Anda di halaman 1dari 8

Theory in Action 4.

2 :Arbitrary and Capricious Rules: Lease Accounting –FAS 13 Vs


IAS 17 Op/Ed
Salah satu argumen pokok yang menentang dasar aturan standar akuntansi-Sistem
penetapannya adalah bahwa aturan/kaidah yang dihasilkan kadang-kadang sewenang-
wenang; Sejalan dengan itu, pendukung prinsip basis akuntansi mengklaim bahwa standar
yang dihasilkan tidak akan sewenang-wenang, melainkan logis, konsisten, transparan, dan
informatif kepada pengguna laporan keuangan. Akuntansi sewa guna usaha sering disajikan
sebagai sebuah contoh dari titik ini. Karena standar IASB yang konon berbasis prinsip, mari
kita bandingkan aturan FASB dengan aturan akuntansi internasional, dan lihat perbedaannya .
FAS 13 vs IAS 17.

IAS 17 mengklasifikasikan sewa atas sewa pembiayaan atau sewa operasi, tapi ini hanya
kata-kata belaka. Sewa pembiayaan (finance leases) serupa sewa guna usaha (capital lease)
dalam FASB. Ada lima kriteria untuk menentukan apakah sewa adalah sewa pembiayaan,
yaitu:

 Transfer kepemilikan sewaan kepada penyewa


 Sewa tersebut memberi opsi untuk melakukan pembelian atas aset sewaan di suatu
waktu yang ditentukan dengan peluang agar memperoleh harga lebih murah
(dibanding harga pasar) pada saat tersebut.
 Jangka waktu Sewa ditentukan sama atau lebih besar dari umur ekonomis aset sewaan
 Nilai sekarang dari pembayaran sewa minimum sama dengan seluruh nilai wajar aset
sewaan;
 Hanya lessee dapat menggunakan aset sewaan.

Empat kriteria pertama sesuai dengan kriteria FASB; yang terakhir juga terkandung
dalam FAS 13 meskipun tidak secara khusus termasuk sebagai salah satu kriteria untuk
menentukan apakah sewa adalah sewa guna usaha.
Kritik tersebut adalah benar, FASB secara jelas menggambarkan (bright line: batasan
spesifik) kriteria 3 dan 4 (75 persen dan 90 persen ambang batas), sedangkan IASB tidak.
Orang bertanya-tanya, kiranya, apakah perubahan tersebut menghilangkan atau meningkatkan
kesewenang-wenangan dalam pelaporan keuangan. Sebenarnya, FASB memilih ambang
batas yang tidak dapat dipertahankan sementara IASB tidak membatasinya. Hasilnya
mungkin untuk memindahkan ambang batas dari penyusun standar kepada pembuat
lap.keuangan (preparer) dan auditor, tanpa diketahui persoalannya oleh investor. Misalnya,
preparer mungkin memiliki sewa di mana nilai sekarang dari pembayaran sewa minimum
sebesar (katakanlah) 95 persen dari nilai wajar aset dan berpendapat untuk
memberlakukannya sebagai sewa operasi. Kekuatan dan otoritas apa yang dilakukan auditor
dalam menantang pernyataan tersebut?
Ya, FAS 13 memuat “bright lines”/batasan spesifik yang secara inheren sewenang-
wenang, karena tidak ada teori ekonomi yang mendukung 75 persen atau 90 persen ambang
batas tersebut. Tapi, kekurangan bright lines juga tidak memecahkan masalah sama sekali –
karena hanya menggeser keputusan tentang ambang batas dari penyusun standar kepada
preparer (pembuat lap.keuangan) dan untuk auditor. Ini menambahkan subjektivitas untuk
penentuan titik cutoff (pisah) yang tepat antara apakah itu Sewa guna usaha (capital lease)
atau sewa operasi. Sayangnya, kenyataan ini menempatkan keputusan di tangan orang yang
sedang dievaluasi oleh komunitas investasi, dan dekade terakhir telah menunjukkan kepada
kita apa yang terjadi ketika kita mempercayakan pembuatan kebijakan akuntansi kepada
manajer.

