Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PENILAIAN PEMBELAJARAN BIOLOGI

KONSTRUKSI INSTRUMEN PENILAIAN


RANAH AFEKTIF DAN SOSIAL

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Penilaian Pembelajaran Biologi
yang diampu oleh:
Prof. Dr. Bambang Subali, M.S.

Disusun oleh:
Fajar Gunadi (14304241014)
Estu Ria Dwi Yulianingsih (14304241019)
Asri Nur Rahmawati (14304241028)
Elisabet Susana Wardani (14304241030)
Lidya Gemi Nastiti (14304244014)

Kelompok 7
Pendidikan Biologi A

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2016

1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hasil belajar menurut Bloom (1976) mencakup prestasi belajar, kecepatan
belajar, dan hasil afektif. Anderson (1981) sependapat dengan Bloom bahwa
karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal dari berpikir, berbuat, dan perasaan.
Tipikal berpikir berkaitan dengan ranah kognitif, tipikal berbuat berkaitan dengan ranah
psikomotor, dan tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif.Ranah afektif
mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai.Ketiga ranah
tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai hasil belajar dalam bidang
pendidikan.
Menurut Popham (1995), ranah afektif menentukan keberhasilan belajar
seseorang. Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk
mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Seseorang yang berminat dalam suatu
mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena
itu semua pendidik harus mampu membangkitkan minat semua peserta didik untuk
mencapai kompetensi yang telah ditentukan.Selain itu ikatan emosional sering
diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan, semangat persatuan, semangat
nasionalisme, rasa sosial, dan sebagainya.Untuk itu semua dalam merancang program
pembelajaran, satuan pendidikan harus memperhatikan ranah afektif.
Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh
kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif
terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu, sehingga
dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Walaupun para pendidik sadar akan
hal ini, namun belum banyak tindakan yang dilakukan pendidik secara sistematik untuk
meningkatkan minat peserta didik. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang
optimal, dalam merancang program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran bagi
peserta didik, pendidik harus memperhatikan karakteristik afektif peserta didik.

2
B. Tujuan
1. Mendeskripsikan konstruksi instrumen asesmen ranah afektif dan sosial dalam
bentuk skala Linkert
2. Mendeskripsikan konstruksi instrumen asesmen ranah afektif dan sosial dalam
bentuk skala Thorstone
3. Mendeskripsikan konstruksi instrumen asesmen ranah afektif dan sosial dalam
bentuk skala Bogardus
4. Mendeskripsikan konstruksi instrumen asesmen ranah afektif dan sosial dalam
bentuk skala Gutman

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Asesmen Ranah Afektif dan Sosial


Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh
kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif
terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu, sehingga
dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Walaupun para pendidik sadar akan
hal ini, namun belum banyak tindakan yang dilakukan pendidik secara sistematik untuk
meningkatkan minat peserta didik. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang
optimal, dalam merancang program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran bagi
peserta didik, pendidik harus memperhatikan karakteristik afektif peserta didik.
Pada versi terbaru, level domain afektif terdiri dari receive, respond, value,
organize, internalize, characterize, wonder, dan aspire menurut Dettmer (2006) (dalam
Wicaksono, 2012: 112-113). Kata operasional pada setiap level domain afektif dan
contohnya dapat dilihat pada tabel berikut.
N
Level Afektif Kata Operasional Contoh
o
1. Receive (menerima) Keterbukaan, Contoh pernyataan
Peserta didik memiliki Kepedulian, padaangket :
keinginanmemperhatikan Perhatian, a. Saya tertarik
suatufenomena khusus Ketertarikan, untukmenjadi
ataustimulus, misalnya Berminat, Dll anggota Biologi
kelas, kegiatan, musik, StudyClub (BSC)
buku, dan sebagainya b. Saya
selalumemperhat
ikan
penjelasanguru
biologi
c. Saya
sulitmemahami
pelajaran biologi.

