Anda di halaman 1dari 18

Nama Uyun Nailatul Mafaz

NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

BAB I
IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI ALKOHOL

TUJUAN :
 Mengetahui sifat fisik alkohol dan fenol
 Membedakan senyawa alkohol primer, sekunder, tersier dan fenol dengan menggunakan tes
Lucas dan Ferri Klorida

A. Pre-lab
1. Jelaskan prinsip dari uji Ferri Klorida!
Pada pengujian FeCl3 untuk membedakan alkohol alifatik dengan alkohol aromatik, prinsipnya
adalah fokus dalam senyawa aromatik. Apabila terdapat gugus aromatik dalam larutan yang
diuji, maka larutan tersebut akan bereaksi. Contohnya penambahan besi (III) klorida yang
terlarut dalam kloroform ke dalam suatu larutan fenol dalam kloroform, menghasilkan suatu
larutan berwarna ketika ditambahkan piridin. Adapun alkohol tidak menghasilkan warna
apapun pada uji ini, karena pengujian FeCl3 untuk pengujian fenol. Ketika fenol diujikan
dengan FeCl3, akan menghasilkan cincin aromatik yang berwarna ungu ke hitaman (Sumardjo,
2008).
2. Jelaskan prinsip dari uji Lucas!
Prinsip uji Luccas digunakan untuk membedakan alkohol primer, sekunder dan tersier yang
dapat larut dalam air. Uji lucas untuk mengidentifikasi jenis alcohol dengan penambahan
reagen lucas dimana akan terjadi reaksi substitusi gugus – OH pada alkohol dengan Cl pada
reagen, sehingga terbentuk alkil klorida yang tidak larut dalam air atau larutan. Reagen lucas
merupakan suatu campuran asam klorida pekat dan seng klorida. Seng klorida adalah suatu
asam lewis, yang ketika ditambahkan dalam asam klorida akan membuat larutan menjadi lebih
asam (Sumardjo, 2008).
3. Jelaskan jenis-jenis alkohol dan berikan contohnya.
Alkohol primer merupakan alkohol yang gugus –OH-nya terikat pada atom C primer (atom C
yang terikat pada satu atom C lainnya). Contoh : Etanol. Alkohol sekunder merupakan alkohol
yang gugus –OH-nya terikat pada atom C sekunder (atom C yang terikat pada 2 atom C
lainnya). Contoh : 2 Metil 3 Pentanol. Alkohol tersier merupakan alkohol yang gugus –OH-
nya terikat pada atom C tersier (atom C yang terikat pada 3 atom C lainnya). Contoh : 2 Metil
2 Propanol (Saraswati, 2015).
4. Apa yang dimaksud dengan alkohol alifatik dan fenol? Jelaskan dan sertakan gambar.
Alkohol dan Fenol yang disebut sebagai alkohol aromatik mempunyai rumus struktur R-OH.
Dimana pada alkohol alifatik R adalah gugus alkil, sedangkan fenol gugus R nya adalah gugus
aril. Fenol merupakan asam yang lebih kuat dari pada alkohol atau air. Fenol bersifat lebih
asam dibandingkan alkohol karena anion yang dihasilkan oleh resonansi dengan muatan
negatifnya disebar oleh cincin aromatik. Alkohol adalah senyawa seperti air yang satu
hidrogennya diganti oleh rantai atau cincin hidrokarbon. Gugus fungsi –OH pada alkohol
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

disebut fungsi hidroksi atau gugus hidroksil. Ini bukanlah ion hidroksida sebab gugus ini
terikat pada karbon secara kovalen (Simanjuntak, 2014).

(Sumardjo, 2008). (Julianto, 2016).


B. Tinjauan Pustaka
2.1 Fenol
Fenol (C6H6OH) merupakan senyawa organik yang mempunyai gugus hidroksil yang terikat
pada cincin benzena. Nama lain dari senyawa fenol yaitu asam karbolik, asam fenat, asam
fenilat, fenil hidroksida, oksibenzena, benzenol, dll. Fenol adalah zat kristal yang tidak
berwarna dan memiliki bau yang khas. Fenol bersifat lebih asam bila dibandingkan dengan
alkohol, tetapi lebih basa daripada asam karbonat karena fenol dapat melepaskan ion H+ dari
gugus hidroksilnya. Fenol merupakan senyawa yang bersifat toksik dan korosif terhadap kulit
(iritasi) dan pada konsentrasi tertentu dapat menyebabkan gangguan kesehatan manusia hingga
kematian pada organisme (Permata, 2015).
2.2 Metanol
Metanol merupakan alkohol yang paling sederhana, dengan rumus kimia CH3OH. Berat
molekul 32,04, titik didih 64,5 C, dapat bercampur dengan air, etanol, hygroskopis, mudah
menguap dan mudah terbakar dengan api yang berwarna biru. Metanol digunakan sebagai
bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif bagi etanol industri
(Saifudin, 2014).
2.3 Etanol
Etanol memiliki rumus kimia C2H5OH atau CH3CH2OH dengan titik didihnya 78,4° C. Ethanol
biasa disebut alkohol atau spiritus dan disebut juga etil alkohol dan minuman beralkohol. Etanol
memiliki sifat tidak berwarna, volatil dan dapat bercampur dengan air (Purba, 2009).
2.4 2-Propanol
2-Propanol merupakan cairan tidak berwarna namun berbau seperti alkohol. Titik didihnya
adalah 82ᵒC dan titik bekunya adalah -88ᵒC. 2-Propanol dapat membentuk peroksida peledak.
Karakteristik dari 2-propanol yaitu mudah terbakar dan menguap. 2-Propanol digunakan dalam
tes lucas dan ferri klorida sebagai sampel yang akan dites (Acton, 2013).
2.5 FeCl3
Mempunyai ciri yaitu cairan bewarna kecoklat coklatan dan jika mengenai pakaian akan susah
untuk dibersihkan, dapat larut dalam air, bereaksi dengan air yang merupakan reaksi eksoterm,
berbentuk solid, mempunyai titik didih 315ᵒC dan titik lebur 282ᵒC. Digunakan dalam
pengolahan limbah, produksi air minum maupun sebagai katalis, baik di industri maupun di
laboratorium (Sujana, 2017).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

