Anda di halaman 1dari 4

A.

Pengkajian psikososialspiritual
1. Kecemasan praoperatif
Berbagai dampak psikologis yang dapat muncul adalah adanya
ketidaktahuan akan pengalaman pembedahan yang dapat
mengakibatkan kecemasan yang terekspresikan dalam berbagai bentuk
seperti marah, menolak, atau apatis terhadap kegiatan keperawatan.
Pasien yang cemas sering mengalami ketakutann atau perasaan tidak
tenang. Berbagai bentuk ketakutan muncul seperti keakuratan akan hal
yang tidak diketahui, misalnya terhadap pembedahan, anestesi, masa
depan, keunangan, dan tanggung jawab keluarga. Bagian terpenting
dari pengkajian kecemasan praoperatif adalah untuk menggali peran
orang terdekat, baik dari keluarga maupun sahabat pasien. Adanya
sumber dukungan orang dekat akan menurnkan kecemasan.
2. Perasaan
Perawat dapat mendeteksi perasaan pasien mengenai pembedahan dari
perilaku dan perbuatannya. Pasien yang merasa takut biasanya sering
bertanya, tampak tidak nyaman jika ada orang asing memasuki
ruangan, atau secara aktif mencari dukungan dari teman dan keluarga.
3. Kepercayaan spiritual
Kemampuan yang paling berguna bagi perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan adalah kemampuan untuk
mendengarkan pasien, terutama saat mengumpulkan prinsip-prinsip
komunikasi dan wawancara, perawat dapat mengumpulkan prinsip-
prinsip komunikasi dan wawancara, perawat dapat mengumpulkan
informasi dan wawasan yang sangat berharga. Perawat yang tenang,
memperhatikan, dan pengertian akan menimbullkan rasa percaya
pasien.
4. Pengetahuan, persepsi, dan pemahaman
Perawat harus mempersiapkan pasien dan keluarganya untuk
menghadapi pembedahan. Dengan mengidentifikasi pengetahuan,
persepsi, dan pemahaman pasien, dapat membantu perawat
merencanakan penyuluhan dan tindakan untuk mempersiapkan kondisi
emosional pasien. Apabila pasien dijadwalkan menjalani bedah sehari,
maka pengkajian dapat dilakukan diruang praktik dokter atau rumah
pasien.
B. Pemeriksaan fisik
1. Tanda-tanda vitaL
Pemeriksaan fisik awal adalah pemeriksaan tanda-tanda vital,
untuk menentukan status kesehatan atau untuk menilai respon pasien
terhadap stres terhadap intervensi pembedahan. Pengukuran TTV
memberi data untuk menentukan status kesehatan pasien yang llazim,
seperti respon terhadap stres fisik dan psikologis, terapi medis dan
keperawatan, atau menandakan perubahan fungsi fisiologis. Perubahan
TTV menandakan kebutuhan dilakukannya intervensi keperawatan dan
medis praoperatif.
Pengkajian TTV praoperatif memberikan data dasar yang penting
untuk dibandingkan dengan perubahan TTV yang terjadi selama dan
setelah pembedahan. Peningkatan denyut jantung dapat disebabkan
karena adanya kekurangan volume cairan plasma, kekurangan kalium,
atau kelebihan natrium. Apabila denyuk nadi kuat dan keras, hal
tersebut mungkin disebabkan karena kelebihan volume cairan.
Disritmia jantung biasanya disebabkan oleh ketidakseimbangan cairan
dan elektrolit.
Sirkulasi pada pasien BPH mengalami peningkatan tekanan darah
(efek pembesaran ginjal). Adanya peningkatan nadi akibat kompensasi
dari nyeri yang timbul akibat uretralis dan distensi bledder.
Peningkatan suhu sebelum pembedahan merupakan penyebab yang
harus diperhatikan. Apabila pasien mengalami infeksi maka dokter
bedah dapat menunda pembedahan sampai infeksi teratasi.
Peningkatan suhu tubuh meningkatkan risiko ketidakseimbangan
elektrolit setelah pembedahan. Pengkajian TTV memungkinkan
perawat untuk mengidentifikasi diagnosis keperawatan,
mengimplementasikan rencana intervensi, dan mengevaluasi
keberhasilan TTV dikembalikan pada batas nilai yang diterima.

2. Pengkajian tingkat kesadaran


Penilaian tingkat respon kesadaran secara mum dapat
mempersingkat pemeriksaan. Pada keadaan emergensi, kondisi pasien
dan waktu pengumpulan data penilaian tingkat kesadaran sangat
terbatas. Oleh karena itu Glasgow Coma Scale/GCS dapat memberikan
jalan pintas yang sangat berguna. Skala tersebut memngkinkan
pemeriksa untuk membuat peringkat tiga respon utama pasien terhadap
lingkungan, yaitu: membuka mata, mengucapkan kata, dan gerakan.

3. Pengkajian status nutrisi


Perbaikan jaringan normal dan resistensi terhadap infeksi
bergantung pada status nutrisi yang cukup. Pembedahan akan
meningkatkan kebutuhan nutrisi. Setelah pembedahan pasien
membutuhkan minimal 1500 kkal/hari untuk mempertahankan
cadangan energi. Namun jika pasien malnutrisi harus menjalani
prosedur darurat, maka upaya perbaikan nutrisi dilakukan setelah
pembedahan.
Obesitas meningkatkan risiko pembedahan akibat menurunnya
ventilasi dan fungsi jantung. Pasien akan mengalami keslitan
melakukan aktifitas fisik dan normal setelah pembedahan. Pasien
obesitas rentan mengalami penyembuhan luka yang buruk dan infeksi
luka karena struktur jaringan lemak memiliki suplai darah yang buruk.
4. Hiduung dan sinus
Lakukan inspeksi palatum mole dan sinus nasalis dengan tujuan untuk
mengkaji drainase sinus yang menggambarkan adanya infeksi sinus
atau pernapasan.
5. Mulut, bibir, lidah dan palatum
Kondisi membran mukosa mulut menunjukkan status dehidrasi.
Pasien dehidrasi berisiko mengalami ketidak seimbanagn cairan dan
elektrolit yang serius selama pembedahan.

6. Sistem saraf.
Pasien akan mendapatkan anestesi spinal, maka pengkajian
praoperatif terhadap fungsi dan kekuatan motorik kasar penting
dilakukan. Anestesi spinal menyebabkan ekstermitas bawah
mengalami paralisis sementara. Perawat harus menyadari adanya
kelemahan atau gangguan mobilisasi pada ekstermitas bawah pasien
agar perawat tidak cemas jika seluruh fungsi motorik tidak kembali
normal pada saat efek anestesi spinal menghilang.
Pengkajian sensibilitas prabedah sangat bermanfaat sebagai bahan
evaluasi pada saat pascaanestesi di ruang pemulihan. Peta dermatom
dapat membantu perawat dalam melakukan pemeriksaan fisik
sensibilitas fungsi kontrol sistem saraf dari pusat ke perifer.
7. Sistem endokrin
Terjadinya BPH akibat perubahan keseimbangan hormone
testosterone dan esterogen ( Prabowo & Pranata:2014)