Anda di halaman 1dari 48

1

Macam – Macam Tarif PTKP 2019

PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) juga memiliki tiga golongan WP orang pribadi dalam tarif
PTKP tahun 2019, yaitu antara lain :

1. Tarif PTKP Tahun 2019 Pria/Wanita Lajang Kode TK (Tidak Kawin)

 TK/0 adalah Tarif PTKP untuk Pria/Wanita lajang tanpa adanya tanggungan atau
tanggungan sebesar Rp 54.000.000./tahun.
 TK/1 adalah Tarif PTKP untuk Pria/Wanita lajang dengan adanya 1 tanggungan(berupa
ibu, bapak, atau anak) tanggungan sebesar Rp 58.500.000./tahun.
 TK/2 adalah Tarif PTKP untuk Pria/Wanita lajang dengan adanya 2 tanggungan(berupa
ibu, bapak, atau anak) tanggungan sebesar Rp 63.000.000./tahun.
 TK/3 adalah Tarif PTKP untuk Pria/Wanita lajang dengan adanya 3 tanggungan(berupa
ibu, bapak, atau anak) tanggungan sebesar Rp 67.500.000./tahun.

2. Tarif PTKP Tahun 2019 Pria Kawin Kode K (Kawin)

 K/0 adalah Tarif PTKP untuk Pria sudah kawin tanpa adanya tanggungan hanya Pria
tersebut dan istrinya sebesar Rp 58.500.000./tahun.
 K/1 adalah Tarif PTKP untuk Pria sudah kawin mempunyai 1 tanggungan(berupa ibu,
bapak, atau anak) sebesar Rp 63.000.000./tahun.
 K/2 adalah Tarif PTKP untuk Pria sudah kawin mempunyai 2 tanggungan(berupa ibu,
bapak, atau anak) sebesar Rp 67.500.000./tahun.
 K/3 adalah Tarif PTKP untuk Pria sudah kawin mempunyai 3 tanggungan(berupa ibu,
bapak, atau anak) sebesar Rp 72.000.000./tahun.

3. Tarif PTKP Tahun 2019 Penghasilan Suami dan Istri Kode KI (Kawin + Istri)

 KI/0 adalah Tarif PTKP untuk Penghasilan Suami dan Istri digabung tanpa
tanggungan hanya Suami dan istrinya sebesar Rp 112.500.000./tahun.
 KI/1 adalah Tarif PTKP untuk Penghasilan Suami dan Istri digabung dengan 1
tanggungan(berupa ibu, bapak, atau anak) sebesar Rp 117.000.000./tahun.
 KI/2 adalah Tarif PTKP untuk Penghasilan Suami dan Istri digabung dengan 2
tanggungan(berupa ibu, bapak, atau anak) sebesar Rp 121.500.000./tahun.
 KI/3 adalah Tarif PTKP untuk Penghasilan Suami dan Istri digabung dengan 3
tanggungan(berupa ibu, bapak, atau anak) sebesar Rp 126.000.000./tahun.

A. PTKP Wajib Pajak Tidak Kawin


Deskripsi Status Nilai Total
+ Wajib Pajak WP 54.000.000 54.000.000
+ Tanggungan 1 TK/1 4.500.000 58.500.000
+ Tanggungan 2 TK/2 9.000.000 63.000.000
+ Tanggungan 3 TK/3 13.500.000 67.500.000

B. PTKP Wajib Pajak Kawin


Deskripsi Status Nilai Total
+ Wajib Pajak WP 54.000.000 54.000.000
2

+ WP Kawin K/0 4.500.000 58.500.000


+ Tanggungan 1 K/1 4.500.000 63.000.000
+ Tanggungan 2 K/2 9.000.000 67.500.000
+ Tanggungan 3 K/3 13.500.000 72.000.000

C. Wajib Pajak Kawin + Penghasilan Istri dan Suami Digabungkan

Deskripsi Status Nilai Total


+ Wajib Pajak WP 54.000.000 54.000.000
+ Penghasilan digabung 54.000.000 108.000.000
+ WP Kawin K/I/0 4.500.000 112.500.000
+ Tanggungan 1 K/I/1 4.500.000 117.000.000
+ Tanggungan 2 K/I/2 9.000.000 121.500.000
+ Tanggungan 3 K/I/3 13.500.000 126.000.000

Apabila penghasilan dibawah PTKP, maka sesuai dengan pasal 2 dan 3 dari Peraturan
Menteri Keuangan : Nomor 183/PMK.03/2007, maka Anda tidak diwajibkan untuk lapor
SPT Tahunan.

Tarif PPh Pasal 17 Orang Pribadi Tahun 2010

1. 05% x Rp. < 50.000.000


2. 15% x Rp. 250.000.000
3. 25% x Rp. 500.000.000
4. 30% x Rp. > 500.000.000

PPh atas Hadiah dan Penghargaan


3
4
5
6
7
8

Memahami Status Perpajakan Suami Istri (KK, PH, MT, HB)

Ada 4 pilihan Status Kewajiban Perpajakan Suami Istri, diantaranya KK, HB, PH, MT. Berikut
tampilannya dalam SPT:

Mulai pelaporan pajak tahun 2014 dan seterusnya Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) diwajibkan
untuk mengisi status perpajakan suami istri tersebut, maka dari itu kita harus memahami pengertian
dan definisi dari masing-masing status tersebut, karena ketika kita memilih salah satu status
perpajakan tersebut penghitungan pajak terutangnya akan berbeda.

Berikut akan diuraikan satu persatu status perpajakan tersebut:

Kepala Keluarga (KK) adalah penghasilan dari seluruh anggota keluarga Wajib Pajak yang
digabungkan sebagai satu kesatuan, dan pemenuhan kewajiban pajaknya Wajib Pajak sebagai
Kepala Keluarga. Kita silang dalam kotak KK apabila suami dan istri yang masing-masing bekerja
pada pemberi kerja dimana istri tidak memiliki NPWP sendiri melainkan ikut / nebeng NPWP
suaminya. dengan kata lain cukuplah suami yang memiliki NPWP, dan cukup suamilah yang
membuat laporan SPT Tahunan, sedangkan penghasilan istri cukup dilaporkan dilampiran SPT nya
(form 1770 S bila karyawan).

