Anda di halaman 1dari 1

Manajemen Sindrom Kardiorenal

Tatalaksana kardiorenal meliputi agen farmakologi dan non farmakologi. Terapi farmakologi
melibatkan diuretik, RAAS terapi, antagonis adenosin, erythropoiesis-stimulating agent (ESAs) ADH
antagonists dan natriuretic peptides. Diuretik diberikan dengan dosis yang lebih tinggi dan
ditambahkan long acting thiazide untuk mempertahankan natriuresis. RAAS terapi berupa ACE
inhibitor tetap digunakan sebagai tatalaksana utama gagal jantung, hanya saja dosisnya diawasi dan
dikurangi karena memiliki efek hipotensi yang menyebabkan penurunan GFR. Antagonis adenosine
contohnya rolofylline, masih dalam penelitian, dihipotesiskan dapat memblok aktivasi RAAS dan saraf
simpatik. ESAs dapat memperbaiki anemia yang dalam penelitan bermanfaat memperbaiki gejala
gagal jantung dan outcome klinis. Hal ini kemudian dapat memperbaiki fungsi ginjal. ADH antagonists
berperan sebagai aquaresis, hal ini penting karena kardiak output yang rendah merangsang
pelepasan vasopressin yang justru menyebabkan retensi cairan dan hiponatremi. Terakhir adalah
natriuretic peptide, yang mana dapat meningkatkan aliran plasma, GFR dan natriuresis, hanya saja
penelitian menunjukkan NPs meningkatkan mortalitas jangka pendek sehingga tidak lagi disarankan
penggunaannya. Adapun tatalaksana nonfarmakologi menggunakan ultrafiltrasi baik peritoneal
dialysis maupun extracorporeal therapies (intermittent ultrafiltration dan slow continuous
ultrafiltration.

Berbari AE, Mancia G. Cardiorenal Syndrome. Italia: Springer; 2010, p 371-384.