Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN

SISTEMATIKA AVERTEBRATA

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 4

Ainusyafiyati Warohmah H1041171005


Albertus Williem H1041171004
Dita Nur Fazmi H1041171014
Dwi Mustaanah H1041171002
Ferdian Wira Pratama H1041171023
Henno Wisnu Putra H1041171071
Nadya Juwita Ningsih H1041171031
Vijar Masyita H1041171009

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2019
INVENTARISASI FILUM ARTHROPODA DI
KELURAHAN SEDAU KECAMATAN SINGKAWANG
SELATAN KALIMANTAN BARAT

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN


SISTEMATIKA AVERTEBRATA

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 4

Ainusyafiyati Warohmah H1041171005


Albertus Williem H1041171004
Dita Nur Fazmi H1041171014
Dwi Mustaanah H1041171002
Ferdian Wira Pratama H1041171023
Henno Wisnu Putra H1041171071
Nadya Juwita Ningsih H1041171031
Vijar Masyita H1041171009

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pantai Batu Burung merupakan ekosistem estuari yang tergolong zona
intertidial ini terdapat banyak bebatuan granit. Pantai Batu Burung terletak di
Kelurahan Sedau Kecamatan Singkawang Selatan dikelilingi oleh hutan-hutan
yang berada di kaki hingga puncak Bukit Sedau. Keanekaragam flora dan fauna
yang ada di kawasan hutan ini cukup banyak dengan yang ada di Pantai Batu
Burung, khususnya hewan tingkat rendah (Avertebrata). Menurut pernyataan
Webber dan Thurman (1991) bahwa pantai berbatu di zona intertidial merupakan
salah satu lingkungan yang subur dan kaya akan oksigen. Selain oksigen daerah
ini juga mendapatkan sinar matahari yang cukup sehingga sangat cocok untuk
beberapa spesies untuk berkembang biak.
Hewan Avertebrata merupakan hewan yang tidak memiliki tulang
belakang, istilah ini pertama kali digunakan oleh Chevalier de Lamarck. Salah
satu hewan yang tidak mempunyai tulang belakang serta memiliki
keanekaragaman yang tinggi yaitu Filum Arthropoda. Menurut Kesuwamati
(2012), hewan Filum Arthropoda menepati sebagai hewan yang memiliki banyak
spesies dari filum lainnya dalam Kingdom Animalia. Banyak dari spesies
Arthropoda yang sangat berguna bagi kehidupan manusia seperti membantu
dalam proses penyerbukan, menghasilkan produk yang memiliki daya jual baik
dari spesiesnya atau produk yang dihasilkan seperti pelet pakan ikan dan sutera.
Sebaliknya diketahui beberapa spesies bersifat merugikan, seperti menempel pada
hewan lain (ektoparasit atau hama).
Berdasarkan pernyataan di atas, pentingnya untuk mendapatkan informasi
terbaru mengenai kekayaan alam yang terdapat di tempat praktikum lapangan,
khususnya dengan melakukan inventarisasi dan identifikasi terhadap Filum
Arthropoda serta mengukur faktor lingkungan dalam laporan praktikum yang
berjudul “Inventarisasi Filum Arthropoda Di Kelurahan Sedau Kecamatan
Singkawang Selatan Kalimantan Barat”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan kondisi topografi yang ada di Pantai Batu Burung yang
menghadap langsung ke Laut Natuna serta di bawah kaki Bukit Sedau ini perlu
adanya pembahasan lanjutan mengenai keanekaragam Filum Arthropoda dengan
melakukan identifikasi melalui ciri-ciri umum Filum Arthropoda serta melakukan
inventarisasi terhadap spesies Filum Arthropoda.

1.3 Tujuan
Tujuan dari dilaksanakannya praktikum lapangan di Pantai Batu Burung
Kelurahan Sedau memahami keanekaragam Filum Arthropoda dengan memahami
klasifikasi melalui ciri-ciri umum Filum Arthropoda.

1.4 Manfaat
Manfaat dari dilaksanakannya praktikum lapangan mengetahui
keanekaragam Filum Arthropoda dengan mengetahui klasifikasi berdasarkan ciri-
ciri umum Filum Arthropoda serta mengetahui metode tepat untuk inventarisasi
spesies Filum Arthropoda.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi Filum Arthropoda


Secara terminologi Arthropoda berasal dari Bahasa Yunani (arthro =
sendi atau ruas; poda = kaki atau juluran) yang mencakup serangga, laba-laba,
udang, kepiting, lipan, dan hewan sejenis lainnya. Nama lain dari Filum
Arthropoda disebutkan juga sebagai hewan berbuku-buku. Arthropoda merupakan
filum terbesar dalam Kingdom Animalia yang diperkirakan memiliki 713.500
jenis Arthropoda, dengan jumlah yang diperkirakan 80% dari jenisnya sudah
teridentifikasi. Filum Arthropoda dapat menghuni segala jenis habitat yang ada,
baik di terestrial maupun akuatik.
Hewan Arthropoda memiliki ciri-ciri tubuh yang beruas, bentuk tubuh
yang bilateral simetris, dan dibungkus oleh zat kitin yang menjadi rangka luar.
Beberapa bagian tubuh biasanya yang tidak berkitin sehingga ruas-ruas tersebut
mudah digerakkan, sistem saraf berupa sistem saraf tangga tali, coelom pada
hewan dewasa berukuran kecil berupa rongga yang berisi darah yang disebut
haemocoel (Jumar, 2008). Setiap Arthropoda memiliki karakter berbeda yang
dapat menjadi kunci determinasi dalam penentuan suatu jenis tertentu dalam
kelompok-kelompok tersendiri.
Menurut Desy (2012), klasifikasi Arthropoda terdiri atas kelas Crustacea,
contoh: udang; kelas Onychophora, contoh : preparatus; kelas Chilopoda, contoh :
kelabang; kelas Diplopoda, contoh : kaki seribu; kelas Insecta, contoh : belalang;
kelas Arachnoidae, contoh : laba-laba; kelas Pauropoda, contoh : pauropus, dan
kelas Symphyla, contoh : scutigerella. Secara umum Filum Arthropoda terbagi
atas 4 kelas, yaitu :
2.1.1 Kelas Crustacea
Crustacea (dalam bahasa latinnya, crusta = kulit) artinya memiliki kulit
yang keras seperti udang, lobster dan kepiting. Umumnya hewan Crustacea
merupakan hewan akuatik, meskipun jenis-jenis tertentu yang hidup di terestrial.
Kelas Crustacea memiliki anggota badan yang sangat terspesialisasi. Contohnya
udang galah dan udang karang yang memiliki 19 pasang anggota badan.
Kelompok Crustacea satu-satunya Arthropoda yang memiliki dua pasang antena.
Tiga pasang atau lebih anggota badan dimodifikasi sebagai bagian dari mulut
termasuk mandibula yang keras, kaki untuk berjalan ditemukan pada toraks.
Berbeda dengan kelompok Insecta, kelompok Crustacea memiliki anggota tubuh
pada abdomen, anggota tubuh yang hilang dapat diregenerasi kembali (Campbell,
2003).
Crustacea dapat melakukan pertukaran gas melewati daerah tipis pada
kutikula, tetapi spesies dengan ukuran lebih besar memiliki insang. Sistem
sirkulasi darah terbuka dengan sebuah jantung yang memompa hemolimfa melalui
arteri ke dalam sinus yang bermuara ke organ. Crustacea dapat mensekresikan
buangan yang bersifat nitrogen dengan cara difusi melalui daerah kutikula, tetapi
sepanjang kelenjar yang mengatur keseimbangan garam hemolimfa. Umumnya 10
jenis kelamin terpisah pada sebagian besar Crustacea. Pada kasus udang galah
dan udang karang (crayfish) pejantan menggunakan sepasang anggota badan yang
khusus untuk memindahkan sperma ke pori reproduksi betina selama kopulasi.
Sebagian besar Crustacea akuatik mengalami satu atau lebih tahapan larva yang
dapat berenang ().