Hidup Berpisah (HB) adalah bila suami istri yang telah hidup berpisah berdasarkan putusan
hakim / bercerai. Dengan menyilang kotak HB maka status perpajakan suami atau istri tersebut
adalah Tidak Kawin (TK) termasuk dalam menghitung besaran PTKP nya pun harus TK. WP yang
menyilang kotak HB maka penghitungan pajak terutangnya harus masing-masing, penghasilan
suami dihitung pajak terutangnya sendiri, begitupun penghasilan istri. Suami istri tersebut harus
melaporkan SPT Tahunannya masing-masing.

Pisah Harta dan Penghasilan (PH) adalah bila suami istri yang tidak bercerai akan tetapi
melakukan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan. Bila suami istri melakukan perjanjian
pemisahan harta dan penghasilan, maka istri harus memiliki NPWP sendiri, dan penghitungan
pajak terutangnya dihitung berdasarkan penggabungan penghasilan neto suami dan istri yang
kemudian dihitung secara proporsional sesuai dengan perbandingan penghasilan neto mereka.

Manajemen Terpisah (MT) adalah bila suami istri yang tidak bercerai akan tetapi istri
menghendaki / memilih untuk melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya secara terpisah.
Suami istri yang memilih / menyilang MT kondisi dan persyaratannya sama dengan status PH
yaitu istri harus mengajukan untuk memiliki NPWP sendiri, trus penghitungan pajak
terutangnya dihitung berdasarkan penggabungan penghasilan neto suami dan
9

istri yang kemudian dihitung secara proporsional sesuai dengan perbandingan penghasilan neto
mereka.

Untuk wajib pajak yang memilih status perpajakannya PH dan MT, ada formulir tambahan yang
harus diisi dalam lampiran SPT Tahunan baik Formulir 1770 maupun Formulir 1770 S.

Contoh Penghitungan Pajak Terutang Dan Pengisian SPT Tahunan WP OP Yang Status
Perpajakannya PH & MT

Untuk menghitung pajak terutang yang status perpajakannya Pisah Harta & Penghasilan (PH)
ataupun Manajemen Terpisah (MT) penghitungan pajak terutangnya sama metodenya, yaitu
dihitung berdasarkan penggabungan penghasilan neto suami dan istri yang kemudian dihitung
secara proporsional sesuai dengan perbandingan penghasilan neto mereka.

Contoh
Selama tahun 2015 Tn. Bagas Farel bekerja di PT. Maju Makmur Mandiri sebagai Direktur
Keuangan dengan gaji sebesar Rp. 10.000.000,- per bulan, NPWP Tn. Bagas 72.799.843.7-
443.000, Tn. Bagas menikah dengan Ny. Imelda Susanti yang bekerja di PT. Jaya Sentosa sebagai
Manajer Pemasaran dengan menerima gaji sebesar Rp. 8.000.000,- per bulan. Tn. Bagas memiliki
2 orang anak.

Pada awal tahun 2016 Tn. Bagas menerima bukti potong A1 dari perusahaan untuk tahun pajak
2015 dengan nilai Rp. 5.350.000,- sedangkan bukti potong yang diterima Ny. Imelda sebesar Rp.
3.280.000,-.

Tn. Bagas dan Ny. Imelda melakukan perjanjian pemisahan harta & penghasilan (PH) dan/atau
Ny. Imelda menginginkan menjalankan kewajiban perpajakannya sendiri (MT), maka dari itu Ny.
Imelda memiliki NPWP sendiri dengan nomor 73.801.853.7-443.000.

Penghitungan pajak terutang Tn. Bagas Farel dan Ny. Imelda Susanti untuk tahun 2015:

Penghasilan Tn. Bagas:


Penghasilan Sebulan Rp. 10.000.000,-
Biaya Jabatan
(5% x Rp. 10.000.000,-) Rp. 500.000,-
Ph Neto Sebulan Rp. 9.500.000,-

Ph Neto Setahun (12 x Rp. 9.500.000,-) Rp.114.000.000,-

Penghasilan Ny. Imelda:


Penghasilan Sebulan Rp. 8.000.000,-
Biaya Jabatan
(5% x Rp. 8.000.000,-) Rp. 400.000,-
Ph Neto Sebulan Rp.7.600.000,-

Ph Neto Setahun (12 x Rp. 7.600.000,-) Rp. 91.200.000,-

Ph Neto Gabungan (suami + istri) Rp. 205.200.000,-

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)


Wajip Pajak Sendiri Rp. 36.000.000,-
10

Istri Rp. 3.000.000,-


Tanggungan Anak Rp. 6.000.000,-
Penghasilan Istri Digabung Rp. 36.000.000,-
Jumlah PTKP Rp. 81.000.000,-
Penghasilan Kena Pajak Rp. 124.200.000,-

PPh 21 Terutang Gabungan:


5% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 2.500.000,-
15% x Rp. 74.200.000,- = Rp. 11.130.000,-
Jumlah PPh Gabungan = Rp. 13.630.000,-

Perhitungan pajak terutang masing-masing porsi :

Dalam pengisian SPT untuk WP OP yang status pajaknya PH & MT, penghitungan pajak di atas
diisikan dalam lampiran tersendiri form 1770 S, untuk lampiran SPT nya baik lampiran I maupun
lamiran II tidak saya tampilkan di sini, saya anggap teman-teman sudah menguasainya, tampilan
pengisian SPT nya seperti di bawah ini:
11

SPT Tn. Bagas


12

SPT Ny. Imelda


13
14

Perhitungan PPh Terutang


15

Contoh Pengitungan Pajak Terutang Dan Pengisian SPT Tahunan


WP OP Yang Status Perpajakannya HB

1. Status perpajakan HB terjadi bila dan berefek :


suami istri yang telah hidup berpisah dengan putusan hakim / cerai,
2. begitupula dengan status untuk PTKP nya menjadi Tidak Kawin (TK),
tanggungan anak ditanggung oleh yang sebenarnya menanggung / anak tersebut ikut siapa,
kalaulah anak tersebut ikut ibunya berarti untuk status PTKP ibunya ditambah dengan
tanggungan anak.
3. masing-masing WP (suami dan/atau istri) melaporkan kewajiban perpajakannya masing-
masing.

contoh penghitungan pajak terutang untuk status perpajakan HB bisa dibaca di bawah ini,
dengan memodifikasi contoh soal / kasus yang pertama.

