Anda di halaman 1dari 47

ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS

PADA KELOMPOK PEKERJA

Disusun oleh Kelompok VI (AJ 1):


Heriberta Tuto Suban (131711123026)
Dwi Ferafurisca Desi (131711123028)
Aris Sucipto (131711123042)
Jupita Ayu Purnamasari (131711123044)
Ungkas Heralmbang (131711123048)
Arsi Susilawati (131711123049)
Muhammad Fathur Rizal (131711123069)

UNIVERSITAS AIRLANGGA
FAKULTAS KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan pada Allah SWT serta junjungan Nabi Besar
Muhammad SAW atas limpahan rahmat dan karunia Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah tentang “Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas
Pada Kelompok Pekerja” . Dalam menyelesaikan makalah ini penulis tidak lupa
mengucapkan terima kasih kepada Ibu Rista Fauziningtyas, S.Kep.,Ns., M.Kep
selaku dosen mata kuliah keperawatan komunitas yang telah membimbing penulis
dalam menyelesaikan makalah.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih
banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca sangat penulis harapkan. Mudah – mudahan makalah ini bermanfaat bagi
kita semua.

Surabaya, 5 Oktober 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Cover...........................................................................................................i
Kata Pengantar..........................................................................................ii
Daftar Isi.....................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................1
1.3 Tujuan................................................................................................2
1.4 Manfaat..............................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian..........................................................................................3
2.2 Ruang Lingkup Kesehatan Kerja......................................................3
2.3 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Kerja....................3
2.4 Upaya Kesehatan Kerja.....................................................................4
2.5 Masalah Kesehatan Yang Lazim Terjadi Pada Kelompok Pekerja....6
2.6 Peran Perawat Kesehatan Kerja........................................................7
2.7 Proses Keperawatan Komunitas Pada Kelompok Pekerja................8
2.8 Alat Pelindung Diri............................................................................12
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Penarapan Kasus...............................................................................19
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan........................................................................................39
4.2 Saran..................................................................................................39
Daftar Pustaka

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Isu kesehatan dan keselamatan kerja terus meningkat seiring dengan
meningkatnya kesadaran pekerja, instansi, perusahaan dan meluasnya
cakupan dan jangkauan pelayanan kesehatan serta adanya tuntutan badan atau
organisasi nasional-internasional akan perlindungan tenaga kerja. Seiring
dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja di Indonesia, angka kejadian
kecelakaan dan penyakit akibat kerja pun cenderung meningkat. Data BPS
hingga Februari 2017, penduduk pekerja di Indonesia 124,54 juta (
https://www.bps.go.id). Data BPJS Ketenagakerjaan hingga akhir tahun 2015
menunjukan angka kejadian kecelakaan kerja masih tinggi yaitu 105.182
kasus dan 2.375 kasus yang mengakibatkan kematian (
https://www.bpjsketenagakerjaan.go.id) dan jumlah kasus penyakit akibat
kerja tahun 2011-2014 adalah 256.091 kasus serta tujuh penyakit tidak
menular pada pekerja adalah hipertensi, DM, PPOK, kanker, obesitas sentral,
penyakit jantung koroner dan stroke (https://www.jamsostek.go.id).
Setiap pekerjaan selalu mengandung potensi risiko bahaya atau masalah
kesehatan. Masalah kesehatan potensial pada pekerja adalah kecelakaan
kerja,penyakit akibat kerja,penyakit tidak menular dan penyakit menular.
Upaya meningkatkan derajat kesehatan dan perlindungan terhadap pekerja
dilakukan perawat dalam lingkup pelayanaan keperawatan komunitas melalui
upaya pencegahan primer,sekunder,dan tersier. Salah satu sasaran pelayanan
keperawatan komunitas adalah pelayanan pada kelompuk khusus. Kelompok
khusus adalah kumpulan individu yang mempunyai kesamaan umur,
permasalahan baik fisik, mental, sosial yang memerlukan bantuan karena
ketidakmampuan dan ketidaktahuan kelompok dalam memelihara kesehatan
terhadap dirinya sendiri. Tenaga kerja merupakan salah satu kelompok
sasaran dalam pelayanan keperawatan komunitas..
Meskipun ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja telah
diatur sedemikian rupa, tetapi dalam praktiknya tidak seperti yang diharapkan

1
begitu banyak faktor di lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan
keselamatan kerja seperti faktor manusia, lingkungan, dan psikologis. Masih
banyak perusahaan yang tidak memenuhi standar keselamatan dan kesehatan
kerja. Melihat begitu tingginya penyakit akibat kerja serta kecelakaan kerja di
Indonesia, maka keperawatan komunitas sebagai bagian integral dari
pelayanan kesehatan profesional perlu melakukan upaya-upaya untuk
meminimalisir terjadinya hal tersebut. Penulis merasa perlu membuat
makalah yang akan membahas mengenai asuhan keperawatan kesehatan
komunitas pada kelompok kerja.

1.2 Rumusan Masalah

Melihat begitu tingginya penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja di


Indonesia,menuntut perawat kesehatan kerja melakukan upaya melalui
pendekatan keperawatan. Bagaimanakah konsep dan asuhan keperawatan
komunitas pada kelompok pekerja?

1. 3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui dan memahami lebih dalam mengenai asuhan keperawatan
pada kelompok khusus kerja.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui konsep komunitas pada kelompok kerja
2. Mengetahui ruang lingkup kesehatan kerja
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan kerja
4. Mengetahui upaya kesehatan kerja
5. Mengetahui masalah kesehatan yang terjadi pada kelompok pekerja
6. Mengetahui peran perawat komunitas pada kelompok pekerja.
7. Menetahui proses keperawatan komunitas pada kelompok kerja
8. Menetahui jenis dan kegunaan alat pelindung diri
1.4 Manfaat
Memberikan informasi dan sumber pengetahuan bagi mahasiswa mengenai
konsep dan proses asuhan keperawatan komunitas pada kelompok khusus
pekerja sehingga dapat menjadi bekal saat melakukan proses asuhan
keperawatan komunitas pada masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1 Pengertian
Menurut American Asociation of Occupational Health Nursing dalam
Utomo (2015), perawatan kesehatan kerja merupakan penerapan prinsip-
prinsip keperawatan dalam memelihara kelestarian kesehatan tenaga kerja
dalam segala bidang pekerjaan.
Perawat kesehatan kerja (Occupational Healt Nursing) adalah praktik
spesialis yang ditunjukan dan diberikan kepada para pekerja dan masyarakat
pekerja yang difokuskan pada upaya promosi, prevensi, dan restorasi
kesehatan pekerja dalam konteks keselamatan dan kesehatan lingkungan kerja
(AAOHN, 1994).
2.2 Ruang Lingkup Kesehatan Kerja
Menurut Efendi & Makhfudli (2009), kesehatan kerja meliputi berbagai
upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya
baik fisik meupun psikis dalam hal cara atau metode, proses, dan kondisi
pekerjaan yang bertujuan untuk:
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat
pekerja di semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental,
maupun kesejahteraan sosialnya.
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang
diakibatkan oleh keadaan atau kondisi lingkungan kerjanya.
3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam
pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-
faktor yang membahayakan kesehatan.
4. Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan
yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.
2.3 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Kerja
Menurut Utomo (2015), terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan
kerja antara lain:
a. Fisika: Kebisingan, getaran, radiasi, suhu, listrik, udara bertekanan,
cahaya.
b. Kimia: cairan, debu, asap, gas, uap, kabut, bau.

