Anda di halaman 1dari 11

Ketrampilan untuk mendokumentasikan dokumentasi bukti audit secara baik dan efektif

merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang auditor
eksternal mengingat dokumentasi tersebut akan menjadi alat yang akan mendukung temuan
audit mereka yang pada akhirnya akan mendukung pekerjaan audit mereka. Contohnya adalah
ketika auditor internal dalam kegiatan observasi dan pemeriksaannya mendapat temuan berupa
kesalahan dalam data atau operasi perusahaan lalu menyampaikan hal tersebut kepada
manajemen yang bertanggung jawab, mungkin saja manajemen tersebut tidak akan mengakui
kesalahan tersebut kecuali disertai dengan bukti yang kuat.
Terdapat dua dimensi dalam pendokumentasian bukti audit. Pertama, setelah melaksanakan
kunjungan ke lapangan, auditor perlu mendokumentasi informasi yang didapatnya mengenai
bisnis dan operasi perusahaan dalam rangka untuk lebih memahami sebuah kekuatan dan
kelemahan dari sebuah kontrol. Pada intinya hal tersebut akan berguna untuk mendapatkan
gambaran mengenai sebuah bisnis dan operasi perusahaan yang nantinya akan berguna bagi
proses audit internal. Kedua, kita akan membahas mengenai teknik utuk mendokumentasikan
pekerjaan audit internal di kertas kerja atau mendokumentasikan bukti audit. Kertas kerja kerja
ini sangat penting baik itu untuk auditor internal maupun bagi keseluruhan perusahaan, karena
selain sebagai bahan untuk membuat gambaran audit, kertas kerja ini juga dalam beberapa
situasi dapat menjadi sebuah bukti hukum.
Untuk diketahui, audit internal memiliki peraturan yang menyatakan bahwa dokumen
kertas kerja sebuah perusahaan haruslah disimpan untuk jangka waktu tujuh tahun atau lebih
sejak tanggal dibuatnya. Peraturan tersebut diterbitkan oleh SEC. Hal tersebut tentunya dapat
menjadi sebuah tantangan karena tentunya ada ketebatasan ruang fisik untuk menyimpan kertas
kerja tersebut dan juga tentu akan sulit dan membutuhkan waktu untuk mengakses catatan
lama. Pada intinya, menggambarkan, mendokumentasikan, dan menyimpan catatan kegiatan
audit internal, semuanya adalah CBOK bagi audit internal.

16.1 INTERNAL AUDIT DOCUMENTATION REQUIREMENTS


Tugas auditor internal adalah mereview catatan-catatan, melakukan analisis berdasarkan
catatan-catatan tersebut, dan melakukan wawancara dengan seluruh level dalam manajemen
untuk mendapatkan informasi guna mengembangkan kesimpulan audit dan membuat
rekomendasi yang tepat.
Untuk menunjang tugas spesifik auditor di atas, maka diperlukan dokumentasi kinerja audit
yang disebut dengan internal audit documentation. Dokumentasi adalah laporan audit
terpublikasi, rencana kerja dan workpaper audit, catatan kunci dari hasil meeting, dan data atau
informasi yang mendukung audit internal. Catatan harus disimpan selama 7 tahun setelah
auditor memberi kesimpulan audit atas laporan keuangan.
3 aspek penting dalam dokumentasi audit internal:
1. Process modeling
2. Audit workpapers
3. Document management

16.2 PROCESS MODELING FOR INTERNAL AUDITORS


Business process model adalah sebuah peta yang membantu mengarahkan auditor internal pada
pelaksanaan aktivitas bisnis. Model tersebut berisikan posisi perusahaan sekarang, tujuan yang
ingin dicapai, posisi awal perusahaan, dan bagaimana mencapai posisi sekarang. Dengan model
ini, auditor internal dapat mengumpulkan informasi yang lebih rinci.
(a) Memahami Hierarki Process Modeling
Dalam memahami operasional perusahaan, auditor internal harus memahami beberapa
elemen dibawah ini
 System. Proses berkaitan yang berhubungan atau tidak berhubungan
 Process. Aktivitas berkaitan yang menggunakan input, menambah nilainya, dan
menghasilkan output untuk proses internal lainnya atau konsumen eksternal
 Activities. Bagian kecil dari proses yang dilakukan tiap departemen atau
individu
 Task. Langkah yang diperlukan untuk melakukan aktivitas spesifik
 External customer. Entitas diluar perusahaan yang menerima produk, jasa, atau
informasi dari perusahaan
 Internal customer. Orang, departemen, atau proses dalam perusahaan yang
menerima output dari proses lain.
Tugas auditor adalah memahami keterkaitan antara elemen-elemen tersebut.

