Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KASUS

RADIKULOPATI LUMBAL

PEMBIMBING:

dr. Fuad Hanif, Sp.S, M.Kes

Disusun Oleh:

Kriswindari Kusmawan

2018790070

KEPANITERAAN KLINIK STASE ILMU PENYAKIT SYARAF


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BANJAR
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan kasih sayang, kenikmatan, dan kemudahan yang begitu besar.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, atas nikmat
dan karunianya sehingga dapat terselesaikannya laporan kasus ini dengan judul
“RADIKULOPATI LUMBAL” Penulisan makalah kasus ini dibuat dengan tujuan untuk
memenuhi salah satu tugas kepaniteraan ilmu penyakit saraf di RSUD Kota Banjar.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak
sangatlah sulit untuk menyelesaikan makalah ini. Oleh Karena itu penulis ucapkan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Fuad Hanif, Sp.S selaku pembimbing yang
telah membantu dan memberikan bimbingan dalam penyusunan laporan ini. Dan kepada
semua pihak yang turut serta membantu penyusunan laporan kasus ini.

Akhir kata dengan segala kekurangan yang penulis miliki, segala saran dan kritik
yang bersifat membangun akan penulis terima untuk perbaikan selanjutnya. Semoga
laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang mempergunakannya selama proses
kemajuan pendidikan selanjutnya.

Banjar, 30 Juni 2019

Penulis
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. C
No. Rekam Medik : 410384
Umur : 57 Tahun
Jenis kelamin : Laki -laki
Agama : Islam
Alamat : Cilacap
Pekerjaan : Petani
Pendidikan : SMA
Tanggal Masuk : 22 Juni 2019
Tanggal Pulang : 1 Juli 2019

II. ANAMNESIS
A. Keluhan Utama
Nyeri pinggang kiri

B. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke RSUD Kota Banjar dengan keluhan nyeri pinggang kiri sejak ± 2 minggu
SMRS, keluhan dirasakan semakin lama semakin memberat, hingga pasien tidak dapat
berjalan. Pasien mengaku kaki kiri suka merasa kesemutan. Riwayat trauma pernah jatuh dari
pohon 3 tahun yang lalu. Pasien merasa sesak dan kedua tungkai udem, selain itu pasien juga
merasa mual. Muntah dan sakit kepala disangkal.

C. Riwayat Penyakit Dahulu:


Riwayat trauma jatuh dari pohon 3 tahun yang lalu, saat kejadian pasien tidak sadar dan
terdapat luka dipinggang. Riwayat HT (-), DM (-), kolestrol (-), penyakit jantung (+).

D. Riwayat Penyakit Keluarga:


Tidak ada keluarga yang memiliki keluhan serupa. Penyakit hipertensi, diabetes mellitus,
kolestrol, asam urat, dan penyakit jantung dikeluarga disangkal.

E. Riwayat Alergi :
Pasien alergi dengan makanan seafood dan tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat.

F. Riwayat Pengobatan :
Pasien sudah berobat namun tidak ada perbaikan dan keluarga tidak tahu obat apa yang
sudah diminum.

G. Riwayat sosial:
Pasien bekerja sebagai petani dan keluarga mengatakan pasien suka mengangkat beban
berat. Pasien merokok namun sudah lama berhenti.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos Mentis

GCS 15 = E4 V5 M6

Tanda Vital

Tekanan Darah : 110/80 mmHg

Suhu : 36,50C

Nadi : 80x/menit, reguler, kuat angkat

Nafas : 28 x/menit, reguler

Status Generalis

Kepala : Normochepal, rambut hitam dan lurus, tidak mudah rontok

Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)

Hidung : Deviasi septum (-), sekret (-/-), darah (-/-)

Telinga : Normotia, serumen (-/-), sekret (-/-), darah (-/-)

Mulut : Mukosa basah (+), sianosis (-)

Leher : Pembesaran KGB (-), tiroid (-)

Thoraks

Inspeksi : Simetris (+/+), retraksi (-/-)

Palpasi : Simetris (+/+) tidak ada yang tertinggal

Perkusi : Sonor (+/+)


Auskultasi : Vesikuler kiri = kanan, wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tak terlihat

Palpasi : Ictus cordis tidak teraba


Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (+), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi : Permukaan rata

Auskultasi : BU (+) Normal

Palpasi : hepatosplenomegaly (-)

Perkusi : Timpani

Ekstremitas

Atas : Akral hangat, RCT < 2 detik, edema (-/-), sianosis (-/-)

Bawah : Akral hangat, RCT < 2 detik, edema (+/+), sianosis (-/-)

IV. STATUS NEUROLOGIS

RANGSANG MENINGEAL
Kaku Kuduk : (-)
Lasegue sign : (-) / (+)
Kernig sign : (-) / (+)
Brudzinski I : (-)
Brudzinski II : (-)
Brudzinski III : (-)

NERVUS KRANIALIS
N.I (Olfaktorius) :

Dextra Sinistra
Daya Pembauan Dalam batas normal Dalam batas normal

N.II (Optikus)
Dextra Sinistra
Visus 6/6 6/6
Lapang Pandang Dalam batas normal Dalam batas normal
Pemeriksaan fundus Tidak dilakukan Tidak dilakukan
N.III (Okulomotoris), N. IV (Troklearis), dan N. VI (Abdusens)
Dextra Sinistra
Ptosis (-) (-)
Pupil N.V
a. Bentuk Bulat, isokor Bulat, isokor
b. Diameter 3 mm 3 mm
c. Reflex Cahaya
Direk (+) (+)
Indirek (+) (+)
Gerak bola mata Normal Normal

(Trigeminus)
Dextra Sinistra
Motorik
a. Menggigit Normal Normal
b. Membuka mulut Normal Normal
Sensibilitas
a. Oftalmikus Normal Normal
b. Maksila Normal Normal
c. Mandibula Normal Normal
Refleks
Kornea Normal Normal

N.VII (Facial)
Dextra Sinistra
Motorik
a. Mengangkat alis Normal Normal
b. Menutup mata Normal Normal
c. Tersenyum sambil Normal Normal
memperlihatkan
gigi
Sensorik
a. Daya kecap lidah Tidak dilakukan Tidak dilakukan
2/3 depan

N.VIII (Vestibulokoklearis)
Dextra Sinistra
Pendengaran
a. Test bisik Tidak dilakukan Tidak dilakukan
b. Test Rinne Tidak dilakukan Tidak dilakukan
c. Test Weber Tidak dilakukan Tidak dilakukan
d. Test Swabach Tidak dilakukan Tidak dilakukan
e. Berdiri dengan mata Sulit untuk dilakukan Sulit untuk dilakukan
terbuka
f. Berdiri dengan mata Sulit untuk dilakukan Sulit untuk dilakukan
tertutup

N.IX (Glosofaringeus) dan N.X (Vagus)


