Anda di halaman 1dari 27

4 Komplikasi Setelah Operasi yang

Mungkin Terjadi
.
 19Klik
Klik untuk
untuk membagikan
berbagi di Facebook(Membuka
Twitter(Membuka
pada Tumblr(Membuka di di jendela
di jendela
jendela yang yang
yang baru)
baru) baru)19
 Klik untuk
Klik untuk berbagi
berbagi di
viaLine
Google+(Membuka
Linkedln(Membuka didijendela
new(Membukadi jendelayang
jendela yangbaru)
yang baru)
baru)

Operasi terkadang menjadi salah satu tindakan medis yang dianggap menakutkan oleh
beberapa orang, jika Anda merasa gugup sebelum prosedur operasi, ini adalah hal yang wajar.
Guna mengatasi rasa stres atau gugup sebelum operasi, aktiflah menanyakan beberapa hal
seputar operasi yang akan Anda jalani kepada dokter bedah sebelum tiba saatnya masuk ke
ruang operasi termasuk komplikasi setelah operasi. Sebelum menanyakan langsung kepada
dokter, ada berbagai masalah komplikasi setelah operasi yang bisa Anda ketahui di artikel ini.
Apa saja komplikasi setelah operasi yang bisa
terjadi?
1. Rasa nyeri karena sayatan pada kulit

Nyeri pasca operasi merupakan hal yang normal dan umum terjadi. Beberapa langkah dapat
diambil untuk meminimalisasi atau meredakannya, namun rasa nyeri pasca operasi dapat
memburuk ketika disertai dengan gejala lainnya, yang bisa jadi adalah komplikasi setelah
operasi yang butuh penanganan medis.

Tidak hanya orang dewasa, anak-anak yang menjalani operasi juga merasakan nyeri yang
sama, dan mereka biasanya akan mengekspresikan rasa nyerinya dengan ucapan seperti
sakit. Penyebab rasa nyeri biasanya datang pada penyayatan pada kulit yang akan
merangsang saraf untuk menghantarkan sinyal rasa nyeri ke otak. Seiring tubuh yang mulai
sembuh, rasa nyeri seharusnya berkurang dan akhirnya hilang sama sekali. Lamanya nyeri
pasca operasi dapat tergantung dari beberapa faktor seperti kondisi kesehatan seseorang,
adanya penyakit lain, dan juga kebiasaan merokok.

Untuk mengatasi rasa nyeri pasca operasi, dokter biasanya sudah meresepkan obat untuk
meringankannya. Beberapa jenis obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri, antara lain,
asetaminophen, nonsteroidal anti-inflammatory medications (NSAID),
seperti ibuprofen dan naproxen.

Banyak orang yang tidak mau mengonsumsi obat anti nyeri yang diresepkan oleh dokter
dengan alasan takut ketagihan. Sebenarnya ketagihan obat anti nyeri sangat jarang terjadi.
Bahkan terkadang, tidak menggunakan obat anti nyerilah yang berbahaya.

Nyeri yang hebat terkadang membuat seseorang susah mengambil napas dalam dan
meningkatkan risiko pneumonia. Nyeri juga dapat membuat seseorang sulit melakukan
pekerjaan sehari-hari, seperti berjalan, makan dan tidur. Padahal gizi dan istirahat yang cukup
sangat diperlukan dalam mempercepat proses kesembuhan luka akibat operasi.

2. Efek samping obat bius yang bisa menyebabkan mual dan muntah

Apa yang terjadi jika para ahli di bidang kesehatan tidak menemukan obat bius? Pastinya, kita
akan mendengar jeritan kesakitan para pasien dari balik pintu ruang medis. Dalam bidang
kesehatan, pembiusan disebut dengan anestesi, yang berarti ‘tanpa sensasi’.

Tujuan obat bius adalah membuat mati rasa area tubuh tertentu atau bahkan membuat Anda
tidak sadarkan diri (tertidur). Dengan mengaplikasikan obat bius, dokter bisa leluasa melakukan
tindakan medis yang melibatkan peralatan tajam dan bagian tubuh tanpa menyakiti Anda.

Obat bius mungkin menimbulkan efek samping yang membuat Anda tidak nyaman seperti mual,
muntah, gatal, pusing, memar, sulit buang air kecil, merasa kedinginan dan menggigil. Biasanya
efek-efek tersebut tidak belangsung lama. Selain efek samping, komplikasi setelah operasi
karena obat bius ini mungkin saja bisa terjadi. Berikut beberapa hal buruk, meski jarang terjadi,
yang mungkin menimpa Anda:
 Reaksi alergi terhadap obat bius.
 Kerusakan saraf permanen.
 Pneumonia.
 Kebutaan.
 Meninggal.

Risiko terkena efek samping dan komplikasi bergantung pada jenis obat bius yang digunakan,
usia, kondisi kesehatan, dan bagaimana tubuh Anda merespons obat tersebut. Risiko akan
menjadi lebih tinggi jika Anda memiliki gaya hidup yang tidak sehat (merokok, mengonsumsi
alkohol dan narkoba), dan kelebihan berat badan.

Untuk mencegah hal itu terjadi, ada baiknya Anda mengikuti semua prosedur yang disarankan
dokter sebelum menjalani pembiusan seperti pola asupan. Dokter Anda mungkin akan meminta
Anda berhenti makan di atas jam 12 malam. Pengonsumsian obat-obat herbal atau vitamin
sebaiknya dihentikan setidaknya tujuh hari sebelum tindakan medis dilakukan.

3.Infeksi akibat luka operasi yang bisa menyebabkan sakit

Infeksi adalah invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampu menyebabkan
sakit. Infeksi pasca operasi adalah infeksi dari luka yang didapat setelah operasi. Dapat terjadi
diantara 30 hari setelah operasi, biasanya terjadi antara 5 sampai 10 hari setelah operasi.
Infeksi luka operasi ini dapat terjadi pada luka yang tertutup maupun pada luka yang terbuka.
Infeksi dapat terjadi pada jaringan superfisial (yang dekat dengan kulit) ataupun pada jaringan
yang lebih dalam. Pada kasus yang serius, infeksi pasca operasi dapat mengenai organ tubuh.

Infeksi pada luka operasi membutuhkan perhatian khusus oleh tenaga medis secara langsung
karena infeksi dapat sangat berbahaya bila menyebar dan mengenai organ yang vital. Berikut
gejala infeksi luka operasi:

 Terdapat nanah, darah atau cairan yang keluar dari luka operasi
 Terdapat rasa nyeri, bengkak, memerah, menghangat dan demam
 Luka operasi yang tidak kunjung sembuh atau mengering

Bila luka operasi Anda memiliki gejala di atas, sebaiknya Anda segera memeriksakan diri ke
dokter yang merawat Anda agar mendapat penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan Anda.

Luka operasi yang terinfeksi memerlukan evaluasi dan dapat dilakukan prosedur membuka
jahitan operasi untuk membersihkan daerah yang luka. Penanganan yang paling utama pada
infeksi luka operasi adalah memastikan infeksi sudah dibersihkan, kemudian diberikan
pengobatan antibiotik secara suntik, minum maupun oles.

4. Terjadi penggumpalan pembuluh darah

Biasanya wanita lebih sering mengalami penggumpalan di pembuluh darah sebagai komplikasi
setelah operasi, terutama di bagian kaki, setelah melahirkan secara caesar. Sebuah penelitian
menyimpulkan bahwa adanya hubungan operasi caesar dengan risiko peningkatan
tromboemboli vena (VTE) atau pembekuan darah dalam sirkulasi di pembuluh darah.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal CHEST, menemukan bahwa C-section membawa risiko
VTE lebih besar empat kali lipat dibanding persalinan normal. C-section menjadi faktor adanya
peningkatan troboemboli vena (VTE)setelah melahirkan dan penggumpalan darah ini terjadi
dari 1.000 operasi cesar (C-section). Wanita hamil lebih rentan terhadap VTE karena berbagai
faktor, termasuk stasis vena dan trauma terkait dengan persalinan.

Masa setelah melahirkan, wanita yang melahirkan dengan cara operasi caesar berisiko
menderita pembekuan darah (koagulasi) lebih besar dibandingkan proses persalinan normal.
Persalinan caesar membutuhkan waktu pemulihan lebih lama dibanding persalinan normal.

