Anda di halaman 1dari 9

Hambatan jenis adalah kecenderungan suatu bahan untuk melawan aliran arus listrik.

Faktor yang
menentukan besar kecilnya nilai hambatan jenis suatu penghantar adalah bahan kawat penghantar
tersebut.
Advertisment

Hambatan Jenis

Kawat penghantar yang dipakai pada kawat listrik pasti mempunyai hambatan, meskipun nilainya
kecil. Kita mungkin menduga bahwa hambatan yang dimiliki kawat yang tebal lebih kecil daripada
kawat yang tipis, karena kawat yang lebih tebal memiliki area yang lebih luas untuk aliran elektron.
Kita tentunya juga memperkirakan bahwa semakin panjang suatu penghantar, maka hambatannya
juga semakin besar, karena akan ada lebih banyak penghalang untuk aliran elektron.

Berdasarkan eksperimen, Ohm juga merumuskan bahwa hambatan R kawat logam berbanding lurus
dengan panjang l, berbanding terbalik dengan luas penampang lintang kawat A, dan bergantung
kepada jenis bahan tersebut. Secara matematis dituliskan :

R=ρ

dengan:

R= hambatan kawat penghantar (Ω)


l= panjang kawat penghantar (m)
A= luas penampang lintang penghantar (m2)
ρ = hambatan jenis kawat penghantar (Ω.m)
Konstanta pembanding disebut hambatan jenis (resistivitas).
Hambatan jenis kawat berbeda-beda tergantung bahannya.

Berdasarkan persamaan dan contoh tersebut, terlihat bahwa apabila kawat penghantar makin
panjang dan hambatan jenisnya makin besar, maka nilai hambatannya bertambah besar. Tetapi
apabila luas penampang kawat penghantar makin besar, ternyata nilai hambatannya makin kecil.
Untuk nilai hambatan jenis suatu penghantar besar kecilnya sudah ditentukan para ilmuwan.

Nilai Hambatan Jenis Berbagai Bahan


Berikut adalah hambatan jenis beberapa bahan pada suhu 20 oC
Hambatan Jenis Konduktor

Bahan Hambatan Jenis ρ (Ωm) Koefisien muai, α (oC)-1

Perak 1,59 x 10-8 0,0061


Tembaga 1,68 x 10-8 0,0068
Emas 2,44 x 10-8 0,0034
Alumunium 2,65 x 10-8 0,00429
Tungsten 5,60 x 10-8 0,0045
Besi 9,71 x 10-8 0,00651
Platina 10,6 x 10-8 0,003927
Air Raksa 98 x 10-8 0,0009
Nikrom 100 x 10-8 0,0004

Hambatan Jenis Semikonduktor

Bahan Hambatan Jenis ρ (Ωm) Koefisien muai, α (oC)-1

Karbo (grafit) (3-60) x 10-5 – 0,0005


Germanium (1-500) x 10-3 – 0,05
Silikon 0,1 – 60 – 0,07

Hambatan Jenis Isolator

Bahan Hambatan Jenis ρ (Ωm) Koefisien muai, α (oC)-1

Kaca 1011 – 1014 –


Karet 108 – 1013 –
Porselin 1012 – 1014 –
Mika 1013 –
Ebonit 1013 – 1016 –

Nilai hambatan suatu penghantar (R) sebanding dengan hambatan jenis (ρ) , pengaruh suhu
terhadap hambatan sehingga dapat ditulis :

Rt = R0 (1 + αΔT)

Dengan :

Rt = hambatan akhir (Ω)


R0 = hambatan mula-mula (Ω)

Hambatan jenis suatu penghantar bergantung pada suhu penghantar tersebut. Secara matematis
dapat dituliskan sebagai berikut :

ρt = ρ0 (1+αΔT)

Dengan :

α = koefisien suhu hambatan


ΔT = pertambahan suhu (oC)
ρt = hambatan jenis akhir (Ωm)
ρ0 = hambatan jenis mula-mula (Ωm)
Pada dasarnya tahanan suatu konduktor dipengaruhi oleh 4 faktor :
1. Berbanding lurus panjang penghantar
2. Berbanding terbalik dengan penampang penghantar
3. Jenis bahan penghantar
4. Temperatur penghantar

