Anda di halaman 1dari 4

DUTA DAKWAH PERTAMA

Sungguh, merupakan kemuliaan besar ketika Rasulullah memilih Mush’ab


untuk mengemban tugas paling mulia dan paling agung di dunia ini, yaitu dakwah
kepada Allah.
Nabi mengutus Mush‘ab ke Madinah al-Munawwarah untuk menjadi duta
dakwah partama, yaitu setelah orang-orang Anshar membai’at Nabi dalam bai’at
pertama. Tugas Mush‘ab adalah memberikan pemahaman dan membacakan al-
Quran kepada mereka. Mush‘ab mendatangi mereka di rumah-rumah mereka
lalu mengajak mereka kepada Islam maka orang-orang masuk Islam dalam jumlah
besar sehingga Islam pun menyebar di Madinah. Mush‘ab menulis surat kepada
Rasulullah meminta izin untuk mendirikan shalat Jum’at bersama mereka maka
beliau mengizinkannya, dan Mush‘ab melakukannya di rumah Bani Khaitsamah.
Kemudian Mush'ab datang kepada Nabi  bersama 75 orang Anshar yang
membai’at beliau pada Bai’atul ‘Aqabah kedua. Dia tinggal di Makkah sesaat
kemudian kembali ke Madinah sebelum Hasbullah tiba di sana. Jadi, Mush‘ab
adalah orang (Muhajirin) pertama yang datang di Madinah.
Dari Ibnu Syihab, ia berkata, “Manakala orang-orang Madinah membai‘at
Nabi  di ‘Aqabah, mereka pulang kepada kaumnya. Mereka mengajak kaumnya
kepada Islam secara rahasia. Mereka membacakan al-Qur'an kepada kaumnya.
Mereka mengutus Mu‘adz bin Afra' dan Rafi’ bin Malik kepada Rasulullah 
maminta beliau agar mengirim seorang laki-laki untuk menyeru manusia kepada
kitab Allah karena peluangnya untuk diikuti sangat besar. Maka, Rasulullah 
mengirim Mush‘ab bin ‘Umair kepada mereka. Mush‘ab mengajak mereka
dengan aman dan Allah memberi hidayah kepada manusia melalui kedua
tangannya sehingga tidak ada kampung dari kampung-kampung Anshar kecuali
pemukanya telah masuk Islam. ‘Amr bin al-Jamuh masuk Islam. Dia
menghamcurkan berhalanya sendiri. Dan orang-orang muslim adalah orang-
orang yang paling mulia di Madinah. Lalu Mush‘ab kembali kepada Rasulullah ,
dan dia dikenal dengan julukan al-Muqri.”
BEGINILAH SEMESTINYA PARA DA’I
Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa As’ad bin Zurarah membawa Mush‘ab
bin ‘Umair ke kampung Bani ‘Abdil Asyhal dan kampung Bani Zhafar. Sa’ad bin
Mu‘adz adalah sepupu As'ad bin Zurarah maka As'ad membawa Mush‘ab masuk
ke sebuah kebun milik Bani Zhafar. Di pinggir sebuah sumur bernama Maraq,
keduanya duduk di dalam kebun dikelilingi oleh orang-orang yang telah masuk
Islam.
Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair adalah dua pemimpin dari Bani
Abdul Asyhal, keduanya adalah pemimpin kaum musyrikin. Ketika keduanya
mendengar tentang kedatangan Mush’ab bin Umair dan aktifitasnya dalam
menyebarkan agama Islam. Sa’ad berkata kepada Usaid, “Janganlah engkau
enggan, pergilah engkau menemui kedua laki-laki tersebut, karena keduanya
datang untuk mempengaruhi rakyat kita yang bodoh dan lemah, maka cegahlah
keduanya untuk melakukan hal yang demikian itu, sebab keduanya telah
memasuki daerah kekuasaan kita. Seandainya As’ad bin Zurarah itu bukan bagian
dari aku, tentulah aku telah menyudahi hal tersebut, dia adalah anak bibiku, dan
aku tidak dapat menemuinya. Kemudian Usaid mengambil alat perangnya, lalu
menemui keduanya (Mush'ab dan As’ad).”