2.6 HCl
Asam klorida yang dilarutkan ke dalam air menghasilkan larutan tak berwarna. Pada saat
dilarutkan dalam air, asam klorida terionisasi melepaskan ion Hidrogen. Asam klorida juga
sering digunakan diberbagai dunia industri, seperti membuat bahan-bahan plastik, bahan baku
pembuatan magnesium, PH buffer, pembuatan pipa PVC, sintesis senyawa organik penting dan
juga sebagai bahan aktif pada pembersih porselen. Namun karena sifatnya yang korosif,
senyawa ini diharuskan mendapat penanganan yang tepat supaya tidak membahayakan seperti
kontak dengan kulit dan mata sebaiknya dihindari dengan cara memakai perlengkapan safety
laboratorium sarung tangan latex yang tebal dan juga kacamata laboratorium untuk
menghindari uap HCl mengenai mata kita (Sujana, 2017).
2.7 ZnCl2
Karakteristik Zink Klorida yaitu berupa zat padat putih berbentuk kristal dan tidak berbau.
ZnCl2 itu sendiri higroskopis, oleh karena itu sampel harus dilindungi dari sumber kelembaban.
Dapat menyebabkan iritasi dan luka bakar, berbahaya jika tertelan (Subandi, 2010).
2.8 Aquades
Aquades disebut air murni. Air murni adalah air yang dimurnikan dari destilasi. Aquades
merupakan cairan yang jernih, tidak berwarna dan tidak berbau. Aquades juga memiliki berat
molekul sebesar 18,0 g/mol dan PH antara 5-7. Rumus kimia dari aquades yaitu H2O. Aquades
ini memiliki allotrop berupa es dan uap. Senyawa ini tidak berwarna, tidak berbau dan
tidakmeiliki rasa. Aquades merupakan elektrolit lemah (Widiati, 2014).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

C. DIAGRAM ALIR
3.1 Tes Uji Lucas

0,5 ml sampel

Dimasukkan ke dalam 4 tabung reaksi berbeda dan diberi label sesuai nama sampel uji

3 ml reagen Lucas
Tabung ditutup

Dikocok

Diamati terbentuknya kabut selama 5 menit

Jika larutan tidak berkabut selama 5 menit, maka dihangatkan/dipanaskan 60o C selama 10
menit dengan menggunakan hot plate stirer

Hasil
3.2. Tes Ferri Klorida

1 ml aquades

Dimasukkan ke dalam 4 tabung reaksi berbeda dan diberi label sesuai nama sampel uji

5 tetes sampel

2 tetes FeCl3

Dikocok

Diamati perubahan warna

Hasil
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

D. HASIL PERCOBAAN DAN PENGAMATAN

4.1 Tes Lucas


Sampel Sampel+Reagen Lucas Hasil Uji (+)/(-)
Metanol Tidak berkabut -
Etanol Berkabut +
2-Propanol Berkabut ++
Fenol Tidak berkabut -

4.2 Tes Ferri Klorida


Sampel Sampel+Reagen Ferri Klorida Hasil Uji (+)/(-)
Metanol Bewarna kuning bening -
Etanol Bewarna kuning bening -
2-Propanol Bewarna kuning bening -
Fenol Bewarna ungu kehitaman +
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

E. PEMBAHASAN
5.1 Uji Lucas
5.1.1 Analisa Prosedur
Sebelum memulai percobaan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat
dan bahan. Alat-alat yang digunakan pada praktikum uji Lucas ini adalah tabung reaksi, sumbat
karet, label, rak tabung reaksi, pipet ukur, pipet tetes, bulb, kaki 3, spiritus, gelas beker, penjepit
kayu, termometer, dan tisu. Tabung reaksi digunakan sebagai wadah sampel yang akan diuji.
Sumbat karet digunakan untuk menyumbat tabung reaksi untuk mencegah adanya uap yang
menyebar keluar dari tabung reaksi terutama saat adanya reaksi yang berlangsung antara sampel
dengan reagen serta saat melakukan pemanasan. Label digunakan untuk memberi tanda atau
nama pada tabung reaksi sesuai nama sampel yang terletak pada tabung reaksi agar data tidak
tertukar antara sampel yang satu dengan sampel yang lain selama percobaan dan pengamatan
berlangsung. Rak tabung reaksi digunakan sebagai wadah utuk meletakkan tabung reaksi agar
lebih tertata. Pipet ukur digunakan untuk mengambil sampel sejumlah yang dibutuhkan. Bulb
digunakan sebagai alat bantu untuk mengambil sampel menggunakan pipet ukur. Gelas Beker
digunakan sebagai wadah untuk pemanasan dimana nantinya akan diisi air untuk mencegah
adanya kontak langsung antara sampel dengan sumber panas. Penjepit kayu digunakan sebagai
alat bantu untuk mengambil atau meletakkan tabung reaksi agar lebih aman terutama apabila
setelah melakukan pemanasan pada tabung reaksi. Termometer digunakan untuk mengukur
suhu air yang digunakan untuk pemanasan sampel. Tisu digunakan sebagai alat untuk
mengeringkan peralatan setelah digunakan dan dibersihkan. Kaki 3 digunakan untuk tempat
gelas beker pada saat pemanasan bahan sampel. Spiritus digunakan sebagai pemanas bahan
sampel.
Sementara itu, bahan-bahan yang dibutuhkan dalam percobaan ini adalah air, metanol,
etanol, 2-propanol, fenol, dan reagen Lucas. Air digunakan sebagai perantara antara sumber
panas dengan sampel saat melakukan pemanasan untuk mencegah adanya kontak langsung
antara sampel dengan sumber panas. Metanol, etanol, 2-propanol, dan fenol digunakan sebagai
sampel alkohol untuk kemudian akan diidentifikasi jenis alkoholnya. Metanol dan etanol
merupakan senyawa alkohol primer, 2-propanol merupakan senyawa alkohol sekunder, dan
fenol merupakan senyawa aromatik. Reagen Lucas yang terdiri dari asam klorida (HCl) dan
seng klorida (ZnCl2) digunakan untuk mengidentifikasi jenis alkohol pada sampel. Kandungan-
kandugan yang terdapat pada reagen memiliki fungsi-fungsi tertentu. Seng klorida berfungsi
sebagai katalis asam Lewis. HCl berfungsi untuk melarutkan alkohol dan penyumbang ion Cl-
pada pembuatan alkil klorida. Klorida (Cl2) berfungsi sebagai katalisator dan membantu proses
pemekatan warna.
Setelah menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah
memberikan nama pada 4 tabung reaksi sesuai dengan nama sampel yang akan dimasukkan
pada tabung reaksi tersebut dengan menggunakan label. Setelah itu, ambil masing-masing 0,5
ml sampel dengan menggunakan pipet ukur 1 ml dan bulb.. Masukkan sampel ke dalam tabung
berlabel yang sesuai dengan nama sampel yang diambil. Setelah itu, masukkan masing-masing
3 ml reagen Lucas dengan menggunakan pipet ukur 10 ml dan bulb ke dalam 4 tabung reaksi
yang sudah berisi sampel. Setelah itu, segera tutup tabung reaksi dengan sumbat karet untuk
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