3
c. Biologi: serangga, kecoa, tungau, bakteri, virus, jamur, lumut.
d. Mekanik dan ergonomik: sikap tubuh, pergerakan, gerakan berulang.
e. Psikososial: kebimbangan, kebosanan, ketidak harmonisan, bekerja saat
liburan.
2.4 Upaya Kesehatan Kerja
Menurut Utomo (2015), upaya kesehatan kerja merupakan kegiatan pokok
puskesmas yang ditujukan terutama pada masyarakat pekerja informal di
wilayah kerja puskesmas dalam rangka upaya pencegahan dan pemberantasan
penyakit serta kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan
kerja dengan tujuan meningkatnya kemampuan tenaga kerja untuk menolong
dirinya sendiri sehingga terjadi peningkatan status kesehatan dan akhirnya
peningkatan produktivitas kerja melalui upaya kesehatan.
a. Sasaran
Sasaran upaya kesehatan kerja diutamakan pada pekerja informal yang
merupakan lebih separuh dari angkatan kerja, seperti: tenaga kerja lepas,
terutama petani, nelayan, penyelam mutiara, perajin industri kecil/industri
rumah tangga, pekerja bangunan, kaki lima, usaha angkutan terutama
dikota, pekerja wanita khususnya usia muda dsb.
b. Strategi
Upaya kesehatan kerja bagi pekerja dan keluarganya dikembangkan secara
terpadu dan menyeluruh dalam pola pelayanan kesehatan puskesmas dan
rujukanya.
Upaya kesehatan kerja dilakukan melalui pelayanan kesehatan paripurna
dengan penekanan pada: pelayanan kesehatan kerja, keselamatan kerja,
kesehatan lingkungan.
Peningkatan upaya kesehatan kerja dilaksanakan melalui peran serta aktif
masyarakat dengan menggunakan pendekatan PKMD ( Pembangunan
Kesehatan masyarakat Desa)
c. Pelaksanaan
Ciri pokok kegiatan kesehatan kerja adalah
1. Identifikasi masalah:

4
Pemeriksaan kesehatan: pemeriksaan kesehatan awal dan berkala perlu
untuk pekerja, dengan perhatian khusus terhadap organ tubuh tertentu
yang mungkin terkena bahaya akibat kerja, misalnya alat pendengaran
untuk pekerja dilingkungan bising, paru – paru untuk pekerja
dilingkungan kerja berdebu.
Pemeriksaan kasus: pemeriksaan terhadap pekerja yang datang berobat
kepuskesmas atau dirujuk oleh kader kesehatan dengan keluhan
tertentu.
Peninjauan tempat kerja merupakan kegiatan untuk menentukan bahaya
akibat kerja atau masalah kesehatan yang dihadapi oleh tempat
kerjanya. Bahaya dapat berupa fisik, kimiawi, bologis maupun
fisiologis
2. Kegiatan peningkatan (promotif) :
Kegiatan peningkatan bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh
hingga lebih tahan terhadap bahaya akibat kerja dan bahaya kesehatan
lainnya. Kegiatan ini dapat berupa kegiatan perbaikan gizi pekerja
sesuai dengan kebutuhan kalori yang dibutuhkan jenis pekerjaanya.
Kegiatan promotif dapat juga berupa perbaikan lingkungan kerja dan
kegiatan peningkatan kesejahteraan lainnya yang dapat diorganisir
melalui dana sehat dikelompok pekerja informal.
3. Kegiatan pencegahan (preventif) :
Kegiatan pencegahan dapat meliputi berbagai kegiatan antara lain:
a. Penyuluhan / latihan
Penyuluhan tentang bahaya akibat kerja dan latihan tentang cara
kerja yang benar untuk menghindari dari bahaya akibat kerja
misalnya cara penanganan bahaya kimia dan zat berbahaya (terutama
industri kecil).
b. Kegiatan ergonomic
Kegiatan ini terutama ditujukan untuk mencapai kesesuian antara
alat kerja dan pekerjaan agar tidak terjadi stress fisik terhadap
pekerja. Kegiatan terutama diarahkan pada adopsi ergonomic ini
oleh masyarakat.

5
c. Kegiatan monitoring.
Kegiatan monitoring bahaya akibat kerja, sebaiknya dilakukan oleh
anggota kelompok kerja yang terlatih untuk mendeteksi adanya
pencemaran terutama zat kimiawi seperti pestisida.
d. Perbaikan mesin / alat kerja.
Kegiatan ini penting terutama pada industri kecil dan ditujukan
untuk mengurangi pemaparan terhadap bahan – bahan produksi dan
bahaya kecelakaan akibat kerja dengan perbaikan mesin / alat
mekanik.
e. Pemakaian pelindung
Pemakaian alat pelindung harus diusahakan untuk melengkapi usaha
pencegahan yang telah disebutkan diatas.
f. Administrasi
Pemberian cuti setelah 40 jam bekerja, pemberian waktu istirahat
setelah 3 jam bekerja secara terus menerus dan juga rotasi tempet
kerja untuk mencegah kebosanan.
2.5 Masalah Kesehatan Yang Lazim Terjadi Pada Kelompok Pekerja
Masalah kesehatan potensial pada pekerja terdiri dari kecelakaan
kerja,penyakit akibat kerja,penyakit tidak menular,dan penyakit menular.
Menurut teori epidemiological triad, timbulnya penyakit pada manusia
dipengaruhi tiga faktor yaitu :
a. Host (pejamu) :
Pada populasi pekerja yang dikaji umur, jenis kelamin, ras, jenis pekerjaan,
riwayat penyakit, dan kebiasaan/pola sehari-hari, faktor
keturunan,imunitas,dan psikis.

b. Lingkungan :
Kondisi eksternal yang mempengaruhi interaksi antara host dengan agent,
seperti : manajemen, hubungan interpersonal, lingkungan fisik, lingkungan
biologis dan social budaya,norma sekitar tempat bekerja.

6
c. Agent :
1) Fisik: kebisingan, suhu, radiasi, tekanan udara, vibrasi.
2) Biologi: virus, bakteri, mikroorganisme lain.
3) Kimiawi: jumlah dan jenis zat yang sering digunakan.
4) Ergonomi : sikap tubuh saat bekerja.
5) Psikososial: hubungan antar pekerja dan manajemen.
6) Nutrien: jika mengalami kekurangan atau kelebihan akan
mengakibatkan penyakit.
7) Mekanis: gesekan,pukulan,dan tumbukan.
Bila tidak ada keseimbangan interaksi antara host, lingkungan, dan agent
maka akan dapat menyebabkan masalah kesehatan, berikut masalah
kesehatan pada pekerja yang dapat menyebabkan menurunnya
produktivitas kerja yaitu :
1. Penyakit umum yang biasa dialami pekerja : TBC, asma, flu / ISPA,
diabetes mellitus, dan lain-lain.
2. Penyakit yang timbul akibat kerja misalnya : Pneumocosisis,
dermatosis, bronkitis, aspiksia, kerusakan indra pendengaran,
konjungtivitis, keracunan.
3. Nutrisi : Gastritis, gangguan pencernaan, kekurangan/kelebihan nutrisi,
dan lain-lain.
4. Lingkungan kerja yang kurang menunjang peningkatan produktivitas,
misalnya : Suhu yang terlalu panas (heat rash/bintik-bintik pada kulit
akibat panas yang tinggi, heat exhaution/kelelahan akibat panas, heat
cram/kejang panas), suhu yang terlalu dingin (frosbite); kelembaban,
ventilasi; penerangan (gangguan penglihatan/kerusakan mata);
lingkungan yang bising (>85 dB) menyebabkan gangguan
pendengaran/ketulian; terpapar radiasi yang lama berisiko terjadi
kanker; posisi saat kerja yang tidak ergonomis.
5. Keselamatan : Cidera jatuh, fraktur, luka bakar.
6. Psikologis : Stres, kecemasan, kesejahteraan tenaga kerja yang kurang
memadai, sosialisasi antar pekerja yang kurang baik, konflik
managemen.

