Anda di halaman 1dari 30

KONSULTASI DAN KONSELING KELUARGA BALITA DAN ANAK

PADA PUSAT PELAYANAN KELUARGA SEJAHTERA

Penanggung Jawab : Dra. Elisabeth Kuji


Penulis : Dra. Elly Irawan, MS
Kontributor : 1. Masnuryati,SE
2. Dra. Purini Saptari,M.Pd
3. Andi Hendardi I,SH
4. Sitti Sulfiani,S.Sos,M.Si
5. Juli Yanto,S.Sos
6. Mila Astari Songan,S.Psi
7. Agus Susanto
Tata letak & : Ridwan Nugraha
Desain sampul

Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan


Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional

Cetakan pertama

Jakarta, April 2013

Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau


seluruh isi buku ini tanpa izin dari Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan
Rentan

ISBN : 978-602-8068-78-9
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa, karena atas rahmat
dan karunia-Nya, buku Konsultasi dan Konseling Keluarga Balita dan Anak
Pada Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya.

Buku ini disusun sebagai acuan dan rujukan bagi semua pihak dalam
penyelenggaraan dan pengembangan PPKS. Dengan diterbitkannya buku ini
diharapkan para pengelola dan pelaksana dapat melaksanakan berbagai kegiatan
secara terintegrasi dengan melibatkan unsur terkait dalam pelaksanaan dan
pengembangan PPKS disemua tingkatan.

Pada kesempatan ini kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada
seluruh tim penyusun yang telah memberikan sumbangan pikiran dan tena ga dalam
penyusunan buku ini. Kami menyadari bahwa penyusunan buku ini masih belum
sempurna, untuk itu kami mohon masukan dan saran untuk perbaikan dimasa yang
akan datang.

Jakarta, April 2013


Direktur Bina Ketahanan
Keluarga Lansia & Rentan

Dra. Elisabeth Kuji

i
KATA SAMBUTAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan arus informasi begitu


deras masuk ke seluruh lapisan masyarakat. Informasi tersebut tentunya membawa
pengaruh bagi kehidupan keluarga. Pengaruh tersebut dapat berdampak positif dan
negatif, terutama pengaruh dari budaya barat yang kurang sesuai dengan budaya
timur yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Sehubungan dengan hal tersebut diharapkan setiap keluarga diIndonesia harus


memiliki ketahanan keluarga yang kuat. Undang-undang No. 52 Tahun 2009 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, pasal 47 menyatakan
bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menetapkan Kebijakan Pembangunan
Keluarga melalui Pembinaan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga.

Ketahanan keluarga adalah kondisi keluarga yang memiliki keuletan dan


ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik material guna hidup mandiri dan
mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan
kesejahteraan kebahagiaan lahir dan batin.

Dalam upaya pembangunan ketahanan keluarga di Indonesia, maka mulai tahun


2012, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) diseluruh Indonesia telah membentuk Pusat Pelayanan Keluarga
Sejahtera (PPKS). PPKS ini merupakan wadah yang berbasis institusi yang
memberikan konsultasi, KIE, konseling, bimbingan, dan fasilitasi pada keluarga.

Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan di PPKS, maka disediakan 8


(delapan) materi konsultasi, konseling, bimbingan, dan pembinaan yang terdiri dari
pelayanan data dan informasi kependudukan dan keluarga berencana; konsultasi
dan konseling keluarga balita dan anak; keluarga remaja dan remaja; pranikah;
keluarga berencana dan kesehatan reproduksi; keluarga harmonis; keluarga lansia
dan lansia; dan pembinaan pemberdayaan usaha ekonomi keluarga.

Saya menyambut baik diterbitkannya buku materi konsultasi, konseling, dan


pembinaan program keluarga sejahtera untuk mendukung pelaksanaan PPKS.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang peduli pada pelaksanaan
dan pengembangan PPKS.

Jakarta, April 2013


Deputi Bidang Keluarga Sejahtera
dan Pemberdayaan Keluarga,

Dr. Sudibyo Alimoeso, MA

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i


KATA SAMBUTAN .................................................................................................................. ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Tujuan .................................................................................................... 2
C. Batasan Pengertian ............................................................................... 2

BAB II KONSULTASI DAN KONSELING PERAWATAN


DAN PENGASUHANTUMBUH KEMBANG BALITA DAN ANAK ....................... 3
A. Perawatan dan Pengasuhan Tumbuh Kembang Balita dan Anak ........ 3
B. Pendidikan Karakter Sejak Dini ............................................................. 8
C. Pengasuhan Anak di Era Digital ............................................................ 10

BAB III PERMASALAHAN PERAWATAN DAN PENGASUHAN


TUMBUH KEMBANG BALITA DAN ANAK
SERTA CARA MENGHADAPINYA...................................................................... 13
A. ASI Kurang/Sedikit ................................................................................ 16
B. Susah Makan ......................................................................................... 16
C. Sering Ngompol ..................................................................................... 18
D. Tidak Mau Belajar .................................................................................. 20
E. Hiperaktif ............................................................................................... 20
F. Sulit Bergaul (Kurang Pergaulan) .......................................................... 21
G. Sensitif ................................................................................................... 22
H. Kecanduan Games/Internet ................................................................... 23

BAB IV PENUTUP ............................................................................................... 25

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu upaya
besar untuk mencapai cita-cita luhur mensejahterakan bangsa seperti yang
diamanatkan oleh Undang Undang Dasar 1945. Upaya proses pembangunan
SDM merupakan proses jangka panjang yang harus dimulai sejak dini dari masa
dalam kandungan, masa dibawah usia lima tahun (balita) sampai anak masuk
sekolah yang sangat memerlukan perhatian dalam pengasuhan yang benar.
Dalam seluruh siklus kehidupan manusia, masa lima tahun pertama kehidupan
manusia merupakan periode yang paling kritis dalam menentukan kualitas SDM
sebab proses tumbuh kembang berjalan sangat cepat.

Masa lima tahun pertama dalam kehidupan manusia itu disebut sebagai masa
usia emas (golden age period). Pada masa tersebut perlu dilakukan pengasuhan
dengan benar, maka anak akan berkembang dengan baik secara emosi, sosial,
mental, intelektual dan moral yang akan menentukan sikap serta nilai pola
perilakunya dikemudian hari. Oleh sebab itu, diperlukan pengasuhan yang
meliputi pemenuhan kebutuhan kesehatan, gizi, kasih sayang serta stimulasi
yang baik agar anak dapat berkembang secara optimal serta sesuai dengan usia
dan tahap perkembangan yang harus dimiliki. Kegagalan yang terjadi pada
periode pengasuhan di usia dini akan mengakibatkan kegagalan pada tahap
perkembangan selanjutnya.