(b) Describing and Documenting Key Process


Tujuan mereka adalah untuk menggambarkan aliran input dan output antara kegiatan
proses. Audit internal mengembangkan pendekatan standar dan konsisten untuk diagram
aliran prosesnya. Dua pendekatan yang paling mudah digunakan dan dipahami adalah:
(i) INPUT/OUTPUT PROCESS FLOWCHARTS Pendekatan ini baik digunakan
untuk objek yang berhubungan dengan objek fisik. Fokusnya adalah pada objek pasif
yang sedang dikonsumsi, diproduksi atau diubah oleh aktivitas proses.
(ii) WORK-FLOW DESCRIPTION PROCESS FLOWCHARTS Pendekatan ini
menekankan pada urutan kegiatan daripada aktivitas yang tidak bekerja.

(c) Process Modeling and the Internal Audit


Model proses adalah alat yang penting bagi auditor internal yang digunakan baik untuk
mengkaji proses perusahaan yang ada maupun untuk menyarankan bagian mana yang
membutuhkan perbaikan.

16.3 Internal Audit Workpapers


Workpapers atau kertas kerja adalah catatan tertulis yang digunakan untuk mengumpulkan
dokumentasi,laporan, korespondensi, dan sampel-sampel bukti yang dikumpulkan ketika
melakukan internal audit. Tujuan keseluruhan dari workpapers adalah mendokumentasikan
audit yang memadai dilakukan mengikuti standar profesional. Fungsi utama workpaper auditor
adalah:
 Basis planning an audit. Kertas kerja dari audit sebelumnya memberikan auditor
informasi mengenai latar belakang atas area yang diaudit dan untuk melakukan tinjauan
saat ini secara keseluruhan. Kertas kerja sebelumnya mungkin berisi deskripsi entitas,
evaluasi pengendalian internal, anggaran waktu, program audit yang digunakan, dan
hasil audit terakhir lainnya.
 Record of audit work performed. Workpapers berisikian pekerjaan audit saat ini yang
sedang dilakukan. Sekalipun audit bersifat khusus, seperti investigasi kecurangan
dimana mungkin tidak ada program audit formal, catatan harus dicatat di kertas kerja
audit. Catatan kertas kerja ini harus mencakup deskripsi kegiatan yang ditinjau, salinan
perwakilan dokumen, tingkat cakupan audit, dan hasil yang diperoleh.
 Use during the audit. Dalam banyak kasus, workpapers memiliki peran langsung
dalam melakukan upaya audit yang spesifik. Misalnya, bisa berisi pesan kerja berbagai
kontrol yang digunakan oleh anggota tim audit untuk area seperti kontrol atas
tanggapan yang diterima sebagai bagian dari pelanggan piutang dagang saldo audit
konfirmasi, demikian pula flowchart mungkin disiapkan dan kemudian digunakan
untuk memberikan panduan lebih lanjut tentang kegiatan dalam beberapa proses.
Masing-masing elemen ini akan disertakan kertas kerja di langkah audit sebelumnya.
 Description of situations of special interest. Menggambarkan situasi yang mungkin
terjadi yang memiliki arti khusus di area seperti kepatuhan dengan kebijakan dan
prosedur yang ditetapkan, akurasi, efisiensi, personil kinerja, atau penghematan biaya
potensial.
 Support for specific audit conclusions. Dokumentasi yang mendukung temuan ini
mungkin menjadi bukti aktual, seperti salinan pesanan pembelian yang tidak diperlukan
tanda tangan, atau bukti yang diturunkan, seperti laporan keluaran dari computer
prosedur terhadap file data atau catatan dari wawancara. Kertas Kerja audit harus
menyediakan materi bukti yang memadai untuk mendukung temuan audit tertentu yang
akan dimasukkan dalam laporan audit.
 Reference Source. Workpapers bisa menjawab pertanyaan tambahan yang diajukan
oleh manajemen atau oleh auditor eksternal. Pertanyaan semacam itu mungkin terkait
dengan temuan laporan audit tertentu atau rekomendasinya, atau kaitannya dengan
mereka pertanyaan lainnya. Misalnya, manajemen mungkin meminta audit internal jika
dilaporkan masalah juga ada di lokasi lain yang bukan bagian dari audit saat ini. Foto-
foto dari tinjauan tersebut bisa memberikan jawabannya. Pekerjaan juga menyediakan
bahan latar belakang dasar yang mungkin berlaku untuk audit di masa depan entitas
atau aktivitas tertentu.
 Staff Appraisal. Kinerja anggota selama audit termasuk kemampuan auditor untuk
mengumpulkan dan mengatur data, mengevaluasinya, dan sampai pada kesimpulan-
secara langsung tercermin dalam atau ditunjukkan oleh para pekerja.
 Audit coordination. Auditor internal dapat bertukar workpaper dengan eksternal
auditor. Selain itu, auditor pemerintah, dalam tinjauan peraturan mereka mengenai
pengendalian internal, dapat meminta untuk memeriksa lembar kerja auditor internal.

