Anda di halaman 1dari 11

‫ﻢﺴﺑﷲ ﻦﻤﺣﺮﻟﺍ ﻢﻴﺣﺮﻟﺍ‬

UPAYA BANGSA INDONESIA


DALAM MENGHADAPI ANCAMAN DISINTEGRASI BANGSA

KELAS 12

SMKS AL FARISI
Jala Raya Leles Nomor 11 Leles - Garut
Bab 1
Upaya Bangsa Indonesia Dalam Menghadapi Ancaman Disintegrasi Bangsa

Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah Indonesia


menghadapi berbagai pergolakan dan pemberontakan dari dalam negeri. Pergolakan dan
pemberontakan tersebut mengancam keutuhan negara. Pemerintah Indonesia berusaha
mengatasi pergolakan dan pemberontakan tersebut. Berikut pergolakan dan pemberontakan
yang mengancam keutuhan negara:
1. Pemberontakn PKI Madiun
2. Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII):
a. Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat
b. Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah
c. Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan
d. Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan
e. Pemberontakan DI/TII di Aceh
3. Peberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil)
4. Pemberontakan Andi Azis
5. Gerakan Republik Maluku Selatan (RMS)
6. Pemberontakan PRRI/Persemesta
7. G30-S/PKI

A. Pemberontakan PKI Madiun


Awal terjadinya pemberontakan PKI Madiun dan siapa yang memimpin pemberontakan?
Terjadinya pemberontakan PKI Madiun berawal dari upaya yang dilakukan oleh Amir Syarifuddin
untuk menjauhkan Kabinet Hatta. Untuk hal tersebut, Amir Syarifuddin pada tanggal 28 Februari
1948 membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) di Surakarta. FDR terdiri dari Partai Sosialis
Indonesia, PKI, Pesindo, PBI, dan Sarbupri. Adapun strategi yang diterapkan FDR adalah sebagai
berikut.
1. FDR berusaha menumbuhkan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah dengan cara
melakukan pemogokan umum dan berbagai bentuk pengacauan.
2. FDR menarik pasukan pro-FDR dari medan tempur untuk memperkuat wilayah yang telah
dibina.
3. FDR menjadikan Madiun sebagai basis pemerintahan dan Surakarta sebagai daerah kacau
(untuk mengalihkan perhatian dan menghadang TNI).
4. Di dalam parlemen, FDR mengusahakan terbentuknya Front Nasional yang
mempersatukan berbagai kesatuan sosial-politik untuk menggulingkan Kabinet Hatta.