mencegah adanya zat yang menguap keluar akibat reaksi antara sampel dengan reagen. Sumbat
tabung tersebut dengan tidak terlalu erat untuk mempertahankan tekanan udara agar sumbat
karet tidak terlepas sendiri dengan kencang saat tabung dipanaskan. Homogenkan larutan
dengan mengocok atau menggoyang-goyangkan keempat tabung reaksi tersebut. Amati
keadaan (warna) dan catat pada masing-masing sampel. Setelah itu, letakkan keempat tabung
reaksi pada rak tabung reaksi dan diamkan selama kurang lebih 15 menit. Setelah 15 menit,
amati dan catat keadaan pada masing-masing sampel. Kemudian, masukkan keempat tabung ke
dalam kaki 3 yang berisi gelas beker dan spiritus untuk pemanasan bahan sampel. Gunakan
termometer untuk mengukur suhu air dan pastikan air yang digunakan bersuhu 60oC. Lakukan
pemanasan selama kurang 10-15 menit. Setelah 10-15 menit, keluarkan keempat tabung reaksi
dari gelas beker dengan bantuan penjepit kayu dan letakkan keempat tabung reaksi tersebut
pada rak tabung reaksi. Amati, catat, dan foto keadaan pada masing-masing sampel. Kemudian,
buang sampel yang telah digunakan tersebut ke tempat yang sudah disiapkan. Cuci seluruh
peralatan yang telah digunakan hingga bersih dan keringkan dengan tisu.

5.1.2 Analisa Hasil


 Metanol
Sampel yang pertama adalah metanol (CH3OH) yang memiliki keadaan awal (sebelum
diuji) yaitu tidak berwarna (bening). Setelah ditambahkan 3 ml reagen Lucas dan
dihomogenkan dengan cara dikocok, tidak terlihat adanya perubahan karena warna sampel tetap
bening. Setelah didiamkan selama kurang lebih 15 menit, keadaan sampel masih tetap sama
seperti keadaan awal yaitu tetap berwarna bening. Hal ini menunjukkan bahwa belum ada reaksi
antara sampel dengan reagen Lucas. Setelah dipanaskan selama 10-15 menit, sampel berubah
menjadi kuning bening tetapi dominan bening dan tidak berkabut. Keadaan ini menunjukkan
bahwa uji Lucas pada sampel metanol menghasilkan hasil uji yang negatif. Hal ini sesuai
dengan literatur yang menyatakan bahwa metanol merupakan senyawa alkohol primer dan
senyawa alkohol primer tidak akan bereaksi dengan reagen Lucas (Hein, 2008).
Mekanisme reaksi yang mendasari prinsip uji Lucas adalah reagen Lucas akan
melarutkan alkohol. Kemudian, gugus hidroksil (-OH) yang kurang nukleofilik akan terlepas
dan bereaksi dengan H+ dari reagen dan membentuk H2O sedangkan OH- yang hilang/terlepas
dari alkohol akan digantikan dengan Cl- dari reagen Lucas sehingga terbentuk alkil klorida yang
tidak larut dalam larutan. Karena pada uji Lucas dengan sampel metanol ini menghasilkan hasil
uji yang negatif, maka mekanisme reaksinya adalah:
ZnCl2
CH3 — OH + HCl (tidak ada reaksi) (Jamaliah, 2011).