Pengasuhan merupakan proses hubungan yang unik antara orangtua dan anak
sebagai aksi dan interaksi dalam mendidik agar anak dapat berkembang dengan
baik sehingga menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, tangguh,
mandiri, berkualitas dan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya
kelak. Pengasuhan anak merupakan proses yang berkesinambungan dan
memerlukan peran serta keluarga secara menyeluruh. Keluarga sebagai
pendidik pertama dan utama mempunyai peranan sangat penting dalam
pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak termasuk di dalamnya
pemenuhan hak-hak anak.

1
Mencermati kondisi tersebut, Undang-undang nomor 52 Tahun 2009 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga melalui pasal 48
menjelaskan bahwa Pembinaan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga dapat
terwujud salah satunya bila dilaksanakan melalui peningkatan kualitas anak,
maka perlu diberikan pelayanan konseling bagi keluarga untuk mendukung
upaya perawatan dan pengasuhan tumbuh kembang anak. Perlunya diberikan
pembekalan bagi keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama yang dapat
menciptakan lingkungan belajar yang positif bagi anak melalui kegiatan
konseling keluarga balita dan anak.

B. Tujuan
Memberikan kemudahan bagi petugas konseling didalam memberikan informasi
dan konseling kepada keluarga agar keluarga dapat memberikan perawatan dan
pengasuhan yang tepat bagi balita dan anak.

C. Batasan Pengertian
1. Keluarga balita dan anak adalah keluarga yang memiliki balita dan anak usia
0-10 tahun.
2. Perawatan adalah proses, cara/ tindakan pemeliharan pertumbuhan fisik
dengan cara memberikan asupan gizi seimbang dan pencegahan terhadap
penyakit.
3. Pengasuhan adalah proses mendidik, agar kepribadian anak dapat
berkembang dengan baik sehingga menjadi orang dewasa yang
bertanggung jawab, tangguh, dan tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan
yang buruk serta mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya kelak.
4. Pola asuh adalah pola perilaku yang diterapkan orangtua pada anak dan
bersifat konsisten (tetap) dari waktu ke waktu.

2
BAB II
KONSULTASI DAN KONSELING PERAWATAN DAN PENGASUHAN
TUMBUH KEMBANG BALITA DAN ANAK

A. Perawatan dan Pengasuhan Tumbuh Kembang Balita dan Anak


1. Apa yang menjadi prinsip dalam perawatan dan pengasuhan tumbuh
kembang balita dan anak ?
a. Kebutuhan kesehatan dan nutrisi
1) Kebutuhan gizi/nutrisi (asupan gizi seimbang : inisiasi menyusui dini,
ASI eksklusif, makanan pendamping ASI, gizi seimbang bagi ibu
menyusui dan anak).
2) Kebutuhan kebersihan (mandi, menggosok gigi, cuci tangan).
3) Kebutuhan tidur yang cukup sesuai usia anak.
4) Kebutuhan pelayanan kesehatan (pencegahan dan pengobatan
penyakit: pemberian imunisasi dan vitamin A, obat-obatan).
5) Kebutuhan bermain/aktivitas fisik.

b. Kebutuhan perlindungan dan kasih sayang


1) Berikan cinta, rasa aman dan kasih sayang kepada anak agar anak
mengerti bahwa orangtua menyayangi anak.
2) Belai dan sentuh anak setiap hari agar menambah kelekatan dengan
orangtua.
3) Dekap dan peluk anak saat menangis/ketakutan.
4) Bacakan dongeng.
5) Memberikan kata-kata yang memotivasi anak.
6) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengasuh,
memelihara, mendidik, dan melindungi anak (UU no. 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak, Pasal 26 ayat a)

c. Kebutuhan stimulasi/rangsangan
Melakukan stimulasi yang memadai dengan merangsang otak anak
untuk melakukan berbagai kegiatan yang merangsang perkembangan
gerakan kasar, halus, komunikasi aktif dan pasif, menolong diri sendiri
dan tingkah laku sosial sesuai dengan tahapan perkembangan anak.

3
Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan kelambatan tumbuh kembang
anak.
(lihat buku penyuluhan BKB : Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh
Kembang Anak)

2. Aspek-aspek apa saja yang perlu diperhatikan dalam pengasuhan ?


Ada empat aspek penting yaitu: disiplin, komunikasi, sosialisasi dan
pemberian kesempatan untuk mengembangkan potensi.
a. Aspek disiplin
Disiplin seharusnya berarti suatu cara untuk membimbing anak agar
dapat memperbaiki perilakunya, dengan tidak banyak memberikan
hukuman.

Tindakan yang lebih efektif dalam menerapkan disiplin pada anak


adalah dengan berusaha memberikan penjelasan atau mengadakan
pendekatan kepada anak.

Bila orangtua, guru atau anda sebagai pendamping anak sampai


terpaksa harus memberikan “hukuman”, maka hukuman tersebut harus
dikembalikan pada fungsi hukuman itu sendiri, yaitu menghalangi,
mendidik, dan dorongan (motivasi).

Selain itu, ada beberapa pertimbangan dasar untuk hukuman yang baik,
yaitu:

1) Hukuman harus disesuaikan dengan pelanggaran, dan diberikan


secepatnya.
2) Hukuman yang diberikan harus konsisten.
3) Hukuman tidak menyerang secara langsung pada diri pribadi anak,
tidak menyinggung suku, agama dan fisik (warna kulit, bentuk mata,
berat badan, tinggi badan, cacat tubuh dan sebagainya).
4) Hukuman harus dapat membangun diri.
5) Adanya penjelasan mengenai alasan mengapa hukuman diberikan
kepada anak.
6) Hukuman harus mengarah pada pembentukan hati nurani (moral).
7) Hukuman tidak boleh membuat anak merasa terhina atau
menimbulkan rasa permusuhan.

4
b. Aspek komunikasi
Komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam pengasuhan
anak, karena menjadi dasar bagi hubungan orangtua dan anak.