4
d. Menurut saya,
belajar biologi
sangat penting
2. Respond(menanggapi) Menjawab, Contoh pernyataan
Pada tingkat ini pesertadidik tidak Membantu, padaangket:
sajamemperhatikanfenomenakhus Senang, a. Saya senang
us tetapiia jugabereaksi. Menyesuaikan, membacabuku
Menyambut, biologi.
Melakukan, Dll b. Saya
selalumembantu
teman
yangkesulitan
dalam
pelajaranbiologi
3. Value (nilai) Lengkap, Contoh pernyataan
Valuingmelibatkan Menunjukkan, padaangket:
penentuannilai, keyakinan Membedakan, a. Saya membaca
atausikap Menjelaskan, bukubiologi
yangmenunjukkanderajatinternalis Rendah, minimal 3 kali
asi dankomitmen Bentuk, dalamseminggu.
Memulai, b. Pelajaran
Mengundang, biologisebaiknya
Bergabung, dilakukan
Membenarkan, dengancara
Mengusulkan, praktek lapangan
Membaca,
Laporan,
Pilih,
Berbagi,
Belajar,
Bekerja, Dll
4. Organize (mengatur) Mengatur, Contoh pernyataan

5
Pada tingkat Menggabungkan, padaangket:
organization, nilai satudengan Membandingkan, a. Sayamengatur
nilai lain Lengkap, Membela, waktukhusus
dikaitkan, konflikantarnilai Merumuskan, untuk belajar
diselesaikan, danmulai Generalisasi, biologi dirumah
membangunsistem nilai Mengidentifikasi,
internalyang konsisten Mengintegrasikan,
Memodifikasi,
Ketertiban,
Mempersiapkan,
Berhubungan,
Mensintesis
5. Internalize Bertindak, Contoh pernyataan
(Menginternalisasi) Tampilan, padaangket:
Pengaruh, a. Pembelajaran
Mendengarkan, biologimemberik
Mengubah, an pengaruh
Mempertunjukkan, positifterhadap
Memenuhi syarat, pola hidup saya.
Merevisi, b. Sayaakan
Melayani, mengubah
Memecahkan,Verifik kebiasaanburuk
asi, yang
Dll merusaklingkung
an menjadi
kebiasaan
untuk menjaga
lingkungan.
6. Characterize(Karakter) Mencirikan Contoh pernyataan
Pada tingkat inipeserta Menggolongkan pada angket:
didikmemiliki Menggambarkan a. Pelajaran biologi
sistemnilaiyangmengendalikanper Memberi ciri memberikan saya

6
ilaku sampaipadawaktu Menandakan pemahaman
tertentuhingga terbentukgaya Menunjukkan sifat untuk lebih
hidup mencintai
lingkungan,
sehingga saya
berkomitmen
untuk selalu
menjaga
kebersihan
lingkungan.
b. Saya berolah raga
setiap hari yang
mencirikan saya
menerapkan pola
hidup sehat
7. Wonder (Keingintahuan) Mengagumi Contoh pernyataan
Renungan padaangket:
Bertanya-tanya a. Saya
Berpikir mengagumibetap
Heran a sempurnanya
Ingin tahu Tuhanmenciptak
an sebuah
ekosistemPembel
ajaran biologi
membuatsaya
merasalebih
ingin tahutentana
alam.
b. Jika nilai
biologisaya
rendah, saya
akan

7
berfikiruntuk
mencari strategi
belajar
yang lebih baik.
c. Jika
adafenomena
biologi yang
sayatemui, saya
akan mencari
tahutentang
fenomena
tersebut daribuku
atau bertanya
pada orang.
8. Aspire (cita-cita) Keinginan, Harapan, Contoh pernyataan
Tujuan, pada angket:
Impian, a. Saya berharap
Motivasi pembelajaran
biologi akan
semakin inovatif
dan kreatif.
b. Saya belajar
biologi dengan
rajin supaya bisa
menjadi peneliti
bidang biologi.

Dimodifikasi dari Wilson (dalam Nur’ Aini, 2011: 9)


Domain sosial merupakan versi terbaru dalam damoin tujuan
pendidikan.Domain ini mencakup penilaian terhadap kompetensi sosial siswa dalam
pembelajaran.Pembagian dalam domain sosial adalah menghubungkan (relate),
berkomunikasi (communicate), berpartisipasi (participate), bernegosiasi (negotiate),
memutuskan berdasarkan pertimbangan (adjudicate), berkolaborasi (collaborate),

8
berinisiatif (initiate), mengkonversi ke hal baru (convert).Kata operasional pada setiap
level domain sosial dan contohnya menurut Dettmer (2006) dapat dilihat pada tabel
berikut.