 Etanol

Sampel yang kedua adalah etanol (C2H5OH) yang memiliki keadaan awal (sebelum
diuji) yaitu tidak berwarna (bening). Setelah ditambahkan 3 ml reagen Lucas dan
dihomogenkan dengan cara dikocok, tidak terlihat adanya perubahan karena warna sampel tetap
bening. Setelah didiamkan selama kurang lebih 15 menit, keadaan sampel masih tetap sama
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

seperti keadaan awal yaitu tetap berwarna bening dan tidak terdapat perubahan keadaan lain.
Hal ini menunjukkan bahwa belum ada reaksi antara sampel dengan reagen Lucas. Setelah
dipanaskan selama 10-15 menit, sampel berubah menjadi keruh dan terdapat kabut. Hal ini tidak
sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa etanol merupakan senyawa alkohol primer dan
senyawa alkohol primer tidak akan bereaksi dengan reagen Lucas (Kelter, 2009). Kesalahan ini
dikarenakan praktikan kurang fokus dalam meletakkan sampel ke gelas beker yang sudah diberi
label, sehingga terjadi kesalahan.
Mekanisme reaksi yang mendasari prinsip uji Lucas adalah reagen Lucas akan
melarutkan alkohol. Kemudian, gugus hidroksil (-OH) yang kurang nukleofilik akan terlepas
dan bereaksi dengan H+ dari reagen dan membentuk H2O sedangkan OH- yang hilang/terlepas
dari alkohol akan digantikan dengan Cl- dari reagen Lucas sehingga terbentuk alkil klorida yang
tidak larut dalam larutan. Karena pada uji Lucas dengan sampel etanol ini menghasilkan hasil
uji yang negatif, maka mekanisme reaksinya adalah:
ZnCl2
CH3 — CH2 — OH + HCl —— (tidak ada reaksi) (Jamaliah, 2011).

 2-propanol
Sampel yang ketiga adalah propanol ((CH3)2CHOH) yang memiliki keadaan awal
(sebelum diuji) yaitu tidak berwarna (bening). Setelah ditambahkan 3 ml reagen Lucas dan
dihomogenkan dengan cara dikocok, tidak terlihat adanya perubahan karena warna sampel tetap
bening. Setelah didiamkan selama kurang lebih 15 menit, keadaan sampel masih tetap sama
seperti keadaan awal yaitu tetap berwarna bening dan tidak terdapat perubahan keadaan lain.
Hal ini menunjukkan bahwa belum ada reaksi antara sampel dengan reagen Lucas. Namun
setelah dipanaskan selama 10-15 menit, terdapat perubahan warna pada sampel menjadi putih
keruh seperti kabut. Terlihat jelas perubahan pada sampel setelah dilakukan pemanasan.
Keadaan ini menunjukkan bahwa uji Lucas pada sampel 2-propanol menghasilkan hasil uji
yang positif. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa 2-propanol merupakan
senyawa alkohol sekunder dan senyawa alkohol sekunder akan bereaksi dengan reagen Lucas
yang kemudian menghasilkan 2 lapisan serta terbentuk kabut setelah dipanaskan (Hein, 2008).
Mekanisme reaksi yang mendasari prinsip uji Lucas adalah reagen Lucas akan
melarutkan alkohol. Kemudian, gugus hidroksil (-OH) yang kurang nukleofilik akan terlepas
dan bereaksi dengan H+ dari reagen dan membentuk H2O sedangkan OH- yang hilang/terlepas
dari alkohol akan digantikan dengan Cl- dari reagen Lucas sehingga terbentuk alkil klorida yang
tidak larut dalam larutan. Karena pada uji Lucas dengan sampel 2-propanol ini menghasilkan
hasil uji yang positif, maka mekanisme reaksinya adalah:
ZnCl2
CH3 — CH — CH3 + HCl CH3 — CH — CH3 + H2O
(Jamaliah, 2011). OH Cl

 Fenol
Sampel yang keempat adalah fenol (C6H5OH) yang memiliki keadaan awal (sebelum
diuji) yaitu tidak berwarna (bening). Setelah ditambahkan 3 ml reagen Lucas dan
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

dihomogenkan dengan cara dikocok, tidak terlihat adanya perubahan karena warna sampel tetap
bening. Setelah didiamkan selama kurang lebih 15 menit, keadaan sampel masih tetap sama
seperti keadaan awal yaitu tetap berwarna bening dan tidak terdapat perubahan keadaan lain.
Hal ini menunjukkan bahwa belum ada reaksi antara sampel dengan reagen Lucas.
Setelah dipanaskan selama 10-15 menit, sampel berubah menjadi kuning bening tetapi dominan
bening dan tidak berkabut. Keadaan ini menunjukkan bahwa uji Lucas pada sampel fenol
menghasilkan hasil uji yang negatif. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa
fenol tidak akan bereaksi sama sekali dengan reagen Lucas karena fenol tidak dapat
dikategorikan sebagai alkohol primer, sekunder, atau tersier (Sumardjo, 2009).
Mekanisme reaksi yang mendasari prinsip uji Lucas adalah reagen Lucas akan
melarutkan alkohol. Kemudian, gugus hidroksil (-OH) yang kurang nukleofilik akan terlepas
dan bereaksi dengan H+ dari reagen dan membentuk H2O sedangkan OH- yang hilang/terlepas
dari alkohol akan digantikan dengan Cl- dari reagen Lucas sehingga terbentuk alkil klorida yang
tidak larut dalam larutan. Karena pada uji Lucas dengan sampel fenol ini menghasilkan hasil
uji yang negatif, maka mekanisme reaksinya adalah:
ZnCl2
OH + HCl —— (tidak ada reaksi) (Jamaliah, 2011).