(a) Standar Kertas Kerja

Workpapers dirancang untuk mendukung audit internal individu dan dapat digunakan oleh
anggota lain dari fungsi audit internal, termasuk manajemen dan penjaminan mutu serta auditor
eksternal dan fungsi hukum perusahaan. Kertas kerja harus mengikuti satu set konsisten standar
dan dapat berdiri sendiri sehingga yang berwenang di luar partai, seperti auditor eksternal,
dapat membaca melalui mereka dan memahami tujuan dari audit internal, pekerjaan yang
dilakukan, dan setiap isu yang beredar atau temuan. Standar lembar kerja audit internal harus
mencakup bidang-bidang ini:
 Relevansi terhadap tujuan audit. Isi lembar kerja harus relevan dengan total tugas
audit dan tujuan spesifik dari bagian review tertentu.
 Kondensasi detail. Auditor internal biasanya mengumpulkan sejumlah besar data
dan informasi terperinci mengenai tinjauan apapun. Materi tersebut harus
dirangkum dengan cermat dalam lembar kerja audit untuk lebih menggambarkan
kegiatan audit yang dilakukan.
 Kejelasan presentasi. Untuk menyajikan materi yang jelas dan mudah dipahami,
auditor dan atasan mereka harus meninjau presentasi lembar kerja secara
berkelanjutan dan membuat rekomendasi untuk perbaikan.
 Ketelitian lembar kerja. Akurasi lembar kerja dapat digunakan di masa depan
untuk menjawab pertanyaan dan untuk mendukung kemudian representasi audit
internal.
 Tindakan pada open item. Pertanyaan sering diajukan selama audit, sebagai
bagian dari catatan lembar kerja auditor internal, atau informasi diungkapkan
yang memerlukan tindak lanjut. Pada saat penyelesaian audit, seharusnya tidak
ada item yang terbuka di kertas kerja. Semua barang lembar kerja harus
dibersihkan atau didokumentasikan secara formal untuk tindakan audit di masa
depan.
 Standar bentuk. Agar bisa dijelaskan secara akurat pekerjaan audit yang
dilakukan, mereka harus disiapkan dalam format yang konsisten dalam lembar
kerja audit atau dari satu lembar kerja ke pekerjaan lain di dalam departemen
audit internal. Standar formulir harus mencakup:
 Persiapan judul. Halaman atau format lembar kerja individu harus
memiliki judul dengan judul total audit, komponen tertentu dari total tugas
audit yang terdapat dalam lembar kerja lembar kerja tertentu, dan
tanggalnya. Judul yang lebih kecil di satu sisi harus menunjukkan nama
atau inisial dari orang yang menyiapkan kertas kerja dan tanggal
persiapan.
 Perusahaan. Penggunaan judul, jarak, dan kecukupan margin yang tepat
memudahkan pembacaan dan pemahaman. Auditor mungkin memikirkan
perusahaan ini sesuai dengan cara pembuatan buku teks.
 Rilisan dan keterbacaan. Kualitas ini tidak hanya membuat kertas kerja
lebih bermanfaat bagi semua pembaca, namun juga memastikan
perawatan yang sesuai dengan persiapannya.
 Pengindeksan silang. Semua kertas kerja harus diindeks dan diindeks
silang. Pengindeksan silang memberikan jejak bagi auditor dan
memastikan keakuratan informasi dalam surat kerja dan juga dalam
laporan audit berikutnya.

