Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MATA PELAJARAN

AGAMA HINDU

SAPTA TIMIRA

OLEH :

I NYOMAN ARYA ADIDANA PUTRA


KELAS VIII SMPN-6 CIBITUNG
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,

Puji syukur saya panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa , karena atas Asung
Kerta Wara NugrahaNyalah, tugas sekolah yang berjudul “Sapta Timira” dapat saya
selesaikan tepat pada waktunya.
Saya menyadari bahwa tugas sekolah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu kami
mengharapkan adanya saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan tugas ini.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerjasama, sehingga
saya dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Semoga hasil tugas sekolah ini bermanfaat
bagi semua pihak.

Om Santhi, Santhi, Santhi Om

Cibitung, Agustus 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................... i


DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 1
1.3 Tujuan ........................................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sapta Timira.............................................................................. 2
2.2 Bagian-bagian Sapta Timira........................................................................ 2

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan................................................................................................. 7
3.2 Saran........................................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di zaman serba modern ini, penggunaan teknologi sudah sangat biasa di kalangan
masyarakat. Tetapi disisi lain, banyak rakyat masih berada dalam hidup yang dapat di
katakan tidak layak. Seperti di kota besar, banyak sekali pengemis, gelandangan, copet,
dan lainnya. Mereka melakukan hal tersebut semata-mata hanya untuk mengisi perut atau
terpaksa untuk menghidupi keluarga dan buah hatinya, tetapi ada pula yang
melakukannya dikarenakan malas dan tak mau bekerja.
Marilah kita sebagai umat Hindu, meningkatkan pengendalian diri, menjauhi segala hal
negatif dan merusak moral kita. Kita diwajibkan selalu berlandaskan ajaran Tri Kaya
Parisudha, selalu berbhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, niscaya kita akan
terbebas dari Tujuh Kegelapan alam maya ini yaitu Sapta Timira.

1.2 Rumusan Masalah

a. Apa itu sapta timira ?


b. Apa saja yang termasuk sapta timira?

1.3 Tujuan

Tujuan pembuatan tugas sekolah ini adalah, supaya siapa pun yang membaca makalah ini
dapat mengerti bagaimana sebagai umat Hindu, kita harus dapat mengetahui prilaku-
prilaku yang termasuk sapta timira dan mengetahui dampaknya.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sapta Timira

Kata Sapta Timira Berasal dari bahasa Sansekerta dari kata “Sapta” yang berarti tujuh,
dan kata “Timira” yang berarti gelap, suram, awidya. Jadi Sapta Timira berarti “tujuh
kegelapan”. Yang dimaksud tujuh kegelapan adalah tujuh unsur atau sifat yang
menyebabkan pikiran orang menjadi gelap/mabuk.

2.2 Bagian - bagian Sapta Timira

Berdasarkan kitab kekawin Niti Sastra, disebutkan 7 macam unsur yang dapat
menyebabkan orang menjadi mabuk (Awidya). Ketujuh unsur tersebut disebut Sapta
Timira. Berikut adalah bagian-bagian dari Sapta Timira:

2.2.1 Surupa

Surupa artinya kecantikan atau ketampanan , kecantikan atau ketampanan dibawa


semenjak kita lahir dan merupakan anugrah Hyang Widhi Wasa. Bagi yang mendapat
anugrah wajah cantik dan tampan harus bersyukur atas anugrah tersebut. Namun, tidak
semestinya takabur, apalagi dimanfaat untuk kepentingan Adharma. Surupa atau
kemabukan (lupa daratan) karena wajah atau rupa yang tampan, ganteng atau cantik.
Kegantengan atau kecantikan seseorang kadang kala menyebabkan yang bersangkutan
menjadi angkuh, sombong dan tinggi hati. Semestinya kegantengan atau kecantikan
wajah dibarengi dengan perilaku yang baik, budi yang luhur. Orang yang ganteng atau
cantik, hendaknya dapat mengendalikan diri dengan membuang jauh-jauh sikap dan
perilaku yang tidak baik.
Kita tidak boleh sombong bila memiliki wajah tampan atau cantik karena semua itu -
adalah anugrah Sang Hyang Widhi. Kecantikan dan ketampanan itu hendaknya disertai
dengan perilaku yang baik. Kecantikan dan ketampanan itu tidak kekal, dia hanya bersifat
sementara. Bila kita sudah tua hilanglah semua itu yang tinggal hanya badan yang renta,
wajah keriput, tidak memiliki lagi kecantikan /ketampanan, tinggal menunggu kapan
waktunya kita berpulang (meninggal) dan akan terlupakan.
Seseorang yang berprilaku baik akan dikenang sepanjang jaman. Seperti Dewi Sita yang
kecantikannya sulit disamai, tetapi karena prilakunya baik, jujur dan setia kepada
suaminya Sang Rama maka hingga kini beliau dikenang sebagai tokoh yang berbudi
luhur. Walaupun sekian lama berada di puri Alengka, dewi Sita tetap mempertahankan
kesuciannya untuk tidak dijamah oleh Sang Rahwana. Tidak pernah kecantikannya itu
dipergunakan untuk menggoda laki-laki. Tetapi Dewi Sita tetap teguh iman, berbudi luhur
dan sangat taat terhadap kewajibannya sebagai istri Sang Rama.
Demikian pula dengan kita bila memiliki rupa yang cantik/tampan kita harus tetap
berbudi luhur, agar kita tidak terjerumus kehal-hal yang menyimpang dari dharma. Bila
rupa yang cantik/tampan tidak disertai prilaku yang baik sehingga dia menjadi sombong
dan angkuh merasa diri paling cantik/tampan, orang lain diremehkan dan direndahkan.
Inilah yang disebut mabuk surupa.
2.2.2 Dhana

Dhana berarti memiliki kekayaan. Kekayaan sungguh banyak gunanya . Untuk itu, semua
orang berhak memperoleh kekayaan, menyiapkan ketrampilan, disiplin, dan rajin
sembahyang merupakan salah satu untuk memperolehnya. Dhana atau kemabukan (lupa
daratan) karena banyak mempunyai harta benda atau kekayaan. Banyaknya harta benda
yang dimiliki sering kali menyebabkan seseorang menjadi lupa diri, menepuk dada,
angkuh dan sombong dan tidak ingat dengan teman-temannya. Pada hal kepemilikan
harta benda seyogyanya dibarengi dengan dharma, perilaku yang baik sesuai dengan
ajaran agama. Karena itu orang yang memiliki banyak harta benda seyogyanya dapat
menjaga diri, tidak menepuk dada atau tidak sombong dengan harta bendanya.
Orang tua kita bekerja keras tidak kenal lelah, bekerja untuk mendapatkan uang agar
kebutuhan keluarga bisa terpenuhi berbagai cara ditempuh oleh orang-orang untuk
mendapatkan uang. Ada dengan berdagang, ada dengan bekerja menjadi buruh, menjadi
pegawai, menjadi sopir dll. Bagaimana dengan orang yang mendapat uang dari hasil
merampok, mencuri, korupsi atau menipu?
Dalam agama Hindu diajarkan bahwa harta benda itu hendaknya dicari dengan jalan yang
benar berdasarkan dharma dan untuk memenuhi kebutuhan hidup berdasarkan dharma.
Harta yang diperoleh dengan cara yang menyimpang dari dharma dan cara
penggunaannyapun menyimpang dari dharma, misalnya berfoya-foya menghamburkan
uang, menggunakan harta bendanya hanya untuk kepentingan sendiri. Orang yang
demikian menganggap harta benda yang diperolehnya adalah miliknya sendiri. Orang
yang seperti inilah yang disebut mabuk karena harta (dhana).
Dalam agama Hindu juga diajarkan mengenai penggunaan harta benda itu dengan
dharma, yakni: harta benda yang kita miliki hendaknya dibagi tiga. Sepertiga bagian
adalah untuk beryadnya, sepertiga bagian adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan
sepertiganya lagi untuk disimpan dan dikelola untuk persiapan hidup masa depan.
Demikianlah dhana itu agar dicari dengan cara dharma dan untuk memenuhi kebutuhan
hidup berdasarkan dharma pula.