Pemberontakan PKI Madiun


1
Kegiatan FDR dikendalikan oleh PKI sejak Muso kembali dari Uni Soviet. Atas anjuran dari
Muso, partai yang tergabung dalam FDR melburkan diri dalam PKI. Selanjutnya PKI menyusun
politbiro (dewan politik) dengan ketuanya Muso dan sekretaris pertahanan Amir Syarifuddin.
Dalam rangka untuk menjatuhkan wibawa pemerintah, Muso dan Amir Syarifuddin
berkeliling ke sejumlah kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mempropagandakan PKI
beserta programnya. Sambil menjelek-jelekan pemerintah, PKI mempertajam persaingan antara
pasukan TNI yang pro-PKI dan propemerintah. Adanya persaingan tersebut turut memicu
terjadinya pemberontakan PKI Madiun (Madiun Affair).
Di Surakarta pada tanggal 11 September 1948 terjadi bentrokan antara pasukan
propemerintah RI (dari Siliwangi) dan pasukan pro-PKI (divisi IV). Untuk mengatasi hal tersebut,
pemerintah menunjuk Kolonel Gatot Subroto sebagai gubernur militer (meliputi daerah
Surakarta, Pati, Semarang, dan Madiun). Akhirnya pada tanggal 17 September 1948 pasukan
yang pro-PKI mundur dar Surakarta.
Ternyata kejadian di Surakarta tersebut hanya untuk mengalihkan perhatian. Pada waktu
kekuatan TNI terjun ke Surakarta, Sumarsono dari Pesindo dan Letnal Kolonel Dahlan dari
Brigade 29 yang pro-PKI melakukan perebutan kekuasaan di Madiun pada tanggal 18
Semptember 1948. Tindakan PKI tersebut disertai dengan penangkapan dan pembunuhan
pejabat sipil, militer, dan pemuka masyarakat. Kemudian mereka mendirikan pemerintahan
Soviet Republik Indonesia di Madiun.
Pada waktu kudeta berlangsung di Madiun, Muso dan Amir Syarifuddin sedang berada di
Purwodadi. Kemudian mereka ke Madiun mendukung kudeta dan mengambil alih pimpinan.
Secara resmi diproklamasikan berdirinya Soviet Republik Indonesia. Apa yang dilakukan oleh
Muso dan Amir Syarifuddin tersebut memperjelas bahwa pemberontakan di Madiun didalangi
oleh PKI.
Untuk mengatasi pemberontakan tersebut, pemerintah bersikap tegas. Presiden Soerkarno
memberikan pilihan kepada rakyat ikut Muso dengan PKI-nya atau ikut Soekarno-Hatta. Tawaran
Presiden tersebut disambut dengan sikap mendukung pemerintah RI. Selanjutnya pemerintah
menginstruksikan kepada Kolonel Sadikin dari Divisi Siliwangi untuk merebut kota Madiun. Kota
Madiun diserang oleh pasukan Siliwangi dan dari arah timur oleh pasukan yang dipimpin oleh
Kolonel Sungkono.
Dengan bantuan rakyat pada tanggal 30 September 1948 kota Madiun berhasil dikuasai TNI.
Muso tertembak dalam pengejaran di Ponorogo dan Amir Syarifuddin tertangkap di Purwodadi.
Kemudian dilakukan operasi pembersihan di daerah-daerah dan pada bulan Desember 1948
operasi dinyatakan selesai.

B. Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat


Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dipimpin oleh
Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo. Pemberontakan DI/TII
merupakan suatu usaha untuk mendirikan negara islam di
Indonesia. Sejak perjanjian Renville ditandatangani pada
tanggal 8 Desember 1947, pasukan TNI harus meninggalkan
wilayah Jawa Barat dan hijrah ke Jawa Tengah.
Pasukan Hisbullah dan Sabilillah yang dipimpin oleh S.M
Kartosuwiryo tidak iku dalam hijrah tersebut. Kemudian
Kartosuwiryo membentuk Gerakan Darul Islam dan seluruh
pasukannya dijadikan Tentara Islam Indonesia.
Pemberontakan DI/TII ini bertujuan untuk mendirikan
negara sendiri yang terpisah dari Republik Indonesia. Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo

2
Kemudian pada tanggal 7 Agustus 1949 Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara
Islam Indonesia (NII) di Tasikmalaya Jawa Barat.
Dengan kembalinya pasukan TNI (Divisi Siliwangi) dari Yogyakarta merupakan ancaman bagi
kelangsungan da tercapainya cita-cita Kartosuwiryo. Oleh karena itu, pasukan Siliwangi yang
kembali dari Hijrah harus dihancurkan agar tidak masuk ke wilayah Jawa Barat. Kemudian,
terjadilah bentrokan antara pasukan DI/TII Kartosuwiryo dan pasukan TNI yang baru pulang dari
hijrah. Apa yang dilakukan Kartosuwiryo tersebut merupakan penyimpangan dari cita-cita
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan merupakan pemberontakan terhadap pemerintah
negara RI yang sah.
Untuk meredam pemberontakan DI/TII tersebut semula
dilakukan dengan melalui pendekatan persuasif (melalui
musyawarah untuk mencapai kesepakatan). Namun karena
mengalami kegagalan, kemudian pemerintah RI menempuh
cara tegas dengan melakukan operasi militer. Pada tahun
1960 dilakukan Operasi Pagar Betis di Gunung Geber oleh
pasukan TNI bersama rakyat. Menghadapi serangan
tersebut, pasukan Kartosuwiryo semakin terdesak dan
lemah sehingga banyak yang menyerah. Kartosuwiryo
terkurung dan kemudian tertangkap di puncak Gunung
Geber pada tanggal 4 Juli 1962 dan kemudian dijatuhi
hukuman mati.

C. Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah


Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, ternyata
diikuti oleh pemberontakan di daerah lainnya
seperti Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah,
Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan,
Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan
Pemberontakan DI/TII di Aceh.
Terjadinya pemberontakan DI/TII di Jawa
Tengah setelah masa pengakuan kedaulatan.
Pemberontakan terjadi di tempat yang terpisah,
namun saling berhubungan. Oleh Kartosuwiryo,
Amir Fatah diangkat menjadi komandan
pertempuran di Jawa Tengah. Untuk mengatasi
pemberontakan yang dilakukan oleh Amir Fatah,
Divisi Diponegoro membentuk pasukan khusus
yang bernama Banteng Raiders.
Di Kudus dan Magelang terjadi pemberontakan Batalion 426. Mereka menyatakan diri
bergabung dengan DI/TII. Akibat dari pemberontakan tersebut, gerakan DI/TII di Jawa Tengah
menjadi masalah yang serius. Untuk menumpas pemberontakan tersebut, Divisi Diponegoro
melancarkan operasi militer yang bernama Operasi Merdeka Timur yang dipimpin oleh Letnan
Kolonel Soeharto.

3
D. Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan
Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan yang terjadi di Kalimantan Selatan dipimpin oleh
Ibnu Hajar (mantan letnan dua TNI). Ibnu Hajar menggalang gerakan yang bernama Kesatuan
Rakyat Yang Tertindas (KRYT) dan menyatakan
gerakan KRYT sebagai bagian dari DI/TII yang dipimpin
Kartosuwiryo. KRYT sejak pertengahan bulan Oktober
1950 menyerang pos-pos TNI dan mengacau di
sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan.
Awalnya pemerintah memberi kesempatan
kepada pemberontak DI/TII di Kalimantan Selatan
untuk menyerahkan diri. Hal itu dimanfaatkan oleh
Ibnu Hajar untuk mengelabuhi pemerintah untuk
memperoleh senjata. Setelah terpenuhi keinginannya,
Ibnu Hajar kembali memberontak. Untuk menghadapi
pemberontakan tersebut, pemerintah bertindak tegas
dengan melaksanakan operasi militer. Akhirnya Ibnu
Hajar dapat ditangkap pada bulan Juli 1963, dua tahun kemudian diadili oleh Mahkamah Militer
dan dijatuhi hukuman mati.

E. Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan


Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan meletus
sejak tahun 1951 dan dipimpin oleh Kahar Muzakar.
Munculnya gerakan DI/TII tersebut bermula dari Kahar
Muzakar menempatkan laskar-laskar rakyat Sulawesi
Selatan ke dalam lingkungan APRIS (Angkatan Perang
Republik Indonesia Serikat). Selanjutnya, Kahar muzakar
berkeinginan untuk menjadi pimpinan APRIS di daerah
Sulawesi Selatan.
Pada tanggal 30 April 1950 Kahar Muzakar mengirim
surat kepada pemerintah pusat. Dalam surat tersebut
Kahar Muzakar menyatakan agar semua anggota dari
KGGS (Komando Gerilya Sulawesi Selatan) dimasukkan
dalam APRIS. Kahar Muzakar juga mengusulkan
pembentukan Brigade Hasanudin. Namun, permintaan
Kahar Muzakar tersebut ditolak oleh pemerintah pusat. Untuk menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan, pemerintah pusat bersama dengan pimpinan APRIS mengeluarkan kebijakan dengan
memasukkan semua anggota KGSS ke dalam Corps Tjadangan Nasiaonal (CTN) dan Kahar
Muzakar diangkat sebagai pimpinannya dengan pangkat letnan kolonel.
Kebijakan pemerintah tersebut tidak memuaskan Kahar Muzakar. Pada tanggal 17 Agustus
1951, bersama dengan pasukannya Kahar Muzakar melarikan diri ke hutan. Pada tahun 1952
Kahar Muzakar menyatakan bahwa wilayah Sulawesi Selatan menjadi bagian dari Negara Islam
Indonesia pimpinan Kartosuwiryo.
Untuk mengatasi pemberontakan tersebut, pemerintah bertindak tegas dengan mengadaka
operasi militer. Penumpasan tersebut mengalami berbagai kesulitan, namun akhirnya pada
bulan Februari 1965 Kahar Muzakar berhasil ditembak dan pada bulan Juli 1965, orang kedua
setelah Kahar (Gerungan) dapat ditangkap. Peristiwa tersebut mengakhiri pemberontakan DI/TII
di Sulawesi Selatan.