7
2.6 Peran Perawat Kesehatan Kerja
1. Provider : memberikan perawatan langsung baik individu, kelompok, dan
keluarga pekerja.
2. Case manager : mengkoordinir pelayanan perawatan kesehatan kerja.
3. Advokat : mengembangkan atau membuat usulan kebijakan dalam
pelaksanaan perawatan kesehatan kerja
4. Konsultan
5. Pendidik kesehatan
6. Peneliti : analisis kesehatan pekerja untuk membantu meningkatkan derajat
kesehatan pekerja yang berhubungan dengan kinerja yang dapat
menguntungkan perusahaa
2.7 Intervensi Nasional Terkait Kesehatan Kerja
Di tingkat nasional dikenal Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Nasional (DK3N). Anggota dewan terdiri dari 30 orang, unsur pekerja
diwakili oleh serikat pekerja/buruh (KSPSI, APKABEL, KSBSI dan
FSBDSI), pengusaha oleh asosiasi pengusaha (APINDO). Pada awal tahun
2007 ini DK3N telah berhasil merumuskan Visi, Misi, Kebijakan, Strategi
dan Program kerja Keselam tan Kesehatan Kerja (K3) Nasional. Undang
-undang yang berkaitan dengan kesehatan kerja antara lain meliputi:
1) Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28, menyatakan setiap warga
negara berhak atas pelayanan kesehatan.
2) Undang-undang No.1 Tahun 1970 tent ng Keselamatan Kerja, antara
lain menyatakan pemberi kerja wajib memeriksakan kesehatan pekerja
awal, berkala dan khusus
3) Undang- undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, dalam Pasal
22 ayat (2) tentang Pelaksanaan Kesehatan Lingkungan Kerja, Pasal
23 ayat (1,2,3) tentang Kewajiban Melaksanakan Kesehatan Kerja,
mencakup pelayanan, pencegahan PAK dan syarat kesehatan kerja,
serta Pasal 84 tentang Sangsi Pidana Bagi Yang Tidak Melaksanakan.
4) Undang-und g No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga
Kerja, antara lain menyebutkan bahwa pemberi kerja wajib

8
memberikan perlindungan biaya kecelakaan, kematian, hari tua dan
pemeliharaan kesehatan
5) Undang-undang No.13 Tahun 2003 tentang antara lain
menyebutkan bahwa pemberi Ketenagakerjaan, wajib melindungi
keselamatan pekerja melalui penyelenggaraan upaya keselamatan dan
kesehatan kerja
6) Undang-undang No. 21 Tahun 2003 tentang Pengesahan Konvensi
ILO No. 81.2,3,8 undang tersebut
dilengkapi dengan beberapa peraturan Undang pelaksanaan yang lebih
rinci antara lain adalah:
a) Kepres RI No. 22 Tahun 1993 tentang nyakit yang Timbul
akibat Hubungan Kerja.
b) Instruksi Presiden No. 7 Tahun 1999 tentang Wajib Laporan
Penyakit Akibat Hubungan Kerja
c) Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.Kep 333/MEN/1989
tentang Diagnosis dan Pelaporan Akibat Kerja
d) Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
No.Per.01/MEN/1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit
Akibat Kerja.
2.8 Proses Keperawatan Komunitas Pada Kelompok Pekerja
Berikut 5 tahapan proses keperawatan yang dapat dilaksanakan oleh perawat
komunitas :
1. Pengkajian
a. Core : Jumlah pekerja, umur, riwayat atau perkembangan pekerja,
kebiasaan, perilaku yang ditampilkan, nilai, keyakinan, dan agama, lama
bekerja.
b. Lingkungan fisik : kondisi lingkungan kerja, tingkat kebisingan,
suhu ruangan kerja, radiasi, penerangan, apakah sudah sesuai dengan
ketentuan kesehatan.
c. Pelayanan kesehatan dan sosial : Bagaimana yankes dan sosial
khusus pekerja, seperti ada klinik konsultasi untuk pekerja atau adanya

9
kelompok sosial pekerja, jarak atau sistem rujukan yang digunakan oleh
perusahaan. Adakah jaminan kesehatan yang dimiliki pekerja?
d. Ekonomi : kesejahteraan pekerja sudah sesuai dengan aturan/ diatas
upah minimum daerah. Bagaimana perusahaan menjamin kesejahteraan
pekerjanya.
e. Transportasi dan keamanan : lokasi tempat kerja pekerja, rata-rata jarak
tempuh pekerja, transportasi yang digunakan oleh pekerja, apakah
sudah menggunakan alat pelindung diri dengan baik untuk menghindari
kecelakaan saat bekerja ataupun kecelakaaan saat berlalu lintas.
Bagaimana sistem keamanan perusahaan, bila terjadi bencana misalnya
kebakaran, gempa bumi, banjir, dan lain-lain.
f. Politik dan pemerintahan : Bagaimana dukungan pemerintah setempat
terhadap kesejahteraan dan hak pekerja? Jenis dukungannya? Apakah
ada instruksi/SK yang mengatur/melindungi hak dan kewajiban
pekerja? Bagaimana strategi pemerintah setempat dalam melindungi
hak pekerja?
g. Komunikasi : cara pekerja berkomunikasi dengan pekerja lain, baik
dengan manajemen atau dengan keluarga pekerja, serta media yang
digunakan.
h. Pendidikan : Adakah kesempatan pekerja untuk mengembangkan diri
melalui pendidikan formal atau informal.
i. Rekreasi : Adakah program rekreasi di perusahaan? tempat rekreasi
yang sering digunakan pekerja? Frekuensi? Apakah tersedia
taman/tempat istirahat yang cukup bagi pekerja?apakah tersedia kantin
yang sehat?.
1. Diagnosa Keperawatan
Berikut ini contoh diagnosa keperawatan pada kelompok khusus pekerja,
saudara dapat mengembangkannya dari masalah keperawatan yang ada
dan merujuk pada panduan penulisan diagnosa keperawatan menurut
NANDA.

10
a. Risiko terjadinya gangguan integritas kulit pada pekerja berhubungan
dengan kurangnya kemampuan pekerja dalam melakukan upaya
pencegahan pemaparan terhadap bahan kimia.
b. Risiko terjadinya penurunan kemampuan dalam mengatasi masalah
pada pekerja berhubungan dengan tidak efektifnya koping pekerja
dalam mengatasi masalah atau stres yang dialaminya.
c. Risiko gangguan muskuloskletal pada pekerja berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan pekerja tentang bahaya pengulangan kerja, dan
kurangnya fasilitas perusahaan dalam menjamin keselamatan dan
kesehatan kerja
2. Intervensi Keperawatan
Upaya Pencegahan Primer :
a. Pendidikan kesehatan pada pekerja
b. Peningkatan dan perbaikan gizi pekerja
c. Pemantauan kejiwaan pekerja yang sehat
d. Mendorong perusahaan untuk membuat program rekreasi
e. Memantau penyediaan tempat dan lingkungan kerja yang sehat
f. Memantau pengendalian bahaya akibat kerja
g. Mendorong pekerja untuk menggunakan alat pelindung diri dengan
baik saat bekerja
h. Menyediakan layanan konseling
i. Melatih pekerja teknik menyelesaikan masalah, gizi yang baik, dan
latihan fisik buat pekerja
j. Memberikan dukungan pekerja : bentuk kelompok swabantu pekerja
k. Melayani pemberian immunisasi
Upaya pencegahan sekunder :
a. Deteksi dini adanya masalah kesehatan akibat kerja.
b. Memfasilitasi pemeriksaan kesehatan pekerja secara berkala.
c. Tindakan perawatan segera yang dilanjutkan dengan pembinaan atau
layanan konsultasi pekerja.
Upaya pencegahan tertier :

11
a. Melakukan rehabilitasi (latihan dan pendidikan untuk melatih
kemampuan yang ada).
b. Memotivasi masyarakat dan perusahaan untuk memberdayakan pekerja
yang cacat/sakit akibat kerja.
c. Penempatan pekerja yang cacat/sakit secara selektif; terapi kerja di
rumah sakit.
d. Menyediakan tempat kerja yang sesuai dengan kondisi pekerja saat ini.
e. Melakukan pembinaan lanjutan atau rujukan.
3. Implementasi
Implementasi dilakukan berdasarkan intervensi yang telah disusun dengan
menggunakan empat pendekatan yaitu :
Proses kelompok :
a. Kegiatan dilakukan dengan melibatkan kelompok pekerja seperti
membentuk kelompok peduli pekerja dengan melibatkan serikat pekerja
yang ada di perusahaan tersebut

b. Pendidikan Kesehatan
Peningkatan pendidikan kesehatan pada managemen, pekerja, dan
keluarga pekerja yaitu melalui penyebarluasan informasi kesehatan
melalui berbagai saluran media
c. Kemitraan
Hubungan kerjasama antara dua pihak atau lebih, berdasarkan
kesetaraan, keterbukaan, dan saling menguntungkan untuk mencapai
tujuan bersama berdasarkan atas kesepakatan, prinsip, dan peran
masing-masing (Departemen Kesehatan RI, 2003), misalnya bermitra
dengan masyarakat sekitar perusahaan, pemegang saham, Kementrian
tenaga kerja, Pemerintah Daerah yang ikut berwewenang mengatur
kesejahateraan pekerja.
d. Pemberdayaan masyarakat, melibatkan seluruh pekerja untuk berperan
aktif dalam mengatasi masalah pekerja. Contoh : Pertemuan rutin
pekerja dengan managemen dapat dijadikan media untuk membahas
dan mengatasi masalah pekerja.

