Anda di halaman 1dari 18

PENDAHULUAN

Salah satu variabel fisiologis yang secara tepat dapat diatur oleh tubuh adalah
temperatur. Manusia dapat memelihara temperatur tubuh supaya tetap konstan dan
tidak terpengaruh oleh suhu lingkungan. Temperatur yang selalu konstan ini, sering
disebut sebagai temperatur normal, dan untuk menjaganya maka tubuh harus
menyeimbangkan jumlah produksi panas dan jumlah pelepasan panas dari tubuh.
(Collins, 1996; Daniel, 2004)

Insiden hipotermia dapat terjadi jika tubuh tidak adekuat ketika melawan
peningkatan pelepasan panas atau penurunan pembentukan panas, sampai keadaan
ekuilibrium tercapai. Kemudian terjadi siklus umpan balik, dimana penurunan
temperatur tubuh akan menurunkan laju metabolisme, sementara kehilangan panas
yang lebih banyak tetap terjadi. Sehingga tubuh akan melawan ketidakstabilan ini
dimulai dengan meningkatkan laju metabolisme pada saat tubuh terpapar lingkungan
yang dingin atau dengan mengurangi kehilangan panas melalui vasokonstriksi yang
biasa disebut dengan shivering (Vicanti & Ryan, 1993)

Proses oksidasi dapat menghasilkan panas, air dan produk-produk sisa


(termasuk CO2). Panas tubuh yang dihasilkan melalui metabolisme, seimbang dengan
kehilangan panas yang terjadi melalui konveksi, konduksi, radiasi dan evaporasi (Collins,
1996)

SISTEM TERMOREGULASI

Sistem termoregulasi diatur oleh hipotalamus pars anterior. Rangsangan yang


terjadi pada kulit tubuh di informasikan ke hipotalamus melalui reseptor termal dalam
dan dari reseptor termal di area preoptik hipotalamus. Hipotalamus bertugas
memproses serta membandingkan dengan temperatur tubuh kemudian memodifikasi
temperatur ini dengan mengubah fungsi tubuh dengan cara meningkatkan produksi
panas atau pelepasan panas.

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 1


Tubuh bekerja dengan cara mengubah metabolisme menjadi aktifitas dan tonus
motorik, aktifitas vasomotor, dan berkeringat. Metabolisme merupakan energi yang
dibutuhkan tubuh untuk pemeliharaan, perbaikan dan pertumbuhan. Neonatus dan bayi
membutuhan energi yang tinggi untuk pertumbuhan dan kebutuhan pemeliharaan yang
relatif tinggi sehingga mempunyai laju metabolik yang tinggi. Rasio yang relatif lebih
besar antara luas permukaan tubuh dan masa tubuh membuat neonatus dan bayi lebih
sulit untuk memelihara suhu tubuh tetap normal (Vicante & Ryan, 1993; Thomas, 1994)

Sensitifitas perifer untuk temperatur lingkungan diatur melalui reseptor dingin dan
panas di kulit dan juga organ lain. Sinyal aferen dingin dihantarkan melalui serabut A-
delta sementara sinyal panas dihantarkan lewat serabut C (Lindahl & Shelden, 2000).
Di dalam hipotalamus status termal tubuh ditentukan berdasarkan informasi sensoris
yang diterima kemudian dibandingkan dengan set poin temperatur. Panas tubuh
dimodifikasi melalui perubahan-perubahan metabolisme, tonus dan aktifitas motorik,
aktifitas vasomotor dan berkeringat untuk menghasilkan baik pembentukan ataupun
pelepasan panas (Thomas, 1994)

Reseptor temperatur lebih sensitif terhadap perubahan temperatur yang


mendadak daripada perubahan yang perlahan. Reseptor ini ditemukan di berbagai
tempat di tubuh, termasuk hipotalamus, kulit, traktus respiratorius, traktus
gastrointestinal dan jaras spinal. Reseptor di area preoptik hipotalamus dan area yang
berdekatan, berespon terhadap panas dan dingin.