4
F. Pemberontakan DI/TII di Aceh
Pemberontakan DI/TII di Aceh ini dipimpin oleh Daud
Beureuh. Daud Beureuh adalah Gubernur militer di wilayah
Aceh semasa perang kemerdekaan. Namun setelah perang
kemerdekaan usai dan Indonesia kembali ke dalam bentuk
negara kesatuan pada tahun 1950, Aceh yang sebelumnya
menjadi daerah istimewa diturunkan statusnya menjadi
karesidenan di bawah Provinsi Sumatra Utara. Kebijakan
tersebut ditentang oleh Daud Beureuh. Pada tanggal 20
September 1953 Daud Beureuh mengeluarkan maklumat
tentang penyatuan Aceh ke dalam Negara Islam Indonesia
yang dipimpin Kartosuwiryo.
Untuk menumpas pemberontakan tersebut, pemerintah
Daud Beureuh
mengadakan dua pendekatan (pendekatan persuasif dan
operasi militer). Pendekatan persuasif dilakukan dengan mengembalikan kepercayaan rakyat
kepada pemerintah, sedangkan operasi militer dilakukan untuk menghancurkan kekuatan
bersenjata DI/TII.
Dengan dua pendekatan tersebut, pemerintah berhasil memulihkan kepercayaan rakyat dan
berhasil menciptakan keamanan rakyat Aceh. Pada tanggal 17-21 September 1962 diadakan
musyawarah kerukunan rakyat Aceh. Adanya musyawarah tersebut merupakan gagasan dari
Pangdam I/Iskandar Muda, Kolonel M Yasin yang didukung oleh tokoh pemerintah daerah dan
masyarakat Aceh. Hasil musyawarah tersebut pemerintah menawarkan amnesti kepada Daud
Beureuh bersedia kembali ke tengah masyarakat. Dengan kembalinya Daud Beureuh ke tengah
masyarakat menandai berakhirnya pemberontakan DI/TII.

