Anda di halaman 1dari 44

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi saluran

pernapasan yang disebabkan oleh virus atau bakteri dan berlangsung selama 14

hari. Penyakit ISPA merupakan infeksi akut yang menyerang saluran pernapasan

bagian atas dan bagian bawah. Gejala yang ditimbulkan yaitu gejala ringan

(batuk dan pilek), gejala sedang (sesak danwheezing) bahkan sampai gejala yang

berat (sianosis dan pernapasan cuping hidung). Komplikasi ISPA yang berat

mengenai jaringan paru dapat menyebabkan terjadinya pneumonia. Pneumonia

merupakan penyakit infeksi penyebab kematian nomor satu pada balita

(Riskesdas, 2013). Beberapa faktor risiko terjadinya ISPA adalah faktor

lingkungan, ventilasi, kepadatan rumah, umur, berat badan lahir, imunisasi, dan

faktor perilaku (Naning et al., 2012).

World Health Organization memperkirakan insidens ISPA di negara

berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup

adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Pada tahun 2010, jumlah

kematian pada balita Indonesia sebanyak 151.000 kejadian, dimana 14% dari

kejadian tersebut disebabkan oleh pneumonia (WHO, 2012).

Berdasarkan hasil presentasi angka kesakitan jumlah kasus ISPA di

Indonesia tahun 2014 sebanyak 29,47%, dari lima provinsi dengan ISPA

tertinggi adalah Jawa Barat (43,22%), Jawa Timur (35,36%), Jawa Tengah

1
2

(29,89%), DKI Jakarta (39,33%), Banten (30,48%) (Ditjen PP dan PL,

Kemenkes RI, 2015).

Berdasarkan Laporan hasil presentasi angka kesakitan jumlah kasus ISPA

di Indonesia tahun 2015 sebanyak 63,45%, dari lima provinsi dengan ISPA

tertinggi adalah Jawa Barat (109,74%), Jawa Timur (70,24%), DKI Jakarta

(110,03%), Jawa Tengah (30,71%), Nusa Tenggara Barat (147,82%) (Ditjen P2P

Kemenkes RI, 2016).

Sepanjang tahun 2012 hingga 2015 dimana pada tahun 2012 jumlah

kasus ISPA berkategori ISPA bukan Pneumonia sebanyak 137.123, kemudian

pada tahun 2013 menjadi 157.578 kasus ISPA bukan pneumonia, pada tahun

2014 menjadi 157.578 kasus ISPA bukan pneumonia, dan pada tahun 2015

menjadi 55.521 kasus ISPA bukan pneumonia (Dinkes Sultera 2015).

Presentase balita yang ditemukan dan ditangani menurut Kabupaten/ Kota

Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2015 yaitu tertinggi didapat oleh Kabupaten

Kolaka (53,49%), dan Konawe (24,51%), terendah diperoleh Kolaka Timur

(3,16%). Sementara itu ada tiga kabupaten yang tidak menampilkan cakupan

balita pneumonia yang ditangani yaitu Konawe Selatan, Wakatobi, dan Konawe

Kepulauan. Tidak adanya catatan khusus pneumonia yang ditemukan dan

ditangani, tetapi lebih tidak adanya laporan dari Dinas Kesehatan dari Kabupaten

yang bersangkutan (Dinkes Sultra, 2016). Adapum variabel yang akan diteliti

Kepadatan hunian berdasarkan KepMenkes RI No. 829 tahun 1999

tentang kesehatan perumahan menetapkan bahwa luas ruang tidur minimal 8 m2


3

dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur, kecuali anak dibawah

5 tahun. Bangunan yang sempit dan tidak sesuai dengan jumlah penghuninya

akan mempunyai dampak kurangnya oksigen didalam ruangan sehingga daya

tahan penghuninya menurun, kemudian cepat timbulnya penyakit saluran

pernafasan seperti ISPA.

Penggunaan Anti nyamuk bakar sebagai alat untuk menghindari gigitan

nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan karena menghasilkan

asap dan bau tidak sedap. Adanya pencemaran udara di lingkungan rumah akan

merusak mekanisme pertahanan paru-paru sehingga mempermudah timbulnya

gangguan pernafasan.

Bahan bakar yang digunakan untuk memasak sehari-hari dapat

menyebabkan kualitas udara menjadi rusak. Kualitas udara di 74% wilayah

pedesaan di China tidak memenuhi standar nasional pada tahun 2002, hal ini

menimbulkan terjadinya peningkatan penyakit paru dan penyakit paru ini telah

menyebabkan 1,3 juta kematian.

Keberadaan perokok dalam rumah diamana paparan asap rokok

merupakan penyebab signifikan masalah kesehatan seperti pernafasan akut

infeksi (ISPA). Satu batang rokok dibakar maka akan mengeluarkan sekitar 4000

bahan kimia seperti nikotin, gas carbon monoksida, nitrogen oksida, hidrogen
4

cianida, amonia, acrolein, acetilen, benzoldehide, urethane, methanol, conmarin,

4-ethyl cathecol, ortcresor peryline dan lainnya.

Penulis melakukan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Abeli karena

berdasarkan data yang ada penyakit ISPA di Wilayah Kerja Puskesmas Abeli

meningkat dari tahun ketahun, berdasarkan dari data 3 tahun terakhir yang

disebabkan oleh faktor lingkungan.

Berdasarkan Laporan puskesmas abeli Kota Kendari pada tahun 2014

hingga 2017 dimana pada setiap tahunnya penyakit ispa di wilayah kerja

Puskesmas Jati Raya mengalami kenaikan, pada tahun 2014 sebanyak 3.452

kasus ispa, sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 2.732 kasus, dan pada tahun

2016 sebanyak 30.87 kasus, sedangankan pada tahun 2017 pada bulan januari –

juni sebanyak 1.411 kasus fenomena yang ada di abeli.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang maka dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut “Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian

Penyakit ISPA (Saluran Pernapasan Akut) dipuskesmas abeli Kota Kendari

2017”.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini terbagi atas tujuan umum

dan tujuan khusus


5

1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan faktor lingkungan dengan kejadian ISPA di

Puskesmas Abeli Kota Kendari 2017.

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian ISPA di

wilayah kerja Puskesmas Abeli Kota Kendari Tahun 2017.

b. Menegtahui hubungan antara penggunaan anti nyamuk bakar dengan

kejadian ISPA di walayah kerja Puskesmas Abeli Kota Kendari Tahun

2017.

c. Mengetahui hubungan antara bahan bakar untuk memasak dengan

kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas Abeli Kota Kendari Tahun

2017.

d. Mengetahui hubungan antara keberadaan perokok dengan kejadian

penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas Abeli Kota Kendari Tahun

2017.