An
A
Cp

Ab

T
Ch

SL
WL
Gambar 2.1 Udang Karang (A: Antenna, Ab: Abdomen, An: U Antennule, Ch:
Cheliped, Cp: Cephalothorax, SL: Swimming Leg, T: Telson, U:
Uropods, WL : Walking Leg) (Gracemetarini, 2003).
Secara umum kelompok Crustacea terbagi atas 3 ordo, yaitu ():
1. Isopoda
Hewan-hewan ini tergolong kelompok Crustacea yang besar (sekitar
10.000 spesies) sebagian merupakan spesies kecil yang hidup di laut dan
berlimpah di dasar laut. Isopoda dapat meliputi sebagai serangga pill yang tinggal
di darat atau caplak kayu yang umum terdapat pada sisi bawah kayu dan daun
yang basah.
2. Copepoda
Hewan ini merupakan salah satu kelompok yang paling banyak diantara
kelompok lainnya. Copepoda merupakan anggota penting komunitas plankton
laut dan air tawar yang memakan ganggang mikroskopik, protista dan bakteri, dan
menjadi makanan bergizi bagi kebanyakan ikan budidaya. Copepoda merupakan
jenis hewan mikroskopis yang sangat berlimpah.
3. Decapoda
Semua jenis udang seperti udang galah, udang karang, udang kepiting, dan
lain sebagainya yang relatif besar termasuk dalam kelompok ini. Eksoskeleton
atau kutikula mengeras oleh kalsium karbonat, bagian yang menutupi sisi dorsal
cephalothorax membentuk perisai yang disebut karapas (carapace). Sebagian
besar decapoda merupakan hewan laut akan tetapi untuk udang karang (crayfish)
hidup di dalam air tawar dan beberapa kepiting tropis hidup di darat.
2.1.2 Kelas Arachnoidea
Arachnoidea (dalam bahasa Yunani, arachno = laba-laba) disebut juga
kelompok laba-laba, meskipun anggotanya bukan hanya laba-laba. Kalajengking
salah satu contoh dari kelas ini yang jumlahnya mencapai 32 spesies. Ukuran
tubuh pada kelompok ini bervariasi dari 0,5 mm sampai 9 cm. Sebagian besar
hewan dalam kelompok ini merupakan hewan terestrial (darat) yang hidup secara
bebas maupun parasit yang hidup secara bebas yang bersifat karnivora. Tubuhnya
terdiri atas cephalothorax, abdomen, dan empat pasang kaki, tidak memiliki
mandibula.
Laba-laba tergolong dalam Filum Arthropoda dan kelas Arachnoidea serta
ordo Araneae (Miller & Sac, 2011). Jenis hewan ini merupakan kelompok
terbesar dan memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi dalam Filum
Arthropoda. Jumlah spesies laba-laba yang telah diketahui serta telah
diidentifikasi pada saat ini mencapai 43.678 spesies, yang memiliki 111 famili
dan 3600 genus (Anjali & Prakash, 2012). Menurut laporan dari American
Museum of Natural History (2016) setidaknya terdapat 114 famili, 3977 genus
dan 45.829 spesies laba-laba di seluruh dunia. Jumlah jenis laba-laba di seluruh
dunia dapat bertambah karena masih banyak yang belum diidentifikasi seluruhnya
yang dapat mencapai 170.000 spesies (Lalisan et al., 2015).
Arachnoidea ini dapat dibedakan menjadi tiga ordo yaitu ():
1. Scorpionida
Hewan ini memiliki struktur tubuh yang terbagi atas prosoma dengan
opistoma. Hewan ini memiliki alat penyengat beracun pada segmen abdomen
terakhir yang disebut dengan telson. Selain itu hewan ini memiliki alat
perlindungan diri yang disebut dengan pedipalpus. Contoh dari hewan ini yaitu
kalajengking (Uroctonus mordax) dan ketunggeng.
2. Arachnida
Hewan ini memiliki abdomen yang tidak bersegmen dan memiliki kelenjar
beracun pada kalisera (alat penyengat). Setiap jenis hewan ini memiliki jaring
(web) yang berbeda-beda. Contoh hewan ini adalah laba-laba serigala (Pardosa
amenata) dan laba-laba kemlandingan (Nephila maculata).
3. Arcarina
Hewan yang termasuk dalam kelompok hewan ini adalah tungau. Anggota
pada kelompok ini memiliki tubuh berbentuk bulat telur atau bundar. Banyak dari
spesies tungau merusak tumbuh-tumbuhan atau menjadi parasit pada binatang dan
manusia. Contoh kelompok ini adalah tungau kudis (Sarcoptes scabei) dan tungau
unggas (Argus sp.).
2.1.3 Kelas Insecta
Insecta (dalam bahasa latin, insecti = serangga) yang memiliki ciri khusus
adalah kakinya yang berjumlah enam tungkai (3 pasang), karena itu kelompok
hewan ini sering pula disebut sebagai hexapoda. Tubuh Insecta terdiri atas caput,
toraks, dan abdomen. Caput pada hewan ini memiliki antena, mata, dan mulut
dengan bagian-bagiannya. Toraks terdiri atas tiga pasang kaki yang beruas dan
sepasang sayap untuk kelompok Insecta yang bersayap. Abdomen terdiri atas
bagian terminal dan pangkal, misalnya genital yang terletak pada terminal
abdomen,.
Sebagian besar Insecta hidup di dalam air tawar, tanah, lumpur, parasit
pada tanaman atau hewan lainnya. Makanan Insecta bermacam-macam, misalnya
pada bagian tanaman seperti akar, batang, daun, buah-buahan, biji dan butir
tepung sari dari tanaman. Hewan ini merupakan satu-satunya kelompok
avertebrata yang dapat terbang. Terdapat Insecta yang hidup bebas dan ada yang
bersifat sebagai parasit-hama, misalnya kupu-kupu, nyamuk, lalat, semut,
jangkrik, belalang, dan lebah. Beberapa Insecta merupakan pemakan tumbuh-
tumbuhan (herbivora) dengan cara mengunyah dan dapat mengakibatkan daun-
daun tanaman hanya tinggal tulang daun, membuat banyak lubang, dan memakan
seluruh pinggir daun. Serangga lain memakan tumbuhan dengan cara menghisap
cairan tumbuhan yang menyebabkan daun bertotol atau menjadi berwarna coklat
atau mengering dan menjadi layu.
Apabila dibandingkan dengan beberapa kelas dari Filum Arthropoda
lainnya, Insecta paling berhasil dalam mengatasi masalah hidup di daratan. Sifat
eksoskeleton yang sangat kedap air yang mencegah dehidrasi yang dapat
mematikan pada waktu keadaan lingkungan di sekitarnya kering. Pertukaran gas
dapat dilakukan dengan suatu sistem pipa trakea yang menembus ke setiap bagian
tubuh. Anggota tubuh yang bersegmen, bercakar berpasangan tidak hanya
digunakan untuk lokomisi tetapi juga digunakan untuk pencernaan makanan,
mandibula-maksila dan labia diciptakan dalam cara yang sangat beraneka ragam
untuk membentuk bagian-bagian mulut yang berfungsi menghisap, menggigit,
mengunyah dan memarut. Insecta secara garis besar dibagi ke dalam dua sub
kelas yaitu sub kelas Apterygota (tak bersayap) dan Pterygota (bersayap).
2.1.4 Kelas Myriapoda
Sistem klasifikasi terdapat perbedaan antara satu sistem klasifikasi dengan
sistem klasifikasi yang lainnya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan pendapat
antara ilmuan di dunia. Sistem klasifikasi tertentu, kelas Myriapoda terdiri atas
ordo Diplopoda dan Chilopoda. Perbedaan tersebut terletak pada kepala, segmen,
dan bagian posterior serta jumlah segmen ().
1. Diplopoda
Hewan memiliki bentuk tubuh yang bulat memanjang dengan jumlah
segmen yang banyak, tubuhnya ditutupi lapisan yang mengandung garam kalsium
dan warna tubuhnya mengkilap. Caput hewan ini memiliki 2 mata tunggal,
sepasang antena pendek dan sepasang mandibula. Toraksnya pendek terdiri atas
empat segmen dimana setiap segmen memiliki sepasang kaki kecuali segmen
pertama. Hewan pada kelompok ini memiliki abdomen panjang tersusun atas 25
hingga lebih dari 100 segmen tergantung dari spesiesnya. Setiap segmen memiliki
2 pasang spirakel, ostia (lubang), ganglion saraf, dan 2 pasang kaki yang terdiri
atas 7 ruas ().
Hewan ordo Diplopoda hidup di tempat gelap yang lembab, misalnya
dibawah batu atau kayu yang terlindungi dari matahari. Antena yang digunakan
untuk menunjukkan arah gerak, kakinya bergerak seperti gelombang sehingga
pergerakannya sangat lambat. Makanan dari ordo Diplopoda adalah sisa
tumbuhan atau hewan yang telah mengalami pembusukan. Contoh ordo ini adalah
kaki seribu (Julus terestis) ().
2. Chilopoda
Hewan ini memiliki bentuk tubuh pipih dorsoventral, terdiri atas 15-173
ruas, yang masing-masing ruas terdapat sepasang kaki, kecuali 2 ruas terakhir dan
1 ruas pertama yaitu kepala. Ruas terakhir terdapat alat penjepit yang beracun dan
berguna untuk membunuh hewan lain. Antena panjang dengan 12 ruas. Pada
bagian kepala terdapat sepasang mata yang mengalami modifikasi menjadi cakra
beracun.
Ordo Chilopoda biasa hidup di tempat yang lembab, di bawah timbunan
sampah atau daun-daun yang membusuk. Menurut Oktaviani (2015) chilopoda
berkembang biak secara kawin dan pembuahannya internal. Alat respirasinya
adalah trakea yang bercabang-cabang ke seluruh bagian tubuhnya. Contoh hewan
ini adalah lipan. Lipan dapat menaklukkan mangsanya dengan racun yang berasal
dari sepasang kaki pertamanya yang disebut cakar racun. Pada setiap segmen
terdapat sepasang kaki.

2.2 Karakter Morfologi Filum Arthropoda


Organisme yang tergolong Filum Arthropoda memiliki kaki yang berbuku-
buku. Karakter utama inilah yang membedakan hewan Filum Arthropoda dari
filum lainnya. Hewan ini memiliki jumlah spesies yang saat ini telah diketahui
sekitar 900.000 spesies (Desy, 2010).
Karakteristik utamanya ialah memiliki tubuh beruas-ruas dengan sepasang
kaki disetiap ruas tubuhnya, ruas-ruas tersebut biasanya dikelompokkan menjadi
dua atau tiga daerah yang agak jelas (Gracemetarini, 2003). Bentuk tubuh
Arthropoda adalah simetri bilateral dan memiliki rangka luar berkitin yang
mengelupas dan diperbaharui secara periodik. Arthropoda memiliki sistem
peredaran darah terbuka dengan pembuluh darah berbentuk tabung yang terletak
di sebelah dorsal saluran pencernaan dengan lubang-lubang lateral di daerah
abdomen. Sistem eksresi hewan ini berupa pembuluh Malphigi dimana bahan-
bahan yang diekskresikan, dikeluarkan dari tubuh melalui anus. Sistem sarafnya
terdiri atas ganglion anterior atau otak, sepasang penghubung dan saraf-saraf
berganglion yang saling berpasangan (Boror et al, 1996).
Referensi lain lebih rinci dijelaskan bahwa hewan yang termasuk dalam
Filum Arthropoda memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Jumar, 2000):
a) Tubuh dan kaki bersegmen,
b) Eksoskeleton (dinding tubuh) berkitin dan bersegmen,
c) Alat mulut beruas dan dapat beradaptasi untuk makan,
d) Bernafas dengan permukaan tubuh, insang dan trakea,
e) Alat pencernaan makanan berbentuk tabung, terletak di sepanjang tubuh,
f) Alat pembuangan melalui pipa panjang pada rongga tubuh.

2.3 Sebaran dan Habitat


Cara hidup Arthropoda sangat beragam, ada yang hidup bebas, parasit,
komensal, atau simbiotik. Terdapat beberapa jenis Arthropoda yang bersifat
kosmopolitan yang artinya hidup di seluruh dunia kecuali Benua Antartika. Pada
lingkungan banyak permukiman, sering dijumpai kelompok hewan ini, misalnya
nyamuk, lalat, semut, kupu-kupu, capung, belalang, dan lebah. Habitat
penyebaran Arthropoda sangat luas, ada yang di laut, periran tawar, gurun pasir,
dan padang rumput.
Kelas Crustacea habitatnya di danau, air tawar, kolam dan sungai.
Umumnya hewan Crustacea merupakan hewan akuatik, meskipun ada yang hidup di
daratan. Anggota badan yang banyak pada Crustacea sangat terspesialisasi (Campbell
et al, 2003). Ciri dari kelas Myriapoda yaitu habitatnya di darat dan bernapas
dengan trakea. Makanan pokoknya berupa sayuran yang membusuk.
Pada kelas Arachnoidea untuk kelompok tungau hidup menumpang pada
makhluk hidup lainnya yang bersifat ektoparasit. Kelompok tungau ini hama bagi
makhluk hidup lainnya. Kelompok lainnya seperti laba-laba dapat hidup pada
daerah serasah daun-daunan serta dengan ketinggian maksimal 25 m dari tanah.
Kelas Insecta merupakan jenis hewan yang sangat beragam dan paling banyak
diantara yang lainnya. Insecta sendiri dapat bersifat parasit, hama, bahkan
menguntungkan. Berdasarkan cara hidupnya kelompok serangga dapat dibagi atas
serangga air dan serangga tanah.