12
4. Evaluasi
Perawat komunitas bersama komunitas dapat mengevaluasi semua
implementasi yang telah dilakukan dengan merujuk pada tujuan yang
telah ditetapkan yaitu mencapai kesehatan pekerja yang optimal. Terdapat
tiga pendekatan dalam meninjau ulang jaminan mutu/ evalusia :
Evaluasi Struktur
a. Meninjau ulang mekanisme pelaporan.
b. Menentukan keadekuatan fasilitas fisik.
c. Mengidentifikasi peralatan dan persediaan yang dibutuhkan.
d. Mengidentifikasi kebutuhan kepegawaian yang dibutuhkan dan
kualifikasinya.
e. Menganalisis demografik pekerja dan kebutuhan status kesehatan.
f. Menentukan apakah misi, tujuan, dan objektif program.
Evaluasi Proses
a. Apakah aktivitas promosi kesehatan sesuai dengan kondisi.
b. Apakah program dibentuk untuk memenuhi kebutuhan dilahan kerja.
c. Apakah terdapat pendokumentasian dan pencatatan.
Evaluasi Hasil
a. Apakah tujuan dan objektif yang diharapkan dapat tercapai.
b. Apakah program membawa hasil yang positif.
c. Apakah hasil kesehatan menunjukkan pencegahan penyakit,
meningkatkan kepatuhan terhadap program, meningkatkan
pengetahuan pekerja tentang perawatan diri, mengembalikan fungsi
atau menurunkan ketidaknyamanan.
d. Perbandingan keuntungan dengan biaya program.
e. Kepuasan terhadap kualitas pelayanan promosi kesehatan yang
diterima.
2.9 Alat Pelindung Diri
A. Pengertian APD
Menurut Occupational Safety and Health Administration (OSHA), APD
didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk melindungi pekerja dari
luka atau penyakit yang diakibatkan oleh adanya kontak dengan bahaya

13
(hazard) di tempat kerja, baik yang bersifat kimia, biologis, radiasi, elektrik,
mekanik dan lainnya.
B. Dasar Hukum
1. Undang-undang No.1 tahun 1970
a. Pasal 3 ayat (1) butir f: Dengan peraturan perundangan ditetapkan
syarat-syarat untuk memberikan APD
b. Pasal 9 ayat (1) butir c: Pengurus diwajibkan menunjukkan dan
menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang APD.
c. Pasal 12 butir b: Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan
atau hak tenaga kerja untuk memakai APD.
d. Pasal 14 butir c: Pengurus diwajibkan menyediakan APD secara
cuma-cuma.
2. Permenakertrans No.Per.01/MEN/1981
Pasal 4 ayat (3) menyebutkan kewajiban pengurus menyediakan alat
pelindung diri dan wajib bagi tenaga kerja untuk menggunakannya untuk
pencegahan penyakit akibat kerja.
3. Permenakertrans No.Per.03/MEN/1982
Pasal 2 butir I menyebutkan memberikan nasehat mengenai perencanaan
dan pembuatan tempat kerja, pemilihan alat pelindung diri yang
diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan ditempat kerja.
4. Permenakertrans No.Per.03/Men/1986
Pasal 2 ayat (2) menyebutkan tenaga kerja yang mengelola Pestisida
harus memakai alat-alat pelindung diri yg berupa pakaian kerja, sepatu
lars tinggi, sarung tangan, kacamata pelindung atau pelindung muka dan
pelindung pernafasan.
5. Permenakertrans No. PER.08/MEN/VII/2010 mengenai APD.
C. Fungsi dan Jenis Alat Pelindung Diri
Berikut merupakan fungsi dan jenis alat pelindung diri menurut
Permenakertrans No. PER.08/MEN/VII/2010 mengenai APD.
1. Alat pelindung kepala
Fungsi alat pelindung kepala adalah alat pelindung yang berfungsi
untuk melindungi kepala dari benturan, terantuk, kejatuhan atau

14
terpukul benda tajam atau benda keras yang melayang atau meluncur
di udara, terpapar oleh radiasi panas, api, percikan bahan-bahan kimia,
jasad renik (mikro organisme) dan suhu yang ekstrim.
Jenis alat pelindung kepala terdiri dari helm pengaman (safety helmet),
topi atau tudung kepala, penutup atau pengaman rambut, dan lain-lain.

2. Alat pelindung mata dan muka


Fungsi alat pelindung mata dan muka adalah alat pelindung yang
berfungsi untuk melindungi mata dan muka dari paparan bahan kimia
berbahaya, paparan partikel-partikel yang melayang di udara dan di
badan air, percikan benda-benda kecil, panas, atau uap panas, radiasi
gelombang elektromagnetik yang mengion maupun yang tidak
mengion, pancaran cahaya, benturan atau pukulan benda keras atau
benda tajam.
Jenis alat pelindung mata dan muka terdiri dari kacamata pengaman
(spectacles), goggles, tameng muka (face shield), masker selam,
tameng muka dan kacamata pengaman dalam kesatuan (full face
masker).

15
3. Alat pelindung telinga
Fungsi alat pelindung telinga adalah alat pelindung yang berfungsi
untuk melindungi alat pendengaran terhadap kebisingan atau tekanan.
Jenis alat pelindung telinga terdiri dari sumbat telinga (ear plug) dan
penutup telinga (ear muff).

4. Alat pelindung pernapasan beserta perlengkapannya


Fungsi alat pelindung pernapasan beserta perlengkapannya adalah alat
pelindung yang berfungsi untuk melindungi organ pernapasan dengan
cara menyalurkan udara bersih dan sehat dan/atau menyaring cemaran
bahan kimia, mikro-organisme, partikel yang berupa debu, kabut
(aerosol), uap, asap, gas/ fume, dan sebagainya.
Jenis alat pelindung pernapasan dan perlengkapannya terdiri dari
masker, respirator, Re-breather, Airline respirator, Continues Air
Supply Machine=Air Hose Mask Respirator, tangki selam dan
regulator (Self-Contained Underwater Breathing Apparatus /SCUBA),
Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA), dan emergency
breathing apparatus.

5. Alat pelindung tangan

16
Fungsi pelindung tangan (sarung tangan) adalah alat pelindung yang
berfungsi untuk melindungi tangan dan jari-jari tangan dari pajanan
api, suhu panas, suhu dingin, radiasi elektromagnetik, radiasi mengion,
arus listrik, bahan kimia, benturan, pukulan dan tergores, terinfeksi zat
patogen (virus, bakteri) dan jasad renik.
Jenis pelindung tangan terdiri dari sarung tangan yang terbuat dari
logam, kulit, kain kanvas, kain atau kain berpelapis, karet, dan sarung
tangan yang tahan bahan kimia.

6. Alat pelindung kaki


Fungsi alat pelindung kaki berfungsi untuk melindungi kaki dari
tertimpa atau berbenturan dengan benda-benda berat, tertusuk benda
tajam, terkena cairan panas atau dingin, uap panas, terpajan suhu yang
ekstrim, terkena bahan kimia berbahaya dan jasad renik, tergelincir.
Jenis pelindung kaki berupa sepatu keselamatan pada pekerjaan
peleburan, pengecoran logam, industri, kontruksi bangunan, pekerjaan
yang berpotensi bahaya peledakan, bahaya listrik, tempat kerja yang

17
basah atau licin, bahan kimia dan jasad renik, dan/atau bahaya
binatang dan lain-lain.

18
7. Pakaian pelindung
Fungsi pakaian pelindung berfungsi untuk melindungi badan sebagian
atau seluruh bagian badan dari bahaya temperatur panas atau dingin
yang ekstrim, pajanan api dan benda-benda panas, percikan bahan-
bahan kimia, cairan dan logam panas, uap panas, benturan (impact)
dengan mesin, peralatan dan bahan, tergores, radiasi, binatang, mikro-
organisme patogen dari manusia, binatang, tumbuhan dan lingkungan
seperti virus, bakteri dan jamur.
Jenis pakaian pelindung terdiri dari rompi (Vests), celemek
(Apron/Coveralls), Jacket, dan pakaian pelindung yang menutupi
sebagian atau seluruh bagian badan.

