Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH DALAM MENERTIBKAN

PEREDARAN MINUMAN KERAS DI KOTA JAYAPURA


Rahel Violin Kamisorei
Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga 2018
Violinrahel@gmail.com
Abstrak

Implementasi kebijakan pemertintah daerah dalam menerabkan perda belum maksimal.


Hal ini ditandai dengan semakin banyak penjualan miras secara illegal serta tingkat
konsumsi miras meningkat. Studi yang pernah dilakukan Lembaga Pengkajian Perempuan
dan Anak Papua menyebutkan Minuman keras (miras) yang berlebihan merupakan salah
satu pemicu utama munculnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Papua. Banyak
laporan dari masyarakat dan kasus yang ditangani LP3AP sebagai lembaga Advokasi
perempuan dan anak, sebagian besar kasus KDRT yang terjadi disebabkan suami dalam
keadaan mabuk miras kemudian menyakiti pasangannya. Dari 10 laporan KDRT yang ada
tercatat tujuh sampai delapan kasus penyebabnya adalah karena pengaruh miras. Miras
juga mengakibatkatingkat kecelakaan lalulintas yang tinggi pada tahun 2018 btercatat 247
remaja meninggal karena kecelakaan akibat dipengaruhi minuman keras. Peraturan
Daerah (Perda) No 15 Tahun 2013 tentang pelarangan, produksi, peredaran dan
penjualan Miras di provinsi Papua resmi diberlakukan. Hal ini merupakan suatu langkah
yang besar untuk Papua terutama untuk menghapus Stigma bahwa OAP (Orang Asli
Papua) identik dengan pemabuk. Salah satu pertimbangan munculnya perda ini adalah,
seperti yang tercantum dalam perda no 15 tahun 2013 poin (c): bahwa di Provinsi Papua,
secara faktual pengedaran dan penjualan serta konsumsi mirasdilakukan sedemikian rupa
sehingga telah tidak terkendali dalam batas yang wajar dan menimbulkan dampak negatif
yang cenderung mengancam hidup dan kehidupan orang asli Papua dan masyarakat Papua
pada umumnya.
Kata Kunci : Minuman keras, kebijakan pemerintah daerah
PENDAHULUAN (World Health Organization, 2014). Pada
tahun 2014 sekitar 3,3 juta kematian atau
Minuman kras (miras) kini menjadi salah
5,9% dari seuruh kematian global disebabkan
satu masalah yang cukup besar di Indonesia.
dari konsumsi miras. Penyalahgunaan miras
Banyak korban berjatuhan akibat miras.
dapat menyebabkan berbagai penyakit,
Minuman ini kerap digunakan sebagai
adanyya beban sosial serta perubahan
minuman untuk acara adat ataupun sebagai
ekonomi dalam masyyarakat. Bahaya
minuman senang-senang karena minuman ini
penggunaan miras ditentukan oleh volume
ternyata menyebabkan efek ketagihan. miras
miras yang dikonsumsi, pola minum, dan
jika dikonsumsi secara berlebihan, dapat
kualitas miras yang dikonsumsi. Lebih dari
menyebabkan penyakit. Pengedaran dan
dua ratus penyakit yang disebabkan oleh
penjualan miras sebenarnya telah diatur
miras seperti sirosis hati, kanker dan cedera
dalam Keputusan Presiden Republik
(WHO, 2014).