PERSIAPAN ANASTESI
SEBELUM OPERASI
04 WednesdayJUL 2012
POSTED BY SIKKABOLA IN UNCATEGORIZED
≈ LEAVE A COMMENT
PERSIAPAN PREOPERASI / PREANESTESI (PRE-OP VISIT)

Tujuan :

1. mengenal pasien, mengetahui masalah saat ini, mengetahui riwayat penyakit dahulu
serta keadaan / masalah yang mungkin menyertai pada saat ini.

2. menciptakan hubungan dokter-pasien

3. menyusun rencana penatalaksanaan sebelum, selama dan sesudah anestesi / operasi

4. informed consent

Penilaian Catatan Medik (chart review)


1. Membedakan masalah obstetri / ginekologi dengan masalah non-obstetri yang terjadi pada
kehamilan.

2. Jenis operasi yang direncanakan

3. Indikasi / kontraindikasi

4. Ada/tidak kemungkinan terjadinya komplikasi, faktor penyulit

5. Obat-obatan yang pernah / sedang / akan diberikan untuk masalah saat ini yang kemungkinan
dapat berinteraksi dengan obat / prosedur anestesi

6. Hasil-hasil pemeriksaan penunjang / laboratorium yang diperlukan

Pemeriksaan Pasien

Anamnesis : penting mengumpulkan data tambahan tentang riwayat penyakit yang


dapat menjadi penyulit / faktor risiko tindakan anestesi (asma, hipertensi, penyakit
jantung, penyakit ginjal, gangguan pembekuan darah, dsb), riwayat operasi /
anestesi sebelumnya, riwayat alergi, riwayat pengobatan, kebiasaan merokok /
alkohol / obat-obatan.

Pemeriksaan fisik : tinggi berat badan, tanda vital lengkap, kepala/leher


(perhatian khusus pada mulut/gigi/THT/saluran napas atas, untuk airway
maintenance selama anestesi/operasi), jantung/paru/abdomen/ekstremitas.

Anatomi

Tulang punggung terdiri dari

 7 vertebra servkalis
 12 vertebra torakalis

 5 vertebra lumbal

 5 vertebra sakral menyatu pada dewasa

 4-5 vertebra koksigeal menyatu pada dewasa

Prosesus spinosus C2 teraba langsung di bawah oksipital. Prosesus spinosus C7 menonjol dan
disebut sebagai vertebra prominens.

Garis lurus yang menghubungkan kedua krista iliaka tertinggi akan memotong prosesus spinosus
vertebra L4 atau L4-L5.

Peredaran darah

Medula spinalis diperdarahi oleh a. Spinalis anterior dan a. Spinalis posterior

Anestesi Spinal

Anestesi spinal merupakan teknik anestesi regional yang baik untuk tindakan-tindakan bedah,
obstetrik, operasi operasi bagian bawah abdomen dan ekstremitas bawah. Teknik ini baik sekali
bagi penderita-penderita yang mempunyai kelainan paru-paru, diabetes mellitus, penyakit hati
yang difus dan kegagalan fungsi ginjal, sehubungan dengan gangguan metabolisme dan ekskresi
dari obat-obatan.

Bagian motoris dan proprioseptis paling tahan terhadap blokade ini dan yang paling dulu
berfungsi kembali. Sedangkan saraf otonom paling mudah terblokir dan paling belakang
berfungsi kembali. Tingginya blokade saraf untuk otonom dua dermatome lebih tinggi daripada
sensoris, sedangkan untuk motoris dua-tiga segemen lebih bawah. Secara anatomis dipilih
segemen L2 ke bawah pada penusukan oleh karena ujung bawah daripada medula spinalis
setinggi L2 dan ruang interegmental lumbal ini relatif lebih lebar dan lebih datar dibandingkan
dengan segmen-segmen lainnya. Lokasi interspace ini dicari dengan menghubungkan krista
iliaka kiri dan kanan. Maka titik pertemuan dengan segmen lumbal merupakan processus
spinosus L4 atau L4-L5 interspace.

Ligamentum yang dilalui pada waktu penusukan yaitu :

 Kulit

 Subkutis

 Ligamentum supraspinosum

 Ligamentum interspinosum

 Ligamentum flavum

 Ruang epidural

 Duramater

 Ruang subaraknoid

Pada orang tua biasanya terjadi kalsifikasi ligamentum teratas, sehingga menyulitkan penusukan.
Untuk mengatasi hal ini, kita sarankan penusukan paramedian, dimana jarum hanya melalui otot
dan fascia kemudian ligamentum flavum.

Midline approach yaitu apabila kita menusukkan jarum tepat di garis yang menghubungkan
processus spinosus satu dengan yang lainnya, pada sudut 800 dengan punggung.
Sedangkan Paramedian
approach penusukan 1 jari lateral dari garis jarum diarahkan ke titik tengah pada garis median
dengan sudut sama dengan midline
approach.

Pada penusukan mungkin yang keluar bukan liquor tapi darah, sebab di bagian anterior maupun
posterior medulla spinalis terdapat sistim arteri dan vena. Apabila setelah 1 menit liquor yang
keluar masih belum jernih sebaiknya jarum dipindahkan ke segmen yang lain. Bila liquor tidak
jernih, sebaiknya anestesi spinal ini ditunda dan dilakukan analisa dari liquor. Adapun jarum
yang dipakai paling besar ukuran 22, kalau mungkin pakai jarum 23 atau 25. Makin kecil jarum
yang kita pakai, makin kecil kemungkinan terjadinya sakit kepala sesudah anestesi (post spinal
headache). Obat spinal anestesi yang paling menonjol adalah tetrakain dan dibukain, yang
mempunyai efek kuat dan kerjanya lebih lama.

Tingginya anestesi tergantung dari :

 Posisi penderita waktu penyuntikkan dan sesudahnya.

 Tingginya segemen yang dipilih pada penusukkan, makin ke arah kranial makin tinggi.

 Volume dari obat yang disuntikkan, makin banyak makin tinggi.

 Kekuatan dan kecepatan penyuntikkan.

Indikasi :

1. Bedah ektremitas bagian bawah.

2. Bedah panggul.

3. Tindakan sekitar rektum-perineum.

4. Bedah obstetri-ginekologi.

5. Bedah urologi.

6. Bedah abdomen bagian bawah.


7. Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatri biasanya dikombinasi dengan anestesia umum
ringan.

Kontraindikasi Absolut :

1. Pasien menolak.

2. Infeksi pada tempat suntikan.

3. Hipovolemia berat, syok.

4. Koagulopati atau mendapat terapi antikoagulan.

5. Tekanan intrakranial meninggi.

6. Fasilitas resusitasi minim.

7. Kurang pengalaman atau tanpa didampingi konsultan anestesia.

Kontraindikasi Relatif :

1. Infeksi sistemik.

2. Infeksi sekitar tempat suntikan.

3. Kelainan neurologis.

4. Kelainan psikis.

5. Bedah lama.
6. Penyakit jantung.

7. Hipovolemia ringan.

8. Nyeri punggung kronis.

Peralatan yang digunakan :

1. Peralatan monitor tekanan darah, nadi, oksimetri denyut dan EKG.

2. Peralatan resusitasi dan anestesia umum.

3. Jarum spinal

Jarum spinal dengan ujung tajam ( Quincke-Babcock) atau jarum spinal dengan ujung pensil
( Pencil Point, Whitecare ).

Teknik Anestesi Spinal :

 Infus Dextrosa/NaCl/Ringer laktat sebanyak 500 – 1500 ml.

 Oksigen diberikan dengan masker 6 – 8 L/mnt.

 Posisi lateral merupakan posisi yang paling enak bagi penderita.

 Kepala memakai bantal dengan dagu menempel ke dada, kedua tangan memegang kaki yang
ditekuk sedemikian rupa sehingga lutut dekat ke perut penderita.

 L3 – 4 interspace ditandai, biasanya agak susah oleh karena adanya edema jaringan.
 Skin preparation dengan betadin seluas mungkin. Sebelum penusukan betadin yang ada
dibersihkan dahulu.

 Jarum 22 – 25 dapat disuntikkan langsung tanpa lokal infiltrasi dahulu, juga


tanpaintroducer dengan bevel menghadap ke atas.

 Kalau liquor sudah ke luar lancar dan jernih, disuntikan xylocain 5% sebanyak 1,25 – 1,5 cc.

 Penderita diletakan terlentang, dengan bokong kanan diberi bantal sehingga perut penderita
agak miring ke kiri, tanpa posisi Trendelenburg.