D. Manfaat Penelitian

a. Bagi Penulis

Bagi Penulis Melalui penelitian ini penulis berharap dapat

memperoleh pengetahuan dan proses pembelajaran dalam mengetahui

Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian penyakit ispa diwilayah

kerja puskesmas abeli kota kendari tahun 2017.


6

b. Bagi Instansi

Sebagai gambaran terhadap puskesmas untuk lebih mempromosikan

tentang bahaya ISPA kepada masyarakat, agar masyarakat mampu

mengenali lebih dini tentang ISPA pada berbagai usia.

c. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan bisa menjadi suatu pengalaman berharga

bagi peneliti dan dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat serta

menambah wawasan pengetahuan.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Puskesmas abeli yang berada di kota

kendari, Dalam penelitian ini, ruang lingkup variabel penelitian hanya terbatas

pada Kepadatan Hunian, Penggunaan Anti Nyamuk Bakar, Bahan Bakar

Untuk Memasak dan Keberadaan Perokok Dalam Rumah.

F. Definisi dan Istilah, Glosarium

1. Acute Respiratory Infection adalah infeksi saluran pernapasan

2. Infection adalah masuknya kuman kedalam tubuh manusia

3. Respiratory tract adalah saluran pernapasan

4. Acute Infection adalah infeksi akut yang berlangsung selama 14 hari


7

G. Organisasi Penelitian

penelitian ini berjudul faktor-faktor yang berhubungan dengan

kejadian ISPA di puskesmas abeli kota kendari tahun 2017, yang dibimbing

oleh Bapak Pitrah Aspian, S.,Sos., M.,Sc selaku Pembimbing I, dan Bapak La

Ode Ahmad Saktiansyah S.K.M.,M.P.H selaku Pembimbing II.


8

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang ISPA

1. Definisi ISPA

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit akut yang

menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung

hingga kantong paru (alveoli) termaksud jaringan adneksanya seperti

sinus/rongga disekitar hidung (sinus para nasal), rongga telinga tengah dan

pleura (Kementrian Kesehatan, 2009). Istilah ISPA mengandung tiga unsur

yaitu infeksi, saluran pernapasan dan akut. Infeksi adalah masuknya kuman

atau mikroorganisme kedalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga

menimbulkan gejala penyakit. Adapun saluran pernapasan adalah organ

dimulai dari hidung sampai alveoli beserta organ adneksa seperti sinus-sinus,

rongga telinga, dan pleura. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung

sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut

meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA

proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

Penyakit saluran pernapasan pada umumnya dimulai dengan

keluhan dan gejala ringan. Gejala dan keluhan tersebut dapat menjadi lebih
9

berat dan bila semakin berat dapat mengalami kegagalan pernapasan dan

mungkin dapat meninggal (Depkes, 2009).

Mikroorganisme yang dapat menyebabkan ISPA ada lebih dari 300 jenis,

terdiri atas golongan bakteri, virus, riketsia dan jamur (Depkes RI, 2002). Di

negaranegara berkembang umumnya kuman penyebab ISPA adalah

streptokokus pneumonia dan Hemofilus influenza (WHO, 2002).

Infeksi Saluran Pernafasan Akut sering disingkat dengan ISPA, istilah ini

diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections

(ARI). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan

dan akut, dengan pengertian sebagai berikut:

a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh

manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.

b. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli

beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah

dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian

atas.

c. Saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan

organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru

termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract). Infeksi akut

adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari


10

diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa

penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat

berlangsung lebih dari 14 hari.

World Health Organization memperkirakan insidens ISPA di negara

berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah

15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Pada tahun 2010, jumlah kematian

pada balita Indonesia sebanyak 151.000 kejadian, dimana 14% dari kejadian tersebut

disebabkan oleh pneumonia (WHO, 2012).

ISPA dapat disebabkan oleh virus, bakteria maupun riketsia, sedangkan

infeksi bakterial sering merupakan penyulit ISPA yang disebabkan oleh virus,

terutama bila ada epidemi atau pandemi. Penyulit bakterial umumnya disertai

keradangan parenkim.

Virus pernapasan merupakan penyebab terbesar ISPA. Hingga saat kini telah

dikenal lebih dari 100 jenis virus penyebab ISPA. Infeksi virus memberikan

gambaran klinik yang khas akan tetapi sebaliknya beberapa jenis virus bersama-sama

dapat pula memberikan gambaran yang hampir sama.

2. Klasifikasi ISPA

a. Menurut Depkes RI (2002)

1. ISPA ringan

Seseorang yang menderita ISPA ringan apabila ditemukan gejala

batuk, pilek, dan sesak.


11

2. ISPA sedang

ISPA sedang apabila timbul gejala-gejala sesak , suhu tubuh > 390C

dan bila bernafas mengeluarkan suara seperti mengorok.

3. ISPA berat

Gejala meliputi : kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak teraba,

nafsu makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru (sianosis) dan

gelisah.

b. Berdasarkan umur (Kemenkes RI, 2011), sebagai berikut :

1. Kelompok umur < 2 bulan, diklasifikasikan atas :

a) Pneumonia berat: bila disertai dengan tanda-tanda klinis seperti

berhenti menyusu (jika sebelumnya menyusu dengan baik),

kejang, rasa kantuk yang tidak wajar atau sulit bangun, stridor

pada anak yang tenang, mengi, demam (38ºC atau lebih) atau suhu

tubuh yang rendah (di bawah 35,5 ºC), pernapasan cepat 60 kali

atau lebih per menit, penarikan dinding dada berat, sianosis sentral

(pada lidah), serangan apnea, distensi abdomen dan abdomen

tegang.

b) Bukan pneumonia: jika anak bernapas dengan frekuensi kurang

dari 60 kali per menit dan tidak terdapat tanda pneumonia seperti

di atas.

2. Kelompok umur 2 bulan - < 5 tahun, diklasifikasikan atas :


12

a) Pneumonia sangat berat: batuk atau kesulitan bernapas yang

disertai dengan sianosis sentral, tidak dapat minum, adanya

penarikan dinding dada, anak kejang dan sulit dibangunkan.

b) Pneumonia berat: batuk atau kesulitan bernapas dan penarikan

dinding dada, tetapi tidak disertai sianosis sentral dan dapat

minum.

c) Pneumonia: batuk (atau kesulitan bernapas) dan pernapasan cepat

tanpa penarikan dinding dada.

d) Bukan pneumonia (batuk pilek biasa): batuk (atau kesulitan

bernapas) tanpa pernapasan cepat atau penarikan dinding dada.