Indonesia Nomor 3 Tahun 1997 tentang
Pengawasan dan Pengendalian miras yang Konsumsi miras juga telah menjadi
kemudian telah diperbaharui dengan adanya kebiasaan. WHO tahun 2015 mencatat paling
Keputusan Presiden Republik Indonesia tidak sebesar 4,3% siswa dan 0,8% siswi
Nomor 74 tahun 2013 tentang Pengawasan pernah mengkonsumsi miras (Adnyana,
dan Pengendalian Minuman Beralkohol. 2015). Berdasarkan data Riskesdas 2013,
diketahui bahwa di Indonesia, prevelensi
Konsumsi miras (minuman keras) murni
peminum miras mencapai 4,6%. Pengguna
di seluruh dunia pada tahun 2013 sebesar 6,2
miras meningkat mulai pada umur antara 15-
liter pada orang dengan usia 25 tahun atau
24 tahun, yaitu sebesar 5,5% yang
lebih, sedangkan per harinya sekitar 13,5
selanjutnya menjadi 6,7% pada umur 25-34
gram. Konsumsi miras perkapita paling
tahun, namun kemudian turun seiring
banyak dikonsumsi paling banyak
bertambahnya umur (Kemenkes RI, 20014).
dikonsumsi dalam populasi remaja yang
Hasil Survei Demografi dan Kependudukan
berusia 15-19 tahun. miras yang dikonsumsi
Indonesia (SDKI) tahun 2013 juga
di seluruh dunia, 50,1% di gunakan untuk
memberikan informasi bahwa persentase
meningkatkan stamina, 4 34,8% adalah jenis
peminum miras pada pria berusia 15-19
minuman bir, 8,0% adalah jenis minuman
tahun sebesar 30,2% dan berusia 20-24 tahun
anggur, dan 7,1% adalah jenis miras lainnya
sebesar 52,9%, sementara persentase wanita
berusia 15-19 tahun sebesar 3,5% dan berusia yang spesifik berupa regulasi tentang
20-24 tahun sebesar 7,1% (SDKI, 20143. pembatasan iklan miras, pengaturan
Menurut Survei Demografi dan Kesehatan penjualan miras, perpajakan miras dan
Indonesia pada ahun 2012 prevalensi kontrol pada kemasan miras. Namun
konsumsi miras seama tiga bulan terakhir pengembangan kebijakan miras yang terjadi
pada rentang 5 usia 15-24 tahun yaitu sebesar di Afrika Selatan tersebut berlangsung secara
337% (perempuan 35%, laki-laki 32,2%). sedikit demi sedikit. Menurut (Charles D. H.
Prevalensi konsumsi miras diperkotaan ebih Parry, 2010) menyebutkan bahwa kebijakan
tinggi dar pada di pedesaan dengan tentang miras di Afrika Selatan tersebut
persentase 45,7% diperkotaan dan 40,1% di justru menjadi produk bersaing kepentingan,
pedesaan. Prevalensi konsumsi miras nilai-nilai dan ideologi. Para pendukung
tamppak tinggi pada yang berpendidikan kebijakan miras yang terlibat dalam proses
SMP dan SMA (Badan Koordinasi Keluarga perumusan lebih cenderung mengarah pada
Berencana Nasional, 2013). Tercatat beberapa hasil kebijakan yang diinginkan
sebanyak 434 pasien rawat inap di rumah dalam periode waktu yang lebih singkat.
