Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia terlahir sebagai mahluk sosial yang secara kodrat akan selalu
membutuhkan orang lain sehingga terjalinlah suatu hubungan interpersonal yang
positif. Semua itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kepuasan
hidup. Dalam melakukan hubungan interpersonal dengan orang lain, tidak dapat
dipungkiri bahwa orang lain yang tengah berinteraksi dengan kita dapat dikatakan
sebagai individu yang sehat dalam arti tidak mempunyai suatu gangguan. Namun,
kerap kali kita tidak menyadari, bahwa diantara orang-orang tersebut sebenarnya
ada juga yang menderita suatu gangguan dalam jiwanya, diantaranya gangguan
hubungan sosial. Ironisnya gangguan hubungan sosial sering terabaikan sehingga
terlambat untuk mendapatkan perawatan kesehatan atau bahkan dibiarkan saja
sehingga membuat gangguan jiwa tersebut semakin menjadi parah. Akibatnya,
akan semakin banyak orang yang dikirim ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan
pengobatan dan perawatan.
Insiden mengenai penderita gangguan hubungan sosial dapat dengan mudah
diketahui dari banyak sumber. Saat ini, di Indonesia penderita gangguan jiwa
dalam hal ini gangguan hubungan sosial yaitu sekitar 15% sampai 20% di
kalangan anak-anak dan remaja. Berdasarkan hasil pencatatan jumlah penderita
yang mengalami gangguan jiwa di BPRS Dadi Makassar pada bulan Januari
sampai Maret 2009 sebanyak 2294 orang, halusinasi 1162 orang (50.65 %),
menarik diri 462 orang (20.13 %), waham 130 orang (5.66 %). Berdasarkan data
tersebut dinyatakan bahwa isolasi sosial mengalami peningkatan tiap tahunnya
dan menempati urutan kedua masalah kesehatan jiwa setelah halusinasi. Namun
yang mendapatkan pengobatan jumlahnya kurang dari 20%. Untuk insiden di luar
negeri khususnya wilayah Amerika ditemukan sebanyak 4 juta orang lansia yang
mengalami gangguan hubungan sosial. Menurut data dari Konas II, 2005 bahwa
gangguan jiwa menarik diri berada di urutan ke 7 dari 10 diagnosis keperawatan
terbanyak di RSJ. Saat ini jumlahnya pun semakin meningkat dikarenakan tidak

1
2

adanya penanganan sejak dini yang diterapkan pada seseorang yang mengalami
gangguan hubungan sosial tersebut.
Hal tersebut menyebabkan perubahan kepribadian seseorang tersebut dan
berpengaruh besar terhadap kehidupan sosialnya yakni dalam berinteraksi dengan
orang lain. Dengan adanya gangguan hubungan sosial tersebut menyebabkan
seseorang semakin merasa sendiri, dia akan semakin merasa terkucilkan dan
terbuang dari lingkungan sosialnya. Akibatnya, kompensasi yang dilakukan
adalah dengan menarik diri dari lingkungan. Dengan kondisi yang demikian,
membuat dia kehilangnya semangat dan semakin malas untuk melakukan rutinitas
sehari-hari misalnya mandi, berhias, makan bahkan untuk BAB/BAK tidak pada
tempatnya. Hal ini akan menurunkan activity daily living nya.
Oleh karena itu, gangguan hubungan sosial yang terjadi pada diri seseorang
harus segera ditangani dengan baik. Banyak hal yang dapat dilakukan baik secara
medis ataupun non-medis, diantaranya dengan penggunaan obat-obatan juga
komunikasi terapeutik. Terjalin rasa saling percaya, tidak menarik diri dan lebih
terbuka dengan lingkuan sekitarnya, dapat melakukan komunikasi dengan normal
adalah beberapa hal yang ingin dicapai dalam penanganan gangguan hubungan
sosial melalui metode komunikasi terapeutik. Support keluarga dan orang lain
disekitarnya juga sangat diperlukan bagi seseorang dengan gangguan hubungan
sosial untuk sembuh dan kembali menjadi individu yang normal dan lebih baik
lagi kedepan.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan menarik diri?
2. Apa sajakah faktor predisposisi dari menarik diri?
3. Apa sajakah faktor presipitasi dari menarik diri?
4. Bagaimanakah tanda dan gejala dari menarik diri?
5. Bagaimana manifestasi klinik dari menarik diri?
6. Bagaimana proses terjadinya menarik diri?
7. Apa sajakah sumber koping dan mekanisme koping dari menarik diri?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari menarik diri?
9. Bagaimana asuhan keperawatan yang tepat untuk menarik diri?
3

C. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengerti dan memahami asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan hubungan sosial, menarik diri.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengertian dari menarik diri.
2. Mengetahui faktor predisposisi dari menarik diri.
3. Mengetahui faktor presipitasi dari menarik diri.
4. Mengetahui tanda dan gejala dari menarik diri.
5. Mengetahui manifestasi klinik dari menarik diri.
6. Mengetahui proses terjadinya menarik diri.
7. Mengetahui sumber koping dan mekanisme koping dari menarik diri.
8. Mengetahui penatalaksanaan dari menarik diri.
9. Mengetahui asuhan keperawatan untuk menarik diri.

D. Manfaat
1. Memahami pengertian dari menarik diri.
2. Memahami faktor predisposisi dari menarik diri.
3. Memahami faktor presipitasi dari menarik diri.
4. Memahami manifestasi klinik dari menarik diri.
5. Memahami tanda dan gejala dari menarik diri.
6. Memahami proses terjadinya menarik diri.
7. Memahami sumber koping dan mekanisme koping dari menarik diri.
8. Memahami penatalaksanaan dari menarik diri.
9. Memahami asuhan keperawatan untuk menarik diri.