Anda di halaman 1dari 5

1

POST MEDIUM1

Jim Supangkat2

Tema ‘Idiolect’ pada kompetisi Gudang Garam Indonesia Art Awards


(GGIAA) 2013 yang diselenggarakan Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI)
ini berkaitan dengan patokan untuk menetapkan penerima penghargaan.
Patokan penilaian ini membuat GGIAA 2013 menjadi berbeda dengan
semua kompetisi yang pernah diselenggarakan YSRI dalam 20 tahun
terakhir (Philip Morris Art Awards dan Indonesia Art Awards). Pada semua
kompetisi ini peserta diminta mengirim hanya satu foto karya yang
diajukan untuk mengikuti kompetisi. Penilaian dilakukan dengan
menimbang satu karya ini saja.
Kompetisi GGIAA 2013 dengan tema ‘idiolect’ menetapkan persyaratan
yang jauh lebih berat. Selain satu karya yang diajukan untuk kompetisi,
para peserta kompetisi diminta menginformasikan perkembangan karya-
karya mereka pada lima tahun terakhir. Peserta diminta juga menuliskan
konsep berkarya dan pemikiran mereka. Materi ini dikaji melalui sebuah
penelitian yang pada akhirnya menyajikan data dan temuan yang
memudahkan proses penjurian.
‘Idiolect’ adalah istilah sosio-linguistik yang merupakan gabungan dua
suku kata yaitu, ‘idio’ dan ‘lect’. Suku kata ‘Idio’ berasal dari istilah
‘idiosyncratic’ dan menunjuk kapasitas unik yang bersifat personal.
Sementara suku kata ‘lect’ berasal dari istilah ‘dialect’ yang maknanya
sudah umum diketahui, yaitu tekanan dan perubahan pada sesuatu ‘sub-
bahasa.’ Dalam semiotika, ‘ideolect’ menunjuk sesuatu ‘kode’ (code)
yang walau personal bisa dipahami (orang lain) dalam komunikasi.
Kode dikenal sebagai konsep mendasar dalam semiotika. Merupakan
seperangkat tanda yang menunjukkan berbagai kesamaan pemahaman
yang terbentuk tidak berdasarkan kesepakatan. Tanda-tanda yang
memungkinkan komunikasi ini terhimpun pada sejumlah kode, misalnya,
‘kode tekstual’ (textual codes), ‘kode sosial’ (social codes) atau ‘kode
interpretatif’ (interpretative codes).
Semiotika yang sekarang lebih banyak digunakan untuk pembacaan
karya-karya seni rupa mengubah pengertian ‘self expression’ (ekspresi
diri) yang merupakan salah satu ‘istilah kunci’ pada penciptaan karya seni
rupa. Di masa lalu ‘self expression’ dipahami sebagai upaya menampilkan
1
Makalah untuk diskusi Apa dan Mengapa Karya Trimatra Kita di Serambi Salihara, 12
Februari 2014, sebuah diskusi yang menjadi bagian dari pameran seni rupa Di Antara/In
Between, Galeri Salihara, 09-28 Februari 2014. Makalah ini adalah juga pengantar katalog
kompetisi GGIAA 2013. Makalah ini tidak disunting.
2
Jim Supangkat adalah kritikus seni rupa dan anggota dewan juri Kompetisis Karya Trimatra
Nasional Salihara-Kemenparekraf 2013 dan Ketua Dewan Juri GGIAA 2013.

