Anda di halaman 1dari 27

Belajar Akuntansi Bersama

Your Life Will Better If Yourself Will Be Change

 Beranda
 Follow Me
 About

PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG


PRIBADI (WPOP) dan PPh PASAL 21
01 Des 2014 2 Komentar

by D Imam Maulana in Perpajakan

1. Pengertian WPOP

Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) adalah Orang Pribadi yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk
pemungut pajak atau pemotong pajak tertentu.

1. Objek Pajak Penghasilan Orang Pribadi

Undang-undang Pajak Penghasilan menyatakan bahwa penghasilan merupakan setiap tambahan


kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun. Dalam
konteks orang pribadi, penghasilan dapat berasal kegiatan usaha, pekerjaan bebas ataupun
penghasilan-penghasilan lainnya.

Dalam hal orang pribadi menjalankan kegiatan usaha dan melaksanakan pembukuan,
penghasilan neto dihitung dengan mengurangkan peredaran usaha dengan harga pokok penjualan
dan biaya usaha. Penghasilan neto dari kegiatan usaha selanjutnya akan dilakukan beberapa
penyesuaian fiskal baik positif maupun negatif. Penyesuaian ini adalah penyesuaian penghasilan
neto komersial dalam rangka menghitung penghasilan kena pajak berdasarkan Undang-Undang
Pajak Penghasilan beserta peraturan pelaksanaannya, yang dapat bersifat menambah maupun
mengurangi penghasilan kena pajak.

Dalam hal wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas namun peredaran
usahanya atau peredaran brutonya kurang dari Rp4,8 miliar setahun maka Wajib Pajak dapat
menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Selain itu Wajib Pajak yang memiliki
pekerjaan bebas seperti dokter, pengacara, notaris, akuntan, konsultan, penilai, aktuaris dan
arsitek juga wajib melaporkan penghasilan brutonya dan Pajak Penghasilannya.

1. Tarif Pajak Penghasilan

Tarif pajak penghasilan orang pribadi yang berlaku saat ini di Indonesia adalah sebagai berikut:

 Penghasilan kena pajak (PKP) sampai dengan Rp. 50 juta 5%


 Di atas Rp. 50 juta s.d. Rp. 250 juta 15%
 Diatas Rp. 250 juta s.d. Rp. 500 juta 25%
 Diatas Rp. 500 juta 30%

1. Kewajiban Wajib Pajak

Sesuai dengan sistem self assessment, Wajib Pajak mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan
diri, melakukan sendiri penghitungan pembayaran dan pelaporan pajak terutangnya.

Wajib Pajak mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok
Wajib Pajak (NPWP). Wajib Pajak Orang Pribadi yang wajib mendaftarkan diri untuk
memperoleh NPWP adalah :

1. Orang Pribadi yang menjalakan usaha atau pekerjaan bebas;


2. Orang Pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas, yang memperoleh
penghasilan diatas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) wajib mendaftarkan diri paling
lambat pada akhir bulan berikutnya;
3. Wanita kawin yang dikenakan pajak secara terpisah, karena hidup terpisah berdasarkan
keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan
penghasilan dan harta;
4. Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu yang mempunyai tempat usaha berbeda
dengan tempat tinggal, selain wajib mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya
meliputi tempat tinggalnya, juga diwajibkan mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah
kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan.
5. Untuk memperoleh NPWP, Wajib Pajak wajib mendaftarkan diri pada Kantor Pelayanan
Pajak yang wilayahnya meliputi kedudukan wajib pajak dengan
mengisiformulir pendaftaran dan melampirkan persyaratan administrasi. Selain
mendatangi Kantor Pelayanan Pajak, Wajib Pajak Orang Pribadi dapat pula mendaftarkan
diri secara online melalui e-registration di website Direktorat Jenderal
Pajak www.pajak.go.id. Selain mendapatkan NPWP, Wajib Pajak dapat dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) dan kepadanya akan diberikan Nomor Pengkuhan
Pengusaha Kena Pajak(NPPKP).

PPh Pasal 21

1. Definisi
Pajak penghasilan pasal 21 merupakan pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorium,
tunjangan dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan
pekerjaan, jabatan, jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam
Negeri.

Pembayaran PPh ini dilakukan dalam tahun berjalan melalui pemotongan oleh pihak-pihak
tertentu. Pihak yang wajib melakukan pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21/26
adalah pemberi kerja, bendaharawan pemerintah, dana pension, badan, perusahaandan
penyelenggara kegiatan.

Jumlah pajak yang telah dipotong dan disetorkan dengan benar oleh pemberi kerja dan pemotong
lainnya dapat digunakan oleh Wajib Pajak untuk dijadikan kredit pajak atas PPh yang terutang
pada akhir tahun.

1. Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21

Pemotong PPh pasal 21 adalah setiap orang pribadi atau badan yang diwajibkan oleh UU No. 7
Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 17 Tahun 2000
dan terakhir No. 36 Tahun 2008 untuk memotong PPh Pasal 21. Termasuk pemotong pasal 21
dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 252/KMK.03/2008.

1. Hak dan Kewajiban Pemotong Pajak

Hak-hak pemotong PPh Pasal 21 adalah :

1. Pemotong pajak berhak atas kelebihan jumlah penyetoran PPh pasal 21 yg terjadi karena
jumlah PPh pasal 21 yang terutang dalam 1 (satu) tahun Takwim lebih kecil daripada
jumlah PPh pasal 21 yang telah disetor. Jumlah kelebihan tersebut akan diperhitungkan
dengan PPh pasal 21 yang terutang atas gaji untuk bulan pada waktu dilakukan
perhitungan tahunan, dan jika masih ada sisa kelebihan diperhitungkan untuk bulan-bulan
lainnya dalam tahun berikutnya.
2. Pemotong pajak berhak mengajukan permohonan untuk memperpanjang jangka waktu
penyampaian surat pemberitahuan (SPT) PPh pasal 21.
3. Pemotong pajak dapat mengajukan keberatan kepada direktur jenderal pajak dan
permohonan banding kepada badan peradilan pajak.
1. Kewajiban Pemotong Pajak

Kewajiban pemotong PPh Pasal 21 adalah :

1) Setiap Pemotong Pajak Wajib mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor
Penyuluhan Pajak Setempat.

