Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN MAKALAH

FAKTOR – FAKTOR KESEHATAN YANG MEMPENGARUHI PASIEN


PREOPERATIF

Laporan ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Perioperatif

Pembimbing: Surantana, APP., M. Kes.

Di Susun Oleh:

1. Candra Devi Kumalasari P07120216014


2. Endang Sawitri P07120216015
3. Sukma Asri P07120216027
4. Naufal Muafi P07120216028

SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN A

POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA

2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Operasi adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan
cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan
ditangani. Pembukaan tubuh ini umumnya dilakukan dengan membuat
sayatan. Setelah bagian yang akan ditangani ditampilkan dilakukan
tindakan perbaikan yang akan diakhiri dengan penutupan dan penjahitan
luka (Syamsuhidajat, 2010).
Operasi atau pembedahan adalah suatu penanganan medis secara
invasive yang dilakukan untuk mendiagnosa atau mengobati penyakit,
injuri, atau deformitas tubuh (Nainggolan, 2013). Kiik (2013) menyatakan
bahwa tindakan pembedahan akan mencederai jaringan yang dapat
menimbulkan perubahan fisiologis tubuh dan mempengaruhi organ tubuh
lainnya. Berdasarkan data yang diperoleh dari World Health
Organization(WHO) dalam Sartika (2013), jumlah pasien dengan tindakan
operasi mencapai angka peningkatan yang sangat signifikan dari tahun ke
tahun. Tercatat di tahun 2011 terdapat 140 juta pasien di seluruh rumah
sakit di dunia, sedangkan pada tahun 2012 data mengalami peningkatan
sebesar 148 juta jiwa.
Preoperatif adalah fase dimulai ketika keputusan untuk menjalani
operasi atau pembedahan dibuat dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke
meja operasi ( Smeltzer and Bare, 2002 ). Dalam melakukan tindakan
opertitif harus memperhatikan persiapan dan mengetahui faktor – faktor
kesehatan yang mempengaruhi pre operatif, intraoperatif, serta pasca
operatif. Terutama dalam tindakan pre operatif harus diperhatikan dan
diketahui faktor yang mempengaruhinya.
Pembesaran kelenjar prostat, atau disebut dengan BPH (Benign
Prostate Hyperplasia) merupakan salah satu masalah genitouriari yang
prevalensi dan insidennya meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
Parsons (2010) menjelaskan bahwa BPH terjadi pada 70 persen pria
berusia 60-69 tahun di Amerika Serikat, dan 80 persen pada pria berusia
70 tahun ke atas. Diperkirakan, pada tahun 2030 insiden BPH akan
meningkat mencapai 20 persen pada pria berusia 65 tahun ke atas, atau
mencapai 20 juta pria (Parsons, 2010).
Di Indonesia sendiri, data Badan POM (2011) menyebutkan bahwa
BPH merupakan penyakit kelenjar prostat tersering kedua, di klinik
urologi di Indonesia.
Insiden dan prevalensi BPH cukup tinggi, namun hal ini tidak
diiringi dengan kesadaran masyarakat untuk melakukan tindakan
pencegahan maupun penanganan dini sebelum terjadi gangguan eliminasi
urin. Nies dan McEwen (2007) menjelaskan bahwa pandangan stereotip
yang mengatakan pria itu kuat, akan mengarahkan pria untuk cenderung
lebih mengabaikan gejala yang timbul di awal penyakit. Pria akan
menguatkan diri dan menghindari penyebutan “sakit” bagi diri pria itu
sendiri. Sementara, ketika wanita sakit, wanita akan cenderung membatasi
kegiatan dan berusaha mencari perawatan kesehatan. Oleh karena itu,
kasus BPH yang terjadi lebih banyak kasus yang sudah mengalami
gangguan eliminasi urin, dan hanya bisa ditangani dengan prosedur
pembedahan.
TURP (Transurethral Resection of the Prostate) merupakan salah
satu prosedur pembedahan untuk mengatasi masalah BPH yang paling
sering dilakukan. Rassweiler (2005) menjelaskan bahwa TURP merupakan
representasi gold standard manajemen operatif pada BPH. TURP memiliki
beberapa kelebihan dibandingkan dengan prosedur bedah untuk BPH
lainnya. Beberapa kelebihan TURP antara lain prosedur ini tidak
dibutuhkan insisi dan dapat digunakan untuk prostat dengan ukuran
beragam, dan lebih aman bagi pasien yang mempunyai risiko bedah yang
buruk (Smeltzer & Bare, 2003). Oleh karena itulah, prosedur TURP lebih
umum digunakan mengatasi masalah pembesaran kelenjar prostat.