1
2

individualitas yang pada individualisme merupakan kekuatan utama


manusia yang bebas dari kode sosial—ini sebabnya banyak ungkapan seni
rupa di masa lalu menjadi esoterik (tidak dipahami masyarakat). Sekarang
pengertian ‘self expression’ dibebaskan dari dominasi pengertian itu dan
dikembalikan ke pengertian aslinya.
Dalam Bahasa Inggris, ‘self expression’ mempunyai sejumlah sinonim
yang bisa digunakan untuk meluaskan makna ‘ekspresi diri’. Sinonim-
sinonim istilah ini adalah, expressiveness, articulacy, fluency dan
persuasiveness. Expressiveness pada kehidupan sehari-hari bisa
ditemukan misalnya pada cara bicara yang bersemangat—melibatkan i
intonasi, gesture, mimik, bahkan gerak tubuh terutama gerak tangan.
Menimbang sinonim expressiveness cara bicara ini mengandung
articulacy (penyampaian pesan yang jelas), fluency (kelancaran bicara),
dan, persuasiveness (dorongan untuk membuat ungkapan dimengerti,
berkesan bahkan berpengaruh). Dari gabungan pengertian ini bisa dilihat
bahwa di balik cara bicara yang ekspresif ada kemampuan menangkap
dan merekam semiotik tanda-tanda, menyimpannya dalam memori untuk
digunakan ketika bicara.
‘Idiolect’ sebagai gejala pada penciptaan karya seni rupa berpangkal
pada penelusuran kemampuan di balik self expression itu. Pada
kemampuan ini—disadari atau tidak—terjadi overcoding, yaitu modifikasi
kode-kode dan menghasilkan kode-kode baru (new codes). Kode-kode baru
ini bisa ditemukan sistemnya dan membuat ungkapan personal menjadi
bisa dimengerti—ini dasar hubungan semiotika dan seni rupa.
Overcoding bukan disain; bukan hasil sebuah perencanaan.
Overcoding muncul dari proses eksperimentasi jangka panjang yang
melibatkan naluri, kepekaan, kontinuitas pikiran, pengembangan ide dan
kreativitas. Pada penciptaan karya seni rupa seringkali terlihat sebagai
pengulangan terus menerus yang obsesif. Ini sebabnya, penilaian karya
pada kompetisi GGIAA 2013 di tingkat seleksi maupun di tingkat penjurian
tidak [bisa] dilakukan dengan mengobservasi hanya satu karya.
Meluasnya penggunaan semiotika pada pembacaan karya seni rupa
sekarang ini berkembang paralel dengan seni rupa kontemporer yang
menunjukkan terjadinya perubahan. Sudah umum diketahui seni rupa
kontemporer memperlihatkan berbagai gejala yang bertentangan dengan
kecenderungan pada perkembangan sebelumnya.
Sebelum seni rupa kontemporer penciptaan karya seni rupa maupun
pembacaannya mengutamakan penjelajahan bahasa ungkapan yang
dikenal sebagai penjelajahan medium. Medium ini adalah ‘medium
spesifik’ yaitu medium istimewa yang bisa menampilkan nilai-nilai seni
yang filosofis. Keyakinan ini berpangkal pada historical understanding
yang bertumpu pada sejarah seni rupa Barat, yang percaya bahwa art
making meliputi hanya pembuatan lukisan, patung, drawing, dan, prints.
Pemahaman ini melahirkan konsep fine art dan high art.
Dipengaruhi perkembangan filsafat bahasa atau fisafat matematik
Abad ke-20—percaya bahwa kebenaran intra-lingusitik mencerminkan

