Anda di halaman 1dari 10

SEJARAH PERAWAT / PENATA ANESTESI

DI INDONESIA

1. PENDAHULUAN

Pelayanan Kesehatan khususnya Anestesi di Indonesia dimulai dari adanya tindakan


0perasi di Rumah sakit,pelaksanaan anestesi dilaksanakan oleh Juru Rawat atau Mantri
Verpleiger yang diberikan pelatihan secara individual oleh ahli bedah tanpa sertifikat
apalagi ijazah. Dalam pekerjaannya sehari-hari mereka dibawah pengawasan dari Dokter
Operator

Dalam tulisannya Bapak Drs.Yuswana BSc.An MBA (Almarhum) seorang alumni


Akademi Anestesi yang kuliah di AKNES DEPKES RI JAKARTA pada tahun 1976-1979
menyatakan bahwa Tidak ada catatan yang otentik tentang sejarah Perawat Anestesi di
Indonesia, namun dari ceritera yang disampaikan oleh para orangtua generasi abad ke 19
akhir dan awal abad ke.20 dapat disimpulkan bahwa Pemerintah Belanda sewaktu berkuasa
di negeri ini mulai mendidik orang pribumi untuk menjadi tenaga kesehatan yang disebut
“Juru Rawat” dan “Mantri Verpleiger”, ini yang dianggap sebagai “Perawat Anestesi” yang
mendapat Training secara individual dan tanpa Sertifikat, namun bekerja sebagai
“Anesthetist” dibawah suvpervisi Ahli Bedah. Perkembangan dari tenaga jenis ini tidak
terlalu pesat jika dilihat dari segi jumlahnya, namun cukup banyak untuk ukuran orang
pribumi yang tidak mudah untuk menempuh pendidikan di bidang pelayanan kesehatan.

Pada tahun 1954 seorang Dokter ahli bedah Prof.Dr. Mohammad Kelan DSAn
(Almarhum) bekerja di RSUP CBZ (dikenal masyarakat sebutan rumah sakit Sibiset )
sekarang RSUPN Cipto Mangunkusumo ( dikenal luas oleh masyarakat dgn sebutan RSCM )
Jakarta adalah dokter Indonesia pertama yang mengambil Spesialis Anestesi di Amerika
Serikat dan kembali ke Indonesia . kemudian melanjutkan bekerja di RSCM sebagai Ahli
Anestesiolgi,dalam melakukan pelayanan anestesi dilakukan dibantu oleh “Perawat
Anestesi” yang dilatih secara individual dan tanpa diberikan sertifikat.
2. LAHIRNYA PENDIDIKAN PERAWAT/PENATA ANESTESI

Pada tahun 1962 Prof.Dr.Mohammad Kelan DSAn mempunyai Ide dan konsep
pendidikan perawat anestesi disampaikan kepada Ahli Anestesi lain diantaranya : Dr.
Dentong Kartodisono,Prof.Dr.Muhardi Mukiman,Dr.Noto Avia, dan Dr. Ade Kalsid.
Beliau-beliau sepakat untuk mendidik Pegawai yang berijazah “Perawat” menjadi
“Penata/Perawat Anestesi” dengan Program kurikulum lebih banyak muatan ilmu medis
meniru Pendidikan Perawat anestesi di Amerika Serikat. Gagasan itu disambut baik oleh
Kepala Bagian Bedah RSUP Cipto Mangunkusumo pada saat itu Prof.Dr. Soekaryo dan
beliau mendukung sepenuhnya dengan memfasiltasi untuk tenaga Dosen,alat-alat
praktek,obat2an dan Ruang kuliah ukuran 4x6 meter eks Gudang kamar cuci yg berada di
Lantai 2 berdinding dan berlantai kayu. Ruang kuliah tersebut cukup memadai untuk proses
belajar mengajar karena Mahasiswanya baru hanya 7 (tujuh) orang berasal dari RSCM,RS
Persahabatan, RSPAD Gatot Soebroto,RS PMI Bogor dan RSAL Mintohardjo. Secara
Administratif pendidikan tersebut diberi nama Sekolah Penata Anestesi berkududukan di
Jakarta dan pengukuhan serta pengakuan dari Departemen Kesehatan RI pada tanggal 14
September 1962 dengan SK DEPKES RI Nomor : 107/Pend./Sept 1962. Kegiatan
perkuliahan diselenggarakan di RSUP CM. Jakarta . Pendidikan Penata dilaksanakan
awalnya 1(satu) tahun, kemudian ditambah jadi 2 (dua) tahun sementara didaerah lain
dengan perintis pelayanan Anestesi Prof.Dr.Karyadi SpAn (Almarhum) RSUD Dr.Sutomo
Surabaya juga mengadakan Pendidikan(?)/Pelatihan 1(satu) tahun Perawat menjadi Penata
Anestesi sesuai kebutuhan masing2