No Aspek Sosial Kata Operasional Contoh


1. Relate (hubungan) Interaksi, Contoh pernyataan pada angket:
Dalam hal ini, Kerjasama, a. Pada saat praktikum di
kompetensi sosial siswa Hubungan, dll laboratorium, saya lebih
dilihat dari hubungan senang bekerja sendiri dari
siswa tersebut dengan pada kerja kelompok.
teman lainnya atau b. Saya hanya berhubungan
kelompok belajar. dengan teman dekat.
2. Communicate Diskusi Bertanya Contoh pernyataan pada angket:
(komunikasi) Argumen/berkomentar a. Setiap bertemu dengan
Kompetensi sosial Membantah teman, saya selalu
siswa dilihat dari Menjelaskan Menyapa tersenyum dan menyapa
bagaimana cara dia Menegur Kritik, dll. mereka.
berkomunikasi dengan b. Setelah selesai pelajaran
teman, guru, dan orang biologi, saya berdikusi
lain. dengan teman mengenai
materi yang belum
dimengerti
3. Participate (partisipasi) Terlibat, Contoh pernyataan pada
Bergabung, dll. angket:
a. Saya terlibat dalam
penyusunan rencana
praktikum tentang sel
sampai pada pembuatan
laporan hasil praktikum
b. Keterlibatan saya dalam
praktikum ini adalah....
c. Saya bergabung dalam

9
Biologi Study Club (BSC)
4. Negotiate (melakukan Tawar-menawar Contoh pernyataan pada
negosiasi) Berunding angket:
Berkonsultasi a. Saya sering berunding
Berurusan dengan teman untuk
Membahas,dll pembagian tugas
5. Adjudicate (mengadili). Menetap Mengatur Contoh pernyataan pada
Memutuskan angket:
Menyelesaikan a. Jika ada teman yang
Menentukan , dll melakukan kesalahan,
saya akan menegur
mereka.
b. Saya menentukan tugas
sendiri dalam kerja
kelompok.
c. Saya suka mengatur
teman saya dalam kerja
kelompok

6. Collaborate (kolaborasi) Bekerja sama Contoh pernyataan pada


Bergabung angket:
Bertemu a. Saya bekerjasama dengan
Berkumpul, dll. teman lain dalam
menyelesaikan tugas
rumah (PR) yang
diberikan oleh guru
biologi.
7. Initiate (memprakarsai) Memulai, Contoh pernyataan pada
Mengajukan, angket:
Mengusulkan, a. Saya mengajukan usulan
Mengembangkan, dalam perencaan kegiatan
Mempelopori, dan inquiri biologi.

10
Menetapkan, dll. b. Saya mempelopori suatu
kelompok ilmiah dalam
biologi
c. Saya memulai kerja
praktek setelah
mendapatkan instruksi
dari guru tanpa harus
diperintah.

8. Convert Mengadaptasi, Contoh pernyataan pada


(membuat perubahan) Mengubah, angket:
Menukar, a. Pembelajaran biologi
Renovasi, dll. memberikan perubahan
pada saya untuk lebih
mencintai lingkungan
alam dan sosial.
b. Saya menerapkan ilmu
biologi dalam lingkungan
tempat saya tinggal
sehingga masyarakat ikut
tertaik untuk lebih
mencintai lingkungan.

Dalam menyusun angket harus memperhatikan skala sikap yang


digunakan.Pengukuran sikap yang dapat digunakan misalnya sebagai berikut.