5.2 Uji Ferri Klorida


5.2.1 Analisa Prosedur
Sebelum memulai percobaan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat
dan bahan. Alat-alat yang digunakan pada praktikum uji Ferri Klorida ini adalah tabung reaksi,
sumbat karet, label, rak tabung reaksi, pipet ukur, pipet tetes, bulb, gelas beker, penjepit kayu,
termometer, dan tisu. Tabung reaksi digunakan sebagai wadah sampel yang akan diuji. Sumbat
karet digunakan untuk menyumbat tabung reaksi untuk mencegah adanya uap yang menyebar
keluar dari tabung reaksi terutama saat adanya reaksi yang berlangsung antara sampel dengan
reagen serta saat melakukan pemanasan. Label digunakan untuk memberi tanda atau nama pada
tabung reaksi sesuai nama sampel yang terletak pada tabung reaksi agar data tidak tertukar
antara sampel yang satu dengan sampel yang lain selama percobaan dan pengamatan
berlangsung. Rak tabung reaksi digunakan sebagai wadah utuk meletakkan tabung reaksi agar
lebih tertata. Pipet ukur digunakan untuk mengambil sampel sejumlah yang dibutuhkan. Bulb
digunakan sebagai alat bantu untuk mengambil sampel menggunakan pipet ukur. Beaker glass
digunakan sebagai wadah untuk pemanasan dimana nantinya akan diisi air untuk mencegah
adanya kontak langsung antara sampel dengan sumber panas. Penjepit kayu digunakan sebagai
alat bantu untuk mengambil atau meletakkan tabung reaksi agar lebih aman terutama apabila
setelah melakukan pemanasan pada tabung reaksi. Termometer digunakan untuk mengukur
suhu air yang digunakan untuk pemanasan sampel. Tisu digunakan sebagai alat untuk
mengeringkan peralatan setelah digunakan dan dibersihkan.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

Sementara itu, bahan-bahan yang dibutuhkan dalam percobaan ini adalah aquades,
metanol, etanol, 2-propanol, fenol, dan reagen Ferri Klorida. Aquades digunakan sebagai
pencegah agar sampel tidak menguap. Metanol, etanol, 2-propanol, dan fenol digunakan
sebagai sampel yang nantinya akan dideteksi ada atau tidaknya senyawa fenol pada sampel.
Reagen Ferri Klorida (FeCl3) digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya senyawa gugus
aromatik (fenol) pada sampel. FeCl3 berfungsi sebagai reagen yang akan bereaksi dengan fenol
membentuk kompleks warna ungu (sebagai indikator perubahan warna).
Setelah menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah
memberikan nama pada 4 tabung reaksi sesuai dengan nama sampel yang akan dimasukkan
pada tabung reaksi tersebut dengan menggunakan label.. Setelah itu, tuang aquades ke dalam
gelas beker secukupnya. Ambil dan masukkan masing-masing 1 ml aquades dengan
menggunakan pipet ukur 10 ml dan bulb ke dalam 4 tabung reaksi. Setelah itu, ambil masing-
masing sampel dengan menggunakan pipet tetes. Masukkan 5 tetes sampel ke dalam tabung
berlabel yang telah terisi aquades sesuai dengan nama sampel yang diambil. Amati keadaan
(warna) masing-masing sampel. Setelah itu, masukkan masing-masing 2 tetes reagen Ferri
Klorida dengan menggunakan pipet tetes. Homogenkan larutan dengan mengocok atau
menggoyang-goyangkan keempat tabung reaksi tersebut. Setelah itu, letakkan keempat tabung
reaksi pada rak tabung reaksi dan diamkan selama beberapa saat. Setelah beberapa saat, amati,
catat, dan foto keadaan pada masing-masing sampel. Kemudian, buang sampel yang telah
digunakan tersebut ke tempat yang sudah disiapkan. Cuci seluruh peralatan yang telah
digunakan hingga bersih dan keringkan dengan tisu.

5.2.2 Analisa Hasil


 Metanol
Sampel yang pertama adalah metanol (CH3OH) yang memiliki keadaan awal (sebelum
diuji) yaitu tidak berwarna (bening). Setelah bercampur dengan aquades, tidak ada perubahan
yang terjadi karena aquades tersebut berfungsi hanya untuk mencegah sampel mengalami
penguapan. Setelah ditambahkan 2 tetes reagen Ferri Klorida dan dihomogenkan dengan cara
dikocok, terlihat adanya perubahan warna sampel menjadi kekuningan. Hal ini terjadi karena
warna dari reagen itu sendiri adalah kekuningan. Setelah didiamkan selama beberapa saat,
keadaan sampel masih tetap sama seperti keadaan setelah ditambahkan reagen yaitu tetap
berwarna kekuningan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada reaksi antara sampel dengan
reagen Ferri Klorida. Keadaan ini menunjukkan bahwa uji Ferri Klorida pada sampel metanol
menghasilkan hasil uji yang negatif. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa
metanol bukanlah senyawa fenol melainkan senyawa alkohol dan senyawa alkohol tidak akan
bereaksi dengan reagen Ferri Klorida karena tidak akan membentuk kompleks warna ungu
sebagai indikator adanya fenol (Donald, 2008).
Mekanisme reaksi yang mendasari prinsip uji Ferri Klorida adalah terjadinya reaksi
substitusi antara sampel dengan reagen Ferri Klorida (FeCl3). Fenol akan melepas ion H+ dan
ion tersebut berikatan dengan Cl- dari reagen membentuk HCl. Ion H+ yang terlepas dari fenol
akan digantikan dengan Fe3+ dari reagen sehingga membentuk kompleks FeO pada cincin
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

benzena yang dapat menghasilkan kompleks warna ungu. Karena pada uji Ferri Klorida dengan
sampel metanol ini menghasilkan hasil uji yang negatif, maka mekanisme reaksinya adalah:

CH3 — CH2 — OH + FeCl3 (tidak ada reaksi)


(Sitorus, 2010).

