Anda di halaman 1dari 13

LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUAN SEDIMEN

Lingkungan pengendapan merupakan suatu daerah di permukaan bumi


dimana terdapat sesuatu bahan yang terendapkan atau terdapat suatu deposit.
Lingkungan pengendapan adalah tempat mengendapnya material sedimen beserta
kondisi fisik, kimia, dan biologi yang mencirikan terjadinya mekanisme
pengendapan tertentu (Gould, 1972). Terdapat beberapa tipe lingkungan
pengendapan yang ada di bumi sekarang.

A. Lingkungan pengendapan daratan

Kumpulan dari berbagai lingkungan pengendapan yang ada di darat.

1. Kipas Aluvial (Alluvial fans)


Aluvial fan atau yang biasa disebut kipas aluvial adalah kenampakan
pada mulut lembah yang berbentuk kipas yang merupakan hasil proses
pengendapan atau merupakan akhir dari sistem erosi-deposisi yang dibawa
oleh sungai. Lingkungan ini umumnya berkembang di kaki pegunungan,
dimana air kehilangan energi untuk membawa sendimen ketika melintasi
dataran. Atau dapat diartikan pula bila suatu sungai dengan muatan sedimen
yang besar mengalir dari bukit atau pegunungan, dan masuk ke dataran
rendah, maka akan terjadi perubahan gradien kecepatan yang drastis,
sehingga terjadi pengendapan material yang cepat, yang dikenal sebagai
kipas aluvial, berupa suatu onggokan material lepas, berbentuk seperti
kipas, biasanya terdapat pada suatu dataran di depan suatu gawir.
Biasanya material kasar diendapkan dekat kemiringan lereng,
sementara yang halus terendapkan lebih jauh pada pedataran, tetapi secara
keseluruhan lingkungan ini mengendapkan sendimen-sendimen yang
berukuran besar seperti bongkahan batuan. Alluvial fans umum berada di
daerah kering sampai semi-kering dimana curah hujan jarang tetapi deras,
dan laju erosi besar. Endapan alluvial fan khas akan kwarsa, pasir dan
gravel bersorting buruk. Kipas aluvial ini terdapat di daerah western, USA.

Aluvial fan, western US

2. Lingkungan Fluvial (Fluvial Environments)


Mencakup braided river, sungai bermeander, dan jeram. Saluran-
saluran sungai, ambang sungai, tanggul, dan dataran-dataran banjir adalah
bagian dari lingkungan fluvial. Endapan di saluran-saluran sungai terdiri
dari kwarsa, gravel dengan kebundaran baik, dan pasir. Ambang sungai
terbentuk dari gravel atau pasir, tanggul-tanggul terbuat dari pasir berbutir
halus ataupun lanau. Sementara, dataran-dataran banjir ditutupi oleh
lempung dan lanau.

Sungai tipe Meander

Berdasarkan morfologinya sistem sungai dikelompokan menjadi 4


tipe sungai, sungai lurus (straight), sungai teranyam (braided), sungai
anastomasing, dan sungai kekelok (meandering). Pertama Sungai lurus
(Straight), Sungai lurus umumnya berada pada daerah bertopografi terjal
mempunyai energi aliran kuat atau deras. Energi yang kuat ini berdampak
pada intensitas erosi vertikal yang tinggi, jauh lebih besar dibandingkan
erosi mendatarnya. Kondisi seperti itu membuat sungai jenis ini mempunyai
pengendapan sedimen yang lemah, sehingga alirannya lurus tidak berbelok-
belok (low sinuosity). Kedua Sungai kekelok (Meandering) , pada sungai
tipe ini erosi secara umum lemah sehingga pengendapan sedimen kuat.
Erosi horisontalnya lebih besar dibandingkan erosi vertikal, perbedaan ini
semakin besar pada waktu banjir. Hal ini menyebabkan aliran sungai sering
berpindah tempat secara mendatar. Ini terjadi karena adanya pengikisan tepi
sungai oleh aliran air utama yang pada daerah kelokan sungai pinggir luar
dan pengendapan pada kelokan tepi dalam. Ketiga Sungai teranyam,
Biasanya tipe sungai teranyam ini diapit oleh bukit di kiri dan
kanannya. Endapannya selain berasal dari material sungai juga berasal dari
hasil erosi pada bukit-bukit yang mengapitnya yang kemudian terbawa
masuk ke dalam sungai. Runtunan endapan sungai teranyam ini biasanya
dengan pemilahan dan kelulusan yang baik, sehingga bagus sekali untuk
batuan waduk (reservoir). Keempat Sungai anastomasing, energi alir sungai
tipe ini rendah. Ada perbedaan yang jelas antara sungai teranyam dan sungai
anastomosing. Pada sungai teranyam (braided), aliran sungai menyebar dan
kemudian bersatu kembali menyatu masih dalam lembah sungai tersebut
yang lebar. Sedangkan untuk sungai anastomasing adalah beberapa sungai
yang terbagi menjadi beberapa cabang sungai kecil dan bertemu kembali
pada induk sungai pada jarak tertentu.