Temperatur inti tubuh (core temperature) adalah temperatur darah yang


memberikan perfusi sistem organ mayor vital. Temperatur ini normal hanya bervariasi
pada rentang temperatur yang sempit, yaitu sekitar ± 0,2°C dari set poin individual atau
termonormal. Temperatur ini 0,5°C lebih tinggi daripada temperatur oral. Zona
termonormal yang sempit ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, kondisi fisik,
faktor endokrin, pirogen dan obat (Lindahl & Sellden, 1999)

Neonatus mempunyai mekanisme pengaturan temperatur sentral yang terbatas


secara anatomi dan fisiologi. Neonatus sangat rentan terhadap masalah-masalah
pengaturan temperatur. Temperatur intra uterin yang sekitar 37,9°C berfluktuasi sangat

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 2


sedikit di bawah keadaan normal. Saat lahir, perubahan dari intra uterin ke lingkungan
ekstra uterin mengakibatkan perubahan temperatur yang bermakna sehingga memaksa
bayi untuk mengatur temperatur tubuh. Tanpa perhatian segera dari penolong terhadap
kehilangan panas, temperatur neonatus dapat turun sampai 4,5°C selama menit
pertama setelah lahir. (Ryan & Vacanti, 1992).

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 3


Bayi tergantung pada temperatur lingkungan, pemberian dukungan termal
merupakan hal primer yang harus diberikan pada perawatan. Temperatur tubuh
dihasilkan dari massa tubuh, dan akan hilang melalui permukaan tubuh, sehingga
makin kecil neonatus, makin besar ketidakseimbangan antara kemampuan
menghasilkan panas (massa tubuh) dengan kehilangan panas (permukaan tubuh).
Luas permukaan tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan massa tubuh pada
neonatus memerlukan intake kalori yang lebih tinggi untuk mendukung keseimbangan
temperatur. Karena adanya perbedaan fungsi fisiologi dan ukuran tubuh yang kecil
maka neonatus sangat mudah mengalami keadaan ‘under heating’ atau ‘over heating’

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 4


RESPON TERMAL TUBUH

Regulasi dari temperatur tubuh tergantung pada aktifitas vasomotor dan


sudomotor (produksi keringat), perubahan pada tonus dan aktifitas motor serta
modifikasi produksi panas. Respon yang cepat terhadap peningkatan temperatur
lingkungan menyebabkan arterioles di kulit vasodilatasi, sehingga meningkatkan aliran
darah dari tubuh dalam (body core) yang hangat ke perifer yang lebih dingin, kemudian
menyerap panas dan mendinginkan daerah perifer. Sebaliknya vasokonstriksi dapat
mengurangi aliran darah ke kulit dan mengurangi pelepasan panas dari tubuh dalam.
Baik vasodilatasi maupun vasokonstriksi memerlukan adaptasi dinamik kardiovaskulter
untuk memelihara tekanan perfusi sistemik (Stoelting, 1999).

RESPON TERHADAP STRES DINGIN

Pada bayi, mekanisme shivering masih belum berkembang. Shivering terjadi


akibat respon dari otot yang secara dramatis meningkatkan laju metabolik otot dan
meningkatkan konsumsi oksigen. Peningkatan metabolisme seluler dan aktifitas serta
tonus otot skeletal berperan untuk meningkatkan produksi panas.

Mekanisme termogenesis non shivering pada bayi terjadi akibat metabolisme


menggunakan jaringan lemak coklat (Brown fat), dan merupakan mekanisme produksi
panas utama pada neonatus. Sel-sel jaringan lemak coklat dapat diidentifikasi pada
usia 26-28 minggu gestasi dan berkembang terus sampai 3-5 minggu setelah lahir.
Selama waktu ini penyimpanan lemak coklat mencapai 150% dan sepersepuluhnya
ditemukan pada bayi aterm (Morgan, 2002).

Hal ini berarti metabolisme lemak coklat dan produksi panas akan kurang pada
bayi preterm dan BBLSR. Jaringan lemak coklat terdapat terutama di daerah
subskapula, daerah aksila, regio adrenal dan mediastinum. Jaringan ini dapat dengan
cepat meningkatkan laju metabolisme seluler dan peningkatan konsumsi oksigen,
sehingga akan membangkitkan panas dan melepaskan substrat yang bisa digunakan
dalam metabolisme seluler (Ryan & Vacanti, 1992; Thomas, 1994).