2.4 Peranan Filum Arthropoda


Arthropoda merupakan komponen terbesar yang membentuk suatu
komunitas arboreal. Perkembangan dan distribusi dari arthropoda dipengaruhi
oleh berbagai faktor, antara lain adalah nutrisi atau makanan. Makanan dapat
berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap fertilitas,
perkembangan rata-rata, aktivitas serta kelimpahannya (Mochamad, 2009).
Menurut preferensi makanannya, Arthropoda secara umum dapat dibagi menjadi
3 kategoti, yaitu (Boror et al, 1996):
1. Arthropoda Fitofagus
Arthropoda fitofagus (herbivora) merupakan Arthropoda yang
mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan dengan cara menghisap, mengunyah maupun
melubangi bagian-bagian tumbuhan seperti daun, batang, atau akar. Sering kali
kelompok ini mengkonsumsi tanaman budidaya yang dipelihara oleh manusia
menjadi hama yang cukup mengganggu.
2. Arthropoda Zoofagus
Arthropoda zoofagus (karnivora) merupakan Arthropoda yang
memperoleh sumber-sumber energinya dengan cara mengkonsumsi makhluk
hidup lainnya. Hewan yang dimangsa biasanya Arthropoda lainnya, walaupun
tidak menutup kemungkinan memangsa hewan jenis lainnya. Arthropoda yang
memangsa Arthropoda lainnya disebut Arthropoda entomofagus. Biasanya
Arthropoda entomofagus memberikan nilai ekonomis untuk manusia karena dapat
menekan populasi hama yang merugikan. Arthropoda fitofagus dan zoofagus
dapat dimasukkan dalam satu kelompok yaitu biofagus (Gracematerani, 2003).
3. Arthropoda Saprofagus
Arthropoda saprofagus merupakan Arthropoda yang memperoleh
makanannya dengan mengkonsumsi bagian-bagian dari hewan dan tumbuhan
yang telah mati atau membusuk, misalnya bangkai atau serasah. Arthropoda
saprofagus dapat dibagi lagi menjadi beberapa kategori, yaitu humusofagus
(pemakan humus), silofagus dan karyofagus (pemakan bagian tumbuhan dan
hewan yang telah mati).
BAB III
METODE KERJA

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum lapangan Sistematika Avertebrata tentang Arthropoda
dilaksanakan pada hari Sabtu, 23 Maret 2019 berlokasi di Kelurahan Sedau
khususnya Pantai Batu Burung, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang
Selatan. Waktu pelaksanaan praktikum lapangan dimulai dari pukul 09.00 – 15.30
WIB. Pengambilan sampel Arthropoda dimulai pada pukul 09.30 – 14.30 WIB di
Pantai Batu Burung. Kemudian selanjutnya dilakukan identifikasi di
Laboratorium Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Tanjungpura Pontianak.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah ember 20 kg, jaring ikan,
jaring serangga, kamera, keping secchi, penggaris besi, penjepit, pH Universal,
plastik packing, refraktometer, sarung tangan, termohigrometer, termometer raksa,
dan toples besar/kecil.
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah alkohol 70% dan
formalin.

3.3 Deskripsi Lokasi


Kota Singkawang merupakan salah satu kota di Provinsi Kalimantan
Barat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sambas dan Kabupaten
Bengkayang. Secara geografis terletak pada 108 051’47,6’’BT hingga 10 90
10’19’’BT dan 00044’55,85’’LU hingga 101’21’51’’ LU. Lokasi yang digunakan
dalam pengambilan sampel Arthropoda memiliki titik koordinat N 00°51’42.83”
dan E 108°54’18.40” terletak di Kelurahan Sedau Kecamatan Singkawang
Selatan. Kondisi perbukitan Kelurahan Sedau yang masih lebat dengan pepohonan
serta ekosistem estuari yang tergolong dalam zona intertidial dipenuhi dengan
batuan granit serta terdapat pulau terkecil di dunia yaitu Pulau Simping di sebelah
barat yang menghadap langsung ke Laut Natuna dan Selat Karimata membuat
masih banyak jenis Arthropoda yang berada di lokasi ini.

Gambar 2.2 Lokasi Pengambilan Sampel ( : Titik Lokasi) (Google Earth, 2019).

3.4 Cara Kerja


3.4.1 Pengambilan Sampel Akuatik dan Terestrial
Pengambilan sampel Arthropoda dilakukan dengan sampling bebas di area
perairan (akuatik) dan di daerah daratan (terestrial). Setelah sampel diambil dari
habitatnya, terlebih dahulu dilakukan dokumentasi. Arthropoda yang sudah
didokumentasikan kemudian direndam dengan alkohol konsentrasi 70% atau
formalin (lebih disarankan) dan dilakukan pengamatan secara morfologi serta
dilakukan identifikasi.
3.4.2 Identifikasi sampel
Arthropoda yang telah direndam kemudian dilakukan identifikasi dengan
menggunakan halaman web resmi www.gbif.org. Selain itu, identifikasi juga
dilakukan dengan menggunakan sumber lain seperti Ebook dari Carpenter &
Niem (1998) “The Living Marine Resources of the Western Central Pacific
Volume 2”, Jurnal Sains (Zootaxa), dan Jurnal Hasil Penelitian (Protobiont,
Biodiversitas, dan lain lain). Salah satu karakter yang dapat digunakan dalam
melakukan identifikasi bentuk tubuh dari Arthropoda dimulai jumlah segmen,
jumlah tungkai, warna tubuh, bentuk carapacea, dan lain-lain.
3.4.3 Pengukuran faktor lingkungan
1. Pengukuran Suhu Air dan Udara
Pengukuran sudu udara dapat dilakukan menggunakan termometer raksa.
Termometer digantung di tempat terbuka dengan tidak menyentuh permukaan
tanah atau air laut, kemudian dilihat arah pergerakan cairan raksa di dekat skala
dejarat Celcius yang akan menunjukkan skala suhu udara tersebut. Pengukuran
suhu air dapat dilakukan dengan menenggelamkan bagian ujung dari termometer
dan dibiarkan selama 5 menit sampai termometer menunjukkan nilai stabil.
2. Pengukuran Salinitas
Pengukuran salinitas dapat dilakukan dengan menggunakan refraktometer.
Sampel air laut diteteskan sedikit pada permukaan biru (ujung) pada
refraktometer, kemudian diteropong menuju kearah cahaya. Kadar salinitas air
laut ditunjukkan oleh batas tertinggi warna biru muda yang terdapat di skala
metrik, nilai salinitas kemudian dicatat.
3. Pengukuran Kecerahan Air
Pengukuran kecerahan air dapat dilakukan menggunakan keping secchi.
Keping secchi diturunkan secara perlahan-lahan hingga batas pertama kali tidak
tampak, kemudian tali keping ditandai dengan kaet gelang dan diukur panjang tali
serta dicatat sebagai D1. Keping secchi diturunkan lebih dalam lagi hingga bagian
kepingan tidak terlihat, kemudian ditarik secara perlahan-lahan hingga pertama
kali tampak yang ditandai dengan tali dan karet gelang dan diukur panjang tali
serta dicatat sebagai D2. Kemudian dilakukan perhitungan untuk mencari nilai
rata-rata, rata-rata hasil pengukuran tersebut merupakan nilai kecerahan air laut
lokasi tersebut.
4. Pengukuran Kelembaban Udara
Pengukuran parameter udara berupa kelembaban udara dapat dilakukan
dengan menggunakan termohigrometer. Termohigrometer diletakkan secara
menggantung pada tempat terbuka yang ingin diukur kelembabannya. Kemudian
ditunggu selama 3–5 menit. Setelah itu, diamati skala yang terdapat pada
termohigrometer, skala pada bagian atas menunjukkan nilai kelembaban udara di
lokasi tersebut.
5. Pengukuran pH Air
Pengukuran pH dapat dilakukan dengan menggunakan pH Universal.
Bagian ujung bawah yang berwarna dari pH Universal dimasukkan ke dalam air
laut, lalu ditunggu beberapa detik hingga terjadi perubahan warna. Setelah
perubahan warna terlihat, selanjutnya warna yang tampak tersebut dicocokan
dengan warna tingkat keasaman yang berada pada kemasan pH Universal.
6. Pengukuran Kedalaman Air Laut
Pengukuran kedalaman air dilakukan dengan menggunakan keping secchi.
Keping secchi diturunkan secara perlahan-lahan hingga menyentuh dasar air,
kemudian diukur panjang tali yang tercelup di dalam air. Hasil yang didapatkan
itu merupakan nilai kedalaman air laut.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Hasil yang diperoleh dari praktikum lapangan Sistematika Avertebrata
acara Arthropoda mendapatkan 21 individu yang meliputi kelas Arachnida
(Argiope sp., Diplocentrus sp., Nephila sp., Odontorus sp., dan Pandinus
imperator), kelas Chilopoda (Tygarrup javanicus), kelas Diplopoda (Glomeris
sp., Julus sp., dan Polydesmus sp.), dan kelas Malacostraca (Alpheus sp., Bellia
sp., Charybdis anisodon, Charybdis annulata, Episesarma sp., Etisus dentatus,
Etisus laevimanus, Etisus sp., Fenneropenaeus merguiensis, Ocypode
cordimanus, Thalamita spinimana, dan Uca sp.) yang terdapat pada tabel hasil.
Tabel 4.1 Jenis-Jenis Arthropoda
Karakter Morfologi
Kelas Spesies Jumlah Bentuk Ukuran
Warna
Kaki Abdomen Cheliped

Arachnida Argiope sp. 4 pasang bulat - coklat-hitam


Diplocentrus sp. 4 pasang pendek - coklat-putih
Nephila sp. 4 pasang tabung - kuning-hitam
Lychas sp. 4 pasang panjang - kuning-hitam
Pandinus imperator 4 pasang panjang - hitam
Chilopoda Tygarrup javanicus 1 pasang bersegmen - merah-coklat
persegmen
Diplopoda Glomeris sp. 2 pasang bersegmen - hitam
persegmen
Julus sp. 2 pasang bersegmen - merah muda
persegmen
Polydesmus sp. 2 pasang bersegmen - hitam
persegmen
Malacostraca Alpheus sp. 5 pasang panjang besar merah-jingga
sebelah
Bellia sp. 5 pasang longitudinal besar hitam pudar
oval
Charybdis anisodon 5 pasang bulat kecil abu-abu
Charybdis annulata 5 pasang bulat kecil krim
Episesarma sp. 5 pasang kotak besar hitam-ungu
Etisus dentatus 5 pasang transversal besar jingga-hitam
oval
Etisus laevimanus 5 pasang transversal besar coklat
oval
Etisus sp. 5 pasang transversal besar merah muda
oval
Fenneropenaeus 5 pasang panjang kecil putih
merguiensis
Ocypode cordimanus 5 pasang transversal kecil putih
kotak
Thalamita spinimana 5 pasang hexagonal besar merah-jingga
Uca sp. 5 pasang transversal besar hitam-jingga
kotak sebelah
Jenis-jenis Arthropoda untuk kelas Arachnida didapatkan 5 spesies yang
dapat dilihat pada Gambar 4.1, kelas Chilopoda hanya mendapatkan 1 spesies
yang dilihat pada Gambar 4.2, kelas Diplopoda didapatkan 3 spesies yang berbeda
dapat dilihat pada Gambar 4.3, dan kelas Malacostraca yang paling banyak
ditemukan spesies, mencapai 12 spesies yang dapat dilihat pada Gambar 4.4.