B. Konstruksi Instrumen Bentuk Skala Linkert


Rensis Likert (1903-1981) adalah seorang pakar psikolog dan pengajar di
Amerika yang melakukan penelitian dalam bentuk model manajemen.Rensis Likert
adalah pendiri dari Universitas Michigan (Institut untuk penelitian sosial) yang didirikan
pada tahun 1946-1970.Di tahun 1932 dia mendapatkan gelar Ph.D di jurusan psikologi

11
dari Colombia University.Dalam tesisnya, Likert membuat sebuah skala survei (Likert
Scales) untuk mengukur etika, dan menunjukkan hal-hal yang dapat memberikan lebih
banyak informasi dibandingkan metode yang kompeten.
Skala Likert umumnya digunakan untuk mengukur sikap atau respons seseorang
terhadap suatu objek.Pengungkapan sikap dengan menggunakan skala Likert sangat
popular di kalangan para ahli psikologi sosial dan para peneliti.Hal ini dikarenakan
selain praktis, skala Likert yang dirancang dengan baik pada umumnya memiliki
reliabilitas yang memuaskan.Skala Likert berwujud kumpulan pertanyaan-pertanyaan
sikap yang ditulis, disusun dan dianalisis sedemikian rupa sehingga respons seseorang
terhadap pertanyaan tersebut dapat diberikan angka (skor) dan kemudian dapat
diinterpretasikan. Skala Likert tidak terdiri dari hanya satu stimulus atau satu pernyataan
saja melainkan selalu berisi banyak item (multiple item measure) (Saifuddin Azwar,
1995).
Sejauhmana suatu skala Likert akan berfungsi seperti yang diharapkan , yaitu
mengungkapkan sikap individu atau sikap kelompok manusia dengan cermat dan
akurat, banyak tergantung pada kelayakan pertanyaan-pertanyaan sikap dalam skala itu
sendiri. Oleh karena itu pernyataan yang dibuat untuk mengukur sikap harus dirancang
dengan hati-hati.Stimulus harus ditulis dan dipilih berdasarkan metode konstruksi yang
benar dan skor terhadap respons seseorang harus diberikan dengan cara-cara yang tepat.
Prosedur penskalaan dengan metodeLikert didasari oleh dua asumsi yaitu:
a. Setiap pernyataan sikap yang telah ditulis dapat disepakati sebagai termasuk
pernyataan yang favorable atau pernyataan yang tidak favorable.
b. Untuk pernyatataan positif, jawaban yang diberikan oleh individu yang memiliki
sikap positif harus diberi bobot atau nilai yang lebih tinggi dari jawaban yang
diberikan oleh responden yang mempunyai sikap negative. Demikian sebaliknya
untuk pernyatataan negatif, jawaban yang diberikan oleh individu yang memiliki
sikap negatif harus diberi bobot atau nilai yang lebih tinggi dari jawaban yang
diberikan oleh responden yang mempunyai sikap positif.Ketika merespon, angket
Likert, responden mengspesifikasikan tingkat pernyataan mereka. Skala ini
dinamakan skala Likert. Bentuk tes padaskala Likert adalah bentuk pernyataan.
Responden mengindikasi tingkat keyakinan mereka dengan pernyataan atau evaluasi
objektif / subjektif.

12
Rentangan yang dipilih dari yang sangat positif sampai sangat negatif, misal
dengan alternatif pilihan mulai dari sangat setuju (SS), setuju (S), ragu-ragu (R),
tidak setuju (T), dan sangat tidak setuju (ST), dapat pula dari yang tidak pernah
sampai yang selalu siswa lakukan sehingga rentangannya mulai dengan tidak pernah
(TP), jarang (J), sering (S), hampir selalu (HS), dan selalu (S)(Bambang Subali,
2011: 53).
Dalam menyusun skala Likert sangat tergantung kemampuan penilai/penyusun
angket dalam merumuskan difinisi variabel yang diukur, merumuskan dimensinya
(apakah bersifat multidimensi) dan merumuskan indikatornya.Jika indikatornya
sudah dirumuskan kemudian disusun penyataannya.Misalnya, ingin diukur
bagaimana persepsi peserta didik terhadap kemandirian dalam belajar, untuk itu
harus dicari indicator-indikator yang relevan. Misal diperoleh indikator yang di
antaranya tentang:
a. Keterlibatan orang lain dalam penetapan waktu belajar (2 item).
b. Keterlibatan orang lain dalam mencari sumber acuan (1 item).
c. dst. (Bambang Subali, 2011: 53)

Contoh

Keterangan :
SS : Sangat setuju
S : Setuju
TS : Tidak setuju
STS: Sangat tidak setuju