Program Pendidikan Peñata anestesi sangat membantu terselenggaranya pelayanan


Anestesi di rumah sakit-rumah sakit di Indonesia karena Dokter Anestesi masih sedikit
jumlahnya sementara perkembangan teknologi kesehatan termasuk Rumah Sakit baik Negeri
maupun Swasta mulai berkembang pesat. Maka SDM lulusan Penata Anestesi banyak
dibutuhkan terutama didaerah-daerah dan dikirimlah SDM Perawat untuk masuk ke Sekolah
Penata di Jakarta dan Depkespun mulai meningkatkan Status dari sekolah Penata Anestesi
menjadi Akademi Anestesi Depkes-RI dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI
Nomor : 92/Pend/1966 dikeluarkan di Jakarta tanggal 5 Nopember 1966, lulusannya disebut
Penata Anestesi dan masuk dalam rumpun keteknisian medis dan kemudian dikukuhkan
pula oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan Nomior 37/1966 pada tahun yang
sama, serta ditambah juga Surat Keputusan Mandikbud Nomor 5945/UU, Tentang
Persamaan ijazah Pengatur Rawat DEPKES-RI sama dengan Sekolah menengah Atas
Negeri, dikeluarkan di Jakarta tertanggal 10 Agustus 1966.

Pendidikan Akademi Anestesi di Depkes-RI Jakarta merupakan tempat pendidikan


Perawat satu-satunya di Indonesia dalam bidang Anestesi , selain untuk meningkatkan status
kepegawaian Perawat yang waktu itu setara dengan lulusan SMA, juga untuk membantu
pemerintah dalam mencetak tenaga Anestesi di Rumah Sakit baik piusat maupun Rumah
Sakit daerah-daerah setingkat Kabupaten. Lulusan Akademi Anestesi yang diberi nama
“Penata Anestesi” mempunyai kemampuan untuk melakukan anestesi paripurna dari
perawatan anestesi pre anestesi, durante anestesi dan pasca anestesi, bekerja di Rumah Sakit
yang sebagian besar tidak ada Dokter Ahli anestesi dan sebagian lagi bekerja di Rumah
Sakit yang ada Dokter Ahli Anestesi sebagai mitra.

Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi khususnya kesehatan, Akademi


anestesi berupaya untuk menyesuaikan dan mengikuti perubahan-perubahan yang berkaitan
dengan program-program pemerintah dibidang kesehatan khususnya pelayanan anestesi
telah berkembang menjadi pelayanan anestesi dan reanimasi yang meliputi

1) Pelayanan Anestesi
2) Pelayanan Gawat darurat
3) Terapi intensif
4) Terapi nyeri dan
5) Terapi Inhalasi.

Adapun yang menjabat sebagai Direktur Akademi Anestesi Depkes RI Jakarta adalah :

1) Tahun 1966 – 1980 Prof. Dr. Mohammad Kelan DSAn


2) Tahun 1980 – 1982 Dr. Ade Kalsid DSAn
3) Tahun 1982 – 1989 Bpk. R.O. Soepanndi BSc.An
4) Tahun 1989 - ------ Dr. Kartini Suryadi SpAn.
3. PERUBAHAN PENDIDIKAN PENATA/PERAWAT ANESTESI

Program Pendidikan Akademi Anestesi Depkes RI Jakarta berjalan dengan sangat baik
sampai dengan tahun 1980-an seperti catatan yang ditulis oleh Bpk.Drs.Yuswana BSc.An
MBA alumni Aknes 1979 mengutip Ceramah Prof.Dr.Mohammad Kelan DSAn dihadapan
calon Mahasiswa Aknes thn 1976. Sebagai berikut :

