiliasi dilakukan dengan
mengurangkan sejumlah penghasilan tersebut
dari penghasilan menurut akuntansi
komersial,yang berarti mengurangi laba
menurut akuntansi komersial,dan sebaliknya.
 Jika suatu biaya/pengeluaran diakui menurut
akuntansi tetapi tidak diakui sebagai
pengurang penghasilan bruto menurut
fiskal,rekonsiliasi dilakukan dengan
mengurangkan sejumlah biaya/pengeluaran
tersebut dari biaya menurut akuntansi
komersial,yang berarti menambah laba
menurut akuntansi dan sebaliknya.
6 Ditinjau dari sifat - Penghasilan yang merupakan Objek PPh yang 10
pengenaan pajaknya, tidak bersifat Final (Pasal 4 ayat 1 UU PPh)
penghasilan yang
- Penghasilan yang merupakan Objek PPh yang
merupakan Objek PPh
bersifat Final (Pasal 4 ayat 2 UU PPh)
Badan dapat
diklasifikasikan menjadi - Penghasilan yang bukan merupakan Objek PPh
3 jenis yaitu : (Pasal 4 ayat 3 UU PPh)
7 Bagaimana Fasilitas Pengurangan tarif sebagaimana dimaksud dalam 15
pengurangan tarif yang Pasal 31E ayat (1) Undang-Undang Pajak
dimaksud dalam Pasal Penghasilan.Undang-Undang Pajak Penghasilan
31E ayat (1) ? tersebut bukan merupakan pilihan, sehingga bagi
Wajib Pajak badan dalam negeri yang memiliki
akumulasi peredaran bruto sebagaimana dimaksud
pada huruf d di atas sampai dengan
Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah),
tarif Pajak Penghasilan yang diterapkan atas
Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak badan
dalam negeri tersebut wajib mengikuti ketentuan
pengurangan tarif.
8 Bagaimana etode a. Metode garis lurus (straight-line method) yaitu 10
penyusutan yang metode yang digunakan untuk menghitung
dibolehkan berdasarkan penyusutan yang dilakukan dalam bagian-
UU Nomor 36 Tahun bagian yang sama besar selama masa manfaat
2008 Pasal 11 (1)) ? yang ditetapkan bagi harta tersebut.
b. Metode saldo menurun (declining-balance
method) yaitu metode yang digunakan untuk
menghitung penyusutan dalam bagian-bagian
yang menurun dengan cara menerapkan tarif
penyusutan atas nilai sisa buku dan nilai sisa
buku pada akhir masa manfaat harus disusutkan
sekaligus.
100

Nilai = Jumlah jawaban benar x 100

100
Penilaian Keterampilan

KISI-KISI PENILAIAN KINERJA


Nama Sekolah : SEKOLAH MENEGAH KEJURUAN
Kelas/Semester : XI /2
Tahun Pelajaran : 2017/2018
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Kompetensi Dasar : Melakukan perhitungan PPh Badan terutang

Teknik
Kompetensi Dasar Materi Indikator
Penilaian

Melakukan Rekonsiliasi Fiskal Menyusun Rekonsiliasi Fiskal Kinerja


perhitungan PPh
Badan terutang

Tugas:

PT RAMBEJAJI meminta bantuan KAP (Kantor Akuntan Publik) untuk menyusun


rekonsiliasi fiskal berdasarkan data laporan keuangan tahun 2016 sebagai berikut:

Penjualan Rp 20.000.000.000

HPP (Rp 7.500.000.000)

Laba Bruto Rp 12.500.000.000

Biaya Operasional :

- Gaji Rp 550.000.000
- Tunjangan Transport Karyawan Rp 150.000.000
- Biaya Makan Kantor Rp 10.000.000
- Biaya Pengobatan Yang Ditanggung Perusahaan Rp 80.000.000
- Biaya Training Karyawan Rp 20.000.000
- Biaya Seragam Satpam Rp 10.000.000
- Biaya Pengangkutan Rp 10.000.000
- Biaya Bunga Pinjaman Rp 30.000.000
- Cadangan Penghapusan Piutang Rp 25.000.000
- Biaya Listrik dan Telepon Kantor Rp 5.000.000
- PBB dan Biaya Materai Rp 5.000.000
- Penyusutan Aset Tetap Rp 150.000.000
- Premi Asuransi Kebakaran Pabrik Rp 20.000.000
- Bantuan untuk Panitia HUT RI Rp 10.000.000
Total (Rp
1.075.000.000)