3. Kelompok umur dewasa yang mempunyai faktor risiko lebih tinggi

untuk pneumonia (Kurniawan dan Israr, 2009), yaitu :

a) Usia lebih dari 65 tahun

b) Merokok

c) Malnutrisi baik karena kurangnya asupan makan ataupun

dikarenakan penyakit kronis lain.

d) Kelompok dengan penyakit paru, termasuk kista fibrosis, asma,

PPOK, dan emfisema.

e) Kelompok dengan masalah-masalah medis lain, termasuk diabetes

dan penyakit jantung.

f) Kelompok dengan sistem imunitas dikarenakan HIV, transplantasi

organ, kemoterapi atau penggunaan steroid lama.


13

3. Faktor Resiko yang Mempengaruhi ISPA

Berdasarkan hasil penelitian, ISPA yang terjadi pada ibu dan anak

berhubungan dengan penggunaan bahan bakar untuk memasak dan kepadatan

penghuni rumah, demikian pula terdapat pengaruh pencemaran di dalam rumah

terhadap ISPA pada anak dan orang dewasa. Pembakaran pada kegiatan rumah

tangga dapat menghasilkan bahan pencemar antara lain asap, debu, grid (pasir

halus) dan gas (CO dan NO). Demikian pula pembakaran obat nyamuk,

membakar kayu di dapur mempunyai efek terhadap kesehatan manusia

terutama Balita baik yang bersifat akut maupun kronis. Gangguan akut

misalnya iritasi saluran pernafasan dan iritasimata. Faktor lingkungan rumah

seperti ventilasi juga berperan dalam penularan ISPA, dimana ventilasi dapat

memelihara kondisi atmosphere yang menyenangkan dan menyehatkan bagi

manusia. Suatu studi melaporkan bahwa upaya penurunan angka kesakitan

ISPA berat dan sedang dapat dilakukan di antaranya dengan membuat ventilasi

yang cukup untuk mengurangi polusi asap dapur dan mengurangi polusi udara

lainnya termasuk asap rokok. Anak yang tinggal di rumah yang padat

(<10m2/orang) akan mendapatkan risiko ISPA sebesar 1,75 kali dibandingkan

dengan anak yang tinggal dirumah yang tidak padat (Achmadi, 1993 dalam

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2004).


14

Faktor lain yang berperan dalam penanggulangan ISPA adalah masih

buruknya manajemen program penanggulangan ISPA seperti masih lemahnya

deteksi dini kasus ISPA terutama pneumoni, lemahnya manajemen kasus oleh

petugas kesehatan, serta pengetahuan yang kurang dari masyarakat akan gejala

dan upaya penanggulangannya, sehingga banyaknya kasus ISPA yang datang

ke sarana pelayanan kesehatan sudah dalam kategori berat (Badan Penelitian

dan Pengembangan Kesehatan, 2004). Serta ada juga factor penyebab ISPA

sebagai berikut:

1. Faktor umur

Umur mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk terjadinya

ISPA. Oleh sebab itu kejadian ISPA pada bayi dan anak balita akan lebih

tinggi jika dibandingkan dengan orang dewasa. Kejadian ISPA pada bayi

dan balita akan memberikan gambaran klinik yang lebih besar dan jelek,

hal ini disebabkan karena ISPA pada bayi dan balita umumnya merupakan

kejadian infeksi pertama serta belum terbentuknya secara optimal proses

kekebalan secara alamiah. Sedangkan orang dewasa sudah banyak terjadi

kekebalan alamiah yang lebih optimal akibat pengalaman infeksi yang

terjadi sebelumnya. Data SKRT tahun 1991 sampai 2002 menunjukkan

kelompok umur dengan prevalensi kematian ISPA tertinggi di Indonesia

ada pada kelompok umur bayi dan balita yaitu tahun 1991 umur 12 - 23

bulan (9,8%), tahun 1994 umur 6 - 35 bulan (10%), tahun 1997 umur 6 - 11

bulan (10%), tahun 2002 umur 6 - 23 tahun (8%). Berdasarkan hasil


15

penelitian Mairusnita pada balita yang Berobat ke Badan Pelayanan

Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah (BPKRSUD) Kota Langsa Tahun

2006, didapatkan bahwa proporsi balita penderita ISPA terbesar pada

kelompok umur 2 - 59 bulan yaitu 86,4% sementara kelompok umur

dibawah 2 bulan yaitu 13,6%.

2. Jenis Kelamin

Berdasarkan Pedoman Rencana Kerja Jangka Menengah Nasional

Penanggulangan Pneumonia Balita Tahun 2005 - 2009 menunjukkan

bahwa anak laki-laki memiliki risiko lebih tinggi daripada anak perempuan

untuk terkena ISPA.

Berdasarkan hasil penelitian Taisir di Kabupaten Aceh Selatan tahun

2005, menunjukkan bahwa proporsi ISPA berdasarkan jenis kelamin pada

balita laki-laki (43,3%) lebih tinggi dari pada proporsi ISPA pada balita

perempuan (33,7%), tetapi secara statistik, tidak ada hubungan yang

bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian ISPA pada balita di

kelurahan Lhok Bengkuang.

3. Faktor Lingkungan (Environment)

Pencemaran udara di dalam rumah selain berasal dari luar ruangan

dapat pula berasal dari sumber polutan di dalam rumah terutama aktivitas

penghuninya antara lain, penggunaan biomassa untuk memasak maupun

pemanas ruangan, asap dari sumber penerangan yang menggunakan bahan

bakar, asap rokok, penggunaan obat anti nyamuk, pelarut organik yang
16

mudah menguap (formaldehid) yang banyak dipakai pada peralatan perabot

rumah tangga dan sebagainya (Mukono, 1997). Menurut soesanto (2000)

yang dikutip dari Samsuddin (2000), rumah dengan bahan bakar minyak

tanah baik untuk memasak maupun sumber penerangan memberikan resiko

terkena ISPA pada balita 3,8 kali lebih besar dibandingkan dengan bahan

bakar gas. Asap rokok dalam rumah juga merupakan penyebab utama

terjadinya pencemaran udara dalam ruangan. Hasil penelitian yang

dilakukan Charles (1996), menyebutkan bahwa asap rokok dari orang yang

merokok dalam rumah serta pemakaian obat nyamuk bakar juga

merupakan resiko yang bermakna terhadap terjadinya penyakit ISPA.

Penggunaan obat anti nyamuk bakar sebagai alat untuk menghindari

gigitan nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan karena

hasilnya asap dan bau yang tidak sedap. Adanya pencemaran udara di

lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-paru

sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernapasan. Berdasarkan

penelitian yang dilakukan Indra Chahaya pemakaian obat nyamuk bakar

mempunyai exp (B) 19,97 yang berarti faktor pemakaian obat nyamuk

bakar mempunyai 19 kali beresiko terhadap terjadiya ISPA.

Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernapasan

dapat menyebabkan terjadinya:


17

a) Iritasi pada saluran pernapasan, hal ini dapat menyebabkan pergerakan

silia menjadi lambat , bahkan berhenti, sehingga mekanisme

pembersihan

b) saluran pernapasan menjadi terganggu Peningkatan produksi lendir

akibat iritasi bahan pencemar

c) Produksi lendir dapat menyebapkan penyempitan saluran pernapasan

d) Rusaknya sel pembunuh bakteri saluran pernapasan

e) Pembengkakan saluran pernapasan dan merangsang pertumbuhan sel

sehingga saluran pernapasan menjadi menyempit

f) Lepasnya silia dan lapisan sel selaput lendi

Akibat hal tersebut di atas maka menyebabkan terjadinya

kesulitan bernapas, sehingga benda asing termasuk Mikroorganisme

tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernapasan dan hal ini akan

memudahkan terjadinya infeksi saluran pernapasan (Soewasti, 2000).

4. Kepadatan Hunian

Berdasarkan KepMenkes RI No. 829 tahun 1999 tentang

kesehatan perumahan menetapkan bahwa luas ruang tidur minimal 8

m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur, kecuali

anak dibawah 5 tahun. Bangunan yang sempit dan tidak sesuai dengan

jumlah penghuninya akan mempunyai dampak kurangnya oksigen

didalam ruangan sehingga daya tahan penghuninya menurun,

kemudian cepat timbulnya penyakit saluran pernafasan seperti ISPA.


18

Kepadatan di dalam kamar terutama kamar balita yang tidak

sesuai dengan standar akan meningkatkan suhu ruangan yang

disebabkan oleh pengeluaran panas badan yang akan meningkatkan

kelembaban akibat uap air dari pemanasan tersebut. Dengan demikian,

semakin banyak jumlah penghuni ruangan tidur maka semakin cepat

udara ruangan mengalami pencemaran gas atau bakteri. Dengan

banyaknya penghuni, maka kadar oksigen dalam ruangan menurun

dan diikuti oleh peningkatan karbon dioksida dan dampak peningkatan

karbon dioksida dalam ruangan adalah penurunan kualitas udara dalam

ruangan.

Hasil penelitian Gulo tahun 2009 menunjukkan proporsi balita

yang tinggal di rumah yang kepadatan hunian rumahnya tergolong

padat menderita ISPA sebesar 88,9%. Hasil uji statistik diperoleh

bahwa ada hubungan yang bermakna antara kapadatan hunian rumah

dengan kejadian ISPA dengan nilai p = 0,037. Nilai Ratio Prevalens

kejadian ISPA pada balita yang tinggal di rumah yang kepadatan

hunian rumahnya tergolong padat dibanding dengan balita yang

tinggal di rumah yang kepadatan hunian rumahnya tergolong tidak

padat adalah 1,189. Artinya hunian rumah yang tergolong padat

merupakan faktor risiko terjadinya ISPA.

5. Penggunaan Anti Nyamuk bakar


19

Penggunaan Anti nyamuk sebagai alat untuk menghindari

gigitan nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan

karena menghasilkan asap dan bau tidak sedap. Adanya pencemaran

udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-

paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernafasan.

Berdasarkan hasil penelitian Afrida (2007), didapatkan bahwa adanya

hubungan yang bermakna antara penggunaan anti nyamuk dengan

kejadian penyakit ISPA (p <0,05)

6. Bahan Bakar Untuk Memasak

Bahan bakar yang digunakan untuk memasak sehari-hari dapat

menyebabkan kualitas udara menjadi rusak. Kualitas udara di 74%

wilayah pedesaan di China tidak memenuhi standar nasional pada

tahun 2002, hal ini menimbulkan terjadinya peningkatan penyakit paru

dan penyakit paru ini telah menyebabkan 1,3 juta kematian.

Berdasarkan hasil penelitian Afrida (2007), prevalens rate ISPA pada

bayi yang dirumahnya menggunakan bahan bakar untuk memasak

adalah minyak tanah sebesar 76,6%, sedangkan gas elpiji sebesar

33,3%. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa ada hubungan yang

bermakna antara penggunaan bahan bakar memasak dengan kejadian

penyakit ISPA (p < 0,05).

7. Keberadaan Perokok
20

Paparan asap rokok merupakan penyebab signifikan masalah

kesehatan seperti pernafasan akut infeksi (ISPA) pada anak.43 Satu

batang rokok dibakar maka akan mengeluarkan sekitar 4000 bahan

kimia seperti nikotin, gas carbon monoksida, nitrogen oksida,

hidrogen cianida, amonia, acrolein, acetilen, benzoldehide, urethane,

methanol, conmarin, 4-ethyl cathecol, ortcresor peryline dan lainnya.

Hasil penelitian Harianja di Kelurahan Kemenangan Tani Kecamatan

Medan Tuntungan tahun 2010 dengan desain cross sectional

menunjukkan ada hubungan antara keberadaan anggota keluarga yang

merokok dengan kejadian ISPA pada anak balita dengan nilai p =

0,001. Hasil Ratio Prevalens kejadian ISPA pada anak balita yang

memiliki anggota keluarga perokok dibanding dengan anak balita yang

tidak

Berdasarkan hasil penelitian Mukono tahun 2006 dengan

desain case control, berdasarkan analisis bivariat hubungan

keberadaan anggota keluarga yang merokok dengan kejadian ISPA

pada balita diperoleh nilai p = 0,000 dan OR 4,63 (95% CI: 2,04-

10,52). Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara keberadaan

anggota keluarga yang merokok dengan kejadian ISPA pada balita. OR

4,63 artinya anak balita yang tinggal di rumah dengan anggota

keluarga yang merokok kemungkinan untuk menderita ISPA 4,65 kali


21

dibandingkan balita yang tinggal di rumah dengan anggota keluarga

yang tidak merokok.

4. Pencegahan

ISPA dapat dicegah melalui beberapa cara baik dengan menghindarkan

atau mengurangi faktor risiko maupun melalui beberapa pendekatan, yaitu

dengan melakukan pendidikan kesehatan di komunitas, perbaikan gizi,

pelatihan petugas kesehatan dalam hal memanfaatkan pedoman diagnosis

dan pengobatan ISPA, penggunaan antibiotika yang benar dan efektif, dan

waktu untuk merujuk yang tepat dan segera bagi kasus ISPA terutama

pneumonia berat. Peningkatan gizi termasuk pemberian ASI eksklusif dan

asupan zinc, peningkatan cakupan imunisasi, dan pengurangan polusi udara

di dalam ruangan dapat pula mengurangi faktor risiko. Penelitian terkini juga

menyimpulkan bahwa mencuci tangan dapat mengurangi kejadian ISPA

(Depkes RI, 2010). Usaha pencegahan ISPA (WHO, 2003):

a. Pencegahan Non spesifik.