2
3

kebenaran umum—penjelajahan medium spesifik itu berkembang menjadi


pencarian kebenaran ‘intra-medium’ yang dikenal juga sebagai pencarian
esensi bahasa bentuk. Pencarian ini melahirkan ‘teks’ yang sulit
dimengerti masyarakat (esoteris) karena didasarkan indeks seperti indeks
pada ilmu pengetahuan yang dipahami hanya di lingkungan ilmu.
Perubahan yang tercermin pada seni rupa kontemporer menunjukkan
gejala ‘post medium’ yaitu kecenderungan yang tidak percaya lagi pada
penjelajahan medium dan pencarian kebenaran ‘scientific’ intra-medium.
Perubahan ini dipengaruhi paham kontekstualisme. Kontekstualisme
menyangkal kebenaran obyektif ilmu pengetahuan (ditegakkan melalui
pembuktian material) yang menihilkan konteks. Kontekstualisme percaya
bahwa penentuan kebenaran tidak bisa dilepaskan dari konteks karena
kebenaran tidak bisa menghindar dari pembenaran, pengakuan dan
kesepakatan,
Gejala post medium pada seni rupa kontemporer menunjukkan
berubahnya posisi medium pada art making. Pada seni rupa kontemporer
medium hanya alat untuk mengungkapkan pemikiran dan nilai-nilai seni.
Maka tidak ada lagi medium spesifik yang pada konsep fine art diyakini
sebagai medium yang istimewa. Pada seni rupa kontemporer ‘bahasa
tinggi’ yang sophesticated ini digantikan vernacular, yaitu bahasa sehari-
hari yang mudah dimengerti dan luas lingkup penggunaannya. Pada
penciptaan karya seni rupa bahasa ini adalah bahasa visual. Konteksnya
adalah visual culture yang dominan dalam kehidupan semua lapisan
masyarakat sekarang ini. Dalam paham ini karya seni rupa adalah teks;
Pembacaan dan maknanya bisa dipahami melalui textual code.
Berkembangnya keyakinan ini yang mendekatkan seni rupa dengan
semiotika.
Perkembangan itu membangkitkan pemahaman umum yang melihat
seni rupa kontemporer mengutamakan ide dan konteks. ‘Idiolect’ yang
mendasari gejala post medium, menjelaskan pemahaman yang sudah
meluas ini. ‘Idiolect’ menunjukkan bahwa ‘ide’ pada pemahaman ini sama
sekali bukan ‘ide’ dalam pengertian umum, dan, konteks bukan sekadar
mengangkat persoalan sosial-politik.
Perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia memperlihatkan
perjalanan panjang yang berliku dalam upaya memahami gejala post
medium itu. Awal seni rupa kontemporer di Indonesia ditandai kemunculan
Gerakan Seri Rupa Baru Indonesia pada 1975 yang menolak ‘bahasa
tinggi’ fine art dan menampilkan karya-karya yang menggunakan
vernacular (disebut karya-karya ‘seni rupa baru’). Kompetisi GGIAA 2013
memperlihatkan perjalanan panjang ini. Kompetisi ini diikuti angkatan
1970 (berusia antara 55 – 64 tahun) sampai angkatan 2000 (berusia 24 -
33 tahun).
Karya-karya yang masuk nominasi menunjukkan tanda-tanda signifikan
bahwa gejala post medium dirasakan semua angkatan peserta, walau
tidak tampil eksplisit. Pemenang Kategori Utama GGIAA 2013, Djoni Basri
adalah perupa angkatan 1970 (lahir pada 1957). Ia, satu dari dua finalis

3
4

yang mendapat angka tertinggi dari Dewan Juri. Sampai sekarang Djoni
Basri masih mendalami medium patung. Namun bukan keterampilan dan
persoalan bentuk yang menarik pada karya-karyanya, tapi ide dan
perkembangan ide-idenya.
Pada perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia pernah
muncul pemahaman terdistorsi yang melihat medium konvensional
sebagai bahasa ‘jadul’ (zaman dulu) yang ketinggalam zaman.
Pemahaman ini bahkan menganggap persoalan bahasa ‘sudah mati’ pada
seni rupa kontemporer yang mengutamakan ide dan pemikiran.
Pemahaman ini kembali memperlihatkan distorsi dalam menafsirkan
kedudukan ide dan pemikiran. Ideolect’ sebagai gejala pada penciptaan
karya seni rupa, tidak pernah bisa dipastikan pangkalnya apakah karena
pemikiran, pengembangan ide, atau akibat pengembangan bahasa. Ketika
overcoding terjadi simultan tidak tertutup kemungkinan new codes yang
muncul melibatkan pula dekonstruksi bahasa ungkapan.
Gejala meninggalkan medium spesifik pada post medium tidak serta
merta berarti meninggalkan media lukisan, patung, drawing dan prints. Di
luar bingkai fine art dan keyakinan tentang medium spesifik, media
konvensional ini sama dengan media lain pada perkembangan seni rupa
kontemporer dan bisa memperlihatkan gejala post medium. Beberapa
kecenderungan yang lahir melalui media ini, misalnya patung, lukisan,
drawing yang realistik, cukup populer di kalangan masyarakat dan karena
itu bisa dilihat sebagai ‘bahasa visual’ dan juga vernacular.
Namun sikap kritis pada bahasa konvensional itu punya dasar.
Penggunaan media lukisan dan patung bertahan cukup lama pada
perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia. Pada kompetisi GGIAA
2013 tercermin pada kenyataan masih dominannya karya dengan media
lukisan dan patung. Pada kompetisi terlihat khususnya pada karya-karya
angkatan 1980 dan sebagian angkatan 1990. Karya-karya yang tersisih
pada kompetisi menunjukkan sulitntya melawan dominasi konsep-konsep
pada penggunaan kedua media ini. Karya-karya ini pada akhirnya tidak
menawarkan apa-apa karena memperlihatkan manerisme (pengulangan
tidak kritis yang mengakibatkan hilangnya passion dan kemudian makna),
distorsi dalam menafsirkan self expression dalam pemahaman baru, dan,
gagalnya ungkapan menjadi teks karena terpisahnya ide dan pemikiran
dari pengembangan bahasa ekspresi (pemikirannya menjadi sloganistis
sementara bahasa ungkapannya kehilangan daya).
Pada kompetisi terlihat penggunaan media lain mulai terasa menguat
pada angkatan 1990. Gejala ini mencerminkan perkembangan seni rupa
kontemporer di Indonesia, yang sejak awal dasawarsa 1990 mulai
bersentuhan dengan seni rupa kontemporer di forum dunia—berawal pada
penyelenggaran pameran Asia, dan pameran regional yang
diorganisasikan Jepang dan Australia. Pada perkembangan ini hanya
karya-karya dengan medium instalasi yang memperlihatkan ungkapan
bermakna. Karya-karya dengam medium video dan medium performance
masih memperlihatkan kecanggungan karena kedua media belum