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 5


Konsekuensi fisiologis terhadap stress dingin

Pada bayi yang terpapar lingkungan dingin, akan terjadi peningkatan


norepinefrin, dengan tujuan untuk meningkatkan metabolisme lemak coklat. Sekali
norepinefrin dilepaskan, maka akan beraksi pada reseptor alfa dan beta adrenergic
pada jaringan lemak coklat dan akan menstimulasi pelepasan lipase. Lipase berperan
untuk mengubah trigliserid menjadi gliserol dan asam-asam lemak, dan akan
meningkatkan produksi panas. Peningkatan metabolisme lemak ini harus diimbangi
dengan peningkatan proporsi cardiac output ke jaringan lemak coklat. Dimana
peningkatannya bisa mencapai 25% cardiac output (Ryan & Vacanti, 1992).

Jika sistem cardiovaskuler tidak dapat memenuhi peningkatan kebutuhan


oksigen maka bayi akan mengalami hipoksia, kemudian terjadi metabolisme anaerob
dan akhirnya terjadi asidosis. Kebutuhan metabolik untuk peningkatan produksi panas

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 6


dipenuhi terutama melalui metabolisme glukosa dan lemak. Peningkatan metabolisme
glukosa menjadi predisposisi bayi untuk menjadi hipoglikemik, sedangkan metabolisme
lemak berperan untuk terjadi asidosis melalui pelepasan asam lemak bebas oleh
produk-produk metabolisme lemak (Daniel, 2004;Thomas, 1994).

RESPON TERHADAP OVER HEATING

Bayi tidak hanya mempunyai resiko terhadap kehilangan panas. Terbatasnya


luas permukaan tubuh serta terbatasnya kemampuan berkeringat juga menjadi
predisposisi bayi untuk menjadi over heating meskipun produksi panas dapat meningkat
secara bermakna dalam merespon lingkungan yang dingin, laju metabolik basa dan
jumlah produksi panas tidak dapat dikurangi. Over heating juga meningkatkan
kehilangan cairan dan respirasi.

Berkeringat merupakan respon cepat yang terjadi saat meningkatkan pelepasan


panas evaporasi pada lingkungan yang hangat. Berkeringat berfungsi untuk
menurunkan temperatur tubuh pada saat temperatur lingkungan lebih tinggi dari
temperatur tubuh. Bayi aterm pada umumnya mulai berkeringat saat temperatur kulit
abdomen sekitar 0,5°C di bawah temperatur inti tubuh (core temperature). Efektifitas
berkeringat terbatas pada lingkungan yang lembab, karena kelembaban meningkatkan
tekanan uap air dan menurunkan potensiasi untuk evaporasi (Thomas, 1994).

PENAMBAHAN DAN PELEPASAN PANAS

Reaksi panas dapat terjadi melalui proses konveksi, konduksi, radiasi dan
evaporasi. Dalam penilaian lingkungan termal, penting untuk menjumlahkan seluruh
sumber penambahan atau pengurangan panas. Karena transfer panas selalu
menurunkan gradien panas (dari temperatur lebih tinggi ke temperatur lebih rendah),
maka makin besar gradien, makin besar aliran panas.

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 7


Untuk memodifikasi lingkungan termal, yang perlu diperhatikan adalah
perbedaan antara penambahan panas (sumber panas lebih hangat dari kulit bayi) dan
pengurangan panas (sumber panas lebih dingin dari temperatur kulit bayi). Bayi secara
termal tidak sensitif terhadap cara-cara penambahan atau kehilangan panas. (Guyton,
1994).

KONVEKSI

Konveksi adalah proses transfer panas antara benda padat (bayi) dengan udara
atau cairan. Faktor-faktor yang menentukan kehilangan panas secara konveksi
terhadap perawatan bayi adalah (Ryan & Vacanti, 1992) :
1. Permukaan tubuh yang relatif besar
Luasnya permukaan tubuh dibandingkan massa tubuh akan menghasilkan
peningkatan pelepasan panas melalui konveksi. Pengurangan ekspose
permukaan tubuh merupakan usaha yang efektif untuk mengurangi kehilangan
panas secara konveksi.
2. Pergerakan dan kecepatan aliran udara
Keadaan ini berhubungan langsung dengan kehilangan panas secara konveksi.
Aliran udara menjadi perhatian saat bayi terekspose oleh perjalanan udara yang
terjadi karena adanya pintu, lubang-lubang ventilasi dan lalu lintas udara sekitar
tempat tidur bayi. Makin cepat aliran udara dan makin besar perputaran udara,
kehilangan panas secara konveksi yang lebih besar akan terjadi.
3. Gradien temperatur antara kulit bayi dan udara atau cairan
Makin besar gradien antara temperatur kulit bayi dan udara/cairan sekitar makin
besar tambahan atau pengurangan panas yang terjadi. Pada lingkungan yang
stabil dengan perubahan minimal pada kecepatan aliran udara, temperatur udara
sekitar tubuh secara adekuat mencerminkan kehilangan panas secara konveksi.
Meskipun demikian temperatur udara kamar tidak mencerminkan kecepatan
aliran dan perputaran udara yang akan meningkatkan kehilangan panas secara
konveksi. Untuk itu, intervensi terhadap udara kamar yang akan meningkatkan
temperatur udara akan mengurangi gradien antara temperatur kulit dan udara
dan mengurangi pelepasan panas secara konveksi.
4. Diameter dari anggota gerak bayi.