Contoh
Selama tahun 2015 Tn. Bagas Farel bekerja di PT. Maju Makmur Mandiri sebagai Direktur
Keuangan dengan gaji sebesar Rp. 10.000.000,- per bulan, NPWP Tn. Bagas 72.799.843.7-
443.000, Tn. Bagas telah bercerai lewat putusan hakim pengadilan agama pada Oktober
2014 dengan Ny. Imelda Susanti yang bekerja di PT. Jaya Sentosa sebagai Manajer Pemasaran
dengan menerima gaji sebesar Rp. 8.000.000,- per bulan. Tn. Bagas memiliki 2 orang anak
dan kedua anaknya tersebut ikut dengan ibunya (Ny. Imelda). Pada awal tahun 2016 Tn.
16

Bagas menerima bukti potong A1 dari perusahaan untuk tahun pajak 2015 dengan nilai Rp.
5.350.000,- sedangkan bukti potong yang diterima Ny. Imelda sebesar Rp. 2.460.000,-
Pada maret 2015 Ny. Imelda mengajukan pembuatan NPWP ke KPP, NPWP Ny. Imelda
73.801.853.7-443.000

Penghitungan pajak terutang Tn. Bagas Farel untuk tahun 2015:


Penghasilan:
Gaji sebulan Rp. 10.000.000,-
Pengurangan:
Biaya Jabatan (5% x Rp. 10.000.000,-) Rp. 500.000,-
Penghasilan neto sebulan Rp. 9.500.000,-
Penghasilan neto setahun
(12 x Rp. 9.500.000,-) Rp. 114.000.000,-
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) :
Wajib Pajak Sendiri Rp. 36.000.000,-
Jumlah PTKP Rp. 36.000.000,-
Penghasilan Kena Pajak Rp. 78.000.000,-
PPh 21 Terutang :
5% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 2.500.000,-
15% x Rp. 28.000.000,- = Rp. 4.200.000,-
Jumlah = Rp. 6.700.000,-

Penghitungan pajak terutang Ny. Imelda Susanti untuk tahun 2015:


Penghasilan:
Gaji sebulan Rp. 8.000.000,-
Pengurangan:
Biaya Jabatan (5% x Rp. 8.000.000,-) Rp. 400.000,-
Penghasilan neto sebulan Rp. 7.600.000,-
Penghasilan neto setahun
(12 x Rp. 7.600.000,-) Rp. 91.200.000,-
17

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) :


WP Sendiri Rp. 36.000.000,-
Tanggungan Anak
(2 x Rp. 3.000.000) Rp. 6.000.000,-
Jumlah PTKP Rp. 42.000.000,-
Penghasilan Kena Pajak Rp. 49.200.000,-
PPh 21 Terutang :
5% x Rp. 49.200.000,- = Rp. 2.460.000,-
Penghitungan pajak terutang di atas, keduanya dimasukan dalam SPT masing-masing, berikut
penampakan pengisian SPT untuk Tn. Bagas dan Ny. Imelda...

Form 1770 S Tn. Bagas


18
19

Form 1770 S Ny. Imelda


20
21

Contoh Penghitungan Pajak Terutang Dan Pengisian Dalam SPT Tahunan WP OP Yang
Status Perpajakannya KK Terbaru

Contoh
Selama tahun 2015 Tn. Bagas Farel bekerja di PT. Maju Makmur Mandiri sebagai Direktur
Keuangan dengan gaji sebesar Rp. 10.000.000,- per bulan, NPWP Tn. Bagas 72.799.843.7-
443.000, Tn. Bagas menikah dengan Ny. Imelda Susanti yang bekerja di PT. Jaya Sentosa sebagai
Manajer Pemasaran dengan menerima gaji sebesar Rp. 8.000.000,- per bulan. Tn. Bagas memiliki
2 orang anak. Pada awal tahun 2016 Tn. Bagas menerima bukti potong A1 dari perusahaan untuk
tahun pajak 2015 dengan nilai Rp. 5.350.000,- sedangkan bukti potong yang diterima Ny. Imelda
sebesar Rp. 3.280.000,-. Ny. Imelda tidak memiliki NPWP sendiri, selama ini untuk memenuhi
hak dan kewajiban perpajakannya, Ny. Imelda memakai NPWP suami.

Penghitungan pajak terutang Tn. Bagas Farel untuk tahun 2015:


Penghasilan:
Gaji sebulan Rp. 10.000.000,-
Pengurangan:
Biaya Jabatan (5% x Rp. 10.000.000,-) Rp. 500.000,-
Penghasilan neto sebulan Rp. 9.500.000,-
Penghasilan neto setahun
(12 x Rp. 9.500.000,-) Rp. 114.000.000,-

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) :


WP Sendiri Rp. 36.000.000,-
Tanggungan istri Rp. 3.000.000,-
Tanggungan anak
(2 x Rp. 3.000.000,-) Rp. 3.000.000,-
Jumlah PTKP Rp. 45.000.000,-
Penghasilan Kena Pajak Rp. 69.000.000,-

PPh 21 Terutang :
05% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 2.500.000,-
15% x Rp. 19.000.000,- = Rp. 2.850.000,-
Jumlah = Rp. 5.350.000,-
22

Penghitungan pajak ini dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh WP OP, dengan menggunakan
formulir 1770 S, karena status perpajakannya KK maka penghasilan istri dalam SPT ini diisikan
dilampiran 2 bagian A nomor 13.