G. Pemberontakan APRA (Pemberontakan Perang Ratu Adil)


Gerakan APRA (Pemberontakan Perang Ratu Adil)
muncul dikalangan KNIL yang dipimpin oleh Kapten
Westerling. Gerakan APRA ini dipelopori oleh
golongan kolonialis Belanda yang ingin
mengamankan kepentingan ekonominya di Indonesia
dan bermaksud mempertahankan kedudukan negara
Pasundan.
Tujuan Gerakan APRA yang sebenarnya adalah
untuk mempertahankan bentuk negara federal di
Indonesia dan memiliki tentara sendiri bagi negara-
negara RIS. Pada bulan Januari 1950, APRA
mengajukan ultimatum kepada pemerintah Republik
Indonesia dan negara Pasundan yang isinya tuntutan
agar APRA diakui sebagai tentara Pasundan dan
keberadaan gerakan teror pada tanggal 23 Januari 1950. APRA meneyerang kota Bandung dan
berhasil menduduki Markas Divisi Siliwangi. Akibatnya 79 anggota APRIS gugur termasuk Letnan
Kolonel Lembong.
Pemerintah RIS menempuh dua cara untuk menumpas pemberontakan APRA di Bandung,
yaitu dengan melakukan tekanan terhadap pimpinan tentara Belanda dan melakukan operasi
militer. Perdana Menteri RIS Moh. Hatta mengutus pasukannya ke Bandung dan mengadakan
perundingan dengan komisaris tinggi Belanda di Jakarta. Hasil dari perundingan tersebut,
Westering didesak untuk meninggalkan kota Bandung. Gerakan APRA semakin terdesak dan
5
terus dikejar oleh pasukan APRIS bersama rakyat dan akhirnya gerakan APRA dapat
dilumpuhkan.

H. Pemberontakan Andi Azis


Pemberontakan Andi Azis terjadi di Makassar (Ujung
Pandang, Sulawesi Selatan) di bawah pimpinan Kapten Andi
Azis, seorang mantan perwira KNIL yang baru saja diterima
masuk kedalam APRIS. Tujuan pemberontakan adalah untuk
mempertahankan keutuhan Negara Indonesia Timur (NIT),
sedangkan latar belakang pemberontakan ini karena
gerombolan Andi Azis menolak masuknya pasukan-pasukan
APRIS dan TNI.
Pada tanggal 5 April1950, gerombolan Andi Azis
mengadakan penyerangan serta menduduki tempat-tempat
vital dan menawan Panglima Teritorium Indonesia Timur
Letnan Kolonel A.J. Mokoginta.
Untuk menanggulangi pemberontakan Andi Azis tersebut,
pemerintah mengeluarkan ultimatum pada tanggal 8 April Andi Azis
1950. Isi ultimatum tersebut memerintahkan kepada Andi Azis
agar melaporkan diri serta mempertanggungjawabkan perbuatannya ke Jakarta dalam tempo 4 x
24 jam. Andi Azis juga diperintahkan untuk menarik pasukan, menyerahkan semua senjata, dan
membebaskan tawanan.
Setelah ultimatum tidak dipenuhi oleh Andi Azis, pemerintah mengirimkan pasukan ekspedisi
di bawah pimpinan Kolonel Alex Kawilarang. Pada tanggal 26 April 1950 seluruh pasukan
mendarat di Makassar dan terjadilah pertempuran. Pada tanggal 5 Agustus 1950 tiba-tiba
Markas Staf Brigade 10/Garuda Mataram di Makassar dikepung oleh pengikut Andi Azis, namun
berhasil dipukul mundur pihak TNI. Perisitiwa ini dikenal dengan peristiwa a5 Agustus 1950.
Setelah terjadi pertempuran selama dua hari pasukan yang mendukung gerakan Andi Azis,
yakni KNIL/KL minta berunding. Pada tanggal 8 Agustus 1950 terjadi kesepakatan antara Kolonel
Kawilarang (TNI) dan Mayor Jenderal Scheffelaar (KNIL/KL). Isi kesepakatan yaitu penghentian
tembak-menembak, KNIL/KL harus meninggalkan Makassar dan menanggalkan semua
senjatanya. Akhirnya Andi Azis dapat ditangkap dan diadili di Pengadilan Militer Yogyakarta pada
tahun 1953 dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