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 8


Makin kecil diameter anggota gerak bayi, insulasi eksternal makin kecil dan
potensi kehilangan panas secara konveksi makin besar.

Inkubator dioperasikan secara konveksi. inkubator mengurangi kehilangan panas


secara konveksi dengan menurunkan gradien antara temperatur udara dan kulit bayi.
Kecuali saat temperatur inkubator lebih tinggi dari temperatur kulit bayi. Meskipun
kehilangan panas secara konveksi bisa dimodifikasi dengan inkubator, akan tetapi
radiasi dan evaporasi tetap menyebabkan hilangnya panas. Aliran udara pada inkubator
tertutup adalah mendekati tetap, tetapi lubang disisi akan menciptakan aliran udara dan
perputaran udara. Pemberian pakaian dan selimut dalam inkubator akan mengurangi
permukaan tubuh bayi yang terekspose dan menambah insulasi eksternal (Thomas,
1994).

KONDUKSI

Konduksi adalah transfer panas antara dua benda padat yang bersentuhan.
Konduksi merujuk pada aliran panas antara permukaan tubuh bayi dan permukaan
padat lainnya. Keadaan-keadaan berikut akan mempengaruhi konduksi (Ryan & Vacanti,
1992) :
1. Koefisien konduktifitas permukaan padat
Besarnya koefisien dari permukaan, kemampuan permukaan untuk transfer atau
konduksi panas. Logam mempunyai konduktifitas tinggi, sementara plastik dan
kayu rendah. Makin tinggi konduktifitas, makin tinggi aliran panas antara bayi
dan permukaan padat yang bersentuhan.
2. Besarnya permukaan kontak
Makin besar permukaan kulit bayi yang kontak dengan benda padat lain, makin
besar aliran panas yang terjadi. Pada posisi supine seorang bayi mengalami
kontak dengan alas tidurnya kira-kira 10% seluruh permukaan tubuh. Dalam
inkubator atau di bawah pancaran radiasi, kehilangan panas secara konduksi
tidaklah penting.
3. Gradien temperatur diantara dua permukaan
Bayi tidak akan dihangatkan dengan konduksi kecuali permukaan padat yang
bersentuhan lebih hangat dari temperatur kulit. Bantal penghangat dan alat-alat

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 9


sejenis akan mengurangi kehilangan panas dengan memperkecil gradien antara
temperatur bayi dan permukaan padat. Dalam praktek klinik, pengukuran
temperatur kulit dan temperatur permukaan padat bermakna dalam menilai
kehilangan panas secara konduksi.

Pengaturan dilakukan untuk mencegah kehilangan panas secara konduksi.


Misalnya dengan cara menghangatkan permukaan padat sebelum permukaan tersebut
kontak dengan tubuh bayi, sebagai contoh pemakaian selimut/blanket penghangat bagi
bayi yang akan menjalani operasi (Thomas, 1994)

RADIASI

Radiasi adalah transfer panas antara dua permukaan padat yang tidak
mengalami kontak. Energi panas ditransfer melalui gelombang infra merah
elektromagnetik. Karena aliran panas radiasi tidak melibatkan kontak fisik dan tidak bisa
diukur dengan thermometer, menyebabkan hal ini sering tidak dimengerti dan
diabaikan. Perasaan dingin saat duduk dekat dengan jendela luar yang dingin (dalam
temperatur kamar yang hangat) menggambarkan kehilangan panas secara radiasi.
Contoh lain adalah matahari menghangatkan interior mobil meskipun pada hari yang
dingin, merupakan contoh perambahan panas secara radiasi.