Ketika As’ad bin Zurarah melihat Usaid, ia berkata, “Inilah pemimpin
kaumnya, ia datang menemuimu, maka terangkanlah kebenaran Allah
kepadanya.” Mush’ab berkata, “jika ia duduk aku akan berbicara dengannya.”
Usaid berhenti di hadapan keduanya sambil mencerca seraya berkata, “Apakah
maksud kedatangan kalian berdua ini untuk membodohi rakyat kami yang lemah?
Jika tuan-tuan masih ingin hidup, pergilah sekarang, tinggalkan tempat ini.”
Mush’ab berkata kepadanya dengan gaya simpatik dan menawan yang menjadi
perangainya dalam berdakwah, “Silahkan duduk, lalu dengarkan. Jika engkau
suka pada apa yang kami bicarakan, silakan ambil, dan jika kamu tidak suka, kami
akan menghentikan perbuatan yang tidak kamu sukai?”
Usaid berkata, “Engkau memang pintar!” Lalu ditancapkan lembingnya ke
tanah dan duduk bersama dengan keduanya. Mush’ab mulai membicarakan
tentang Islam dan membacakan ayat-ayat Al-Qur‘an. Keduanya berkata tentang
hal yang hams disebutkan; "Demi Allah, kami telah melihat pancaran Islam pada
wajahnya -sebelum Mush’ab berbicara- yang berseri-seri dan kelunakannya."
Usaid berkata, ”Alangkah bagusnya perkataan ini, dan alangkah indahnya! Apa
yang akan kalian lakukan jika kalian hendak masuk agama ini?" Keduanya berkata
kepada Usaid, "Mandi, menyucikan diri, lalu bersihkan pakaianmu, kemudian
ucapkan dua kalimat syahadat."
Usaid langsung berdiri dan menyucikan badan, serta membersihkan
bajunya, setelah itu ia mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian ia berdiri
untuk melaksanakan shalat dua rakaat." Usaid berkata kepada keduanya,
”Sesungguhnya di belakangku masih ada seorang pemimpin, jika ia mengikuti
kalian berdua, niscaya tidak ada seorang pun dari kaumnya yang akan
menyalahinya, dan sekarang, aku akan mengutus orang itu kepada kalian, dia
adalah Sa’ad bin Mu’adz.”
Kemudian Usaid mengambil tombaknya, lalu pergi menemui Sa’ad dan
kaumnya. Pada waktu itu mereka sedang duduk-duduk di tempat mereka, ketika
Sa’ad melihat kedatanganya, ia berkata, "Demi Allah, Usaid bin Hudhair telah
pergi meninggalkan kalian bukan dengan wajah seperti ini.”
Ketika Usaid berhenti di tempat tersebut, Sa'ad berkata kepadanya, "Apa
yang telah engkau lakukan?” Ia menjawab, "Aku telah berbicara kepada kedua
orang tersebut. Demi Allah, aku tidak melihat keduanya itu berbahaya, aku telah
melarang keduanya, lalu keduanya berkata, ”Kami akan melakukan apa yang
engkau sukai.”
Telah terjadi sebuah peristiwa, ketika Bani Haritsah keluar menemui As’ad bin
Zurarah, mereka hendak membunuhnya, namun setelah itu mereka mengetahui
bahwa ia anak bibimu agar mereka dapat merendahkan dirimu.
Sa’ad pun berdiri dalam kondisi menahan amarah, berjalan tergesa-gesa dengan
keadaan yang menakutkan karena hal yang telah disebutkan kepadanya, yaitu
tentang masalah Bani Haritsah. Ia pun langsung menggenggam tombaknya,
seraya berkata, "Demi Allah, aku belum pernah melihatmu berceloteh tentang
sesuatu." Kemudian Sa’ad keluar bergegas untuk menemui keduanya, namun
ketika tiba di sana ia menemukan keduanya dengan keadaan tenang. Ia mengerti
bahwasanya Usaid hanya ingin ia mendengarkan pembicaraan dari keduanya, lalu
ia berhenti dengan kondisi menahan emosi, seraya berkata kepada As’ad bin
Zurarah, “Demi Allah sekiranya engkau bukan dari sanak kerabatku tentulah aku
menombakmu dengan tombak ini, apakah engkau akan menyelubungi kampung
kami dengan hal-hal yang tidak kami sukai.”