3. Lacustrine environments (danau)


Mempunyai karakteristik yang bermacam-macam; besar atau kecil,
dangkal atau dalam; diisi oleh sedimen evaporit, karbonatan,
atau terrigeneous. Sedimen berbutir halus dan bahan organic yang
mengendap pada beberapa danau menghasilkan serpih berlapis yang
mengandung minyak. Endapan ini terakumulasi di tepian atau offshore dan
di dasar danau. Endapan tepian danau biasanya punya ukuran kerikil dan
pasir, pemilahannya baik, berbentuk tepian (beach) atau punggungan
memanjang (bar). Ketika alirna sungai masuk ke danau maka kecepatan dan
energinya menurun dan sedimen yang terbawa akan mengendap dan
menyebar ke arah danau membentuk delta. Pada bagian depan delta
terendapkan sedimen halus dan di dasar terbentuk lapisan-lapisan tipis
laminasi.
Lingkungan Pengendapan Danau

4. Gurun (Aeolian or aolian environments)


Disebut juga eolian deposit yaitu sedimen yang dibawa angin.
Ukuran sedimen ini lebih halus dibandingkan yang dibawa oleh air.
Biasanya berupa daerah luas dengan bukit-bukit dari endapan pasir.
Endapan pasir mempunyai sorting yang baik, kebundaran yang baik, cross-
bedded tanpa adanya asosiasi dengan gravel atau lempung.

Lingkungan Pengendapan Gurun

5. Rawa (Paludal environments)


Rawa adalah daerah di sekitar sungai atau muara sungai yang cukup
besar yang merupakan tanah lumpur dengan kadar air relative tinggi.
Wilayah rawa yang luas terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan
Papua (Irian Jaya). Daerah berawa-rawa terjadi mengikuti perluasan
daratan karena meditasi akuatis. Oleh karena itu, rawa dapat dijumpai pada
tempat-tempat yang syarat-syarat sedimentasi akuatisnya memungkinkan.
Air yang diam dengan tumbuhan hidup didalamnya. Terdapat endapan batu
mbara.

Lingkungan Pengendapan Rawa

B. Lingkungan pengendapan transisi

Lingkungan pengendapan transisi adalah semua lingkungan pengendapan


yang berada atau dekat pada daerah peralihan darat dengan laut.