Menurut Saya, kesewenang-wenangan dalam FAS 13 secara signifikan kurang dari


kesewenang-wenangan yang terdapat pada IAS 17. Dilain hal, transparansi kesewenang-
wenangan FASB untuk komunitas investasi mengalahkan kekaburan aturan IASB.
Nilai sekarang dari sewa dihitung dengan tingkat suku bunga implisit dalam sewa,
jika memungkinkan. Jika tidak, nilai sekarang ditentukan dengan tingkat suku bunga
pinjaman tambahan perusahaan bisnis. Perhatikan bahwa IASB demikian memungkinkan
menyebabkan perekeyasaan keuangan dilakukan manajer entitas. Manajer dapat menyatakan
bahwa mereka tidak tahu dan tidak bisa mengetahui tingkat implisit, mempreroleh nilai
sekarang lebih rendah dari aset, dan kemudian berada dalam posisi yang lebih baik untuk
berpendapat bahwa sewa adalah sewa operasi. Posisi IASB secara konseptual tidak lebih baik
dari FASB pada titik ini.

IASB mendefinisikan aktiva dan kewajiban sebagai berikut:


Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh entitas sebagai akibat dari peristiwa masa
lalu dan yang mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan mengalir ke entitas.
Kewajiban adalah kewajiban kini dari entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu,
penyelesaian yang diharapkan dapat menghasilkan arus keluar dari entitas sumber daya yang
mengandung manfaat ekonomi.
Definisi ini secara substansi tidak berbeda dari definisi FASB. Yang terpenting,
perhatikan bahwa jika seseorang benar-benar berprinsip, ia harus berpendapat bahwa item-
item yang disewakan adalah aset, dan kewajiban sewa guna usaha merupakan suatu
kewajiban. Tidak ada ruang untuk sewa operasi (operating lease) jika manajer atau auditor
sedang berpegang pada prinsip-prinsip yang terdapat dalam definisi aset dan kewajiban
IASB.
Keduanya, FASB dan IASB telah mengabaikan kerangka kerja konseptual mereka
sendiri dalam FAS 13 dan IAS 17. Pada kedua definisi, item yang disewakan adalah aset, dan
kewajiban sewa guna usaha merupakan kewajiban. Satu-satunya kesimpulan logis untuk
FASB dan IASB adalah dengan mewajibkan kapitalisasi semua sewa.
Ketika perusahaan-perusahaan Amerika diizinkan untuk menggunakan aturan
internasional, sepertinya tampak sangat memungkinkan bahwa manajer-manajer AS akan
memiliki ladang keducarang untuk bersembunyi dari kewajiban sewa mereka, dengan asumsi
IASB tidak memiliki keberanian untuk mengubah IAS 17. Keadilan akan datang ketika
gugatan class action akan diajukan terhadap manajer dan direktur perusahaan tersebut dan
mungkin auditor mereka juga. Ketika penggugat pengacara membaca definisi IASB ini dan
perhatikan bahwa manajer tidak mengikuti prinsip-prinsip dalam definisi ini, mereka akan
pergi jauh dalam membuktikan niat terdakwa untuk menipu. Orang-orang rropa mungkin
membatalkan tuntutan hukum itu jika sempat terjadi, tapi pengadilan Amerika tidak begitu
mudah untuk diintimidasi.
FAS 13 adalah salah satu standar yang paling kurang yang pernah dikeluarkan oleh
FASB. Namun, IAS 17 sebagian besar berisi kesalahan dan kekurangan yang sama. Hanya
seubah perubahan- penghapusan batasan spesifik- yang sebenarnya adalah sebuah kerugian
karena itu membantu manajer dalam upaya mereka untuk mengaburkan komunikasi yang
bermakna bagi investor dan kreditor. Jika itu merupakan contoh terbaik dari akuntansi yang
berbasis prinsip, beri Saya aturan kapan saja.
Pertanyaan:

1. Apa yang menjadi kriteri dari standar IASB dan FASB dalam mengklasifikan sebuah
sewa menjadi sewa pembiayaan?

2. Apa yang dimaksud dengan “bright lines” pada standar akuntansi? Berikan contoh
dari bright lines pada Standar Leasing di US!