1. Meningkatkan derajat sosio-ekonomi

Meningkatkan derajat sosio-ekonomi dapat mengurangi

kejadian ISPA. Pada beberapa negara berpenghasilan rendah

pembiayaan kesehatan sangat kurang. Pembiayaan kesehatan yang

tidak cukup menyebabkan fasilitas kesehatan seperti infrastruktur

kesehatan untuk diagnostik dan terapeutik tidak adekuat dan tidak


22

memadai, tenaga kesehatan yang terampil terbatas, di tambah lagi

dengan akses ke fasilitas kesehatan sangat kurang (WHO, 2003).

2. Menurunkan angka kemiskinan

Angka kemiskinan yang sangat tinggi merupakan salah satu

faktor yang berpengaruh terhadap kejadian ISPA. Di negara

berkembang yang umumnya berpenghasilan rendah terdapat banyak

kasus ISPA karena susah untuk mendapat tempat tinggal yang layak

ditambah besarnya populasi anak akan semakin menambah tekanan

pada pengendalian dan pencegahan ISPA terutama pada aspek

pembiayaan (WHO, 2003).

3. Meningkatkan pendidikan kesehatan

Faktor yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas ISPA

adalah pendidikan ibu dan status sosio-ekonomi keluarga. Makin

rendah pendidikan ibu, makin tinggi prevalensi ISPA pada balita

(Depkes RI, 2010).

4. Meningkatkan status gizi

Pemberian imunisasi dapat menurunkan risiko untuk terkena

ISPA. Imunisasi yang berhubungan dengan kejadian penyakit ISPA

adalah imunisasi pertusis (DTP), campak, Haemophilus influenza,

dan pneumokokus (WHO, 2003).

Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan selamat

akan mendapat kekebalan alami terhadap ISPA sebagai komplikasi


23

campak. Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA yang

berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi

seperti difteri, pertusis, campak, maka peningkatan cakupan

imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA.

Untuk mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA,

diupayakan imunisasi lengkap. Bayi dan balita yang mempunyai

status imunisasi lengkap bila menderita ISPA dapat diharapkan

perkenbangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat (Hull,

2008).

Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan

pemberian imunisasi campak dan pertusis (DPT). Dengan imunisasi

campak yang efektif sekitar 11% kematian pneumonia balita dapat

dicegah dan dengan imunisasi pertusis (DPT) 6% kematian akibat

pneumonia dapat dicegah (Hull, 2008).

5. Meningkatkan derajat kesehatan

Akibat derajat kesehatan yang rendah maka penyakit infeksi

termasuk infeksi kronis dan infeksi HIV mudah ditemukan.

Banyaknya komorbid lain seperti malaria, campak, gizi kurang,

defisiensi vit A, defisiensi seng (Zn). tingginya prevalensi kolonisasi

patogen di nasofaring, tingginya kelahiran dengan berat lahir rendah,

tidak ada atau tidak memberikan ASI dan imunisasi yang tidak

adekwat memperburuk derajat kesehatan (Depkes RI, 2010).


24

6. Lingkungan yang bersih, bebas polusi

Status sosio-ekologi yang tidak baik ditandai dengan buruknya

lingkungan, daerah pemukiman kumuh dan padat, polusi dalam ruang

akibat penggunaan biomass (bahan bakar rumah tangga dari kayu dan

sekam padi), dan polusi udara luar ruang. Ditambah lagi dengan

tingkat pendidikan ibu yang kurang memadai serta adanya adat

kebiasaan dan kepercayaan lokal yang salah (Depkes RI, 2010).

b. Pencegahan Spesifik

1. Cegah BBLR

Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko untuk

meningkatnya ISPA. BBLR terdiri atas BBLR kurang bulan dan

BBLR cukup bulan/lebih bulan. BBLR kurang bulan (prematur)

khususnya yang masa kehamilannya <35 minggu, biasanya

mengalami penyulit seperti gangguan napas karena infeksi pada

saluran pernafasan (Depkes RI, 2010).

BLR berisiko mengalami gangguan proses adaptasi

pernapasan waktu lahir hingga dapat terjadi asfiksia, selain itu BBLR

juga berisiko mengalami gangguan napas yakni bayi baru lahir yang

bernafas cepat >60 kali/menit, lambat <30 kali/menit dapat disertai

sianosis pada mulut, bibir, mata dengan/tanpa retraksi dinding dada

serta merintih, dengan demikian BBLR sangat beresiko untuk terkena

ISPA dibandingkan bayi bukan BBLR (Depkes RI, 2010).


25

2. Pemberian makanan yang baik/gizi seimbang

Asupan gizi yang kurang merupakan risiko untuk kejadian

dan kematian balita dengan infeksi saluran pernapasan. Perbaikan

gizi seperti pemberian ASI ekslusif dan pemberian mikronutrien bisa

membantu pencegahan penyakit pada anak. Pemberian ASI

suboptimal mempunyai risiko kematian karena infeksi saluran napas

bawah, sebesar 20% (Depkes RI, 2010).

Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang

ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya

tahan tubuh yang kurang. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan

balita tidak mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan kekurangan

gizi. Pada keadaan gizi kurang, balita lebih mudah terserang ISPA

berat bahkan serangannya lebih lama (Depkes RI, 2010).

3. Vaksinasi

Vaksinasi yang tersedia untuk mencegah secara langsung

pneumonia adalah vaksin pertussis (ada dalam DTP), campak, Hib

(Haemophilus influenzae type b) dan Pneumococcus (PCV). Dua

vaksin diantaranya, yaitu pertussis dan campak telah masuk ke dalam

program vaksinasi nasional di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sedangkan Hib dan pneumokokus sudah dianjurkan oleh WHO dan

menurut laporan, kedua vaksin ini dapat mencegah kematian

1.075.000 anak setahun. Namun, karena harganya mahal belum


26

banyak negara yang memasukkan kedua vaksin tersebut ke dalam

program nasional imunisasi.

4. Vaksin Campak

Campak adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus

campak. Penyakit ini dapat dikatakan ringan karena dapat sembuh

dengan sendirinya, namun dapat dikatakan berat dengan berbagai

komplikasi seperti ISPA terutama pneumonia yang bahkan dapat

mengakibatkan kematian, terutama pada anak kurang gizi dan anak

dengan gangguan sistem imun (WHO, 2003).