8. Alat pelindung jatuh perorangan


Fungsi alat pelindung jatuh perorangan berfungsi membatasi gerak
pekerja agar tidak masuk ke tempat yang mempunyai potensi jatuh
atau menjaga pekerja berada pada posisi kerja yang diinginkan dalam
keadaan miring maupun tergantung dan menahan serta membatasi
pekerja jatuh sehingga tidak membentur lantai dasar.
Jenis alat pelindung jatuh perorangan terdiri dari sabuk pengaman
tubuh (harness), karabiner, tali koneksi (lanyard), tali pengaman
(safety rope), alat penjepit tali (rope clamp), alat penurun (decender),
alat penahan jatuh bergerak (mobile fall arrester), dan lain-lain.

19
9. Pelampung
Fungsi pelampung berfungsi melindungi pengguna yang bekerja di
atas air atau dipermukaan air agar terhindar dari bahaya tenggelam dan
atau mengatur keterapungan (buoyancy) pengguna agar dapat berada
pada posisi tenggelam (negative buoyant) atau melayang (neutral
buoyant) di dalam air.
Jenis pelampung terdiri dari jaket keselamatan (life jacket), rompi
keselamatan (life vest), rompi pengatur keterapungan (Bouyancy
Control Device).

20
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Penerapan Kasus


1. Contoh kasus
Pada kecamatan gedangan terdapat beberapa desa diantara desa keboan
dimana di desa tersebut terdapat banyak pabrik atau home industri.
Sebagian besar penduduk desa merupakan pekerja pabrik. Dari 305 jiwa
sebanyak 55 % merupakan pekerja laki-laki dan 45 % merupakan
pegawai perempuan. Di desa keboan terdapat satu perusahaan konveksi
yang letaknya tidak jauh dari pemukiman warga dan kebanyakan warga
berkerja di konveksi tersebut. Setelah dilakukan pendataan sesuai dengan
angket didapatkan hasil bahwa sebanyak 57 orang merupakan pegawai
konveksi yang ada di desa tersebut. Pegawai perempuan sebanyak 53%
dan laki-laki sebanyak 47%. Dari 57 perkerja didapatkan hasil yang kerja
kurang dari 2 tahun 30% , 2 – 5 tahun 51% , lebih 5 tahun 19%. Dalam
melakukan aktivitasnya pekerja konveksi yang duduk 96% dan yang
membungkuk 4%. Dari 57 perkerja yang kami kaji didapatkan hasil batuk
44% , rematik 10%, hipertensi 2% , tidak ada 7 % dan lainya 37%.
Perkerja menggunakan APD 11% dan yang tidak 89%. Perkerja yang
yang pernah mendapatkan pelatihan keselamatan kerja 21% dan yang
belum pernah 79%. Pemilik usaha konveksi tidak menyediakan masker
atau APD untuk pegawainya karena menganggap belum dirasa perlu.
Kondisi lingkungan konviksi juga tidak mendukung dimana ventilasi
minim serta banyak tumpukan kain perca.
2. Asuhan Keperawatan Komunitas
a) Winshield Survey
Nama Desa : Desa Keboan
1. Luas Wilayah : 1.220 Ha
2. Batas Wilayah :
a. Utara : Desa Widirejo
b. Selatan : Desa Arum Sari
c. Barat : Desa Budi Jaya
d. Timur : Desa Sidomulyo

21
3. Keadaan geografis : Terletak pada ketinggian ± 15 meter di atas
permukaan air laut dan merupakan daerah dataran
rendah, suhu rata-rata 22 - 340 C.
4. Jumlah kk : 143KK
5. Jumlah penduduk : 575 orang
6. Perumahan :
a. Tua Ya ( ) Tidak ( )
b. Permanen Ya (√) Tidak ( )
c. Semi permanen Ya ( ) Tidak ( )
d. Panggung Ya ( ) Tidak ( )
e. Luas………..m2
7. Air Minum
a. Sumber
( ) PDAM ( )Gali ( )sungai
( ) Sumur () Air Isi Ulang (Galon)
b. Kualitas Air
( ) Jernih ( )Tidak Berbau
( √ ) Berasa dan Berwarna
8. Mandi Cuci Kakus
a. Sarana Kakus
() WC ( ) Kali ( )Laut
( ) Kebun ( )Dll / sebutkan
b. Mandi / Cuci
( ) Sumur ( ) Laut
( ) kali / Sungai () Kamar Mandi
c. Jarak Sumur Dengan WC
( ) <5 Meter () 5-9 Meter ( ) 10 Meter
9. Lingkungan
a. Terbuka ya () Tidak ( )
b. Sempit ya () Tidak ( )
c. Pribadi ya () Tidak ( )
d. Umum ya () Tidak ( )
e. Polusi
- Udara (√)
- Suara ( )
- Bau ()
- Dll ( )
f. () pabrik
( ) Sarana pembuangan limbah pabrik
- ( ) AMDAL
- ( ) Kelaut tanpa diolah
- (√) ke sungai tanpa diolah
- ( ) Dibiarkan Tergenang
g. Sarana pembuangaan limbah rumah tangga
- ( ) ke laut
- ( ) ke sungai
- () ke got

22
- ( ) dibuangkan ke lubang
- () dibiarkan tergenang
h. Pengolahan sampah
- () dibakar
- ( ) dikubur
- () dibuang ke tempat pembuangan sementara
- () dibiarkan berserakan
10. Batas Wilayah
- () Jalan
- (√) Sungai
- ( ) Got
- ( ) Hutan
- ( ) Bukit
- ( ) Bersih
- ( ) Laut
11. Sarana Transportasi
a. Jalan
Aspal () Kerikil ( )
Tanah ( ) Jalan setapak ()
Berlumpur ( )
b. Transportasi
- Mobil pribadi ( ) Umum ()
- Motor Pribadi () Ojek ( )
- Sepeda ) Boat ( )
- Becak ( ) Dll (……….)
12. Pusat pelayanan
a. Pelayanan kesehatan
() Puskesmas ( ) Pustu
( ) Polindes ( ) Klinik
( ) Dokter Praktek ( ) Praktek Bidan
() Posyandu
b. Sekolah
() PAUD () SD/MDA/MI
( ) SMP/MTS/Pesantren ( ) SMU/MAN

c. Tempat Ibadah
() Masjid ( ) Surau / langgar
() Gereja ( ) Vihara
( ) Pura
d. Tempat rekreasi
() Pantai
() Tempat Fasilitas Umum / taman Rekreasi
( ) Fasilitas Olahraga
13. Toko / Warung
a. Jenis
( ) Minimarket ( ) Supermarket

23
()Toko ( ) Restoran
() Warung ( ) Kaki lima
b. Kepemilikan
( ) Pemerintahan
( ) Swasta PT/CV` () Pribadi
c. Sarana menuju fasilitas social
() Jalan kaki
() Transportasi Darat (Mobil/Motor)
( ) Becak
( ) Transportasi Air
14. Orang yang sering dijumpai di jalanan
a. Usia
( ) Anak ( ) Remaja () Dewasa
b. Penampilan fisik
Rapi (√) ( ) Tidak
Kurus () ( ) Tidak (pada Balita)
Perut Buncit ( ) Pada Anak
15. Kultur
a. Suku
( ) Melayu () Jawa
( ) Minang ( ) Tionghoa
b. Bahasa
() Nasional
() Daerah
( ) Dll

c. Tradisi Khusus
Sesajen ( )
Dll (…………………..)
d. Bagaimana mengartikan kesehatan
() Berobat ke Yankes
( ) Berobat ke Dukun
16. Kesehatan
a. Ada anggota masyarakat yang sakit
( ) Bayi ( ) Balita
( ) Anak ( ) Remaja
(√) Dewasa ( ) Lansia
b. Waktu Sakit
() Lama lebih kurang 7 hari
( ) Baru
( ) Baru Sembuh
17. Politik Dan Pemerintahan
a. Struktur dan organisasi masyarakat
( ) LKMD (√ ) PKK
( ) Dasawisma () Karang Taruna
() Remaja Mesjid ( ) PARPOL
18. Komunikasi