3. Mr ketz tidak percaya pendekatan standar yang berbasis prinsipel pada IASB akan
efektif untuk leasing. Jelaskan detail dari argumen yang dia sajikan pada kasus
tersebut dan pertimbangkan tinjauan alternatif

4. Apakah praktek akuntansi dibawah Standar yang mengatur Leasing IASB sekarang
sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan dari Kerangka IASB?

Jawab:

1. Apa yang menjadi kriteri dari standar IASB dan FASB dalam mengklasifikan sebuah
sewa menjadi sewa pembiayaan?

Kriteria Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan.

a. IASB

 Adanya opsi untuk melakukan transfer kepemilikan sewaan kepada penyewa


 Sewa tersebut memberi opsi untuk melakukan pembelian atas aset sewaan
di suatu waktu yang ditentukan dengan peluang agar memperoleh harga
lebih murah (dibanding harga pasar) pada saat tersebut.
 Jangka waktu Sewa ditentukan sama atau lebih besar dari umur ekonomis
aset sewaan
 Nilai sekarang dari pembayaran sewa minimum sama dengan seluruh nilai
wajar aset sewaan.
 Hanya lessee dapat menggunakan aset sewaan
b. FASB
Kriteria FASB sama dengan IASB untuk point ke 1 hingga ke 4. Tetapi ada perbedaan dan
penambahan yaitu:
 FASB menetapkan suatu bright lines (batasan spesifik) yaitu:
- Jangka waktu lease lebih panjang/ sama dengan 75 persen dari taksiran
umur ekonomis aktiva yang dilease. Akan tetapi apabila kontrak
dimulai pada saat umur ekonomis aktiva yang dilease tinggal 25 persen
dari total taksiran umur ekonomis aktiva tersebut, maka kriteria
tersebut tidak dapat diterapkan. Hal ini juga berlaku untuk kriteria di
bawah ini.

- Pada permulaan lease, nilai sekarang dari pembayaran lease minimum


lebih besar atau sama dengan 90 persen dari nilai wajar akiva yang
disewakan

- Syarat sewa diakui sebagai sewa pembiayaan(finance lease) apabila pe


riode sewa minimum adalah 2 tahun.
Sedangkan pada kriteria kelima IASB, dianggap sebagai kriteria yang
memiliki ketentuan khusus bagi FASB, yang berarti ada bagian tertentu dimana
aset sewaan dapat digunakan oleh selain lessee.
Perbedaan tersebut disebabkan oleh dasar yang dianut oleh FASB dan
IASB. FASB menganut rule-based sedangkan IASB menganut principle based.
Rule based akan mengatur secara detail setiap aturan-aturannya, hal inilah yang
menyebabkan FASB memberikan batasan spesifik pada standar nya seperti pada
kasus sewa.

2. Apa yang dimaksud dengan “bright lines” pada standar akuntansi? Berikan contoh dari
bright lines pada Standar Leasing di US!

Jawab:
Bright lines merupakan suatu batasan spesifik atas aturan / hukum/ atau ketetapan
yang dibuat oleh suatu lembaga. Standar Akuntansi yang memiliki batasan spesifik
merupakan standar akuntansi yang berbasis aturan (rule based), yaitu suatu standar
yang memiliki batasan-batasan dalam praktiknya. Sehingga, akuntan/preparer
menyusun laporan keuangan tanpa/kurang pertimbangan profesional tetapi mengacu
pada batasan spesifik tersebut. Adapun kelebihan dan kekurangan dari bright lines
pada standar akuntansi adalah sebagai berikut:
Kelebihan Kekurangan
1. Meningkatkan komparabilitas, tidak dapat memenuhi tantangan perubahan
(konsensus antar pengukur) kondisi keuangan yang kompleks dan cepat dan
sering menyediakanbenchmark untuk
menentukan kesesuaian dengan aturan tapi
tidak merefleksi kejadian ekonomi yang
mendasarinya secara substansial (Finnerty 1988,
dalam AAA Financial Accounting Standard
Committee, 2003).
2. meningkatkan verifiabilitas
3. mengurangi kemungkinan
perselisihan mengenai suatu
perlakuan akuntansi
4. mengurangi risiko litigasi

Contoh bright lines pada standar yang mengatur leasing di amerika adalah:

 Syarat sewa diakui sebagai sewa pembiayaan(finance lease) apabila periode


sewa minimum adalah 2 tahun.