sakit dengan masalah angguan mental dan Pemerintah daerah kota Jayapura
perilaku yang disebabkan penggunaan miras berinisiatif mengajukan raperda untuk
(Kementerian Kesehatan RI, 2013). Sehingga mengatur peredaran miras. Peraturan Daerah
perlunya kebijakan untuk menanggulangi (Perda) No 15 Tahun 2013 dan baru dapat
dampak buruk akibat miras. dittapkan pada tahun 2015 Raperda tersebut
dimaksudkan agar miras yang sering disebut
Catatan World Health Organization
dengan istilah miras tidak dijual secara bebas
(WHO) menunjukkan pada tahun 2015,
dan disediakan di sembarang tempat. Dengan
tercatat 2,5 juta penduduk dunia meninggal
adanya dasar peaturan yang berdasar
akibat miras dan 9% kematian tersebut terjadi
peraturan perundang-undangan maka
pada orang muda (15-29 tahun). Setidaknya
diharapkan peredaran atau penjualan miras di
18.000 orang di Indonesia setiap tahunnya
Kota Jayapura dapat diatur dan diawasi oleh
juga kehilangan nyawa karena miras. Negara
pemerintah. Berbagai penelitian
berkembang seperti Africa Selatan juga
menunjukkan bahwa banyak perilaku
memiliki permasalahan miras. Afrika Selatan
menyimpang seperti perkelahian, tawuran,
menyikapi persoalan mirasdengan membuat
kriminalitas, pencurian, perampokan, dan
empat inisiatif pengembangan kebijakan
perilaku seks berisiko yang dipengaruhi oleh pada tahun 2017 konsumsi miras semakin
miras. Perilaku menyimpang ini jelas meningkat. Hal ini dapat dilihat berdasarkan
mengganggu ketenteraman dan kenyamanan hasil observasi bahwa dalam 1 hari terjadinya
masyarakat yang terkena imbas perilaku kecelakaan, penjambretan, pencurian,
penyalahgunaan miras, karena sulit pembunuhan lebih dari 3 kali dan mayoritas
mengendalikan pikiran dan perilakunya pelaku karena dipengaruh minuman keras.
maka mudah menyakiti, misalnya dengan Sehingga angka kematian di Papua
terjadinya berbagai perilaku kriminal yaitu khususnya Kota Jayapura semakin
pada kasus-kasus tertentu bahkan meningkat. Berdasarkan latar belakang
membunuh. (Sudarsono:2008:36). tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan
Dampak penyalah gunaan miras di Kota penelitian tentang analisis kebijakan
Jayapura sangat besar yaitu khususnya untuk pemerintah daerah dalam menertibkan
remaja. Reama di Kota Jayapura peredaran miras di Kota Jayapura. Hasil
diperkenalkan oleh miras sejak usia muda penelitian ini diharapkan dapat mengedukasi
sehingga membentuk karakter remaja yang system kebijakan di Kota Jayapura sehingga
buruk mulai dari prestasi akademik buruk, dapat lebih menertibkan peredaran miras.
mencuri, pacaran beresiko, hamil diluar
KAJIAN TEORITIS
nikah, kecelakaan, perkelahian, dan
penggunaan narkotika jenis ganja. Remaja di Minuman keras adalah minuman yang
Kota Jayapura yang tumbuh dengan karakter mengandung alkohol yang bila dikonsumsi
demikian membuat mereka menjadi tidak secara berlebihan dan terus-menerus dapat
produktif karena terpaksa harus putus merugikan dan membahayakan baik jasmani
sekolah akibatnya menjadi pengangguran dan rohani yang akan mempengaruhi
dan tidak memiliki penghasilan. Hal lain perilaku dan cara berpikir. Akibat lebih lanjut
yang turut memprihatinkan yaitu remaja yang akan mempengaruhi kehidupan sosialnya
sudah kecanduan miras meskipun tidak baik dengan keluarga maupun hubungan
mempunyai uang mereka akan menghalalkan dengan masyarakat sekitar. Orang yang
berbagaimacam cara untuk mendapatkan mengkonsumsi dan kecanduan minuman
uang bahkan sampai harus membunuh. keras atau alkohol disebut dengan istilah
Kebijakan pemerintah daerah Papua terkait alcoholism (ketagihan alkohol), istilah ini
pelarangan miras sudah terlaksanakan namun pertama kali diperkenalkan oleh Magnus
Huss, seorang pejabat bidang kesehatan minuman keras merupakan kondisi tidak
masyarakat di Swedia . sehat secara sosial. Minuman keras adalah
minuman yang mengandung alkohol yang
Kecanduan mirasmerupakan gangguan
bila dikonsumsi secara berlebihan dan terus-
yang kompleks dan sering dipandang dari
menerus dapat merugikan dan
perspektif biopsychosocial Konsumsi miras
membahayakan baik jasmani dan rohani
di kalangan pemuda adalah masalah
sehingga mempengaruhi perilaku dan cara
kesehatan serius, miras berdampak negatif
berpikir. Sehingga mempengaruhi kehidupan
bagi kesehatan dan sosial di masyarakat.