24
a. Bagaimana Komunikasi di Komunikasikan
() Dari mulut ke mulut
( ) Hubungan berkeliling / geng
() Hubungan masjid
( ) Papan pengumuman
b. Jenis Area Pertemuan Kelompok
() Balai Desa
Dll (…………………………….)
c. Sarana
( ) TV ( ) Radio
( ) Majalah ( ) Koran
( ) Papan pengumuman (√ ) DLL (Secara Lisan)

b) Data Observasi
1. Lingkungan Fisik
1. Didalam konveksi memiliki pencahayaan dan kurang ventilasi hanya
ada beberapa alat pertukaran udara di tempat kerja. Suhu di tempat
kerja lembab. Banyak polusi udara di dalam ruangan karena debu yang
menempel pada tumpukan kain serta debu halus dari pemotongan kain.
Hampir keseluruhan pegawai tidak menggunakan masker. Area kerja
yang bising karena mesin yang digunakan dan suara musik yang terlalu
kencang tidak ada yang menggunakan pelindung telinga. Dari 57
perkerja yang kami kaji didapatkan hasil mengatakan ada polusi 100%
(debu halus potongan kain). Dari 57 perkerja yang kami kaji didapatkan
hasil penerangan kurang 2%, dan cukup 98%. Dari 57 perkerja yang
kami kaji didapatkan hasil ventilasi baik 49% dan ventilasi buruk 51%.
Dari 57 perkerja yang kami kaji didapatkan hasil bising 100%. Dari 57
perkerja yang kami kaji didapatkan hasil pengolahan limbah ditimbun
79% , dibakar 21% dan disungai 6%.
2. Keamanan Dan Transportasi
Apabila terjadi kebakaran akses menuju tempat konveksi sangat mudah
tetapi di dalam konveksi tidak terdapat alat pemadam kebakaran. Sebagian
besar pegawai berangkat ke tempat kerja menggunakan sepeda dan motor.
Dari 57 perkerja yang kami kaji didapatkan hasil mengatakan tidak ada
pemadam kebakaran.
c) Data Pekerja
1. Terdapat sebanyak 57 orang pekerja konveksi.
2. Agama : mayoritas islam
3. Data statistik: Berdasarkan informasi dari hasil pengkajian

25
a. Dari 57 perkerja didapatkan hasil yang kerja kurang dari 2 tahun 30%,
2 – 5 tahun 51% , lebih 5 tahun 19%.
b. Dari 57 pekerja didapatkan sebanyak 75 % berusia 20-40 thn, dan
sebanyak 25 % berusia 40-55 thn.
c. Pegawai perempuan sebanyak 53% dan laki-laki sebanyak 47%
4. Berdasarkan hasil wawancara, penghasilan rata- rata karyawan
Rp.800.000 – Rp. 1.200.000. Karyawan tidak mendapatkan uang transport
maupun uang makan.
d) Data Kesehatan
Di tempat kerja tidak terdapat klinik untuk karyawan yang sakit ataupun
klinik untuk konsultasi. Karyawan konveksi mengatakan apabila ada yang
sakit langsung dibawa ke puskesma. Jarak tempuh antara tempat konveksi
dengan fasilitas kesehatan ± 5 Km. Seluruh karyawan tidak mendapatkan
asuransi kesehatan. Pemilik konveksi tidak menyediakan APD. Pegawai
mengatakan tidak ada pemeriksaan kesehatan berkala.
1. Dari 57 perkerja yang kami kaji didapatkan hasil yang sudah pernah
mengalami kecelakaan 39% dan belum pernah 61%.
2. Dari 57 perkerja yang kami kaji didapatkan hasil batuk 44% , rematik
10%, hipertensi 2% , tidak ada 7 % dan lainya 37%.
e) Pola Kebiasaan
Dari 57 perkerja yang kami kaji didapatkan hasil merokok saat kerja 23% dan
tidak merokok 77%. Dalam melakukan aktivitasnya pekerja konveksi yang
duduk 96% dan yang membungkuk 4%. Perkerja menggunakan APD 11%
dan yang tidak 89% (khususnya ADP berupa masker). Sebanyak 34 % dari
pekerja yang sering mengonsumsi suplemen penambah tenaga. Pegawai
pabrik mengatakan tidak mengetahui dampak tidak menggukan APD. Saat
dilakukan wawancara pekerja juga mengatakan tidak mengetahui dampak
dari sering terpajan bising.
f) Usaha-usaha Institusi
Tingkat pendidikan perkerja rata-rata adalah lulusan SMA dimana sebanyak
75 %, sedangkan lulusan SMP sebanyak 15 %, SD sebanyak 10%. Dari 57
perkerja yang kami kaji didapatkan hasil belum pernah mendapatkan
pendidikan APD 79%. Dari 57 perkerja yang kami kaji didapatkan hasil yang
pernah mendapatkan pelatihan keselamatan kerja 21% dan yang belum
pernah 79%. Dari 57 perkerja didapatkan hasil yang mengetahui P3K 56%
dan tidak mengetahui 44%. Dari data diatas dapat diketahui bahwa belum ada

26
usaha pencegahat dari institusi. Menurut hasil wawancara dengan pekerja,
selama ini tidak ada dukungan apapun mengenai kesejahteraan pekerja dari
perusahaan dan pemerintah.

27
A. Analisa Data
No. Data Masalah
1. Studi Dokumentasi : Domain 1 Promosi kesehatan
Dari 57 pekerja yang sudah pernah Kelas 2 Manajemen
mengalami kecelakaan 39% kesehatan
Hasil angket : Perilaku kesehatan cenderung
1. Tidak ada yang menerima pelatihan beresiko (00188)
keselamatan kerja.
2. Dari 57 perkerja didapatkan hasil
yang belum pernah menerima
pelatihan 79%.
3. Dari 57 pekerja yang belum pernah
mendapatkan pendidikan APD 79%
Hasil wawancara :
1. Karyawan tidak mengetahui bahaya
apa yang dapat terjadi jika tidak
menggunakan APD.
2. Seluruh karyawan tidak mendapatkan
asuransi kesehatan.
Hasil observasi lapangan :
1. Tidak ada klinik di area kerja
2. Pekerja tidak menggunakan APD
3. Pekerja tidak menggunakan masker
saat bekerja
2. Studi Dokumentasi : Domain 1 Promosi kesehatan
Dari 57 perkerja yang kami kaji Kelas 2 Manajemen
didapatkan hasil batuk 44%. kesehatan
Hasil angket : Ketidak efektifan
1. Dari 57 pekerja yang belum pernah pemeliharaan kesehatan
mendapatkan pendidikan APD 79% (00099)
2. Dari 57 perkerja yang kami kaji
didapatkan hasil mengatakan ada
polusi 100% (debu halus potongan
kain).
3. Dari 57 perkerja yang kami kaji
didapatkan hasil ventilasi baik 49%
dan ventilasi buruk 51%.
4. Pengolahan limbah ditimbun 79%
(kain).
5. Sebanyak 25 % berusia 40-55 thn.
6. Pekerja yang bekerja lebih 5 tahun
19%.
7. Dari 57 perkerja yang kami kaji

28
didapatkan hasil bising 100%.
Hasil observasi lapangan :
1. Pekerja tidak menggunakan masker
saat bekerja
2. Semua pekerja terpajan zat-zat
berbahaya (Debu Kain)
3. Disemua tempat kerja berpolusi serta
pegawai yang merokok saat berkerja
4. Tempat kerja bising dan tidak ada
karyawan yang menggunakan
pelindung telinga.
Hasil Wawancara :
1. Pekerja tidak tahu bahaya terpapar
bising yang berlebih
2. Pekerja tidak mengetahui bahaya
tidak menggunakan APD.
3. Studi Dokumentasi : Domain 1 Promosi kesehatan
Dari 57 perkerja yang kami kaji Kelas 2 Manajemen
didapatkan hasil batuk 44%. kesehatan
Hasil Angket : Ketidakefektifan manajemen
1. Dari 57 pekerja yang belum pernah kesehatan (00078)
mendapatkan pendidikan APD 79%
2. Pengolahan limbah ditimbun 79%
(kain).
Hasil Observasi:
1. Seluruh karyawan tidak mendapatkan
asuransi kesehatan.
2. Tidak ada alat pemadam kebakaran
3. Di tempat kerja tidak terdapat klinik
untuk karyawan yang sakit ataupun
klinik untuk konsultasi
4. Pemilik konveksi tidak menyediakan
APD.
Hasil Wawancara :
1. Pegawai pabrik mengatakan tidak
mendapat asuransi kesehatan.
2. Pegawai pabrik mngatakan tidak
mendapat APD.
3. Pegawai mengatakan tidak ada
pemeriksaan kesehatan berkala.