Ada dua prinsip yang menentukan dalam meletakkan dasar-dasar bagi


komunikasi efektif, yaitu dukungan yang positif dan kritik yang
membangun. Dukungan positif termasuk penerimaan dalam kata-kata
dan bahasa tubuh tanpa disertai pernyataan yang berlebihan untuk
memenuhi, misalnya “saya senang melihat kamu membaca buku
(dukungan positif), tapi kamu lupa untuk membereskan kamarmu” kritik
yang membangun menyatakan secara positif apa yang harus dilakukan
dan harus dihindari.

c. Aspek sosialisasi
Orangtua umumnya mensosialisasikan mengenai nilai-nilai keagamaan
nilai moral dan peran tertentu pada satu jenis kelamin.

Keyakinan agama dan ketaatan menjalankan ajaran agama hanya dapat


terwujud apabila ada usaha dan ketetapan (konsistensi) dari orangtua.
Nilai moral yang disosialisasikan orangtua adalah penilaian yang ada di
masyarakat terhadap suatu pikiran ataupun perbuatan, bahwa pikiran
ataupun perbuatan tersebut adalah benar atau salah, baik atau buruk.

Pengaruh orangtua dalam mengajarkan anak berperan sesuai jenis


kelaminnya sangat besar. Orangtua menekankan harapan-harapan yang
dikenakan pada wanita dan pria mengenai bagaimana seharusnya
mereka bertingkah laku. Misalnya anak perempuan dapat mengerjakan
pekerjaan rumah dan anak laki-laki dapat membantu melakukan
pekerjaan di luar rumah.

d. pemberian kesempatan untuk mengembangkan kemampuan


(potensi)
Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan
kemampuan yang dimilikinya. Misalnya anak memaksa untuk makan
sendiri di meja makan, dengan hasil rempah makanan berceceran
dimana-mana, makanan yang masuk ke mulut anak tidak sebanyak
seperti jika anak saat disuapi; waktu yang dibutuhkan anak untuk

5
menghabiskan makan pun menjadi lebih lama, tetapi jika membantu
anak dan menolak anak untuk makan sendiri, kita sudah mematikan
kesempatan anak untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya
menjadi anak yang mandiri.

3. Bagaimana pola pengasuhan yang efektif ?


a. Pola asuh harus dinamis.
b. Pola asuh harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak.
c. Ayah ibu mesti kompak.
d. Pola asuh harus disertai perilaku positif dari orangtua.
e. Komunikasi efektif.
f. Disiplin.
g. Orangtua konsisten .

4. Apa metode yang efektif untuk membentuk tingkah laku yang positif ?
a. Keteladanan
Dengan keteladan, orangtua menjadi contoh nyata bagi anak dalam
berbagai hal seperti: berkata jujur, senang membaca, berkata yang
baik, sikap dermawan (suka memberi), pergi ke tempat ibadah,
menolong orang lain dan tingkah laku baik yang lain.

b. Pembiasaan
Tingkah laku yang sudah dicontohkan oleh orangtua akan menjadi
tingkah laku yang baik bila sering diulang ulang secara terus menerus.
Orangtua membuatkan jadwal kegiatan bagi anak dari pagi sampai
malam dan mengajarkan etika, moral, dan kebiasaan yang baik di
rumah. Orangtua dapat membiasakan anak untuk mengikuti aturan dan
anak akan terarah kegiatannya dan terhindar dari pengaruh buruk
lingkungan.

c. Penghargaan (hadiah) dan konsekuensi atas tingkah laku anak


Jika orangtua ingin tingkah laku yang baik menjadi kebiasaan anak,
orangtua harus memberikan penghargaan dalam bentuk pelukan, diusap
kepalanya atau diberi sebuah jeruk atau sepotong kue. Orangtua juga
dapat memberi anak hadiah atas tingkah laku baiknya dengan memberi

6
hadiah berupa kegiatan jalan-jalan ke rumah nenek, pergi tamasya ke
tempat wisata.

Sebaliknya jika anak melakukan tingkah laku yang kurang baik, yang
tidak diinginkan orangtua, orangtua harus menunjukkan sikap tidak suka
sehingga anak tahu bahwa tingkah lakunya tidak disukai atau tidak
benar.

5. Membangun keterlibatan ayah dalam pengasuhan


Keterlibatan ayah dalam pengasuhan sering hanya dianggap sebatas
pendukung ibu. Padahal, ayah juga dapat melakukan pengasuhan yang
sama baiknya dengan ibu. Ayah juga bisa sama baiknya dengan ibu dalam
mengenali dan merespon kebutuhan-kebutuhan anak yang lebih besar.
Pengalaman anak bermain bersama ayah akan menjadi pengalaman yang
penting bagi si anak yang terkait dengan keterampilan sosial anak di
kemudian hari. Sebaliknya, ayah yang tidak peduli dan tidak mau terlibat,
dapat membuat anak memiliki masalah seperti kenakalan dan depresi di
kemudian hari.

Tadinya, peran ayah dalam keluarga dikenal dengan peran tradisional, yakni
sebagai pencari nafkah dan pelindung keluarga. Kini, ayah juga sebagai
guru, yang merawat anak, panutan atau penasehat. Peran ayah juga
dipengaruhi oleh budaya darimana ayah berasal/tinggal. Namun demikian,
menjadi ayah yang mau melibatkan diri dalam pengasuhanakan
memberikan keuntungan dan kebaikan untuk anak di kemudian hari.

Apa peran ayah dalam pengasuhan ?


a. Dimulai sejak masa kehamilan
Ayah ikut mendampingi ibu dalam pemeriksaan kandungan dan
persiapan kehamilan karena kehadiran ayah mempengaruhi kondisi
emosi ibu yang baik dan dapat berdampak pada pertumbuhan dan
perkembangan janin.

b. Turut merawat bayi


Misalnya mengganti popok, memandikan, menggendong, dan memberi
makan. Interaksi yang dilakukan sejak awal akan membantu anak

7
merasakan kehadiran ayah. Hal ini dapat membantu pendekatan emosi
antara ayah dengan anak.
c. Melakukan aktivitas bersama anak
Aktivitas yang menyenangkan bersama anak seperti bermain, jalan-
jalan, membaca, mengenalkan lingkungan sekitar.

d. Menciptakan komunikasi yang baik


Mengajak anak berdialog, menyempatkan diri menghubungi anak ketika
ayah tidak di rumah.

Hal itu semua tentunya perlu kerjasama dan dukungan dari ibu, karena
banyak ayah yang merasa kurang percaya diri dalam menangani anak-
anaknya.