B. Rumusan Masalah
Apa saja faktor kesehatan yang mempengaruhi pasien preoperatif BPH?
C. Tujuan
Untuk mengetahui faktor kesehatan yang mempengaruhi pasien
preoperatif BPH
BAB II
PEMBAHASAN
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR KESEHATAN YANG
MEMPENGARUHI PASIEN PRE OPERASI BPH

A. Pengkajian Riwayat Kesehatan


1. Riwayat Kesehatan
Pengkajian pada pasien BPH dilakukan dengan pendekatan proses
keperawatan. Menurut Doenges (1999) fokus pengkajian pasien
dengan BPH adalah sebagai berikut :
1. Sirkulasi
Pada kasus BPH sering dijumpai adanya gangguan sirkulasi;
pada kasus preoperasi dapat dijumpai adanya peningkatan tekanan
darah yang disebabkan oleh karena efek pembesaran ginjal.
Penurunan tekanan darah; peningkatan nadi sering dijumpai pada.
kasus postoperasi BPH yang terjadi karena kekurangan volume
cairan.
2. Integritas Ego
Pasien dengan kasus penyakit BPH seringkali terganggu
integritas egonya karena memikirkan bagaimana akan
menghadapi pengobatan yang dapat dilihat dari tanda-tanda
seperti kegelisahan, kacau mental, perubahan perilaku.
3. Eliminasi
Gangguan eliminasi merupakan gejala utama yang seringkali
dialami oleh pasien dengan preoperasi, perlu dikaji keragu-raguan
dalam memulai aliran urin, aliran urin berkurang, pengosongan
kandung kemih inkomplit, frekuensi berkemih, nokturia, disuria
dan hematuria. Sedangkan pada postoperasi BPH yang terjadi
karena tindakan invasif serta prosedur pembedahan sehingga
perlu adanya obervasi drainase kateter untuk mengetahui adanya
perdarahan dengan mengevaluasi warna urin. Evaluasi warna
urin, contoh : merah terang dengan bekuan darah, perdarahan
dengan tidak ada bekuan, peningkatan viskositas, warna keruh,
gelap dengan bekuan. Selain terjadi gangguan eliminasi urin, juga
ada kemugkinan terjadinya konstipasi. Pada preoperasi BPH hal
tersebut terjadi karena protrusi prostat ke dalam rektum,
sedangkan pada postoperasi BPH, karena perubahan pola makan
dan makanan.
4. Makanan dan cairan
Terganggunya sistem pemasukan makan dan cairan yaitu
karena efek penekanan/nyeri pada abomen (pada preoperasi),
maupun efek dari anastesi pada postoperasi BPH, sehingga terjadi
gejala: anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan, tindakan
yang perlu dikaji adalah awasi masukan dan pengeluaran baik
cairan maupun nutrisinya.
5. Nyeri dan kenyamanan
Menurut hierarki Maslow, kebutuhan rasa nyaman adalah
kebutuhan dasar yang utama. Karena menghindari nyeri
merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. Pada pasien
postoperasi biasanya ditemukan adanya nyeri suprapubik, pinggul
tajam dan kuat, nyeri punggung bawah.
6. Keselamatan/ keamanan
Pada kasus operasi terutama pada kasus penyakit BPH faktor
keselamatan tidak luput dari pengkajian perawat karena hal ini