sosialnya baik dengan keluarga maupun
Individu yang sudah sampai pada fase
hubungan dengan masyarakat sekitar.
penyalahgunaan dan ketergantungan miras
dapat berperilaku anti sosial seperti mencuri, Seseorang yang mengkonsumsi dan
suka berkelahi dan marahmarah, acuh dan kecanduan minuman keras atau alkohol
apatis terhadap permasalahan dan kondisi disebut dengan istilah alcoholism (ketagihan
sosialnya, hingga berdampak bagi alkohol), istilah ini pertama kali
kesehatannya yaitu mengalami gangguan diperkenalkan oleh Magnus Huss, seorang
perkembangan otak, bunuh diri dan depresi, pejabat bidang kesehatan masyarakat di
kehilangan memori, risiko tinggi terhadap Swedia. Kecanduan miras merupakan
perilaku seksual, kecanduan, pengambilan gangguan yang kompleks dan sering
keputusan terganggu, prestasi akademis yang dipandang dari perspektif biopsychosocial
buruk, kekerasan, dan kecelakaan kendaraan Konsumsi miras di kalangan pemuda adalah
bermotor (cedera dan kematian). masalah kesehatan serius, minum miras
berdampak negatif bagi kesehatan dan sosial
Menurut WHO, definisi sehat adalah
di masyarakat. Individu yang sudah sampai
keadaan sejahtera, sempurna dari fisik,
pada fase penyalahgunaan dan
mental, dan sosial yang tidak terbatas hanya
ketergantungan miras dapat berperilaku anti
pada bebas dari penyakit atau kelemahan
sosial seperti mencuri, suka berkelahi dan
saja. Pencapaian derajat kesehatan yang baik
marah, acuh dan apatis terhadap
merupakan suatu hak yang fundamental bagi
permasalahan dan kondisi sosialnya, hingga
setiap orang tanpa membedakan ras, agama,
berdampak bagi kesehatannya yaitu
jenis kelamin, politik yang dianut, dan
mengalami gangguan perkembangan otak,
tingkat sosial ekonominya. Konsumsi
bunuh diri dan depresi, kehilangan memori,
risiko tinggi terhadap perilaku seksual, saja meningkatnya jumlah pengguna
kecanduan, pengambilan keputusan miras di Indonesia juga dapat
terganggu, prestasi akademis yang buruk, diasosiasikan dengan faktor
kekerasan, dan kecelakaan kendaraan keterjangkauan harga minuman keras
bermotor (cedera dan kematian). Sehingga (import atau lokal) dengan daya beli
perlunya kebijakan untuk menanggulangi atau kekuatan ekonomi masyarakat.
dampak buruk akibat miras. Dan secara makro, industri minuman
keras baik itu 9 ditingkat produksi,
Faktor Determinan Penyalahgunaan
distribusi, dan periklanan ternyata
Miras
mampu menyumbang porsi yang
Terdapat 4 kelompok determinan dari cukup besar bagi pendapatan Negara.
penyalahgunaan miras (sosial, ekonomi, 3. Budaya
budaya, dan lingkungan) yang mana Melalui sudut pandang budaya dan
peranannya sangat kompleks dan saling kepercayaan masalah miras juga
terkait satu sama lainnya (WHO, 2003). menjadi sangat kompleks. Di
Terkait dengan politik Kesehatan masalah Indonesia banyak dijumpai produk
miras berhubungan dengan Politik Ekonomi : lokal minuman keras yang
merupakan warisan tradisional (arak,
1. Sosial
tuak, badeg, dll) dan banyak
Penggunaan miras sering kali didasari
dikonsumsi oleh masyarakat dengan
oleh motif-motif sosial seperti
alasan tradisi. Sementara bila tradisi
meningkatkan prestige ataupun
budaya tersebut dikaitkan dengan sisi
adanya pengaruh pergaulan dan
agama dimana mayoritas masyarakat
perubahan gaya hidup. Selain itu
Indonesia adalah kaum muslim yang
faktor sosial lain seperti sistem norma
notabene melarang konsumsi miras,
dan nilai (keluarga dan masyarakat)
hal ini tentu saja menjadi sangat
juga menjadi kunci dalam
bertolak belakang.
permasalahan penyalahgunaan miras
4. Lingkungan
(Sarwono, 2011).