2) Pemotong Pajak mengambil sendiri formulir-formulir yang diperlukan dalam rangka


pemenuhan kewajiban perpajakannya pada Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor Penyuluhan
Pajak Setempat.

3) Pemotong Pajak wajib menghitung, memotong, dan menyetor PPh Pasal 21 yang terutang
untuk setiap akhir bulan takwim.

4) Pemotong Pajak wajib melaporkan penyetoran PPh Pasal 21 tersebut sekalipun nihil
dengan menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa ke Kantor Pelayan Pajak atau Kantor
Penyuluhan Pajak setempat.

5) Pemotong Pajak wajib memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 kepada pegawai tetap,
termasuk penerima pension bulanan, dengan menggunakan formulir yang ditentukan oleh Dirjen
Pajak dalam waktu 2 (dua) bulan setelah tahun pajak berakhir.

1. Penerima Penghasilan (Wajib Pajak PPh pasal 21)

Penerima penghasilan yang dipotong PPh pasal 21 dan/atau PPh pasal 26 adalah orang pribadi
yang merupakan :

1. Pegawai
2. Penerima uang pesangon, pension atau uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua, atau
jaminan hari tua, termasuk ahli warisnya.
3. Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa, atau kegiatan antara lain:

 Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas seperti pengacara, akuntan, arsitek, dokter,
konsultan, notaris, penilai dan aktuaris.
 Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron,
bintang iklan, sutradara, kru film dan seniman lainnya.
 Olahragawan
 Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh dan moderator.
 Pengarang, peneliti, dan penerjemah
 Pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik computer dan system aplikasinya.
 Agen iklan
 Pengawas atau pengelola proyek
 Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara.
 Petugas penjaja barang dagangan
 Petugas dinas luar asuransi
 Distributor perusahaan multi level marketing atau direct selling dan kegiatan sejenis
lainnya.

4. Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan


keikutsertaannya dalam suatu kegiatan.

1. Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 ( objek PPh Pasal 21)

Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah:

1. Penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tetap, baik berupa penghasilan yang
bersifat teratur maupun tidak teratur.
2. Penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secara teratur berupa uang
pensiun atau penghasilan sejenisnya.
3. Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan penghasilan sehubungan
dengan pensiun yang diterima secara sekaligus berupa uang pesangon, uang manfaat
pensiun, tunjangan hari tua atau jaminan hari tua dan pembayaran lain sejenis.
4. Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah harian, upah
mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan secara bulanan.
5. Imbalan kepada bukan pegawai berupa honorium, komisi, dan fee.
6. Imbalan kepada peserta kegiatan, berupa uang saku, uang representasi, uang rapat,
honorium, hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun.
7. Penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan lainnya dengan nama dan dalam
bentuk apapun yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan
pajak penghasilan yang bersifat final dan Wajib Pajak yang dikenakan pajak penghasilan
berdasarkan norma perhitungan khusus (deemed profit).

1. Penghasilan yang tidak dipotong PPh Pasal 21 (Bukan Objek PPh Pasal 21)

Tidak termasuk penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 (bukan Objek PPh Pasal 21) adalah:

1. Pembayaran manfaat atau santunan asuransi dari perusahaan asuransi sehubungan


dengan asuransi kesehatan, asuansi kecelakan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
asuransi beasiswa.
2. Penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dalam bentuk apapun diberikan
oleh Wajib Pajak atau pemerintah (termasuk Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh
pemberi kerja, maupun yang ditanggung oleh pemerintah), kecali penghasilan yang
diterima pensiun secara teratur berupa uang peniun atau penghasilan sejenisnya.
3. Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan
oleh Menteri Keuangan, iuran tunjangan hari tua atau iuran jaminan hari tua kepada
badan penyelenggara tunjangan hari tua atau badan penyelenggara jaminan social tenaga
kerja yang dibayar oleh pemberi kerja.
4. Zakat yang diteria oleh orang pribadi yang berhak dari badan atau lembaga amal zakat
yang dibentuk atau di sahkan oleh pemerintah, atau sumbangan keagamaan yang sifat nya
wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia yang diterima oleh orang pribadi
yang berhak dari lembaga keagamaan yang dibentuk atau di sahkan oleh pemerintah.
5. Beasiswa yang diterima oleh Warga Negara Indonesia dari Wajib Pajak pemberi
beasiswa dalam rangka mengikuti pendidikan di dalam negeri pada tingkat pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi yang tidak mempunyai hubungan
istimewa dengan pmilik, komisaris, direksi dan pengurus dari Wajib Pajak pemberi
beasiswa.

1. Menghitung Pajak Penghasilan Pasal 21

Secara umum menghitung Pajak Penghasilan yang terutang pada PPh Pasal 21 yang dipotong
oleh pemotong pajak adalah :

PPh Pasal 21 = Tarif x Dasar Pengenaan Pajak

Tarif PPh Pasal 21

Beberapa tarif berikut ini digunakan sebagai dasar menghitung PPh Pasal 21.

1. Tarif Pasal 17 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana diubah terakhir


dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, dengan ketentuan sebagai berikut.