Pengisian penghitungan pajak terutang di atas dalam SPT Tahuan WP OP seperti terlihat di bawah
ini:
Form 1770 S
23
24

Form 1770 S Lamp 1


25

Form 1770 S Lamp 2


26
27

Norma penghitungan penghasilan neto adalah cara penentuan penghasilan neto bagi wajib
pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas yang tidak dapat
menentukan penghasilan netonya dikarenakan tidak melakukan pembukuan.

Ada beberapa ketentuan yang berkaitan dengan WP OP yang menjalankan usaha atau
pekerjaan bebas, yaitu:
1. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan
peredaran bruto sebesar Rp4.800.000.000,00 (empat milyar delapan ratus juta rupiah)
atau lebih dalam 1 (satu) tahun wajib menyelenggarakan pembukuan.
2. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan
peredaran bruto di bawah Rp4.800.000.000,00 (empat milyar delapan ratus juta rupiah)
dalam 1 (satu) tahun wajib menyelenggarakan pencatatan, kecuali Wajib Pajak yang
bersangkutan memilih menyelenggarakan Pembukuan.
3. Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana tersebut di atas yang tidak memilih untuk
menyelenggarakan pembukuan, dapat menghitung penghasilan neto usaha atau
pekerjaan bebasnya dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.

KEWAJIBAN YANG MUNCUL


1. Wajib Pajak yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto wajib
memberitahukan mengenai penggunaan Norma Penghitungan kepada Direktur Jenderal
Pajak paling lama 3 (tiga) bulan sejak awal tahun pajak yang bersangkutan.
2. Pemberitahuan penggunaan Norma Penghitungan Penghasilan Neto yang disampaikan
dalam jangka waktu sebagaimana tersebut di atas dianggap disetujui kecuali
berdasarkan hasil pemeriksaan ternyata Wajib Pajak tidak memenuhi persyaratan untuk
menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.
3. Wajib Pajak yang tidak memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak sesuai dengan
ketentuan sebagaimana tersebut di atas dianggap memilih menyelenggarakan
pembukuan.

SANKSI
Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan (peredaran bruto sebesar Rp
4.800.000.000,00 (empat milyar delapan ratus juta rupiah) atau lebih dalam 1 (satu) tahun
yang ternyata tidak atau tidak sepenuhnya menyeIenggarakan pembukuan,
penghasilan netonya dihitung dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan
Neto, dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima puluh persen)
dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar dalam tahun pajak yang
bersangkutan.

Norma penghitungan Penghasilan Neto dikelompokkan menurut wilayah sebagai berikut


1. 10 (sepuluh) ibukota propinsi yaitu Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang,
Surabaya, Denpasar, Manado, Makassar, dan Pontianak;
2. Ibukota propinsi lainnya;
3. Daerah lainnya.

Penghitungan penghasilan neto Wajib Pajak yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha
atau pekerjaan bebas, dilakukan terhadap masing-masing jenis usaha dengan
memperhatikan pengelompokan wilayah sebagaimana dimaksud di atas.
28

Penghasilan neto Wajib Pajak yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha adalah
penjumlahan penghasilan neto dari masing-masing jenis usaha atau pekerjaan bebas yang
dihitung.
PENGHITUNGAN
1. Penghasilan neto bagi tiap jenis usaha dihitung dengan cara mengalikan angka
persentase Norma Penghitungan Penghasilan Neto dengan peredaran bruto atau
penghasilan bruto dari kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dalam 1 (satu) tahun.
2. Dalam menghitung besarnya Pajak Penghasilan yang terutang oleh Wajib Pajak orang
pribadi, sebelum dilakukan penerapan tarif umum terlebih dahulu dihitung Penghasilan
Kena Pajak dengan mengurangkan Penghasilan Tidak Kena Pajak dari penghasilan
neto.

Contoh 1:
Bapak Iskandar (K/1) adalah WPDN yang menjalankan usaha pembuatan roti di kota
Semarang. Peredaran bruto usahanya selama tahun 2010 sebesar Rp. 450.000.000. Bapak
Iskandar memilih menggunakan norma penghitungan penghasilan neto, dikarenakan bapak
Iskandar menyelanggarakan pencatatan saja. Norma untuk usaha tersebut adalah 15%.
Maka penghitungan pajak terutang tahun 2010 adalah:

Peredaran bruto 2010 Rp. 450,000,000


Norna penghitungan 15%
Penghasilan neto 2010 Rp. 67,500,000
PTKP Rp. 18,480,000
PKP Rp. 49,020,000
PPh tahun 2010
5% x Rp49.020.000 Rp. 2,451,000

Catatan:

Penghasilan Tidak Kena Pajak per tahun diberikan paling sedikit sebesar:

a) Rp15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah) untuk diri Wajib
Pajak orang pribadi;
b) Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak
yang kawin;
c) Rp15.840.000,00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah) tambahan untuk
seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1); dan
d) Rp 1.320.000,00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan untuk setiap
anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak
angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap
keluarga.
29

Contoh 2:
Bapak Iskandar (K/1) adalah WPDN yang menjalankan usaha pembuatan roti di kota
Semarang. Peredaran bruto usahanya selama tahun 2010 sebesar Rp 450.000.000. Bapak
Iskandar memilih melakukan pembukuan. Biaya-biaya untuk mendapatkan, memelihara,
dan menagih penghasilan tersebut sesuai aturan pajak yang berlaku sebesar
Rp390.000.000. Maka penghitungan pajak terutang tahun 2010 adalah:

Peredaran bruto 2010 Rp. 450,000,000


biaya untuk mendapatkan, memelihara, dan
menagih penghasilan 390,000,000
Penghasilan neto Rp. 60,000,000
PTKP 18.480.000
PKP 41,520,000
PPh tahun 2010
5% x Rp 41.520.000 Rp. 2,076,000