Faktor 1-3 telah dijelaskan pada artikel :


Hambatan pada Kawat Penghantar

Pada artikel kali ini akan menjelaskan tentang Faktor yang ke 4 pada tahanan penghantar yaitu
temperatur penghantar. Ketika temperatur suatu logam yang dialiri arus listrik meningkat maka ikatan
atom semakin meningkat dan mengabaikan aliran elektron (arus listrik tersebut) terhambat. Dengan
demikian kenaikan temperatur menyebabkan kenaikan tahanan penghantar.

Berikut ini adalah persamaan hambatan penghantar yang dipengaruhi oleh kenaikan temperatur atau
suhu :

Keterangan :
θ0 = Temperatur awal (oC)
θ1= Temperatur akhir (oC)
Δθ = Selisih antara temperatur akhir dengan temperatur awal ( oC)
R0 = nilai hambatan pada suhu mula-mula/suhu ruangan 20oC (Ω)
R1 = Nilai hambatan setelah terjadi perubahan suhu (Ω)
α = Koefisien suhu sesuai dengan jenis logam
Tabel koefisien suhu bahan logam penghantar pada suhu ruangan 20oC

Contoh soal :

Suatu kawat penghantar aluminium pada temperatur 20 oC memiliki tahanan 50Ω, penghantar
tersebut dipanaskan hingga temperaturnya meningkat mencapai 100 oC. Berapakah nilai tahanan
penghantar ketika temperaturnya mencapai 100oC?

Diketahui : θ0 = 20oC
θ1 = 100oC
R0 = 50Ω
α = 0,004
Ditanya : R1 = ?
Jawab :
Langkah pertama menghitung selisih temperatur Δθ :

Langkah kedua menghitung R1 :

Yunani
 Daya Listrik (Daya Aktif, Daya Reaktif, dan Daya Semu)
 Alat-Alat Pengaman pada Rangkaian Listrik
 Alat Pengukur dan Pembatas (APP)
 Rangkaian Resistor (Seri, Paralel, Campuran)
 Rangkaian Kapasitor (Seri, Paralel, dan Campuran)
 Baterai (Elemen Kering)
 Simbol-Simbol Dalam Alat Ukur Listrik
 Rangkaian Paralel Resistor, Induktor, dan Kapasitor pada Arus Bolak-Balik 1 Fase
 Beban-Beban Listrik (Resistif, Induktif, dan Kapasitif)
 Faktor Daya (Faktor Kerja)

Teknik Listrik

 About
 Sitemap
 Contact US
 Disclimer
 Privacy Policy

Teknik Listrik
Elektronika Dasar, Instalasi Listik, Listrik Dasar, Listrik Lanjut,
Penggunaan Alat Ukur Listrik


 Download
 Elektronika Dasar
 Ilmu Listrik
 Instalasi Listrik
 Penggunaan Alat Ukur Listrik

Home » Hambatan » Induktor » Kapasitor » Listrik Lanjut » Rangkaian » resistor » Teknik listrik » Teknik Listrik
SMK » TL » Faktor Daya (Faktor Kerja)

Faktor Daya (Faktor Kerja)


Darma Kusumandaru Selasa, 04 Agustus 2015
Gambar diagram faktor daya

Rangkaian yang memiliki nilai impedansi (Z) adalah rangkaian yang terdiri dari komponen yang
memiliki nilai resistansi (R) dan dihubungkan dengan komponen yang memiliki nilai reaktansi
induktansi (XL) atau reaktansi kapasitif (XC) dari komponen-komponen tersebut menyebabkan antara
tegangan dan arus terjadi pergeseran sudut fasa. Faktor kerja atau faktor daya adalah konstanta dari
nilai kosinus (cosinus) dari sudut dari sudut pergeseran fasa. Nilai faktor kerja berkisar 0,0 sampai
1,0.