Arkus faring
a. Pasif Simetris
b. Gerakan aktif Simetris

Uvula
a. Pasif Simetris
b. Gerakan aktif Simetris

Disfonia (-)
Disfagia (-)

N. XI (Assesorius)
Dextra Sinistra
Memalingkan kepala dan leher Normal Normal
Mengangkat bahu Normal Normal
N.XII (Hypoglosus)
Posisi lidah Normal
Papil lidah Normal
Atrofi otot lidah (-)
Fasikulasi lidah (-)
FUNGSI MOTORIK
Kekuatan Otot
5 5
5 5

Kesan: Normal

FUNGSI SENSORIK

Ekstremitas atas Ekstremitas bawah


Kanan Kiri Kanan Kiri
Nyeri Normal Normal Normal Normal
Raba Normal Normal Normal Normal

FUNGSI VEGETATIF
BAK : Normal
BAB : Normal

REFLEK FISIOLOGIS
Reflek bisep : (N/N)
Reflek trisep : (N/N)
Reflek brachioradialis : (N/N)
Reflek patella
PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN : (N/N)
Reflek achilles
Natrium 119 135 – 145
: (N/N)
Kalium 3.6 – 5.5
Hemoglobin 12.3 14 – 17.5

Leukosit 16.0 4.4 – 11.3 REFLEK


PATOLOGIS
Trombosit 171 150 – 450 Babinski
: (-/-)
Hematokrit 37 40 – 52 %
Chaddock
Eritrosit 3.9 4.5 – 5.9 : (-/-)

MCV 88 80 – 96
III. PEMERIKSAAN
MCH 31 26-33 PENUNJANG

MCHC 36 32 – 36

Kreatinin 1,1 0.8 – 1.3

Ureum 43 15 – 50

GDS 78 < 140


Hasil Foto Lumbosacral Posisi AP dan Lateral

Kesan: Spondilosis lumbalis disertai listhesis VL 4-5 grade 1

Hasil Rongten Thoraks


Kesan:

Nama Pemeriksaan Detail Pemeriksaan Memo Hasil Pemeriksaan

Thorax AP/PA Cor CTR > 50% sinuses dan Kardiomegali


diafragma normal, hili kasar,
corakan bertambah

Tidak tampak kp aktif

Hasil EKG

Kesan :
AV Blok Derajat 1
Hipertrofi Ventrikel Kiri
Iskemik Anteroinferior
Follow Up

Tanggal S O A P

22/6/201 Nyeri pinggang KU: sakit sedang CHF Asering 500/24jam


9 Sesak Kesadaran: CM CAD Inj. Ketorolac 3x1ampl
Mual TTV Radikulopati Inj. Ranitidine 2x1ampl
Udem tungkai TD: 110/80 mmHg lumbal Ceftriaxone 1x2gr
HR: 80 x/mnt sinistra Gabapentin 2x100mg
RR: 28 x/mnt
S: 36,5
Jantung: Murmur
(+)
Lasegue -/+
Kernig’s sign -/+
24/6/201 Nyeri pinggang KU: sakit sedang CHF RL + Tramadol inj.
9 kiri Kesadaran: CM CAD Ranitidine 2x1 +
Sulit tidur TTV Radikulopati mecobalamin 1ampl
Kesemutan TD: 100/60 mmHg lumbal Gabapentin 3x100
Riwayat trauma HR: 63 x/mnt sinistra Kalk 1x1
(+) RR:26 x/mnt
Udem tungkai S: 36,2
Jantung: murmur
(+)
Lasegue -/+
Kernig’s -/+
Ekstremitas atas:
5/5
Ekstremitas bawah
5/5

25/6/201 Nyeri pinggang KU: sakit sedang CHF RL + Tramadol Iiampl


9 kiri Kesadaran: CM CAD Mecobalamin 1ampl
Sulit tidur TTV Radikulopati Ranitidine 2x1
Kesemutan TD: 120/70 mmHg lumbal Gabapentin 2x300
Udem tungkai HR: 70 x/mnt sinistra Kalk 1x1
RR: 23 x/mnt
S: 36,4
Jantung: murmur
(+)
Lasegue -/+
Kernig’s sign -/+
Ekstremitas atas:
5/5
Ekstremitas bawah:
5/5
26/6/201 Nyeri pinggang KU: sakit sedang CHF RL + Tramadol Iiampl
9 kiri < Kesadaran: CM CAD Mecobalamin 1ampl
Kesemutan TTV Radikulopati Ranitidine 2x1
Udem tungkai TD: 100/60 mmHg lumbal Gabapentin 2x300
HR: 117 x/mnt sinistra MPS 125 1-0-1
RR: 24 x/mnt Rehabilitasi Medik
S: 36,1 Kalk 1x1
Jantung: murmur
(+)
Lasegue -/+
Kernig’s sign -/+
Ekstremitas atas:
5/5
Ekstremitas bawah:
5/5
27/6/201 Sakit pinggang KU: sakit sedang CHF RL + Tramadol 1ampl
9 kiri Kesadaran: CM CAD Mecobalamin 1ampl
Sesak Sesak (+) Radikulopati Ranitidin 2x1
Sulit tidur TTV lumbal Gabapentin 2x300
Udem tungkai TD: 100/60 mmHg sinistra
HR: 82 x/mnt
RR: 24 x/mnt
S: 35,6
GDS: 310
Konjungtiva anemis
+/+
Akral dingin
Jantung: murmur
(+)
Lasegue -/+ (<<<)
Kernig’s sign -/+
(<<<)

28/6/201 Sesak KU: sakit sedang CHF RL + Tramadol 1ampl


9 Nyeri pinggang < Kesadaran: CM CAD Ranitidine 2x1
Keringat dingin Sesak (+) Radikulopati Gabapentin 2x300
Udem tungkai TTV: lumbal
Nyeri BAK (baru TD: 110/100 mmHg
pasang kateter) HR: 114 x/mnt
RR: 20 x/mnt
S: 35,9
GDS: 279
Konjungtiva anemis
+/+
Akral dingin
Jantung: murmur
(+)
Lasegue -/+ (<<<)
Kernig’s sign -/+
(<<<)
29/62019 Sesak < KU: sakit sedang CHF RL + Tramadol Iiampl
Nyeri pinggang < Kesadaran: CM CAD Ranitidine 2x1
Sulit tidur TTV: Radikulopati Gabapentin 2x300
Udem tungkai TD: 120/80 mmHg lumbal
HR: 108 x/mnt sinistra
RR: 23 x/mnt
S: 35,5
GDS: 154
Konjungtiva anemis
+/+
Akral dingin
Jantung: murmur
(+)
Lasegue -/+ (<<<)
Kernig’s sign -/+
(<<<)
1/7/2019 Nyeri pinggang < KU: sakit sedang CHF RL + Tramadol Iiampl
Sesak (+) Kesadaran: CM CAD Ranitidine 2x1
Mual Sesak (+) Radikulopati Gabapentin 2x300
Udem tungkai TTV: lumbal
TD: 120/80 mmHg sinistra
HR: 108 x/mnt
RR: 23 x/mnt
S: 35,5
Konjungtiva anemis
+/+
Akral hangat
Jantung: murmur
(+)
Lasegue -/+ (<<<)
Kernig’s sign -/+
(<<<)

IV. RESUME
Tn. C 57 tahun datang ke RSUD Kota Banjar dengan nyeri pinggang kiri sejak ±2
minggu SMRS, keluhan dirasakan semakin lama semakin memberat hingga pasien tidak
dapat berjalan. Pasien mengaku kaki kiri suka merasa kesemutan. Pasien tidak pernah
meraskan keluhan seperti ini sebelumnya. Pasien pernah berobat ke poli saraf tetapi keluhan
tidak membaik. Riwayat trauma jatuh dari pohon (±5 meter) 3 tahun yang lalu dan saat
kejadian pasien tidak sadar dan terdapat luka pada pinggang.