sangat penting untuk menghindari segala jenis tuntutan akibat
kelalaian paramedik, tindakan yang perlu dilakukan adalah kaji
adanya tanda-tanda infeksi saluran perkemihan seperti adanya
demam (pada preoperasi), sedang pada postoperasi perlu adanya
inspeksi balutan dan juga adanya tanda-tanda infeksi baik pada
luka bedah maupun pada saluran perkemihannya.
7. Seksualitas
Pada pasien BPH baik preoperasi maupun postoperasi
terkadang mengalami masalah tentang efek kondisi/terapi pada
kemampuan seksualnya, takut inkontinensia/menetes selama
hubungan intim, penurunan kekuatan kontraksi saat ejakulasi, dan
pembesaran atau nyeri tekan pada prostat.
8. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium diperlukan pada pasien
preoperasi maupun postoperasi BPH. Pada preoperasi perlu
dikaji, antara lain urin analisa, kultur urin, urologi., urin,
BUN/kreatinin, asam fosfat serum, SDP/sel darah putih.
Sedangkan pada postoperasinya perlu dikaji kadar hemoglobin
dan hematokrit karena imbas dari perdarahan. Dan kadar leukosit
untuk mengetahui ada tidaknya infeksi.
2. Riwayat alergi
Apabila pasien mempunyai riwayat alergi satu atau lebih,
maka pasien perlu mendapat pita identifikasi alergi yang dipakai pada
pergelangan tangan sebelum menjalani pembedahan atau penulisan
simbol alergi yang tertulis jelas pada status rekam medis sesuai
dengan kebijakan institusi. Perawat juga harus memastikan bahwa
bagian depan lembar pencatatan pasien berisi daftar yang dideritanya.
3. Kebiasaan merokok, alkohol, dan narkoba
Pasien perokok memiliki risiko yang lebih besar untuk
mengalami komplikasi paru-paru pasca operasi daripada pasien bukan
perokok. Perokok kronik telah mengalami peningkatan jumlah dan
ketebalan sekresi lendir pada paru-parunya. Anestesi umum akan
meningkatkan iritasi jalan napas dan merangsang sekresi pulmonal,
karena sekresi tersebut akan dipertahankan akibat penurunan aktivitas
siliaris selama anestesi.
Kebiasaan mengkonsumsi alkohol mengakibatkan reaksi
yang merugikan terhadap obat anestesi, mengalami toleransi silang
(toleransi obat meluas) sehingga memerlukan dosis anestesi yang
lebih tinggi dari normal. Selain itu dokter mungkin perlu
meningkatkan dosis analgesik pascaoperasi. Konsumsi alkohol secara
berlebihan juga dapat menyebabkan malnutrisi sehingga
penyembuhan luka menjadi lambat.
Pasien yang mempunyai riwayat adanya pemakaian
narkoba perlu diwaspadai atas kemungkinan yang lebih besar untuk
terjangkit penyakit seperti HIV dan hepatitis, terutama pada pasien
pengguna narkoba suntik. Penggunaan narkotika akan mengganggu
kemampan pasien mengontrol nyeri serta memengaruhi tingkat serta
jumlah pemberian anestesi selama pembedahan. Penggunaan narkoba
suntik dapat mengganggu sistem vaskular dan menyulitkan akses ke
dalam vena.

