Anda di halaman 1dari 4

C.

Pemeriksaan fisik
8. Sistem pernapasan
Pemeriksaan praoperatif sistem pernapasan dapat menjadi data
dasar rencana intervensi pascaoperatif pada pasien BPH. Tidak berbeda
dengan klien dengan penyakit lain, pemeriksaan dimulai dengan
melihat (inspeksi) keadaan umum sistem pernapasan dan tanda-tanda
abnormal seperti sianosis, pucat, kelelahan, sesak napas, batuk, dan
lainnya. Pada palpasi, perawat menilai adanya kelainan pada dinding
toraks dan merasakan perbedaan getaran suara napas. Kelainan yang
mungkin didapatkan pada pemeriksaan ini seperti: nyeri tekan, adanya
emfisema sbkutan, atau terdapat penurunan getaran suara napas pada
satu sisi akibat adanya cairan atau udara pada rongga pleura yang bisa
diakibatkan penyakit lain.
Untuk menentukan kondisi paru-paru, perawat mengauskultasi
bunyi napas normal, bunyi napas tambahan. Auskultasi bunyi napas
akan menunjukkan apakah pasien mengalami kongesti paru atau
penyempitan jalan napas. Adanya atelektasis atau kelembaban pada
jalan napas akan memperburuk kondisi pasien selama pembedahan.
Kongesti paru yang serius dapat menyebabkan ditundanya
pembedahan. Beberapa obat dapat menyebabkan spasme otot laring,
oleh karena itu jika perawat mendengar bunyi mengik saat
mengauskultasi jalan napas pada pemeriksaan praoperatif, maka hal ini
menunjukkan pasien berisiko mengalami penyempitan jalan napas
yang lebih lanjut selama pembedahan sehingga lebih baik jika penyakit
penyerta tersebut diatasi terlebih dahulu.
9. Sistem kardiovasklar
Pemeriksaan tekanan darah praoperatif dilakukan untuk menilai
adanya peningkatan darah di atas normal (hipertensi) yang
berpengaruh pada kondisi hemodinamik intraoperatif dan
pascaoperatif. Apabila pasien mempunyai penyakit jantung, maka
perawat harus mengkaji karakter denyut jantung apikal. Setelah
pembedahan, maka perawat harus membandingkan frekuensi dan
irama nadi dengan data yang diperoleh sebelum operasi. Obat-obatan
anestesi, perubahan dalam keseimbangan cairan, dan stimulasi respon
stres akibat pembedahan dapat menyebabkan disritmia jantung.
Perawat harus mengkaji adakah kontraindikasi terapi BPH pasien yang
dapat membahayakan pembedahan.
Nadi periper juga harus di kaji oleh perawat, begitu juga dengan
waktu pengisian kapiler, dan warna serta suhu ekstermitas untuk
menentukan sirkulasi pasien. Waktu pengisian kapiler dikaji untuk
menilai kemampuan perfusi perifer. Pengukuran pengisian kapiler
penting dilakukan pada pasien yang menjalani pembedahan vaskular
atau pasien yang ekstermitasnya dipasang gips ketat.
10. Keseimbangan cairan dan elektrolit
Pembedahan akan diproses oleh tubuh sebagai sebuah trauma.
Akibat respon adrenokortikal, reaksi hormon akan menyebabkan
retensi air dan natrium serta kehilangan kalium dalam 2-5 hari pertama
setelah pembedahan. Banyaknya protein yang pecah, akan
menimbulkan keseimbangan nitrogen yang negatif. Beratnya respon
stres memengaruhi tingkat ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
Semakin luas pembedahan, maka semakin berat pula stres akibat
kehilangan cairan dan elektroloi intra operatif.
Pasien yang mengalami syok hipovolemik atau perbahan elektrolit
praoperatif yang serius mempunyai risiko yang signifikan selama dan
setelah pembedahan. Misalnya, kelebihan atau kekurangan kalium
akan meningkatkam peluang terjadinya disritmia. Apabila pasien
sebelumnya telah mempunyai gangguan pada ginjal, gastrointestinal,
atau kardiovaskular, maka risiko terjadinya perubahan cairan dan
elektrolit akan semakin besar.
Pasien dengan BPH cenderung sudah memiliki gangguan
keseimbangan elektrolit sehingga memiliki resiko besar mengalami
shock, hipotensi, hipoksia, dan distritmia.
11. Abdomen dan punggung
Pengkajian bising usus pada fase praoperatif berguna sebagai data
dasar. Perawat juga menentukan apakah pergerakan usus pasien teratur.
Apabila pembedahan memerlukan manipulasi saluran gastrointestinal
atau pasien diberikan anestesi umum, maka peristaltik tidak akan
kembali normal dan bising usus akan hilang atau berkurang selama
beberapa hari setelah operasi.
Ginjal terlibat dalam ekskresi obat-obat anestesi dan metaboliknya.
Status asam basa dan metabolisme merupakan pertimbangan penting
dalam pemberian anestesi. Pembedahan dikontraindikasikan bila
pasien menderita nefritis akut, insufisiensi renal akut dengan oliguri
atau anuri, atau masalah renal akut lainnya, kecuali kalau pembedahan
merupakan satu tindakan penyelamat hidup atau amat penting untuk
memperbaiki fungsi urin, seperti obstruksi uropati.
Pada penderita BPH, abdomen bisa jadi menunjukan defisiensi
nutrisi, edema, pruritus, echymosis yang menunjukan renal insufisiensi
dari obstruksi yang lama. Palpasi pada bagian bawah perut akan
ditemukan ballotement yang menandakan retensi urine.
D. Pemeriksaan diagnostik
Sebelum pasien menjalani pembedahan, dokter bedah akan
meminta pasien untuk menjalani pemeriksaan diagnostik guna memeriksa
adanya kondisi yang tidak normal. Pemeriksaan bisa berpa laboratorium
dan pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan radiologi bertujuan untuk
menentukan volume BPH, menentukan derajat disfungsi buli-buli dan
volume residual urine, dan mencari ada tidaknya kelainan baik yang
berhubungan dengan BPH atau tidak.
Pemeriksaan pasien BPH yang biasanya dilakukan adalah IVP,
BOF, USG, retrografi dan voiding cystouretrografi, pemeriksaan
endoskopi, pemeriksaan uroflowmetri dan urinalisis (test glukosa, bekuan
darah, UL, DL, RFT, LFT, elektrolit, Na/K, Protein/Albumin, pH dan urine
kultur)
E. Pemeriksaan skrining tambahan
Apabila pasien berusia lebih dari 40 tahun atau mempnyai penyakit
jantung, maka dokter mngkin akan meminta pasien untuk menjalani
pemeriksaan sinar-X dada atau EKG.