Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sekitar pada tahun 2016 pemerintah daerah maupun kota di

Indonesia sedang gencar melakukan perbaikan ataupun membangun

infrastruktur dari perbaikan jalan, jembatan pembangunan

bendungan/waduk maupun lintasan untuk transportasi yang membutuhkan

lintasan sendiri, dengan banyaknya perbaikan dan pembangunan tersebut,

maka timbul juga permasalahan setiap proyek yang ditargetkan harus

selesai tepat pada waktu yang telah disepakati, dengan adanya kesepakatan

tersebut kontraktor pun memutar otak agar proyek dapat terselesaikan

sesuai waktu dan dengan kesesuaian harga yang disepakati pula, dengan

cara seperti ini ada beberapa masalah seperti kualitas material yang belum

sesuai tersebut yang kadang dipaksakan dapat mengakibatkan Penyakit

Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK).

Seperti data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)

Ketenagakerjaan menggambarkan penurunan kecelakaan kerja dari

110.285 kasus di 16.082 perusahaan dari total 296.271 perusahaan yang

terdaftar dengan korban meninggal dunia 530 orang pada tahun 2015

menjadi 101.367 kasus di 17.069 perusahaan dari total 359.724 perusahaan

yang terdaftar dengan korban meninggal dunia sebanyak 2.382 orang

sampai dengan November tahun 2016. Maka agar dapat terlaksananya zero
1
2

accident maupun zero fatality pengurus maupun tenaga kerja perlu adanya

upaya pengendalian, pembinaan, penyuluhan, dan pelatihan tentang K3

dalam bidang konstruksi sehingga dapat dicapai kondisi dan lingkungan

kerja yang aman.

Menurut Peraturan Menakertrans No. PER01/MEN/1980 tentang

kesehatan dan keselamatan kerja pada konstruksi bangunan dengan

semakin meningkatnya pembangunan dengan penggunaan teknologi

modern, harus diimbangi pula dengan upaya keselamatan tenaga kerja atau

orang lain yang berada ditempat kerja.

Salah satu cara kenapa kecelakaan di suatu perusahaan dapat

berkurang atau menurun dan bagaimana suatu kecelakaan dapat

diperkiraan yaitu menggunakan metode analisis risiko menggunakan Job

Safety Analysis (JSA) karena metode ini cukup mudah dan masuk dalam

standar metode yang harus ada dalam sistem K3, setiap kegiatan dalam

produksi harus dicatat atau dimasukan ke dalam Jsa agar mengetahui apa

saja bahaya yang dapat timbul dari kegiatan tersebut . Setelah itu diberikan

juga cara pengendalian pada tiap kegiatan tersebut maka kenapa kecelakan

dan insiden dapat berkurang karena setelah dilakukan analisis kecelakan

yang dapat timbul atau terjadi diberikan suatu cara pencegahan yang sesuai

dengan setiap risiko yang dapat terjadi, karena tidak semua pengendalian

itu sama atau cocok dengan kegiatan maupun insiden.

Maka dari penjelasan diatas menjadi alasan kenapa penulis

memilih metode Job Safety Analysis (JSA) sebagai bahan penelitian pada
3

proses pekerjaan yang ada pada konstruksi yaitu proses pemasangan

bekisting dan pengecoran upper pier head di PT. Adhi Karya Departemen

Light Rail Transit (LRT).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka permasalahan yang

akan dibahas dalam penelitian ini adalah “ Bagaimana menganalisis risiko

bahaya pada proses pemasangan bekisting dan pengecoran upper pier head

di PT. Adhi Karya dengan menggunakan Job Safety Analysis?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui dari identifikasi dan analisis risiko bahaya pada proses

pemasangan bekisting dan pengecoran upper pier head oleh PT. Adhi

Karya.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui bahaya yang dapat terjadi dari pekerjaan proses

pemasangan bekisting dan pengecoran upper pier head.

b. Mengetahui analisis risiko pada proses pemasangan bekisting dan

pengecoran upper pier head.

c. Mengetahui pengendalian yang dapat dilakukan pada proses

pemasangan bekisting dan pengecoran upper pier head.

D. Manfaat Penelitian

1. Perusahaan
4

a. Dapat sebagai bahan pertimbangan saat proses pemasangan

bekisting dan pengecoran upper pier head oleh PT. Adhi

Karya.

b. Dapat mengupayakan rekomendasi pengendalian bahaya pada

proses pemasangan bekisting dan pengecoran upper pier head

oleh PT. Adhi Karya.

c. Memberikan pengetahuan bagi pekerja untuk dapat bekerja

aman pada proses pemasangan bekisting dan pengecoran upper

pier head oleh PT. Adhi Karya.

2. Program Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja

a. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam penerapan upaya-

upaya K3 di dunia konstruksi.

b. Menerapkan kurikulum kompetensi perkuliahan tentang

perbaikan berkesinambungan yang sesuai dengan

perkembangan dan tuntutan dunia kerja di bidang K3.

c. Menambah referensi kepustakaan untuk perkembangan ilmu

pengetahuan dalam bidang perbaikan berkesinambungan dalam

lingkup K3.

3. Mahasiswa

a. Menerapkan ilmu tentang keselamatan dan kesehatan kerja

yang telah didapat dan dipelajari dibangku perkuliahan

khususnya untuk menganalisis permasalahan dan merumuskan

kemungkinan solusi terhadap permasalahan tersebut.


5

b. Mendapatkan pengalaman dalam suatu lingkungan kerja dan

mendapat peluang untuk berlatih menangani permasalahan

dalam perusahaan serta melaksanakan studi perbandingan

antara teori di perkuliahan dengan penerapannya di lapangan.

c. Menumbuhkan dan menciptakan pola berpikir aplikatif yang

berwawasan bagi mahasiswa dalam dunia kerja.