(b) Workpapers formats


Format kertas kerja dalam bentuk lama adalah kertas dokumen yang panjang, ditulis tangan
oleh auditor dengan sample dari laporan dan lain-lain yang termasuk dalam paket. Namun
seiring dengan perkembangan jaman dan penggunaan computer, format kertas kerja pun
berubah menyesuaikan dengan situasi namun tetap memiliki poin penting sebagai pendeskripsi
hasil observasi auditor.

(c) Workpaper Document Organization


Untuk kebanyakan internal audit, kertas kerja dapat dipisahkan dalam beberapa area audit:
(i) File Permanen Banyak audit dilakukan secara periodik dan mengikuti prosedur
yang repetitive. Dibandingkan mencatat semua data yang penting setiap audit
dilakukan, data-data tertentu dapat dikumpulkan menjadi permanent workpaper file,
yang berisi sejarah data atau melanjutkan audit yang sedang dilakukan. Beberapa data
mungkin mencakup:
 Keseluruhan chart audit atas unit audit.
 Chart dari akun dan relativ dari kebijakan utama dan prosedur.
 Laporan keuangan mengenai entitas potensial yang berguna untuk data analitis.
 Salinan dari laporan audit terakhir, program audit yang digunakan.
 Informasi tentang audit unit.
 Informasi logistik untuk membantu auditor selanjutnya.
(ii) File Administratif Walaupun kertas kerja administratif mungkin tidak
diperlukan untuk audit yang kecil, kertas kerja administratif yang sama tetap perlu
dimasukkan pada semua kertas kerja audit.
(iii) File Prosedur Audit Pencatatan seharusnya dipertahankan dari pekerjaan
audit aktual yang dilakukan, tergantung pada jenis dan sifat tugas audit. Misalnya,
audit keuangan mungkin berisi jadwal spreadsheet terperinci dengan komentar
auditor mengenai tes yang dilakukan. Audit operasional mungkin berisi catatan
wawancara dan ulasan pengamatan auditor. File ini umumnya yang terbesar untuk
audit dan mengandung beberapa elemen berikut:
 Daftar prosedur audit yang lengkap
Workpapers adalah repositori pusat yang mendokumentasikan prosedur audit,
dan menyertakan salinan program audit beserta inisial auditor dan tanggal
langkah audit.
 Kuesioner selesai
Beberapa fungsi audit internal menggunakan kuesioner standar yang mencakup
jenis prosedur pengendalian internal tertentu.
 Deskripsi prosedur operasional
Pesan kerja harus secara singkat menggambarkan sifat dan cakupan jenis
kegiatan operasional tertentu. Deskripsi ini bisa menjadi flowchart proses,
seperti yang telah dibahas sebelumnya di bab ini, atau narasi verbal. Auditor
harus selalu memperhatikan pada lembar kerja sumber informasi untuk
mengembangkan deskripsi ini. Seorang anggota manajemen auditee mungkin
telah menggambarkan prosesnya, atau auditor mungkin telah mengumpulkan
informasi ini melalui observasi.
 Tinjau ulang kegiatan
Banyak pekerjaan audit internal mencakup penyelidikan khusus yang menilai
aktivitas yang dipilih. Ini bisa termasuk pengujian data, pengamatan kinerja,
pertanyaan kepada individu yang ditunjuk, dan sejenisnya. Ini mungkin jenis
kertas kerja yang paling umum disiapkan oleh auditor internal. Tidak mengikuti
bentuk apapun tapi hanya berfungsi untuk menggambarkan kegiatan audit yang
dilakukan dan hasilnya.
 Analisis dan jadwal yang berkaitan dengan laporan keuangan
Dalam audit berorientoriasi, berbagai jenis pekerjaan khusus berkaitan dengan
keakuratan laporan keuangan atau saldo akun.
 Dokumen perusahaan
Dokumen perusahaan dasar, seperti bagan perusahaan, risalah rapat, pernyataan
atau prosedur kebijakan tertentu, kontrak, dan sejenisnya. Meskipun beberapa
di antaranya mungkin lebih sesuai untuk file permanen, ada pula yang unik dari
audit tertentu
 Temuan, lembar titik, catatan supervisor, atau draft laporan
Lembar kerja yang menjelaskan sifat temuan audit serta referensi alur kerja
terhadap pekerjaan audit terperinci harus disertakan dalam file prosedur audit
meskipun salinannya telah diteruskan ke file administratif.
 Mengaudit file massal
Audit internal sering menghasilkan sejumlah besar bahan bukti, yang harus
dipertahankan namun tidak termasuk dalam kertas kerja utama. Misalnya, audit
internal dapat melakukan survei yang menghasilkan sejumlah besar kuesioner
kembali. Bahan ini harus diklasifikasikan sebagai kertas kerja tapi harus diambil
dari file bulk hanya jika diperlukan.
Workpapers adalah basis dokumentasi audit dari satu audit atau auditor ke audit
berikutnya dan juga merupakan sarana komunikasi dengan auditor eksternal
perusahaan. Bagian audit internal harus menetapkan beberapa standar keseluruhan yang
mencakup gaya, format, dan isi dari pekerjaan yang digunakan dalam berbagai audit.
Beberapa rincian spesifik tidak perlu dibekukan, mengingat berbagai jenis audit
dilakukan dan berkembang prosedur otomasi audit. Namun, isi kertas kerja harus
disiapkan secara konsisten untuk semua audit. Prosedur audit berkas lembar kerja,
misalnya harus mengandung bahan yang mencakup masing-masing area yang terdaftar
saja.