L Pd T
L T L
L Ab K L T
Cl Ab K
K
Ab
Cl Ab
Ab
A B C D Pd E
Pd
Gambar 4.1 Kelas Arachnida; A. Argiope sp., B. Diplocentrus sp., C. Nephila sp.,
D. Lychas sp., E. Pandinus imperator (Ab: Abdomen, Cl: Chelicera,
L: Leg, Pd: Pedipalpus, dan T: Telson).

L
Sg

A
b
\
A

Gambar 4.2 Kelas Chilopoda; A. Tygarrup javanicus (A: Antenna, L: Leg, dan
Sg: Segmen).
L
Sg
Sg L A

Sg

A A B C

Gambar 4.3 Kelas Diplopoda; A. Glomeris sp., B. Polydesmus sp., C. Julus sp.
(A: Antenna, L: Leg, dan Sg: Segmen).
A Ch
Mp WL Ch Ch
U A Cp A
Cp WL
WL

R SL SL Cp
WL
Ab
A Ab B Ab C Ab D

Ch Ch Ch Cp Ch
Cp
WL Cp A A Ab
Cp WL WL
WL

Ab E Ab F Ab G H

Cp A Ch Ch
Mp U WL
Cp Cp
WL

Ab Ab
R WL
WL Ab SL
I J K Ab L
Gambar 4.4 Kelas Malacostraca; A. Alpheus sp., B. Bellia sp., C. Charybdis
anisodon, D. Charybdis annulata, E. Episesarma sp., F. Etisus
dentatus, G. Etisus laevimanus, H. Etisus sp., I. Fenneropenaeus
merguiensis, J. Ocypode cordimanus, K. Thalamita spinimana, L.
Uca sp. (A: Antenna, Ab: Abdomen, Ch: Cheliped, Cp: Carapacea,
Mp: Maxiliphed, R: Rostrum, SL: Swimming Leg, U: Uropods, dan
WL: Walking Leg).

Kondisi geografi yang ada di Kelurahan Sedau mempengaruhi


keanekaragaman jenis Arthropoda, hal ini dibuktikan dengan didapatkan
setidaknya 4 kelas dari Filum Arthropoda yang ada. Baik itu meliputi jenis hewan
akuatik, semi akuatik, dan terestrial. Kondisi lingkungan yang sesuai, membuat
jenis hewan ini dapat hidup dan berkembang biak dengan baik, berikut ini
parameter lingkungan untuk lokasi pengambilan spesies yang disajikan dalam
bentuk tabel.
Tabel 4.2 Pengukuran Parameter Lingkungan
Parameter Lingkungan Hasil Pengukuran

Kelembapan 52%
pH Air 7
Salinitas 25,4%
Suhu Air 32˚C
Suhu Udara 28˚C

4.2 Pembahasan
4.2.1 Kelas Arachnida
Ciri-ciri utama Arachnida adalah memiliki chelicera pada cephalothorax
(atau prosoma) yang seperti gunting atau catut. Dua bagian utama dari chelicera
ini adalah landasan tebal (tempat otot dan kelenjar bisa) dan taring yang dapat
digerakkan. Umumnya, taring berada pada lekukan dasar landasan dengan
mekanisme seperti pada pisau lipat. Chelicera ini digunakan untuk menyuntikkan
racun ke dalam tubuh mangsa dan dapat juga untuk memutuskan benang “jaring”
laba-laba (Foelix, 2011). Menurut Raven et al (2011), organ pelengkap kedua
pada prosoma adalah sepasang pedipalpus. Pedipalpus ini mirip dengan kaki,
namun memiliki segmen yang lebih sedikit dan tidak digunakan untuk bergerak.
Pedipalpus berfungsi untuk menangkap (memegang dan memanipulasi) mangsa,
sensor, pertahanan diri, maupun reproduksi. Pada kalajengking, pedipalpus
berbentuk seperti capit dan ukurannya relatif besar.

1. Argiope sp.
Hewan ini memiliki panjang tubuh mencapai 4 cm dengan warna dasar
hitam, pada bagian cephalothorax berwarna kehijauan dengan bentuk abdomen
yang bulat serta permukaan yang kasar (seperti terdiri atas gumpalan-gumpalan
kecil) yang berwarna coklat tua. Memiliki klisera yang berwarna kuning dengan
mata berjumlah 8 serta kaki yang panjang dan berbulu dengan corak hitam
kekuningan. Hewan ini memakan serangga yang terjaring dijaringnya seperti lalat,
capung dan serangga lain yang berukuran kecil ().
Laba-laba dari genus Argiope merupakan laba-laba dengan jenis pemburu
dan pembuat jaring. Selain itu laba-laba genus ini memiliki ciri khas yaitu ketika
berdiam pada jaringnya, kaki laba-laba ini cenderung berpasang-pasangan
sehingga hanya terlihat mempunyai 4 kaki, laba-laba ini berjalan lambat pada
tanah karena laba-laba ini termasuk laba-laba arboreal (hidup di pohon) bukan
terrestrial (hidup di tanah). Laba-laba ini juga biasa membuat pola tebal pada
jaringnya yang menurut para ahli mempunyai fungsi untuk memantulkan sinar
ultraviolet matahari guna untuk memancing serangga mendekat karena tertarik
dengan cahaya yang dipantulkan oleh jaring laba-laba. Pendapat lain mengatakan
bahwa pola jaring tebal tersebut berguna untuk memberitahu burung untuk tidak
terbang melewati jaring tersebut.
Laba-laba ini memangsa serangga yang terjebak di jaringnya dengan cara
melilit mangsanya dengan jaringnya dan menyuntikkan racun laba-laba yang
berguna untuk melumpuhkan mangsanya dan menghancurkan isi dalam tubuh
serangga tersebut, lalu laba-laba ini akan menyedot habis cairan tubuh
mangsanya. Racun laba-laba ini tidak berbahaya bagi manusia, cara kerja racun
laba-laba ini adalah melemahkan (efek primer) kemudian mematikan efek
sekunder (Foelix, 1996).

2. Diplocentrus sp.
Keluarga Diplocentridae dan genus Diplocentrus dapat dengan mudah
dikenali oleh adanya tuberkulum subakular yang kuat serta tumpul dan telotarsi
pada semua kaki yang dipersenjatai dengan perut setae spiniform yang kuat.
Ukuran panjang tubuh ketika dewasa jenis kalajengking ini dapat mencapai 48
hingga 60 mm dengan warna jingga kecoklatan hingga coklat muda. Bentuk
cephalothorax pada bagian anterior berbentuk “V” dengan bintil-bintil halus pada
pedipalpus.
Ukuran pedipalpus yang mengarah ke femur (pangkal) lebih lebar ke
dalam dengan permukaan dorsal yang sedikit cembung. Struktur pedipalpus yang
lebih besar dari ukuran tubuhnya membantu dalam bertahan diri dari serangan
mangsa serta membantu mencari makan. Kalajengking ini memakan serangga-
serangga kecil seperti capung, kumbang, dan arthropoda kecil lainnya, bahkan
dapat ditemukan sedang memangsa seekor cicak.
Kalajengking ini berasal dari dataran Meksiko dengan gurun yang panas,
suhu udara yang tergolong tinggi (ekstrim) membuat kalajengking ini harus
beradaptasi dengan lingkungannya. Kalajengking ini dapat ditemukan di seluruh
Indonesia kecuali Papua Barat dan Papua yang memiliki karakteristik hutan hujan
dengan kelembaban yang rendah. Kalajengking ini hidup pada serasah pohon,
sering ditemukan pada pelepah kelapa yang sangat lembab, membantu dalam
proses reproduksi serta untuk meletakkan telurnya.

3. Nephila sp.
Laba-laba jenis ini berwarna hitam dengan cephalothorax berwarna
keemasan pada bagian dorsal dan berwarna hitam di bagian ventral. Setiap sendi
dari laba-laba ini berwarna kuning, abdomen berwarna hitam dan bercorak
kuning. Laba-laba ini biasa membuat jaring di pohon-pohon dengan diameter
jaring yang cukup besar, jaring laba-laba ini berwarna kuning yang sangat lengket
dan sangat kuat. Pernah ditemukan burung yang tersangkut pada jaring laba-laba
ini. Laba-laba jantan ini memiliki ukuran yang lebih kecil dari laba-laba betina
dan pada ujung palpusnya berukuran lebih besar yang berfungsi untuk meletakkan
sperma yang digunakan untuk membuahi betina.
Laba-laba ini berukuran besar yaitu 6 cm dengan rentang kaki rentang
kaki 8-10 cm, mata berjumlah 8 yang memiliki warna bervariasi dari kemerahan
ke kehijauan berwarna kuning dengan warna putih khas pada cephalothorax dan
awal perut. Habitat utama laba-laba ini di pohon dengan kondisi ruangan yang
terang, sehingga termasuk laba-laba aboreal. Makanannya yaitu capung, kupu-
kupu, kumbang, dan serangga-serangga kecil yang terjebak disarangnya
(karnivora).
Nama golder orb bukan mendeskripsikan warna tubuhnya melainkan
warna jaringnya. Jaring yang kuat dan berwarna emas ini pernah dijadikan
sebagai bahan baku jubah pada tahun 2012, namun tidak untuk diperjualbelikan
melainkan di pajang di museum London. Laba-laba ini hampir dapat ditemukan di
seluruh dunia, distribusi populasi yang besar mencakup 5 benua di dunia. Menurut
Rachmawati (2013) habitat laba-laba jenis ini secara umum dapat ditemukan di
hutan sekunder dan hutan bakau yang memiliki struktur percabangan yang banyak
dan besar.