B. Skoring Prioritas Masalah


PRIORITAS MASALAH (STANHOPE & LANCASTER)

29
Pentingnya Perubahan Penyelesaian
penyelesaian (+) untuk untuk
masalah penyelesaian peningkatan
Diagnosa di komunitas kualitas
1. Rendah Total
keperawatan hidup
2. Sedang 0. Tidak ada score
komunitas
3. Tinggi 1. Rendah 0. Tidak ada
2. Sedang 1. Rendah
3. Tinggi 2. Sedang
3. Tinggi
Domain 1
Promosi
kesehatan
Kelas 2
Manajemen 3 2 1 6
kesehatan
Perilaku
kesehatan
cenderung
beresiko (00188)
Domain 1
Promosi
kesehatan
Kelas 2
Manajemen
kesehatan 2 1 2 4
Ketidak
efektifan
pemeliharaan
kesehatan
(00099)
Domain 1
Promosi
kesehatan
Kelas 2
Manajemen 3 2 2 12
kesehatan
Ketidakefektifan
manajemen
kesehatan
(00078)

C. Prioritas Masalah

30
No
Diagnosa Keperawatan Jumlah
Prioritas
1 Ketidakefektifan manajemen kesehatan 12
2 Perilaku kesehatan cenderung beresiko 6
3 Ketidak efektifan pemeliharaan kesehatan 4

31
D. Intervensi Keperawatan
NO Diagnosa NOC NIC
1. Ketidakefektifan Prevensi Primer: Prevensi Primer:
manajemen Domain IV Domain 7; Komunitas
kesehatan Pengetahuan kese Kelas c; Peningkatan
hatan dan perilaku. kesehatan komunitas
(00078)
Kelas S; Pengetahuan 1. 5510:Pendidikan
kesehatan Kesehatan
Level 3: Outcome Prevensi Primer:
1. 1803:Pengetahuan; Domain 3: Perilaku
proses penyakit . Kelas S; Edukasi klien
2. 1805:Pengetahuan; 1. 5510:Pendidikan
perilaku sehat . kesehatan
3. 1823:Pengetahuan; 2. 5520:Memfasilitasi
promosi kesehatan . pembelajaran
4. 1855:Pengetahuan; 3. 5604 Pengajaran
gaya hidup sehat. kelompok
5618:Pengajaran
prosedur/tindakan
Prevensi Sekunder Prevensi Sekunder
Domain IV Domain 4; Keamanan
Pengetahuan Kelas V; Manajemen
kesehatan dan resiko
perilaku. 1. 6480:Manajemen
Kelas T; Kontrol lingkungan
resiko dan keamanan 2. 6489:Manajemen
Level 3: Outcome lingkungan :
1.1911:Perilaku keselamatan
keamanan pribadi 3. 6486:Manajemen
2.1902:Kontrol resiko lingkungan; keamanan
3.1908:Deteksi resiko 4. 6500:Pengaturan
Kelas Q : Perilaku pencegahan kebakaran
Sehat
Level 3 : Outcome
1. 1600 : Perilaku
patuh (berperilaku
aktif)
2. 1606 : Partisipasi
dalam keputusan
perawatan
kesehatan.

32
Prevensi Tersier Prevensi Tersier
Domain VII; Domain 7: Komunitas,
Kesehatan Komunitas Kelas D: Manajemen
Kelas CC; resiko komunitas.
Perlindungan Level 3: Intervensi
Kesehatan Komunitas 1. 6489: Manajemen
Level 3: Outcome lingkungan;
1. 2804 : Kesiapan keselamatan pekerja
komunitas terhadap 2. 6520: Skrining
bencana. kesehatan
2. 2807:Keefektifan 3. 8880: Perlindungan
skrining kesehatan lingkungan yang
komunitas beresiko
3. 2808:Keefektifan 4. 6610: Identifikasi
program komunitas resiko
Kelas R : Kepercayaan 5. 8840 : Persiapan
tentang kesehatan bencana di
Level 3 : Outcome masyarakat.
1. 1702 : Kepercayaan Prevensi Primer:
mengenai Domain 7; Komunitas
kesehatan : kontrol Kelas c; Peningkatan
yang diterima kesehatan komunitas
2. 1704 : Kepercayaan 1. 7970:Monitor Kebijakan
mengenai Kesehatan
kesehatan : ancaman 2. 8700:Pengmbangan
yang dirasakan Program

33
NO Diagnosa NOC NIC
2 Perilaku Prevensi Primer: Prevensi Primer:
kesehatan Domain IV; Domain 3: Perilaku
cenderung Pengetahuan kesehatan Kelas S; Edukasi klien
dan perilaku. 1. 5510:Pendidikan
beresiko (00188)
Kelas S; Pengetahuan kesehatan
tentang kesehatan 2. 5520:Memfasilitasi
1. 1805:Pengetahuan; pembelajaran
perilaku sehat . 3. 5604 Pengajaran
2. 1832:Pengetahuan; kelompok
promosi kesehatan. 4. 5618:Pengajaran
3. 1855:Pengetahuan; prosedur/tindakan
gaya hidup sehat .
Domain 7; Komunitas
Kelas Q; Perilaku Kelas C; Promosi
sehat kesehatan komunitas
1. 1600:Kepatuhan 1. 8750: Pemasaran sosial
perilaku di masyarakat
2. 1602Perilaku
promosi kesehatan .
3. 1603:Pencarian
perilaku sehat
4. 1606Partisipasi
dalam pengambilan
keputusan
perawatan
kesehatan.

34
Prevensi Sekunder Prevensi sekunder
Kelas T; Kontrol Domain 3; Perilaku
resiko dan keamanan Kelas O; Terapi perilaku
Level 3: Outcome Level 3; Intervensi
1. 1902:Kontrol 1. 4310: Terapi aktifitas
resiko. 2. 4350:Manajemen
2. 1934:Keamanan perilaku
dan kesehatan serta 3. 4360:Modifikasi
perawatan perilaku
lingkungan.
Domain V; Kesehatan Domain 4; Keamanan
yang dirasakan. Kelas V; Manajemen
Kelas U; Kesehatan resiko
dan Kualitas Hidup 5. Manajemen lingkungan
Level 3: Outcome (6480).
1. 2008:Status 6. Manajemen
kenyamanan . lingkungan; keamanan
2. 2009:Status (6486).
kenyamanan; 7. Surveilance (6650).
lingkungan .
3. 2006:Status Domain 6; Sistem
kesehatan individu . kesehatan
4. 2000:Kualitas hidup Kelas Y; Mediasi terhadap
5. 2005:Status sistem
kesehatan peserta kesehatan
didik 1. 7320:Manajemen kasus
Domain VII; 2. 7400:Panduan sistem
Kesehatan komunitas kesehatan
Kelas BB; Weel Being
komunitas Kelas A; Manajemen
Level 3: Outcome sistem kesehatan
1. 2701:Status 1. 7620:Pengontrolan
kesehatan berkala
komunitas . 2. 7726:Preceptor; peserta
2. 2700:Kompetensi didik
komunitas .