I. Gerakan Republik Maluku Selatan (RMS)


Pada tanggal 25 April 1950 diproklamasikan berdirinya
Republik Maluku Selatan (RMS) diawah pimpinan Mr. Dr.
Christian Robert Steven Soumokil, seorang mantan jaksa
agung dari Negara Indonesia Timur, Soumokil tidak
menyetujui terbentuknya Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) dan tidak menyetujui penggabungan
daerah-daergh Negara Indonesia Timur ke dalam wilayah
kekuasaan Republik Indonesia. Soumokil berusaha
melepaskan wilayah Maluku Tengah dan NIT dari RIS.
Berita mengenai berdirinya RIS tersebut merupakan
ancaman bagi keutuhan negara RIS. Untuk mengatasi
masalah tersebut, Pemerintah menempuh beberapa
langkah. Sebagai langkah awal, pemerintah RIS menempuh cara damai dengan mengirim DR. J.
6
Leimena. Misi tersebut ditolak oleh Soumokil, bahkan Soumokil minta bantuan, perhatian, dan
pengakuan dari negara lain terutama da Belanda, Amerika Serikat, dan komisi PBB untuk
Indonesia.
Usaha damai yang telah dilakukan oleh pemerintah RIS menemui jalan buntu. Pemerintah
RIS memutuskan untuk melaksanakan ekspedisi militer. Ekspedisi militer dipimpin oleh Kolonel
A.E, Kawilarang sebagai panglima tentara dan teritorium Indonesia Timur.
Pada awal Nobember 1950 kota Ambon dapat dikuasai, namun dalam perebutan Benteng
Nieuw Victoria, Letnan Kolonel Slamet Riyadi gugur. Pada tanggal 12 Desember 1963, Soumokil
baru dapat ditangkap dan kemudian dihadapkan pada Mahkamah Militer Luar Biasa di Jakarta
dan dijatuhi hukuman mati

J. Pemberontakan PRRI dan Permesta di Indonesia


Penyebab langsung pemberontakan
PRRI/Permesta adalah adanya hubungan yang
tidak harmonis antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah terutama di Sumatra dan
Sulawesi mengenai masalah otonomi daerah
serta perimbangan keuangan antara pusat dan
daerah. Sikap tidak puas tersebut mendapat
dukungan dari sejumlah perwira militer. Para
panglima militer itu membentuk dewan sebagai
berikut:
1. Dewan Banteng dibentuk tanggal 20
Desember 1956 di Sumatra Barat oleh
Letnan Kolonel Ahmad Husein.
2. Dewan Gajah dibentuk tanggal 20
Desember 1956 di Sumatra Barat oleh
Letnan Kolonel Maludin Simbolon.
3. Dewan Garuda dibentuk pada
pertengahan bulan Januari 1957 oleh
Letnan Kolonel Berlian.
4. Dewan Manguni dibentuk pada tanggal 17 Februari 1957 di Manado oleh Mayor Somba.
Kemudiann para tokoh militer dan sipil pada tanggal 9 Januari 1958 mengadakan pertemuan
di Sungai Dareh, Sumatra Barat. Dalam pertemuan tersebut dibicarakan masalah pembentukan
pemerintah baru dan hal-hal yang berhubungan dengan pemerintah baru tersebut.
Pada tanggal 15 Februari 1958, Letnan Kolonel Ahmad Husei memproklamasikan berdirinya
Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan Perdana Menteri Syafruddin
Prawiranegara.
Untuk menghadapi pemberontakan PRRI, pemerintah melakukan Operasi 17 Agustus yang
dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Yani. Tujuan operasi ini adalah untuk menghancurkan
kekuatan pemberontak dan mencegah campur tangan asing.
Sementara itu, setelah dibentuk Dewan Manguni, para tokoh militer di Sulawesi
memproklamasikan Piagam Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). Proklamasi di Sulawesi
dipelopori oleh Letnan Kolonel Ventje Sumual Panglima Wirabhuana. Permesta kemudian
bergabung dengan PRRI.
Untuk menumpas pemberontakan ini, pemerintah malakukan operasi militer gabungan yang
bernama Operasi Merdeka dimpimpin oleh Letnan Kolonel Rukminto Hendranigrat. Operasi
menumpas Permesta ini sangat kuat karena musuh memiliki persenjataan modern buatan
7
Amerika Serikat yang terbukti dengan ditembaknya Pesawat Angkatan Udara Revolusioner
(Aurev) yang dikemudikan oleh Allan L. Pope seorang warna negara Amerika Serikat.
Pesawat itu ditembak pada tanggal 18 Mei 1958 di atas kota Ambon. Pada bulan Agustus
1958, pemberontakan Permesta baru dapat ditumpas. Kemudian pada tahun 1961, pemerintah
membuka kesempatan kepada sisa-sisa pendukung Permesta untuk kembali ke Republik
Indonesia.