Pada kondisi tertentu ayah tidak hadir dalam pengasuhan, misalnya ayah
yang meninggal, ayah yang bekerja di luar kota/negeri, ibu perlu
menghadirkan figur pengganti ayah seperti paman atau kakek.

B. Pendidikan Karakter Sejak Dini


1. Apa yang dimaksud dengan karakter ?
Karakter selalu dihubungkan dengan nilai moral. Karakter merupakan
karakteristik seseorang (sejumlah kualitas seseorang) yang terdiri dari 3
bagian yang saling terkait, yaitu pengetahuan moral, perasaan moral dan
perilaku moral. Artinya manusia yang berkarakter adalah individu yang
mengetahui tentang kebaikan, mencintai kebaikan dan melakukan kebaikan.
Tindakan moral berupa kompetensi, niat kebaikan dan kebiasaan yang
dilakukan seseorang itu yang disebut sebagai karakter.

Dengan demikian karakter merupakan tabiat/watak seseorang yang dimiliki


sejak lahir dan merupakan sesuatu yang membedakan seseorang dengan
yang lain. Dalam pengalaman sehari-hari watak menjelma dalam perbuatan
yang terus-menerus. Oleh karena watak indentik dengan tindakan sehari-
hari, maka orangtua memiliki peran untuk mendidik dan membentuk karakter
sejak dini.

Dalam hal ini keluarga merupakan sekolah pertama dalam penanaman nilai.
Moralitas ditumbuhkan melalui kasih sayang. Melalui kecerdasan moral anak

8
akan memahami hal yang benar dan salah. Orangtua harus terus-menerus
memberi contoh dalam pengasuhannya. Karakter harus dibentuk sejak dini
sebab usia dini merupakan masa-masa kritis yang akan menentukan sikap
dan perilaku seseorang di masa yang akan datang, disamping itu pada
masa tersebut merupakan tahap awal kehidupan seseorang dan merupakan
masa yang penting untuk meletakkan dasar-dasar kepribadian seseorang.

2. Bagaimana langkah-langkah model pembentukan karakter ?


a. Mengenali karakter anak
Orangtua harus dapat mengenali tabiat/watak anak. Dengan
mengenalinya orangtua mudah untuk mengembangkan karakter anak
kearah sikap dan perilaku yang baik. Orangtua berperan untuk
menanamkan moral, membimbing, dan menegur anak apabila
melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral.

b. Mengembangkan karakter anak


Sikap dan perilaku anak akan berkembang tergantung dari orangtua.
Dalam mengembangkan karakter anak, orangtua harus memperhatikan :
1) Mendidik anak berbeda dengan mendidik remaja/orang dewasa.
2) Mendidik anak menitikberatkan pada penanaman nilai-nilai moral
keagamaan, budi pekerti, etika, dan adat istiadat yang berlaku.
3) Mendidik anak tidak hanya dengan kata-kata/menceramahinya.
4) Mendidik anak harus dengan peneladanan orangtua memberikan
sikap dan perilaku yang baik.
5) Mendidik anak tidak dengan kekerasan/memarahinya/ancaman.
6) Mendidik anak harus berkelanjutan sehingga terbentuk karakter
yang baik.

c. Mengamati perilaku anak


Anak akan bersikap dan berprilaku secara alami dan bertindak tanpa
rekayasa/kebohongan seperti orang dewasa. Tampilan anak biasanya
apa adanya sesuai keinginannya. Orangtua harus senantiasa
mengamati sikap dan perilaku anak. Apabila sikap dan tindakan anak
banyak menyimpang dari moral dan norma, maka orangtua
berkewajiban mendidik dan mengarahkannya. Peran orangtua

9
senantiasa memberi arahan dan dukungan tindakan anak mengarah
pada perilaku yang baik dan mencegah perilaku yang tidak baik.
Mengamati perilaku anak bukan saja yang baik, namun juga yang
kurang baik untuk mendapatkan perhatian yang lebih serius.

d. Pembiasaan dalam kehidupan


Membentuk karakter positif pada anak tidak cukup sekali, tetapi harus
berkelanjutan hingga sikap dan perilaku yang baik-baik itu terbentuk
menjadi karakter anak. Setelah itu, pembinaan berikutnya adalah
orangtua harus membiasakan anak untuk bersikap, berprilaku dan
bertindak baik. Tentu saja orangtua harus memberi teladan.

e. Penguatan karakter anak


Tahap berikutnya adalah penguatan karakter anak agar sikap dan
perilakunya konsisten. Hal ini dapat dilakukan dengan cara :
1) Memberi pujian pada anak apabila berperilaku sesuai norma.
2) Orangtua memberikan contoh/teladan yang baik.
3) Memberikan bimbingan apabila perilaku anak belum terbentuk.
4) Orangtua tidak disarankan memberikan hukuman/memarahi anak
sehingga anak menjadi takut untuk bertindak.

f. Mencatat aktivitas anak sehari-hari


Orangtua mencatat sikap, perilaku dan tindakan anak yang baik dan
tidak baik. Catatan ini berguna untuk menilai dan mengevaluasi karakter
anak. Apabila masih didapatkan sikap, perilaku dan tindakan anak yang
masih tidak sesuai dengan norma yang berlaku, maka orangtua dapat
mengarahkan, mendidik/memberi teguran. Begitu pula apabila anak
sudah berprilaku baik, orangtua memujinya/memberikan hadiah.

C. Pengasuhan Anak di Era Digital


1. Apa yang dimaksud dengan era digital?
Seiring dengan perkembangan zaman, anak-anak kita tumbuh dan
berkembang di era digital. Anak-anak terbiasa didepan layar, seperti HP,
games, TV, dan komputer. Era digital adalah kondisi dimana perkembangan
dan peggunaan teknologi informasi semakin mendominasi.

10
2. Tantangan apa yang dihadapi dalam pengasuhan di era digital ?
Anak-anak dituntut terampil dalam mengakses teknologi. Tapi disisi lain,
anak juga mendapatkan akses negatif terhadap penggunaan teknologi.