 Etanol
Sampel yang kedua adalah etanol (C2H5OH) yang memiliki keadaan awal (sebelum
diuji) yaitu tidak berwarna (bening). Setelah bercampur dengan aquades, tidak ada perubahan
yang terjadi karena aquades tersebut berfungsi hanya untuk mencegah sampel mengalami
penguapan. Setelah ditambahkan 2 tetes reagen Ferri Klorida dan dihomogenkan dengan cara
dikocok, terlihat adanya perubahan warna sampel menjadi kekuningan. Hal ini terjadi karena
warna dari reagen itu sendiri adalah kekuningan. Setelah didiamkan selama beberapa saat,
keadaan sampel masih tetap sama seperti keadaan setelah ditambahkan reagen yaitu tetap
berwarna kekuningan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada reaksi antara sampel dengan
reagen Ferri Klorida. Keadaan ini menunjukkan bahwa uji Ferri Klorida pada sampel etanol
menghasilkan hasil uji yang negatif. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa
etanol bukanlah senyawa fenol melainkan senyawa alkohol dan senyawa alkohol tidak akan
bereaksi dengan reagen Ferri Klorida karena tidak akan membentuk kompleks warna ungu
sebagai indikator adanya fenol (Donald, 2008).
Mekanisme reaksi yang mendasari prinsip uji Ferri Klorida adalah terjadinya reaksi
substitusi antara sampel dengan reagen Ferri Klorida (FeCl3). Fenol akan melepas ion H+ dan
ion tersebut berikatan dengan Cl- dari reagen membentuk HCl. Ion H+ yang terlepas dari fenol
akan digantikan dengan Fe3+ dari reagen sehingga membentuk kompleks FeO pada cincin
benzena yang dapat menghasilkan kompleks warna ungu. Karena pada uji Ferri Klorida dengan
sampel etanol ini menghasilkan hasil uji yang negatif, maka mekanisme reaksinya adalah:
CH3 — OH + FeCl3 (tidak ada reaksi)

(Sitorus, 2010).

 2-propanol
Sampel yang ketiga adalah 2-propanol ((CH3)2CHOH) yang memiliki keadaan awal
(sebelum diuji) yaitu tidak berwarna (bening). Setelah bercampur dengan aquades, tidak ada
perubahan yang terjadi karena aquades tersebut berfungsi hanya untuk mencegah sampel
mengalami penguapan. Setelah ditambahkan 2 tetes reagen Ferri Klorida dan dihomogenkan
dengan cara dikocok, terlihat adanya perubahan warna sampel menjadi kekuningan. Hal ini
terjadi karena warna dari reagen itu sendiri adalah kekuningan. Setelah didiamkan selama
beberapa saat, keadaan sampel masih tetap sama seperti keadaan setelah ditambahkan reagen
yaitu tetap berwarna kekuningan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada reaksi antara sampel
dengan reagen Ferri Klorida. Keadaan ini menunjukkan bahwa uji Ferri Klorida pada sampel
2-propanol menghasilkan hasil uji yang negatif. Hal ini sesuai dengan literatur yang
menyatakan bahwa 2-propanol bukanlah senyawa fenol melainkan senyawa alkohol dan
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

senyawa alkohol tidak akan bereaksi dengan reagen Ferri Klorida karena tidak akan membentuk
kompleks warna ungu sebagai indikator adanya fenol (Donald, 2008).
Mekanisme reaksi yang mendasari prinsip uji Ferri Klorida adalah terjadinya reaksi
substitusi antara sampel dengan reagen Ferri Klorida (FeCl3). Fenol akan melepas ion H+ dan
ion tersebut berikatan dengan Cl- dari reagen membentuk HCl. Ion H+ yang terlepas dari fenol
akan digantikan dengan Fe3+ dari reagen sehingga membentuk kompleks FeO pada cincin
benzena yang dapat menghasilkan kompleks warna ungu. Karena pada uji Ferri Klorida dengan
sampel 2-propanol ini menghasilkan hasil uji yang negatif, maka mekanisme reaksinya adalah:
CH3 — CH — CH3 + FeCl3 (tidak ada reaksi)

OH (Sitorus, 2010).

 Fenol
Sampel yang keempat adalah fenol (C6H5OH) yang memiliki keadaan awal (sebelum
diuji) yaitu tidak berwarna (bening). Setelah bercampur dengan aquades, tidak ada perubahan
yang terjadi karena aquades tersebut berfungsi hanya untuk mencegah sampel mengalami
penguapan. Setelah ditambahkan 2 tetes reagen Ferri Klorida, terlihat adanya kompleks warna
ungu yang besar/banyaknya sesuai tetesan reagen yang dimasukkan. Setelah dihomogenkan
dengan cara dikocok dan didiamkan selama beberapa saat, sampel mengalami perubahan warna
menjadi ungu sepenuhnya. Hal ini menunjukkan terdapat reaksi antara sampel dengan reagen
Ferri Klorida. Keadaan ini menunjukkan bahwa uji Ferri Klorida pada sampel fenol
menghasilkan hasil uji yang positif. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa
fenol akan bereaksi dengan reagen Ferri Klorida membentuk kompleks warna ungu sebagai
indikator adanya fenol (Donald, 2008).
Mekanisme reaksi yang mendasari prinsip uji Ferri Klorida adalah terjadinya reaksi
substitusi antara sampel dengan reagen Ferri Klorida (FeCl3). Fenol akan melepas ion H+ dan
ion tersebut berikatan dengan Cl- dari reagen membentuk HCl. Ion H+ yang terlepas dari fenol
akan digantikan dengan Fe3+ dari reagen sehingga membentuk kompleks FeO pada cincin
benzena yang dapat menghasilkan kompleks warna ungu. Karena pada uji Ferri Klorida dengan
sampel fenol ini menghasilkan hasil uji yang positif, maka mekanisme reaksinya adalah:

3 OH + FeCl3 Fe O + 3HCl

(Sitorus, 2010).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

F. PERTANYAAN
1. a. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Lucas dari beberapa sampel dalam percobaan
ini!
Sampel yang pertama adalah metanol (CH3OH) yang memiliki keadaan awal (sebelum
diuji) yaitu tidak berwarna (bening). Setelah dipanaskan selama 10-15 menit, sampel berubah
menjadi kuning bening tetapi dominan bening dan tidak berkabut. Keadaan ini menunjukkan
bahwa uji Lucas pada sampel metanol menghasilkan hasil uji yang negatif. Sampel yang kedua
adalah etanol (C2H5OH) yang memiliki keadaan awal (sebelum diuji) yaitu tidak berwarna
(bening). Setelah dipanaskan selama 10-15 menit, sampel berubah menjadi keruh dan terdapat
kabut. Keadaan ini menunjukkan bahwa uji Lucas pada sampel etanol menghasilkan hasil uji
yang positif. Tetapi hal ini tidak sesuai dengan literature karena etanol merupakan alcohol
primer dan tidak akan beraksi dengan reagen Lucas. Sampel yang ketiga adalah propanol
((CH3)2CHOH) yang memiliki keadaan awal (sebelum diuji) yaitu tidak berwarna (bening).
Namun setelah dipanaskan selama 10-15 menit, terdapat perubahan warna pada sampel menjadi
putih keruh seperti kabut. Keadaan ini menunjukkan bahwa uji Lucas pada sampel 2-propanol
menghasilkan hasil uji yang positif. Sampel yang keempat adalah fenol (C6H5OH) yang
memiliki keadaan awal (sebelum diuji) yaitu tidak berwarna (bening). Setelah dipanaskan
selama 10-15 menit, sampel berubah menjadi kuning bening tetapi dominan bening dan tidak
berkabut. Keadaan ini menunjukkan bahwa uji Lucas pada sampel fenol menghasilkan hasil uji
yang negative (Hein, 2008).
Dari percobaan diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa methanol dan etanol merupakan
alcohol primer, dan 2 propanol merupakan alcohol sekunder sedangkan fenol tidak dapat
dikategorikan sebagai jenis alkohol primer, sekunder, atau tersier sehingga tidak dapat bereaksi
dengan reagen Lucas (Hein, 2008).

b. Tuliskan mekanisme reaksi yang mendasari prinsip uji Lucas pada identifikasi gugus alkohol
Mekanisme reaksi yang mendasari prinsip uji Lucas adalah reagen Lucas akan
melarutkan alkohol. Kemudian, gugus hidroksil (-OH) yang kurang nukleofilik akan terlepas
dan bereaksi dengan H+ dari reagen dan membentuk H2O sedangkan OH- yang hilang/terlepas
dari alkohol akan digantikan dengan Cl- dari reagen Lucas sehingga terbentuk alkil klorida yang
tidak larut dalam larutan (Jamaliah, 2011).
Reaksi uji Lucas pada metanol (Jamaliah, 2011).
ZnCl2
CH3 — OH + HCl (tidak ada reaksi)

Reaksi uji Lucas pada etanol (Jamaliah, 2011).


ZnCl2
CH3 — CH2 — OH + HCl —— (tidak ada reaksi)

Rekasi uji Lucas pada 2-propanol (Jamaliah, 2011).

ZnCl2
CH3 — CH — CH3 + HCl CH3 — CH — CH3 + H2O

OH Cl
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

Reaksi uji Lucas pada Fenol (Jamaliah, 2011).

ZnCl2
OH + HCl —— (tidak ada reaksi)

2 Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Ferri Klorida dari beberapa sampel dalam percobaan
ini!
Sampel yang pertama adalah metanol (CH3OH) yang memiliki keadaan awal (sebelum
diuji) yaitu tidak berwarna (bening). Setelah ditambahkan 2 tetes reagen Ferri Klorida dan
dihomogenkan dengan cara dikocok, terlihat adanya perubahan warna sampel menjadi
kekuningan. Hal ini terjadi karena warna dari reagen itu sendiri adalah kekuningan. Hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada reaksi antara sampel dengan reagen Ferri Klorida. Keadaan ini
menunjukkan bahwa uji Ferri Klorida pada sampel metanol menghasilkan hasil uji yang negatif.
Sampel yang kedua adalah etanol (C2H5OH) yang memiliki keadaan awal (sebelum diuji) yaitu
tidak berwarna (bening). Setelah ditambahkan 2 tetes reagen Ferri Klorida dan dihomogenkan
dengan cara dikocok, terlihat adanya perubahan warna sampel menjadi kekuningan. Hal ini
terjadi karena warna dari reagen itu sendiri adalah kekuningan. Hal ini menunjukkan bahwa
tidak ada reaksi antara sampel dengan reagen Ferri Klorida. Keadaan ini menunjukkan bahwa
uji Ferri Klorida pada sampel etanol menghasilkan hasil uji yang negatif. Sampel yang ketiga
adalah 2-propanol ((CH3)2CHOH) yang memiliki keadaan awal (sebelum diuji) yaitu tidak
berwarna (bening). Setelah ditambahkan 2 tetes reagen Ferri Klorida dan dihomogenkan dengan
cara dikocok, terlihat adanya perubahan warna sampel menjadi kekuningan. Hal ini terjadi
karena warna dari reagen itu sendiri adalah kekuningan.. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada
reaksi antara sampel dengan reagen Ferri Klorida. Keadaan ini menunjukkan bahwa uji Ferri
Klorida pada sampel 2-propanol menghasilkan hasil uji yang negatif. Sampel yang keempat
adalah fenol (C6H5OH) yang memiliki keadaan awal (sebelum diuji) yaitu tidak berwarna
(bening). Setelah ditambahkan 2 tetes reagen Ferri Klorida, terlihat adanya kompleks warna
ungu yang besar/banyaknya sesuai tetesan reagen yang dimasukkan. Hal ini menunjukkan
terdapat reaksi antara sampel dengan reagen Ferri Klorida. Keadaan ini menunjukkan bahwa
uji Ferri Klorida pada sampel fenol menghasilkan hasil uji yang positif (Sitorus, 2010).
Dari percobaan diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa etanol, 2-propanol, dan mtanol
tidak beraksi dengan reagen Ferri Klorida, sedangkan fenol dapat bereaksi dengan reagen FeCl3
yang menghasilkan hasil uji positif (+) ini dikarenakan adanya reaksi substitusi antara sampel
dengan reagen FeCl3 dimana H+dalam fenol digantikan dengan Fe3+ yang berasal dari reagen
FeCl3. Lalu fenol akan melepas H+ yang berikatan dengan Cl-dan membentuk HCl, sedangkan
fenol yang kehilangan H+ akan diganti dengan Fe3+ sehingga membentuk FeO pada cincin
benzene yang menyebabkan perubahan warna menjadi ungu (Sitorus, 2010).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