“Yang membedakan antara saudara dan saya barangkali adalah nasib, mungkin
orangtua saudara kurang mampu sehingga tidak sanggup menyekolahkan saudara ke
Fakultas Kedokteran dan hanya ke Sekolah Perawat, sedangkan orangtua saya cukup mampu
sehingga saya bisa masuk ke fakultas kedokteran dan menjadi dokter. Tetapi kapasitas otak
saya dan saudara tidak berbeda,bahkan mungkin saudara memiliki kapasitas lebih unggul
daripada saya. Oleh karena itu, saya yakin sekali saudara akan mampu untuk menerima ilmu
kedokteran yang akan diajarkan kepada saudara dalam pendidikan Akademi anestesi ini,
bahkan ilmu spesialis anestesi, meskipun mungkin kedalamannya sedikit berbeda. Saudara
akan dididik sebagai Pembius,guna mmemenuhi kebutuhan pelayanan anestesi yang saat ini
bahkan untuk jangka panjang yang tidak tahu berapa lama, masih sangat kurang. Jadi pesan
saya, belajarlah dengan tekun,baik teori maupun praktek agar saudara tidak terhambat untuk
lulus ujian dan menjadi perawat anestesi yang handal. Tenaga saudara sangat dibutuhkan
dalam pelayanan anestesi di Indonesia.Pendidikan seperti ini juga diterapkan di Negara-
negara maju seperti di Amerika Serikat dan disana Perawatnya hebat hebat, seperti dokter
anestesi saudara jangan kalah dengan mereka.Selamat belajar.”

Program Pendidikan Aknes yang menggunakan kurikulum yang menyerupai program


pendidikan perawat anestesi di amerika Serikat dan kompetensi yang tinggi dari para
lulusannya menunjukan kualitas yang tinggi,mampu bekerja selayaknya seorang anesthetist
yang professional. Memang inilah tujuan dari program pendidikan yang dikehendaki oleh
Prof.Dr.Mohammad Kelan sebagai perintis Anestesi di Indonesia.

Seiring dengan berjalannya waktu dikalangan Dokter Spesialais anestesi itu sendiri
terjadi pro dan kontra terhadap konsep Pendidikan yang berhasil dibangun oleh Prof Kelan,
bagi yang tidak setuju dengan Pendidikan Aknes , mereka beralasan bahwa :
1) Ilmu medis yang diajarkan kepada mahasiswa Aknes terlalu banyak sedangkan basic
mereka hanya Perawat.
2) Lulusan dari Aknes ada yang arogan merasa sebagai penguasa tunggal di Rs daerahnya
sehingga dokter anestesi yang baru lulus tidak boleh masuk.
3) Untuk Perawat Anestesi yang bisa mendampingi dokter anestesi cukup diberi ilmu
anestesi 40 sks saja dan bisa diberikan dengan inhause training

Selanjutnya IAAI ( Ikatan Ahli Anestesiologi Indonesia) melalui ketua umumnya


Prof.Dr.Karyadi SpAn (Almarhum) pada acara Munas IKLUM (Ikatan Alumni) dengan
Ketua Umumnya Bpk Drs. I Ketut Sangke Yudhistira BSc.An SH.tahun 1983 di Wisma
YTKI Jl.Gatot Soebroto Jakarta, mengusulkan agar Penata Anestesi masuk kedalam
Rumpun Keperawatan, karena peran dan fungsi perawat ada 3 yaitu. 1.Caring Rolle,2.
Therapeutic dan 3.Coordination. Dan Presatuan Perawat Nasional Indonesia melalui Ketua
Umumnya pada waktu itu Bpk.H.Oyo Radiat menerima dengan senang hati Penata anestesi
masuk rumpun PPNI dan pada Tahun 1986 pada Munas IKLUM terbentuklah Organisasi
Profesi yang bernama Ikatan Perawat Anestesi Indonesia disingkat IPAI dengan Ketua
Umumnya yang Pertama adalah Ibu.Dra.Hj. Susbandiyah BSc.An .