 Untuk skin preparation, apabila penderita sudah operasi boleh mulai.

 Tensi penderita diukur tiap 2 – 3 menit selama 15 menit pertama, selanjutnya tiap 15 menit.

 Apabila tensi turun dibawah 100 mmHg atau turun lebih dari 20 mmHg dibanding semula,
efedrin diberikan 10 – 15 mgl.V.

Sakit kepala 90% timbul dalam 3 hari pertama pasca operasi. Lokalisasinya 50% di bagian
frontal, 25% oksipital dan sisanya menyeluruh. Penyebab sakit kepala ini adalah adanya
kebocoran liquor cerebrospinal pada bekas tempat penusukan, sehingga otak kekurangan cairan
penyangga. Nyeri terasa apabila penderita duduk atau berdiri dan berkurang bila terlentang.

Pencegahan :

 Sebaiknya menggunakan jarum yang lebih kecil ( no. 25 – 26 ).

 Pemberian intake cairan yang cukup dan dapat ditambah analgetika.

 Tidur posisi terlentang selama ± 24 jam pasca operasi akan mengurangi tekanan liquor
cerebrospinal di daerah penusukkan, sehingga mengurangi kebocoran.
 Apabila diperlukan, dapat diberikan epidural patch dengan menyuntikkan darah sendiri
sebanyak 10 cc. Hal ini akan menutup lubang duramater dan menghilangkan kebocoran
liquor.