K. Peristiwa G-30-S/PKI
Peristiwa G-30-S/PKI diawali dengan adanya
pertentangan antara PKI dan Angkatan Darat (AD)
yang disebabkan adanya perbedaan ideologi serta
kepentingan antara PKI dan Angkatan Darat
menyebabkan keduanya bersaing satu sama lain.
Sesuai dengan ideologi yang dianutnya, PKI
berkepentingan merintis berdirinya negara komunis.
Adapun Angkatan Darat sebagai kekuatan pertahanan
negara berkepentingan mengamankan Pancasila
sebagai dasar negara.
Pada bulan Januari 1965 PKI mengajukan gagasan
pembentukan angkatan kelima. Gagasan tersebut
berisi tuntutan agar kaum buruh dan tani
dipersenjatai Hal tersebut dilakukan untuk
menggalang kekuatan menghadapi neokolonial
imperialisme (nekolim) Inggris dalam rangka Dwikora.
Pada bulan Mei 1965, PKI melempar isu adanya Dewan Jenderal dalam tubuh Angkatan Darat.
Menurut PKI, Dewan Jenderal ditafsirkan sebagai badan yang mempersiapkan perebutan
kekuasaan dari Presiden Soekarno.
Angkatan Darat secara tegas menolak gagasan pembentukan angkatan kelima. Menurut
Men/Pangad Letnan Jenderal Ahmad Yani, pembentukan angkatan kelima tidak efisien dan
merugikan revolusi Indonesia. Penolakan pembentukan angkatan kelima dinyatakan pula oleh
Laksamana Muda Martadinata atas nama Angkatan Laut. Mereka hanya dapat menerima jika
angkatan kelima berada dalam lingkungan ABRI dan ditangan komando perwira yang
profesional.
Adapun dalam menanggapi adanya isu Dewan Jenderal, pimpinan Angkatan Darat
meyakinkan presiden akan kesetiaan mereka terhadap pemerintah. Pimpinan Angkata Darat
menyatakan bahwa dewa yang ada dalam Angkatan Darat bukan Dewan Jenderal, melainkan
Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) yang bertugas memberikan usul kepada
Men/Pangad tentang promosi jabatan dan pangkat para perwira tinggi.
Di tengah persaingan antara PKI dan Angkatan Darat, pada bulan Juli 1965 muncul berita
tentang memburuknya kesehatan Presiden Soekarno. Menurut tim dokter yang khusus
didatangkan dari RRC, ada kemungkinan presiden akan lumpuh atau meninggal. Pimpinan PKI
yang mengetahui berita itu langsung dari dokter-dokter RRC, merasa perlu segera mengambil
tindakan pemberontakan yang dinamakan Gerakan 30 September atau yang dikenal dengan
nama G-30-S/PKI.
Letnan Kolonel Untung sebagai pimpinan gerakan memerintahkan kepada seluruh anggota
gerakan unutk mulai bergerak pada dini hari 1 Oktober 1965. Pada dini hari itu, mereka
melakukan serangkaian penculikan dan pembunuhan terhadap enam perwira tinggi dan seorang
perwira pertama dari Angkatan Darat.
8
Para perwira Angkata Dara tersebut disiksa dan dibunuh yang kemudian dimasukkan ke
dalam satu sumur tua di Lubang Buaya yang terletak di sebelah selatan Pangkalan Udara Utama
Halim Perdanankusuma. Enam jenderal korban dari TNI Angkatan Darat tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Letnan Jenderal Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat atau Men/Pangad).
2. Mayor Jenderal R. Suprapto (Deputi II Pangad).
3. Mayor Jenderal Haryono Mas Tirtodarmo (Deputi III Pangad).
4. Mayor Jenderal Siswondo Parman (Asisten I Pangad).
5. Brigadir Jenderal Donald Izacus Panjaitan (Asisten IV Pangad).
6. Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur).