Faktor-faktor yang memberikan pengaruh terhadap aliran udara radiasi (Ryan & Vacanti,
1992) :
1. Emisivitas permukaan radiasi
Emisivitas merupakan daya emisi atau mengeluarkan panas dengan radiasi.
Emisivitas neonatus relatif konstan, bagaimanapun pemberian pakaian dan
selimut mengurangi emisi sebaik pemberian insulasi. Karena radiasi melibatkan
dua benda padat, temperatur permukaan dan emisivitas dari benda padat di
sekitar bayi harus diperhatikan.
2. Gradien temperatur antara kedua permukaan padat
Transfer panas radiasi digunakan oleh gradien temperatur antara bahan padat.
Temperatur kulit bayi umumnya lebih hangat daripada permukaan lain di
sekitarnya, sehingga arah dari transfer panas radiasi lebih sering dari permukaan

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 10


bayi ke permukaan solid sekitarnya. Tambahan atau perolehan panas secara
radiasi terjadi bila sumber radiasi lebih hangat daripada temperatur kulit bayi.
3. Area permukaan benda padat
Permukaan tubuh bayi yang relatif luas dibanding massa tubuh menyebabkan
potensi terjadinya kehilangan panas secara radiasi. Dibandingkan dengan
permukaan tubuh bayi, permukaan benda padat sekitarnya sangat besar,
sehingga berperan untuk terjadinya kehilangan panas secara radiasi yang lebih
besar. Untuk bayi posisi supine, permukaan tubuh terbesar yang bisa terjadi
pelepasan panas secara radiasi dari posisi atas adalah 30% dan dari posisi
samping 17%.
4. Jarak antara dua benda padat
Makin dekat jarak kedua benda padat, makin besar aliran radiasi.

EVAPORASI

Evaporasi menghasilkan pelepasan panas melalui energi yang digunakan untuk


merubah air menjadi bentuk gas. Evaporasi dari 1 liter air membutuhkan 600 Kkal.
Kehilangan air transdermal (insensible loss dari kulit) berhubungan dengan usia gestasi
dan derajat keratinisasi dari stratum korneum epidermis. Keratin yang matur
mempunyai lapisan protein fibrous yang kuat untuk melindungi epitel di bawahnya, dan
relatif tidak permeabel terhadap air. Pembentukan keratin berhubungan langsung
dengan usia gestasi, sehingga bayi prematur memiliki evaporasi yang tinggi melalui
difusi air melewati kulit yang masih permeabel.

Pada bayi dengan berat bayi lahir sangat rendah (BBLSR), kehilangan panas
melalui evaporasi lebih besar daripada kemampuan memproduksi panas yang dimiliki.
Akibat adanya pengaruh dari lingkungan ekstra uterin akan mengakibatkan peningkatan
keratinisasi sampai 3-4 minggu pertama post natal, yang memberikan kontribusi untuk
pengurangan kehilangan panas evaporasi.

Kerusakan kulit yang membuka lapisan keratin dan mungkin juga mempengaruhi
epitel di bawahnya akan meningkatkan kehilangan panas melalui evaporasi. Kerusakan

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 11


bisa terjadi hanya dari aplikasi dan pelepasan pita atau bahan perekat lain ke kulit.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi evaporasi :

1. Permukaan tubuh bayi


Makin besar permukaan bayi yang memungkinkan untuk evaporasi, makin besar
kehilangan panas yang terjadi.
2. Tekanan uap air, yang ditentukan oleh tekanan udara, temperatur dan
kelembaban.
Makin besar tekanan uap air, makin kecil evaporasi yang terjadi. Meskipun
tekanan udara relatif stabil, tekanan ini akan makin berkurang dengan
peningkatan ketinggian, sehingga kehilangan panas pada bayi harus menjadi
perhatian saat transport bayi pada penerbangan non pressurized.
Karena evaporasi dan temperatur berhubungan langsung, maka peningkatan
temperatur akan menurunkan tekanan uap air dan meningkatkan evaporasi.
Oleh karena itu, udara yang hangat yang diperlukan oleh bayi adalah
berhubungan dengan kehilangan panas evaporasi yang tinggi. Akan tetapi
dengan peningkatan kelembaban maka akan mengurangi evaporasi.
3. Kecepatan udara
Kehilangan panas evaporasi seperti juga kehilangan panas konjelitif dipotensiasi
oleh peningkatan kecepatan aliran dan perputaran udara.