4. Lychas sp.
Jenis kalajengking lainnya yang dapat ditemukan di Kelurahan Sedau
merupakan jenis kalajengking dari famili Buthidae, famili ini yang paling banyak
spesies dari famili lainnya yang ada dalam keluarga kalajengking. Famili
Buthidae diberitahukan juga salah satu famili yang memiliki sengatan yang
berbahaya dan mematikan manusia. Spesies yang ditemukan pada praktikum
lapangan dari genus Lychas, yaitu Lychas sp..
Ciri-ciri Lychas sp. memiliki warna dasar kuning kecoklatan dengan pola
kehitaman pada tubuh, kaki, dan segmen terakhir metasoma (Vacon dan Abe,
1988). Lychas sp. jantan dibedakan dengan betina, salah satu perbedaannya
terletak pada jari pedipalpus proximal yang melengkung sehingga tepi jari
pedipalpus tidak saling bertemu (terdapat rongga) (Kovarik, 1997). Lychas sp.
jantan (yang telah mencapai kedewasaan) mengalami peningkataan mobilitas
selama musim kawin (untuk mencari betina) sehingga rentan terhadap predator,
selain itu seringkali terjadi kanibalisme dilakukan betina terhadap jantan. Predini
(2006) menyatakan tingkat kematian umumnya tinggi pada kalajengking jantan
karena peningkatan mobilitas selama musim kawin dan kanibalisme oleh betina.
Habitat Lychas sp. dapat ditemukan pada serasah daun, kayu lapuk, di
dalam tanah, dan di bawah batu. Polis (1990) menyatakan kalajengking tidak
ditemukan secara acak di dalam habitat, namun kalajengking umumnya
ditemukan dalam spesifik mikrohabitat. Struktur tanah yang relatif lembut dan
mudah remah dimanfaatkan kalajengking jenis ini untuk menyusup ke dalam
tanah, atau menggali tanah tersebut dan mengubur tubuh dengan tanah, sehingga
terbentuk gundukan yang menandakan sarang untuk meletakkan telurnya. Lychas
sp. juga memanfaatkan celah-celah tanah dan liang serangga (misalnya semut)
lain untuk masuk ke dalam tanah. Terkadang kalajengking dapat ditemukan di
dekat sarang semut dan rayap (McReynolds, 2004).

5. Pandinus imperator
Kalajengking Kaisar (Pandinus imperator) jenis kalajengking yang
mempunyai ukuran tubuh paling besar diantara yang lain. Tubuh kalajengking ini
terbagi menjadi dua bagian yaitu cephalothorax dan abdomen. Eksoskeleton dari
kalajengking ini memiliki warna biru gelap, coklat kemerahan, bahkan hitam.
Struktur pedipalpus yang keras dengan bintil-bintil serta ukuran yang membesar
pada ujungnya, terdapat beberapa spesies dari kalajengking ini berwarna
kemerahan pada ujung pedipalpus (). Ukuran dan bentuk chelicera pada jenis
kalajengking ini menunjukkan perbedaan antara jantan dan betina, hal ini
menyebabkan terjadinya dimorfisme seksual pada betina. Bentuk gigi jantan dari
Pandinus imperator sangat berbeda dengan yang betina karena sebagai bentuk
adaptasi untuk memegang chelicera betina selama proses kawin (Maury, 1975).
Kalajengking Kaisar memiliki masa hidup selama delapan tahun.
Kalajengking Kaisar biasanya makan serangga yang lebih kecil ukurannya seperti
kecoa dan jangkrik. Terkadang dapat ditemukan jenis kalajengking ini memangsa
sejumlah besar hewan, seperti, laba-laba, tawon parasit, lalat, burung, reptil, dan
amfibi. Pola berburu kalajengking ini terjadi di malam hari dengan menggunakan
rambut sensor untuk mendeteksi dekat mangsa ().
Kalajengking ini menggali liang di bawah tanah dan bersembunyi di
bawah batu dan puing-puing pohon dan juga sering menggali liang di gundukan
rayap (Rubio, 2015). Kalajengking ini berasal dari hutan hujan Afrika serta
padang sabana terbuka yang dapat ditemukan di sejumlah negara Afrika, termasuk
Benin, Burkina Faso, Pantai Gading, Gambia, Ghana, Guinea, Guinea-Bissau,
Togo, Liberia, Mali, Nigeria, Senegal, Sierra Leone, dan Kamerun (Preston-
Mafham & Preston-Mafham, 1993). Struktur eksoskeleton yang kuat serta kedap
air sebagai bentuk adaptasi dari kalajengking jenis ini di daerah dengan suhu
tinggi untuk menghindari dehidrasi yang tinggi.
4.2.2 Kelas Chilopoda
Chilopoda merupakan ordo dari anggota hewan tak bertulang
belakang yang termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Myriapoda. Hewan ini
tergolong hewan pemangsa (predator), makanannya adalah cacing dan serangga.
Bentuk tubuhnya pipih, jumlah segmen bisa mencapai 177, setiap segmen
mempunyai sepasang kaki, kecuali pada satu segmen di belakang kepala dan dua
segmen terakhir. Pada bagian kepala terdapat sepasang mata. Masing-masing
mata mengalami modifikasi menjadi cakar beracun. Lipan atau kelabang bila
bertemu mangsanya akan menyerang mangsanya dengan cara menggigit
menggunakan kaki beracun yang berguna untuk melumpuhkan mangsa

1. Tygarrup javanicus
Hewan ini memiliki panjang tubuhnya mencapai 18-20 mm dengan warna
terang kuning, 2 segmen anteriormost berwarna kemerahan-oranye. Cephalic
kapsul dengan jahitan frontal yang baik pada batas antara anterior dan clypeus
posterior dari masing-masing sisi ada 6 atau 7 setae. Coxosternum forcipular
dengan tuberkel anterior kecil, prefemur dengan gigi tajam, tulang paha tanpa
tibia dengan tuberkulum. Anteriormost 10 atau 11 sterna memiliki struktur
polygonal anterior dan pori-pori yang tersebar secara medial. Sub sternum
terakhir berbentuk segitiga, panjang dan bawah sama lebar.
Spesies ini telah dikenal dan deskripsi/gambar oleh seorang ilmuwan
bernama Attems. Spesies ini akan terus memiliki variabilitas spesies yang
tampaknya cukup luas. Berbagai spesie yang telah diketahui selain Tygarrup
javanicus yaitu T. singaporensis, T. crassignathus, dan T. trisporus.
Habitat hewan ini menyukai hidup pada daerah lembab dengan ketinggian
antara 0-1000 mdpl. Hewan ini membutuhkan kandungan serat selulosa yang
telah mengalami pelapukan sebagai sumber makanan dan tempat tinggal. Dapat
ditemukan hewan ini berada pada daerah serasah dedaunan yang lembab serta
timbunan daun yang tidak terlalu terbuka dengan cahaya matahari.
4.2.3 Kelas Diplopoda
Diplopoda merupakan kelas hewan yang memiliki dua pasang kaki. Ciri-
ciri umum dari Diplopoda adalah sebagai berikut tubuhnya berbentuk silindris dan
beruas-ruas (25-100 segmen) terdiri atas kepala dan badan. Setiap segmen (ruas)
mempunyai dua pasang kaki, dan tidak mempunyai taring bisa (maksiliped). Pada
ruas ke tujuh, satu atau kedua kaki mengalami modifikasi sebagai organ kopulasi.
Pada kepala terdapat sepasang antena yang pendek, dengan dua kelompok mata
tunggal. Hidup di tempat yang lembab dan gelap dan banyak mengandung
tumbuhan yang telah membusuk. Respirasi dengan trachea yang tidak bercabang.
Alat ekresi berupa dua buah saluran malphigi.

1. Glomeris sp.
Glomeris sp. tumbuh hingga 20 milimeter (0,8 in) panjangnya dan 8 mm
(0,3 in) lebarnya, dan ditutupi oleh dua belas pelat punggung hitam dengan pelek
putih. Setiap segmen kecuali yang di depan dan belakang memiliki dua pasang
kaki, dengan total sekitar 18 pasang. Kutikula juga lebih gelap dan berkilau, dan
antenanya lebih pendek. Kepala dan ekor kutu kayu memiliki jumlah piring kecil
yang lebih besar, sedangkan kepala Glomeris dilindungi oleh satu perisai besar,
dan tidak memiliki uropoda kutu kayu di ujung baca. Meskipun biasanya individu
berwarna hitam, merah, kuning, dan cokelat terkadang muncul.
Glomeris sp. hidup di serasah daun serta di rumput dan di bawah batu,
dengan preferensi untuk tanah berkapur. Hewan ini kurang rentan terhadap
pengeringan daripada kaki seribu lainnya dan dapat ditemukan di tempat terbuka,
bahkan di cuaca cerah, meskipun lebih aktif di malam hari dan lebih suka daerah
yang lebih lembab. Glomeris sp. memakan daun-daun tua yang membusuk,
meskipun kandungan nutrisi dari daun yang baru jatuh dan dapat bertanggung
jawab untuk mendaur ulang sebagian besar nutrisi dalam serasah daun.
Predator Glomeris sp. dilaporkan termasuk jalak, kodok umum, kutu kayu,
dan landak. Serta menggulung menjadi bola untuk perlindungan, Glomeris sp.
menghasilkan bahan kimia berbahaya untuk menangkal predator potensial, seperti
yang dilakukan oleh banyak kaki seribu. Satu hingga delapan tetes cairan kental
dikeluarkan, mengandung alkomer quinazolinone glomerin dan homoglomerin,
dilarutkan dalam matriks protein encer. Bahan kimia ini bertindak sebagai
antifeedant dan racun bagi laba-laba, serangga, dan vertebrata, dan cairan ini
cukup lengket untuk menjebak kaki semut. Setelah sepenuhnya melepaskan
pertahanan kimia ini, dibutuhkan hingga empat bulan bagi kaki seribu untuk
mengisi kembali persediaan.