Pada Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang,


kesadaran compos mentis, tekanan darah: 110/80 mmHg, nadi: 80x/menit, reguler, kuat
angkat, pernapasan: 28 x/menit reguler, suhu: 36,50C. Pemeriksaan rangsang meningeal
lasegue dan kernig’s sign (-)/(+).

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan HB rendah (12.3), leukosit meningkat


(16.0), HT (37) dan Eritrosit (3.9) menurun. Foto lumbosacral hasilnya didapatkan
spondylosis lumbalis disertai listhesis VL 4-5 grade 1. Pada EKG hasilnya terdapat AV blok
derajat 1, Hipertrofi ventrikel kiri, iskemik anteroinferior. Pada foto thoraks didapakan hasil
kardiomegali.

V. DIAGNOSIS KERJA
Radikulopati lumbal sinistra.

VI. TATALAKSANA
Asering 500/24 jam
Ketorolac inj. 3 x 1 ampl.
Ranitidine inj. 2 x 1 ampl.
Ceftriaxone 1 x 2 gram
Gabapentin 2 x 100 mg.

VII.PROGNOSIS
Ad vitam : Dubia ad bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam
Ad fungsionam : Dubia ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA
RADIKULOPATI LUMBAL

A. ANATOMI

Kolumna vertebralis dibentuk oleh serangkaian 33 vertebra :

 7 servikal
 12 thorakal
 5 lumbal
 5 sakral
 4 coccygeus
Sebuah tulang punggung terdiri atas dua bagian yakni bagian anterior yang terdiri
dari badan tulang atau corpus vertebrae, dan bagian posterior yang terdiri dari arcus
vertebrae. Arcus vertebrae dibentuk oleh dua “kaki” atau pediculus dan dua lamina,
serta didukung oleh penonjolan atau procesus yakni procesus articularis, procesus
transversus, dan procesus spinosus. Procesus tersebut membentuk lubang yang disebut
foramen vertebrale. Ketika tulang punggung disusun, foramen ini akan membentuk
saluran sebagai tempat sumsum tulang belakang atau medulla spinalis. Di antara dua
tulang punggung dapat ditemui celah yang disebut foramen intervertebrale.

Diantara dua buah buah tulang vertebrae terdapat diskus intervertebralis yang
berfungsi sebagai bentalan atau “shock absorbers” bila vertebra bergerak. Diskus
intervertebralis terdiri dari annulus fibrosus yaitu masa fibroelastik yang membungkus
nucleus pulposus, suatu cairan gel kolloid yang mengandung mukopolisakarida. Fungsi
mekanik diskus intervertebralis mirip dengan balon yang diisi air yang diletakkan
diantara ke dua telapak tangan . Bila suatu tekanan kompresi yang merata bekerja pada
vertebrae maka tekanan itu akan disalurkan secara merata ke seluruh diskus
intervertebralis. Bila suatu gaya bekerja pada satu sisi yang lain, nucleus polposus akan
melawan gaya tersebut secara lebih dominan pada sudut sisi lain yang berlawanan.
Keadaan ini terjadi pada berbagai macam gerakan vertebra seperti fleksi, ekstensi,
laterofleksi.
Bagian ini (L1-L5) merupakan bagian paling tegap konstruksinya dan
menanggung beban terberat dari yang lainnya. Bagian ini memungkinkan gerakan fleksi
dan ekstensi tubuh, dan beberapa gerakan rotasi dengan derajat yang kecil. Pada daerah
lumbal facet letak pada bidang vertical sagital memungkinkan gerakan fleksi dan
ekstensi ke arah anterior dan posterior. Pada sikap lordosis lumbalis (hiperekstensi
lubal) kedua facet saling mendekat sehingga gerakan kalateral, obique dan berputar
terhambat, tetapi pada posisi sedikit fleksi kedepan (lordosis dikurangi) kedua facet
saling menjauh sehingga memungkinkan gerakan ke lateral berputar.
B. DEFINISI
Radikulopati adalah suatu keadaan yang berhubungan dengan gangguan fungsi
dan struktur radiks akibat proses patologis yang dapat mengenai satu atau lebih radiks
saraf dengan pola gangguan bersifat dermatomal. Terdapat tipe-tipe dari radikulopati,
yaitu:

1. Radikulopati Lumbal
Radikulopati lumbal merupakan bentuk radikulopati pada daerah lumbar yang
disebabkan oleh iritasi atau kompresi dari radiks saraf lumbal. Radikulopati
lumbal sering juga disebut siatika. Pada radikulopati lumbal, keluhan nyeri
punggung bawah (low back pain) sering didapatkan.
2. Radikulopati Servikal
Radikulopati servikal umumnya dikenal dengan “saraf terjepit” merupakan
kompresi pada satu atau lebih radiks saraf pada leher. Gejala pada radikulopati
servikal seringnya disebabkan oleh spondilosis servikal.

3. Radikulopati Torakal
Radikulopati torakal merupakan bentuk yang relatif jarang dari kompresi saraf
pada punggung tengah. Daerah ini strukturnya tidak banyak membengkok seperti
pada daerah lumbar atau servikal. Oleh karena itu, area toraks lebih jarang
menyebabkan sakit pada spinal. Namun, kasus yang sering ditemukan pada
bagian ini adalah nyeri pada infeksi herpes zoster.

C. EPIDEMIOLOGI

Radikulopati lumbal terjadi pada sekitar 3-5% dari populasi, dimana angka
kejadian antara laki-laki dan perempuan adalah sama, meskipun laki-laki yang paling
sering terkena pada usia 40-an, sedangkan wanita yang paling sering terkena antara usia
50-60. Dari mereka yang memiliki kondisi ini, 10-25% mengembangkan gejala-gejala
yang menetap selama lebih dari 6 minggu.