Ketika terjadinya penculikan para perwira Angkatan Darat, Jenderal A.H. Nasution yang juga
menjadi target penculikan berhasil menyelamatkan diri setelah kakinya tertembak. Namun,
putrinya yang bernama Ade Irma Suryani menjadi korban sasaran tembak dan kemudian gugur.
Ajudan Jenderal A.H Nasution yang bernama Letnan Satu Pierre Andreas Tendean juga menjadi
korban, sedangkan Pembantu Letnan Polisi Karel Satsuit Tubun gugur pada saat melakukan
perlawanan terhadap gerombolan yang berusaha menculik Jenderal A.H. Nasution.
Pembunuhan dan penculikan serupa juga terjadi di Yogyakarta dan menimbulkan korban
Komando Resimen 072 Pamungkas, Kolonel Katamso serta Kepala Staf Korem 072 Pamungkas
Letkol Sugiyono. Keduanya dibunuh dengan kejam di Kentungan, daerah markas suatu batalion
yang dikuasai oleh perwira komunis.
Penumpasan G-30-S/PKI dilakukan setelah menerima laporan terjadinya penculikan para
pemimpin TNI Angkatan Darat, Mayor Jenderal Soeharto sebagai panglima Kostrad (Komando
Strategi Angkatan Darat) segera mengamibl langkah-langkah untuk memulihkan keamanan di ibu
kota. Langkah-langkah tersebut yaitu dengan menyelamatkan dua objek vital, yaitu Gedung RRI
dan pusat telekomunikasi. Dalam waktu dua puluh lima menit resimen RPKAD di bawah Sarwo
Edhi berhasil merebut kedua objek tersebut. Pada pukul 20.10 WIB Mayor Jenderal Soeharto
selaku pimpinan sementara Angkatan Darat megeluarkan pernyataan resmi yang isisnya
memberitahukan kepada seluruh rakyat bahwa pada tanggal 1 Oktober 1965 telah terjadi
peristiwa penculikan beberapa perwira tinggi Angkatan Darat yang dilakukan oleh golongan
kontrarevolusioner yang menamakan dirinya Gestapu (Gerakan 30 September).
Selanjutnya, mereka telah mengambil alih kekuasaan negara. Mayor Jenderal Soeharto
menegaskan bahwa kekuatan Gestapu dapat dihancurkan dan NKRI yang berdasarkan Pancasila
9
pasti tetap jaya. Pidato Mayor Jenderal Soeharto tersebut dapat meredakan kegelisahan rakyat
dan mereka dapat mengetahui gambaran yang jelas tentang situasi negara.
Operasi penumpasan dilanjutkan dengan sasaran Pangkalan Udara Utama/ Lanuma Halim
Perdanakusuma, yang menjadi basis kekuatan G-30-S/PKI. Operasi ini bertujuan untuk mecari
tempat dan mengusut nasib para Jenderal yang diculik.
Kemudian operasi dilanjutkan ke Lubang Buaya. Atas petunjuk dari Ajudan Brigadir Polisi
Sukitman, pada tanggal 3 Oktober ditemukan sumur tua tempat penguburan jenazah para
perwira Angkatan Darat. Pada tanggal 4 Oktober dilakukan pengangkatan seluruh jenazah para
perwira dan pada tanggal 5 Oktober para perwira dimakamkan di Taman Makam Pahlawan
Kalibata. Para perwira dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi serta diberikan pangkat setingkat
lebih tinggi secara anumerta.

10

Anda mungkin juga menyukai