B. Pengkajian Psikososialspiritual
1. Kecemasan Praoperatif
Berbagai dampak psikologis yang dapat muncul adalah adanya
ketidaktahuan akan pengalaman pembedahan yang dapat
mengakibatkan kecemasan yang terekspresikan dalam berbagai bentuk
seperti marah, menolak, atau apatis terhadap kegiatan keperawatan.
Pasien yang cemas sering mengalami ketakutann atau perasaan tidak
tenang. Berbagai bentuk ketakutan muncul seperti keakuratan akan hal
yang tidak diketahui, misalnya terhadap pembedahan, anestesi, masa
depan, keunangan, dan tanggung jawab keluarga. Bagian terpenting
dari pengkajian kecemasan praoperatif adalah untuk menggali peran
orang terdekat, baik dari keluarga maupun sahabat pasien. Adanya
sumber dukungan orang dekat akan menurnkan kecemasan.
2. Perasaan
Perawat dapat mendeteksi perasaan pasien mengenai pembedahan
dari perilaku dan perbuatannya. Pasien yang merasa takut biasanya
sering bertanya, tampak tidak nyaman jika ada orang asing memasuki
ruangan, atau secara aktif mencari dukungan dari teman dan keluarga.
3. Kepercayaan Spiritual
Kemampuan yang paling berguna bagi perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan adalah kemampuan untuk mendengarkan pasien,
terutama saat mengumpulkan prinsip-prinsip komunikasi dan
wawancara, perawat dapat mengumpulkan prinsip-prinsip komunikasi
dan wawancara, perawat dapat mengumpulkan informasi dan wawasan
yang sangat berharga. Perawat yang tenang, memperhatikan, dan
pengertian akan menimbullkan rasa percaya pasien.
4. Pengetahuan, Persepsi dan Pemahaman
Perawat harus mempersiapkan pasien dan keluarganya untuk
menghadapi pembedahan. Dengan mengidentifikasi pengetahuan,
persepsi, dan pemahaman pasien, dapat membantu perawat
merencanakan penyuluhan dan tindakan untuk mempersiapkan kondisi
emosional pasien. Apabila pasien dijadwalkan menjalani bedah sehari,
maka pengkajian dapat dilakukan diruang praktik dokter atau rumah
pasien.
C. Pemeriksaan Fisik
1. Tanda-tanda vital
Pemeriksaan fisik awal adalah pemeriksaan tanda-tanda vital,
untuk menentukan status kesehatan atau untuk menilai respon pasien
terhadap stres terhadap intervensi pembedahan. Pengukuran TTV
memberi data untuk menentukan status kesehatan pasien yang llazim,
seperti respon terhadap stres fisik dan psikologis, terapi medis dan
keperawatan, atau menandakan perubahan fungsi fisiologis. Perubahan
TTV menandakan kebutuhan dilakukannya intervensi keperawatan dan
medis praoperatif.
Pengkajian TTV praoperatif memberikan data dasar yang penting
untuk dibandingkan dengan perubahan TTV yang terjadi selama dan
setelah pembedahan. Peningkatan denyut jantung dapat disebabkan
karena adanya kekurangan volume cairan plasma, kekurangan kalium,
atau kelebihan natrium. Apabila denyuk nadi kuat dan keras, hal
tersebut mungkin disebabkan karena kelebihan volume cairan.
Disritmia jantung biasanya disebabkan oleh ketidakseimbangan cairan
dan elektrolit.
Sirkulasi pada pasien BPH mengalami peningkatan tekanan darah
(efek pembesaran ginjal). Adanya peningkatan nadi akibat kompensasi
dari nyeri yang timbul akibat uretralis dan distensi bledder.
Peningkatan suhu sebelum pembedahan merupakan penyebab yang
harus diperhatikan. Apabila pasien mengalami infeksi maka dokter
bedah dapat menunda pembedahan sampai infeksi teratasi.