2. Julus sp.
Kaki seribu atau millipede (kelas Diplopoda, sebelumnya juga disebut
Chilognatha) adalah Arthropoda yang memiliki dua pasang kaki per segmen
(kecuali segmen pertama di belakang kepala, dan sedikit setelahnya yang hanya
memiliki satu kaki). Kaki seribu adalah ordo dari anggota hewan tak bertulang
belakang yang termasuk dalam Filum Arthropoda, kelas Myriapoda. Tubuh
hewan ini berbentuk silinder, jumlah segmennya sekitar 25-100, setiap segmennya
hanya mempunyai sepasang kaki dan setiap abdomen mempunyai lima pasang
kaki dan dua pasang spirakel. Hewan ini berkembang biak dengan bertelur.
Kaki seribu memiliki bentuk tubuh yang terdiri atas kepala dan badan,
bentuknya silindris dan beruas-ruas, pada setiap ruas-ruasnya terdapat 1 sampai 2
pasang kaki. Walaupun demikian jumlah total kakinya tidak mencapai seribu
seperti namanya. Warna tubuhnya coklat kekuning-kuningan, bagian kepalanya
terdiri atas 5 segmen dan thorax terdiri atas 4 segmen. Kaki seribu memiliki
sepasang antenna yang pendek dan 2 kelompok mata tunggal yang terdiri atas
sekumpulan oselli pada kepalanya. Tidak memiliki taring dan bernapas dengan
trakea pada bagian bawah dari ruas yang paling belakang terdapat anus yang
berfungsi sebagai saluran pembuangan air dari metabolisme. Tidak mempunyai
cakar beracun dan alat kelaminnya terpisah.
Umumnya kaki seribu memakan sisa tumbuhan yang membusuk. Namun
ada beberapa spesies yang tergolong karnivora. Hewan ini menelan bahan
makanan yang ditemui, mengekstrak nutrisinya, lalu mengeluarkan kembali sisa-
sisa yang tidak bisa dicerna. Tipe mulut dari kaki seribu sangat sederhana sekali
oleh karena itu cara makan ini tidak berlaku untuk beberapa spesies yang
memiliki tipe mulut penghisap ().
3. Polydesmus sp.
Tubuh hewan dewasa dengan 19-20 segmen cincin, tidak memiliki bintik
mata, dengan atau tanpa paranota. Pada hewan jantan dewasa pasangan kaki
depan mengalami modifikasi. Panjang tubuh 1,5 - 2 cm, lebar tubuh 0,3 cm.
Cepalothorax agak membulat, terdapat sepasang mata dan antenna yang pendek,
dengan mulut tipe pengunyah. Memiliki 17 - 20 segmen, tepi segmen memipih,
tiap segmen dijumpai 2 pasang kaki kecuali pada segmen terakhir. Ujung
abdomen terdapat ovipositor agak meruncing. Warna tubuh cokelat kehitaman,
kaki putih. melindungi diri dengan menggulungkan tubuhnya jika merasa
terancam.
Spesies yang paling sering dicatat di habitat ini yang mungkin
menjelaskan hubungan nyata dengan tanah gambut. Ini juga dapat menjelaskan
hubungan yang kuat dengan tanah non-berkapur selain gambut. Bentuk yang
dinamis serta bersegmen membantu dalam menyuburkan tanah gambut serta
memberikan ruang bagi oksigen untuk mempercepat proses akumulasi sisa-sisa
organic yang dijadikan tempat tinggal.
Distribusi hewan ini meliputi hutan hujan tropis hingga hutan pinus pada
sebagian daerah Benua Eropa. Hewan ini sangat sensitif dengan perubahan suhu
eksternal yang dapat membuat metabolisme terganggu. Hewan ini dapat
ditemukan pada Asia yang paling banyak ditemukan pada Asia Tenggara serta
sepanjang Sungai Amazon.
4.2.4 Kelas Malacostraca
Malacostraca adalah kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang
yang termasuk dalam Filum Arthropoda, subfilum Crustacea. Tubuh
Malacostraca pada umumnya terdiri atas 14 segmen. Delapan segmen depan
merupakan cephalothorax, sedangkan enam segmen belakang membentuk
abdomen. Malacostraca hewan yang sangat unik karena dapat menyangga
kehidupan makhluk lainnya selain itu dapat bersimbiosis dengan makhluk lain,
yang dapat dibagi menjadi beberapa subkelas, yaitu Phyllocarida, Hoplocarida,
dan Eumalacostraca.
1. Alpheus sp.
Udang pistol marga Alpheus biasanya mempunyai rostrum yang pendek
dan tubuh yang halus. Carapacea selalu dilengkapi oleh Cardiac Notch (lekukan)
di bagian ujung posterior, dan bagian tepi pterygostomial. Anntenule biasanya
pendek dengan stylocerite yang kadang-kadang telah tereduksi. Basicerite pada
beberapa jenis Alpheus ada yang dilengkapi oleh gigi-gigi ventral dan ada yang
tidak, sehingga bentuknya bulat tidak mempunyai scaphocerite atau kadang-
kadang ada, tetapi telah mengalami reduksi.
Carphocerite biasanya dimulai dari atau diantara bagian ujung dari
scaphocerite. Capit (chela) dari padangan kaki pertama biasanya berbentuk
asimetris. Capit besar (major chela) mempunyai bentuk yang bervariasi pada
masing-masing jenis, dari yang halus sub-silindris sampai dengan yang kokoh dan
pipih atau juga dengan "palm" yang dalam dan kuat capit gerak (movable finger),
biasanya dilengkapi dengan gigi-gigi molar.
Jenis udang pistol marga Alpheus menyebar luas di perairan tropis dan
subtropis. Salah satu habitat yang banyak didiami oleh udang-udang ini adalah di
daerah terumbu karang merupakan habitat yang paling cocok bagi udang ter
sebut. Banyak dijumpai di bawah karang batu baik yang hidup ataupun yang mati.

2. Bellia sp.
Kepiting ini berukuran sedang hingga besar, lebar carapacea minimal
sekitar 20 mm. Carapacea berbentuk bundar telur melebar hingga jorong
melebar. Sisi anterolateral bergigi 6 buah, gigi yang pertama (di sisi luar mata)
lebar dan terpotong ujungnya (rumpang atau melekuk), berlainan dengan gigi-gigi
selanjutnya yang berujung runcing (duri). Sisi atas/punggung propodus (ruas
ujung) pada capit dengan empat duri. Sisi depan/punggung merus (ruas ketiga
dari ujung) capit dengan tiga duri. Ruas keempat pada abdomen berlunas.
Carapacea dengan jalur-jalur merah marun (kecokelatan) dan putih
berselang seling, biasanya dengan pola serupa salib putih di tengah punggung
bagian atas. Kaki-kaki dan capit dengan pola bintik-bintik putih. Kepiting ini
menyebar luas di kawasan perairan Indo-Pasifik Barat, hingga mencapai
Jepang dan Australia. Pada wilayah Indo-Pasifik Barat, rajungan karang tercatat
dari pantai timur Afrika, Madagaskar, India, Taiwan, dan Tiongkok, Malaysia,
Singapura, dan Indonesia.
Sebagian besar kepiting hidup di laut, tersebar di seluruh lautan mulai
dari zona supratidal hingga di dasar laut yang paling dalam. Sebagian jenis
kepiting ada yang hidup di air tawar. Keanekaragaman kepiting yang paling
tinggi ada di daerah tropis dan di selatan Australia.

3. Charybdis anisodon
Charybdis anisodon termasuk kepiting dari famili Portunidae. Kepiting
ini mempunyai bentuk carapacea yang heksagonal. Ukuran carapacea lebih lebar
daripada panjangnya, bagian karapas bergerigi, pada bagian depan atau dahi
terdapat 6 cuping (lobe), tidak termasuk cuping yang berada di bagian dalam
supraorbital. Kepiting ini memiliki bagian dahi atau bagian depan carapacea
yang lebih sempit dibandingkan dengan bagian paling lebar dari carapacea.
Cheliped dengan 2 duri dan 1-2 butiran di perbatasan anterior, perbatasan
posterior halus, carpus dengan tulang belakang internal yang kuat, batas luar
dengan 2-3 spinula sering direduksi menjadi butiran, telapak tangan dengan 1
tulang belakang distal di batas atas. Kaki renang dengan tulang belakang posterior
subdistal, propodus dengan halus pada batas posterior pada spesimen dewasa.
Kepiting ini banyak ditemukan di daerah hutan bakau. Jenis hewan ini
biasanya lebih menyukai tempat yang berlumpur di daerah hutan mangrove.
Kepiting terdistribusi hanya terbatas pada daerah litoral dengan kisaran
kedalaman 0–32 meter. Pada siang hari, kepiting tingkat juvenile jarang terlihat di
daerah bakau karena lebih suka membenamkan diri di lumpur. Kepiting ini
bersifat euryhaline atau dapat hidup di perairan dengan kisaran salinitas yang
lebar, yaitu 5–40 ppt. Selama pertumbuhannya, kepiting ini menyukai air dengan
salintas antara 5–25 ppt. Oleh karena itu, kepiting–kepiting muda banyak
ditemukan di pesisir pantai atau di muara sungai yang memiliki salinitas relatif
rendah.
Kepiting dewasa ini termasuk jenis hewan pemakan segala dan bangkai
(omnivorous scavenger). Pada saat larva, kepiting ini memakan plankton, dan
pada saat juvenil menyukai detritus. Kepiting ini menyukai ikan, udang, dan
molusca terutama kerang-kerangan. Kepiting ini juga menyukai potongan daun
terutama daun mangrove. Jenis kepiting ini mengkonsumsi bahan pakan dari
tanaman yang banyak mengandung serat.

4. Charybdis annulata
Carapacea dewasa dengan garis-garis granular transversal pada daerah
protogastrik dan mesogastrik, garis epibranchial terputus pada alur serviks dan
melintasi garis tengah, depan dengan 6 gigi subakut segitiga, batas antero-lateral
dengan 6 gigi, pertama dan kedua lebih kecil dari yang berikut dan tidak sama,
dan persimpangan postero-lateral membulat. Flagel antenna dikeluarkan dari
orbit. Cheliped dengan 3 spinula di batas anterior, batas posterior halus; karpus
dengan tulang belakang internal yang kuat, batas luar dengan 3 duri; telapak
tangan dengan 4 duri di batas atas. Kaki renang dengan tulang belakang posterior
subdistal, propodus dengan 4-7 dentikel di perbatasan posterior.
Flagel antenna dikecualikan dari hiatus orbital, lobus median bagian
lateral batas bawah orbit bukan dentiform, gigi frontal bulat, perbatasan posterior
cephalothorax melengkung, membentuk persimpangan postero-lateral
melengkung, 6 gigi antero-lateral, gigi antero-lateral pertama tidak terpotong, gigi
antero-lateral kedua kira-kira sebesar pertama, punggung berbutir granula pada
pingsan karapas, tetapi tidak ada punggung jantung yang berbeda, karpus kaki
kelima tanpa tulang belakang, dan kelopaknya tidak terlalu granular.
Sebagian besar kepiting hidup di laut, tersebar di seluruh lautan mulai
dari zona supratidal hingga di dasar laut yang paling dalam. Sebagian jenis
kepiting ada yang hidup di air tawar. Keanekaragaman kepiting yang paling
tinggi ada di daerah tropis dan di selatan Australia.