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak


Rp 0,0 s.d Rp 50.000.000,00 5%
Di atas Rp 50.000.000,00 s.d Rp 250.000.000,00 15%
Di atas Rp 250.000.000,00 s.d Rp 500.000.000,00 25%
Di atas Rp 500.000.000,00 30%

2. Tarif Khusus

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 80 Tahun 2010 pasal 4 ayat 2 bahwa:


1. Tarif khusus berikut diterapkan atas penghasilan yang bersumber dari APBN yang
diterima oleh pejabat PNS, anggota TNI/Porli dan pensiunannya.
2. Tarif 0% dari jumlah bruto honorarium atau imbalan bagi PNS Golongan I dan
Golongan II, Anngota TNI/Polri Golongan Pangkat Perwira Tmatama dan Bintara, dan
pensiunannya.
3. Tarif 5% dari jumlah bruto onorarium atau imbalan bagi PNS Golongan III, anggota
TNI/Polri Golongan Pangkat prwira Pertaa dan pensiunannya.
4. Tarif 15% dari jumlah bruto honorarium atau imbalan bagi PNS Golongan IV, Anggota
TNI/Polri Golongan Pangkat Perwira Menengah dan Tinggi, dan pensiunannya.

1. Tarif khusus berikut diterpkan atas penghasilan berupa uang pensiun yang diterima
sekaligus.
2. Tarif 0% dari penghasilan bruto sampai dengan Rp 50.000.000
3. Tarif 5% dari penghasilan bruto di atas Rp 50.000.000 sampai dengan Rp 100.000.000.
4. Tarif 15% dari penghasilan bruto di atas Rp 100.000.000 smpai dengan Rp 500.000.000
5. Tarif 25% dari penghasilan bruto diatas Rp 500.000.000.

1. Tarif khusus berikut diterapkan atas penghasilan berupa uang manfaat pensiun, tunjangan
hari tua atau jaminan hari tua.
2. Tariff 0% atas penghasilan bruto sampai dengan Rp 50.000.000
3. Tarif 5% atas penghasilan bruto di atas Rp 50.000.000
4. Tarif khusus 55 atas upah harian, borongan satuan yang diterima oleh tenaga kerja harian
lepas yang mempunyai total upah sebulan kurang dari Rp 1.320.000 dan upah sehari
kurang dari Rp 150.000.

Tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang tidak memiliki
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) menjadi lebih tinggi 20% daripada tarif yang ditetapkan
terhadap Wajib Pajak yang dapat menunjukan NPWP.

Contoh:

Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp. 75.000.000,00

Pajak Penghasilan yang harus dipotong bagi Wajib Pajak yang memiliki NPWP adalah:

5% x Rp 50.000.000,00 Rp. 2.500.000,00

15% x Rp 25.000.000,00 Rp. 3.750.000,00 +


Jumlah Rp. 6.250.000,00

Pajak Penghasilan yang harus dipotong jika wajib Pajak tidak memiliki NPWP adalah:

5% x 120% x Rp 50.000.000,00 Rp 3.000.000,00

15% x 120 % x Rp 25.000.000,00 Rp 4.500.000,00 +

Jumlah Rp 7.500.000,00

Dasar Pengenaan dan Pemotongan PPh Pasal 21/26

Dasar Pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 21 ditentukan sebagai berikut.

1. Penghasilan Kena Pajak


2. Penghasilan bruto
3. 50% dari penghasilan bruto
4. 50% dari jumlah kumulatif penghasilan bruto

Besarnya tarif dan dasar pengenaan pajak ditentukan oleh kelompok penerima penghasilan dan
jenis penghasilan. Penghasilan yang sama diterima oleh kelompok penerima yang berbeda, tarif
dan dasar pengenannya bisa berbeda. Contoh PPh pasl 21 atas honorarium yang diterima oleh
bukan pegawai dan pegawai.

1. Tata Cara Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21

Hitungan 1 diterapkan pada pegawai tetap dan penerima pensiun berkala. Penghitungannya
dikelompokkan menjadi 2, yaitu :

1) Penghitungan masa atau bulanan yang menjadi dasar pemotongan PPh pasal 21 yang
terutang untuk setiap masa pajak, yang dilaporkan dalam SPT masa PPh pasal 21, selain masa
pajak Desember atau masa pajak dimana pegawai tetap berhenti bekerja.

2) Penghitungan kembali sebagai dasar pengisian form 1721-A1 atau 1721-A2 dan
pemotongan PPh pasal 21 yang terutang untuk masa pajak Desember atau masa pajak dimana
pegawai tetap berhenti bekerja.

Penghitungan kembali in dilakukan pada:


1. Bulan dimana pegawai tetap berhenti bekerja atau pensiun;
2. Bulan Desember bagi pegawai tetap yang bekerja sampai akhir tahun kalenser dan bagi
penerima pensiun yang menerima uang pensiun sampai akhir tahun kalender.

Penghitungan Masa atau Bulanan Selain Masa Pajak Desember atau Masa Pajak di mana
Pegawai Tetap Berhenti Bekerja

1. Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Teratur


2. Penghitungan PPh atas Penghasilan Teratur bagi Pegawai Tetap

1. a)Untuk menghitung PPH Pasal 21 atas penghasilan pegawai tetap, terlebih dahulu
dihitung penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh selama sebulan.
2. b)Untuk perusahaan yang masuk program Jamsostek, premi jaminan kecelakaan kerja
(JKK) yang dibayar oleh pemberi kerja merupakan penghasilan bagi pegawai. Dalam
menghitung PPH Pasal 21, premi tersebut digabungkan dengan penghasilan bruto yang
dibayarkan oleh pemberi kerja kepada pegawai.
3. c)Selanjutnya dihitung jumlah penghasilan neto sebulan dengan biaya jabatan, serta iuran
pensiun, iuran jaminan hari tua dan iuran tunjangan hari tua yang dibayar sendiri oleh
pegawai yang bersangkutan melalui pemberi kerja kepada dana pensiun.
4. d)Selanjutnya dihitung penghasilan neto setahun, yaitu jumlah penghasilan neto sebulan
dikalikan 12.
5. e)Dalam hal seorang pegawai tetap dengan kewajiban pajak subjektif sebagai Wajib
Pajak Dalam Negeri sudah ada sejak awal tahun.
6. f)Selanjutnya dihitung penghasilan kena pajak sebagai dasar penerapan tarif pasal 17 ayat
(1) huruf a UU PPh, yaitu sebesar Penghasilan neto setahun , dikurangi dengan PTKP.
7. g)Setelah diperoleh PPh terutang dengan menrapkan tarif pasal 17 ayat (1) huruf a UU
PPh terhadap penghasilan kena pajak sebagaimana dimaksud pada point ke 6, selanjutnya
dihitung PPh pasal 21 sebulan, yang harus dipotong atau disetor ke kas negara yaitu
sebesar :

(1). Jumlah PPh Pasal 21 setahun atas penghasilan sebagaimana dimaksud pada point 4 dibagi
dengan 12 atau.

(2). Jumlah PPh pasal 21 setahun atas penghasilan sebagaimana dimaksud pada point 5 dibagi
dengan 12.

1. h)Apabila pajak yang terutang oleh pemberi kerja tidak didasarkan atas masa gaji
sebulan, maka penghitungan pjak pasal 21, jumlah penghasilan tersebut terlebih dahulu
dijadikan penghasilan bulanan dengan mempergunakan faktor perkalian sebagai berikut.
2. Gaji untuk masa seminggu dikalikan 4.
3. Gaji untuk masa sehari dikalikan 26.
7. i)Selanjutnya dilakukan penghitungan PPh pasal 21 sebulan dengan cara seperti pada
point 4 sampai dengan point 7.
8. j)PPh pasal 21 atas penghasilan seminggu dihitung berdasarkan PPh pasal 21 sebulan
dalam point 9, sedangkan PPh pasal 21 atas penghasilan sehari dihitung berdasarkan PPH
pasal 21 sebulan dalam point 9 dibagi 26.
9. k)Jika pada pegawai disamping dibayar gaji bulanan juga dibayr kenaikan gaji yang
berlaku surut (rapel), misalnya untuk lima bulan, maka penghitungan PPh pasal 21 atas
rapel tersebut adalah sebagai berikut :

1) Rapel dibagi dengan banyaknya buln perolehan rapel tersebut (dalam hal ini 5 bulan).

2) Hasil pembagian rapel tersebut ditambahkan pada gaji setiap bulan sebelum adanya
kenaikan gaji, yang sudah dikenakan PPh pasal 21.

3) PPh pasal 21 atas gaji untuk bulan-bulan setelah ada kenaikan, dihitung kembali atas dasar
gaji baru setelah ada kenaikan.

4) PPh pasal 21 terutang atas tambahan Gaji untuk bulan bulan dimaksud adalah selish antara
jumlah pajak yang dihitung berdasarkan angka 3 dikurangi jumlah pajak yang telah dipotong
sebagaimana disebut pada angka 2.

3. l)Apabila kepada pegawai di samping dibayar gaji yang didasarkan masa gaji kurang dari
satu bulan (rapel) seperti tersebut dalam angka 4, maka cara penghitungan PPh pasal 21-
nya adalah sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam angka 4 dengan memperhatikan
ketentuan dalam angka 3.

Penghitungan PPh pasal 21 bagi pegawai tetap atas atas penghasilan yang bersifaftetap secara
umum dapat dirumuskan sebagai berikut :

 Penghasilan bruto

1. Gaji sebulan ×××


2. Tunjangan PPh ×××
3. Tunjangan dan honorarium lainnya ×××
4. Premi asuransi yang dibayar pemberi kerja ×××
5. Penerimaan dalam bentuk natura yang dikenakan pemotongan ×××
6. Jumlah penghasilan bruto (jumlah 1 s.d 5) ×××

 Pengurangan

1. Biaya jabatan (5%×penghasilkan bruto, maksimal Rp.500000 sebulan) ×××


2. Iuran pensiun atau iuran THT/JHT ×××
3. Jumlah pengurangan (jumlah 1 s.d 3) (×××)
 Penghitungan PPh pasal 21:

1. Penghasilan neto sebulan ×××


2. Penghasilan neto setahun / disetahunkan (10×12bulan) ×××
3. Penghasilan Tidak Kena Pajak ×××
4. Penghasilan kena pajak setahun ×××
5. PPh pasal 21 yang terutang (4×tarif pasal 17 ayat (1) huruf a.) ×××
6. PPh pasal 21 yang dipotong sebulan (14 + 12bulan) ×××

Catatan:

Sesuai PMK 162 tersebut mulai 1 Januari 2013 PTKP yang berlaku adalah sbb :

 Rp 24.300.000 (dua puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah) untuk diri Wajib Pajak Orang
Pribadi.
 Rp 2.025.000 (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) tambahkan untuk wajib pajak yang
kawin
 Rp 24.300.000 (dua puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah) tambahan untuk penghasilan
istri digabung dengan penghasilan suami.
 Rp 2.025.000 (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) Tambahan untuk anggota keluarga
sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi
tanggungan sepenuhnya, maksimal 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.

Contoh 1.1. Pegawai tetap dengan Gaji Bulanan

Tommy Hakim bekerja pada Universitas Nusantara dengan memperoleh gaji sebulan berupa gaji
pokok Rp. 3.500.000,00 tunjangan struktural Rp. 4.000.000, tunjangan profesi Rp. 3.500.000,00.
Tommy Hakim mebayar iuran pensiun sebesar Rp. 100.000,00. Tommy menikah tetapi belum
mempunyai anak.

Penghitungan PPh pasal 21 adalah.