Beberapa waktu kemudian IAAI dengan beberapa point alasan diatas, meminta kepada
Departeman Kesehatan agar pendidikan Akademi Anestesi ditutup saja , karena perawat
tidak perlu pendidikan dan perawat anestesi sudah cukup dengan pelatihan. Depkes bertanya
kepada IAAI apakah ahli anestesi sudah cukup untuk memenuhi pelaksanaan pelayanan
anestesi di seluruh Rumah Sakit Indonesia sampai tingkat Kabupaten ? dankarena jumlah
dokter Ahli Anestesi masih terbatas di kota-kota besar saja maka dijawab tidak bisa karena
Dokter Anestesi belum cukup. Kemudian Depkes mengeluarkan Surat Perintah kepada
IAAI agar seluruh Fakulas Kedokteran yang menyelenggarakan PPDS Anestesi harus
mendirikan Akademi Perawat Anestesi , dan kepada dokter Residen anestesi yang mau ujian
akhir harus mengajarkan ilmu anestesi ke Mahasiswa Akpernes. Maka dibuka lah program
pendidikan Perawat Anestesi di Jakarta,Bandung,Surabaya dan Semarang pada thn 1985,
yang berlanjut hanya 3 kota Jakarta,Bandung dan Surabaya sementara Semarang hanya
menerima 2-3 angkatan saja.

Pedidikan Akademi Perawatan Anestesi ( Akpernes ) di Kota Jakarta, Bandung,


Surabaya dan Semarang terus mencetak Perawat Anestesi yang handal dengan kurikulum
yang tidak jauh berbeda dengan Akademi Anestesi, dan dikalangan IAAI yang kemudian
berganti nama menjadi IDSAI ( Ikatan Dokter Anestesi Indonesia ) kembali terjadi pro
kontra terhadap kurikulum Pendidikan yang masih menggunakan kirikulum lama ( di
kampus Aknes jl.Kimia 22-24 Jakarta papan nama masih AKADEMI ANESTESI
DEPKES-RI ) dan puncaknya pada tahun 1989 Direktur Aknes Bpk. R.O Soepandi BSc,
digantikan oleh Dr. Kartini Suryadi DSAn. Dan mulailah Beliau merombak Staf Akademik
dengan merekrut SDM Keperawatan dari PPNI yang ahli dalam bidang ilmu
Keperawatan.Kurikulum Ilmu Anestesi makin dipangkas karena dari PPNI kalau yang
dinamakan Perawat Harus menyelesaikan Ilmu Keperawatan minimal 102 SKS baru bisa
masuk dan diterima di Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) pada waktui itu, dan sisanya
silakan ilmu lain sebagai warna saja.

Perubahan kurikulum yang diterapkan di Akpernes membuat “GALAU” para


Mahasiswa Akpernes baik di Jakarta, Bandung dan Surabaya karena tidak sesuai dengan
harapan baik buat Mahasiswa itu sendiri maupun yang diharapkan oleh Rumah Sakit
pengirim dari Daerah, karena yang diharapkan oleh rumah Sakit daerah adalah alumni dari
Akpernes bisa mengisi sebagai pelaksana pelayanan Anestesi yang tidak/belum didisi oleh
Dokter Anestesi, begitu pula untuk Rumah Sakit Umum Pusat dan Swasta di Kota-kota besar
diharapakan alumni Akpernes dapat melaksanakan pelayanan Anestesi sebagai anggota
Team di kamar operasi,bersinergi dan bermitra dengan Dokter Anestesi.

Keadaan pendidikan Akpernes yang tidak sesuai dengan harapan Mahasiswa membuat
para generasi penerus yang sedang tumbuh berkembang tersebut menjadi berpikir sangat
kritis dan menuangkan dengan tindakan “BERDEMONTRASI” menuangkan pemikiran dan
usulan mereka baik ke Direktur Akpernes maupun ke Depkes c.q Pusdiknakes dan itu terjadi
dimasing-masing Kampus Jakarta,Bandung dan Surabaya maupun secara bersama-sama
berdemo di Pusdiknakes Hasil dari Demo-Demo Mahasiswa maka Pusdiknakes
mengijinkan penambahan Ilmu Anestesi selama 6 (enam) bulan atau Satu semester kepada
Mahasiswa Akpernes.Hal tersebut selalu terjadi setiap tahun mulai th 1991 sampai dengan
tahun 2003dan pada tahun 2004 Akpernes Jakarta,Bandung dan Suarabaya “DITUTUP”
tidak menerima Mahasiswa baru lagi.