2.2.3 Guna

Guna artinya kepandaian. Kepandaian bagaikan pisau bermata dua, jika berada pada yang
baik mental dan moralnya akan menjadi suatu yang amat berguna, dan jika berada pada
orang yang bermoral brobok maka hancurlah dunia dan segala isinya. Guna atau
kemabukan (lupa daratan) karena mempunyai kepintaran atau kepandaian. Orang yang
pintar juga kadang lupa diri, menganggap orang lain tidak tahu apa-apa. Orang seperti ini
cenderung angkuh dan kurang disukai oleh masyarakat. Oleh karena kepandaian
semestinya dibarengi dengan perbuatan yang baik, disertai dengan budi pekerti yang
luhur. Kepintaran semestinya diamalkan, dipergunakan untuk maksud-maksud yang baik,
sehingga dapat membantu masyarakat yang kurang mempunyai pengetahuan.
Pernahkah kamu menonton tari legong atau sendratari? Tariannya begitu indah bukan?
Keindahan tarian itu disebabkan oleh kepintaran penarinya menarikan tarian itu.
Pernahkah kamu pergi ke musium lukisan? Disana akan kamu lihat lukisan yang sangat
indah dan bagus, harganyapun sangat mahal dan tergantung dari bagus tidaknya lukisan
itu. Lukisan itu bagus karena pelukisnya pandai melukis.
Seorang penyanyi akan mendapat bayaran mahal bila dia bisa bernyanyi dengan baik.
Seorang penyanyi bisa bernyanyi dengan baik karena mereka belajar. Kepandaian itu
sangat penting dan berguna bagi kita. Kepandaian itu dapat mempermudah hidup kita.
Kepandaian menari, menyanyi, melukis dapat mendatangkan uang dan mempermudah
hidup kita.
Bagaimana dengan orang yang menggunakan kepandaiannya untuk hal-hal yang tidak
baik? Misalnya orang pintar merakit bom, setelah bomnya jadi digunakan untuk ngebom
suatu tempat yang menyebabkan rakyat resah dan menimbulkan banyak korban. Orang
yang pandai membuat senjata dan senjatanya itu digunakan untuk merampok. Orang
seperti inilah yang disebut mabuk karena kepandaian.
Dalam ajaran agama Hindu diajarkan agar kepandaian itu untuk digunakan untuk
kepentingan bersama, untuk memajukan bangsa, untuk mengharumkan nama bangsa.
Bukan sebaliknya kepandaian yang di miliki untuk menghancurkan bangsa dan untuk
menyengsarakan orang lain.
Demikianlah bahwa kepandaian itu sangat penting dalam kehidupan kita. Hendaknya
kepandaian itu digunakan untuk hal-hal yang baik berdasarkan dharma.

2.2.4. Kulina

Kulina berarti keturunan. Keturunan di dalam beberapa masyarakat dunia memegang


peranan penting, karena dari keturunan ia akan dikenal siapa sebenarnya dia itu. Orang
dari keturunan keluarga terhormat, seperti putra raja, artis, orang-orang berjasa, berbudi
baik dll. Karena banyak cucunya, sampai anak cucunya menerima pengahargaan
itu. Kulina atau kemabukan (lupa daratan) karena keturunan. Factor keturunan juga sering
mengakibatkan orang lupa diri. Seorang keturunan bangsawan, keturunan raja, kadang
kala juga menganggap remeh orang lain yang tidak seketurunan. Hal ini dapat
menimbulkan kesulitan bagi orang tersebut. Keturunan orang-orang terkenal, berpangkat
atau bangsawan, sebaiknya mempunyai perilaku yang baik, berbudi luhur sejalan dengan
ajaran agama. Mereka seharusnya dapat menjadi panutan dapat memberikan contoh yang
baik terhadap masyarakat sekitarnya.
Keturunan menentukan asal usul seseorang. Seseorang yang berasal dari keturunan yang
baik akan dihormati oleh orang. Keturunan dapat menjadi kebanggaan seseorang, akan
tetapi kebanggaan yang berlebihan akan asal-usul keturunan menyebabkan kita menjadi
sombong dan angkuh. Orang yang merasa diri keturunan bangsawan atau dari keturunan
pejabat merasa lebih tinggi derajadnya dari orang lain. Mereka menganggap orang rendah
dari dirinya, sehingga dia memperlakukan orang dengan seenaknya saja.
Orang seperti inilah yang disebut mabuk karena keturunan (kulina). Orang seperti ini
akan dijauhi oleh teman-temannya. Seseorang yang berasal dari keturunan baik disertai
dengan prilaku yang baik akan dihormati oleh orang lain. Demikianlah keturunan /
kebangsawanan bukan jaminan bagi kita untuk dihargai dan dihormati oleh orang lain.
Tetapi yang terpenting adalah perilaku kita. Darimanapun asal keturunan kita bila
perilaku kita baik sesuai dengan dharma, orang yang demikian akan dihargai dan
dihormati oleh orang lain.