13
C. Konstruksi Instrumen Bentuk Skala Thorstone
Salah satu upaya untuk membuat data menjadi data interval pada hasil
pengukuran psikologi adalah dilakukannya proses penskalaan. Proses penskalaan
merupakan penetapan serangkaian angka dalam matrik atau unit satuan yang sama.
Dengan adanya kesamaan matrik, data setelah diskalakan dapat dikenai operasi
matematika sebagaimana ciri data pada level interval. Dengan proses penskalaan ini
dapat menjadi salah satu alternatif pemecahan perdebatan panjang tersebut (Djamari,
2014: 18).
Penskalaan merupakan bagian yang mendasar dalam teori pengukuran (Lord&
Novick, 1968: 22).Teori pengukuran dapat digolongkan menjadi 2, yaitu teori klasik
dan modern yang disebut dengan item response theory (IRT). Penskalaan dengan teori
klasik yang terkenal dilakukan oleh Thurstone, L.,L. (1927) dan Likert, R., (1932).
Thurstone melakukan proses penskalaan dengan menggunakan metode
pairedcomparison dengan mengabaikan asumsi distribusi variasi subjek atau case V
(Guilford, 1954:156, Brown & Peterson, 2009:11). Sementara itu, penskaaan teori
Likert dilakukan dengan metode summated rating (Shaw & Wright, 1967: 24, Dun-
Rankin, et. al. 2004: 105). Proses penskalaan yang dilakukan oleh Thurstone dan Likert
dilakukan dengan mengkonversi skor kasar yang diperoleh melalui skor z. Dengan
proses penskalaan ini jarak antar skor menggunakan satuan yang sama, sehingga data
yang didapatkan menjadi data interval.
Pada skala tipe Thurstone, setiap butir disajikan sebagai stimulus yang harus
dipilih oleh subjek.Stimulus apapun yang dipilih merupakan pilihan yang sesuai dengan
minat, kesukaan, dominansi yang sesuai dengan karakteristik dirinya.Analisis skala ini
terkait dengan masing-masing alternatif jawaban atau stimulus yang dipasangkan.Skor 1
diberikan untuk subjek yang memilih alternatif pernyataan yang diberikan dan skor 0
bagi pernyataan yang tidak dipilih (Djamari, 2014: 19).
Skala thurstone adalah skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk
skala interval. Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci skor menghasilkan
nilai yang berjarak sama. Skala Thurstone terdiri dari 7 katagori, yang paling banyak
bernilai 7 dan yang paling kecil bernilai 1. Skala Thurstone meminta responden untuk
memilih pertanyaan yang ia setujui dari beberapa pernyataan yang menyajikan
pandangan yang berbeda-beda.

14
Skala ini mirip dengan skala Likert karena merupakan suatu instrumen
yang pilihan jawabannya menunjukkan tingkatan. Perbedaan skala Thurstone dengan
skala Likert, pada skala Thurstone rentang skala yang disediakan lebih dari lima
pilihan, dan disarankan sekitar sepuluh pilihan jawaban (misalnya dengan rentang
angka 1 s/d 11 atau a s/d k). Perbedaan skala Thurstone dan Skala Likert ialah pada
skala Thurstone interval yang panjangnya sama memiliki intensitas kekuatan yang
sama, sedangkan pada skala Likert tidak perlu sama.
Menurut Asep Agus Sulaeman (2016: 27) berikut merupakan contoh Skala
Thurstone, minat terhadap pelajaran biologi :
No Pernyataan 7 6 5 4 3 2 1
1. Saya senang belajar biologi
2. Pelajaran biologi bermanfaat
3. Saya berusaha hadir tiap ada jam pelajaran
biologi
4. Saya berusaha memiliki buku pelajaran biologi
5. Pelajaran biologi membosankan
6. Dst.