D. ETIOLOGI

Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya radikulopati, diantaranya yaitu


proses kompresif, proses inflammatory, proses degeneratif sesuai dengan struktur dan
lokasi terjadinya proses.
a. Proses kompresif
Kelainan-kelainan yang bersifat kompresif sehingga mengakibatkan radikulopati
adalah seperti : hernia nucleus pulposus (HNP) atau herniasi diskus, tumor
medulla spinalis, neoplasma tulang, spondilolisis dan spondilolithesis, stenosis
spinal, traumatic dislokasi, kompresif fraktur, scoliosis dan spondilitis
tuberkulosa, cervical spondilosis.

b. Proses inflammatory
Kelainan-kelainan inflamatori sehingga mengakibatkan radikulopati adalah
seperti : Gullain-Barre Syndrome dan Herpes Zoster.

c. Proses degenerative
Kelainan-kelainan yang bersifat degeneratif sehingga mengakibatkan radikulopati
adalah seperti Diabetes Mellitus.

E. FAKTOR RISIKO
 Kegemukan (obesitas)
 Pekerjaan yang sering membungkuk
 Riwayat trauma tulang belakang
 Riwayat keluarga.

F. PATOFISIOLOGI

Kontruksi punggung yang unik dapat memungkinkan fleksibilitas sementara yang


dapat melindungi sumsum tulang belakang secara maksimal. Lengkungan tulang
belakang akan mengalami guncangan vertikal pada saat berlari atau melompat. Batang
tubuh membantu menstabilkan tulang belakang. Otot- otot abdominal dan toraks sangat
penting pada aktivitas mengangkat beban. Bila tidak pernah dipakai akan melemahkan
struktur pendukung ini. Obesitas, masalah postur, dan peregangan berlebihan pendukung
tulang belakang dapat berakibat nyeri punggung.

Diskus intervertebralis akan mengalami perubahan sifat ketika usia bertambah tua.
Pada orang muda, diskus tersusun atas fibrokartilago dengan matriks gelatinus. Pada
lanjut usia akan menjadi fibrokartilago yang padat dan tidak teratur. Penonjolan diskus
atau kerusakan sendi dapat mengakibatkan penekanan pada akar saraf ketika keluar dari
kanalis spinalis, yang mengakibatkan nyeri yang menyebar sepanjang saraf.
Herniasi diskus intervertebra lumbal, sering terjadi pada daerah L4-L5 dan L5-S1.
L5 sering terkena karena mempunyai diameter radiks paling besar dan foramen
intervertebranya lebih sempit daripada lumbal lainnya. Pada proses penuaan pada diskus
intervebralis, maka kadar cairan dan elastisitas diskus akan menurun. Keadaan ini
mengakibatkan ruang diskus intervebralis makin menyempit, “facet join” makin merapat,
kemampuan kerja diskus menjadi makin buruk, annulus menjadi lebih rapuh.

Akibat proses penuaan ini mengakibatkan seorang individu menjadi rentan


mengidap nyeri punggung bawah. Gaya yang bekerja pada diskus intervebralis akan
makin bertambah setiap individu tersebut melakukan gerakan membungkuk, gerakan
yang berulang-ulang setiap hari yang hanya bekerja pada satu sisi diskus intervebralis,
akan menimbulkan robekan kecil pada annulus fibrosus, tanpa rasa nyeri dan tanpa gejala
prodromal.
Jika terdapat penonjolan di lateral diskus radik L4-L5, dapat mempengaruhi
daerah nervus L5 saja, tidak daerah L4. Namun jika terjadi di lateral diskus L5-S1, maka
akan mengenai nervus daerah S1 saja.

Dan jika terdapat penonjolan pada bagian tengah diskus L4-L5, maka akan
berefek pada L5, S1, S2, S3, bahkan nervus sacral lainnya, tetapi tidak mengenai L4.

Hernia Nucleus Pulposus

Hernia nucleus pulposus atau herniasi diskus, disebut juga ruptured, prolapsed
atau protruded disc. Keadaan ini diketahui sebagai penyebab terbanyak back pain dan
nyeri tungkai berulang. Kebanyakan terjadi di antara vertebra L 5-S1. Frekuensi yang
kurang terdapat di antara vertebra L4-L5, L3-L4, L2-L3 dan L1-L2. Jarang terdapat pada
vertebra torakal, dan sering pada vertebra C5-C6 dan C6-C7. Penyebab biasanya terjadi
trauma fleksi, tapi pada beberapa penderita dapat berupa tanpa trauma.

Penyebab lain adalah kecenderungan degenerasi discus intervertebral bertambah,


sesuai dengan meningkatnya umur, dapat mengenai daerah cervikal dan lumbal pada
penderita yang sama. Herniasi nucleus merupakan tonjolan yang lunak, tetapi suatu
waktu mengalami perubahan menjadi fibrokartilago, akhirnya menjadi tonjolan
kalsifikasi.

Kebanyakan kasus berumur antara 20-64 tahun dan tersering pada umur 30-39
tahun. Setelah umur 40 tahun frekuensinya menurun. Laki-laki memiliki dua kali lipat
kemungkinan untuk menderita HNP berbanding wanita. Nukleus pulposus yang menonjol
melalui annulus fibrosus yang robek biasanya pada sis dorsolateral satu sisi atau sisi
lainnya (kadang-kadang pada bagian dorsomedial) menyebabkan penekanan pada radiks
atau radiks-radiks.

Diskus Herniasi

Kelainan tulang belakang seperti hernia nukleus pulposus atau diskus hernia,
stenosis kanalis, spondylolisthesis dapat mengganggu jalan radiks dan saraf spinal,
sehingga menimbulkan nyeri.

Tipe – tipe nyeri pinggang :

Nyeri pinggang yang berasal dari stuktur lumbosakral:

 Nyeri yang berasal dari stuktur ini menetap dan kurang jelas terlokalisir, tapi
sering dirasakan sekitar daerah yang terkena. Bila berat akan disertai spasme otot
sekitarnya dan ini akan menambah nyeri. Pasien mengenal posisi mana yang enak
dan yang menimbulkan nyeri. Tekanan dan ketokan pada daerah lesi
menimbulkan nyeri.
 Nyeri yang berasal dari spasme otot, sifatnya seperti menekan dan otot terasa
kram dan nyeri, kadang – kadang dapat diraba benjolan dan kontraksi otot lokal.
 Nyeri rujukan dapat berupa nyeri tulang belakang dirujuk ke struktur
extravertebral, misalnya daerah pantat dan otot fleksor tungkai bawah atau nyeri
dari organ abdominal dan pelvis ( ovarium, uterus, prostat, colon ) dirujuk ke
pinggang. Sifat nyeri ini biasanya difus, kadang – kadang lebih ke permukaan atau
seperti di bakar. Intensitas nyeri sesuai dengan beratnya lesi primernya.
 Nyeri yang berasal dari radiks atau saraf spinal, biasanya lebih hebat dari nyeri
rujukan dan mempunyai sifat menjalar baik dari proksimal ke distal atau
sebaliknya. Nyeri bersifat tajam dan diperhebat oleh gerakan, batuk, mengedan,
atau nyeri. Ini dapat terjadi atas latar belakang nyeri yang samar – samar
sebelumnya.