3. Bagaimana dampak era digital pada perkembangan anak ?


No. Kegiatan Positif Negatif
1. Menonton a. Mendapatkan informasi dan a. Waktu menonton yang
Televisi pengetahuan terbaru berlebihan
(berita) b. Acara televisi tidak
b. Sebagai hiburan yang sesuai dengan usia
murah c. Dampak sinar biru
c. Memberikan tayangan yang pada layar
layak ditonton anak-anak akanmempengaruhi
misalnya film kartun yang fokus perhatian anak
mendidik dan menstimulasi dalam belajar dan
otak anak ketahanan dalam
membaca
d. Menghilangkan
kesempatan anak
untuk bersosialisasi
dengan lingkungan
2. Permainan a. Keterampilan penguasaan a. Menuntut perilaku
/games teknologi yang lebih berulang-ulang untuk
kompleks mencapai keberhasilan
b. Kecekatan yang lebih tinggi b. Mendorong rasa
c. Fokus perhatian yang penasaran sehingga
terpaku pada layar menjadi
d. Meningkatkan penggunaan ketagihan/kecanduan
Bahasa Inggris c. Menuntut waktu yang
e. Melatih pemecahan lebih untuk mencoba
masalah dan penggunaan dan berlatih
logika memainkan suatu
f. Praktek penggunaan permainan.
motorik halus dan d. Games kekerasan
kemampuan spasial menyebabkan tingkat
g. Pemain di perkenalkan agresifitas yg lebih
pada teknologi informasi tinggi
h. Kemampuan membaca dan e. Games mengganggu
mengeja bisa meningkat sistem belajar,
secara signifikan dengan pembuatan PR dan
game edukasi menurunkan
i. Meningkatkan kemampuan kemampuan sosial
membuat strategi dan f. Penurunan kepekaan
membantu terhadap kekerasan,
mengembangkan teknik sehingga menjadi
analisa kritis tolerir terhadap
j. Banyak games memerlukan kekerasan
pemain untuk bekerjasama g. Banyak games yg di
agar menang yang dapat dasari dengan tema
meningkatkan kemampuan kekerasan agresi, bias
sosial pemainnya. gender, yg
menawarkan senjata,

11
pembunuhan,
tendangan, tusukan
dan tembakan
h. Banyak games
komputer dan internet
yang mengandung
unsur pornografi
seperti : games
berkelahi tanpa
memakai baju, bahkan
ada yang sampai
bersenggama
i. Games bisa
mengaburkan antara
realitas dan fantasi,
(skrg ada voucher
games maya yang di
beli dengan uang
nyata)
j. Secara fisik games
bisa membuat anak
menderita berbagai
gangguan seperti:
radang jari tangan/
sindrom vibrasi lengan,
nyeri tulang belakang,
pengurangan
penglihatan, kejang dll
3. Internet a. Mendapatkan informasi a. Bermain aplikasi
dengan cepat internet seringkali
b. Membangun hubungan mendapatkan hadiah
sosial yang lebih luas yang dapat di tukar
c. Memudahkan arus dengan uang nyata.
komunikasi dengan jarak Cenderung ke arah
yang lebih luas, seperti: judi online
penggunaan Messenger, b. Belum adanya aturan
Email, Video Call dll yang jelas dalam
d. Sebagai media penggunaan akses
pembelajaran yang internet
dilakukan sekolah kepada c. Kurang kontrol dan
anak didiknya, misalkan: pendampingan dari
buku online, berita online, orangtua
majalah online, dll
e. Menciptakan kebersamaan
antara orangtua dan anak,
ketika membuka internet
bersama-sama

4. Media Sosial a. Memberikan kesempatan a. Banyak waktu yang


(Facebook, untuk mengekspresikan dihabiskan dalam
Twitter, pandangan mereka. sosial media (Chatting)
Yahoo b. Dapat memberikan nuansa b. Adanya perasaan
Messenger, keleluasaan dan harga diri kesendirian, tidak
Linkedin, ditingkatkan. berhasil bersosialisasi

12
Myspace, c. Mampu untuk tetap di lingkungan nyata,
Google) terhubung dengan teman- melarikan diri pada
teman lama. lingkungan maya.
d. Kemampuan untuk jaringan c. Bahaya kriminal yang
dan bertemu teman baru timbul dalam
penggunaan media
sosial, seperti:
Penculikan, Penipuan
5. Penggunaan a. Mempermudah komunikasi a. Memicu anak jadi
Handphone b. Memperluas jaringan konsumtif/ selalu
pertemanan dan hubungan mengikuti trend
sosial terbaru, misalnya:
c. Menjadi alat kontrol selalu membeli
orangtua terhadap handphone terbaru
keberadaan anak b. Menyita waktu
kebersamaan dengan
keluarga dan waktu
belajar karena sibuk
dengan bermain
handphone
c. Tempat menyimpan
foto dan video yang
tidak pantas, seperti:
orang berpakaian
minim, video
pornografi

4. Upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya?


No. Kegiatan Upaya
1. Menonton televisi a. Adanya pembatasan waktu dan aturan yang jelas
mengenai lamanya menonton televisi, kapan dan
jenis-jenis tayangan yang sesuai dengan usia anak
b. Mengarahkan anak kepada kegiatan lain, seperti :
olahraga, membaca, kegiatan budaya, kursus dll
c. Orangtua mendampingi anak saat menonton
tayangan televisi dan menjadikan tontonan sebagai
sebuah media pembelajaran
d. Menghindari anak dari tontonan televisi yang
mengajarkan tentang pacaran
2. Permainan games a. Menawarkan kegiatan aktif bagi anak-anak dan
remaja yang dapat berfungsi sebagai hiburan, dan
olahraga
b. Adanya kesempatan mengungkapkan perasaan
sehingga dapat menyalurkan Emosional coping
(pengalih kesepian, isolasi, kebosanan,
melepaskan stress, relaksasi, kemarahan dan
penggunaan frustasi)
c. Merancang kegiatan-kegiatan yang dapat
mengembangkan rasa percaya diri akan potensi
yang dimiliki anak
d. Hargai setiap proses yang sudah anak lalui dalam
belajar, bantu anak mengevaluasi hasil kerjanya,