Askep Persiapan pre operatif


A. PENDAHULAN
Keperawatan pre operatif merupakan tahapan awal dari keperawatan perioperatif.
Kesuksesan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat tergantung pada fase ini.
Hal ini disebabkan fase ini merupakan awalan yang menjadi landasan untuk kesuksesan
tahapan-tahapan berikutnya. Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat
fatal pada tahap berikutnya. Pengakajian secara integral dari fungsi pasien meliputi
fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan
suatu operasi.
B. PERSIAPAN KLIEN DI UNIT PERAWATAN
I. Persiapan Fisik
Persiapan fisik pre operasi yang dialami oleh pasien dibagi dalam 2 tahapan, yaitu :
a. Persiapan di unit perawatan
b. Persiapan di ruang operasi
Berbagai persiapan fisik yang harus dilakukan terhadap pasien sebelum operasi antara
lain :
a. Status kesehatan fisik secara umum
Sebelum dilakukan pembedahan, penting dilakukan pemeriksaan status kesehatan
secara umum, meliputi identitas klien, riwayat penyakit seperti kesehatan masa lalu,
riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik lengkap, antara lain status hemodinamika,
status kardiovaskuler, status pernafasan, fungsi ginjal dan hepatik, fungsi endokrin,
fungsi imunologi, dan lain-lain. Selain itu pasien harus istirahat yang cukup, karena
dengan istirahat dan tidur yang cukup pasien tidak akan mengalami stres fisik, tubuh
lebih rileks sehingga bagi pasien yang memiliki riwayat hipertensi, tekanan darahnya
dapat stabil dan bagi pasien wanita tidak akan memicu terjadinya haid lebih awal.
b. Status Nutrisi
Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan, lipat kulit
trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah (albumin dan globulin) dan keseimbangan
nitrogen. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus di koreksi sebelum pembedahan untuk
memberikan protein yang cukup untuk perbaikan jaringan. Kondisi gizi buruk dapat
mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi pasca operasi dan
mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit. Komplikasi yang paling
sering terjadi adalah infeksi pasca operasi, dehisiensi (terlepasnya jahitan sehingga luka
tidak bisa menyatu), demam dan penyembuhan luka yang lama. Pada kondisi yang
serius pasien dapat mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian.
c. Keseimbangan cairan dan elektrolit
Balance cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output cairan.
Demikaian juga kadar elektrolit serum harus berada dalam rentang normal. Kadar
elektrolit yang biasanya dilakuakan pemeriksaan diantaranya dalah kadar natrium serum
(normal : 135 – 145 mmol/l), kadar kalium serum (normal : 3,5-5 mmol/l) dan kadar
kreatinin serum (0,70 – 1,50 mg/dl). Keseimbangan cairan dan elektrolit terkait erat
dengan fungsi ginjal. Dimana ginjal berfungsi mengatur mekanisme asam basa dan
ekskresi metabolit obat-obatan anastesi. Jika fungsi ginjal baik maka operasi dapat
dilakukan dengan baik. Namun jika ginjal mengalami gangguan seperti oliguri/anuria,
insufisiensi renal akut, nefritis akut maka operasi harus ditunda menunggu perbaikan
fungsi ginjal. Kecuali pada kasus-kasus yang mengancam jiwa.
d. Kebersihan lambung dan kolon
Lambung dan kolon harus di bersihkan terlebih dahulu. Intervensi keperawatan yang bisa
diberikan diantaranya adalah pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan pengosongan
lambung dan kolon dengan tindakan enema/lavement. Lamanya puasa berkisar antara 7
sampai 8 jam (biasanya puasa dilakukan mulai pukul 24.00 WIB). Tujuan dari
pengosongan lambung dan kolon adalah untuk menghindari aspirasi (masuknya cairan
lambung ke paru-paru) dan menghindari kontaminasi feses ke area pembedahan
sehingga menghindarkan terjadinya infeksi pasca pembedahan. Khusus pada pasien
yang menbutuhkan operasi CITO (segera), seperti pada pasien kecelakaan lalu lintas.
Maka pengosongan lambung dapat dilakukan dengan cara pemasangan NGT (naso
gastric tube).
e. Pencukuran daerah operasi
Pencukuran pada daerah operasi ditujukan untuk menghindari terjadinya infeksi pada
daerah yang dilakukan pembedahan karena rambut yang tidak dicukur dapat menjadi
tempat bersembunyi kuman dan juga mengganggu/menghambat proses penyembuhan
dan perawatan luka. Meskipun demikian ada beberapa kondisi tertentu yang tidak
memerlukan pencukuran sebelum operasi, misalnya pada pasien luka incisi pada lengan.
Tindakan pencukuran (scheren) harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai
menimbulkan luka pada daerah yang dicukur. Sering kali pasien di berikan kesempatan
untuk mencukur sendiri agar pasien merasa lebih nyaman.
Daerah yang dilakukan pencukuran tergantung pada jenis operasi dan daerah yang akan
dioperasi. Biasanya daerah sekitar alat kelamin (pubis) dilakukan pencukuran jika yang
dilakukan operasi pada daerah sekitar perut dan paha. Misalnya : apendiktomi,
herniotomi, uretrolithiasis, operasi pemasangan plate pada fraktur femur,
hemoroidektomi. Selain terkait daerah pembedahan, pencukuran pada lengan juga
dilakukan pada pemasangan infus sebelum pembedahan.
f. Personal Hygine
Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi karena tubuh yang
kotor dapat merupakan sumber kuman dan dapat mengakibatkan infeksi pada daerah
yang dioperasi. Pada pasien yang kondisi fisiknya kuat diajurkan untuk mandi sendiri dan
membersihkan daerah operasi dengan lebih seksama. Sebaliknya jika pasien tidak
mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene secara mandiri maka perawat akan
memberikan bantuan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
g. Pengosongan kandung kemih
Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan kateter. Selain
untuk pengongan isi bladder tindakan kateterisasi juga diperluka untuk mengobservasi
balance cairan.
h. Latihan Pra Operasi
Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal ini sangat penting
sebagai persiapan pasien dalam menghadapi kondisi pasca operasi, seperti : nyeri
daerah operasi, batuk dan banyak lendir pada tenggorokan.
Latihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain :
1. Latihan nafas dalam
2. Latihan batuk efektif
3. latihan gerak sendi
1. Latihan Nafas Dalam
Latihan nafas dalam sangat bermanfaat bagi pasien untuk mengurangi nyeri setelah
operasi dan dapat membantu pasien relaksasi sehingga pasien lebih mampu beradaptasi
dengan nyeri dan dapat meningkatkan kualitas tidur. Selain itu teknik ini juga dapat
meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. Dengan
melakukan latihan tarik nafas dalam secara efektif dan benar maka pasien dapat segera
mempraktekkan hal ini segera setelah operasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
pasien.
Latihan nafas dalam dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
• Pasien tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk (semifowler) dengan lutut
ditekuk dan perut tidak boleh tegang.
• Letakkan tangan diatas perut
• Hirup udara sebanyak-banyaknya dengan menggunakan hidung dalam kondisi mulut
tertutup rapat.
• Tahan nafas beberapa saat (3-5 detik) kemudian secara perlahan-lahan, udara
dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui mulut.
• Lakukan hal ini berulang kali (15 kali)
• Lakukan latihan dua kali sehari praopeartif.
2. Latihan Batuk Efektif
Latihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien yang mengalami
operasi dengan anstesi general. Karena pasien akan mengalami pemasangan alat bantu
nafas selama dalam kondisi teranstesi. Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami
rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Dengan terasa banyak lendir kental di
tenggorokan. Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien setalah operasi untuk
mengeluarkan lendir atau sekret tersebut.
Pasien dapat dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara :
• Pasien condong ke depan dari posisi semifowler, jalinkan jari-jari tangan dan letakkan
melintang diatas incisi sebagai bebat ketika batuk.
• Kemudian pasien nafas dalam seperti cara nafas dalam (3-5 kali)
• Segera lakukan batuk spontan, pastikan rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya
batuk dengan mengadalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada
tenggorokan.
• Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, namun tidak berbahaya terhadap incisi.
• Ulangi lagi sesuai kebutuhan.
• Jika selama batuk daerah operasi terasa nyeri, pasien bisa menambahkan dengan
menggunakan bantal kecil atau gulungan handuk yang lembut untuk menahan daerah
operasi dengan hati-hati sehingga dapat mengurangi guncangan tubuh saat batuk.
3. Latihan Gerak Sendi
Latihan gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga setelah operasi,
pasien dapat segera melakukan berbagai pergerakan yang diperlukan untuk
mempercepat proses penyembuhan.
Pasien/keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang
pergerakan pasien setalah operasi. Banyak pasien yang tidak berani menggerakkan
tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh.
Pandangan seperti ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera
bergerak maka pasien akan lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga
pasien akan lebih cepat kentut/flatus. Keuntungan lain adalah menghindarkan
penumpukan lendir pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan
terjadinya dekubitus. Tujuan lainnya adalah memperlancar sirkulasi untuk mencegah
stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal. Intervensi ditujukan pada
perubahan posisi tubuh dan juga Range of Motion (ROM). Latihan perpindahan posisi
dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara pasif namun kemudian seiring dengan
bertambahnya kekuatan tonus otot maka pasien diminta melakukan secara mandiri.
Status kesehatn fisik merupakan faktor yang sangat penting bagi pasien yang akan
mengalami pembedahan, keadaan umum yang baik akan mendukungh dan
mempengaruhi proses penyembuhan. Sebaliknya, berbagai kondisi fisiologis dapat
mempengaruhi proses pembedahan. Demikian juga faktor usia/penuaan dapat
mengakibatkan komplikasi dan merupakan faktor resiko pembedahan. Oleh karena itu
sangatlah penting untuk mempersiapkan fisik pasien sebelum dilakukan
pembedahan/operasi.
Faktor resiko terhadap pembedahan antara lain :
1. Usia
Pasien dengan usia yang terlalu muda (bayi/anak-anak) dan usia lanjut mempunyai