Kelas CC; Proteksi


kesehatan komunitas.
Level 3: Intervensi
1. 2807:Efektifitas
skrining kesehatan
komunitas .
2. 2808:Efektifitas
program komunitas

35
Prevensi Tersier Prevensi Tersier
Domain VII; Domain 7: Komunitas,
Kesehatan Komunitas Kelas D: Manajemen
Kelas CC; resiko komunitas.
Perlindungan Level 3: Intervensi
Kesehatan Komunitas 1. 6484: Manajemen
Level 3: Outcome lingkungan; komunitas
1.2807:Keefektifan 2. 6489: Manajemen
skrining kesehatan lingkungan; keselamatan
komunitas pekerja
2.2808:Keefektifan 3. 6520: Skrining
program komunitas kesehatan
4. 6610: Identifikasi resiko

36
NO Diagnosa NOC NIC
3 Ketidakefektifan Prevensi Primer Prevensi Primer:
pemeliharaan Level 1: Domain IV: Level 1: Domain 3:
kesehatan Pengetahuan dan Perilaku
perilaku kesehatan Level 2: Kelas S:
(00099)
Level 2: Kelas S: Pendidikan klien
Pengetahuan kesehatan Level 3: Intervensi
Level 3: Hasil 1. 5510: Pendidikan
1. 1823: Pengetahuan: kesehatan
promosi kesehatan 2. 5520: Fasilitasi
2. 1805: Pengetahuan: pembelajaran
perilaku kesehatan 3. 5604: Mengajar:
3. 1806: Pengetahuan: kelompok
sumber kesehatan.
Level 1: Domain 7:
Komunitas
Level 2: Kelas c: Promosi
kesehatan komunitas
Level 3: Intervensi
1. 7320: Manajemen kasus
2. 8500: Pengembangan
kesehatan komunitas
3. 5510: Pendidikan
kesehatan
4. 8700: Pengembangan
program

37
Prevensi Sekunder Prevensi sekunder
Level 1: Domain IV: Level 1: Domain 6: Sistem
Pengetahuan dan Kesehatan
perilaku kesehatan Level 2: Kelas Y: Mediasi
Level 2: Kelas Q: sistem kesehatan
Perilaku kesehatan Level 3: Intervensi
Level 3: Hasil 1. 7330: Culture brokerage
1. 1603: Perilaku 2. 5250: Dukungan
pencarian pengambilan keputusan
kesehatan 3. 7400: Panduan sistem
Level 2: Kelas R: kesehatan
Kepercayaan kesehatan
Level 3: Hasil Level 1: Domain 7:
1. 1701: Kepercayaan Komunitas
kesehatan: merasa Level 2: Kelas d:
mampu untuk Manajemen risiko
perform kesehatan komunitas
2. 1702: Kepercayaan Level 3: Intervensi
kesehatan: merasa 1. 6520: Skrining
mampu untuk kesehatan
mengontrol 2. 6610: Identifikasi risiko
3. 1703: Kepercayaan
kesehatan: merasa
mampu sebagai
sumber
4. 1704: Kepercayaan
kesehatan: merasa
mampu mengatasi

Level 1: Domain VII:


Kesehatan Komunitas
Level 2: Kelas CC:
Perlindungan
kesehatan komunitas
Level 3: Hasil
1. 2807: Efektifitas
skrining kesehatan
komunitas
2. 2808: Efektifitas
program komunitas
3. 2810: Kontrol
resiko kesehatan
komunitas: tradisi
budaya tidak sehat

38
Prevensi tersier Prevensi tersier
Domain VII; Domain 7: Komunitas,
Kesehatan Komunitas Kelas D: Manajemen
Kelas CC; resiko komunitas.
Perlindungan Level 3: Intervensi
Kesehatan Komunitas 1. 6484: Manajemen
Level 3: Outcome lingkungan; komunitas
1. 2807:Keefektifan 2. 6489: Manajemen
skrining kesehatan lingkungan; keselamatan
komunitas. pekerja
2. 2808:Keefektifan 3. 6520: Skrining
program komunitas kesehatan
4. 6610: Identifikasi resiko

39
Perencanaan
b. Dx Sasaran Tujuan Strategi Rencana Sumber Tempat Waktu Kriteria Standar
Kegiatan evaluasi
1 Pekerja Setelah Penyuluhan Memberikan Mahasiswa Area Sabtu, 7 Setelah
konveksi tindakan kesehatan penyuluhan kerja Oktober dilakukan 1. Pemilik dan
dan pemilik keperawatan pada tentang APD konveksi 2017 tindakan Pekerja
konveksi diharapkan pemilik pukul keperawat konveksi
tidak terjadi usaha dan 09.00 an 1 x 3 mengetahui
peningkatan pekerja wib jam pentingnya
angaka konveksi diharapka penggunaan
kecelakaan n tidak APD
kerja terjadi 2. Pemilik
Tujuan jangka peningkata konveksi
pendek : n angaka dapat
1. Pemilik dan kecelakaa menerapkan
Pekerja n kerja Standar K3
konveksi dalam
mengetahui bekerja
pentingnya 3. Pekerja
penggunaan Konveksi
APD menerapkan
2. Pemilik SOP dalam
konveksi setiap
dapat pelaksanaan
menerapkan kegiatan
Standar K3
dalam
bekerja

40
3. Pekerja
Konveksi
menerapkan
SOP dalam
setiap
pelaksanaan
kegiatan

41
PELAKSANAAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
No Tanggal Diagnosa Keperawatan Pelaksanaan Evaluasi
1. Sabtu, 7 Oktober Ketidakefektifan manajemen a. Berikan pengetahuan tentang S:
kesehatan (00078) pentingnya APD - Peserta mengatakan sudah
2017
b. Berikan pengetahuan mengetahui dan memahami tentang
mengenai P3K dan konsep
pentingnya menggunakan APD.
saat terjadi kecelakaan kerja
- Perserta mengetahui tentang P3K.
c. Anjurkan kepada pemilik
- Peserta mengatakan senang dan
perusahaan untuk
puas dengan adanya penyuluhan ini
memfasilitasi APD dan P3K.
O:
- Peserta hadir sebanyak 37 orang
- Peserta yang hadir mengikuti
kegiatan dari awal sampai akhir.
- Peserta dapat menyebutkan jenis-
jenis APD dan fungsinya
A:
- Masalah teratasi sebagian
P:
Intervensi dilanjutkan

42
BAB 4

PENUTUP

1.1 Kesimpulan

Perawat kesehatan kerja (Occupational Health Nursing) adalah praktik


spesialis yang ditujukan dan diberikan kepada para pekerja dan masyarakat
pekerja yang difokuskan pada upaya promosi, prevensi, dan restorasi
kesehatan pekerja dalam konteks keselamatan dan kesehatan lingkungan kerja
(AAOHN, 1994). Di Indonesia sudah mulai berkembang pelayanan
keperawatan pada kelompok pekerja yang dilakukan oleh perawat kesehatan
kerja, hal ini karena adanya kesadaran para pengusaha untuk memenuhi
kebutuhan kesehatan pekerjanya. Namun masih banyak perusahaan yang
belum mempunyai perawat kesehatan kerja secara khusus, oleh karenanya
inilah yang menjadi tanggung jawab perawat komunitas untuk melakukan
pembinaan pada kelompok pekerja yang berada di wilayah binaannya
.Perawat dapat berperan sebagai provider, case manager, advokat, konsultan,
pendidik kesehatan, dan peneliti. Masalah kesehatan pada pekerja terjadi
karena tidak ada keseimbangan interaksi antara host, lingkungan, dan agent.

1.2 Saran
Seiring dengan kemajuan teknologi maka peningkatan pelayanan kesehatan
juga harus ditingkatkan terutama pada kelompok pekerja dimana sangat besar
kemungkinsan terjadinya penyakit atau kecelakaan akibat kerja sehingga
perlu adanya pengawasan dari petugas kesehatan dan pemerintah.

43
DAFTAR PUSTAKA

Efendi, F. & Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan

Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Departemen Kesehatan RI .(2003). Kemitraan menuju Indonesia sehat 2010.


Jakarta : Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan RI.

Reni Chariani, 2015. Modul Keperawatan Kmunitas I. Asuhan Keperawatan


Komunitas Pada Kelompok Khusus Pekerja. Jakarta : Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Tenaga Kesehatan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber
Daya Manusia

Utomo, A.S. 2015. Askep Komunitas Kelompok Pekerja (Online :


http://handoutmatoh.blogspot.co.id/2015/10/askep-komunitas-kelompok-
pekerja.html diakses pada 5 Oktober 2017 pukul 17.15 WIB)

44

Anda mungkin juga menyukai