Anda di halaman 1dari 1

Kotbah II: 2/3/2003.

Bacaan : Lukas 9: 22- 27


Tema : Sangkal diri, pikul salib dan ikut Yesus.
Hari ini kita memasuki perayaan Minggu Sengsara I. Sehubungan
dengan itu kita merenungkan kata-kata Yesus tentang syarat-syarat
menjadi muridNya. Ketika Yesus menyadari bahwa kesengsaraan dan
kematianNya hampir dekat Dia mengatakan kepada para muridNya: “
Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya,
memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku….. “ Ada tiga hal yang
saling berhubungan yang dituntut Yesus di sini yaitu: menyangkal diri,
memikul salib setiap hari dan terus mengikut Yesus. Ada orang kristen
yang mau mengikut Yesus, tetapi tidak dengan sungguh-sungguh, orang
Kupang bilang “asal asal saa,” tidak bersedia menyangkal diri dan
memikul salibnya setiap hari. Penyangkalan diri dan pengorbanan diri,
tidak nampak dalam kehidupan dan karyanya.
Tuhan Yesus dalam Luk 14:27, lebih tegas mengatakan :
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat
menjadi muridKu.” Yang mau ikut Yesus dia harus menyangkal diri.
Menyangkal diri di sini berarti berani berkata tidak untuk keinginan-
keinginan duniawi supaya kita bisa berkata ya untuk pelayanan
kemanusiaan. Menyangkal diri berarti berani meninggalkan kepentingan-
kepentingan diri demi melaksanakan panggilan Tuhan. Contoh: berani
berhenti menyanyangkan diri atau memanjakan diri dengan barang-
barang mewah supaya kita bisa melayani sesama yang menderita. Tidak
mengutamakan kepentingan diri, menimbun bagi diri sambil memeras
orang lain. Supaya lebih jelas tuntutan Yesus ini, maka kita bisa melihat
ada dua peringatan yang diberikan oleh Yesus sendiri:
1. Kesetiaan dalam lingkungan keluarga. (Luk 14:26): Dalam
kehidupan kita ini kita keluarga adalah yang terutama. Demi anak, atau
anggota-anggota kel, kita bersedia menyangkal diri dan berkorban diri.
Tetapi Tuhan Yesus mengatakan di sini: “Jikalau seseorg datang
kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-
anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya
sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKU.” Nampaknya pernyataan Yesus
ini keras, tetapi maksudnya adalah kalau