Komplikasi pneumonia yang timbul pada anak yang sakit

campak biasanya berat. Menurunkan kejadian penyakit campak pada

balita dengan memberikan vaksinasi dapat menurunkan kematian

akibat pneumonia (Depkes RI, 2010)

5. Vaksin Pertusis

Penyakit pertussis dikenal sebagai batuk rejan atau batuk

seratus hari. Penyakit ini masih sering ditemui. Penyakit ini

disebabkan infeksi bacteria Bordetella pertussis. Vaksinasi terhadap

penyakit ini sudah lama masuk ke dalam program imunisasi nasional

di Indonesia, diberikan dalam sediaan DTP, bersama difteri dan

tetanus (Ngastiyah, 2005).

6. Vaksin Hib
27

Pada negara berkembang, bakteri Haemophilus influenzae

type b (Hib) merupakan penyebab ISPA dan radang otak (meningitis)

yang utama. Diduga Hib mengakibatkan penyakit berat pada 2

sampai 3 juta anak setiap tahun. Vaksin Hib sudah tersedia sejak

lebih dari 10 tahun, namun penggunaannya masih terbatas dan belum

merata.. Hal ini dimungkinkan karena harganya yang relatif mahal

dan informasi yang kurang. WHO menganjurkan agar Hib diberikan

kepada semua anak di negara berkembang (Somantri, 2007).

7. Vaksin Pneumococcus

Pneumokokus merupakan bakteri penyebab utama terutama

pneumonia pada anak di negara berkembang. Vaksin pneumokokus

sudah lama tersedia untuk anak usia diatas 2 tahun dan dewasa. Saat

ini vaksin pneumokokus untuk bayi dan anak dibawah 3 tahun sudah

tersedia, yang dikenal sebagai Pneumococcal Conjugate Vaccine

(PCV) (Ngastiyah, 2005).

B. Tinjauan Umum Tentang Rumah Sehat

1. Syarat rumah sehat

Sehat tidaknya rumah sangat erat kaitannya dengan angka kesakitan

penyakit menular, terutama ISPA. Aspek kesehatan dari rumah harus

menjamin kesehatan penghuninya dalam arti luas. Oleh karena itu diperlukan

syarat perumahan (Kasjono, 2011), sebagai berikut :


28

a. Memenuhi kebutuhan fisiologis. Secara fisik kebutuhan fisiologis

meliputi kebutuhan suhu, pencahayaan,perlindungan terhadap kebisingan,

ventilasi, dan tersedianya ruang yang optimal untuk bermain anak.

b. Memenuhi kebutuhan psikologis. Kebutuhan psikologis berfungsi untuk

menjamin privacy bagi penghuni yang tinggal di rumah tersebut secara

normal, memberi rasa keindahan dan memungkinkan hubungan yang

serasi antara orang tua dan anak. Adanya ruangan tersendiri bagi remaja

dan ruangan untuk berkumpulnya anggota keluarga serta ruang tamu

sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis dalam rumah.

c. Perlindungan terhadap penularan penyakit. Untuk mencegah penularan

penyakit diperlukan sarana air bersih, fasilitas pembuangan air kotor,

fasilitas penyimpanan makanan, menghindari adanya intervensi dari

serangga dan hama atau hewan lain yang dapat menularkan penyakit.

d. Perlindungan/pencegahan terhadap bahaya kecelakaan dalam rumah.

Agar terhindar dari kecelakaan maka konstruksi rumah harus kuat dan

memenuhi syarat bangunan, desain pencegahan terjadinya kebakaran dan

tersedianya alat pemadam kebakaran, pencegahan kecelakaan jatuh, dan

kecelakaan mekanis lainnya.

Menurut Kepmenkes RI Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang

persyaratan kesehatan perumahan (Depkes RI, 1999), syarat rumah sehat

adalah sebagai berikut :

a. Bahan bangunan
29

1) Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan bahan yang dapat

membahayakan kesehatan, antara lain : debu total kurang dari 150

ug/m2, asbestos kurang dari 0,5 serat/m3 per 24 jam, plumbum (Pb)

kurang dari 300 mg/kg bahan.

2) Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan

berkembangnya mikroorganisme pathogen.

b. Komponen dan penataan ruang

1) Lantai kedap air dan mudah dibersihkan

2) Dinding rumah memiliki ventilasi, di kamar mandi dan kamar cuci

kedap air dan mudah dibersihkan

3) Langit-langit rumah mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan

4) Bumbungan rumah 10 m dan ada penangkal petir

5) Ruang ditata sesuai dengan fungsi dan peruntukannya

6) Dapur harus memiliki sarana pembuangan asap.

7) Pencahayaan

Pencahayaan alam dan/atau buatan langsung maupun tidak

langsung dapat menerangi seluruh ruangan dengan intensitas

penerangan minimal 60 lux dan tidak menyilaukan mata.

c. Kualitas udara

1) Suhu udara nyaman antara 18 – 30 oC

2) Kelembaban udara 40 – 70 %

3) Gas SO2 kurang dari 0,10 ppm/24 jam


30

4) Pertukaran udara 5 kaki3/menit/penghuni

5) Gas CO kurang dari 100 ppm/8 jam

6) Gas formaldehid kurang dari 120 mg/m3.

d. Ventilasi

Luas lubang ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% luas lantai.

e. Penyediaan air

1) Tersedia sarana penyediaan air bersih dengan kapasitas minimal 60

liter/ orang/hari

2) Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan.

f. Pembuangan limbah

1) Limbah cair yang berasal rumah tangga tidak mencemari sumber air,

tidak menimbulkan bau, dan tidak mencemari permukaan tanah.

2) Limbah padat harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan bau

tidak mencemari permukaan tanah dan air tanah.

C. Tinjauan mengenai penelitian sebelumnya

1. Agrina, dkk (2014) dengan judul penelitian “Analisa Aspek Balita

Terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Rumah”

desain study yaitu “cross sectional study”. Hasil penelitian yaitu ada

hubungan antara usia dan kejadian ISPA.

2. Marlina lenni dkk (2014) dengan judul penelitian “factor-faktor yang

berhubungan dengan kejadian ISPA pada anak balita di puskesmas panya

bunganjae kabupaten mandailing natal” desain study yaitu “cross


31

sectional study”. Hasil penelitian yaitu ada hubungan antara factor-faktor

yang berhubungan dengan kejadia ISPA.

3. Lapasu cily pratiwi (2013) dengan judul penelitian “ Hubungan Kesehatan

Lingkungan Rumah Dengan Kejadian ISPA pada Lansia di Desa

Bilungala Kecamatan Bone Pantai Kabupaten Bone Bolango” desain

study yaitu “cross sectional study”. Hasil penelitian yaitu ada hubungan

lingkungan rumah dengan kejadian ISPA.