Laba Usaha
Rp11.425.000.000

Pendapatan Lain-Lain :

o Deviden dari PT JOSS Rp 246.500.000


o Keuntungan selisih kurs Rp 10.000.000
Total Pendapatan Lain-Lain Rp
256.000.000

Laba Usaha Sebelum PPh Rp


11.681.500.000

Keterangan Tambahan :

Jenis Aset Tahun Beli Harga Beli Nilai Sisa

Bangunan Permanen 05-07-04 Rp 750.000.000 Rp. 100.000.000

*Penyusutan fiskal menggunakan metode garis lurus

Diminta membuat rekonsiliasi fiskal untuk PT RAMBEJAJI !

KUNCI JAWABAN

PT RAMBEJAJI

Rekonsiliasi Fiskal Tahun 2016

(Dalam Ribuan Rupiah)


Menurut Koreksi Fiskal Menurut
No Keterangan Ket
Akuntansi Positif Negatif Perpajakan

* Penjualan 20.000.000 20.000.000

HPP (7.500.000) (7.500.000)

Laba Kotor 12.500.000 12.500.000

** Beban Operasi

Gaji 550.000 550.000

Tunjangan Transport 150.000 150.000

Biaya Makan Kantor 10.000 10.000 0

Biaya Pengobatan 80.000 80.000

Biaya Training 20.000 20.000

Biaya Seragam
Satpam 10.000 10.000

Biaya Pengangkutan 10.000 10.000

Biaya Bunga
Pinjaman 30.000 30.000

Cadangan ph Piutang 25.000 25.000 0

Biaya Listrik 5.000 5.000

PBB dan Materai 5.000 5.000

Penyusutan Aset
Tetap 150.000 75.000 75.000

Premi Asuransi 20.000 20.000

Sumbangan HUT RI 10.000 10.000 0


Total Beban
Operasional (1.075.000) (955.000)

Laba Bersih Usaha 11.425.000 11.545.000

*** Pendapatan Luar


Usaha

Deviden 246.500 43.500 290.000

Keuntungan Selisih
Kurs 10.000 10.000

Total Pendapatan Luar


Usaha 256.000 300.000

**** Laba Bersih


Sebelum Tax 11.681500 163.500 0 11.845.000
RUBRIK PENSKORAN KINERJA

Nama Sekolah : SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


Kelas/Semester : XI / 2
Tahun Pelajaran : 2017/2018
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Petunjuk : Berilah tanda (√) pada kolom skor

No Komponen/Sub Komponen Skor

1 2 3

1 Persiapan

2 Proses Kerja

3 Hasil

4 Sikap Kerja

5 Waktu

Penilaian Proses

Persiapan Proses Hasil Sikap Waktu Total

Skor Perolehan

Skor Maksimal

Bobot

Total

Keterangan:
 Bobot total wajib 100
 Cara perhitungan :
Nilai total = ∑ skor perolehan x bobot
Skor maksimal
Pembelajaran Remedial dan Pengayaan

PROGRAM PERBAIKAN DAN PENGAYAAN

Sekolah : SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Kompetensi Dasar : 3.8 Menganalisis data terkait PPh Badan terutang
4.8 Melakukan perhitungan PPh Badan terutang
Kelas/Semester : XI/ Genap
Tahun Pelajaran : 2017/2018

1. Program Perbaikan
1.1. Sasaran Perbaikan :Pembelajaran remedial dilakukan segera
setelah kegiatan penilaian, yaitu bagi peserta
didik yang belum mencapai KKM 75.
1.2. Bentuk perbaikan : Tes perbaikan

1.3. Jenis perbaikan : Individual

1.4. Kompetensi Dasar/Materi Pokok : 3.8 Menganalisis data terkait PPh Badan

terutang

4.8 Melakukan perhitungan PPh Badan


terutang

1.5. Proses perbaikan : Peserta didik diberikan kesempatan belajar


dibawah bimbingan teman dalam satu
kelompok tentang materi perhitungan PPh
Badan.