(d) Teknik Mempersiapkan Kertas kerja


Banyak dari proses mempersiapkan kertas kerja meliputi pengumpulan komentar audit dan
mengembangkan jadwal untuk mendeskripsikan pekerjaan audit dan mendukung semua
kesimpulannya. Proses detail ini mengharuskan auditor internal untuk mengikuti keseluruhan
standar audit untuk mempersiapkan kertas kerja dan juga membuat kertas kerja agar mudah
dipahami. Proses penyusunan kertas kerja dapat dilakukan secara manual maupun dengan
sistem berbasis komputer, yang penting kertas kerja audit harus berisi standar pengindeksan
dan notasi tertentu yang akan memudahkan peninjauan oleh profesional audit yang lainnya.
Standar mempersiapkan kertas kerja:

(i) Workpaper Indexing dan Cross Referencing Workpaper indexing adalah memberi
index pada kertas kerja agar mudah ditelusuri. Nomor indeks dalam kertas kerja sama
halnya seperti nomor halaman buku pada umumnya. Pemberian nomor indeks dapat
dilakukan secara manual maupun dengan menggunakan sistem komputer. Metode untuk
pengindeksan manual kerja audit internal yang disiapkan secara manual mengikuti
serangkaian tiga digit sehingga “AP-5-26” yang berarti bagian halaman 26 dari langkah
ke 5 dalam seperangkat prosedur audit tertentu. Pemberian nomor indeks yang dilakukan
dengan menggunakan sistem komputer dapat menggunakan Microsoft Word.
Cross referencing adalah memberikan keterangan lain pada kertas kerja yang telah
diberi nomor indeks sesuai dengan jadwal kertas kerja. Pemberian nomor referensi silang
merupakan bagian yang penting dalam audit keuangan, dimana semua nomor yang ada
pada setiap jadwal harus saling terikat secara konsisten.

(ii) Tick Marks Tick Marks merupakan form manual auditor atau notasi menggunakan
pensil. Auditor dapat mengembangkan particular mark untuk mengindikasikan given
value dalam skedul keuangan cross-foots ke other related values dan tick mark lain
untuk mengindikasikan pada trial balance.

(iii)References to External Audit Sources Internal auditor kadang mencatat


informasi yang diperoleh dari sumber luar. Penting untuk mencatat sumber seperti
komentar langsung pada workpaper. Auditor butuh referensi hukum dan regulasi untuk
mendukung kerja auditnya.

(iv) Catatan Kasar Kertas Kerja Ketika melakukan wawancara, auditor internal
sering kali membuat catatan-catatan kasar yang ditulis dengan bentuk personal dari
yang hanya dapat dibaca oleh penulisnya. Auditor harus menulis atau memasukkan
ulang catatan kasar ini ke dalam kertas kerja. Karena adanya kemungkinan untuk me-
review lagi, catatan kasar ini harus dimasukkan ke dalam kertas kerja, bisa ditempatkan
di belakang kertas kerja manual atau dalam file terpisah. Saat ini banyak departemen
audit internal yang telah mengotomatisasikan kertas kerja mereka dengan
menggunakan software lembar kerja dan word-processing untuk membuat kertas kerja
lebih mudah untuk dibaca dan diakses tanpa mengubah standar standar kertas kerja.
Kertas kerja akhir-akhir ini biasanya ada dalam sebuah folder sistem komputer yang
mungkin memiliki referensi dari dokumen kertas.