Panjang instrumen berhubungan dengan masalah kebosanan, yaitu tingkat


kejemuan dalam mengisi instrumen. Lama pengisian instrumen sebaiknya tidak lebih
dari 30 menit. Langkah pertama dalam menulis suatu pertanyaan atau pernyataan adalah
informasi apa yang ingin diperoleh, struktur pertanyaan, dan pemilihan kata-kata.
Pertanyaan yang diajukan jangan sampai bias, yaitu mengarahkan jawaban responden
pada arah tertentu, positif atau negatif.
D. Konstruksi Instrumen Bentuk Skala Bogardus
1. Pengertian
Skala Bogardus disebut juga Bogardus Social Distance atau jarak sosial,
dicetuskan oleh E.S Bogardus pada tahun 1925.Emory S. Bogardus adalah seorang
sosiolog di Amerika Serikat yang pertamakali membakukan konsep skala bogardus
atau penjarakan sosial.Skala Bogardus atau skala jarak sosial, secara kuantitatif skala
ini berupaya untuk mengukur “jarak sosial” antar individu (kelompok) atau sikap
penerimaan terhadap individu (kelompok) lain, mengukur tingkat jarak seseorang

15
yang diharapkan untuk memelihara hubungan orang dengan kelompok lain. Dengan
skala bogardus responden diminta untuk mengisi atau menjawab pertanyaan dari
tujuh pertanyaan untuk melihat jarak sosial terhadap grup etnik lainnya, masing-
masing pertanyaan akan diberi skor dan angka yang lebih tinggi mencerminkan jarak
sosial yang lebih besar (Parillo,Vincent N dan Donoghue,Christopher : 2005).
2. Bentuk
Skala bogardus harus disifatkan sebagai skala kumulatif, artinya bahwa masing-
masing item saling berhubungan sedemikian rupa sehingga seorang responden yang
menunjukan sikap positif terhadap item yang menunjukan jarak sosial yang kecil
dengan sendirinya juga akan memberi jawaban yang positif terhadap hubungan-
hubungan yang menunujukan jarak sosial yang lebih besar.
3. Sifat
Skala Bogardus ini berbentuk pernyataan yang umumnya berisi lima hingga
tujuh pernyataan yangmengungkapkan keintiman yang semakin kuat atau lemah
terhadap suatu kelompok.Disusun dengan menggunakan 7 kategori, yang bergerak
mulai dari yang ekstrim menerima sampai dengan yang ekstrim menolak  Skor 1-
7, dimana skor 1 menunjukkan tidak ada jarak sosial, tidak prejudice.
Pengukuran jarak sosial dinyatakan dalam bentuk kedekatan (nearness) atau
kejauhan (farness).Bila individu menganggap ada perbedaan sosial yang kecil terjadi
kedekatan sosial (social nearness).Begitu juga sebaliknya bila dianggap ada
perbedaan sosial yang besar, maka terjadi kejauhan sosial (social farness).Oleh
karena itu, pengukuran jarak sosial dilakukan dengan memvariasikan derajat, tingkat
pemahaman dan perasaan yang muncul dalam situasi sosial (Bogardus,
1971).Pengukuran jarak sosial umumnya dilakukan untuk mengetahui bagaimana
seorang individu (sebagai anggota suatu kelompok) mau menerima individu atau
kelompok yang berbeda.Pengukuran dilakukan dengan memberikan sejumlah status
atau situasi sosial dari kelompok yang berbeda tersebut, lalu individu diminta untuk
menentukan manakah yang disetujuinya. Data seluruh partisipan digunakan untuk
menentukan urutan situasi tersebutdalam derajat jarak sosialnya, dari tertinggi hingga
terendah ( Willis, 2008).
4. Langkah menyususn skala bogardus

16
Dalam menyusun skala bogardus seorang tokoh yang bernama Komorovsky
membagi dua kategori yang digunakan untuk menyusun skala bogardus. Dua
kategori tersebut antara lain yaitu: vertical social distance (jarak sosial vertikal) dan
horizontal social distance (jarak sosial horisontal). Jarak sosial vertikal mengacu
kepada derajat penerimaan dalam suatu hirarki kelompok sosial, misalnya
berdasarkan tingkat pekerjaan, pendidikan. Jarak sosial horizontal yang dimaksud
oleh Komorovsky sama seperti konsep jarak sosial yang diajukan oleh Bogardus,
yaitu mengenai penilaian perbedaan antara individu sebagai anggota suatukelompok
dengan anggota kelompok lain ( Willis, 2008).