Peningkatan suhu tubuh meningkatkan risiko ketidakseimbangan
elektrolit setelah pembedahan. Pengkajian TTV memungkinkan
perawat untuk mengidentifikasi diagnosis keperawatan,
mengimplementasikan rencana intervensi, dan mengevaluasi
keberhasilan TTV dikembalikan pada batas nilai yang diterima.
2. Pengkajian tingkat kesadaran
Penilaian tingkat respon kesadaran secara mum dapat
mempersingkat pemeriksaan. Pada keadaan emergensi, kondisi pasien
dan waktu pengumpulan data penilaian tingkat kesadaran sangat
terbatas. Oleh karena itu Glasgow Coma Scale/GCS dapat memberikan
jalan pintas yang sangat berguna. Skala tersebut memngkinkan
pemeriksa untuk membuat peringkat tiga respon utama pasien terhadap
lingkungan, yaitu: membuka mata, mengucapkan kata, dan gerakan.
3. Pengkajian status nutrisi
Perbaikan jaringan normal dan resistensi terhadap infeksi
bergantung pada status nutrisi yang cukup. Pembedahan akan
meningkatkan kebutuhan nutrisi. Setelah pembedahan pasien
membutuhkan minimal 1500 kkal/hari untuk mempertahankan
cadangan energi. Namun jika pasien malnutrisi harus menjalani
prosedur darurat, maka upaya perbaikan nutrisi dilakukan setelah
pembedahan.
Obesitas meningkatkan risiko pembedahan akibat menurunnya
ventilasi dan fungsi jantung. Pasien akan mengalami keslitan
melakukan aktifitas fisik dan normal setelah pembedahan. Pasien
obesitas rentan mengalami penyembuhan luka yang buruk dan infeksi
luka karena struktur jaringan lemak memiliki suplai darah yang buruk.
4. Hiduung dan sinus
Lakukan inspeksi palatum mole dan sinus nasalis dengan tujuan
untuk mengkaji drainase sinus yang menggambarkan adanya infeksi
sinus atau pernapasan.
5. Mulut, bibir, lidah dan palatum
Kondisi membran mukosa mulut menunjukkan status dehidrasi.
Pasien dehidrasi berisiko mengalami ketidak seimbanagn cairan dan
elektrolit yang serius selama pembedahan.
6. Sistem saraf.
Pasien akan mendapatkan anestesi spinal, maka pengkajian
praoperatif terhadap fungsi dan kekuatan motorik kasar penting
dilakukan. Anestesi spinal menyebabkan ekstermitas bawah
mengalami paralisis sementara. Perawat harus menyadari adanya
kelemahan atau gangguan mobilisasi pada ekstermitas bawah pasien
agar perawat tidak cemas jika seluruh fungsi motorik tidak kembali
normal pada saat efek anestesi spinal menghilang.
Pengkajian sensibilitas prabedah sangat bermanfaat sebagai bahan
evaluasi pada saat pascaanestesi di ruang pemulihan. Peta dermatom
dapat membantu perawat dalam melakukan pemeriksaan fisik
sensibilitas fungsi kontrol sistem saraf dari pusat ke perifer.
7. Sistem endokrin
Terjadinya BPH akibat perubahan keseimbangan hormone
testosterone dan esterogen ( Prabowo & Pranata:2014)
8. Sistem pernapasan
Pemeriksaan praoperatif sistem pernapasan dapat menjadi data
dasar rencana intervensi pascaoperatif pada pasien BPH. Tidak
berbeda dengan klien dengan penyakit lain, pemeriksaan dimulai
dengan melihat (inspeksi) keadaan umum sistem pernapasan dan
tanda-tanda abnormal seperti sianosis, pucat, kelelahan, sesak napas,
batuk, dan lainnya. Pada palpasi, perawat menilai adanya kelainan
pada dinding toraks dan merasakan perbedaan getaran suara napas.
Kelainan yang mungkin didapatkan pada pemeriksaan ini seperti:
nyeri tekan, adanya emfisema sbkutan, atau terdapat penurunan
getaran suara napas pada satu sisi akibat adanya cairan atau udara