TERMOREGULASI DAN LINGKUNGAN

Cara perawatan bayi yang benar dapat memberikan lingkungan termal yang
konduktif untuk mempertahankan stabilitas termal dan pertumbuhan. Dua konsep yang
saling berhubungan adalah pusat untuk pemeliharaan temperatur :

1. “set point” didefinisikan sebagai temperatur terkontrol dalam sistem


termoregulasi. Temperatur tubuh normal adalah manifestasi klinis dari set point.
2. Zona termal normal (atau lingkungan) secara tradisional didefinisikan sebagai
rentang temperatur lingkungan dimana laju metabolik minimal dan termoregulasi

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 12


dipertahankan dengan mekanisme non evaporasi (hanya dengan kontrol
vasomotor). Di dalam rentang ini bayi berada dalam temperatur equilibrium
dengan lingkungan (Ryan & Vacanty, 1992).

Pada salah satu penelitian pada bayi preterm dan aterm laju metabolic
(konsumsi oksigen) tidak dapat diperkirakan dari berat lahir, usia post natal atau
temperatur rectal. Penelitian ini mengatakan temperatur tubuh bayi dalam keadaan
normal ketika temperatur lingkungan mencapai temperatur netral yang menetap. Bayi
bagaimanapun menunjukkan variasi yang beragam dalam konsumsi oksigen saat
istirahat. Meskipun difinisi dari temperatur bayi normal bervariasi, rentang temperatur
normal relatif konstan (Thomas, 1994).

Wheldon dan Hull dengan menggunakan konsumsi oksigen minimal sebagai


kriteria dasar, melaporkan temperatur normal bayi preterm (29-35 minggu gestasi) dan
bayi aterm 37,2 ± 0,2°C untuk rectal. Sementara Beli dan Rios dengan kriteria yang
sama melaporkan rentang temperatur rectal normal bayi preterm (28-33 minggu
gestasi) adalah 36,2 – 37,2°C. Mayfeld dkk merekomendasikan rentang yang lebih luas
untuk bayi aterm 36,7-37,4°C dan rentang yang lebih sempit untuk bayi preterm 36,4-
37,1°C. Rekomendasi terbaru dari The American Academy of Pediatrycs and the
American College of Obstetrics and Gynaecology adalah 36,7-37,5°C untuk aksilar dan
rectal, serta 36-36,5°C temperatur kulit abdomen.

Klasifikasi Hipotermia, temperatur inti tubuh dan temperatur kulit menurut McCall et
all 1997 adalah :

1. Hipotermi Ringan atau stress dingin yaitu temperatur inti tubuh 36-36,4 °C atau
temperatur kulit sekitar 35,5-35,9 °C

2. Hipotermi Sedang yaitu temperatur inti tubuh 32-35,9 °C atau temperatur kulit
sekitar 31,5-35,4 °C

3. Hipotermi Berat yaitu temperatur inti tubuh < 32 °C atau temperatur kulit sekitar <
31,5 °C

Keadaan-keadaan bayi untuk terkena resiko hipotermi.

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 13


TERMOREGULASI SELAMA ANESTESI

Keseimbangan temperatur akan terganggu selama anestesi umum. Zona


termonetral akan meningkat dan mekanisme kompensasi pada saat tidak teranestesi
mulai diaktifkan saat temperatur turun 0,2°C tidak akan terjadi sampai temperatur inti
tubuh (core body temperature) turun antara 2-2,5°C. Hal ini disebabkan karena agen
anestesi dapat menurunkan laju metabolisme sehingga akan menurunkan produksi
panas. Keadaan ini akan diperparah dengan adanya vasodilatasi perifer yang akan
mendistribusikan panas keseluruh tubuh.

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 14


Obat-obat anestesi baik intra vena ataupun inhalasi, sama-sama akan
menurunkan produksi panas, meningkatkan kehilangan panas dan menurunkan
temperatur inti tubuh (core body temperature). Mekanisme non shivering dengan
metabolisme lemak coklat juga menurun akibat dihambat oleh obat-obat anestesi
selama periode anestesi (Daniel, 2004; Morgan, 2002).