4
5

sepenuhnya dipahami. Pada kompetisi GGIAA 2013 gejala ini masih


terlihat pada karya-karya yang tersisih dalam kompetisi. Pada karya-karya
ini, terlihat bahasa video dan bahasa performance sama sekali tidak
dikuasai. Keadaan ini dengan segera mempengaruhi ide dan pemikirannya
yang terasa sangat biasa—bahkan tolol—dan bisa saja muncul pada siapa
pun.
Kendati masih didominasi media lukisan dan patung, kompetisi GGIAA
2013 bisa menunjukkan spektrum media visual yang sekarang sedang
berkembang di seni rupa kontemporer global. Gejala ini terlihat terutama
pada karya-karya angkatan 2000. Pada karya-karya yang masuk nominasi
terlihat penguasaan bahasa-bahasa media baru. Karya Muhammad Akbar,
yang memenangkan Kategori Madya memperlihatkan penguasaan bahasa
film/video yang melibatkan pengetahuan teknis tentang medium ini. Pada
karya-karya angkatan 2000 yang masuk nominasi bisa ditegaskan juga
kesadaran post medium. Tanda-tanda ideolect tampil, misalnya pada karya
Windi Apriani yang memenangkan Kategori Muda Berbakat. Karya dengan
drawing ballpoint yang realistik ini memperlihatkan gejala overcoding
karena gambaran yang tampil melalui drawing yang cermat ini bukan lagi
representasi. Gambaran ini memperlihatkan teatrikalitas yang membawa
pernyataan subtil tentang sesuatu persoalan gender.
Menimbang tanda-tanda menguatnya kesadaran post medium pada 40
karya yang masuk nominasi, pameran yang menyertai kompetisi GGIAA
2013 mengangkat tajuk “Post Medium.” Selain untuk menandai
perkembangan baru pada seni rupa kontemporer di Indonesia, gejala post
medium—yang mendekatkan seni rupa dan semiotika—bisa dilihat sebagai
tanda berakhirnya dominasi historical understanding tentang ‘seni’ pada
perkembangan seni rupa dunia yang berpangkal pada sejarah seni rupa
Barat. Pada perkembangan seni rupa Indonesia dominasi ini terlihat
melahirkan kecanggungan yang membuat banyak karya-karya perupa
Indonesia tidak terbaca di forum dunia. Belum tentu karena marjinalisasi.
Boleh jadi karena karya-karya ini memang tidak menawarkan apa-apa.