Tumor medulla spinalis

Tumor di daerah lumbosakral dapat terjadi pada konus medularis dan kauda
equine. Tumor yang tersering adalah ependioma. Tumor ini berasal dari sel-sel ependim
yang terdapat pada konus medularis dan filum terminale. Tumor ini timbulnya lambat,
hanya sebagian kecil berasal dari konus, sebagian besar berasal dari filum terminale yang
kemudian mengenai radiks saraf.

Schwannoma; merupakan tumor primer intraspinal yang sering ditemukan.


Merupakan ekstrameduler intradural tumor yang terdiri dari sel-sel schwann, dan dapat
muncul dari saraf spinal pada setiap level. Tersering muncul dari radiks posterior dengan
keluhan-keluhan nyeri radikuler. Pertumbuhannya lambat sebelum diagnosa diketahui
dengan benar.

Neoplasma Tulang

Tumor ganas dapat merupakan tumor primer dari tulang ataupun sekunder hasil
metastase dari tempat lain seperti buah dada, paru-paru, prostate, tiroid, ginjal, lambung
dan uterus. Tumor ganas primer yang sering ditemukan adalah multiple myeloma yang
menyerang dan merusak tulang terutama sekali pada orang tua,laki-laki berusia lebih dari
40 tahun. Dapat menyebabkan kolaps vertebra dengan keluhan pertama yaitu nyeri
punggung.

Tumor ganas sekunder juga sering ditemukan pada vertebra, dapat berupakan
osteoblastik tumor, metastase dari buah dada. Osteolitik tumor dapat berasal dari buah
dada, apru-paru, ginjaldan tiroid, menebabkan destruksi tulang dengan akibat “wedge
shape” atau kolaps pada vertebra yang terkena. Satu atau beberapa radix akan ikut
terlibat.
Spondilolisis dan Spondilolitesis

Spondilolisis adalah proses degeneratif pada kolumna vertebra dan berhubungan


dengan jaringan lunak. Ia adalah garis litik yang menyilang pars interartikularis yaitu
daerah antara prosesus artikularis superior dan inferior. Hal ini ditandai dengan defek
structural dari spina meliputi lamina atau neural arch dari vertebra. Bagian yang paling
sering dipengaruhi adalah spina lumbal. Defek ini terjadi pada bagian lamina di antara
superior dan inferior articular facets yang disebut pars interartikularis. Tekanan mekanis
dapat menyebabkan vertebra yang bersangkutan dapat bergeser mengakibatkan forward
displacement dari defisiensi vertebra yang disebut spondylolisthesis.

Faktor keturunan memainkan peranan penting, dan diduga disebabkan fraktur


karena stress berulang. Akibat dari torsional dan rotasional stress, mikrofraktur dapat
terjadi pada tempat yang dipengaruhi dan bahkan menyebabkan disolusi pada pars
interartikularis. Yang paling sering mengalami spondilolisis dan spondilisthesis adalah
vertebra L5.

Spondylolithesis dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan persentase


terjadinya slip atau tergelincir. Derajat pergeseran secara klinis dihitung dari hubungan
vertebra bagian superior terhadap vertebra bagian inferior. Pergeseran sampai 25%
merupakan derajat I, 25-50% derajat II, 50-75% derajat III, lebih dari 75% derajat IV.
Terdapat lima tipe spondilolithesis, yaitu :

Tipe I : Kongenital spondilolithesis

Tipe II : Isthmik spondilolithesis

Tipe III : Degeneratif spondilolithesis

Tipe IV : Traumatik spondilolithesis

Tipe V : Patologik spondilolithesis

Kongenital spondilolithesis atau displastik spondilolisthesis merupakan proses


sekunder dari defek kongental pada sacral superior atau inferior faset L5 atau keduanya
dengan pergeseran yang bertahap pada vertebra L5. Pada tipe isthmik spondilolithesis lesi
terdapat pada isthmus atau pars interartikularis. Degeneratif spondilolisthesis timbul
karena proses degenerasi pada sendi faset lumbal, sering pada usia tua. Traumatik
spondilolithesis berhubungan dengan fraktur elemen posterior (pedikel, lamina atau
faset). Patologik spondilolithesis timbul karena kelemahan struktur tulang, sekunder dari
proses penyakit tumor atau penyakit tulang lain.
Pergeseran pada spondilolithesis Spondilolithesis grade I

Stenosis spinal

Pada stenosis spinal, canalis spinal mungkin secara congenital sempit atau
menyempit karena penonjolan annulus, hipertrofi faset, atau ligament longitudinal
posterior yang tebal atau mengeras “entrapping” satu nervus yang mengandung beberapa
radix. Penyempitan kanalis lumbalis dapat disebabkan oleh pedikel yang pendek karena
congenital, lamina dan faset yang tebal, kurva scoliosis dan lordotik. Kebanyakan kasus
idiopatik meskipun banyak kondisi yang berhubungan dengan lumbar kanal stenosis dan
sering terjadi pada usia pertengahan dan usia tua.Lumbar kanal stenosis dan sering terjadi
pada usia pertengahan dan usia tua.

Stenosis Kanalis Spinal stenosis


Traumatik dislokasi

Pada traumatic yang menimbulkan dislokasi dari facet joint vertebra akan
menimbulkan nyeri punggung yang hebat. Keadaan ini akan meyebabkan penyempitan
foramen intervertebal, sehingga radix dan jaringna yang berdekatan mengalami iritasi den
kompresi di dalam kanalnya dengan gejal-gejala radikuler.

Kompresif fraktur

Defisit neurology pada kompresif fraktur, bil;a terjadi penekanan pada radix atau
penyempitan pada foramen intervertebral yang dapat mengenai satu atau lebih radix.

Skoliosis

Umumnya pada orang dewasa dengan keluhan utama nyeri punggung. Sering
berhubungan dengan lengkungan lumbal dan lengkungan torakolumbal. Nyeri disebabkan
oleh proses degeneratif pada facet joint lengkungan itu sendir.

Proses kompresif pada thorakal dan lumbal spinalis

Spondilitis tuberkulosa

Spondilitis tuberkulosa sering terjadi pada vertebra torakal dan lumbal. Vertebra
yang sering terinfeksi adalah torakolumbal T8-L3. Bagian anterior vertebra lebih sering
terinfeksi dibandingkan bagian posterior dengan gejala awal berupa nyeri radikuler yang
dikenal sebagai nyeri interkostalis.

Perjalanan infeksi pada vertebra dimulai dengan setelah terjadi fase hematogen
atau reaktivasi kuman dorman. Basil masuk ke korpus vertebra melalui jalur arteri dan
penyebaran berlansung secara sistemik sepanjang arteri ke perifer termasuk ke dalam
korpus vertebra yang berasal dari arteri segmentalis interkostal. Di dalam korpus, arteri
ini berakhir sebagai end artery tanpa anastomoses sehingga perluasan infeksi korpus
vertebra sering dimulai pada daerah paradiskal.