5. Episesarma sp.
Besarnya sekepalan tangan orang dewasa. Kepiting memiliki pasangan
anggota tubuh bernama maxilliphed yang digunakan untuk makan. Diameter
lubangnya bisa mencapai 6 cm. Kepiting ini hidup secara berkelompok. Dalam 25
m2 bisa terdapat 5 sampai 6 lubang. Nama ilmiahnya adalah Episesarma sp. untuk
membedakan satu spesies dengan spesies lainnya, kita bisa melihat dari warna
capitnya. Kepiting jantan, memiliki bentuk abdomen atau perut yang lancip.
Selesai mencari makan, kembali kedalam lubangnya. Sama seperti
Kepiting Ungu Pemanjat, suka memanjat pohon mangrove. Dapat ditemukan di
seluruh negara Asia Tenggara seperti Cina Selatan, Hong Kong, Indonesia,
Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Australia utara dan negara-negara Asia
Selatan seperti Bangladesh, India, dan Sri Lanka.
Kepiting jantan dapat tumbuh hingga panjang maksimum 5 cm.
Carapacea berbentuk persegi dan relatif datar. Warna tubuh kecoklatan sampai
abu-abu kecoklatan pada carapacea dengan permukaan bagian luar berwarna
ungu dengan bagian proksimal dengan capit keputihan. Spesies ini didistribusikan
dengan baik di daerah bakau, mendiami liang di pangkalan pohon atau kadang-
kadang dalam gundukan yang dibuat oleh lobster Thalassina. Ini diberi makan
terutama pada kelopak dan daun tanaman air, mangrove dan rekan bakau,
biasanya di malam hari. Selama waktu tinggi, biasanya memanjat pohon setinggi
6 m.

6. Etisus dentatus
Kepiting ini banyak ditemukan di daerah hutan bakau. Jenis hewan ini
biasanya lebih menyukai tempat yang berlumpur di daerah hutan mangrove.
Kepiting terdistribusi hanya terbatas pada daerah litoral dengan kisaran
kedalaman 0 – 32 meter. Pada siang hari, kepiting tingkat juvenile jarang terlihat
di daerah bakau karena lebih suka membenamkan diri di lumpur. Kepiting ini
bersifat euryhaline atau dapat hidup di perairan dengan kisaran salinitas yang
lebar, yaitu 5 – 40 ppt. Selama pertumbuhannya, kepiting ini menyukai air
dengan salintas antara 5 – 25 ppt. Oleh karena itu, kepiting – kepiting muda
banyak ditemukan di pesisir pantai atau di muara sungai yang memiliki salinitas
relatif rendah.
Kepiting dewasa ini termasuk jenis hewan pemakan segala dan bangkai
(omnivorous scavenger). Pada saat larva, kepiting ini memakan plankton, dan
pada saat juvenil menyukai detritus. Kepiting ini menyukai ikan, udang, dan
molusca terutama kerang-kerangan. Kepiting ini juga menyukai potongan daun
terutama daun mangrove. Jenis kepiting ini mengkonsumsi bahan pakan dari
tanaman yang banyak mengandung serat.
Etisus dentatus merupakan spesies kepiting yang hidup di Indo-Pasifik,
termasuk Laut Merah, Afrika Selatan, Madagaskar, Mauritius, Seychelles, India,
Kepulauan Andaman, Jepang, Taiwan, Cina, Selat Balabac, Selat Torres,
Kaledonia Baru, Fiji, Samoa, Tahiti, dan Kepulauan Hawaii. Sebagian besar
kepiting hidup di laut, tersebar di seluruh lautan mulai dari zona supratidal hingga
di dasar laut yang paling dalam.

7. Fenneropenaeus merguiensis
Udang yang satu ini namanya memang tidak terlalu familiar terdengar.
Udang ini merupakan salah satu spesies dari family Penaeidae. Udang Jerbung
yang biasa dikenal oleh orang Indonesia yang merupakan kekayaan alam hayati
yang hampir seluruh tersebar luas di Indonesia khusunya perairan yang hangat.
Australia menyebut udang ini dengan nama Banana Prawn, Tenjikuebi (Jepang),
Udang Kaki Merah (Malaysia), Jaira (Pakistan), dan lain-lain.
Spesies ini mempunyai bentuk rostrum yang hampir segitiga dengan
warna tubuh kuning jernih tanpa sabuk dengan bintik kecoklatan serta dapat
mencapai panjang total 24 cm untuk betina dan 20 cm untuk jantan. Udang ini
aktif mencari makan pada siang hari dan hidup di dasar perairan yang keruh.
Habitat yang disukai udang ini adalah dasar laut dengan kedalaman 10-45
m yang terdiri atas campuran lumpur dan pasir. Daerah paparan yang banyak
menerima aliran sungai adalah daerah yang disenangi oleh udang ini. Udang
menyenangi daerah yang terjadi pencampuran air sungai dengan air laut (estuaria),
karena di daerah ini banyak terdapat makanan serta zat-zat hara yang dibutuhkan
oleh udang ini. Besar kecilnya, banyak sedikitnya sungai yang bermuara ke suatu
daerah akan menentukan luas atau sempitnya daerah udang di suatu perairan.
8. Ocypode cordimanus
Kepiting hantu tangan halus memiliki ciri-ciri seperti warna putih keabu-
abuan jika sudah dewasa, panjang carapacea sekitar 5 cm yang memiliki 4 pasang
kaki berjalan yang sangat panjang dan terdapat bulu-bulu halus. Capit kepiting ini
berwarna putih dengan mata besar berwarna hitam yang memiliki jarang pandang
3600 dan sangat sensitif dengan cahaya. Memiliki indra penciuman dan rasa yang
tidak kalah dengan penglihatannya.
Ukuran larva sangat kecil seperti plankton, juvenile kepiting hantu tangan
halus berukuran antara 1-2 cm. Kepiting jantan umumnya lebih besar dari betina
dan memiliki salah satu capit yang lebih besar. Kepiting jantan memiliki bagian
bentuk perut yang runcing, sedangkan kepiting betina memiliki bentuk perut yang
bulat. Perut pada kepiting betina merupakan tempat penyimpanan telurnya.
Kepiting hantu tangan halus menghuni daerah tropis dan sub-tropis yang
dapat ditemukan dengan pesisir pantai indo-pasifik. Kepiting ini ditemukan di
zona supralitoral (daerah di atas garis air pasang tinggi) dari pasir, dari garis air
sampai bukit-bukit pasir. Kepiting hantu tangan halus hidup dengan membuat
liang tanah sebagai rumah dengan kedalaman liang 1,3 m.

9. Thalamita spinimana
Kepiting berenang bakau (Thalamita spinimana) juga disebut kepiting
renang atau kepiting batu berduri, merupakan spesies kepiting yang berenang di
genus Thalamita. Distribusikan di seluruh perairan laut dan payau di wilayah
Indo-Pasifik Barat. Ini banyak digunakan sebagai kepiting yang dapat dimakan di
banyak negara.
Carapacea dengan bentuk bundar dengan lima gigi antero-lateral.
Carapacea dengan 3 pasang ridge lambung yang sangat halus. Kepiting jantan
memiliki pleopod pertama yang panjang dan tipis, yang secara bertahap
meruncing ke ujung. Kepiting ini bersifat euryhaline atau dapat hidup di perairan
dengan kisaran salinitas yang lebar, yaitu 5–40 ppt. Selama pertumbuhannya,
kepiting ini menyukai air dengan salintas antara 5–25 ppt. Oleh karena itu,
kepiting–kepiting muda banyak ditemukan di pesisir pantai atau di muara sungai
yang memiliki salinitas relatif rendah.
Dapat ditemukan di seluruh negara Asia Tenggara seperti Cina Selatan,
Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Australia utara
dan negara-negara Asia Selatan seperti Bangladesh, India, dan Sri Lanka. Spesies
yang biasanya mencari makan di malam hari memakan banyak bivalvia dan
krustasea yang bergerak lambat. Ini ditemukan di daerah pasang surut rawa-rawa
bakau, yang terdiri dari zona Rhizophora mucronata dan hutan bakau.

10. Uca sp.


Kepiting Uca atau disebut juga Kepiting Fiddler mempunyai 97 spesies
yang tersebar di hutan bakau, rawa-rawa, dan pada pantai berpasir atau berlumpur
Barat Afrika, Atlantik Barat, Timur Pasifik dan Indo-Pasifik. Mereka sering
ditemukan dalam jumlah besar. Kepiting Uca memiliki perilaku lucu yaitu makan,
bertengkar dan kawin, semua dilakukan pada waktu yang sama. Kepiting ini
termasuk kepiting yang berukuran kecil (yang terbesar cuman sekitar 2-3 cm)
Seperti semua kepiting, Kepiting Uca mengalami moulting atau berganti cangkang
saat mereka tumbuh (seperti ganti kulit pada ular).
Dalam proses moulting ini, capit dan kaki yang telah putus sebelumnya
akan kembali muncul. Hal yang unik dari kepiting ini adalah dwimorfisme
seksual, dimana kepiting jantan mempunyai satu buah capit besar yang berwarna
cerah kontras dengan karapaksnya, dan betina tidak mempunyai capit yang
besar. Capit tersebut berbentuk seperti biola dan mempunyai berat hampir seberat
kepiting itu sendiri. Capit besar tersebut digunakan untuk menarik betina dan
untuk mengintimidasi jantan pesaingnya. Kepiting ini menggerakan capit besar
dengan gaya dan irama unik dalam upaya untuk menarik betina. Kepiting Fiddler
mendapat nama mereka untuk perilaku yang menyerupai seorang musisi bermain
biolanya. Pada kepiting jantan, jika capit yang besar hilang maka setelah
moulting capit besar tersebut akan tumbuh lagi di sisi sebelahnya (jika awalnya
capit besar di sebelah kiri putus, maka setelah moulting bagian yang putus di
sebelah kiri akan menjadi capit kecil, dan capit kanan akan membesar).
Kepiting Uca dapat mengubah warna. Kadang-kadang, tampil beda di
malam hari dan siang hari. Pada beberapa spesies, jantan mencerahkan warnanya
selama musim kawin. Hal ini membuat sulit untuk mengidentifikasi spesies yang
berbeda dari Kepiting Uca dengan warna mereka saja. Spesies umumnya
dibedakan oleh struktur penjepit mereka daripada oleh warna saja.
Kepiting Uca merupakan detritivor. Capit Kepiting Uca yang kecil mengambil
sepotong sedimen dari tanah dan membawanya ke mulut, kemudian
menyaringnya. Setelah didapatkan baik itu ganggang, mikrobia, jamur, atau
detritus membusuk lainnya, sedimen dikeluarkan dalam bentuk bola-bola kecil.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarakan praktikum yang telah dilakukan mengenai keanekaragaman
Filum Arthropoda didapatkan sebanyak 21 individu yang terbagi atas 4 kelas
utama yaitu Arachnida, Chilopoda, Diplopoda, dan Malacostraca. Kelas
Arachnida terdapat sebanyak 5 spesies, kelas Chilopoda hanya 1 spesies, kelas
Diplopoda 3 spesies, dan kelas Malacostraca yang paling banyak ditemukan
spesiesnya yaitu berjumlah 12.