Gaji Pokok sebulan Rp. 3.500.000

Tunjangan stuktural sebulan Rp. 4.000.000

Tunjangan profesi sebulan Rp.3.500.000

Total penghasilan bruto sebulan Rp. 11.000.000

Pengurangan:

Biaya jabatan (5%×Rp.11.000.000)

= Rp.550.000, maka diperbolehkan Rp. 500.000


Iuran pensiun Rp. 100.000

Rp. 600.000

Penghasilan neto sebulan Rp.10.400.000

Penghasilan neto setahun : 12×Rp.10.400.000 Rp. 124.800.000

PTKP setahun (K/-):

– Untuk WP sendiri Rp. 15.840.000

– Tambahan WP kawin Rp. 1.320.000

Rp. 17.160.000

Penghasilan Kena Pajak setahun Rp. 107.640.000

PPh pasal 21 terutang :

5% × Rp. 50.000.000 Rp. 2.500.000

15% × Rp. 57.640.00 Rp. 8.646.000

Rp. 11.146.000

PPh Pasal 21 sebulan: Rp. 11.146.000 ÷ 12 Rp. 928.833

Catatan:

1. Biaya jabatan adalah biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan
yang dapat dikurangkan dari penghasilan setiap orang yang bekerja sebagai pegawai tetap
tanpa memandang mempunyai jabatan ataupun tidak.
2. Contoh di atas berlaku apabila pegawai yang bersangkutan sudah memiliki NPWP.
Dalam hal pegawai yang bersangkutan belum memiliki NPWP, maka jumlah PPh Pasal
21 yang harus dipotong adalah sebesar: 120%×Rp.928.833= Rp. 1.114.599
3. Untuk contoh-contoh selanjutnya diasumsikan penerima penghasilan yang dipotong PPh
pasal 21 sudah memiliki NPWP , kecuali disebut lain dalam contoh tersebut.

Contoh 1.2. Pegawai tetap dengan Gaji Bulanan (wanita, suami tidak berpenghasilan)
Endang Vidyawati adalah seorang karyawati dengan status menikah tanpa anak, bekerja pada PT
Ventura Entiti dengan gaji sebulan sebesar Rp.2.500.000. Endang Vidyawati membayar iuran
pensiun ke dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh menteri Keuangan sebesar
Rp.50.000 sebulan, berdasarkan surat keterangan dari Pemda tempat Endang Vidyawati
berdomisili yang diserahkan kepada pemberi kerja, diketahui bahwa suaminya tidak mempunyai
penghasilan apa pun.

Penghitungan PPh pasal 21 adalah:

Gaji sebulan Rp. 2.500.000

Pengurangan:

-Biaya Jabatan (5% × Rp. 2.500.000) Rp. 125.000

-Iuran pensiun Rp. 50.000

Rp. 175.000

Penghasilan neto sebulan Rp. 2.325.000

Penghasilan neto setahun 12 × Rp.2.325.000 Rp. 27.900.000

PTKP

-Untuk WP sendiri Rp. 15.840.000

-tambahan karena menikah Rp. 1.320.000

Rp. 17.160.000

Penghasilan Kena Pajak setahun Rp. 10.740.000

PPh pasal 21 setahun 5% × Rp.10.740.000 Rp. 537.000

PPh Pasal 21 sebulan Rp. 537.000 ÷ 12 Rp. 44.750

Contoh 1.3. Pegawai tetap dengan Gaji Bulanan (Wanita, suami berpenghasilan)
Firma Utami karyawati dengan status menikah tetapi belum mempunyai anak bekerja pada PT.
Unggul Farmindo. Firma Utami menerima gaji Rp. 3.000.000 sebulan. PT Unggul Farmindo
mengikuti program pensiun dari Jamsostek. Perusahaan membayar iuran pensiun kepada dana
pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, sebesar Rp.40.000 sebulan.
Firma Utami juga membayar iuran pensiun sebesar Rp.30.000 sebulan, disamping itu perusahaan
membayarkan iuran jaminan hari tua karyawannya setiap bulannya sebesar 3,70% dari gaji,
sedangkan Firma Utami membayar iuran jaminan harei tua setiap bulan sebesar 2,00% dari gaji.
Berdasarkan surat keterangan Pemda tempat Firma Utami brtempat tinggal diketahui bahwa
suami Firma Utami tidak memliki penghasilan apapun. Premi Jaminan Kecelakaan Kerja dan
Jaminan Kematian dibayar oleh pemberi kerja dengan jumlah masing-masing sebesar 1,00% dan
0,30% dari gaji.

Penghitungan PPh pasal 21 adalah:

Gaji sebulan Rp. 3.000.000

Premi JKK Rp. 30.000

Premi Jaminan kematian Rp. 9.000

Penghasilan bruto sebulan Rp. 3.039.000

Pengurangan:

-Biaya jabatan 5%× Rp.3.039.000 Rp. 151.950

-iuran pensiun Rp. 30.000

-iuran jaminan hari tua Rp. 60.000

Rp. 241.950

Penghasilan neto sebulan Rp. 2.797.050

Penghasilan neto setahun 12 × Rp. 2.797.050 Rp. 33.564.600

PTKP

-Untuk WP sendiri Rp. 15.840.000

-Tambahan krn menikah Rp. 1.320.000

Rp.17.160.000

Penghasilan Kena Pajak setahun Rp.16.404.600


Pembulatan Rp. 16.404.000

PPH pasal 21 setahun 5% × Rp. 16.404.000 Rp. 820.200

PPh Pasal 21 sebulan Rp. 820.200 ÷ 12 Rp. 68.350

Catatan :

Apabila suami Firma Utami bekerja, besarnya PTKP Firma Utami adalah PTKP untuk diri
sendiri sebesar Rp 15.840.000.