Contoh 3:
Bapak Asep (K/0) adalah seorang dokter di kota Yogyakarta. Peredaran bruto yang
diperoleh dari praktik dokter selama tahun 2010 sebesar Rp 150.000.000. Selain berpraktik
sebagai dokter, Bapak Asep juga mempunyai usaha peternakan ayam potong di kota
Yogyakarta. Peredaran bruto dari usaha ayam potong tahun 2010 sebesar Rp 400.000.000.
Bapak Asep hanya melakukan pencatatan. Norma penghitungan di kota Yogya untuk
profesi dokter 45%, untuk peternakan 11%. Penghitungan pajak terutang tahun 2010
adalah:

Peredaran bruto sebagai dokter tahun 2010 Rp. 150,000,000


Peredaran bruto peternakan tahun 2010 400,000,000

Penghasilan neto sebagai dokter tahun 2010 (45%) 67,500,000


Penghasilan neto usaha peternakan tahun 2010(11%) 44,000,000
Total penghasilan neto Rp. 111,500,000
PTKP 17,160,000
PKP Rp. 94,340,000
PPh tahun 2010
5% x 50,000,000 2,500,000
15% x 44,340,000 6,651,000
Rp. 9,151,000
PPh ps. 25 1/12 x Rp. 9.151.000 Rp. 762,583
30
31

Catatan:

TARIF PTKP 2016

Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-16/PJ/2016 dan PMK No.
101/PMK.010/2016 Tarif PTKP 2016, perhitungan PPh Pasal 21 karyawan tetap adalah:

 Rp 54.000.000,- per tahun untuk diri Wajib Pajak orang pribadi


 Rp 4.500.000,- per tahun tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin
 Rp 54.000.000,- per tahun untuk istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan
suami.
 Rp 4.500.000,- per tahun tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga
semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggungan
sepenuhnya, paling banyak 3 orang untuk setiap keluarga.
32

PPh OP- Orang Pribadi Yang Punya Usaha atau Pekerjaan Bebas
Yang Memakai Norma

Contoh soal:

Antonius Wijaya, seorang pedagang eceran barang-barang kelontong untuk keperluan


rumah tangga. Dalam menjalankan usahanya, Antonius tidak menyelenggarakan
pembukuan. Ia memilih untuk menghitung penghasilan netonya dengan menggunakan
Norma Penghitungan Penghitungan Neto.

Dari buku catatan dalam tahun 2016 jumlah peredaran bruto adalah sebesar
Rp. 462.808.500,- dengan perincian sebagai berikut:

– Bulan Januari 2016 Rp. 36.457.000,-


– Bulan Februari 2016 Rp. 38.992.300,-
– Bulan Maret 2016 Rp. 39.751.400,-
– Bulan April 2016 Rp. 36.665.900,-
– Bulan Mei 2016 Rp. 37.710.200,-
– Bulan Juni 2016 Rp. 39.954.000,-
– Bulan Juli 2016 Rp. 38.500.000,-
– Bulan Agustus 2016 Rp. 39.853.400,-
– Bulan September 2016 Rp. 40.330.000,-
– Bulan Oktober 2016 Rp. 41.230.800,-
– Bulan November 2016 Rp. 35.963.000,-
– Bulan Desember 2016 Rp. 37.400.500,-

Sedangkan total biaya yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. 347.106.375,-

Berikut ini adalah identitas yang tercantum di Kartu NPWP:

NPWP : 09.123.456.7-006.000
Nama : Antonius Wijaya
Alamat : Jl. Tmn. Pulo Gebang Blok B-1 No. 22 RT. 003 RW. 012 Cakung Timur Cakung
Jakarta Timur
Alamat yang digunakan untuk melakukan usaha adalah sama dengan alamat tempat
tinggal.

Anggota keluarga yang menjadi tanggungan Antonius adalah:


 Stephanie, istri (sebagai ibu rumah tangga), lahir tanggal 10 November 1971.
 Joshua, anak kandung (sebagai pelajar), lahir tanggal 8 Oktober 1995.
 Dewi Nuryani, anak kandung (sebagai pelajar), lahir tanggal 3 April 1998.

Selama tahun 2016 sudah membayar angsuran PPh Pasal 25 sebesar Rp. 5.400.000,-

Berdasarkan kasus diatas, bagaimana perhitungan PPh terutang atas nama Antonius dan
jumlah PPh yang lebih/kurang dibayar untuk tahun pajak 2016 serta bagaimana
pengisiannya di Formulir SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi?
33

Penjelasan:

Dasar Hukum:

Peraturan Dirjen Pajak Nomor 17/PJ/2015 Tentang Norma Penghitungan Penghasilan Neto

Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.010/2016 tentang Penyesuaian


Besaran Penghasilan Tidak Kena Pajak, yang mulai berlaku pada Tahun Pajak 2016,

Wajib Pajak yang diperkenankan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto


adalah Wajib Pajak orang pribadi yang peredaran brutonya dalam satu tahun kurang dari
Rp. 4.800.000.000,- wajib memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak (Kepala KPP
di mana Wajib Pajak terdaftar) dalam jangka waktu 3 bulan pertama dari tahun pajak yang
bersangkutan.

Dalam PER – 17/PJ/2015 tentang Norma Penghitungan Penghasilan Netto, tarif norma
untuk Kegiatan Pekerja Seni dengan KLU 90002 menjadi 30% (Lampiran I) atau 25%
(Lampiran II).

Beberapa hal yang harus diperhatikan apabila Wajib Pajak akan menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto antara lain:

a. Wajib Pajak tetap wajib menyelenggarakan pencatatan sebagaimana diatur dalam Pasal
28 UU KUP;

b. Biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan usaha pokok Wajib Pajak tidak dapat
dikurangkan lagi, karena telah diperhitungkan dengan tarif dalam menghitung Norma
Penghitungan Penghasilan Neto.