Beberapa contoh nilai faktor kerja pada peralatan listrik yang digunakan pada kehidupan sehari-hari :
Beban induktif mesin las memiliki faktor kerja rendah 0,3 sampai dengan 0,5.
Lampu TL memiliki faktor kerja 0,5 sampai dengan 0,7.
Motor listrik memiliki faktor kerja 0,8 sampai dengan 0,9.
Lampu pijar memiliki faktor kerja 1,0.

Semakin rendah nilai faktor daya akan mengakibatkan daya reaktif nya makin besar, sebaliknya jika
nilai faktor daya semakin besar maka daya reaktif menuju 0 nol.

Persamaan faktor daya dan faktor reaktif :

Keterangan :
Cos φ = Faktor Daya
P = Daya aktif (W)
S = Daya semu (VA)

Keterangan :
Sin φ = Faktor reaktif
Q = Reaktif induksi (VAR)
S = Daya semu (VA)

Pada teknik listrik faktor daya dibagi menjadi tiga yaitu :

1. Faktor Daya Unity adalah keadaan dimana arus listrik yang mengalir se fasa dengan
tegangan atau tidak terjadi pergeseran fasa antara tegangan dengan arus listrik (nilai Cos φ
= 1). Faktor daya unity akan muncul apabila pada suatu rangkaian listrik menggunakan
beban bersifat resistansi murni.
2. Faktor Daya Leading (Mendahului) adalah keadaan dimana fasa tegangan drop pada
beban mendahului (leading) terhadap tegangan sumbernya. Hal tersebut disebabkan oleh
beban yang bersifat kapasitansi atau memiliki nilai reaktansi kapasitif (XC), karena beban
kapasitor menyebabkan pergeseran fasa sebesar φ.
3. Faktor Daya Lagging (Tertinggal) adalah keadaan dimana fasa arus listrik tertinggal
(lagging) terhadap tegangan sumbernya. Hal tersebut biasanya disebabkan oleh beban yang
bersifat induktansi atau memiliki nilaireaktansi induktif (XL), karena beban pada umumnya
berupa induktor atau lilitan yang menyebabkan pergeseran fasa sebesar φ.

Contoh soal :
1. 11 batang lampu TL 36 W dirangkai secara seri pada sumber tegangan bolak-balik, jika diketahui
total daya semu pada rangkaian lampu tersebut adalah 792 VA. Berapakah nilai faktor daya nya?

Diketahui : P = 36 W x 11 = 396 W
S = 792 VA
Ditanya : cos φ = ?
Jawab :
2. Jika suatu alat listrik memiliki daya reaktif 120 VAR, dan daya semu sebesar 200 VA. Berapakah
faktor reaktif nya?

Diketahui : Q = 120 VAR


S = 200 VA
Ditanya : sin φ = ?
Jawab :

SHARE:

 Daya Listrik (Daya Aktif, Daya Reaktif, dan Daya Semu)


 Alat-Alat Pengaman pada Rangkaian Listrik
 Alat Pengukur dan Pembatas (APP)
 Rangkaian Resistor (Seri, Paralel, Campuran)
 Rangkaian Kapasitor (Seri, Paralel, dan Campuran)
 Baterai (Elemen Kering)
 Simbol-Simbol Dalam Alat Ukur Listrik
 Rangkaian Paralel Resistor, Induktor, dan Kapasitor pada Arus Bolak-Balik 1 Fase
 Beban-Beban Listrik (Resistif, Induktif, dan Kapasitif)
 Faktor Daya (Faktor Kerja)
Arus Listrik Listrik DasarTegangan
Listrik RangkaianHambatan Listrik Lanjut resistorKapasitor Alat ukur
listrik Induktor Instalasi ListrikMuatan Listrik


ReBuild Irregular Anime


LangIT Tutorial | Linux Tutorial


Teknik Listrik


Kusumandaru's Blog

Copyright © 2015 - 2017. Teknik Listrik. All Rights Reserved


Electric_Theme Template by Ichiri Arima. Powered by Blogger
Original Theme by @SkyLight~Army