Contoh 1.4. Pegawai tetap yang penghasilannya Sebagian atau Seluruhnya Diperoleh
dalam Mata Uang Asing

Neill Mc Leary adalah seorang karyawan memperoleh gaji pada bulan Januari 2011 dalam mata
uang asing sebesar US$ 2.000 sebulan. Kurs yang berlaku untuk bulan Januari 2011 berdasarkan
keputusan Menteri Keuangan adalah Rp 11.250 per US$1,00. Neill Mc Leary berstatus menikah
dengan satu anak.

Perhitungan PPh pasal 21 adalah:

Gaji sebulan

US$2000 × Rp. 11.250 Rp. 22.500.000

Pengurangan:

-Biaya jabatan 5% × Rp. 22.500.000 = Rp. 1.125.000

Maksimum diperkenankan Rp. 500.000

Penghasilan neto sebulan Rp. 22.000.000

Penghasilan neto setahun

12 × Rp 22.000.000 Rp. 264.000.000

PTKP

-untuk WP sendiri Rp. 15.840.000

-tambahan krn menikah Rp. 1.320.000


-tambahan untuk 1 orang anak Rp. 1.320.000

Rp. 18.480.000

Penghasilan kena Pajak Rp. 245.520.000

PPH pasal 21 terutang setahun

5% × Rp. 50.000.000 Rp. 2.500.000

15% × Rp. 195.520.000 Rp. 29.328.000

Rp. 31.328.000

PPh pasal 21 sebulan : Rp. 31.328.000 ÷ 12 = Rp. 2.652.333

1. Mekanisme Pemungutan PPh Pasal 21/26

1. Pemotong pajak setelah memotong pajak wajib menyetorkan pajak tersebut ke Bank
Persepsi, Kas Negara atau Kantor Pos dengan menggunakan SSP selambat-lambatnya
pada tanggal 10 bulan takwim berikutnya.
2. Pemotong pajak wajib melaporkan penyetoran tersebut ke Kantor Pelayanan Pajak
tempat Wajib Pajak terdaftar dengan menggunakan SPT Masa selambat-lambatnya
tanggal 20 bulan takwim berikutnya.
3. Pemotongan pajak wajib memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 21 baik diminta
maupun tidak pada saat dilakukannya pemotongamn pajak kepada orang pribadi bukan
sebagai pegawai tetap, penerima pensiun, penerima THT , penerima pesangon, dan
penerima dana pensiun,iuran pasti.
4. Pemotong pajak wajib memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 tahunan (1721-A1
bagi pegawai tetap atau penerima pensiun atau tunjangan hari tua/tabungan hari
tua/jaminan hari tua dan 1721-A2 bagi pegawai negeri sipil, pejabat negara dan
pensiunan. Formulir bukti pemotongan tersebut dibuat rangkap 2 terdiri atas lembar
pertama untuk pegawai dan lembar kedua untuk pemotong pajak
5. Pemotong pajak setelah tahun takwim berakhir berkewajiban melaporkan seluruh
penghasilan bruto dan PPh yang terutang/dibayar dalam SPT Masa PPh Pasal 21/26
(1721 dan 1721-I) bulan Desember tahun yang bersangkutan.

KASUS
PERDANA Transport merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha jasa transportasi.
Perusahaan ini didirikan sejak akhir tahun 2003 oleh pemilik Tuan Akbar. Informasi yang
berkaitan dengan perhitungan pajak beserta pengisian SPT Masa PPh sbb.

1. Data Perusahaan

Nama perusahaan : PERDANA Transport

NPWP : 04.129.225.2.541.000

Alamat : JL. Kaliurang Km. 5 No. 49 Yogyakarta, 55281

Telp : (0274) 524501

E-mail : perdana@yahoo.com

Jenis Usaha : Jasa Transportasi

Jasa Pimpinan : Ananda

No. Nama Alamat, NPWP, Jabatan, Status, Gaji Pokok


Jl. Patimura12 Yogyakarta, 04.212.121.2.541.000, manajer,
1. Ananda kawin, anak 1, gaji sebulan Rp. 6.000.000,00, tunjangan
struktural Rp.3.500.000
Jl. Pandeansari 100 Yogyakarta, 04.131.313.2.541.000, wakil
2. Monalisa manajer tidak kawin,tanpa tangguhan, gaji sebulan Rp.
4.000.000,00,tunjangan struktural Rp. 1.500.000,00
Jl. Sultan Agung 25 Yogyakarta, 04.242.313.2.541.000,
3. Riskawan
pemasaran, kawin, tangguhan 3, gaji sebulan Rp. 2.500.000,00
Jl. Cendana CT II/5 Yogyakarta, pelaksana, tidak kawin, tanpa
4. Yogananta
tangguhan gaji sebulan Rp. 1.500.000,00
Jl. Gelatik UH III/20 Yogyakarta, pelaksana, kawin tangguhan
5. Effendi
1, gaji sebulan Rp. 1.500.000,00

2. Pegawai Harian lepas


Pada bulan Juli 2011, perusahaan mempekerjakan tiga pegawai harian lepas dengan upah
borongan yang dibayarkan pada saat pekerjaan selesai, yaitu tanggal 25 Juli 2011 sbb:

 Himawan (tidak kawin, tanpa tangguhan), alamat: JL. Wonosari Km. 11 No. 110
Yogyakarta, NPWP: 68.302.123.4.542.000, upah borongan sebesar Rp.2.500.000,00,
dikerjakan dalam waktu 20 hari
 Hendrawan (kawin/tangguhan 1), alamat: JL. Godean No. 240 Yogyakarta, upah
borongan sebesar Rp. 1.400.000,00, dikerjakan dalam waktu 15 hari
 Hilman (tidak kawin/tanpa tangguhan), alamat: JL. Godean No. 245, Yogyakarta , upah
borongan 1.600.000,00, dikerjakan dalam waktu 9hari.