Jalur kedua adalah melalui pleksus Batson, suatu anyaman vena epidural dan
peridural. Vena dari korpus vertebra mengalir ke pleksus Batson pada perivertebral. Vena
dari korpus ke luar melalui bagian posterior. Pleksus ini beranastomose dengan vena
dasar otak, dinding dada, interkostal, lumbal, dan vena pelvis. Aliran retrograde yang
dapat terjadi akibat perubahan tekanan dinding dada dan abdomen dapat menyebabkan
basil menyebar dari infeksi tuberkulosa yang berasal dari organ di daerah aliran vena
tersebut.

Jalur ketiga adalah dari abses paravertebral yang telah terbentuk dan menyebar
sepanjang ligamentum longitudinal anterior dan posterior ke korpus vertebra yang
berdekatan. Infeksi pada korpus vertebra berlanjut menjadi nekrosis dan destruksi
sehingga pada bentuk sentral dapat terjadi kompresi spontan akibat trauma, sedangkan
pada bentuk paradiskus akan menimbulkan kompresi, iskemi dan nekrosi diskus. Pada
bentuk anterior terjadi destruksi dari korpus di bagian anterior sehingga korpus vertebra
menjadi bentuk baji dan pasien diperhatikan adanya “gibbus formation” apabila proses ini
telah berjalan lama. Gangguan neurologist yang terjadi pada fase awal adalah akibat
penekanan oleh pus, perkejuan atau jaringan granulasi dengan nyeri sebagai keluhan
pertama yang muncul. Nyeri dapat dirasakan terlokalisir di sekitar lesi atau berupa nyeri
menjalar sesuai saraf yang terkena.

Proses inflamasi

Gullaine-Barre Syndrome

Disebut juga sebagai acute inflammatory demyelinating polyradiculopathy..


Kelainan neurologik kemungkinan besar disebabkan oleh reaksi humoral dan “cell-
mediated” yang diarahkan ke myelin saraf perifer. Influks makrofag didahului dengan
infiltrasi oleh limfosit yang berperan di dalam proses destruksi. Akhirnya cirri infiltrasi
sel radang dan demyelinasi segmental dan bebrapa derajat dari degenerasi wallerian.
Infiltrasi kadang-kadang menyebar melalui saraf kanalis, radix anterior dan posterior,
ganglion radix posterior,dan sepanjang keseluruhan saraf perifer. Infiltrasi dari sel-sel
radang juga dijumpai dalam kelenjar limfe, hati, limfa, jantung dan organ-organ lainnya,
ini menunjukkan suatu penyakit sistemik. Manifestasi penyakit berupa hasil suatu reaksi
imunologik. Biasanya penyakit ini didahului oleh infeksi virus exanthema, dan penyakit-
penyakit virus lainnya.

Herpes Zoster

Herpes Zoster juga dikenal sebagai Acute Inflammatory demyelinating


Polyradiculopathy disebabkan oleh varicella virus. Dapat terjadi di semua tempat, semua
musim, emua umur pada kedua jenis kelamin. Penyakit ini mempunyai pola dan bentk
yang tetap. Infiltrasi menyebar melalui saraf kranialis, radix anterior dan posterior,
ganglion radix posterior, dan sepanjang keseluruhan saraf perifer. Manifestasi penyakit
ini merupakan hasil suatu reaksi imunologik yang biasanya didahului dengan infeksi
virus exanthema dan penyakit-penyakit virus lainnya terutama pada keadaan
imunosupresif.

Penyakit Degeneratif

Penyakit Diabetes Mellitus

Pasien-pasien yang menderita diabetes mellitus merupakan predisposisi dari


berbagai macam gangguan saraf perifer berupa “peripheral neuropathy” yang cenderung
progresif dan irreversible. Terutama polineuropati distal sensoris simetris. Neuropati
asimetrik juga dapat muncul seperti mononeuritis multikompleks, sensitive terhadap
kompresi atau neuropati karena jeratan (entrapment) dan radikulopleksopati akut (lumbal
pleksopati). Hal ini disebabkan oleh gangguan metabolic dan vaskuler.

G. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis radikulopati pada daerah lumbal antara lain :

 Rasa nyeri pada daerah sakroiliaka, menjalar ke bokong, paha, hingga ke betis,
dan kaki. Nyeri dapat ditimbulkan dengan Valsava maneuvers (seperti : batuk,
bersin, atau mengedan saat defekasi).
 Pada ruptur diskus intervertebra, nyeri dirasakan lebih berat bila penderita sedang
duduk atau akan berdiri. Ketika duduk, penderita akan menjaga lututnya dalam
keadaan fleksi dan menumpukan berat badannya pada bokong yang berlawanan.
Ketika akan berdiri, penderita menopang dirinya pada sisi yang sehat, meletakkan
satu tangan di punggung, menekuk tungkai yang terkena (Minor’s sign). Nyeri
mereda ketika pasien berbaring. Umumnya penderita merasa nyaman dengan
berbaring telentang disertai fleksi sendi coxae dan lutut, dan bahu disangga
dengan bantal untuk mengurangi lordosis lumbal. Pada tumor intraspinal, nyeri
tidak berkurang atau bahkan memburuk ketika berbaring.
 Gangguan postur atau kurvatura vertebra. Pada pemeriksaan dapat ditemukan
berkurangnya lordosis vertebra lumbal karena spasme involunter otot-otot
punggung. Sering ditemui skoliosis lumbal, dan mungkin juga terjadi skoliosis
torakal sebagai kompensasi. Umumnya tubuh akan condong menjauhi area yang
sakit, dan panggul akan miring, sehingga sendi coxae akan terangkat. Bisa saja
tubuh penderita akan bungkuk ke depan dan ke arah yang sakit untuk menghindari
stretching pada saraf yang bersangkutan. Jika iskialgia sangat berat, penderita
akan menghindari ekstensi sendi lutut, dan berjalan dengan bertumpu pada jari
kaki (karena dorsifleksi kaki menyebabkan stretching pada saraf, sehingga
memperburuk nyeri). Penderita bungkuk ke depan, berjalan dengan langkah kecil
dan semifleksi sendi lutut disebut Neri’s sign.
 Ketika pasien berdiri, dapat ditemukan gluteal fold yang menggantung dan
tampak lipatan kulit tambahan karena otot gluteus yang lemah. Hal ini merupakan
bukti keterlibatan radiks S1.
 Dapat ditemukan nyeri tekan pada sciatic notch dan sepanjang n.iskiadikus.
 Pada kompresi radiks spinal yang berat, dapat ditemukan gangguan sensasi,
paresthesia, kelemahan otot, dan gangguan refleks tendon. Fasikulasi jarang
terjadi.
 Hernia Nucleus Pulposus (HNP) biasanya terletak di posterolateral dan
mengakibatkan gejala yang unilateral. Namun bila letak hernia agak besar dan
sentral, dapat menyebabkan gejala pada kedua sisi yang mungkin dapat disertai
gangguan berkemih dan buang air besar.