resiko lebih besar. Hal ini diakibatkan cadangan fisiologis pada usia tua sudah sangat
menurun . sedangkan pada bayi dan anak-anak disebabkan oleh karena belum matur-
nya semua fungsi organ.
2. Nutrisi
Kondisi malnutris dan obesitas/kegemukan lebih beresiko terhadap pembedahan
dibandingakan dengan orang normal dengan gizi baik terutama pada fase penyembuhan.
Pada orang malnutisi maka orang tersebut mengalami defisiensi nutrisi yang sangat
diperlukan untuk proses penyembuhan luka. Nutrisi-nutrisi tersebut antara lain adalah
protein, kalori, air, vitamin C, vitamin B kompleks, vitamin A, Vitamin K, zat besi dan seng
(diperlukan untuk sintesis protein).
Pada pasien yang mengalami obesitas. Selama pembedahan jaringan lemak, terutama
sekali sangat rentan terhadap infeksi. Selain itu, obesitas meningkatkan permasalahan
teknik dan mekanik. Oleh karenanya dehisiensi dan infeksi luka, umum terjadi. Pasien
obes sering sulit dirawat karena tambahan berat badan; pasien bernafas tidak optimal
saat berbaring miring dan karenanya mudah mengalami hipoventilasi dan komplikasi
pulmonari pascaoperatif. Selain itu, distensi abdomen, flebitis dan kardiovaskuler,
endokrin, hepatik dan penyakit biliari terjadi lebih sering pada pasien obes.
3. Penyakit Kronis
Pada pasien yang menderita penyakit kardiovaskuler, diabetes, PPOM, dan insufisiensi
ginjal menjadi lebih sukar terkait dengan pemakian energi kalori untuk penyembuhan
primer. Dan juga pada penyakit ini banyak masalah sistemik yang mengganggu sehingga
komplikasi pembedahan maupun pasca pembedahan sangat tinggi.
4. Ketidaksempurnaan respon neuroendokrin
Pada pasien yang mengalami gangguan fungsi endokrin, seperti dibetes mellitus yang
tidak terkontrol, bahaya utama yang mengancam hidup pasien saat dilakukan
pembedahan adalah terjadinya hipoglikemia yang mungkin terjadi selama pembiusan
akibat agen anstesi. Atau juga akibat masukan karbohidrat yang tidak adekuat pasca
operasi atau pemberian insulin yang berlebihan. Bahaya lain yang mengancam adalah
asidosis atau glukosuria. Pasien yang mendapat terapi kortikosteroid beresiko
mengalami insufisinsi adrenal. Penggunaan oabat-obatan kortikosteroid harus
sepengetahuan dokter anastesi dan dokter bedahnya.
5. Merokok
Pasien dengan riwayat merokok biasanya akan mengalami gangguan vaskuler, terutama
terjadi arterosklerosis pembuluh darah, yang akan meningkatkan tekanan darah
sistemiknya.
6. Alkohol dan obat-obatan
Individu dengan riwayat alkoholik kronik seringkali menderita malnutrisi dan masalah-
masalah sistemik, sperti gangguan ginjal dan hepar yang akan meningkatkan resiko
pembedahan. Pada kasus kecelakaan lalu lintas yang seringkali dialami oleh pemabuk.
Maka sebelum dilakukan operasi darurat perlu dilakukan pengosongan lambung untuk
menghindari asprirasi dengan pemasangan NGT.
II. PERSIAPAN PENUNJANG
Persiapan penunjang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tindakan
pembedahan. Tanpa adanya hasil pemeriksaan penunjang, maka dokter bedah tidak
meungkin bisa menentukan tindakan operasi yang harus dilakukan pada pasien.
Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah berbagai pemeriksaan radiologi,
laboratorium maupun pemeriksaan lain seperti ECG, dan lain-lain.
Sebelum dokter mengambil keputusan untuk melakukan operasi pada pasien, dokter
melakukan berbagai pemeriksaan terkait dengan keluhan penyakit pasien sehingga
dokter bisa menyimpulkan penyakit yang diderita pasien. Setelah dokter bedah
memutuskan untuk dilakukan operasi maka dokter anstesi berperan untuk menentukan
apakan kondisi pasien layak menjalani operasi. Untuk itu dokter anastesi juga
memerlukan berbagai macam pemrikasaan laboratorium terutama pemeriksaan masa
perdarahan (bledding time) dan masa pembekuan (clotting time) darah pasien, elektrolit
serum, Hemoglobin, protein darah, dan hasil pemeriksaan radiologi berupa foto thoraks
dan EKG.
Dibawah ini adalah berbagai jenis pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan pada
pasien sebelum operasi (tidak semua jenis pemeriksaan dilakukan terhadap pasien,
namun tergantung pada jenis penyakit dan operasi yang dijalani oleh pasien).
Pemeriksaan penunjang antara lain :
a. Pemeriksaan Radiologi dan diagnostik, seperti : Foto thoraks, abdomen, foto tulang
(daerah fraktur), USG (Ultra Sono Grafi), CT scan (computerized Tomography Scan),
MRI (Magnrtic Resonance Imagine), BNO-IVP, Renogram, Cystoscopy, Mammografi,
CIL (Colon in Loop), EKG/ECG (Electro Cardio Grafi), ECHO, EEG (Electro Enchephalo
Grafi), dll.
b. Pemeriksaan Laboratorium, berupa pemeriksan darah : hemoglobin, angka leukosit,
limfosit, LED (laju enap darah), jumlah trombosit, protein total (albumin dan globulin),
elektrolit (kalium, natrium, dan chlorida), CT BT, ureum kretinin, BUN, dll. Bisa juga
dilakukan pemeriksaan pada sumsun tulang jika penyakit terkaut dengan kelainan darah.
c. Biopsi, yaitu tindakan sebelum operasi berupa pengambilan bahan jaringan tubuh
untuk memastikan penyakit pasien sebelum operasi. Biopsi biasanya dilakukan untuk
memastikan apakah ada tumor ganas/jinak atau hanya berupa infeksi kronis saja.
d. Pemeriksaan Kadar Gula Darah (KGD)
Pemeriksaan KGD dilakukan untuk mengetahui apakah kadar gula darah pasien dalan
rentang normal atau tidak. Uji KGD biasanya dilakukan dengan puasa 10 jam (puasa jam
10 malam dan diambil darahnya jam 8 pagi) dan juga dilakukan pemeriksaan KGD 2 jam
PP (ppst prandial).
e. Dan lain-lain
PEMERIKSAAN STATUS ANASTESI
Pemeriksaaan status fisik untuk dilakukan pembiuasan dilakukan untuk keselamatan
selama pembedahan. Sebelum dilakukan anastesi demi kepentingan pembedahan,
pasien akan mengalami pemeriksaan status fisik yang diperlukan untuk menilai sejauh
mana resiko pembiusan terhadap diri pasien. Pemeriksaan yang biasa digunakan adalah
pemeriksaan dengan menggunakan metode ASA (American Society of Anasthesiologist).
Pemeriksaan ini dilakukan karena obat dan teknik anastesi pada umumnya akan
mengganggu fungsi pernafasan, peredaran darah dan sistem saraf. Berikut adalah tabel
pemeriksaan ASA.
ASA grade Status Fisik Mortality (%)
I Tidak ada gangguan organik, biokimia dan psikiatri. Misal: penderita dengan herinia
ingunalis tanpa kelainan lain, orang tua sehat, bayi muda yang sehat 0,05
II Gangguan sistemik ringan sampai sedang yang bukan diseababkan oleh penyakit yang
akan dibedah. Misal: penderita dengan obesitas, penderita dengan bronkitis dan
penderita dengan diabetes mellitus ringan yang akan mengalami appendiktomi 0,4
III Penyakit sistemik berat; misalnya penderita diabetes mellitus dengan komplikasi
pembuluh darah dan datang dengan appendisitis akut. 4,5
IV Penyakit/gangguan sistemik berat yang menbahayakan jiwa yang tidak selalu dapat
diperbaiki dengan pembedahan, misalnya : insufisiensi koroner atau infark miokard 25
V Keadaan terminal dengan kemungkinan hidup kecil, pembedahan dilakukan sebagai
pilihan terakhir. Misal: penderita syok berat karena perdarahan akibat kehamilan di luar
rahim pecah. 50
INFORM CONSENT
Selain dilakukannya berbagai macam pemeriksaan penunjang terhadap pasien, hal lain
yang sangat penting terkait dengan aspek hukum dan tanggung jawab dan tanggung
gugat, yaitu Inform Consent. Baik pasien maupun keluarganya harus menyadari bahwa
tindakan medis, operasi sekecil apapun mempunyai resiko. Oleh karena itu setiap pasien
yang akan menjalani tindakan medis, wajib menuliskan surat pernyataan persetujuan
dilakukan tindakan medis (pembedahan dan anastesi).
Meskipun mengandung resiko tinggi tetapi seringkali tindakan operasi tidak dapat
dihindari dan merupakan satu-satunya pilihan bagi pasien. Dan dalam kondisi nyata,
tidak semua tindakan operasi mengakibatkan komplikasi yang berlebihan bagi klien.
Bahkan seringkali pasien dapat pulang kembali ke rumah dalam keadaan sehat tanpa
komplikasi atau resiko apapun segera setelah mengalami operasi. Tentunya hal ini
terkait dengan berbagai faktor seperti: kondisi nutrisi pasien yang baik, cukup istirahat,
kepatuhan terhadap pengobatan, kerjasama yang baik dengan perawat dan tim selama
dalam perawatan.
Inform Consent sebagai wujud dari upaya rumah sakit menjunjung tinggi aspek etik
hukum, maka pasien atau orang yang bertanggung jawab terhdap pasien wajib untuk
menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi. Artinya apapun tindakan yang
dilakukan pada pasien terkait dengan pembedahan, keluarga mengetahui manfaat dan
tujuan serta segala resiko dan konsekuensinya. Pasien maupun keluarganya sebelum
menandatangani surat pernyataan tersut akan mendapatkan informasi yang detail terkait
dengan segala macam prosedur pemeriksaan, pembedahan serta pembiusan yang akan
dijalani. Jika petugas belum menjelaskan secara detail, maka pihak pasien/keluarganya
berhak untuk menanyakan kembali sampai betul-betul paham. Hal ini sangat penting
untuk dilakukan karena jika tidak meka penyesalan akan dialami oleh pasien/keluarga
setelah tindakan operasi yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan gambaran
keluarga.
Berikut ini merupakan contoh form inform consent :
PERNYATAAN
PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIS/OPERASI
NAMA PASIEN : (L/P)
No. RM :
UNIT RAWAT :
Saya yang bertnda tangan di bawah ini :
Nama : ……………………….
Umur : ……………………….. tahun
Jenis kelamin : …………….
Alamat : ………………………
Suami/istri/ayah/ibu /keluarga‫ ٭‬dari pasien yang bernama :
……………………………………………………………………………….
1. Menyatakan SETUJU/TIDAK SETUJU‫ ٭‬bahwa pasien tersebut akan dilakukan
tindakan medis operasi dalam rangka penyembuhan pasien.
2. Saya mengerti dan memahami tujuan serta resiko/komplikasi yang mungkin terjadi dari
tindakan medis/operasi yang dilakukan terhadap pasien dan oleh karena itu bila terjadi
sesuatu diluar kemapuan dokter sebagai manusia dan dalam batas-batas etik kedokteran
sehingga terjadi kematian/kecacatan pada pasien maka saya tidak akan menuntut
siapapun baik dokter maupun Rumah Sakit.
3. Saya juga menyetujui dilakukannya tindakan pembiusan baik lokal maupun umum
dalam kaitannya dengan tindakan medis/operasi tersebut. Saya juga mengerti dan
memahami tujuan dan kemungkinan resiko akibat pembiusan yang dapat terjadi
sehingga bila terjadi sesuatu diluar kemampuan dokter sebagai manusia ddan dalam
batas-batas etik kedokteran sehingga terjadi kematian/kecacatan pada pasien maka
saya tidak akan menuntut siapapun baik dokter maupu Rumah sakit.