PENYELESAIAN

HimawanUpah bulan Juli sebesar Rp. 2.500.000,00Upah sehari :

Upah sebulan : Jumlah hari pengerjaan = Rp. 2.500.000 : 20 Rp. 125.000,00

Upah sehari tidak kena pajak : PTKP setahun : 360 (karena upah sebulan melebihi Rp. 1.320.000) =

Rp. 15.840.000 : 360 Rp 44.000,00 (-)

Upah sehari terutang pajak Rp. 81.000,00

PPh pasal 21 sehari 5% x Rp. 81.000,00 Rp. 4.050,00

PPh pasal 21 bulan Juli: 20 x Rp 4.050,00 Rp. 81.000,00

Atas pemotongan pajak ini dibuatkan bukti pemotongan nomor 01/Ps-21/07/2011


Contoh Penghitungan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah atas Penghasilan Pekerja
pada Kategori Usaha Tertentu- Pekerja Memiliki NPWP

Contoh 1

Veri Irawan adalah pekerja tetap pada PT Majutex. PT Majutex merupakan perusahaan yang
bergerak pada kategori usaha industry pertenunan dengan klasifikasi lapangan usaha (KLU)
17114.Pada bulan Maret 2009 Veri Irawan memperoleh gaji beserta tunjangan berupa uang
sebesar Rp5.000.000,00 , dan membayar uang pensiun sebesar Rp25.000,00. Veri Irawan
menikah dan mempunyai 2 anak.

1. Penghitungan PPh Pasal 21 yang terutang bulan Maret 2009

Penghasilan bruto sebulan Rp. 5.000.000,00

Pengurangan:

– Biaya jabatan (5% Rp5.000.000,00) Rp. 250.000,00

– Iuran Pensiun Rp. 25.000,00

– Rp. 275.000,00(-)

Penghasilan neto sebulan Rp. 4.725.000,00

Penghasilan neto setahun (12 x Rp4.725.000,00) Rp. 56.700.000,00

PTKP setahun:

– Untuk WP sendiri Rp. 15.840.000,00

– Tambahan WP kawin Rp. 1.320.000,00

– Tambahan tanggungan 2 anak Rp 2.640.000,00

Rp.19.800.000,00(-)

Penghasilan kena pajak setahun Rp. 36.900.000,00


PPh Pasal 21 terutang sethaun (5% x Rp36.900.000,00) Rp. 1.845.000,00

PPh Pasal 21 terutang sebulan Rp1.845.000,00 12 Rp. 153.750,00

1. Besarnya penghasilan yang diterima Veri Irawan apabila PPh pasal 21 Tidak Ditanggung
Pemerintah

Penghasilan Bruto sebulan Rp. 5.000.000,00

Dikurangi :

– Iuran pension sebulan Rp. 25.000,00

– PPh pasal 21 terutang sebulan Rp. 153.000,00

Rp. 178.750,00

Besarnya penghasilan yang diterima Rp. 4.821.250,00

1. Besarnya penghasilan yang diterima Veri Irawan apabila PPh Pasal 21 Ditanggung
Pemerintah

Besarnya penghasilan apabila PPh Pasal 21 Tidak Ditanggung Pemerintah

Rp. 4.821.250,00

PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah Rp. 153.750,00 (+)

Besarnya penghasilan yang diterima Rp. 4.950.000,00

Contoh 2

Danang adalah seorang pegawai pada PT Barcelona. PT Barcelona merupakan


perusahaan yang bergerak pada kategori usaha industry pertenunan dengan klasifikasi lapangan
usaha 17114. Pada bulan Maret 2009 Danang memperoleh gaji sebesar Rp4.000.000,00 dan
membayar iuran pensiun sebesar Rp25.000,00. Selama ini PPh Pasal 21 yang terutang
ditanggung oleh PT Barcelona. Danang menikah dan mempunyai 2 anak.
1. Penghitungan Pasal 21 yang terutang bulan Maret 2009

Penghasilan bruto sebulan Rp. 4.000.000,00

Pengurangan:

– Biaya Jabatan (5% x Rp4.000.000,00) Rp. 200.000,00

– Iuran Pensiun Rp. 25.000,00 (+)

Rp. 225,000,00 (-)

Penghasilan neto sebulan Rp. 3.775.000,00

Penghasilan neto setahun (12 x Rp3.775.000,00) Rp. 45.300.000,00

PTKP setahun:

– Untuk WP sendiri Rp. 15.840.0000,00

– Tambahan WP kawin Rp. 1.320.000,00

– Tambahan tanggungan 2 anak Rp. 2.640.000,00

Rp. 19.800.000,00 (-)

Penghasilan kena Pajak setahun Rp. 25.500.000,00

PPh Pasal 21 terutang setahun 5% x Rp. 25.500.000,00 Rp. 1.275.000,00

PPh Pasal 21 terutang sebulan Rp1.275.000,00 12 Rp. 106.250,00

1. Besarnya penghasilan yang diterima Danang apabila PPh Pasal 21 Tidak Ditanggung
Pemerintah

Penghasilan bruto sebulan Rp. 4.000.000,00

Iuran pensiun sebulan Rp. 25.000,00 (-)

Besarnya penghasilan yang diterima Rp. 3.975.000,00


1. Besarnya penghasilan yang diterima Danang apabila PPh Pasal 21 Ditanggung
Pemerintah

Besarnya penghasilan apabila PPh Pasal 21 Tidak Ditanggung Pemerintah

Rp. 3.975.000,00

PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah Rp. 106.250,00 (-)

Besarnya penghasilan yang diterima Rp. 4.081.250,00

Catatan:

Oleh karena selama ini PT Barcelona yang menangung PPh Pasal 21 maka yang ditanggung
tersebut tidak dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan.