4. Wardani, neni kusuma dkk (2014) dengan judul penelitian “Hubungan

Antara Paparan Asap Rokok dengan Kejadian ISPA Pada Balita di Desa

Pucung Rejo Kabupaten Magelang” desian study yaitu “cross sectional

study”. Hasil penelitian yaitu ada hubungan paparan asap rokok dengan

kejadia ISPA.

5. Olivya stela dkk (2016) dengan judul penelitian “Hubungan Tingkat

Pengetahuan Orangtua Dengan Pencegahan ISPA pada Anak Balita di

Wilayah Kerja Puskesmas Tuminting Kota Manado” desian study yaitu

“cross sectional study”. Hasil penelitian yaitu ada hubungan tingkat

pengetahuan orangtua dengan pencegahan ISPA.


32

D. Kerangka teori

Dalam kerangka teori dijelaskan mengenai faktor-faktor apa saja yang

dapat mempengaruhi variabel yang akan diteliti, serta bagaimana alur

pemikiran mengenai hubungan diantara variabel-variabel tersebut.

Faktor host
1. Faktor umur Faktor Agent

2. Jenis Kelamin Virus

Bakteri

ISPA

Faktor Lingkungan

1. Kepadatan hunian
2. Penggunaan anti
nyamuk bakar
3. Bahan bakar untuk
memasak
4. Keberadaan perokok

Kerangka Teori Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian ISPA

Sumber : ( Dharmage, 2009; Prabu, 2009; Depkes RI, 2002 ).


33

E. Kerangka Konsep

Berdasarkan kerangka teori yang telah diuraikan pada studi pustaka, maka

peneliti membuat kerangka konsep untuk memudahkan mengidentifikasi konsep-

konsep sesuai penelitian sehingga dapat dimengerti.

Faktor Host

Umur
Jenis kelamin

Faktor Agent

Virus
bakteri
Hubungan Faktor
Kepadatan hunian Lingkungan Dengan
Kejadian Penyakit ISPA

Penggunaan anti
nyamuk bakar

Bahan bakar untuk


memasak

Keberadaan perokok

Keterangan :

: Variabel Bebas

: Variabel Terikat

: Variabel yang tidak di teliti


34

F. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka konsep maka hipotesis penelitian ini dapat

dirumuskan sebagai berikut:

1. Hipotesis

a. H0 : ρ = 0 (Tidak ada hubungan kepadatan hunian dengan tingkat

kejadian penyakit ISPA diwilayah kerja Puskesmas Abeli Kota

Kendari Tahun 2017).

Ha : ρ ≠ 0 (Ada hubungan kepadatan hunian dengan tingkat kejadian

penyakit ISPA diwilayah kerja Puskesmas Abeli Kota Kendari Tahun

2017).

b. H0 : ρ = 0 (Tidak ada hubungan penggunaan anti nyamuk bakar

dengan tingkat kejadian penyakit ISPA diwilayah Kerja Puskesmas

Abeli Kota Kendari Tahun 2017).

Ha : ρ ≠ 0 (Ada hubungan penggunaan anti nyamuk bakar dengan

tingkat kejadian penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas Abeli Kota

Kendari Tahun 2017)

c. H0 : ρ = 0 (Tidak ada hubungan bahan bakar untuk memasak dengan

tingkat kejadian penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas Abeli Kota

Kendari Tahun 2017).

d. Ha : ρ ≠ 0 (Ada hubungan bahan bakar untuk memasak dengan tingkat

kejadian penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas Abeli Kota

Kendari Tahun 2017).


35

e. H0 : ρ = 0 (Tidak ada hubungan keberadaan perokok dengan tingkat

kejadian penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas Abeli Kota

Kendari Tahun 2017).

f. Ha : ρ ≠ 0 (Ada hubungan keberadaan perokok dengan tingkat kejadian

penyakit ISPA diwilayah kerja Puskesmas Abeli Kota Kendari Tahun

2017).
36

III. METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan observasional

dengan menggunakan pendekatan cross sectional study yaitu penelitian

dilakukan dalam waktu bersamaan tetapi dengan subjek yang berbeda-beda,

dimaksudkan untuk melihat Hubungan Faktor Lingkungan dengan kejadian

penyakit ISPA di Puskesmas Abeli Kota Kendari Tahun 2017 (Arikunto yang

dikutip Siswanto, 2013).

B. Waktu dan Lokasi Penelitian

1. Waktu Penelitia

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari-februari tahun 2018.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian diwilayah kerja Puskesmas Abeli Kota Kendari

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang menderita

penyakit ISPA diwilayah kerja Puskesmas Abeli Kota Kendari Tahun 2017

berjumlah 1411 kasus.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara tertentu

hingga dianggap dapat mewakili populasinya (Sastroasmoro dan Ismael yang

dikutip Siswanto, 2013). Apabila jumlah populasi (N) diketahui maka teknik
37

pengambilan sampel dapat menggunakan rumus sebagai berikut (Sugyono,

2010) :

Keteranga :

N = Besar Populasi

n = Besar Sampel

P = Perkiraan proposi (prevalensi) variabel dependen pada populasi (0,95)

q = q-p

Z² 1- α = Statistik Z (Z=1,96 untuk α=0,05)

d = Delta presisi absolut atau margin of error yang diinginkan dikedua sisi

proporsi

(±10%).

𝑁.𝑍 2 𝑃𝑞
𝑛 = d2 (N−1)+Z2 𝑃𝑞

1411 (1,96)2 (0,05 .0,95)


n = 0,052 (1411−1)+ 1,962 (0,05 .0,95 )

1411 (3,8416 . 0,0475)


n = 0,0025(1410)+ 3,8416 . (0,00475)

433,74545
n = 5,94 +0,01825

433,74545
n = 5,95825

n = 72,76 jika dibulatkan

n = 73 responden
38

Dari rumus diatas maka ditarik sampel sebanyak 73 responden dari

jumlah keseluruhan populasi di Puskesmas Jati Raya Kecamatan Kadia 2017.

Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik penarikan Random Sampling

dalam pengambilan sampel penelitian yang populasinya berbeda-beda

sehingga semua populasi dianggap sama (Arikunto yang dikutip Siswanto,

2013).

D. Definisi Operasional Dan Kriteria Objektif

1. Kejadian ISPA

a. Definisi ISPA

Yang dimaksudkan dengan penderita ISPA dalam penelitian ini adalah

apabila subyek yang datang berobat ke Puskesmas dan dinyatakan

menderita penyakit ISPA oleh petugas kesehatan tempat dimana subyek

berobat.