2.2.5. Yohana

Yohana artinya masa remaja/muda. Masa ini penuh gejolak, kreativitas, kekuatan,
kecerdasan, dan keindahan yang sangat hebat. Yohana atau kemabukan (lupa daratan)
karena masa remaja atau masa muda. Anak muda remaja karena kurang pendidikan dan
pengalaman, sering kali lebih menyukai kebebasan dan hura-hura, sering kali sok jagoan
dan suka berkelahi. Sebaikanya semasa masih remaja, anak-anak itu diberi pendidikan
agama yang memadai, diberi pelajaran mengenai etika, bagaimana harus berperilaku di
dalam masyarakat, sebagaimana harus membawa diri dan lain-lain, supaya mereka dapat
menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Masa remaja adalah masa
yang baik untuk mengembangkan diri menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat,
bagi nusa dan bangsa serta agama

2.2.6. Sura

Sura artinya minuman keras. Dalam upacara Hindu, minuman keras diperuntukan bagi
Bhuta Kala, seperti tuak dan brem. Selain minuman tersebut beredar juga minuman keras
lain, seperti bir, whiskey, brendy dll. Yang berakibab buruk bagi kesehatan tubuh. Sura
atau kemabukan (lupa daratan) karena minuman keras. Minuman keras merupakan musuh
yang sangat buruk. Ia dapat membuat orang mabuk, lupa diri dan berbuat yang tidak
sesuai dengan ajaran agama. Karena itu manusia beragama sebaiknya menjauhi minuman
keras.
Pernahkah kamu melihat orang yang mabuk karena minum arak? Orang yang mabuk,
bicaranya ngawur, pikirannya kacau dan sering berbuat diluar kontrol. Sering kita dengar
atau baca dikoran pengendara sepeda motor nabrak pejalan kaki yang sedang menyebrang
disebabkan karena orang itu mabuk.

2.2.7. Kasuran

Kasuran artinya berani. Setiap orang perlu mempunyai keberanian, tanpa keberanian
hidup cenderung menderita. Kasuran atau kemabukan (lupa daratan) karena merasa
mempunyai keberanian. Keneranian kadang kala membuat orang lupa diri. Keberanian
tanpa disertai dengan pikiran yang sehat dan baik dapat mengakibatkan kerugian atau
kesulitan bagi orang lain maupun yang bersangkutan sendiri. Keberanian hendaknya
selalu dilandasi oleh kebenaran dan Dharma, oleh perbuatan yang luhur sesuai dengan
ajaran agama.
Perlukah keberanian itu pada diri kita? Tentu sangat perlu. Orang penakut adalah orang
pengecut. Orang penakut selalu ragu-ragu dalam bertindak karena takut salah, takut
ditertawai, takut dimarahi, takut diejek dll. Orang penakut hidupnya tidak bisa maju.
Keberanian itu perlu kita miliki. Kita harus berani mengambil resiko dari apa yang kita
lakukan kita harus berani mengeluarkan pendapat, kita harus berani membela kebenaran,
kita harus berani menunjukkan karya kita. Seorang pemberani hidupnya selalu bergairah
dan maju.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sapta timira adalah tujuh unsur atau sifat yang menyebabkan pikiran orang menjadi
gelap/mabuk. Dan bagiannya yaitu Surupa adalah rupa yang tampan atau cantik, Dana
adalah harta benda, Guna adalah kepandaian, Kulina adalah keturunan dan
kebangsawanan, Yowana adalah keremajaan, Sura adalah minuman keras, dan Kasuran
adalah keberanian.
Yang mana jika tidak dapat dikendalikan akan memunculkan prilaku-prilaku yang
cenderung memabukan dan berlebihan serta merugikan.

3.2 Saran

Sebagai umat Hindu kita diwajibkan selalu berbhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi
Wasa. Itu dimaksudkan supaya kita selalu mengingat beliau sebagai lambang dharma
yaitu kebenaran, dan selalu ingat untuk melaksanakan dharma atau kebenaran.