 Jangka waktu lease lebih panjang/ sama dengan 75 persen dari taksiran
umur ekonomis aktiva yang dilease. Akan tetapi apabila kontrak dimulai
pada saat umur ekonomis aktiva yang dilease tinggal 25 persen dari total
taksiran umur ekonomis aktiva tersebut, maka kriteria tersebut tidak dapat
diterapkan .

 Pada permulaan lease, nilai sekarang dari pembayaran lease minimum


lebih besar atau sama dengan 90 persen dari nilai wajar akiva yang
disewakan
3. Mr ketz tidak percaya pendekatan standar yang berbasis prinsipel pada IASB akan
efektif untuk leasing. Jelaskan detail dari argumen yang dia sajikan pada kasus tersebut
dan pertimbangkan tinjauan alternatif

Jawab:

Beberapa poin yang dapat dilihat atas argumen ketz:

 Mr ketz berargumen bahwa dengan diterapkan nya FAS 17 di Amerika maka akan
memberi peluang bagi manajer-manajer AS untuk memperoleh keuntungan dari
penggunaan standar FAS 17 terkait Leasing. Karena, FAS 17 yang principle based
pada leasing memberi peluang bagi manajer-manajer perusahaan untuk melakukan
rekayasa pelaporan keuangan nya terkait transaksi leasing.
 Menurut ketz FAS 17 (dan termasuk IAS 13) telah tidak konsisten dan tidak sesuai
dengan kerangka konseptual mereka untuk standar yang ditetapkan terhadap leasing.
Karena menurut keitz seharusnya aset dan kewajiban leasing harus dikapitalisasi
untuk semua sewa.

Tinjauan alternatif:

salah 1 kelemahan dari standar berbasis prinsipel adalah memberikan peluang kepada
manajer menggunakan strategi yang menguntungkannya dan dapat mengaburkan
informasi keuangan yang berguna bagi investor dan kreditor karena standar berbasis
prinsipel tersebut bersifat flexibel sehingga memberikan akuntan dan manajer
keleluasaan menggunakan pertimbangan profesionalnya. Lalu menurut kel. Kami hal
yang dapat dijadikan alternatif/solusi dari kasus tersebut, yaitu:

- IASB meninjau kembali atau memberikan tanggapan atas kritikan Edward


Ketz mengenai Standar Akuntansi leasing dikarenakan diklaim telah tidak
sesuai antara praktik akuntansi leasing dengan definisi dan kerangka IASB.

4. Apakah praktek akuntansi dibawah Standar yang mengatur Leasing IASB sekarang
sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan dari Kerangka IASB?

Jawab:

Menurut Ketz praktik akuntansi mengenai leasing yang diautur oleh IASB tidak
sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan dari kerangka IASB, karena persoalan
pengkapitalisasian sewa. Dalam praktiknya dengan standar IASB, :

- Sewa yang lebih dari 1 tahun akan diakui pada komponen aset dan kewajiban.

Menurut definisi dan kerangka IASB

Sewa merupakan peminjaman suatu aset dan menimbulkan kewajiban, jadi


menurut Ketz jika praktiknya telah sesuai dengan definisi dan kerangka IASB
seharusnya telah diakui sebagai aset/kewajiban sejak awal.

- Kerangka konseptual IASB menyatakan salah satu tujuan pelaporan keuangan


adalah sebagai dasar pengambilan keputusan oleh investor dan kreditor. Pada
prakteknya menurut ketz dengan standar akuntansi mengenai leasing yang
ditetapkan oleh IASB akan memberi peluang bagi manajer untuk melakukan
pengaburan informasi dengan menggunakan keleluasaan yang diterapkan IASB
pada standar akuntansi leasing tersebut. Seperti manajer selalu berupaya
menjadikan leasing agar menjadi kategori sewa operasi, padahal pembiayaan
tersebut akan menambah kewajiban perusahaan, dimana investor dan kreditor
seharusnya mengetahui adanya penambahan kewajiban.