pada rongga pleura yang bisa diakibatkan penyakit lain.
Untuk menentukan kondisi paru-paru, perawat mengauskultasi
bunyi napas normal, bunyi napas tambahan. Auskultasi bunyi napas
akan menunjukkan apakah pasien mengalami kongesti paru atau
penyempitan jalan napas. Adanya atelektasis atau kelembaban pada
jalan napas akan memperburuk kondisi pasien selama pembedahan.
Kongesti paru yang serius dapat menyebabkan ditundanya
pembedahan. Beberapa obat dapat menyebabkan spasme otot laring,
oleh karena itu jika perawat mendengar bunyi mengik saat
mengauskultasi jalan napas pada pemeriksaan praoperatif, maka hal
ini menunjukkan pasien berisiko mengalami penyempitan jalan napas
yang lebih lanjut selama pembedahan sehingga lebih baik jika
penyakit penyerta tersebut diatasi terlebih dahulu.
9. Sistem kardiovasklar
Pemeriksaan tekanan darah praoperatif dilakukan untuk menilai
adanya peningkatan darah di atas normal (hipertensi) yang
berpengaruh pada kondisi hemodinamik intraoperatif dan
pascaoperatif. Apabila pasien mempunyai penyakit jantung, maka
perawat harus mengkaji karakter denyut jantung apikal. Setelah
pembedahan, maka perawat harus membandingkan frekuensi dan
irama nadi dengan data yang diperoleh sebelum operasi. Obat-obatan
anestesi, perubahan dalam keseimbangan cairan, dan stimulasi respon
stres akibat pembedahan dapat menyebabkan disritmia jantung.
Perawat harus mengkaji adakah kontraindikasi terapi BPH pasien
yang dapat membahayakan pembedahan.
Nadi periper juga harus di kaji oleh perawat, begitu juga dengan
waktu pengisian kapiler, dan warna serta suhu ekstermitas untuk
menentukan sirkulasi pasien. Waktu pengisian kapiler dikaji untuk
menilai kemampuan perfusi perifer. Pengukuran pengisian kapiler
penting dilakukan pada pasien yang menjalani pembedahan vaskular
atau pasien yang ekstermitasnya dipasang gips ketat.
10. Keseimbangan cairan dan elektrolit
Pembedahan akan diproses oleh tubuh sebagai sebuah trauma.
Akibat respon adrenokortikal, reaksi hormon akan menyebabkan
retensi air dan natrium serta kehilangan kalium dalam 2-5 hari
pertama setelah pembedahan. Banyaknya protein yang pecah, akan
menimbulkan keseimbangan nitrogen yang negatif. Beratnya respon
stres memengaruhi tingkat ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
Semakin luas pembedahan, maka semakin berat pula stres akibat
kehilangan cairan dan elektroloi intra operatif.
Pasien yang mengalami syok hipovolemik atau perbahan elektrolit
praoperatif yang serius mempunyai risiko yang signifikan selama dan
setelah pembedahan. Misalnya, kelebihan atau kekurangan kalium
akan meningkatkam peluang terjadinya disritmia. Apabila pasien
sebelumnya telah mempunyai gangguan pada ginjal, gastrointestinal,
atau kardiovaskular, maka risiko terjadinya perubahan cairan dan
elektrolit akan semakin besar.
Pasien dengan BPH cenderung sudah memiliki gangguan
keseimbangan elektrolit sehingga memiliki resiko besar mengalami
shock, hipotensi, hipoksia, dan distritmia.
11. Abdomen dan punggung
Pengkajian bising usus pada fase praoperatif berguna sebagai data
dasar. Perawat juga menentukan apakah pergerakan usus pasien
teratur. Apabila pembedahan memerlukan manipulasi saluran
gastrointestinal atau pasien diberikan anestesi umum, maka peristaltik