Neonatus dan bayi dengan permukaan tubuh yang relatif lebih luas dibandingkan
dengan massa tubuh, dengan perfusi yang relatif baik dan dengan insulasi lemak kulit
yang tipis menjadi sangat rentan untuk terjadinya hipotermia.

PENCEGAHAN HIPOTERMIA SELAMA ANESTESI

Pada hampir semua pasien yang teranestesi, penurunan temperatur terjadi mulai
15 menit pertama. Penurunan panas ini disebabkan antara lain, pasien tidak terselimuti
selama persiapan operasi, pemakaian cairan desinfektan yang relatif dingin, tidak
adanya gerakan yang terjadi pada pasien yang teranestesi dan pemakaian obat-obat
anestesi itu sendiri (Gravenstein & Kirby, 1996).

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 15


Kehilangan panas dapat terjadi melalui konduksi, radiasi, konveksi dan evaporasi
secara kuantitatif terutama melalui radiasi, sekitar 65%, konveksi bisa sampai 25%,
konduksi mungkin hanya berperan kecil pada orang dewasa, akan tetapi pada bayi dan
anak, kehilangan panas karena konduksi relatif lebih besar karena luasnya permukaan
tubuh yang relatif besar. Evaporasi dapat terjadi melalui bagian tubuh yang terbuka atau
melalui airway.

Usaha-usaha untuk mengurangi pelepasan panas dapat dilakukan dengan


memanipulasi semua aspek tersebut. Antara lain dengan memberikan blanket hangat
untuk alas, dan diberikan penutup kepala. Juga bisa diberikan lampu penghangat yang
akan mengurangi pelepasan panas melalui radiasi. Evaporasi dapat dikurangi dengan
memberikan penghangat dan humidifier gas dan juga dengan teknik low-flow. Pada bayi
harus diperhatikan lingkungan selama transportasi dan lamanya waktu menunggu
sebelum anestesi, sebaiknya menggunakan inkubator penghangat selama anestesi
belum dimulai (Lindahl & Shellden, 2000).

KESIMPULAN

1. Panas tubuh yang dihasilkan melalui metabolisme, seimbang dengan kehilangan


panas yang terjadi melalui konduksi, radiasi, konveksi dan evaporasi
2. Pediatrik dan neonatus mempunyai keterbatasan untuk melakukan termoregulasi
karena keterbatasan secara anatomi dan fisiologi.

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 16


3. Usaha-usaha untuk menghindari terjadinya gangguan pelepasan panas penting
dilakukan terutama untuk menghindari hipotermi yang dapat terjadi pada
pediatrik dan neonatus selama dilakukan anestesi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Collins, VJ, MD, SCD; Physiologic and Pharmacologic bases of Anesthesia,


William & Willkins, 1996, pp 316-344

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 17


2. Daniel L. Sessler; Normal Thermoregulation in Temperature Monitoring, Miller’s
Anesthesia, 6th ed., 2005, pp 1572-1580
3. Gravenstein, N, MD; Kirby, RR, MD; Complication of Anesthesiology, 2nd ed.,
Lippincord – Raven, 1996, pp 117-127
4. Guyton, AC, MD; Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, EGC, 1994, pp 180-192
5. Liendahl, SGE, MD, PhD; Sellden, E, MD, PhD; Perioperative Temperature
Regulation, IARS Riview Course Lectures, 2000
6. Mc Call, EM; Alderdice, FA; Halliday, HL; Jenkins, JG; Vohra, S; Interventions to
prevent hypothermia at birth in preterm and/or low birthweight babies, 2004
7. Morgan, Edward G.Jr, Temperature Regulation in Pediatric Anesthesia, 3rd
ed.,2002, pp 851
8. Stoelting, RK, Pharmacology and Physiology in Anesthetic Practice, 3rd ed.,
Lippincord – Raven, 1999, pp 612-617
9. Thomas, K, PhD; Thermoregulation ini Neonates, Neonatal network, Vol 3 no. 2,
1994
10. Vacanty, FX; Ryan, JF; dalam Cote, Ryan, Todres, Goudsouzian; Practice of
Anesthesia for Infant and Children, 2nd ed., WB Sounders Co., 1992

SISTEM TERMOREGULASI PADA PEDIATRIK DAN NEONATUS Page 18