Yogyakarta, ……………………2007
Mengetahui,
Saya yang menyatakan,
Dokter yang merawat, Suami/istri/ayah/ibu /keluarga‫٭‬
____________________________________________________
(tanda tangan dan nama lengkap) (tanda tangan dan nama lengkap)
Saksi dari Rumah Sakit, Saksi dari keluarga,
_____________________________________________________
(tanda tangan dan nama lengkap) (tanda tangan dan nama lengkap)
‫ ٭‬coret yang tidak perlu
III. PERSIAPAN MENTAL/PSIKIS
Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan
operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat berpengaruh terhadap
kondisi fisiknya.
Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial maupun aktual pada integeritas
seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stres fisiologis maupun psikologis (Barbara
C. Long)
Contoh perubahan fisiologis yang muncul akibat kecemasan/ketakutan antara lain:
1. Pasien dengan riwayat hipertensi jika mengalami kecemasan sebelum operasi dapat
mengakibatkan pasien sulit tidur dan tekanan darahnya akan meningkat sehingga
operasi bisa dibatalkan.
2. Pasien wanita yang terlalu cemas menghadapi operasi dapat mengalami menstruasi
lebih cepat dari biasanya, sehingga operasi terpaksa harus ditunda
Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi pengalaman
operasi sehingga akan memberikan respon yang berbeda pula, akan tetapi
sesungguhnya perasaan takut dan cemas selalu dialami setiap orang dalam menghadapi
pembedahan. Berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan/kecemasan pasien
dalam menghadapi pembedahan antara lain :
a. Takut nyeri setelah pembedahan
b. Takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi normal (body
image)
c. Takut keganasan (bila diagnosa yang ditegakkan belum pasti)
d. Takut/cemas mengalami kondisi yang dama dengan orang lan yang mempunyai
penyakit yang sama.
e. Takut/ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan dan petugas.
f. Takut mati saat dibius/tidak sadar lagi.
g. Takut operasi gagal.
Ketakutan dan kecemasan yang mungkin dialami pasien dapat dideteksi dengan adanya
perubahan-perubahan fisik seperti: meningkatnya frekuensi nadi dan pernafasan,
gerakan-gerakan tangan yang tidak terkontrol, telapak tangan yang lembab, gelisah,
menayakan pertanyaan yang sama berulang kali, sulit tidur, sering berkemih. Perawat
perlu mengkaji mekanisme koping yang biasa digunakan oleh pasien dalam menghadapi
stres. Disamping itu perawat perlu mengkaji hal-hal yang bisa digunakan untuk
membantu pasien dalam menghadapi masalah ketakutan dan kecemasan ini, seperti
adanya orang terdekat, tingkat perkembangan pasien, faktor pendukung/support system.
Untuk mengurangi dan mengatasi kecemasan pasien, perawat dapat menanyakan hal-
hal yang terkait dengan persiapan operasi, antara lain :
• Pengalaman operasi sebelumnya
• Pengertian pasien tentang tujuan/alasan tindakan operasi
• Pengetahuan pasien tentang persiapan operasi baik fisik maupun penunjang.
• Pengetahuan pasien tentang situasi/kondisi kamar operasi dan petugas kamar operasi.
• Pengetahuan pasien tentang prosedur (pre, intra, post operasi)
• Pengetahuan tentang latihan-latihan yang harus dilakukan sebelum operasi dan harus
dijalankan setalah operasi, seperti : latihan nafas dalam, batuk efektif, ROM, dll.
Persiapan mental yang kurang memadai dapat mempengaruhi pengambilan keputusan
pasien dan keluarganya. Sehingga tidak jarang pasien menolak operasi yang
sebelumnya telah disetujui dan biasanya pasien pulang tanpa operasi dan beberapa hari
kemudian datang lagi ke rumah sakit setalah merasa sudah siap dan hal ini berarti telah
menunda operasi yang mestinya sudah dilakukan beberapa hari/minggu yang lalu. Oleh
karena itu persiapan mental pasien menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan
didukung oleh keluarga/orang terdekat pasien.
Persiapan mental dapat dilakukan dengan bantuan keluarga dan perawat. Kehadiran dan
keterlibatan keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien. Keluarga hanya perlu
mendampingi pasien sebelum operasi, memberikan doa dan dukungan pasien dengan
kata-kata yang menenangkan hati pasien dan meneguhkan keputusan pasien untuk
menjalani operasi.
Peranan perawat dalam memberikan dukungan mental dapat dilakukan dengan berbagai
cara:
1. Membantu pasien mengetahui tentang tindakan-tindakan yang dialami pasien sebelum
operasi, memberikan informasi pada pasien tentang waktu operasi, hal-hal yang akan
dialami oleh pasien selama proses operasi, menunjukkan tempat kamar operasi, dll.
Dengan mengetahui berbagai informasi selama operasi maka diharapkan pasien mejadi
lebih siap menghadapi operasi, meskipun demikian ada keluarga yang tidak
menghendaki pasien mengetahui tentang berbagai hal yang terkait dengan operasi yang
akan dialami pasien.
2. Memberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum setiap tindakan persiapan operasi
sesuai dengan tingkat perkembangan. Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas.
Misalnya: jika pasien harus puasa, perawat akan menjelaskan kapan mulai puasa dan
samapai kapan, manfaatnya untuk apa, dan jika diambil darahnya, pasien perlu diberikan
penjelasan tujuan dari pemeriksaan darah yang dilakukan, dll. Diharapkan dengan
pemberian informasi yang lengkap, kecemasan yang dialami oleh pasien akan dapat
diturunkan dan mempersiapkan mental pasien dengan baik
3. Memberi kesempatan pada pasien dan keluarganya untuk menanyakan tentang
segala prosedur yang ada. Dan memberi kesempatan pada pasien dan keluarga untuk
berdoa bersama-sama sebelum pasien di antar ke kamar operasi.
4. Mengoreksi pengertian yang saah tentang tindakan pembedahan dan hal-hal lain
karena pengertian yang salah akan menimbulkan kecemasan pada pasien.
5. Kolaborasi dengan dokter terkait dengan pemberian obat pre medikasi, seperti valium
dan diazepam tablet sebelum pasien tidur untuk menurunkan kecemasan dan pasien
dapat tidur sehingga kebutuhan istirahatnya terpenuhi.
Pada saat pasien telah berada di ruang serah terima pasien di kamar operasi, petugas
kesehatan di situ akan memperkenalkan diri sehingga membuat pasien merasa lebih
tenang. Untuk memberikan ketenangan pada pasien, keluarga juga diberikan kesempatn
untuk mengantar pasien samapi ke batas kamar operasi dan diperkenankan untuk
menunggu di ruang tunggu yang terletak di depan kamar operasi.
OBAT-OBATAN PRE MEDIKASI
Sebelum operasi dilakukan pada esok harinya. Pasien akan diberikan obat-obatan
permedikasi untuk memberikan kesempatan pasien mendapatkan waktu istirahat yang
cukup. Obat-obatan premedikasi yang diberikan biasanya adalah valium atau diazepam.
Antibiotik profilaksis biasanya di berikan sebelum pasien di operasi. Antibiotik profilaksis
yang diberikan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi selama tindakan
operasi, antibiotika profilaksis biasanya di berikan 1-2 jam sebelum operasi dimulai dan
dilanjutkan pasca beda 2- 3 kali. Antibiotik yang dapat diberikan adalah ceftriakson
1gram dan lain-lain sesuai indikasi pasien.
C. PERSIAPAN PASIEN DI KAMAR OPERASI
Persiapan operasi dilakukan terhadap pasien dimulai sejak pasien masuk ke ruang
perawatan sampai saat pasien berada di kamar operasi sebelum tindakan bedah
dilakukan. Persiapan di ruang serah terima diantaranya adalah prosedur administrasi,
persiapan anastesi dan kemudian prosedur drapping.
Di dalam kamar operasi persiapan yang harus dilakukan terhdap pasien yaitu berupa
tindakan drapping yaitu penutupan pasien dengan menggunakan peralatan alat tenun
(disebut : duk) steril dan hanya bagian yang akan di incisi saja yang dibiarkan terbuka
dengan memberikan zat desinfektan seperti povide iodine 10% dan alkohol 70%.
Prinsip tindakan drapping adalah:
• Seluruh anggota tim operasi harus bekerja sama dalam pelaksanaan prosedur
drapping.
• Perawat yang bertindak sebagai instrumentator harus mengatahui dengan baik dan
benar prosedur dan prinsip-prinsip drapping.
• Sebelum tindakan drapping dilakukan, harus yakin bahwa sarung tangan tang
digunakan steril dan tidak bocor.
• Pada saat pelaksanaan tindakan drapping, perawat bertindak sebagai omloop harus
berdiri di belakang instrumentator untuk mencegah kontaminasi.
• Gunakan duk klem pada setiap keadaaan dimana alat tenun mudah bergeser.
• Drape yang terpasang tidak boleh dipindah-pindah sampai operasi selesai dan harus di
jaga kesterilannya.
• Jumlah lapisan penutup yang baik minimal 2 lapis, satu lapis menggunkan kertas water
prof atau plastik steril dan lapisan selanjutnya menggunakan alat tenun steril.
Teknik Drapping :
• Letakkan drape di tempat yang kering, lantai di sekitar meja operasi harus kering
• Jangan memasang drape dengan tergesa-gesa, harus teliti dan memepertahankan
prinsip steril
• Pertahankan jarak antara daerah steril dengan daerah non steril
• Pegang drape sedikit mungkin
• Jangan melintasi daerah meja operasi yang sudah terpasang drape/alat tenun steril
tanpa perlindungan gaun operasi.
• Jaga kesterilan bagian depan gaun operasi, berdiri membelakangi daerah yang tidak
steril.
• Jangan melempar drape terlalu tinggi saat memasang drape (hati-hati menyentuh
lampu operasi)
• Jika alat tenun yang akan dipasang terkontaminasi. Maka perawat omloop bertugas
menyingkirkan alat tenun tersebut.
• Hindari tangan yang sudah steril menyentuh daerah kulit pasien yang belum tertutup.
• Setelah semua lapisan alat tenun terbentang dari kaki sampai bagian kepala meja
operasi, jangan menyentuh hal-hal yang tidak perlu.
• Jika ragu-ragu terhdap kesterilan alat tenun, lebih baik alat tenun tersebut dianggap
terkontaminasi.
Tindakan keperawatan pre operetif merupakan tindakan yang dilakukan oleh perawat
dalam rangka mempersiapkan pasien untuk dilakukan tindakan pembedahan dengan
tujuan untuk menjamin keselamatan pasien intraoperatif. Persiapan fisik maupun
pemeriksaan penunjang serta pemeriksaan mental sangat diperlukan karena kesuksesan
suatu tindakan pembedahan klien berawal dari kesuksesan persiapan yang dilakukan
selama tahap persiapan.
Kesalahan yang dilakukan pada saat tindakan preoperatif apapun bentuknya dapat
berdampak pada tahap-tahap selanjutnya, untuk itu diperlukan kerjasama yang baik
antara masing-masing komponen yang berkompeten untuk menghasilkan outcome yang
optimal, yaitu kesembuhan pasien secara paripurna.
9. Standar Prosedur Operasional Perawatan Pre Operatif