Peranan negara dalam menciptakan
2. Ekonomi
lingkungan yang bersih dari
Masalah penyalahgunaan miras bisa
penyalahgunaan miras menjadi
ditinjau dari sudut ekonomi. Tentu
sangat vital. Bentuk peraturan dan Terbitnya perda no 15 tahun 2013 ini
regulasi tentang minuman keras, serta sebagai wujud penyederhanaan
pelaksanaan yang tegas menjadi permasalahan yang ada. Benar bahwa miras
kunci utama penanganan masalah dapat mengakibatkan mabuk pada orang
miras ini. Selain itu yang tidak kalah yang mengkonsumsinya, dan orang mabuk
penting adalah peranan provider akan kehilangan kesadaran sehinga dapat
kesehatan dalam mempromosikan melakukan tindakan yang merugikan orang
kesehatan terkait masalah miras baik lain maupun diri sendiri seperti tindakan
itu sosialisasi di tingkat masyarakat melakukan kekerasan, pembunuhan,
maupun advokasi pada tingkatan pencurian, dan juga merusak kesehatan si
decision maker (Sarwono, 2011). peminumnya. Namun bukan berarti dengan
melarang miras maka segala permasalahan
DISKUSI
itu akan dengan sendirinya hilang. Justru
Peraturan Daerah (Perda) No 15 Tahun masalah baru akan muncul.
2013 tentang pelarangan, produksi,
Kita tak bisa menampik adanya hukum
peredaran dan penjualan minuman miras
ekonomi
provinsi Papua resmi diberlakukan. Hal ini
mengenai supply dan demand dalam usaha
merupakan suatu langkah yang besar untuk
miras. Selama ada permintaan, maka
Papua terutama untuk menghapus Stigma
penawaran akan tetap tumbuh. Sekali pun
bahwa OAP (Orang Asli Papua) identik
penawaran kita batasi atau tutup dengan
dengan pemabuk. Salah satu pertimbangan
perda ini, namun permintaan ternyata tidak
munculnya perda ini adalah seperti yang
serta merta hilang. Mungkin kita berharap
tercantum dalam perda no 15 tahun 2013 poin
permintaan akan mati perlahan, namun tidak
(c): bahwa di Provinsi Papua, secara faktual
lah sama halnya dengan miras.
pengedaran dan penjualan serta konsumsi
Permintaannya datang dari orang yang sudah
miras dilakukan sedemikian rupa sehingga
ketagihan miras, sehingga akan abadi. Hal
telah tidak terkendali dalam batas yang wajar
inilah yang dilihat oleh mereka yang akan
dan menimbulkan dampak negatif yang
menciptakan penawaran baru melalui
cenderung mengancam hidup dan kehidupan
“gerakan bawah tanah” yang lebih sulit
orang asli Papua dan masyarakat Papua pada
dikendalikan. Jika sebelumnya orang-orang
umumnya.