Berikut contoh perhitungannya:


Perhitungan PPh Terutang dan PPh Kurang Bayar:

Penghasilan Bruto Usaha selama tahun 2016 (a) 462.808.500


Penghasilan Neto Usaha (47112, tarif 30%) (b) = (a x 30%) 138.842.550
Dikurangi: PTKP (K/2)
– Wajib Pajak 54.000.000
– Tambahan WP yang kawin 4.500.000
– Tanggungan (2 Orang) 9.000.000
Total PTKP (c) 67.500.000
Penghasilan Kena Pajak (b-c) 71.342.550
PPh Terutang:
5% x 50.000.000 = 2.500.000
15% x 21.342.550 = 3.201.383

Total PPh Terutang (n) 5.701.383


34

Kredit Pajak:
PPh Pasal 25 (m) 5.400.000
PPh Kurang Bayar (n-m) 301.383

Berikut contoh pengisian SPT Tahunan OP yang membuka usaha minimarket:

SPT Karyawan – Antonius

Berikut Daftar Kode Harta dan Hutang dalam pengisian daftar harta SPT:

Daftar Kode Harta dan Hutang

Berikut Daftar KLU (Klasifikasi Lapangan Usaha) berdasarkan KEP – 321/PJ/2012 untuk
pengisian SPT:

Daftar KLU (Klasifikasi Lapangan Usaha)


35
36
37
38
39
40
41

7 Poin Penting dalam PP 23/2018 Tentang PPh Final 0,5%

Tarif PPh Final UMKM resmi turun dari 1% menjadi 0,5%. Perubahan tarif PPh Final
UMKM tersebut tercantum dalam PP No. 23 Tahun 2018.

Peraturan Pemerintah tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan Dari Usaha yang
Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu tersebut
merupakan pengganti atas PP No 46 Tahun 2013.

Perubahan tarif yang efektif diberlakukan mulai 1 Juli 2018 adalah salah satu poin penting
dalam PP baru ini. Namun, ada sejumlah ketentuan yang tidak kalah penting untuk
diketahui wajib pajak. Berikut ini 7 poin penting dalam PP No. 23 Tahun 2018

Tarif PPh Final 0,5% Bersifat Opsional


Pemerintah telah memutuskan untuk meringankan tarif PPh Final menjadi 0,5%. Namun,
ketentuan ini bersifat opsional karena wajib pajak dapat memilih untuk mengikuti tarif
dengan skema final 0,5%, atau menggunakan skema normal yang mengacu pada pasal 17
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.

Sifat opsional ini memberi keuntungan bagi wajib pajak karena:

1. Bagi wajib pajak (WP) pribadi dan badan yang belum dapat menyelenggarakan
pembukuan dengan tertib, penerapan PPh Final 0,5% memberikan kemudahan bagi
mereka untuk melaksanakan kewajiban perpajakan. Sebab, perhitungan pajak menjadi
sederhana yakni 0,5% dari peredaran bruto/omzet. Namun, penerapan PPh Final memiliki
konsekuensi yakni WP tetap harus membayar pajak meski sedang dalam keadaan rugi.

2. Sementara, WP badan yang telah melakukan pembukuan dengan baik dapat memilih
untuk dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif normal yang diatur pasal 17 UU No. 36
tentang Pajak Penghasilan. Konsekuensinya, perhitungan tarif PPh akan mengacu pada
lapisan penghasilan kena pajak. Selain itu, WP juga terbebas dari PPh bila mengalami
kerugian fiskal.

Pengenaan Tarif PPh Final 0,5% Punya Batas Waktu

Tidak seperti PP No. 46 Tahun 2013, kebijakan terbaru tentang PPh Final 0,5% punya
grace period alias batasan waktu.

Batasan waktu yang diberikan pemerintah bagi WP yang ingin memanfaatkan tarif PPh
Final 0,5% adalah:

A. 7 tahun pajak untuk WP orang pribadi.

B. 4 tahun pajak untuk WP badan berbentuk koperasi, CV, atau firma.

C. 3 tahun pajak bagi WP badan berbentuk PT.


42

Setelah batas waktu tersebut berakhir, WP akan kembali menggunakan skema normal
seperti diatur oleh pasal 17 UU No.36. Hal ini ditujukan untuk mendorong wajib pajak
menyelenggarakan pembukuan dan pengembangan usaha.

WP yang Dikenai PPh Final Berpenghasilan di Bawah Rp 4,8 M

Ambang batas penghasilan wajib pajak yang dikenai PPh Final tidak berubah yakni senilai
Rp 4,8 miliar. Batasan nilai tersebut secara eksplisit menargetkan Usaha Mikro Kecil dan
Menengah (UMKM) sebagai target pajak. Pemerintah memang ingin merangkul sebanyak
mungkin UMKM untuk masuk dalam sistem perpajakan.

Siapa yang Dapat Memanfaatkan PPh Final 0,5%?

Wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang dikenai PPh Final 0,5% adalah:

1. Wajib Pajak orang pribadi

2. Wajib Pajak badan berbentuk koperasi, CV, firma, atau PT yang menerima atau
memperoleh penghasilan dengan peredaran bruto di bawah Rp 4,8 miliar.

Siapa yang Tidak Dapat Memanfaatkan PPh Final 0,5%

1. Wajib Pajak orang pribadi dengan penghasilan yang diperoleh dari jasa sehubungan
dengan pekerjaan bebas. Ini termasuk persekutuan atau firma yang terdiri dari WP orang
pribadi berkeahlian sejenis seperti firma hukum, kantor akuntan dan lain sebagainya.

2. Wajib pajak dengan penghasilan yang diperoleh di luar negeri yang pajaknya terutang
atau telah dibayar di luar negeri.

3. Wajib pajak yang penghasilannya telah dikenai PPh yang bersifat final dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri.

4. Wajib pajak dengan penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.

Jika Ingin Mengikuti Tarif Skema Normal, Wajib Pajak Perlu Mengajukan
Diri

Jika tidak ingin berstatus sebagai wajib pajak PPh 0,5%, Anda harus lebih dulu
mengajukan permohonan pada Ditjen Pajak. Selanjutnya, Anda akan mendapatkan
keterangan sebagai wajib pajak yang dikenai PPh yang mengacu pada pasal 17 Undang-
Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan

Namun, wajib pajak yang sudah memilih untuk dikenai PPh dengan skema normal tidak
dapat memilih untuk dikenai PPh Final 0,5%. (#)
43

WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI PENGUSAHA TERTENTU


PER-32/PJ/2010:
“Tentang Pelaksanaan Pengenaan PPh Pasal 25 Bagi WP OP Pengusaha Tertentu”

Definisi WP OPPT adalah WP OP yang melakukan kegiatan usaha sebagai ……….