5. Contoh alat ukur perilaku


Contoh penyusunan skala yang baik dalam skala jarak sosial bogardus, skala ini
mencoba mengukur kesediaan orang kulit putih berhubungan dengan kulit hitam.
Skala Jarak Sosial Bogardus
Pertanyaan Jawaban
1. Apakah saudara menerima orang
hitam menikah dengan saudara?
2. Apakah saudara menerima orang
hitam menjadi tetangga saudara?
3. Apakah saudara menerima kulit
hitam sebagai teman satu klub?
4. Apakah saudara menerima orang
hitan bekerja dikantor saudara?
5. Apakah saudara menerima orang
hitam sebagai warga negeri ini?
Skor Total

6. Interpretasi
Dapat di interpretasikan bila seseorang setuju untuk menerima kulit putih
terhadap kulit hitam sebagai keluarga, maka ia pasti juga akan setuju untuk
menerima sebagai sahabat dan situasi lainnya yang kurang intim. Bila seseorang kulit
putih hanya setuju untuk menerima kulit hitam sebagai tetangga, maka ia akan

17
menerima kulit hitam pada situasi lain yang kurang intim dibandingkan tetangga
(yaitu sebagai warga negara dan turis) dan tidak akan menerima kulit hitam pada
situasi yanglebih intim dibandingkan tetangga (teman, sahabat, dan anggota
keluarga).
E. Konstruksi Instrumen Bentuk Skala Gutman
Skala ini dikembangkan oleh Louis Guttman.Skala ini memiliki ciri penting,
yaitu skala ini merupakan skala kumulatif dan skala ini digunakan untuk mengukur satu
dimensi saja dari satu variabel yang multi dimensi, sehingga skala ini mempunyai sifat
undimensional.Skala ini juga disebut dengan metode Scalogram atau analisa skala
(scale analysis).
Skala Guttman sangat baik untuk meyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi
dari sikap atau sifat yang diteliti, yang sering disebut isi universal (universe of content)
atau atribut universal (universe attribute). Sebagaimana skala Thurstone, pernyataan-
pernyataan memiliki bobot yang berbeda, dan jika responden menyetujui pernyataan
yang memiliki bobot lebih berat, maka diharapkan akan menyetujui pernyataan yang
berbobot lebih rendah. Untuk menilai undimensionalnya suatu variabel pada skala ini,
diadakan analisis skalogram untuk mendapatkan koefisien reproduksibilitas (Kr), dan
koefisien skalabilitas (Ks), dimana jika nilai Kr = ≥ 0,90 dan Ks = ≥ 0,60 skala
dianggap bagus (layak).
Akibat adanya penggabungan berbagai dimensi dalam satu skala, peneliti
mungkin menemui kesulitan dalam menafsirkan skor-skor yang diperoleh. Guttman
dengan skala ini bermaksud menetapkan apakah sikap yang sedang diselidiki itu benar-
benar hanya menyangkut satu dimensi saja. Suatu sikap dianggap berdimensi tunggal
hanya jika sikap itu menghasilkan skala kumulatif, yaitu skala yang butir-butirnya
berkaitan satu sama lain sehingga seorang subjek yang setuju dengan pernyataan nomor
2, akan juga setuju dengan pernyataan nomor 1; subjek yang setuju dengan nomor 3,
maka akan juga setuju dengan pernyataan nomor 1 dan 2; dan seterusnya. Jadi
seseorang yang menyetujui pernyataan tertentu dalam skala ini akan mempunyai skor
skala keseluruhan yang lebih tinggi daripada orang yang tidak menyetujui pernyataan
tersebut.
Dalam menyusun skala kumulatif, peneliti harus menentukan terlebih dulu
apakah pernyataan-pernyataan itu membentuk skala berdimensi satu atau tidak.Untuk

18
itu, peneliti terlebih dulu menganalisis reproduksibilitas jawaban-jawaban itu, yaitu
proporsi jawaban yang benar-benar masuk ke dalam pola tertentu.Berdasarkan skor
keseluruhan, dibuatlah ramalan tentang pola jawaban terhadap pernyataan-pernyataan
tertentu.Kemudian pola tanggapan yang sebenarnya diteliti dan diukur, sejauh mana
tanggapan itu dapat dihasilkan dari skor keseluruhan. Salah satu caranya adalah dengan
membagi jumlah total kesalahan dengan jumlah total tanggapan dan hasilnya dipakai
untuk mengurangi angka satu, sehingga diperoleh koefisien reproduksibilitas. Guttman
menyarankan nilai 0,90 sebagai koefisien reproduksibilitas minimal yang diperlukan
untuk serangkaian pernyataan agar dapat dianggap sebagai skala berdimensi tunggal
atau skala kumulatif.