masih transparan dalam bertransaksi
sehingga mudah dimonitor dan dikontrol oleh lainnya itu berupa law enforcement pagi para
pemerintah, namun kedepan gerakan mereka produsen, pengedar dan penjual tanpa
akan lebih tertutup dan sulit untuk dimonitor pandang bulu, termasuk juga sanksi yang
dan dikendalikan. Amerika pernah mencatat tegas dan keras bagi para polisi dan aparat
sejarah pelarangan penjualan, pembuatan dan penegak hukum yang menerima suap ataupun
penyebaran secara nasional mulai tahun 1920 kurang mendukung pelaksanaan perda ini di
hingga 1933 atau yang dikenal juga lapangan. Pemerintah juga perlu
dengan The nobel experiment. Sementara mengevaluasi efektivitas perda ini beberapa
Pelarangan berhasil mengurangi jumlah waktu kedepan. Isi dari perda tersebut perlu
minuman keras yang dikonsumsi, namun diturunkan dari pelarangan menjadi
malah mengacaukan masyarakat dengan cara pembatasan. Pembatasan yang
lain, mendorong perkembangan aktivitas dimaksud berupa pembatasas jenis miras
kriminal bawah tanah yang merajalela, yang beredar, harga jual terendah, lokasi
terorganisir dan meluas. penjualannya, serta umur yang boleh
mengkonsumsinya. Pembatasan jenis
Seperti yang terjadi di Amerika pada era
miras yang dapat dijual membantu
pelarangan miras, para polisi dan aparat
memastikan miras jenis oplosan yang tidak
penegak hukum menerima suap dari
jelas kadar amiras tidak beredar di
pengedar atau penjual miras, hal tersebut juga
masyarakat karena miras oplosan sangat
terjadi di Papua. maka tujuan untuk
berbahaya. Pembatasan harga berguna untuk
memberantas miras tidak berjalan dan di sisi
menekan jumlah demand akan miras sesuai
lain mengakibatkan budaya korupsi semakin
hukum ekonomi supply- demand, dan harga.
meningkat.
Dengan harga yang mahal, diharapkan
Terbitnya perda no 15 tahun 2013 ini jumlah miras yang dikonsumsi akan semakin
sesungguhnya adalah langkah yang luar biasa turun. Membatasi lokasi penjualan artinya
untuk Papua. Akan tetapi langkah ini membatasi pasar dan membatasi traksaksi
menuntut tindakan lainnya agar perda ini sehingga jumlah miras yang terjual akan
efektif menjawab permasalahan yang ada semakin menurun. Dan yang terakhir
sehingga tujuan menciptakan kehidupan berupa pembatasan umur konsumen yang
OAP dan masyakarat Papua yang sehat dan bertujuan untuk memastikan hanya orang
selamat bisa tercapai.Ada pun tindakan dewasa lah yang dapat mengkonsumsi miras
dengan asumsi mereka dapat membatasi diri Studi yang pernah dilakukan Lembaga
dalam mengkonsumsi miras karena telah Pengkajian Perempuan dan Anak Papua
mengerti bahayanya bila mengkonsumsi menyebutkan Minuman keras (miras) yang
berlebih. Memang masih banyak juga orang berlebihan merupakan salah satu pemicu
dewasa sekalipun belum tentu mampu utama munculnya kekerasan dalam rumah
membatasi diri, akan tetapi paling tidak tangga (KDRT) di Papua. Banyak laporan
pembatasan umur ini akan mengurangi dari masyarakat dan kasus yang ditangani
jumlah konsumen dan terutama LP3AP sebagai lembaga Advokasi
menghindarkan generasi muda Papua dari perempuan dan anak, sebagian besar kasus
miras. KDRT yang terjadi disebabkan suami dalam
keadaan mabuk miras kemudian menyakiti
Miras menjadi salah satu masalah di
pasangannya. Dari 10 laporan KDRT yang
antara banyak masalah di Papua. Miras telah
ada tercatat tujuh sampai delapan kasus
membunuh orang Papua seperti masalah
penyebabnya adalah karena pengaruh miras.
kesehatan lainnya yang yang mengakibatkan
kematian. Dengan mengkonsumsi alkohol Promosi kesehatan Bukan saja
yang berlebihan membuat orang tidak pemberdayaan kearah mobilisasi massa yang
sadarkan diri. Pada pagi hari kita dapat menjadi tujuan, tetapi juga kemitraan dan
melihat banyak orang mabuk tidur di depan politik kesehatan (termasuk advokasi).