tidak akan kembali normal dan bising usus akan hilang atau berkurang
selama beberapa hari setelah operasi.
Ginjal terlibat dalam ekskresi obat-obat anestesi dan
metaboliknya. Status asam basa dan metabolisme merupakan
pertimbangan penting dalam pemberian anestesi. Pembedahan
dikontraindikasikan bila pasien menderita nefritis akut, insufisiensi
renal akut dengan oliguri atau anuri, atau masalah renal akut lainnya,
kecuali kalau pembedahan merupakan satu tindakan penyelamat hidup
atau amat penting untuk memperbaiki fungsi urin, seperti obstruksi
uropati.
Pada penderita BPH, abdomen bisa jadi menunjukan defisiensi
nutrisi, edema, pruritus, echymosis yang menunjukan renal
insufisiensi dari obstruksi yang lama. Palpasi pada bagian bawah perut
akan ditemukan ballotement yang menandakan retensi urine.
D. Pemeriksaan Diagnostik
Sebelum pasien menjalani pembedahan, dokter bedah akan
meminta pasien untuk menjalani pemeriksaan diagnostik guna
memeriksa adanya kondisi yang tidak normal. Pemeriksaan bisa berpa
laboratorium dan pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan radiologi
bertujuan untuk menentukan volume BPH, menentukan derajat
disfungsi buli-buli dan volume residual urine, dan mencari ada
tidaknya kelainan baik yang berhubungan dengan BPH atau tidak.
Pemeriksaan pasien BPH yang biasanya dilakukan adalah IVP,
BOF, USG, retrografi dan voiding cystouretrografi, pemeriksaan
endoskopi, pemeriksaan uroflowmetri dan urinalisis (test glukosa,
bekuan darah, UL, DL, RFT, LFT, elektrolit, Na/K, Protein/Albumin,
pH dan urine kultur)
E. Pemeriksaan skrining tambahan
Apabila pasien berusia lebih dari 40 tahun atau mempnyai penyakit
jantung, maka dokter mngkin akan meminta pasien untuk menjalani
pemeriksaan sinar-X dada atau EKG.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Banyak hal yang mempengaruhi kesehatan pasien preoperatif dimana
faktor-faktor tersebut adalah :
1. pengkajian riwayat kesehatan : riwayat kesehatan, alergi, kebiasaan
merokok, alkohol, dan narkoba.
2. Pengkajian psikospiritual : kecemasan praoperatif, perasaan,
kepercayaan spiritual, pengetahuan, presepsi, dan pemahaman.
3. Pemeriksaan fisik : tanda-tanda vital, tingkat kesadaran, status nutrisi,
hidung dan sinus, rongga mulut, sistem saraf, sisem endokrin, sistem
pernafasan, sistem kardivaskuler, keseimbangan cairan dan elekteolit,
abdomen dan punggung
4. Pemeriksaan diagnostik
5. Pemeriksaan skrining tambahan
B. Saran
Sebagai calon perawat anestesi perhatikanlah dengan baik dan kaji dengan
terampil faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan pasien preoperatif
untuk menghindarkan kejadian yang seharusnya bisa dihindari.
DAFTAR PUSTAKA

Komarudin, Undang Dr.Sp.An dan Dr.Asegaf Sp.An. 2010. Kumpulan Kuliah


Ilmu Anestesia. Hal 28-30. Jakarta: ECG

Mangku, Dr.Gde,Sp.An.KIC,DrTjokorda Gde Agung Senapathi,Sp.An.2010 Buku


Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Jakarta: PT Indeks
Nileswar, Anitha.2014.Instant Acces Anestesiologi Jakarta :Binarupa Aksara
IAUI (Ikatan Ahli Urologi Indonesia). (2010). Pedoman penatalaksanaan BPH di
Indonesia. Style sheet: www.iaui.or.id/ast/file/bph.pdf.
Parsons, J.K. (2010). Benign prostatic hyperplasia and male lower urinary tract
symptoms: Epidemiology and risk factors. Springer Journal, Curr
Bladder Dysfunct Rep, 5:212–218.