(e) Proses Review Kertas Kerja


Semua kertas kerja harus melalui proses audit internal yang independen untuk meyakinkan
bahwa kerja yang diperlukan telah dilakukan, dideskripsikan dengan baik, dan temuan audit
telah didukung dengan cukup. Chief Audit Executive (CAE) melaporkan kepada komite audit
dan bertanggung jawab atas semua hasil review-nya. Tetapi biasanya mereka mendelegasikan
pekerjaan tersebut kepada anggota pengawas dari departemen audit internal. Berdasarkan
ukuran dari staf audit dan kepentingan relatif dari audit yang dilakukan, memungkinkan banyak
review dari serangkaian kertas kerja, satu oleh auditor yang bertanggung jawab dan sisanya
oleh banyak anggota senior dari manajemen audit internal.
Bukti dari review pengawas sebaiknya terdiri dari inisial pemeriksa dan tanggal dari
tiap kertas kerja yang diperiksa. Beberapa fungsi audit internal menyiapkan memorandum atau
workpaper review checklist untuk dokumen dan perluasan review mereka. Untuk
menyelesaikan review awal, sebaiknya menyiapkan serangkaian catatan review dengan banyak
pertanyaan selama proses review untuk memberikan resolusi tanggung jawab auditor.
Pertanyaan review sebaiknya dijelaskan dengan segera dan pemeriksa harus berrtanggung
jawab ketika pertanyaan terbuka telah ditetapkan. Poin dari review ini atau pertanyaan akan
menyoroti kesalahan clerical, seperti missing cross-references. Proses review kertas kerja
memastikan bahwa semua report findings memiliki dukungan melalui bukti audit sebagai
dokumentasi dalam kertas kerja. Proses review kertas kerja ini harus selalu ditetapkan terlebih
dahulu untuk mengeluarkan sebuah laporan final audit. Ini akan meyakinkan jika semua
temuan audit telah cukup didukung oleh bukti audit sebagaimana didokumentasikan di dalam
kertas kerja.

16.4 Internal Audit Document Records Management


Kebutuhan yang penting untuk praktik manajemen dokumen untuk fungsi audit internal dalam
lingkungan hari ini dalam laptop auditor dan jaringan nirkabel:
 Document standards & review processes. Internal audit butuh membuat standar
untuk software yang digunakan, laptop computer vonfiguration,dokumen umum dan
template standards. Tujuannya agar semua menggunakan equipment yang sama dengan
format dan standar. Proses formal dan aman harus diset dalam tiap skedul audit.
Pada kesimpulan audit, material workpaper dapat didownload ke system pusat server
department audit.
 Backup, security, & continuity. Untuk personal emails, internal auditor dapat
menggunakan salah satu small portable services. Pengamanan yang dibuat dan
pengendalian password harus diinstal, seperti jika system dicuri, kontennya tidak bisa
dengan mudah diakses. Prosedurnya juga membuat file internal audit untuk di backed
up dan didownload ke sistem server internal audit pada regular basis
 Hardware & software resource management. Dengan relatively efficient dan
lower – cost resources yang tersedia, tidak ada alas an kenapa internal audit function
tidak punya system server terdedikasi untuk tujuan internal audit
 CAATT Repository. Setiap usaha yang dibuat grup dan mengorganisasi semua
CAATT – related materials dengan catatan workpaper internal audit
 Audit reports, risk management, & internal audit administration. Internal audit
butuh persiapan dan distribusi a large body of material, termasuk laporan audit, risk
management analysis, budgets, dan komunikasi dengan audit komite. Peraturan retensi
dokumen selama 7 tahun harus dilaksanakan ke catatan administratif audit internal dan
ditempatkan dalam folder aman dalam sistem server departemen audit.

16.5 Pentingnya Mendokumentasikan Internal Audit


Dokumentasi yang cukup itu dibutuhkan untuk menampilkan keseluruhan proses internal audit.
Chapter ini menekankan pada pentingnya kertas kerja audit untuk aktivitas internal audit sebaik
proses untuk menampilkan deskripsi dari aktivitas perusahaan. Kemampuan untuk
mempersiapkan deskriptif dan efektivias kertas kerja sebagai kunci dari internal CBOK yang
diminta. Dalam hal ini semua auditor internal dari CA sampai staff audit, harus menyesuaikan
diri dengan banyak peralatan TI yang disediakan untuk mendeskripsikan dan
mendokumentasikan proses internal audit.