teras toko dan di jalan raya. Dalam keadaan Sehingga sasaran Promosi Kesehatan tidak
seperti ini, maka apa saja dapat dilakukan hanya perubahan perilaku tetapi perubahan
termasuk seks bebas, kecelakaan, jambret, kebijakan atau perubahan menuju perubahan
kekerasan pada rumah tangga dan sistem atau faktor lingkungan kesehatan.
pembunuhan, bisa juga meninggal karena Pada Tahun 1997 diadakan konvensi
kelebihan miras. Perlu diketahui bahwa Internasional Promosi Kesehatan dengan
angka kematian orang Papua saat ini sangat tema ”Health Promotion Towards The 21’st
tinggi tinggi. Sementara angka kelahiran Century, Indonesian Policy for The Future”
semakin menurun. Hampir setiap saat orang dengan melahirkan ‘The Jakarta
Papua meninggal karena miras, terutama Declaration’. Berdasarkan Piagam Ottawa
remaja. (Ottawa Charter, 1986) sebagai hasil
rumusan Konferensi Internasional Promosi
Kesehatan Di Ottawa-Canada, menyatakan
bahwa Promosi Kesehatan adalah upaya yang Kebiajakn pemerintah daerah tentang
dilakukan terhadap masyarakat sehingga pelarangan konsumsi miras merupakan
mereka mau dan mampu untuk memelihara langkah yang sangat baik. Namun terdapat
dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. dampak negative dari kebiajakn yang elah
diterbitkan pemerintah daerah karena
Batasan promosi kesehatan ini mencakup 2
penyalahgunaan miras justru semakin
dimensi yaitu kemauan dan kemampuan.
meningkat akibat kurang optimalnya
Menurut WHO terdapat Sembilan
implementasi kebijakan di masyarakat.
determinan social yang dapat mempengaruhi
kesehatan yaitu Stress, Early Life, Social DAFTAR PUSTAKA
Exclusion, Work, Employment, Social Badan pusat Statistik (2015). Gambaran
support, Addiction, Food, Transport. Dari Umum Kota Jayapura
Sembilan social determinan tersebut dapat Dignan and Carr (2005). Program Pleaning
terlihat bahwa yang termasuk dalam masalah for Health Education and
Promotion
terkait kebiajakan pelarangan miras adalah
addiction. Addiction juga termasuk dalam Balitbang Kemenkes RI. 2013. Riset
kesehatan sosial karena berdampak pada Kesehatan Dasar; RISKESDAS.
Jakarta: Balitbang Kemenkes RI
lingkungan. masyarakat juga menganggap
Peraturan Daerah No. 15 tahun 2013 (2015)
kebijakan tersebut merupakan hal yang biasa
Pelarangan, peredaran dan konsmusi
saja karena tidak adanya sanksi yang tegas minuman keras di Kota Jayapura
terkait pelarangan peredaran miras. ----------, 2013. Survei Demografi dan
Akibatnya kecelakaan, pemerkosaan, Kesehatan Indonesia (SDKI)
2013.Jak arta: Badan Pusat statistic.
penganiayaan, kekerasan dala rumah tangga,
World Health Organization. (2014). Health
pencurian, sex bebas, pembunuhan masih
in All Policies: Helsinki Statement,
terus terjadi. Namun beberapa pendapat dari Framework for Country Action.
Geneva: WHOPress.
stake holder mengatakan bahwa belum
adanya publikasih resmi yang mencatat World Health Organization. 2009.
Milestones in Health Promotion:
terkait beberapa masalah yang diakibatkan Statements from Global Conferences.
oleh miras. World Health Organization
World Health Organization.1994. Health
Promotion and Community Action for
KESIMPULAN
Health in Developing
Countries.World Health
Organization: Geneva