Pada tahun 2007 dengan beberapa usulan dari Staf Poltekkes Jakarta 3 akhirnya
Pusdiknakes kembali mengijinkan membuka lagi Diploma III Program Studi Keperawatan
Anestesi di Jakarta, dan menerima Mahasiswa dari lulusan SMA. Sesuai Brosur dari
Poltekkes Jakarta III Mahasiswa/I akan kuliah di program studi keperawatan anestesi dan
diberikan 24 SKS mata kuliah Anestesi selama 6 (enam) semester masa perkuliahan baik
teori maupun praktek, tetapi kenyataannya mereka hanya menerima 16 SKS Anestesi
sehingga tidak cukup untuk menjadi seorang Perawat Anestesi, hal itu terus terjadi hingga 3
( tiga ) angkatan th 2009 dan setelah itu tidak menerima Mahasiswa baru lagi. Mahasiswa
tersebut juga sama dengan seniornya tidak puas menerima ilmua anestesi hanya sedikit,
hanya mereka tidak berdemo secara besar2an karena mereka masih remaja dan Organisasi
Profesi dalam hal ini IPAI bisa menenangkan Mahasiswa dan menjembatani antara
Mahasiswa dan Pusdiknakes apa yang diinginkan Mahasiswa disampaikan ke Pusdiknakes
BPPSDM

Pada tahun 2011 dan 2012 Ikatan Perawat Anestesi Indonesia mendapat perintah dari
Pusdiknakes untuk menyelenggarakan Pelatihan Ilmu Anestesi kepada Alumni Program
studi Keperawatan Anestesi dan dilaksanakan secara marathon terus menerus selama 3 (tiga)
bulan baik Teori maupun Praktek, Untuk Teori thn 2011 bekerjasama dengan Bagian
Anestesi dan terapi intensif RSCM dengan dosen-dosen dari UI dan Praktek bekerjasama
/MoU dengan Bag. Anestesi RS Persahabatan,RSUD KOJA, RSUD Tangerang,RSUD
Cibinong Bogor, RS PMI Bogor,RSUD Bekasi,RSAU Halim Perdana Kusuma,RSUD
Karawang. Untuk Gelombang kedua thn 2012 untuk Teori diselenggarakan kerjasama
dengan Bag. Anestesi RS Pusat Fatmawati Jakarta dengan lahan Praktek bekerjasama
dengan Rumah Sakit Rumah sakit seperti Gelombang pertama ditambah dengan Rumah
Sakit Umum Daerah BAYU ASIH Purwakarta.
Sejak ditutupnya Akpernes di 3 (tiga) sentra Pendidikan Anestesi Jakarta,Bandung dan
Surabaya tahun 2004 Organisasi Profesi IPAI berusaha terus untuk mengajukan
permohonan kepada Institusi terkait maupun Pemerintah untuk bisa dibuka lagi Pendidikan
Keperawatan Anestesi di Indonesia, dan pada akhirnya ada secercah harapan karena pada
tahun 2007 berkat perjuangan dan loby-loby di Poltekkes Jogjakarta akhirnya dibuka
Diploma IV Keperawatan Anestesi dan Reanimasi Walaupun sejak thn 2012/2013 tidak
menerima Mahasiswa baru lagi, dan direncanakan thn 2015 akan dibuka kembali.

4. SEJARAH PERKEMBANGAN PROFESI PENATA/PERAWAT ANESTESI


INDONESIA
a. Ikatan Alumni Penata Penata Anestesi (IKLUM)