Lingkungan Pengendapan Transisi

1. Delta
Proses pembentukan delta adalah akibat akumulasi dari sedimen
fluvial (sungai) pada “lacustrine” atau “marine coastline”. Delta merupakan
sebuah lingkungan yang sangat komplek dimana beberapa faktor utama
mengontrol proses distribusi sedimen dan morfologi delta, faktor-faktor
tersebut adalah regime sungai, pasang surut (tide), gelombang, iklim,
kedalaman air dan subsiden (Tucker, 1981). Untuk membentuk sebuah
delta, sungai harus mensuplai sedimen secara cukup untuk membentuk
akumulasi aktif, dalam hal ini prograding system. Secara sederhana ini
berarti bahwa jumlah sedimen yang diendapkan harus lebih banyak
dibandingkan dengan sedimen yang terkena dampak gelombang dan pasang
surut. Dalam beberapa kasus, pengendapan sedimen fluvial ini banyak
berubah karena faktor diatas, sehingga banyak ditemukan variasi
karakteristik pengendapan sedimennya, meliputi distributary channels,
river-mouth bars, interdistributary bays, tidal flat, tidal ridges, beaches,
eolian dunes, swamps, marshes dan evavorites flats (Coleman, 1982).
Ketika sebuah sungai memasuki laut dan terjadi penurunan kecepatan secara
drastis, yang diakibatkan bertemunya arus sungai dengan gelombang, maka
endapan-endapan yang dibawanya akan terendapkan secara cepat dan
terbentuklah sebuah delta. Deposit (endapan) pada delta purba telah diteliti
dalam urutan umur stratigrafi, dan sedimen yang ada di delta sangat penting
dalam pencarian minyak, gas, batubara dan uranium.

Lingkungan pengendapan delta


2. Pantai dan barrier island
Didominasi oleh pasir dengan fauna marine. Barrier islands terpisah
dari pulau utama oleh lagoon. Umumnya berasosiasi dengan endapan tidal
flat. Air tawar yang menuju muara masih dapat terus mengalir hingga
menuju arah laut. Sedimen yang halus terbawa sebagai larutan secara
perlahan-lahan mengendap di dasar laut atau bisa juga diserap oleh
organisme permukaan dan dipisahkan menjadi bulatan-bulatan kecil dan
jatuh ke dasar. Mayoritas sedimen laut yang kasar diendapkan hingga 5-6
km dari daratan setelah disebar oleh arus pantai. Sedimen kasar juga
dijumpai di lepas pantai yang terendapkan saat muka air laut turun. Transfor
sedimen sepanjang pantai merupakan gerakan sedimen di daerah pantai
yang disebabkan oleh gelombang dan arus yang dibangkitkannya (Komar :
1983).
Transfor sedimen ini terjadi di daerah antara gelombang pecah dan
garis pantai akibat sedimen yang dibawanya (Carter, 1993). Menurut
Triatmojo (1999) transfor sedimen sepanjang pantai terdiri dari dua
komponen utama yaitu transfor sedimen dalam bentuk mata gergaji di garis
pantai dan transfor sedimen sepanjang pantai di surf zone. Transfor sedimen
pantai banyak menimbulkan fenomena perubahan dasar perairan seperti
pendangkalan muara sungai erosi pantai perubahan garis pantai dan
sebagainya (Yuwono, 1994).

Lingkungan pengendapan pantai


3. Lagoons
Badan dari air yang menuju darat dari barrier
islands. Lagoons dilindungi dari gelombang laut yang merusak oleh barrier
islands dan mengandung sediment berbutir lebih halus dibandingkan
dengan yang ada di pantai (biasanya lanau dan lumpur). Lagoons juga hadir
di balik reef atau berada di pusat atoll.
Lagun atau Lagoon adalah suatu kawasan berair dangkal yang masih
berhubungan dengan laut lepas, dibatasi oleh suatu punggungan memanjang
(barrier) dan relatif sejajar dengan pantai . Maka dari itu lagun umumnya
tidak luas dan dangkal dengan energi rendah. Akibat terhalang oleh tanggul,
maka pergerakan air di lagun dipengaruhi oleh arus pasang surut yang
keluar/masuk lewat celah tanggul (inlet). Dengan salinitas air dari tawar
(fresh water) sampai sangat asin (hypersalin).
Keragaman salinitas tersebut akibat adanya pengaruh kondisi
hidrologi, iklim dan jenis material batuan yang diendapkan di lagun. Lagun
di daerah kering memiliki salinitas yang lebih tinggi dibanding dengan
lagun di daerah basah (humid), hal ini dikarenakan kurangnya air tawar
yang masuk ke daerah itu.
Berdasarkan batasan-batasan tersebut diatas maka batuan sedimen
lagun sepintas kurang berarti dalam aspek geologi. Akan tetapi bila diamati
lebih rinci mengenai aspek lingkungan pengendapannya, lagun akan dapat
bertindak sebagai penyekat perangkap stratigrafi minyak. Transportasi
material sedimen di lagun dilakukan oleh, air pasang energi ombak, angin
yang dengan sendirinya dikendalikan iklim sehingga akan mempengaruhi
kondisi biologi dan kimia lagun.
Lingkungan Pengendapan Lagoons