Lalu As’ad berkata kepada Mush’ab, ”Demi Allah telah datang kepadamu
pemimpin kampung ini, jika ia dapat mengikuti ajaranmu tentulah tidak ada
seorang pun dari penduduk ini yang akan menyalahimu." Mush’ab berkata
kepadanya, ”Apakah engkau mau duduk dan mendengarkan kami? Bila ada
sesuatu yang menyenangkan dan kamu sukai, maka engkau dapat mengambil
dan menerimanya. Dan jika kamu kurang berkenan dengannya maka kami akan
menghentikan sesuatu yang tidak kamu sukai tersebut."
Sa’ad menjawab, ”Engkau cerdas.” kemudian ia menancapkan tombaknya ke
tanah, lalu ia pun duduk, kemudian Mush’ab pun memperlihatkan ajaran-ajaran
Islam dan membacakan Al-Qur‘an. Musa bin Uqbah menyebutkan bahwasanya
Mush’ab membaca permulaan surat Az-Zukhruf, keduanya berkata, ”Demi Allah
sebelum Mush’ab mengucapkannya telah terlihat pada raut wajahnya pancaran
keislaman, kami mengetahuinya melalui cahaya muka dan sikap lunaknya.”
Kemudian Sa’ad berkata kepada keduanya, ”Apa yang akan kalian lakukan
jika engkau sekalian masuk Islam dan memeluk agama ini?" Keduanya menjawab,
”Mandi, dan sucikanlah tubuhmu, kemudian sucikan pakaianmu, setelah itu
ucapkan kalimat syahadat, kemudian dilanjutkan dengan shalat dua rakaat.”
Sa’ad pun berdiri bergegas untuk mandi dan mensucikan pakaiannya, kemudian
mengucapkan syahadat, dan shalat dua rakaat, lalu ia mengambil tombaknya
untuk segera kembali ke tempat perkumpulan kaumnya, dan Usaid bin Hudhair
masih berada ditempat itu, ketika orang-orang melihat kedatangannya, mereka
berkata, ”Demi Allah, kami bersumpah, bahwasanya Sa’ad telah kembali dengan
raut wajah yang berbeda sebelum ia meninggalkan kalian.”
Ketika Sa’ad berhenti, ia berkata kepada mereka, ”Apakah kalian
mengetahui keadaanku terhadap kalian?" Mereka menjawab, "Pemimpin kami
dan orang yang lebih utama dari kami dalam hal berpendapat dan memberikan
nasehat yang dapat menjadi berkah buat kami." Ia berkata, ”Sesungguhnya aku
akan mengharamkan diriku untuk berbicara dengan kaum laki-laki dan
perempuan penduduk kampung ini, sehingga kalian beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya." Ia berkata, "Demi Allah, tidaklah seorang laki-laki maupun wanita di
Bani Abdul Asyhal, kecuali ia telah menjadi muslim."
As’ad bin Zurarah dan Mush’ab kembali ke rumah As’ad. Di tempat
tersebut, ia mulai menyebarkan ajaran Islam hingga tidak ada rumah-rumah yang
tersisa kecuali penghuninya telah masuk islam, baik itu laki-laki ataupun
perempuan, kecuali satu orang yaitu Al-Ushairam, namanya adalah Amr bin
Tsabit bin Waqsy, ia telah menunda masuk Islam hingga terjadi Perang Uhud, dan
di situlah ia baru masuk Islam, dan menjadi syahid. Ia seorang yang belum pemah
melaksanakan shalat sama sekali, namun Rasulullah mengabarkan bahwasanya ia
menjadi salah seorang penghuni surga.