Setelah banyaknya Alumni Sekolah Penata Anestesi dan Akademi Anestesi Depkes
RI Jln. Kimia 22-24 Jakarta, pada tahun 1970an maka mereka berkumpul untuk
membentuk perkumpulan dari para alumni SPA dan Aknes dari mulai angkatan pertama
sampai ke 4 antra lain : Bpk. Suken S BScAn (Alm), Bpk Drs. Amin Jusuf
BSc.An,(Alm), Bpk. Drs.Ketut sangke yudhistira BSC.An SH, Bpk. R.O. Soepandi
BSc.An, Bpk. Anshori Hasan BSc.An akhirnya disepakati namanya adalah : IKLUM
singkatan dari Ikatan Alumnidari AKNES Jakarta, awal nya Ketua umumnya Bpk
Drs.Amin Jusuf BSc.An, Penata Anestesi RSCM Jakarta terakhir bekerja di Bagian
Therapi Inhalasi Bagian Anestesi RSCM, kemudian mengadakan kongres Iklum di
Wisma YTKI Jalan Gatot Soebroto Jakarta., dalam acara Kongres dan acara symposium
anestesi.. mulai dianjurkan oleh IAAI agar peñata anestesi masuk ke dalam Rumpun
keperawatan dan Organisasinya berada dibawah Persatuan Perawat Nasional Indonesia
( PPNI ), waktu itu IKLUM masih berjalan dengan tertatih-tatih karena anggotanya
sedikit dan tersebar diseluruh Indonesia, Kemudian pada waktu Musyawarah Nasional
(bulan dan tahun nya tidak ada catatan ) diganti Ketua Umumnya oleh Bpk Drs. Ketut
Sangke Yudhistira BSc Penata Anestesi di RSUD Karawang Jabar sampai dengan tahun
1986 dimana ada pergantian nama menjadi Ikatan Perawat Anestesi Indonesia ( IPAI ).
b. Ikatan Perawat Anestesi Indonesia ( IPAI )

Pada tanggal 1 Oktober 1986 IKLUM mengadakan Kongres Luar biasa karena ada
desakan dari IAAI agar organisasi IKLUM masuk ke organisasi Persatuan Perawat
Nasional Indonesia (PPNI) dengan perdebatan cukup “Seru” akhirnya Ikatan Alumni
Aknes Jakarta ( IKLUM ) dirubah namanya menjadi Ikatan Perawat Anestesi Indonesia
disingkat IPAI. Ikatan Perawat Anestesi Indonesia ( IPAI ) mulai berjalan tidak seperti
layaknya Organisasi Profesi lain yang Mandiri,inikarena situasi dan kondisi yang
kurang kondusif masih dibawah bayang-bayang organisasi Profesi lain yaitu
PPNI ,sementara pekerjaan Perawat anestesi itu tindakan keperawatannya hanya sedikit,
lebih banyak Tindakan Medis, semestinya organisasi IPAI bisa Mandiri Pembinanya
adalah IAAI.

Pada tahun 1994 Musyawarah Nasional Pertama Ikatan Perawat Anestesi Indonesia
diselenggarakan di Jakarta tepatnya di Auditorium RS KANKER Nasional
DHARMAIS.Dalam Munas nya yang pertama terpilih sebagai Ketua Umum IPAI
Periode 1994-1999 Ibu Dra.HJ. Susbandiyah BSC.An. Organisasi IPAI dengan Ketua
Umum Ibu Susbandiyah menjadi tantangan yang sangat berat bagi IPAI, karena
disamping masalah Pendidikan Akpernes yang berlarut-larut dengan adanya kurikulum
yang tidak sesuai dengan harapan baik bagi Mahasiswa maupun Insitusi pengirimnya,
juga Tantangan berat dari Organsiasi yang terkait dengan IPAI. PPNI dalam hal
pendidikan memaksakan bahwa kalau mau disebut Ahli Madya Keperawatan dari 110
SKS yg harus diselesaikan makal ilmu keperawatan yg wajib diikuti dan lulus adalah
102 SKS, sedangkan sisanya yang 8 SKS boleh yang lain sebagai warna saja. Keadaan
seperti ini tentu saja membuat para Mahasiswa Akpernes “GERAM” dan tidak “PUAS”
maka mulailah Mahasiswa mempertanyakan kurikulum baik ke Insitusi maupun atasan
Institusi dalam hal ini Pusdiknakes,karena jumlah Mahasiswanya banyak maka disebut
Demonstrasi untuk meluluskan permintaannya.

Pada Periode kepengurusan DPP IPAI 1994-1999 berbagai usaha dan cara DPP IPAI
untuk mengusulkan agar SKS Anestesiologi lebih banyak selalu menemui jalan buntu..
pernah DPP c.q. Ibu Susbandiyah dan Ibu Sulastri menyusun kurikulum Akpernes dan
dikonsultasikan ke CHS Prof. Ma’rifin, dan beliau pun Setuju, akan tetapi Tetap saja
tidak bisa dijalankan

c. Pada tahun 2016 Ikatan Perawat Anestesi Indonesia (IPAI) diganti menjadi IktanPenata
Anestesi Indonesia (IPAI) didukung dengan adanya Permenkes No. 18 tahun 2016
tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktek Penata Anestesi.