Langkah-langkah untuk membuat skala Guttman adalah sebagai berikut :


1. Susunlah sejumlah pernyataan yang relevan dengan masalah yang ingin
diselidiki
2. Lakukan penelitian permulaan pada sejumlah sampel dari populasi yang akan
diselidiki, sampel yang diselidiki minimal besarnya 50 sampel
3. Jawaban yang diperoleh dianalisis, dan jawaban yang ekstrim dibuang.
Jawaban yang ekstrim adalah jawaban yang disetujui atau tidak disetujui oleh
lebih dari 80% responden
4. Susunlah jawaban pada tabel Guttman
5. Hitunglah koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas
Jadi skala Guttman ialah skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas
(tegas dan konsisten. Misalnya yakin - tidak yakin ; tidak benar-salah; positif –
negative; pernah-belum pernah ; setuju – tidak setuju; dan sebagainya. Penelitian
dengan menggunakan skala Guttman apabila ingin mendapatkan jawaban jelas (tegas)
dan konsisten terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.

19
BAB III
PENUTUP
Aspek afektif berhubungan dengan watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap,
emosi, atau nilaitermasuk di dalamnya menerima, menanggapi, menilai, mengatur,
menginternalisasi, karakter, keingintahuan, dan cita-cita.Aspek sosial berhubungan
dengan hubungan, komunikasi, partisipasi, melakukan negoisasi, mengadili, kolaborasi,
memprakasai, dan membuat perubahan.Konstruksi instrument ranah afektif dan sosial
terdiri dari empat jenis skala yakni skala Linkert, skala Thorstone, skala Bogardus, dan
skala Gutman.

20
DAFTAR PUSTAKA

________.1996. Tes Prestasi :Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Tes Prestasi.


Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
_________. 1999.Dasar-dasar Psikometri. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
_________. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Asep Agus Sulaeman. (2016). Modul Guru Pembelajar Mata Pelajaran Biologi Sekolah
Menengah Atas (SMA) Kelompok Kompetensi G Pengembangan Instrumen
Penilaian.Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) Direktorat Jenderal Guru
dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Azwar, Saifuddin.1995. Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
BambangSubali. 2011. Evaluasi Remidiasi Basic Science. Diakses
melaluihttp://staff.uny.ac.id/sites/default/files/EVALUASI%20REMEDIASI-
basic%20science%202011.pdf pada Minggu, 18 September 2016.
Brown, T.C., & Peterson, G.L. (2009).An enquiry into the method of paired
comparison: reliability, scaling, and Thurstone’s law of comparative Judgment.
Fort Collins:Rocky Mountain Research Station.
Djamari Mardapi. (2014). Penskalaan Instrumen Tipe Thursone Dan Likert Dengan
Pendekatan Teori Modern atau IRT dalam Prosiding Konferensi Ilmiah Tahunan
Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) Tahun 2014. Bali: HEPI UKD
Bali.
Dunn-Runkin, P., Knezek, G. A., Wallace, S., & Zhang, S. (2004).Scaling methods
(2thed). Mahwah: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.
Guilford, J. P. (1954). Psychometric Methods (2nd Edition). Tokyo: Kõgakusha
company, ltd.
Lord, F. M., & Novick, M. R. (1974). Statistical theories of mental test scores. New
York:Addison-Wesley Publishing Company, Inc.
Parillo,Vincent N dan Donoghue,Christopher. 2005. Updating the Bogardus Social
Distance Studies : A New National Survey. The Social Science Journal, Vol 42 :
257-271.

21
Shaw, M. E., & Wright, J. M., (1967).Scales for The Measurement of Attitudes. New
York: McGraw-Hill Book Company.
Willis, Sofyan S. 2008. Remaja dan Masalahnya, Mengupas berbagai bentuk kenakalan
remaja, narkoba, free sex dan pemecahannya. Bandung: Alfabeta

22