1. pedagang pengecer
2. mempunyai 1 (satu) atau lebih tempat usaha

Definisi Pedagang Pengecer adalah orang pribadi yang melakukan :


a. penjualan barang secara grosir maupun eceran dan/atau
b. penyerahan jasa,
melalui suatu tempat usaha.

Angsuran PPh Pasal 25 = angsuran PPh tahun pajak berjalan untuk setiap bulan yang harus di
bayar sendiri oleh WP.

WP OPPT wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP bagi setiap tempat usahanya
berdasarkan
a. tempat usaha tersebut dan tempat tinggal WP pada KPP yang wilayah kerjanya berbeda
dan/atau
b. tempat usaha tersebut dan tempat tinggal WP pada KPP yang wilayah kerjanya yang sama

Besarnya angsuran PPh Pasal 25 = 0,75% x jumlah peredaran brutto setiap bulan

dari masing-masing tempat usaha.

Pembayaran angsuran PPH Pasal 25 merupakan kredit pajak atas PPh pasal 25 yang terutang untuk
tahun pajak yang bersangkutan.

WP OPPT yang melakukan pembayaran angsuran PPh Pasal 25 melalui Bank Persepsi atau Bank
Devisa Persepsi atau Kantor Pos Persepsi dengan menggunakan SSP dan SSPnya telah mendapat
validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara, dianggap telah menyampaikan SPM PPh
Pasal 25 ke KPP sesuai dengan tanggal validasi yang tercantum pada SSP.

WP OPPT dengan jumlah angsuran PPh Pasal 25 NIHIL atau yang melakukan pembayaran tetapi
tidak mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara, tetap harus menyampaikan
SPM PPh Pasal 25 sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
44

Dalam hal WP OPPT tidak melakukan usaha sebagai Pedagang Pengecer di tempat tinggalnya
maka WP OPPT tersebut tidak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak
Penghasilan Pasal 25 di Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal.

Pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 25 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) yang
dilakukan:

a. setelah tanggal jatuh tempo pembayaran (tgl. 15 bulan berikutnya) tetapi belum melewati batas
akhir pelaporan (tgl. 20 bulan berikutnya), dikenai sanksi administrasi berupa bunga
sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo
pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan
dihitung penuh 1 (satu) bulan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2a) Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun
2009; atau
b. setelah tanggal jatuh tempo pembayaran (tgl. 15 bulan berikutnya) dan pelaporan (tgl. 20 bulan
berikutnya), dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per
bulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan
tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
sebagaimana dimaksud dalam Pasal Denda sebesar
9 ayat (2a) dan
Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi. Sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009.

Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu (WP OPPT) wajib menyampaikan Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan dengan melampirkan daftar jumlah penghasilan dan
pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 25 dari masing-masing tempat usaha ke Kantor Pelayanan
Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha
Tertentu dengan menggunakan formulir sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan
Direktur Jenderal Pajak ini, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur
Jenderal Pajak ini.
45

Contoh 1:
Anda adalah seorang pengusaha pakaian yang mempunyai usaha di beberapa tempat di Jakarta,
yaitu Mal Taman Angrek, Bintaro Plaza, dan Bekasi Mal yang memiliki peredaran bruto bulan
Maret 2017 masing-masing sebesar Rp80.000.000,00, Rp50.000.000,00, danRp30.000.000,00.
Maka besarnya PPh 25 Tuan Anto untuk masa Maret dari masing-masing tempat usaha, yaitu:
Mal Taman Angrek = 0,75% xRp80.000.000,00 = Rp600.000,00
Bintaro Plaza = 0,75% xRp50.000.000,00 = Rp375.000,00
Bekasi Mal = 0,75% xRp30.000.000,00 = Rp225.000,00

Contoh 2:
Anda sebagai Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan usaha perdagangan mobil bekas yang
memiliki lebih dari 1 (satu) tempat kegiatan usaha.
Berdasarkan pembukuan yang dilakukan diketahui bahwa peredaran bruto usaha sampai dengan
akhir Tahun Pajak 2016 berjumlah Rp8.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
Dengan demikian, karena peredaran bruto tahun sebelumnya (2016) melebihi Rp4.800.000.000,00
maka pada Tahun Pajak 2017 Anda dikenai PPh berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak
Penghasilan, dan Anda wajib menyetorkan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25, sesuai ketentuan
angsuran bagi orang pribadi pengusaha tertentu.
Pada bulan Januari 2017 peredaran bruto dari usaha Anda pada toko A adalah sebesar
Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah), dan pada toko B adalah Rp100.000.000,00.
Dengan demikian, penghitungan angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan Januari 2015 adalah sebagai
berikut:
Tokok A:
PPh Pasal 25 = 0,75% x Rp400.000.000,00
= Rp3.000.000,00
Tokok B:
PPh Pasal 25 = 0,75% x Rp100.000.000,00
= Rp 750.000,00
Angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan selanjutnya sampai dengan bulan Desember 2015 adalah
0,75% dikalikan peredaran bruto pada setiap lokasi usaha pada bulan yang bersangkutan.
46

KOREKSI POSITIF DAN KOREKSI NEGATIF


KOREKSI FISKAL POSITIF
Laba kena pajak bertambah + Beban Komersil berkurang >> PPh bertambah

Koreksi fiskal positif diantaranya:

1. Biaya yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan usaha perusahaan untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara pendapatan
2. Biaya yang tidak diperkenankan sebagai pengurang PKP
3. Biaya yang diakui lebih kecil, seperti penyusutan, amortisasi, dan biaya yang ditangguhkan menurut
WP lebih tinggi
4. Biaya yang didapat dari penghasilan yang bukan merupakan objek pajak
5. Biaya yang didapat dari penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final

Deductible Expense
Pengertiannya:
BEBAN-BEBAN KOMERSIAL yang boleh dibebankan dalam Laporan Keuangan Fiskal
(MENGURANGI PENGHASILAN BRUTTO)
Deductible Expense adalah
 Pengeluaran dan biaya yang berkaitan dengan kegiatan mendapatkan, memelihara, dan
menagih penghasilan penghasilan perusahaan. Poin penting yang perlu digarisbawahi
adalah kegiatan mendapatkan, memelihara, dan menagih penghasilan.