Kriteria Objektif :

ISPA : Subyek yang telah ditetapkan sebagai penderita

ISPA

Tidak ISPA : Subyek yang berobat dan dinyatakan tidak

menderita ISPA

2. Kepadatan Hunian

a. Definisi Kepadatan Hunian

Kepadatan hunian untuk seluruh perumahan biasa dinyatakan dalam

m² per orang. Luas minimum per orang sangat relatif, tergantung dari
39

kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk perumahan

sederhana, minimum 8 m²/orang yang diukur dengan menggunakan

kuesioner yang merujuk pada skala Gutman.

kriteria objektif :

Memenuhi syarat : jika luas rumah minimal 8 m2 untuk

satu orang

Tidak memenuhi syarat : jika tidak memenuhi kriteria diatas

3. Penggunaan anti nyamuk bakar

a. Definisi Penggunaan Anti Nyamuk Bakar

Penggunaan anti nyamuk bakar adalah kebiasaan seseorang untuk

menggunakan anti nyamuk bakar agar terlindungi dari gigtan nyamuk

dengan cara berulang. Penilaian dalam kuesioner merujuk pada skala

Gutman.

Kriteria objektif :

menggunakan : jika dalam rumah menggunakan anti nyamuk

bakar.

Tidak menggunakan : jika tidak menggunakan anti nyamuk bakar

4. Bahan bakar untuk memasak

a. Definisi bahan bakar untuk memasak

Kebiasaan seseorang menggunakan bahan bakar untuk memasak

sehari-hari dengan mengguanakn bahan bakar seperti : kayu bakar,


40

minyak tanah, gas dan listrik penilaian dalam kuesioner merujuk pada

skala gutman.

Kriteria objektif :

Menggunakan : Jika dalam rumah menggunakan bahan bakar

untuk memasak (kayu bakar, minyak tanah,

gas dan listrik).

Tidak menggunakan : Jika tidak menggunakan bahan bakar untuk

memasak seperti disebutkan diatas

5. Keberadaan perokok

a. Definisi keberadaan perokok

Keberadaan perokok adalah jika dalam rumah tersebut ada anggota

keluarga yang mengkomsumsi rokok secara terus menerus. Peneilaian

merujuk pada skala Gutman.

Kriteria objektif :

Ada : Jika dalam rumah ada anggota keluarga yang

merokok

Tidak ada : Jika dalam rumah tidak ada anggota keluarga

yang merokok
41

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan dalam melakukan

penelitian, instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner

yang berisikan pertanyaan-pertanyaan tentang kepdatan hunian, penggunaan anti

nyamuk bakar, bahan bakar untuk memasak dan keberadaan perokok.

F. Pengumpulan Data

1. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari objek penelitian

dengan menggunakan lembaran kuisioner yang merupakan lembaran berisi

daftar pertanyaan yang akan diberikan kepada responden yang berhubungan

dengan variabel yang akan diteliti.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang dipeoleh langsung dari instansi

pemerintahan yang berasal dari bidang administrasi di Wilayah Kerja

Puskesmas Abeli Kota Kendari Tahun 2017

G. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan menggunakan komputer dengan program

komputer. Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian ISPA diwilayah

kerja Puskesmas Abeli Kota Kendari Tahu 2017 Editing, yaitu mengkaji dan

meneliti data yang telah terkumpul pada kuisioner.

1. Coding, yaitu pemberian kode pada data untuk memudahkan dalam

memasukkan data dalam program komputer.


42

2. Entry, yaitu memasukkan data dalam program komputer untuk dilakukan

analisis lanjut.

3. Tabulating, yaitu setelah data tersebut masuk kemudian direkap dan disusun

dalam bentuk tabel agar dapat dibaca dengan mudah.

H. Analisis Data

Proses analisis data pada penelitian ini merupakan analisis yang

dilakukan secara analitik deskriptif berupa hubungan variabel independen dan

variabel dependen pada masing-masing variabel dengan analisis pada

distribusi frekuensi.

a. Analisa Univariat

Analisis dilakukan terhadap setiap variabel dari hasil penelitian.

Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan

persentase dari tiap variabel. (Notoatmotdjo, 2012). Analisis univariat

adalah analisis satu variabel tertentu yang akan mendeskripsikan atau

menggambarkan keadaan responden dari semua variabel.

Dengan menggunakan rumus:

∑ 𝑥𝑖
𝑋= × 100
𝑁

Keterangan;

X = Distribusi frekuensi
∑xi = Jumlah karakteristik dari jumlah penelitian
N = Jumlah total sampel
43

b. Analisa Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan variabel

independen dengan variabel dependen dengan menggunakan uji statistik

menggunakan SPSS dengan menggunakan rumus uji Chi Square:

𝑛 ([𝑎𝑑 − 𝑏𝑐] − 1⁄2 𝑛)2


2
𝑋 =
(𝑎 + 𝑏)(𝑎 + 𝑐)(𝑏 + 𝑑)(𝑐 + 𝑑)

Keterangan :
X2 = Nilai chi-square (Sugiyono, 2010)

Dengan Ketentuan; Bila nilai Chi Square hitung lebih besar harga

Chi Square tabel, dengan dk = (k – 1) (b – 1) dan taraf batas

kemaknaan (α) yang digunakan adalah 0,05.

Penilaian:

a. Apabila X2 hitung > X2 tabel atau p < α maka H0 ditolak dan Ha diterima,

artinya ada hubungan antara variabel independen dengan variabel

dependen.

b. Apabila X2 hitung < X2 tabel, atau p > α maka H0 diterima dan Ha ditolak,

artinya tidak ada hubungan antara variabel independen dengan

variabel dependen.

Jika H0 ditolak kemudian dilanjutkan dengan uji keeratan

hubungan dengan menggunakan koefisien Phi (Ø).


44

⃓ 𝑎𝑑−𝑏𝑐 ⃓
Rumus =
√(𝑎+𝑏)(𝑏+𝑑)(𝑐+𝑑)

Besarnya nilai Phi (Ø) berada diantara 0 sampai dengan 1

dengan ketentuan (Sugiyono, 2010)

0,76 – 1,00 : Tingkat hubungan sangat kuat


0,51 – 0,75 : Tingkat hubungan kuat
0,26 – 0,50 : Tingkat hubungan sedang
0,01 – 0,25 : Tingkat hubungan lemah
I. Teknik Penyajian Data

Penyajian data disajikan dalam bentuk tabel serta analisis hubungan

variabel bebas dan variabel terikat.

J. Prosedur Kerja

a. Pemberian Informed Consent (Formulir Persetujuan)

Setiap responden dalam penelitian ini akan dimintai persetujuan dengan

mengisi lembar informed consent yang berisikan tujuan, manfaat dan

kejelasan tentang kerahasiaan subyek.

b. Pengisian Kuisioner oleh responden.

c. Dokumentasi yaitu sejumlah data-data atau informasi dari observasi

dilapangan.