G. Kesimpulan
Prinsip analisis uji Lucas pada alkohol adalah mengidentifikasi jenis alkohol primer,
sekunder atau tersier dengan menambahkan reagen Lucas yang akan menghasilkan reaksi
substitusi gugus hidroksil (-OH) dengan Cl- sehingga terbentuk alkil klorida yang tidak larut
dalam larutan. Reaksi/hasil positif pada uji Lucas ditandai dengan terciptanya kabut. Uji Lucas
didasarkan pada perbedaan reaktivitas dari tiga jenis alkohol tersebut dimana alkohol primer
tidak akan bereaksi, alkohol sekunder akan bereaksi setelah dilakukan pemanasan, dan alkohol
tersier akan bereaksi secara cepat tanpa pemanasan.
Sementara itu, prinsip analisis uji Ferri Klorida adalah mendeteksi keberadaan fenol
pada suatu senyawa dengan menambahkan reagen Ferri Klorida (FeCl3) yang akan
menghasilkan reaksi substitusi ion H+ dengan Fe3+ sehingga terbentuk kompleks FeO pada
cincin benzena. Reaksi/hasil positif pada uji Ferri Klorida ditandai dengan terbentuknya
kompleks warna ungu. Warna tergantung pada substituen yang terikat pada fenol.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui sifat fisik alkohol dan fenol serta
untuk membedakan senyawa alkohol primer, sekunder, tersier dan fenol dengan menggunakan
tes Lucas dan Ferri Klorida.
Berdasarkan data hasil pengamatan pada uji Lucas, sampel metanol dan etanol berwarna
kuning bening sesudah dipanaskan. Hal ini menunjukkan bahwa metanol dan etanol adalah
jenis alkohol primer. Sampel 2-propanol berwarna bening sebelum ditambahkan reagen Lucas
dan dipanaskan, kemudian berubah warna menjadi putih keruh dan berkabut. Hal ini
menunjukkan bahwa 2-propanol adalah jenis alkohol sekunder. Sampel fenol berwarna bening
sebelum dan sesudah ditambahkan reagen Lucas serta dipanaskan. Hal ini dikarenakan fenol
tidak dapat dikategorikan sebagai jenis alkohol primer, sekunder, atau tersier sehingga tidak
dapat bereaksi dengan reagen Lucas.
Berdasarkan data hasil pengamatan pada uji Ferri Klorida, sampel metanol, etanol, dan 2-
propanol berwarna bening sebelum ditambahkan reagen Ferri Klorida dan berwarna
kekuningan setelah ditambahkan reagen yang menunjukkan hasil uji negatif. Sampel fenol
bereaksi dan mengalami perubahan yaitu berwarna bening sebelum ditambahkan reagen Ferri
Klorida dan berwarna ungu setelah ditambahkan reagen. Terbentuknya kompleks warna ungu
menunjukkan bahwa terdapat senyawa fenol pada sampel sehingga dapat bereaksi dengan
reagen.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

DAFTAR PUSTAKA
Acton, Q Ashton. 2013. Propanols Advances in Research and Application. Atlanta: Scholarly
Editions
Julianto, Tatang S. 2016. Minyak Atsiri Bunga Indonesia. Yogyakarta: Deepublish
Permata, Dessy Gilang. 2015. Degradasi Fotokatalitik Fenol Menggunakan Fotokatalis ZnO
dan sinar UV. Bali: Universitas Udayana
Purba, Ramses Parlindungan. 2009. Produksi Etanol Dengan Variasi Inokulum Dan Kadar Pati
Jagung Pada Kultur Sekali Unduh. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya
Saifudin, Azis. 2014. Senyawa Alam Metabolit Sekunder: Teori, Konsep dan Teknik
Pemurnian. Yogyakarta: Deepublish
Saraswati, Indah. 2015. Panduan Praktikum Kimia. Yogyakarta: Deepublish
Simanjuntak, Tiurma PT. Komponen Gizi dan Terapi Pangan Ala Papua. Yogyakarta:
Deepublish
Subandi. 2010. Kimia Organik. Yogyakarta: Deepublish
Sujana, R.M Helmy. Kimia 7 Level. Yogyakarta: Deepublish
Sumardjo, Darmin. 2008. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan
Program Strata I Fakultas BioEksakta. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Widiati, Sylvia. 2014. Daya Hambat Ekstrak Ampas Teh Hitam (Camellia sinensis L.)
Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus Epidermidis. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN


Hein, Morris. 2008. Foundations of College Chemistry. New Jersey: John Wiley & Sons
Jamaliah, Mustaofidatul. 2011. Sintesis Etanol Melalui Reaksi Hidrogenasi Heksil Asetat
Dengan Menggunakan Berbagai Katalis. Jakarta: Universitas Negri Syarif Hidayatullah
Kelter, Paul. 2009. Chemistry:The Practical Science, Volume 10. Boston: Houghton Mifflin
Harcourt
Sitorus, Marham. 2010. Kimia Organik. Yogyakarta: Graha Ilmu
Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan
Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

LAMPIRAN

Sampel setelah di masukkan reagen Luccas

Sampel setelah di panaskan menggunakan


hotplate stirer

Sampel setelah di tetesi reagen Ferri Klorida