Pengertian Perawatan pre operatif merupakan tahap pertama dari perawatan


perioperatif yang dimulai sejak pasien diterima masuk di ruang
terima pasien dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi
untuk dilakukan tindakan
Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam mempersiapkan
pasien sebelum dilakukan pembedan untuk menghindari adanya
infeksi nasokomial.
Kebijakan a. Perawatan pre operasi dilakukan saat pasien masih di ruang rawat
inap
b. Perawatan pre operasi meliputi persiapan fisik dan mental
Prosedur A. Persiapan fisik
Diet
a. Bila diperlukan dilakukan persiapan terhadap pasien untuk
menunjang kelancaran operasi, seperti pemasangan infus, istirahat
total, pemasangan Supportif seperti O2, Foley catheter, NGT , dll.
b. 8 jam menjelang operasi pasien tidak diperbolehkan makan, 4 jam
sebelum operasi pasien tidak diperbolehkan minum, (puasa) pada
operasi dengan anaesthesi umum.
c. Pada pasien dengan anaesthesi lokal atau spinal anaesthesi
makanan ringan diperbolehkan. Bahaya yang sering terjadi akibat
makan/minum sebelum pembedahan antara lain :
- Aspirasi pada saat pembedahan
- Mengotori meja operasi.
- Mengganggu jalannya operasi.
d. Pemberian lavement sebelum operasi dilakukan pada bedah saluran
pencernaan dilakukan 2 kali yaitu pada waktu sore dan pagi hari
menjelang operasi. Maksud dari pemberian lavement antara lain :
- Mencegah cidera kolon
- Memungkinkan visualisasi yang lebih baik pada daerah yang akan
dioperasi.
- Mencegah konstipasi.
- Mencegah infeksi

Persiapan Kulit
a. Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari rambut. Pencukuran
dilakukan pada waktu malam menjelang operasi. Rambut pubis
dicukur bila perlu saja, lemak dan kotoran harus terbebas dari daerah
kulit yang akan dioperasi. Luas daerah yang dicukur sekurang-
kurangnya 10-20 cm2
b. Pencukuran menggunakan pisau cukur searah dengan rambut
kemudian dicuci dengan sabun sampai bersih.
c. Setelah dilakukan pencukuran, pasien dimandikan dan dikenakan
pakaian khusus dan memakai tutup kepala.

Kebersihan Mulut
a. Mulut harus dibersihkan dan gigi harus disikat
b. Gigi palsu harus dilepas dan disimpan

Hasil Pemeriksaan
a. Dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dengan hasil
pemeriksaan fisik oleh dokter ruangan dan atau dokter konsulen
RSJRW menunjukkan kondisi dalam batas tolerans
b. Dokter Ruangan dan atau dokter konsulen penyakit dalam dan atau
dokter konsulen anestesi dan atau dokter konsulen lainnya
menyatakan pasien dapat dioperasi
c. Pemeriksaan penunjang laboratorium, foto roentgen, ECG, USG
dan lain-lain.
d. Persetujuan Operasi / Informed Consent
e. Izin tertulis dari pasien / keluarga harus tersedia. Persetujuan bisa
didapat dari keluarga dekat yaitu suami / istri, anak tertua, orang tua
dan kelurga terdekat.
f. Pada kasus gawat darurat ahli bedah mempunyai wewenang untuk
melaksanakan operasi tanpa surat izin tertulis dari pasien atau
keluarga, setelah dilakukan berbagai usaha untuk mendapat kontak
dengan anggota keluarga pada sisa waktu yang masih mungkin
g. Diberikan antibiotik perioperatif sesuai petunjuk dokter

B. Persiapan mental
a. Pasien harus memahami maksud dan tujuan operasi serta resiko
yang harus dihadapi dalam menjalani operasi ini. Lakukan Informed
Consent sesuai prosedur.
b. Pasien di tenangkan dan diberi penyuluhan yang baik agar tegar
menghadapi tindakan operasi yang akna dijalaninya. Pasien diminta
untuk berdoa menurut keyakinannya masing-masing.
c. Keluarga pasien diminta selalu mendampingi dan mendukung
secara moril.
Unit Terkait 1. Unit Rekam Medik
2. Bidang Perawatan
3. Kelompok Kerja Fungsional Keperawatan
10. Referensi : Standar Prosedur Operasional Untuk Rumah sakit
Presentasi berjudul: "KONSEP KEPERAWATAN PERIOPERATIF"—
Transcript presentasi:
1 KONSEP KEPERAWATAN PERIOPERATIF
Ani Sutriningsih

2 DEFINISIKeperawatan perioperatif merupakan berbagai aktivitas yang diberikan pada klien


sebelum (pre operatif), selama (intra operatif),dan setelah pembedahan (post operatif)

3 Tujuan keperawatan perioperatif


Menciptakan hubungan yang baik dengan pasien atau tim bedah yang lain.Mengkaji, merencanakan
dan memenuhi kebutuhan pasien perioperatifMemahami dan mengetahui daerah dan prosedur
pembedahan

4 Mengobservasi kesulitan yang timbul


Tujuan…Mengetahui akibat pembedahan dan pembiusan yang dilakukan terhadap
pasien.Mengobservasi kesulitan yang timbulMengevaluasi pengadaan, pemeliharaan alat serta
tindakan secara berkesinambungan.

5 Fase pre operatifDimulai ketika ada keputusan untuk dilakukan intervensi bedah dan diakhiri
ketika pasien dikirim ke meja operasiPeran perawat :penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan
klinik ataupun rumah, wawancara pra operatif dan menyiapkan pasien untuk anestesi yang diberikan
dan pembedahan.

6 Pengkajian pada fase pre operatif


1. Nursing history, antara lain :Riwayat kesehatanPembedahan sebelumnyaPengetahuan &
persepsi klien & keluargaRiwayat pengobatanAlergiKebiasaan merokok; alkoholDukungan
keluargaPsikososio spiritual

7 4. Kepercayaan spiritual 5. Pemeriksaan fisik


Pengkajian…2.Pekerjaan3. Riwayat emosi :PerasaanKonsep diriMekanisme kopingBody image4.
Kepercayaan spiritual5. Pemeriksaan fisik

8 Status kesehatan fisik Status nutrisi


Persiapan FisikStatus kesehatan fisikStatus nutrisiKeseimbangan cairan dan elektrolitKebersihan
lambung dan kolonPencukuran daerah operasiPersonal hygienePengosongan kandung kemih
dengan memasang kateter, bila perlu.Latihan praoperasi

9 Faktor resiko thdp pembedahan


Usia (usia yang terlalu tua (lansia) atau terlalu mudaNutrisi/riwayat alergiPenyakit
kronisKetidaksempurnaan neuron endokrinPerokok beratPeminum alkohol dan pecandu
narkobaKebiasaan minum obat-obatan hipertensi, alergi, steroid dll.Mengidap penyakit parkinson.