13
dan membuat langkah-langkah dalam
memperbaikinya.
e. Bangun suasana rumah, lingkungan penuh
kegembiraan, mampu melihat situasi dari sudut
positif/humor, dan mensyukuri keadaan yang ada.
f. Memberikan kesempatan anak untuk mengambil
peran dalam memimpin, dan mengarahkan orang
lain sehingga ia mampu menyalurkan kebutuhan
akan kekuasaan secara positif
g. Mengalihkan kegemaran anak dari games dengan
mengajak anak untuk bermain dengan alam,
misalkan: mengajak anak ke gunung, pantai
sebagai sarana refreshing
h. Memilih, mengawasi dan mendampingi anak dalam
meminjam games dari teman/persewaan atau
bermain games online dan mengecek setiap games
yang akan dimainkan oleh anak
i. Meletakkan komputer/ media video games di ruang
keluarga agar mudah dalam pengawasan dan
membuat kesepakatan lama waktu serta jenis
game yang dimainkan dengan menyepakati
hukuman jika anak melanggar
3. Internet a. Gunakan layanan pra bayar untuk mengontrol
penggunaan internet
b. Jika menggunakan layanan Gratis/ unlimited akses,
maka kontrol pada jam operasional server modem.
Peletakan server modem pada ruangan yang dapat
ditutup/dikunci
c. Perlu aturan yang jelas dan tegas dalam
penggunaan internet
d. Penggunaan internet tetap dalam kontrol dari
orangtua dengan mengecek situs apa saja yang
telah dibuka anak di komputer
e. Mengatur penggunaan internet melalui aplikasi
yang dapat memblokir tayangan yang bersifat
pornografi dan pornoaksi
f. Memberikan software edukasi yang diinstal di
komputer, contohnya seri ensiklopedia, edugames
dll

4. Media a. Mengubah profil dengan privasi


Sosial(Facebook, b. Jangan menerima permintaan pertemanan dari
Twitter, Yahoo orang yang tidak/baru dikenal.
Messenger, c. Jangan posting informasi yang sangat pribadi di
Linkedin, Myspace, profil
Google) d. Berhati-hati dalam memposting foto
e. Jangan memposting lokasi saat ini
f. Jangan posting hal-hal negatif tentang hidupnya
g. Jangan mengganti teman sejati dengan teman-
teman virtual.
h. Hindari menggunakan situs jejaring sosial saat
sedang berkumpul keluarga.

14
Twitter/ Yahoo Messenger:
a. Jangan menerima permintaan pertemanan dari
orang asing.
b. Jangan mentweet informasi yang sangat pribadi
c. Berhati-hati dalam memposting foto
d. Jangan mentweet lokasi saat ini
e. Jangan mentweet hal-hal negatif tentang hidupnya
f. Hindari menggunakan situs jejaring sosial saat
sedang berkumpul keluarga.

15
BAB III
PERMASALAHAN PERAWATAN DAN PENGASUHAN
TUMBUH KEMBANG BALITA DAN ANAK
SERTA CARA MENGHADAPINYA

Dalam rangka perawatan dan pengasuhan tumbuh kembang balita dan anak tidak
selalu berjalan sesuai dengan harapan dari orangtua. Berbagai macam masalah
akan timbul. Berikut permasalahan yang sering dihadapi dalam pengasuhan dan
pembinaan tumbuh kembang anak serta cara mengahadapinya :

A. ASI Kurang/Sedikit

Pada umumnya hal ini terjadi apabila Ibu terlalu kelelahan dan mengalami
stress. Jika payudara penuh dan ASI tidak dikeluarkan maka akan membentuk
zat yang dapat menghentikan produksi ASI, sehingga ASI akan semakin sedikit,
terus berkurang dan akhirnya akan habis. Tenangkan emosi dan berpikirlah
positif.Jika Ibu khawatir bayi tidak mendapatkan ASI yang memadai,
berkonsultasilah dengan dokter atau konselor laktasi.

Cara mengatasi:

Atasi masalah ini dengan cara membenahi gaya hidup, beristirahat yang cukup,
rajin berolahraga dan banyak mengkonsumsi menu sehat seimbang yang
bergizi. Banyak juga Ibu yang mengalami hal ini pada masa awal menyusui.Tapi,
berkat ketekunan Ibu terus menyusui bayi dan latihan teknik menyusui dan
memerah ASI yang benar (dengan tangan atau bantuan pompa ASI), ASI keluar
banyak dan lancar.

Catatan : Apabila permasalahan belum teratasi dirujuk ke tempat pelayanan


kesehatan terdekat (Puskesmas, Rumah Sakit)/ pusat laktasi.

B. Susah Makan
Faktor penyebab seorang anak susah makan dikarenakan faktor fisik dan faktor
psikis. Faktor fisik meliputi terdapatnya gangguan di organ pencernaan maupun
terdapatnya infeksi dalam tubuh anak. Sedangkan faktor psikis meliputi
gangguan psikologis pada anak, seperti kondisi rumah tangga yang bermasalah,
suasana makan yang kurang menyenangkan, tidak pernah makan bersama
orangtua, maupun anak dipaksa memakan makanan yang tidak disukai.

16
Cara mengatasi:

1. Coba sajikan makanan dalam porsi kecil


Ingat, lambung anak belum mampu menampung makanan terlalu banyak,
jadi berikan makanan sedikit demi sedikit.

2. Variasi makanan
Cobalah buat beberapa pilihan menu makanan, lalu biarkan anak memilih
makanan yang ia sukai. Biasanya anak lebih suka dengan makanan
pilihannya.

3. Sajikan dengan menarik


Setelah menyajikan banyak pilihan, sajikan dengan tampilan menarik.
Misalnya, mencetak nasi goreng dalam cetakan teddy bear atau bebek kecil.

4. Jadikan saat makan menyenangkan


Hindari mengancam, menghukum, atau menakut-nakuti anak agar makan
lebih banyak. Ini akan membuatnya merasa bahwa saat makan merupakan
saat yang tidak menyenangkan. Dan bukan tak mungkin menimbulkan
trauma psikologis baginya.

5. Makan teratur
Jadwalkan waktu makan dengan teratur, agar anak terbiasa dengan waktu
makannya.Sama halnya dengan waktu tidur, mandi dan sebagainya.

6. Beri cemilan sehat


Setelah bisa berjalan, anak gemar bereksplorasi dengan lingkungannya.
Apalagi ketika memasuki usia 2 tahun, aktivitasnya semakin banyak. Ini
mungkin membuatnya sulit untuk duduk manis dan makan dengan
tenang.Untuk menyiasatinya, berikan cemilan sehat dalam porsi kecil namun
beragam. Misalnya saja bola-bola kentang isi wortel dan daging cincang, sus
mini isi fla coklat, donat tabor keju, dan sebagainya.

7. Hindarkan gaya memaksa dan mengancam dalam membujuk anak


Selama waktu makan, minimalkan gangguan, misalnya matikan televisi dan
jauhkan buku atau mainan dari meja makan.