Penjalaran nyeri pada radikulopati lumbal

H. ALUR DIAGNOSIS
a) Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

 Timbulnya gejala pada pasien dengan radikulopati lumbosakral sering tiba-


tiba dan berupa LBP (nyeri punggung bawah). Beberapa pasien menyatakan
nyeri punggung yang sudah ada sebelumnya menghilang ketika sakit pada
kaki mulai terasa.

 Duduk, batuk, atau bersin dapat memperburuk rasa sakit, yang berjalan dari
bokong turun ke tungkai kaki posterior atau posterolateral menuju
pergelangan kaki atau kaki.

 Tanyakan penjalaran dari nyerinya, kelemahan otot, dan adanya perubahan


postur tubuh, cara duduk dan berdiri, kesulitan ketika berdiri setelah duduk
atau berbaring, dan perubahan dalam posisi berjalan.
 Tanyakan apakah ada gangguan sensasi (seperti : kesemutan, baal, dan rasa
terbakar) dan gangguan dalam berkemih ataupun defekasi.

 Ketika memperoleh riwayat pasien, waspadai setiap red flags (yaitu,


indikator kondisi medis yang biasanya tidak hilang dengan sendirinya tanpa
manajemen). Red flags tersebut dapat menyiratkan kondisi yang lebih rumit
yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut (misalnya, tumor, infeksi).
Adanya demam, penurunan berat badan, atau menggigil memerlukan
evaluasi menyeluruh. Usia pasien juga merupakan faktor ketika mencari
kemungkinan penyebab lain dari gejala-gejala pasien. Individu dengan usia
kurang dari 20 tahun dan yang lebih dari 50 tahun memiliki risiko keganasan
lebih tinggi yang dapat menyebabkan nyeri (misalnya, tumor, infeksi).

Sebelum melakukan pemeriksaan fisik, adalah penting untuk melakukan


anamnesa terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk mengetahui hubungan dengan trauma
atau infeksi dan rekurensi. Harus ditanyakan karakter nyeri, distribusi dan penjalarannya,
adanya paresthesia dan gangguan subjektif lainnya, adanya gangguan motorik (seperti
kelemahan dan atrofi otot). Juga perlu diketahui gejala lainnya seperti gangguan
pencernaan dan berkemih, anestesia rektal/genital.

Pemeriksaan fisik yang lengkap adalah penting. Penting untuk memperhatikan


abnormalitas postur, deformitas, nyeri tekan, dan spasme otot. Pada pemeriksaan
neurologis harus diperhatikan:

 Gangguan sensorik (hipesthesia atau hiperesthesia). Perlu dibedakan gangguan


saraf perifer atau segmental.
 Gangguan motorik (pemeriksaan kekuatan otot, atrofi, fasikulasi, spasme otot).
 Perubahan refleks.

Prosedur diagnosa khusus untuk pemeriksaan radikulopati lumbal antara lain :

 Lasegue’s sign
Pemeriksaan dilakukan dengan : pasien berbaring, secara pasif lakukan fleksi
sendi coxae, sementara lutut ditahan agar tetap ekstensi. Fleksi pada sendi coxae
dengan lutut ekstensi akan menyebabkan stretching n.iskiadikus. Dengan tes ini,
pada radikulopati lumbal, sebelum tungkai mencapai kecuraman 70°, akan
didapatkan nyeri (terkadang juga disertai dengan baal dan paresthesia) pada
sciatic notch disertai nyeri dan hipersensitif sepanjang n.iskiadikus.
 Straight-leg-raising-test : dilakukan dengan metode seperti Kernig’s sign.

Bila kedua prosedur tersebut positif, mengindikasikan terdapat iritasi meningeal atau
iritasi radiks lumbosakral.
Test Lasegue Spurling’s sign

 Test Lasegue silang


Pada beberapa pasien radikulopati lumbal, iskialgia pada tungkai yang sakit dapat
diprovokasi dengan mengangkat tungkai yang sehat dalam posisi lurus. Test
O’Conell : dilakukan Lasegue test pada tungkai yang sehat, nyeri dapat dirasakan
pada sisi yang sehat (Fajersztajn’s sign), namun dengan derajat yang lebih ringan.
Selanjutnya pemeriksaan ini dilakukan pada tungkai yang sakit. Kemudian
dilakukan secara bersamaan pada kedua kaki. Selanjutnya tungkai yang sehat
direndahkan mendekati tempat tidur; hal ini akan menyebabkan eksaserbasi nyeri,
kadang juga disertai dengan paresthesia.
Beberapa ahli menyatakan pemeriksaan ini patognomonik untuk herniasi diskus
intervertebra.
 Nerve pressure sign
Pemeriksaan dilakukan dengan : Lasegue’s test dilakukan hingga penderita
merasakan nyeri, kemudian lutut difleksikan 20°, dilanjutkan dengan fleksi sendi
coxae dan penekanan n.tibialis pada fossa poplitea, hingga penderita mengeluh
nyeri. Test ini positif bila terdapat nyeri tajam pada daerah lumbal, bokong sesisi,
atau sepanjang n.iskiadikus.
Sensorik

Penting dicatat bila ada gangguan sensorik dengan batas jelas. Namun
seringkali gangguan sensorik tidak sesuai dermatomal atlas anatomik.
Hal ini disebabkan oleh adanya daerah persarafan yang bertumpang tindih satu sama
lain. Pemeriksaan ini juga menunjukkan tingkat subjektivitas yang tinggi.

b) Pemeriksaan Penunjang Radikulopati

Radikulopati dapat didiagnosa dari menifestasi klinis yang khas, seperti rasa
nyeri, baal, atau paresthesia yang mengikuti pola dermatomal. Namun demikian
gejala-gejala tersebut dapat disebabkan oleh banyak hal, sehingga untuk menentukan
penatalaksanaan radikulopati, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang, antara
lain:

 Rontgen
Tujuan utama foto polos Roentgen adalah untuk mendeteksi adanya kelainan
struktural. Seringkali kelainan yang ditemukan pada foto roentgen penderita
radikulopati juga dapat ditemukan pada individu lain yang tidak memiliki keluhan
apapun.
 MRI/CT Scan
MRI merupakan pemeriksaan penunjang yang utama untuk mendeteksi kelainan
diskus intervertebra. MRI selain dapat mengidentifikasi kompresi medula spinalis
dan radiks saraf, juga dapat digunakan untuk mengetahui beratnya perubahan
degeneratif pada diskus intervertebra. Dibandingkan dengan CT Scan, MRI
memiliki keunggulan, yaitu adanya potongan sagital, dan dapat memberikan
gambaran hubungan diskus intervertebra dan radiks saraf yang jelas; sehingga
MRI merupakan prosedur skrining yang ideal untuk menyingkirkan diagnosa
banding gangguan struktural pada medula spinalis dan radiks saraf. CT Scan
dapat memberikan gambaran struktur anatomi tulang vertebra dengan baik, dan
memberikan gambaran yang bagus untuk herniasi diskus intervertebra. Namun
demikian sensitivitas CT Scan tanpa myelography dalam mendeteksi herniasi
masih kurang bila dibandingkan dengan MRI.
 Myelografi
Pemeriksaan ini memberikan gambaran anatomik yang detail, terutama elemen
osseus vertebra. Myelografi merupakan proses yang invasif karena melibatkan
penetrasi pada ruang subarachnoid. Secara umum myelogram dilakukan sebagai
test preoperatif, seringkali dilakukan bersama dengan CT Scan.
 Nerve Concuction Study (NCS), dan Electromyography (EMG)
NCS dan EMG sangat membantu untuk membedakan asal nyeri atau untuk
menentukan keterlibatan saraf, apakah dari radiks, pleksus saraf, atau saraf
tunggal. Selain itu pemeriksaan ini juga membantu menentukan lokasi kompresi
radiks saraf. Namun bila diagnosis radikulopati sudah pasti secara pemeriksaan
klinis, maka pemeriksaan elektrofisiologis tidak dianjurkan.
 Laboratorium
Pemeriksaan darah perifer lengkap, laju endap darah, faktor rematoid, fosfatase
alkali/asam, kalsium. Urin analisis, berguna untuk penyakit nonspesifik seperti
infeksi.

I. TATALAKSANA

1. Terapi Non Farmakologi

Akut

- Imobilisasi
- Pengaturan berat badan, posisi tubuh, dan aktivitas
- Modalitas termal (terapi panas dan dingin)
- Pemijatan
- Traksi (tergantung kasus)
- Pemakaian alat bantu (misalnya korset atau tongkat)

Kronik

- Terapi psikologis
- Modulasi nyeri (akupunktur atau modalitas termal)
- Latihan kondisi otot
- Rehabilitasi vokasional
- Pengaturan berat badan, posisi tubuh, dan aktivitas

2. Terapi Farmakologi
 NSAIDs
Contoh : Ibuprofen

Mekanisme Aksi :
Menghambat reaksi inflamasi dan nyeri dengan cara menurunkan sintesis
prostaglandin.
Dosis dan penggunaan :
Dewasa : 300 – 800 mg per oral setiap 6 jam (4x1 hari) atau 400 – 800 mg
IV setiap 6 jam jika dibutuhkan.

 Tricyclic Antidepressants
Contoh : Amitriptyline

Mekanisme Aksi :

Menghambat reuptake serotonin dan / atau norepinefrin oleh membran saraf


presynaptic, dapat meningkatkan konsentrasi sinaptik dalam SSP. Berguna sebagai
analgesik untuk nyeri kronis dan neuropatik tertentu.

Dosis dan penggunaan :

Dewasa : 100 – 300 mg 1x1 hari pada malam hari

 Muscle Relaxants
Contoh : Cyclobenzaprine

Mekanisme Aksi :

Relaksan otot rangka yang bekerja secara sentral dan menurunkan aktivitas
motorik pada tempat asal tonik somatic yang mempengaruhi baik neuron motor
alfa maupun gamma.

Dosis :

Dewasa : 5 mg per oral setiap 8 jam (3x1 hari)


 Analgesik
Contoh : Tramadol (Ultram)

Mekanisme Aksi : Menghambat jalur nyeri ascenden, merubah persepsi serta


respon terhadap nyeri, menghambat reuptake norepinefrin dan serotonin

Dosis :

Dewasa : 50 – 100 mg per oral setiap 4 – 6 jam (4x1 hari) jika diperlukan

 Antikonvulsan
Contoh : Gabapentin (Neurontin)

Mekanisme Aksi :
Penstabil membran, suatu analog struktural dari penghambat
neurotransmitter gamma-aminobutyric acid (GABA), yang mana tidak
menimbulkan efek pada reseptor GABA.
Dosis :
Dewasa : Neurontin
Hari ke-1 : 300 mg per oral 1x1 hari

Hari ke-2 : 300 mg per oral setiap 12 jam (2x1 hari)

Hari ke-3 : 300 mg per oral setiap 8 jam (3x1 hari)

3. Invasif Non Bedah


 Blok saraf dengan anestetik local
 Injeksi steroid (metilprednisolone) pada epidural untuk mengurangi
pembengkakan sehingga menurunkan kompresi radiks saraf

4. Bedah (pada HNP)


Indikasi :

 skiatika dengan terapi konservatif selama > 4 minggu : nyeri berat, menetap,
dan progresif
 defisit neurologis memburuk sindroma kauda
 stenosis kanal (setelah terapi konservatif tidak berhasil)
 terbukti adanya kompresi radiks berdasarkan pemeriksaan neurofisiologis dan
radiologi
J. PENCEGAHAN
 Lakukan aktivitas atau kegiatan sehari-hari dengan baik dan benar
 Hindari aktivitas fisik yang berat
 Olahraga yang memperkuat otot punggung
 Kurangi berat badan
 Hindari pemakaian sepatu yang bertumit tinggi

K. PROGNOSIS
Untuk prognosis dari pasien dengan radikulopati sendiri baik apabila pasien
diobati dengan tepat. Penatalaksanaan non-operatif efektif dilakukan pada hampir 80-
90% pasien. Penatalaksanaan dengan pembedahan dilakukan bila penatalaksanaan non-
operatif tidak berhasil. Kurang lebih 5-10% pasien gagal dalam pelaksanaan konservatif
dan akan mengalami progresifitas penyakit, nyeri yang menetap, kelemahan motorik
yang progresif, dan hilangnya refleks.
DAFTAR PUSTAKA

1. Netter F. Atlas Anatomi Manusia ed.5. Singapore; elsevier.


2013.
2. Duus, Peter. Diagnostic Topic Neurologi DUUS ed.4. Germany;
Goettingen and Freiburg. 2014.
3. Mardjono, mahar. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta; Dian
Rakyat. 2012.
4. http://emedicine.medscape.com/article/94118-clinical . Cervical
Radiculopathy Clinical Presentation. Diakses 30 Juli 2019, pkl : 13.00 WIB
5. http://emedicine.medscape.com/article/95025-overview.
Lumbosacral Radiculopathy. Diakses 30 Juli 2019, pkl : 13.00 WIB
6. Mansjoer, A. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta; Media
Aesculapius. 2014.
7. Amir, Bayu. Radikulopati lumbal. Jakarta; FK Trisakti. 2013.
8. Kemenkes RI (2018). Radikulopati.
http://yankes.kemkes.go.id/read-radikulopati-4946.html diakses 2 Juli 2019, pkl :
23.00 WIB.