Contoh Perhitungan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah atas Penghasilan Pekerja pada
Kategori Usaha Tertentu- Pekerja Tidak Memiliki NPWP

Contoh 1

Irawan adalah pe gawai tetap pada PT. Jogjatex dan belum memiliki NPWP. PT.Jogjatex
merupakan perusahaan yang bergerak pada kategori usaha pertenunan dengan klasifikasi
lapangan usaha 17114. Pada bulan Maret 2009 Irawan memperoleh gaji beserta tunjangan berupa
uang sebesar Rp5.000.000,00 dan membayar iuran pension sebesar Rp.25.000,00. Irawan
menikah dan mempunyai 2 anak.

1. Penghtungan PPh Pasal 21 yang terutang bulan Maret 2009

Penghasilan bruto sebulan Rp. 5.000.000,00

Pengurangan:

– Biaya Jabatan (5% x Rp5.000.000,00) Rp. 250.000,00

– Iuran pension Rp. 25.000,00(+)


Rp. 275.000,00 (-)

Penghasilan neto sebulan Rp. 4.725.000,00

Penghasilan neto setahun (12 x Rp. 4.725.000,00) Rp. 56.700.000,00

PTKP setahun:

– Untuk WP sendiri Rp. 15.840.000,00

– Tambah WP kawin Rp. 1.320.000,00

– Tambahan tanggungan 2 anak Rp. 2.640.000,0

Rp. 19.800.000,00 (-)

Penghasilan kena pajak setahun Rp. 36.900.000,00

PPh Pasal 21 terutang setahun 5% x Rp. 36.900.000,00 Rp. 1.845.000,00

PPh Pasal 21 terutang sebulan Rp. 1.845.000,00 12 Rp. 153.750,00

Kenaikan tarif pajak 20% lebih tinggi karena tidak memiliki NPWP 20% x
Rp.153.750,00 Rp. 30.750,00

Jumlah PPh Pasal 21 bulan Maret 2009 : Rp. 153.750.000 +

Rp. 30.750.000,00 = Rp. 184.500,00

1. Besarnya penghasilan diterima Irawan apabila PPh Pasal 21 tidak ditanggung Pemerintah

Penghasilan bruto sebulan Rp. 5.000.000,00

Dikurangi:

– Iuran pensiun sebulan Rp. 25.000,00

– PPh Pasal 21 terutang sebulan Rp. 153.750,00

– Kenaikan tariff 20% lebh tinggi

Karena tidak memiliki NPWP Rp. 30.750,00


Rp. 209.500,00

Besarnya penghasilan yang diterima Rp. 4.790.500,00

1. Besarnya penghasilan yang diterima Irawan apabila PPh Pasal 21 Ditanggung


Pemerintah.

Besarnya Penghasilan apabila PPh Pasal 21 Tidak Ditanggung Pemerintah Rp.4.790.000,00

PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah *) Rp 153.750.00 (+)

Besarnya penghasilan yang diterima Rp 4.944.250,00

*) Besarnya PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah tidak termasuk kenaikan tarif pajak 20% lebih
tinggi sehingga PT Jogjatex tetap harus melakukan pemotongan Pasal 21 denag tariff\ pajak 20%
lebih tinggi yaitu sebesar RP30.750,00.

Atas PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah dan kenaikan tarif pajak 20% lebih tinggi wajib
dibuatkan bukti pemotongan PPh Pasal 21 sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor
252/PMK.03/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan Pajak atas Penghasilan
sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi.

4. Apabila setelah bulan Juni 2009, Irawan belum memiliki NPWP, atas PPh Pasal 21 yang
terutang tidak ada yang Ditanggung Pemerintah sehingga besarnya penghasilan yang
diterima Irawan adalah sebesar Rp. 4.790.500,00
DAFTAR PUSTAKA

Resmi, Siti “PERPAJAKAN Teori dan Kasus” , (Jakarta: Salemba Empat, 2011)

www.pajak.go.id

www.dikti.go.id

www.ortax.org

http://triyani.wordpress.com/2012/11/03/ptkp-2013-pmk-162pmk-0112012/

Iklan

Bagikan ini:

 Twitter
 Facebook
 Google

Next Pengertian Akuntansi & Badan Sertifikasi Akuntan

2 Komentar (+add yours?)

1. Wahyu ANS
Apr 24, 2017 @ 18:12:50

saya agak bingung ketika penghasilan yang kena pajak mencapai diatas 500 juta,
bagaimanakah cara menghitungnya ? mohon bantuannya, terimakasih ^^.

Suka

Balas

o dimaulanaaa
Apr 24, 2017 @ 19:30:54
Cara menghitung penghasilan kena pajak (PKP) di atas 500jt adalah sebagai
berikut:
Misal: PKP Tn.A Rp.550jt. Sesuai tarif PPh 21 yg berlaku maka cara
menghitungnya adalah
5% x 50jt = 2.5jt
15% x 200jt = 30jt
25% x 250jt = 62.5jt
30% x 50jt = 15jt

Berarti, tarif PPh 21 untuk Tn. A yang memiliki PKP Rp. 550jt adalah 110jt
(berdasarkan perhitungan di atas).
Terimakasih telah bertanya.
Semoga membantu.

Suka

Balas

Tinggalkan Balasan

Arsip

 Februari 2015
 Desember 2014

Calendar

Desember 2014
S S R K J S M
Feb »
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

Next Event

Tak ada acara mendatang


Latest Post

 Cara Belajar Efektif Bagi Para Remaja 6 Februari 2015


 Pengertian Akuntansi & Badan Sertifikasi Akuntan 1 Desember 2014
 PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI (WPOP) dan PPh
PASAL 21 1 Desember 2014

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. •