Contohnya adalah biaya gaji karyawan, biaya listrik, biaya ekspedisi, biaya
telekomunikasi, biaya-biaya tersebut adalah tipe biaya yang terkait langsung dengan
operasional perusahaan dalam kegiatan mendapatkan, memelihara, dan menagih
penghasilan.

biaya pengobatan karyawan bisa diakui sebagai tambahan penghasilan karyawan dalam
bentuk tunjangan kesehatan, karena apabila hanya diakui sebagai biaya pengobatan maka
akan dianggap sebagai natura oleh petugas pajak.

Kemudian pada perusahaan yang dikenakan tarif pajak final 1%, maka pemberian
tunjangan karyawan diakui sebagai pemberian natura, supaya tidak dikenakan tarif pajak
PPh 21, karena pajak perusahaan langsung dikenakan dari omset, sehingga tidak banyak
berpengaruh apabila diakui sebagai beban penghasilan karyawan.

Lalu ada lagi terkait biaya perjalanan dinas, sebisa mungkin biaya perjalanan dibuat jelas
pertanggungjawabannya, terutama terkait bukti transaksi. Sebagai contoh, apabila ada
sisa dana perjalanan dinas bisa dikembalikan beserta rincian nota pengeluarannya.
47

Apabila biaya perjalanan dinas tidak bisa dibuktikan dengan bukti seperti itu, maka
biasanya petugas pajak akan mengakuinya sebagai tambahan penghasilan
karyawan, yang akan menyebabkan perusahaan menambah biaya pajak PPh 21, dan
lebih parahnya lagi bisa diakui sebagai pemberian natura yang langsung dikoreksi
karena dianggap non deductible expense.

KOREKSI FISKAL NEGATIF


Laba kena pajak berkurang + Beban-Beban Komersil bertambah >> PPh berkurang
Koreksi fiskal negatif diantaranya :

1. Biaya yang diakui lebih besar, seperti penyusutan dan amortyisasi dan biaya yang
ditangguhkan pengakuannya menurut WP lebih rendah;
2. Penghasilan yang didapat dari penghasilan yang bukan merupakan objek pajak; dan
3. Penghasilan yang didapat dari penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final

Non Deductible Expense


Pengertiannya:
biaya-biaya yang tidak terkait dengan kegiatan mendapatkan, memelihara, dan menagih
penghasilan.
Contohnya adalah pengeluaran terkait pembagian laba, hibah/sumbangan, pemberian
natura/kenikmatan, biaya pribadi direksi, dll. Biaya-biaya tersebut sama sekali tidak terkait
dengan operasional perusahaan dalam rangka kegiatan mendapatkan, memelihara, dan menagih
penghasilan, maka dari itu tidak boleh dibebankan ke penghasilan brutto usaha.

Perbedaan Koreksi Fiskal

Terdapat perbedaan dalam perlakuan penetapan pendapatan dan biaya menurut Undang-
Undang Perpajakan Nomor 17 Tahun 2000 dengan Standar Akuntansi Keuangan sebagai
akibat dari adanya beda tetap dan beda sementara; perlakuan akuntansi terhadap perbedaan
tersebut perlu dilakukan rekonsiliasi antara laporan keuangan komersil
dengan laporan keuangan fiskal; dan pengaruh perbedaan tersebut terhadap laporan
keuangan yaitu pada besarnya jumlah pajak terutang dan jumlah laba usaha.

Beda Tetap (Permanent Difference)

Bagi perusahaan:

Semua pemasukan adalah pendapatan yang akan menambah laba kena pajak , dan semua
pengeluaran adalah beban yang akan mengurangi laba kena pajak.

Bagi Ditjend Pajak:


48

Tidak semua pemasukan adalah faktor penambah laba kena pajak, ada beberapa jenis
pendapatan yang bukan merupakan faktor penambah laba kena pajak karena pendapatan
tersebut sudah dikenakan pajak bersifat final, dan tidak semua pengeluaran adalah faktor
pengurang laba kena pajak karena ada beberapa jenis pengeluaran yang sesungguhnya
bukan merupakan bagian dari kegiatan perusahaan (sumbangan, entertain tanpa daftar
normatif). Di dalam Akuntansi Perpajakan perbedaan ini disebut dengan BEDA TETAP
(Permanent Difference).

Perincian Beda Tetap Menurut SAK dan Menurut Fiskal


No Jenis Perbedaan Menurut SAK Menurut Fiskal

1. Penghasilan Bunga Bank Penghasilan di luar usaha Sudah dipotong PPh yang
bersifat final;
2. Penghasilan Deviden Penghasilan di luar usaha Masuk dalam pengecualian objek
pajak;
3. Biaya Sumbangan/Hadiah Biaya (tercantum dalam laba/rugi) Tidak mengurangi
penghasilan;
4. Keuntungan dari penyertaan saham di BEI Penghasilan di luar usaha Tidak
menambah penghasilan;
5. Penghasilan dari sumbangan/hibah Penghasilan luar biasa Tidak menambah
penghasilan;
6. Tunjangan pegawai dalam bentuk natura Penghasilan (bagi pegawai) dan biaya
(bagi pemberi kerja) Tidak mengurangi penghasilan;
7. Biaya Entertainment Dapat dimasukkan sebagai biaya Sebagai deductible expense
jika ada daftar nominatifnya, dan sebaliknya;
8. Biaya denda dan bunga pajak Pengurang penghasilan Non deductible expense