4. Tidal flats
Membatasi lagoons, secara periodik mengalami pasang surut
(biasanya 2 kali sehari), mempunyai relief yang rendah, dipotong oleh
saluran yang bermeander. Terdiri dari lapisan-lapisan lempung, lanau, pasir
halus. Stromatolit dapat hadir jika kondisi memungkinkan.

Lingkungan pengendapan pasang surut


C. Lingkungan pengendapan laut

Lingkungan pengendapan laut adalah semua lingkungan pengendapan yang


berada di laut atau samudera.

1. Reefs
Terumbu atau reef merupakan lingkungan yang unik yang sangat berbeda
dari bagian lingkungan pengendapan lainnya di lingkungan paparan (shelf).
Terumbu ini umumnya dijumpai pada bagian pinggir platform paparan luar (outer-
shelf) yang hampir menerus sepanjang arah pantai, sehingga merupakan
penghalang yang efektif terhadap gerakan gelombang yang melintasi paparan
tersebut. Disamping terumbu berkembang seperti massa yang menyusur sepanjang
garis pantai diatas, juga dapat berkembang sebagai “patch” yang terisolir dalam
paparan bagian dalam atau inner-shelf bersifat tahan terhadap gelombang,
strukturnya terbentuk dari kerangka berbahan calcareous dari organisme seperti
koral dan beberapa jenis alga. Kebanyakan reef zaman resen berada pada laut yang
hangat, dangkal, jernih, laut tropis, dengan koordinat antara garis lintang 30oN dan
30oS. Cahaya matahari diperlukan untuk pertumbuhan reef.
Lingkungan pengendapan terumbu karang

2. Continental shelf
Terletak pada tepi kontinen, relative datar (slope < 0.1o), dangkal
(kedalaman kurang dari 200 m), lebarnya mampu mencapai beberapa ratus
meter. Continental shelf ditutupi oleh pasir, lumpur, dan lanau.
3. Continental slope dan continental rise
Terletak pada dasar laut dari continental shelf. Continental
slopeadalah bagian paling curam pada tepi kontinen. Continental
slope melewati dasar laut menuju continental rise, yang punya kemiringan
yang lebih landai. Continental rise adalah pusat pengendapan sedimen yang
tebal akibat dari arus turbidity.
4. Abyssal plain
Merupakan lantai dasar samudera. Pada dasarnya datar dan dilapisi
oleh very fine-grained sediment, tersusun terutama oleh lempung dan sel-
sel organisme mikroskopis seperti foraminifera, radiolarians,dan diatom.
Sumber :

 http://suarageologi.blogspot.co.id/2013/12/lingkungan-pengendapan-
batuan-sedimen.html (Diakses pada 29 September pukul 21.24)
 http://www.gurugeografi.id/2017/03/lingkungan-pengendapan-batuan-
sedimen.html (Diakses pada 29 September pukul 21.59)
 http://arriqofauqi.web.ugm.ac.id/2014/07/08/lingkungan-pengendapan-
batuan-sedimen/ (Diakses pada 29 September pukul 22.09)
 Nichols, Gary. 2009. Sedimentology and Stratigraphy. Wiley-Blackwell. UK
 Hangky. Radolf. 2010. Lingkungan Pengendapan. Tersedia
:http://valentinomalau31.blogspot.com/2010/12/lingkungan-
pengndapan.html. (Diakses pada 23 Maret 2014)

Anda mungkin juga menyukai