17
8. Libatkanlah anak anda untuk menyiapkan makanan
Misalnya dengan meminta pertolongannya untuk mengambilkan buah atau
sayur di swalayan maupun membantu menyiapkan meja makan.Selain itu,
anak memerlukan contoh dari orang tuanya. Bila orangtua mengkonsumsi
makanan sehat, maka anak akan mencontoh pola makan orang tua.

9. Hindari memberi iming-iming makanan penutup sebagai hadiah


Hal ini dapat menyiratkan bahwa makanan penutup merupakan makanan
yang paling enak dan baik untuk anak. Selain itu, dapat meningkatkan
keinginan mengkonsumsi makanan manis bagi anak. Orangtua dapat
memberikan makanan penutup selama 2 hari dalam seminggu, sedangkan
pada pekan berikutnya tidak diberikan. Buah, yogurt atau makanan sehat
lain dapat diganti sebagai makanan penutup.

10. Batasi pemberian minuman di sela-sela waktu makan


Minuman rendah lemak maupun jus buah segar memang penting untuk
anak, namun bila anak terlalu banyak minum, tidak akan ada tempat yang
cukup untuk makanan maupun kudapan sehat yang bisa masuk ke perut
anak.

Catatan : Apabila permasalahan belum teratasi dirujuk ke dokter anak,


dokter gizi/psikolog anak untuk membicarakan masalah susah makan.

C. Sering Ngompol
Ngompol disebut juga dengan istilah enuresis atau proses keluarnya urine tanpa
disadari yang terjadi saat tidur. Ngompol bisa juga mengacu pada kegagalan
anak untuk bisa menahan pipis saat mereka beraktifitas. Ngompol pada anak
yang terjadi saat tidur malam hari disebabkan oleh produksi urine yang melebihi
kapasitas kandung kemih. Ngompol pada anak dibedakan atas dua macam
yaitu:

1. Ngompol yang terjadi sejak usia dini (enuresis primer).


Disebabkan oleh terlambatnya proses pematangan sistem syaraf pada anak,
masalah lain yang menyebabkan hal ini adalah ketidakmampuan otak
menerima signal yang dikirimkan oleh kandung kemih yang telah penuh
pada saat anak sedang tidur nyenyak.

18
Cara mengatasi:
a. Membina kerja sama antara orang tua dan anak. Kesabaran dan waktu
akan sangat menentukan kerberhasilan.
b. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan adalah dengan merubah
konsumsi cairan menjelang tidur, merubah jam tidur, terapi alarm
(memberikan kesempatan pada anak agar kencing disela-sela waktu
tidurnya/membangunkan tengah malam).
c. Hipnoterapi, menanamkan sugesti pada anak dimana dia akan bangun
jika ingin kencing. Dengan sugesti sebelum tidur ini maka umumnya
anak akan terbangun di malam hari jika kandung kemih mereka penuh.
d. Membangunkan anak di malam hari dan menyuruh mereka untuk buang
air kecil.
e. Akupuntur, beberapa hasil penelitian yang ada di China menunjukkan
akupuntur bisa mengatasi ngompol hingga 73%.
f. Melatih anak untuk menahan kencing, anak diberi minum yang banyak
dan jika ingin kencing maka anak disuruh menahan kencing selama 30
hingga 45 detik. Waktu ini bisa ditingkatkan guna menaikkan
kemampuan anak untuk menahan kencing.

2. Ngompol akibat penyakit (enuresis sekunder).


Cara mengatasi:

Pemeriksaan terhadap urine dapat membantu menemukan apakah terjadi


infeksi di bagian saluran kandung kemih. Pemeriksaan lain melibatkan
ultrasound ginjal dan kandung kemih. Pemindaian dengan MRI akan
dilakukan jika dokter menilai penyakit tersebut berhubungan dengan syaraf.

Catatan : Apabila permasalahan belum teratasi dirujuk ke dokter syaraf,


dokter anak/psikolog anak untuk membicarakan masalah ngompol.

19
D. Tidak Mau Belajar

Belajar dianggap sebagai kegiatan yang kurang menyenangkan bagi anak


dibanding. Anak akan cenderung untuk bermain dengan teman sebaya,
menonton tv melakukan kegiatan lain yang dianggap menyenangkan.

Cara mengatasi :
1. memberikan teladan
Orangtua harus menjadi figur teladan belajar sehingga anak mencontoh.
2. Menentukan cita-cita yang jelas
Orangtua membantu anak untuk menentukan cita-citanya sehingga anak
menjadi termotivasi untuk mencapai cita-cita itu dengan belajar.
3. Memberikan metode belajar menarik
Orangtua memberikan cara belajar yang menyenangkan bagi anak sehingga
anak tidak merasa bosan, misalnya belajar sambil bermain.
Catatan : Apabila permasalahan belum teratasi dirujuk ke psikolog anak
untuk membicarakan masalah.

E. Hiperaktif
Hiperaktif adalah suatu pola perilaku seseorang yang menunjukkan sikap tidak
mau diam, tidak menaruh perhatian dan impulsif (semaunya sendiri). Anak pada
umumnya cenderung lebih sulit menerima perintah, sukar memusatkan
perhatian pada satu subjek, lupa menaruh barang, dan banyak bicara.
Penyebab anak hiperaktif :
1. Fisiologis : gangguan fungsi otak, kurang stimulasi terhadap retikulum.
2. Biologis : kelebihan energi, kurang perhatian.
3. Pola didik : kombinasi perilaku dan teknik disiplin yang buruk.

Cara mengatasi :

1. penanganan secara fisiologis


Untuk anak hiperaktif karena gangguan fungsi otak, cara penanganannya
adalah dengan mengonsultasikannya ke dokter ahli syaraf. Kemudian perlu
melakukan perawatan khusus kepada anak melalui terapi syaraf dari kepala
hingga kaki atau mengonsumsi obat-obatan yang dianjurkan dokter, dan
diberi bantuan oleh psikolog ahli.

20
2. Penanganan secara biologis
Untuk anak hiperaktif karena kelebihan energi, kita bisa mengajak anak
untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif, misalnya dengan berenang, ikut
les musik/menari, dan sebagainya.

Kita bisa juga mengajak anak untuk melakukan kegiatan yang memerlukan
ketekunan dan konsentrasi, seperti menjodohkan gambar, menyusun angka
1-10, atau menyusun puzzle.