5.2 Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya agar lebih difokuskan terlebih dahulu
dalam pembuatan kotak insectarium dan molluscarium untuk menghindar
terjadinya kerusakan spesies. Kemudian sebelumnya terdapat pengajaran cara
untuk membuat spesimen lebih tahan lama dalam kotak insectarium dan
molluscarium. Terakhir dalam penentuan titik koordinat untuk kedepannya lebih
dijauhkan lagi dari aktivitas masyarakat serta jarak antar titik koordinat lainnya
dijauhkan supaya tingkat keanekaragaman bertambah.
DAFTAR PUSTAKA

Adebuntan, S. A. 2007. Influence of activities on Diversity and Abundance of


insect in Akure Forest Reserve, Ondo State Nigeria. International Journal
of Biology and Chemical Sciences 3 (9): 1320-1335.

Adekunle, V. A. J. 2006. Conservation of Tree species Diversity in tropical


rainforest ecosystem of South West Nigeria. Journal of Tropical Forest
Science. 18(2): 91-101

Badji, C. A., Guedes, R. N. C., Silva, A. A., Arau´ jo, R. A. 2007. Impact of
deltamethrin on arthropods in maize under conventional and no-tillage
cultivation. Crop Prot., 23:1031–1039.

Bardgett, R. D. 2005. The Biology of soil: a Community and Ecosystem Approach.


Oxford University Press, Oxford, UK.

Basset, Y., Samuelson, G. A., Allison, A. and Miller, S. E. 1996. How many
species of host-specific insects feed on a species of Tropical Tree.
Biological Journal of the Linnean Society, 59: 201-216

Basset, Y., Novotny, V., Millers, S. E. and Kitching, R. L. 2003. Methodological


advances and limitation in canopy entomology. Arthropods of tropical
forests. Spatio-Temporal Dynamics and resource use in the canopy (ed, by
Y. Basset, V. Novotny, S. E. Miller and R. L. Kitching).. Cambridge
university press, Cambridge. Pp. 7-16

Burger, J. C., Redak, R.A., Allen, E. B., Rottenberry,J. T. and Allen, M.F. 2003.
Restoring arthropod communities in coastal sage scrub. Conservation
Biology, 17:460–467.

Boyer, A. G., Swearingen, M. A., Blaha, C. T., Fortson, S. K. Gremillion, K. A.,


Osborn, and Moran, M. D. 2003. Seasonal Variation in Top- Down and
Bottom- Up Processes in a Grassland Arthropod Community. Oecologia,
136: 309-316.

Brown, M. W., and T. Tworkoski. 2004. Pest management benefits of compost


mulch in apple orchards. Agric. Ecosyst. Environ. 103: 465-472.

Coleman, D. C., Crossley, D. A., Hendrix, P. F. 2004. Secondary production:


Activities of heterotrophic organisms- the soil fauna In: Fundamentals of
Soil Ecology. Academic Press, San Diego, California. pp. 51-106

Endlweber, K. and Scheu, S., 2007. Interaction between mycorrhizal fungi and
collembolan: effects on plant structure of competing plant species. Boil.
Fert. Soils, 43: 741-749.
Filser, J. 2002. The role of Collembola in carbon and nitrogen cycling in soil.
Pedobiologia, 46 : 234-245.

Floren, A., Biun, A., Linsenmair, K. E., 2002. Arboreal ants as key predators in
tropical lowland rainforest trees. Oecologia, 131: 137–144.

Fowler, S. V. and Lawton, J. H. 1982. The effects of host plant distribution and
local abundance on the species richness of agromyzid flies attacking
British unmbellifers. Ecological Entomology, 7: 257-265.

Gardner, S. M., Cabido, M., Valladares, G. and Díaz, S., 1995. The influence of
habitat structure on arthropod diversity in Argentine semi-arid Chaco
forest. Journal of Vegetation Science, 6:349-356

Hairston, N. G., Smith, F. E., Slobodkin, L. B. 1960. Community structure,


population control, and competition. The American Naturalist, 94: 421-
425.

Hopkin, S. P., 1997. Biology of the Springtails: Collembola (Insecta). Oxford


UniversityPress, Oxford, UK.

Hölldobler , B., Wilson, E . O. 1990. The Ants. Harvard University Press,


Cambridge, Massachusetts .

Karr, J. R., Kimberling, D. N. 2003. A terrestrial arthropod index of biological


integrity for shrub steppe landscapes. Northwest. Science, 77:202–213.

Kremen, C., Colwell, R. K., Erwin, T. L., Murphy, D. D., Noss, R. F., and
Sanjayan, M. A. 1993. Terrestrial arthropod assemblages: their use in
conservation planning. Conserv. Biol. 7: 796-808.

Lagos, S. J. 2004. Diversidad Biológica de lasComunidades Epigeas de


Artrópodos en Áreas Pastoreadas y No Pastoreadas del Monte (Argentina).
PhD Thesis. Universidad Nacional de Cuyo

Lawton, J. H. 1983. Plant architecture and diversity of phytophagous Insects.


Annual Review of Entomology, 28: 23-39.

Loranger, G., J, F. Pongei, E. Blanchart, P. Larelle 1998. Impact of Earthworms


on the Diversity of Microarthropods in a vertisol (Martinique). Biol
fertile. Soils 27: 21-26

Majer, J. D. 1994. Arboreal ant community patterns in Brazilian farms. Biotropica


, 26:73–83.

Masters, G. J., 2004. Belowground herbivores and ecosystem processes. In:


Weisser, W. W., Siemann, E. (Eds), insects and ecosystem function.
Ecological Studies, 173: 93-114.
Mcntyre, N. E. 2000. Ecology of Urban Artropods: a review and a Call to action.
Ann. Entomol. Soc. Am. 93: 829-835.

Molina, S. I., Valladers, G. R. and Cabido, M. R. 1999. the effect of logging and
grazing on the insect community associated with a semi-arid chaco forest
in central Argentina. Journal of Arid Environ. 42: 29-42.

Novotny, V., Basset, Y. and Kitching, R. L. 2003. Herbivore assemblages and


their food resources. Arthropods of tropical forest. Spatio-Temporal
Dynamics and resource use in the canopy (ed. by Y. basset, V. Novotny, S.
E. Miller and R. L. kitching), Cambridge University Press, Cambridge. Pp.
40-53

Nyffeler, M. 1999. Prey selection of spiders in the Weld. J. Arachnol. 27: 317–
324.

Odegeard, F. 2000. How many species of arthropods? Erwin’s estimate revised.


Biological Journal of the Linnean Society, 71: 583-451

Partsch, S., Milcu, A., Scheu, S., 2006. Decomposers (Lumbricidae, Collembola)
affect plant performance in model grasslands of different diversity.
Ecology 87: 2548-2558.

Peck, S. L., B. McQuaid and C. L. Campbell, 1998. Using ant species


(Hymenoptera: formicidae) as biolo indicators of agroecosystem condition.
Environ. Entomol., 27: 1102-1110

Pennak, R.W., 1978. Freshwater Invertebrates of the United States. 2nd Edn.,
John Wiley and Sons, USA, pp: 803.

Riechert, S. E., Bishop, L. 1990. Prey control by an assemblage of generalist


predators. Ecology 71: 1441-1450

Rosumek, F. B, Silveira, F. A. O., Neves, F. D., Barbosa, N. P. D., Diniz, L., Oki,
Y., Pezzini, F., Fernandes, G. W., Cornelissen, T. 2009. Ants on plants: a
meta-analysis of the role of ants asplant biotic defenses. Oecologia 160:
537–549.

Schadler, M., Jung, C., Brandl, R. and Auge, H. 2004. Secondary successtion is
influenced by belowground insect herbivory on a productive site.
Oecologia, 138: 242-252.

Strong, D. R., Lawton, J. H. and Southwood, R. 1984. Insects on Plants.


Community Patterns and Mechanisms. Blackwell Scientific Publications,
Oxford.
Theenhaus, A., Scheu, S., Schaefer, M., 1999. Contramensal interactions between
two collembolla species: effects on population development and on soil
processes. Funct. Ecol. 13, 238-246.

Trombetti S, and Williams, C. 1999. Investigation of soil dwelling invertebrates.


Ecol. 70: 220-260.

Wardle, D. A., Bardgett, R. D., klironomos, J. N., Setala, H., Van Derputten, W.
H. and Wall, D. H., 2004. Ecological linkages between aboveground and
belowground biota. Science, 304: 1629-1633.

Weisser, W. W. and Siemann, E. 2004. Insects and ecosystem function. Ecol.


Stud. 173, 3-402.

Wise, D. H. 2004. Wandering spiders limit densities of a major microbe-


detritivore in the forest-floor food web. Pedobiologia. 48: 181-188.

Wolda, H. 1988. Insect seasonality: Annu. Rev. Ecol. Systematics 19: 1-18.

Zheng, D. W., Bergtsson, J. and Argren, G. I. 1997. Soil food webs and ecosystem
processes; decomposition in donor-control and Lotka-Voltera Systems.
American Naturalist. 149: 125-148
Lampiran 1. Klasifikasi Arthropoda di Kelurahan Sedau kecamatan
Singkawang Selatan

Kelas Ordo Famili Genus Spesies


Arachnida Araneae Araneidae Argiope Argiope sp.
Araneae Nephilidae Nephila Nephila sp.
Scorpionida Diplocentridae Diplocentrus Diplocentrus
sp.
Scorpionida Buthidae Lychas Lychas sp.
Scorpionidae Pandinus P. imperator
Chilopoda Geophilomo Mecistocephalid Tygarrup T. javanicus
rpha ae
Diplopoda Glomerida Glomeridae Glomeris Glomeris sp.
Julida Julidae Julus Julus sp.
Polidesmida Polidesmidae Polydesmus Polydesmus
sp.
Malacostraca Decapoda Alphelidae Alpheus Alpheus sp.
Penaeoidae Fenneropenna F.
eus merguenensi
Belliidae Bellia Bellia sp.
Xanthidae Etisus E. dentasus
E.
laevimanus
Etisus sp
Portunidae Charybdis C. anisodon
C. annulata
Thalamita T. spinama
Sesarmidae Episesarma Episesarma
sp.
Ocypodidae Ocypode O.
cordimanus
Uca Uca sp.
Lampiran 2. Dokumentasi Praktikum Lapang