10 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium (lab. Rutin, kimia fungsi liver, ginjal dll).Mengidap radiologi bila indikasi
dan pemeriksaan diagnostik seperti rontgen foto thorax, abdomen, USG, CT-scan, MRI, BNO-IVP,
Renogram, EKG, EEC, dan lain-lain.
11 Persiapan Status Anastesi
Klasifikasi pasien pre op menurut ASA (American Society of Anesthisiologi) :ASA I : Pasien dalam
keadaan sehat yang memerlukan operasiASA II : Pasien dengan kelainan sistemik ringan/sedang
baik oleh karena peny bedah atau dengan peny lainnya.ASA III : Pasien dengan gangguan sistemik
berat yang diakibatkan oleh karena berbagai penyebab = APP perforasi dengan iskemic

12 Persiapan status anastesi…


ASA IV : Pasien dengan kelainan sistemik berat yang secara langsung mengancam
kehidupannya.ASA V : Pasien tidak diharapkan hidup setelah 24 jam walaupun dioperasi atau
tidak.Klasifikasi ASA juga dapat dicantumkan pada pembedahan darurat dengan ditandai E (contoh
ASA I E/III E) yaitu emergency.

13 Informed ConsentSangat penting oleh karena terkait dengan aspek hukum, tanggung jawab,
tanggung gugat, harus mengerti, menyadari bahwa tindakan medis itu besar/kecil mempunyai
resiko, maka harus menerima dari semua pihak, baik pihak keluarga ataupun pihak RS (tim bedah).

14 Persiapan mental/psikis
Membantu pasien untuk mengetahui tindakan-tindakan yang dialami pasienMemberikan penjelasan
lebih dulu, sebelum setiap tindakan operasiMemberi kesempatan pada klien dan keluarga untuk
menanyakan tentang segala prosedur yang ada.Kolaborasi dengan dokter terkait dengan pemberian
obat-obatan premedikasi, medikasi dan untuk tindakan pasca bedah.

15 Fase intra operatifDimulai ketikan pasien masuk/pindah ke instansi bedah dan berakhir dan
pasien dipindahkan ke ruang pemulihanPeran perawat :pemasangan IV cath, pemberian medikasi,
intravensi, melakukan pemantauan kondisi fisiologi yang menyeluruh sepanjang prosedur
pembedahan dan menjaga keselamatan pasien.

16 Prinsip asepsis ruangan


Prinsip-prinsip UmumPrinsip asepsis ruanganalat-alat bedah, seluruh sarana kamar operasi,
personal operasi, sandal, baju, masker dan topi.Prinsip asepsis personilScrubbing (cuci tangan
steril)Gowning (teknik pemakaian gaun operasi)Gloving (teknik pemakaian sarung tangan steril)

17 Prinsip-prinsip umum…
Prinsip asepsis pasienKebersihan pasienDesinfeksi lapangan operasiTindakan drappingPrinsip
asepsis instrumensterilisasi alat, mempertahankan kesterilan alat pada saat pembedahan yang
digunakan teknik-teknik tertentu tanpa singgung dan menjaga agar tidak bersinggungan dengan
benda-benda non steril.

18 Gowning

19 Gloving

20 Fungsi keperawatan intra operatif


Perawat sirkulasi : berperan mengatur ruang operasi dan melindungi keselamatan dan kebutuhan
pasien dengan memantau aktivitas anggota tim bedah dan memeriksa kondisi di dlm ruang
operasi.Scrub Nurse (instrumentator): melakukan desinfeksi lap pembedahan dan drapping,
mengatur meja steril, menyiapkan alat jahit, diatermi dan peralatan khusus utk pembedahan dan
membantu dokter selama pembedahan.
21 Aktivitas keperawatan
Safety ManagementMonitoring FisiologisMonitoring PsikologisPengaturan dan koordinasi Nursing
Care

22 a. Kesejajaran fungsional Memberikan posisi yg tepat selama op.


Safety management1. Pengaturan posisi pasienPengaturan posisi pasien bertujuan untuk
memberikan kenyamanan pada klien dan memudahkan pembedahan.a. Kesejajaran
fungsionalMemberikan posisi yg tepat selama op.Contoh :1. Supine (dorsal recumbent) : hernia,
laparatomy, explorasi laparatomy, appendiktomy, mastectomy, reseksi usus.

23 Safety…2. Pronasi : operasi pd daerah punggung dan spinal, mis: Lamminectomy3.


Trendelenburg : dg menempatkan bg usus diatas abdomen, sering digunakan utk op pd daerah
abdomen bwh atau pelvis.4. Lithotomy : posisi ini mengekspose perineal dan rectal, biasanya
digunakan utk operasi vagina. Dilatasi, kuretase dan pembedahan rectal ; Hemmoroidectomy.

24 5. Lateral : digunakan utk op ginjal, dada dan pinggul.


Safety…5. Lateral : digunakan utk op ginjal, dada dan pinggul.b. Pemajanan area pembedahanc.
Mempertahankan posisi sepanjang prosedur operasi

25 Posisi operasi

26 Monitoring fisiologis
Melakukan balance cairanMemantau kondisi kardiopulmonalPemantauan terhadap tanda-tanda vital
(vital sign)

27 Monitoring psikologis
Memberikan dukungan emosional pada pasienBerdiri di dekat klien dan memberikan sentuhan
selama prosedur indikasi.Mengkaji status emosional klienMengkomunikasikan status emosional
klien jika ada perubahan

28 Pengaturan dan koordinasi nursing care


Memanage keamanan fisik pasienMempertahankan prinsip dan teknik asepsis

29 c. Perawatan Instrumentator (Scrub Nurse) Non Steril :


TIM OPERASISteril :a. Ahli bedahb. Asisten bedahc. Perawatan Instrumentator (Scrub Nurse)Non
Steril :a. Ahli anastesib. Perawat anastesic. Circulating nursed. Teknisi (operator alat, ahli
patologi,dll)

30 Ahli bedah & asisten bedah

31 Scrub Nurse

32 Ahli Anastesi

33 Circulating Nurse
34 TUGAS TIM OPERASIPerawat Steril bertugas : 1. Mempersiapkan pengadaan alat dan bahan
yg diperlukan utk op. 2. Memantu ahli bedah dan asisten selama prosedur bedah 3. Membantu
persiapan pelaks alat yg dibutuhkan : jarum, pisau bedah, kassa dan instrumen utk op

35 Perawat Sirkuler bertugas :


1. Mengkaji, merencanakan, mengimplementasikan dan mengevaluasi aktivitas kep yg dpt
memenuhi kebut klien2. Mempertahankan lingk yg aman dan nyaman3. Menyiapkan bantuan kpd
tiap anggota tim menurut kebutuhan.4. Memelihara komunikasi anatar anggoat tim di ruang
operasi5. Membantu mengatasi masalah yg terjadi.

36 Post operasiDimulai masuknya pasien ke ruang pemulihan (recovery room) dan berakhir
dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik rumah.Peran perawat :fokus pengkajian efek
anestesi, memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi.

37 Perawatan post operatif meliputi beberapa tahapan, yaitu:


Pemindahan pasien dari kamar operasi ke unit perawatan pasca anestesr (recovery room/ruang
pemulihan)Perawatan pasca anestest di ruang pulih (RR)Transformasi pasien ke ruang rawat

38 KLASIFIKASI PEMBEDAHAN
JENISCONTOHKESERIUSANMayorBypass arteri koronerMinorEkstraksi katarak, ekastraksi
gigiURGENSIElektifBedah plastik wajahGawatEksisi tumor ganasDaruratMemperbaiki perforasi
appendiks, mengontrol perdarahan internalTUJUANDiagnostikBiopsi massa payudaraAblatif
(pengangkatan)Pengangkatan appendiksPaliatifDebridemen jaringan nekrotikRekonstruktif (et
causa trauma)Fiksasi internal pada frakturTransplantasi (mengganti)Transplantasi ginjalKonstruktif
(et causa kongenital)Memperbaiki bibir sumbing

39 KAMAR OPERASI

40 KAMAR OPERASI

42 Penjelasan gambarDaerah Aseptik 0:digunakan untuk meletakkan kasa, kain steril, dan perban
dan alat-alat bedah, jaringan yang dibuang juga diletakkan di tempat itu, orang-orang yang
berhubungan dengan pembedahan yaitu ahli bedah, perawat instrumentator berada di daerah
asepsis 0Daerah asepsis 1 & 2: digunakan untuk meletakkan alat-alat anestesi dan alat-alat rontgen
bila ada, orang anestesi juga berada di sini.