Bawa anak hiperaktif Anda ke lembaga pendidikan atau kursus


keterampilan/olahraga (seperti bela diri, balet, berenang, atau bermain bola
basket).

3. Penanganan secara sistem didik


Orangtua harus mendisiplinkan anak. Jika anak terlalu berlebihan dan sulit
dinasihati, orang tua berhak untuk memberi hukuman, asal itu untuk
mengarahkan anak atau membuat anak lebih tenang dan lebih baik. Jika
anak menjadi hiperaktif karena pola didik/asuh yang kurang tepat, orangtua
perlu membuat dan melaksanakan manajemen pendidikan yang baru bagi
anak.

Catatan : Apabila permasalahan belum teratasi dirujuk ke psikolog anak


untuk membicarakan masalah.

F. Sulit Bergaul (Kurang Pergaulan)


Anak sulit bergaul/membina hubungan pertemanan. Kegiatan berteman
merupakan salah satu kegiatan terpenting pada masa perkembangan anak.
Pertemanan merupakan sebuah keterampilan sosial yang akan melekat
sepanjang hidup. Bagi anak yang sulit bergaul, anak akan sulit untuk
mengkomunikasikan perasaan dan pikirannya.

Cara mengatasi :

1. Hindarkan anak pada perasaan tertekan


Berilah dukungan emosional pada anak dengan memberi perhatian dan
pelukan. Dengan demikian anak merasa diayomi, diberi perlindungan dan
dijauhkan dirinya dari hal-hal yang tidak mengenakkan.

21
Jalin komunikasi dengan anak mulai dari hal-hal yang sederhana sampai
pada hal-hal yang berhubungan dengan temannya. Ciptakanlah suasana
keterbukaan dan pastikan anak merasa nyaman berada dekat orang tua.

2. Bangun rasa percaya diri pada anak


Perasaan terpuruk dan tertekan anak, akibat dari perlakuan teman-
temannya, maka kita harus dapat membangkitkan rasa percaya diri dan
semangat anak, misal dengan menunjukkan kelebihan atau potensi apa saja
yang dimiliki anak yang mungkin tidak dimiliki orang lain.

3. Ajarkan cara berteman pada anak


Sebagian anak, tentu ada yang mengalami kesulitan dalam memulai
menjalin komunikasi. Orang tua dapat membantu memudahkan anak
melakukan pendekatan pada teman-temannya

4. Kembangkan selera humor anak dalam bergaul


Jika anak memiliki rasa humor dalam bergaul tentu anak akan mudah
diterima. Keterampilan sosial anak pun semakin baik, anakpun sulit dibenci,
bahkan sering kali kehadirannya selalu dinanti-nantikan dan dibutuhkan oleh
teman-temannya.

5. Kembangkan sikap toleran dan pemaaf anak

Ajaklah anak untuk dapat menghargai teman-temannya dengan tidak


memaksakan kehendak atau keinginanya.

Catatan : Apabila permasalahan belum teratasi dirujuk ke psikolog anak


untuk membicarakan masalah.

G. Sensitif
Anak memiliki karakter sensitif jika mudah menangis, mudah tersinggung,
mudah kesal karena hal kecil. Sensitif akan menyulitkannya untuk bergaul
bersama teman-temannya.

22
Cara mengatasi :

1. Menyesuaikan diri
Orangtua cenderung menasihati anak yang sensitif, namun anak yang
sensitif tidak mudah menerima nasihat. Jadi orangtua harus menyesuaikan
diri agar bisa lebih memahami anak.

2. Memahami penyebab
Orangtua mencari tahu penyebab anak menjadi sensitif, sehingga akan lebih
mudah membantun untuk mengatasi masalah yang menyebabkannya.

3. Suasana nyaman
Tidak memaksakan diri anak untuk kehendak orangtua. Tidak menempatkan
anak dalam situasi yang tidak nyaman dan membuatnya semakin sensitif.

4. Fokus pada hal yang positif


Memfokuskan diri pada hal positif dari sifat sensitif anak, misal anak yang
sensitif terhadap hewan, maka ada sisi positifnya yaitu anak dapat menjadi
dokter hewan setelah dewasa. .

Catatan : Apabila permasalahan belum teratasi dirujuk ke psikolog anak


untuk membicarakan masalah.

H. Kecanduan Games/Internet
Tanda-tanda anak kecanduan games/internet, yaitu :
1. Keasyikan dengan game/internet
2. Kehilangan minat dalam kegiatan lainnya.
3. Penarikan sosial (hanya berkomunikasi dengan teman-teman on-line)
4. Sikap membela diri dan marah ketika upaya lain untuk mengurangi/
menghentikan penggunaan.
5. Menyembunyikan jumlah penggunaan
6. Berbohong atau mencuri-curi waktu penggunaan meskipun ada
konsekuensinya

Cara mengatasi :
1. Memberikan anak kesempatan untuk bermain bersama teman-temannya
seperti bermain sepak bola, naik sepeda, asalkan bukan bermain game.

23
2. Memberikan les tambahan kepada anak sesuai hobinya
3. Orangtua meluangkan waktu untuk anak sehingga anak tidak merasa bosan.
4. Menyediakan kegiatan menarik sehingga anak bosan bermain game,
misalnya memancing, melukis, dll.
5. Membatasi waktu bermain game. Waktu yang wajar bermain game adalah
1-2 jam setiap hari.

24
BAB IV
PENUTUP

Pelayanan konsultasi dan konseling keluarga balita dan anak merupakan salah satu
upaya pembangunan keluarga yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas anak
yang pada akhirnya berhubungan dengan peningkatan kualitas Sumber Daya
Manusia (SDM) yang mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dan kemajuan bangsa
yang ditandai dengan SDM yang memiliki kepribadian, berakhlak mulia dan
berpendidikan tinggi.

Materi konsultasi dan konseling keluarga balita dan anak ini merupakan sarana
pelengkap bagi konselor/pengelola PPKS dalam melakukan tahapan kegiatan
pelayanan konseling keluarga bagi Keluarga Balita dan Anak, sehingga diharapkan
mempermudah dalam memberikan konseling.

Dengan adanya buku ini diharapkan juga dapat meningkatkan sikap, pengetahuan
dan perilaku keluarga yang memiliki balita dan anak dalam pengasuhan dan
pembinaan tumbuh kembang anak serta mampu menjawab permasalahan yang
timbul dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang.

25