2. Program Pengayaan
2.1. Sasaran Pengayaan : Pembelajaran pengayaan dilakukan segera
setelah kegiatan penilaian, yaitu bagi peserta
didik yang sudah mencapai KKM 75.
Pembelajaran ini diberikan untuk perluasan
atau pendalaman materi atau kompetensi
peserta didik.
2.2. Bentuk Pengayaan : Pemberian materi tambahan

2.3. Jenis Pengayaan : Individual


PELAKSANAAN PERBAIKAN/PENGAYAAN

Mata Pelajaran : Administrasi Pajak


Kompetensi Dasar/Materi Pokok :3.8 Menganalisis data terkait PPh Badan terutang
4.8 Melakukan perhitungan PPh Badan terutang
Kelas : XI
Semester : Genap
Tanggal : ……………………………

PERBAIKAN
Nomor Nama Nilai Tanggal
Hasil Bentuk
Abs Peserta Sebelum Perbaika Keteranga
Urut didik Perbaikan Perbaikan Perbaikan n
en n

Dst....

PENGAYAAN
Nomor Nama Nilai Tanggal Hasil Bentuk

Abs Peserta Sebelum Pengaya Pengayaa Pengay Keteran


Urut didik Pengayaan gan
en an n aan

4 Dst...
Remidial

SOAL REMIDIAL

Nama Sekolah : Sekolah Menengah Kejuruan


Kelas/Semester : XI / 2
Tahun Pelajaran : 2017/2018
Paket Keahlian : Akuntansi
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Penilaian : Remidial
Jenis Soal : Pilihan Ganda
Soal

Pada tanggal 1 Januari tahun 2013 PT X melakukan penilaian kembali beberapa aktiva
perusahaannya. Posisi aktiva

perusahaan pada tanggal tersebut adalah sebagai berikut :

Selisih
Aktiva Tetap Nilai Buku Fiskal Nllai Pasar Lebih

Tanah 2.000 Juta 2.500 Juta 500 Juta

Bangunan 250 Juta 450 Juta 250 Juta

Mesin 1.000 Juta 8.000 Juta 7.000 Juta

3.200 Juta 10.950 Juta 7.750 Juta

Untuk tahun 2013 PT memperoleh laba sebesar Rp. 200 juta. Tahun-tahun sebelumnya PT X
mencatatkan kerugian sebagal berikut:

2008 rugi 3.000 juta

2009 rugi 250 juta

2010 rugi 200 juta

2011 rugi 2.000 juta


2002 rugi 100 juta

Pertanyaan: .

Berapakah PPh Final atas revaluasi aktiva tetap yang harus dibayar?

Kunci Jawaban:

Soal 1.

PT X tidak boleh mengkompensasikan laba tahun 2011 sebesar 200 juta dengan rugi-rugi
tahun sebelumnya. PPh Revaluasi aktiva tetap 10% x 7.750 juta = Rp 775 juta (Final)

Dalam kondisi tertentu (kondisi tidak memungkinkan membayar)wajib pajak dapat


mengajukan angsuran paling lama 12 bulan.
Pengayaan

SOAL PENGAYAAN

Nama Sekolah : Sekolah Menengah Kejuruan


Kelas/Semester : XI / 2
Tahun Pelajaran : 2017/2018
Paket Keahlian : Akuntansi
Mata Pelajaran : Administrasi Pajak
Penilaian : Pengayaan
Jenis Soal : Subyektif

Soal

Analisislah bagaimana apabila, harga perolehan mesin adalah Rp. 50.000.000,00 dan
disusutkan setahun 20% (metode saldo menurun), mesin tersebut memiliki masa manfaat
4 tahun.

Kunci Jawaban

Analisis :

Penyusutan merupakan cara penghitungan manfaat ekonomis dinikmati atau terpakai


selama satu tahun. Nilai penyusutan ini akan mempengaruhi nilai ekonomis dari mesin
tersebut. Peraturan Perpajakan menetapkan bahwa tarif penyusutan untuk harta tetap yang
disusutkan dengan metode saldo menurun sebesar 50% dari harga perolehannnya. Dengan
demikian, wajib pajak dalam melakukan penyusutan harta tetapnya ini kurang 30%,
sehingga besarnya penyusutan mesin ini perlu ditambah atau dikoreksi sebesar 30% dari
harga perolehannya yaitu 30% X Rp 50.000.000 atau Rp 15.000.000,00. Karena adanya
penambahan biaya penyusutan ini, biaya penyusutannya menjadi lebih besar atau naik
sebesar Rp 15.000.000,00. Hal ini menjadikan turunnya laba kena pajak sebesar Rp
15.000.000,00 juga maka koreksi fiskalnya disebut koreksi fiskal negatif.